Tampilkan postingan dengan label Kemanusiaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemanusiaan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Desember 2021

Nengok Radikalis Cimenyan

SEBAGIAN dari radikalis Cimenyan saat membagikan benih tanaman tegak (buah-buahan) kepada petani Merak Dampit, Cimenyan, 8 Desember 2021, dalam program penghijauan kembali KBU (Kawasan Bandung Utara).*

Oleh: Herry Dim

 

KOSAKATA radikal, radikalis, radikalisme, terutama akhir-akhir ini, kian kerap kita dengar/baca. Secara umum diartikan aksi kekerasan atas nama agama, intoleran, seperti potongan berita berikut ini: “Potensi aksi radikal atau kekerasan atas nama agama masih tinggi di Indonesia. Sebanyak 11 juta warga negara Indonesia berpotensi melakukan tindakan tersebut. Demikian hasil survei nasional tentang intoleransi dan radikalisme sosial keagamaan di kalangan Muslim Indonesia tahun 2016 yang dilakukan Wahid Foundation bersama Lembaga Survei Indonesia” (lihat, PR, 16 Februari, 2017).

Radikal sesungguhnya berasal dari kata radix, bahasa Latin yang berarti “akar” dianggap pula sebagai sinonim untuk sistem angka matematik. Lebih umum lagi diberlakukan atau bahkan menjadi dasar di dalam tradisi filsafat, sehingga ada istilah “berfikir filosofis itu adalah suatu cara berfikir atau pengajuan pertanyaan-pertanyaan hingga ke radix, radikal, demi ditemukannya jawaban-jawaban yang mendasar.” Jika ditautkan dengan pemikiran mazhab Frankfurt yang senantiasa menghendaki agar filsafat itu pun menjadi praxis (tindakan), maka pemikiran radikal itu tak lain sebagai dasar bagi tindakan untuk menyelesaikan persoalan sosial dan kemanusiaan pada umumnya secara mendasar.

Ringkasnya, pengertian radix, radikal, radikalisme itu sejatinya tidak ada sangkut-pautnya dengan tindak kekerasan atas nama agama serta sikap intoleran. Entah sejak kapan pengertian radix itu mengalami pembelokan dan/atau penghancuran makna. Lebih intinya lagi, di dalam diskursus radikal seperti yang menjadi pengertian terkini, adalah hilangnya pikiran dan kecendekiaan hingga tinggal lah tindakan, itu pun berupa tindakan kekerasan yang bahkan disebutnya atas nama agama. Padahal, tindakan kekerasan (tanpa atau pun atas nama agama dan/atau atas nama apapun) yang bersifat menggerombol untuk menggulingkan suatu kuasa tertentu, itu lebih dekat dengan diskursus pemberontakan atau sekurang-kurangnya merongrong. Jika ditilik, ada kemungkinan terjadinya pembelokan makna atas diskursus radikal itu bermula dari kehendak eufemisme (penghalusan) terhadap tindakan merongrong atau pemberontakan.

Sementara di balik eufemisme itu, mungkin, ada sejumlah alasan lain semisal azas praduga tak bersalah (hukum), keinginanan damai atau agar tidak menggelisahkan publik (teknik komunikasi), dan/atau demi menghambat pemberontakannya itu sendiri agar tidak sampai terjadi (strategi sosial/politik).  

 

Tak Saling Mematikan

 

Berfikir radikal pun sesungguhnya merupakan naluri atau fitrahnya manusia, terutama bagi mereka yang bergerak di dunia kreatif. Hampir semua sejatinya manusia yang memiliki gairah mencapai temuan baru itu tergolong radikalis. Itu setidaknya terjadi di khazanah seni, dunia ilmu pengetahuan, ilmu sosial/politik, ekonomi, kedokteran, medis, dan lain-lain. Ciri-cirinya hampir selalu (dan memang seharusnya) ditandai dengan studi habis-habisan atas temuan-temuan sebelumnya untuk kemudian melahirkan temuan baru. Studi habis-habisan itulah yang disebut upaya menemukan radix, yaitu upaya penggalian hingga ditemukannya thesa untuk kemudian memunculkan antithesa hingga akhirnya menemukan sinthesa baru, demikian jika merujuk urut-urutan dialektika secara linear.

Sebagai contoh, Chairil Anwar “menjadi” itu karena “belajar” kepada sastra Pujangga Baru dan sastra klasik sebelumnya, Rendra dan Surtadji Calzoum Bachri itu hapal sejumlah puisi Chairil Anwar untuk kemudian melahirkan temuan berupa puisi-puisinya sendiri; Galileo Galilei niscaya tak mungkin menjadi bapak ilmu fisika modern, bapak metoda ilmiah, atau bapak ilmu pengetahuan jika tidak dilandasi studi habis-habisan atas teori Copernicus mengenai peredaran bumi bulat mengelilingi matahari dan matahari sebagai sistem tata surya.     

Yang patut kita perhatikan di dalam prinsip radikalis kreatif, itu adalah tidak terjadinya bunuh-membunuh atau yang satu mematikan lainnya, atau lebih halusnya lagi tidak di dalam hitung-hitungan kalah atau menang. Buktinya Chairil Anwar tetap penting dan tetap hadir meski kemudian ada Rendra dan Surtadji Calzoum Bachri, atau Copernicus tak lantas hilang meski teorinya dikritik Galileo Galilei dalam bentuk teori baru, demikian selanjutnya dalam bidang kreatif lainnya.

 

Radikalis Cimenyan

 

Dengan landasan pikiran seperti teurai di atas, langkah pun tiba lah di kawasan Kampung Cisanggarung RT 02/RW 12, Desa Cikadut, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Di alamat tersebut terdapat komunitas bernama “Odesa-Indonesia,” di dalamnya adalah Budhiana Kartawijaya, Basuki Suhardiman, Hawe Setiawan, Enton Supriyatna Sind, Andy Yoes Nugroho, Asep Salahudin, Faiz Manshur, Agung Prihadi, Khoiril Anwar Rohili, Didik Harjogi, Mudris Amin, dll.

Siang hingga lewat petang, 21 Mei 2017, terjadi perbincangan dengan Faiz Manshur yang dilanjutkan dengan jalan melepas pandangan mata ke sebagian kecil kawasan hingga ke Curug Batu Templek. Dari obrolan, melihat apa yang mereka lakukan, serta melihat potensi sekaligus persoalan sosial (terutama masalah kemiskinan) di kawasan tersebut, tak tertahankan dari mulut ini meluncurlah kalimat: “kalianlah sejatinya para radikalis itu.”

Faiz Manshur, Budhiana Kartawijaya, Enton Supriyatna Sind, serta aktivis Odesa lainnya melihat kawasan Cimenyan tidaklah dengan pandangan jarak jauh melainkan “ancrub” (terjun menenggelamkan diri) dengan masyarakat dan kehidupannya. Faiz Manshur bahkan pindah rumah ke kawasan tersebut demi menemukan sejatinya akar persoalan demi mendapatkan kemungkinan jalan keluar, serta menjalankan satu demi satu jalan keluar tersebut dalam bentuk tindakan nyata bersama masyarakat setempat yang tak lain berupa tindakan radikal di dalam pengertian seperti latar pikiran yang terurai di atas.

Seperti termaktub di dalam bio-kerjanya, Odesa-Indonesia disebutkan sebagai organisasi nirlaba yang bergerak dalam bidang pendampingan, penelitian, kajian dan aksi-sosial kewargaan. Basis kerjanya bertumpu pada empat kekuatan mendasar, yaitu: budidaya pangan, ternak, literasi, dan teknologi.

Empat tumpuan itulah radix persoalan sekaligus potensi pedesaan-pedesaan pada umumnya yang nyaris terabaikan sepanjang sejarah kemerdekaan. Apalagi pedesaan-pedesaan semacam kawasan Cimenyan yang bersinggungan langsung dengan kawasan urban kota Bandung, itu pelik sekaligus ironis. Betapa kawasan yang jaraknya di bawah 10 KM dari pusat kota Bandung, itu ironisnya memendam sejumlah kasus kemiskinan yang akut, minim bahkan tidak memiliki sarana pendidikan, tertinggal dalam hal standar hunian dan kesehatan. Padahal alamnya sangat potensial, relatif subur, masih menyisakan panorama alam yang elok, serta memiliki SDM yang masih punya gairah untuk maju.

Semoga gerak radikalis Odesa-Indonesia ini terus bertebar, menjadi anutan bagi desa-desa lain, menjadi radikalisme ala Cimenyan; mengingat persoalan-persoalan sosial-ekonomi masyarakat amat sangat tak cukup hanya sampai pidato, tebar pesona politik, seminar di tempat yang berjauhan, melainkan harus disentuh dan diselesaikan hingga ke radixnya.***

 

(Herry Dim, seniman, pengamat kebudayaan, penulis, tinggal di Cibolerang, Bandung)    

 

: tulisan ini dimuat di halaman Opini “Pikiran Rakyat,” Selasa, 13 Juni 2017.*   





Senin, 06 Desember 2021

Gerbang Awan Rimbang-Baling


Catatan: Herry Dim

 

INGINKAH merasakan berada di atas awan? Sungguh indah, takhenti membuat decak kagum antara takjub oleh fenomena alam, kontemplasi yang membawa kita ke situasi spiritual, dan mendapat pengalaman yang niscaya tak terlupakan. Jika ingin merasakan, datanglah ke ‘Gerbang Awan Rimbang-Baling.’

Sekilas, mungkin, deskripsi ringkas itu terasa sebagai bualan atau sebagaimana umumnya promosi atau propaganda turistik. Segera saja harus dijawab: Bukan bualan dan takjuga bermaksud promosi turistik melainkan impresi ringkas atas pengalaman yang sesungguhnya. Atau bisa juga seseorang mengatakan: “Ah, bagi yang pernah apalagi sering naik pesawat terbang, berada di atas awan itu biasa dan sudah sering melihat atau mengalaminya!”

Tentu saja pengalaman berada di atas awan saat terbang di dalam pesawat itu takpatut dinisbikan karena benar adanya. Tapi ada bedanya bahkan jauh berbeda antara melihat dan merasakan di dalam pesawat dengan kehadiran tubuh kita di Gerbang Awan Rimbang-Baling. Manakala di dalam pesawat, bagaimanapun, kita berada di ruang tertutup, tubuh kita terpisah dari sejatinya awan kecuali sekadar penglihatan. Sementara di Gerbang Awan Rimbang-Baling, tubuh kita bersentuhan langsung dengan awan, dan kita berada diantara awan atau di atasnya. Karena itu, sentuhan titik-titik air yang lembut pembentuk awan tersebut akan langsung terasakan, itu pula yang menimbulkan ketakjuban sekaligus tentu saja: dingin!

Ya, awan di Rimbang-Baling seperti juga fenomena alam di manapun di muka bumi ini. Seperti yang kita tahu, secara sederhana, awan itu terbentuk karena penguapan air yang berasal dari laut, danau, atau sungai. Kemudian, uap air naik ke atas menjadi titik-titik air dan terbentuklah awan. Evaporasi atau penguapan yang terjadi di Rimbang-Baling itu terjadi dari sungai Bio yang membentang di kawasan Koto Lamo, dan air yang berada di dedaunan hutan yang relatif masih terjaga kelestariannya.


Sulit Dijangkau

Gerbang Awan Rimbang-Baling berada di kawasan Nagari Koto Lamo, berjarak sekira 180 km dari kota Pekan Baru, Riau, Sumatera Tengah, atau membutuhkan waktu tempuh dengan kendaraan sekira 4 – 6 jam. Perjalanan dengan kendaraan standar hanya bisa sampai di Desa Gema, ibukota Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kab. Kampar. Untuk selanjutnya bisa dilanjutkan dengan dua opsi, yaitu: (a) jalan darat dengan kendaraan khusus (off road), atau (b) jalan air dengan perahu sampan menyusur sungai Subayang.

Kendaraan khusus baik empat roda atau pun dua roda diperlukan karena harus menempuh jalur berat yang masih berupa tanah dan bebatuan dengan bagian-bagian tertentu yang berongga lebar-lebar, jalanan menaik cukup terjal, serta masih harus menyeberang sungai dengan menaikan kendaraan ke atas rakit penyeberangan. Secara teknis dalam ukuran normal, jalan dari Desa Gema sampai Koto Lamo itu takbisa dilewati kendaraan. Untuk sekadar iseng membuktikan silakan periksa peta Google ataupun lainnya, niscaya akan didapat jawaban “maaf, kami tidak dapat mengalkulasi petunjuk arah mengemudi dari “Gema” ke “Koto Lamo.” Jarak tempuh terberat sesungguhnya takterlalu jauh, yaitu sekira 8 – 12 km atau dengan waktu tempuh antara 60 – 90 menit. Bagi yang berkegemaran off road, bertualang, atau untuk mendapatkan pengalaman baru; perjalanan ini sungguh merupakan ‘sesuatu’ yang takakan terlupakan.

Begini keadaan jalun darat menuju Rimbangbaling Koto Lamo.
Alternatif dengan jalan air takkalah serunya. Pertama, tentu harus memperhatikan betul cuaca, jika saat hujan jangan pernah coba-coba memaksa. Warga pun akan melarang karena sangat berbahaya, manakala air sungai melimpah serta kemungkinan banjir, gelegak arus sungai takakan bisa dikendalikan lagi. Kedua, harus bersama warga Koto Lamo yang mengendalikan sampan bermesin, teruji keterampilannya, serta telah hapal betul medan yang akan dilalui. Ketiga, perlengkapan pengaman perjalanan air, sekurang-kurangnya mengenakan baju pelampung. Dalam cuaca baik, pada daerah-daerah tertentu, perjalanan laiknya rafting (arung jeram). Perahu bermotor itu mesti dikendalikan dengan lincah, bermain dengan arus deras sambil berkelat-kelit di antara bebatuan sungai. Sesekali jumpa juga dengan arus tenang, melaju di antara kerimbunan hutan dan tebing-tebing batu.

Keindahan jalur air menuju Rimbangbaling Koto Lamo.

“Berat nian ya perjalanan ke sini,” komentar seseorang yang suatu ketika mengikuti perjalanan ke Koto Lamo.

“Ya, itulah luar biasanya, jika biasa-biasa saja ya biasa, takaneh dan takmenantang lagi,” gurau Heri Budiman, pendiri Rumah Budaya Sikukeluang sekaligus yang merintis pemberdayaan masyarakat adat Koto Lamo bersama Datuk Bandaro sebagai tetua adatnya.

Takdimungkiri, pengalaman perjalanan ke Koto Lamo itu bak perjalanan menembus alam mimpi, perjalanan yang takpernah terbayangkan sebelumnya tapi nyata teralami.

Menikmati gerbang awan Rimbangbaling.

Gerbang Awan

Merujuk kepada data BPS (Badan Pusat Statistik) Kabupaten Kampar yang menyebut Gema berada pada ketinggian 100 m/dpl (di atas permukaan laut) atau situs resmi pekanbaru.go.id yang menyebut Pekanbaru berada pada ketinggian 5 - 50 m/dpl, maka letak geografis Gerbang Awan diperkirakan berada pada ketinggian 600 – 900 m/dpl. Takbegitu tinggi, namun justru itu menariknya. Manakala evaporasi terjadi sejak menjelang matahari terbit, embun-embun yang menguap membentuk awan itu takterlalu jauh dari tubuh kita, bahkan berada di sekeliling kita sebelum ia kian meninggi dan bergabung dengan awan lainnya di langit. Dalam ketinggian seperti itu, jika cuaca cukup baik, pandang mata ke kejauhan bisa melihat jajaran bukit barisan karena Koto Lamo sendiri berbatasan dengan Sumatera Barat. Sementara sekeliling terdekatnya adalah hutan lindung.

Koto Lamo sebuah Kenegerian yang tepatnya berada di kawasan Bukit Rimbang dan Bukit Baling, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Merujuk kepada catatan perjalanan Thomas Diaz, orang Portugis yang disewa VOC untuk mencari hasil hutan dan emas, kenegerian atau desa ini sudah ada sejak abad ke 16. Kini, Kenegerian Koto Lamo dihuni oleh 260 Kepala keluarga dangan penduduk lebih kurang 1200 jiwa, dan berada dalam Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling. Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 173/Kpts-II/1986 dan SK Gubernur  Riau Nomor Kpts.149/V/1982, kawasan  seluas 141.226,25 ha ini telah ditetapkan sebagai suaka margasatwa.

Di Kenegerian Koto Lamo terdapat 6 suku yaitu suku yang pertama kali datang (membuka kampung) adalah suku Petopang, kemudian suku yang ke dua datang adalah suku Melayu, Melayu Ulak, Melayu Bosa, Domo, dan Piliang.  Bagi orang yang ingin tinggal atau menikah dengan orang Kenegerian Koto Lamo disyaratkan bahwa orang tersebut harus masuk salah satu suku yang ada.  Selain dua alasan tersebut masih ada satu lagi yang bisa masuk suku yaitu perjalinan persaudaraan.

Heri Budiman
Heri Budiman, pegiat Rumah Budaya Sikukeluang, seperti yang telah disebut di atas; adalah pelopor yang bercita-cita memberdayakan masyarakat adat serta menjaga kelestarian hutan sekeliling Koto Lamo dengan tagar #saverimbangbaling dan motto gerakan “Lestari Adat, Lestari Hutan.” Karena pengabdiannya kepada masyarakat adat serta persaudaraannya, terhitung tanggal 2 Agustus 2017 Heri Budiman diangkat atau masuk ke dalam Suku Petopang melalui sebuah upacara adat selama 3 hari 2 malam. Suku Petopang biasa disebut juga Pulang Bamamak, oleh karena itu, sebelum pengangkatan Heri Budiman harus mencari keluarga yang mau menerimanya sebagai keluarga (bamamak). Kelak, mamak inilah yang bertanggungjawab atas segala hal menyangkut orang yang masuk suku tersebut.

Suasana malam di camping ground Koto Lamo.
Gerbang Awan adalah salasatu spot yang jauh-jauh hari telah dibangun oleh Heri Budiman bersama Sikukeluang dan tentu saja masyarakat adat Koto Lamo. Selain itu, Heri Budiman pun membangun sarana perkemahan (camping ground) pada ketinggian di tepi Sungai Bio, sarana arung jeram dengan memanfaatkan ban-ban bekas di sungai Santi, mermbangun tempat singgah bagi pendatang, pembudidayaan tanaman kopi, dan membangun Rumah Adab yang dicita-citakan menjadi museum peradaban Koto Lamo. Sementara program annual adalah Festival Musik Rimbang-Baling yang hingga kini telah sempai ke peristiwa #3. Pernah tampil pada program ini antara lain Riau Rhtym Chamber, Iksan Skuter, Sisir Tanah, Ujung Sirih, Agus Salim, Beni Riaw, Teater Lorong, Rusli Keleeng, Boy Hendra Wijaya, Young Onyai, Ary Juliyant, Jerit Rimba, Pusakata, Black Box, Bie Kiboe, Rabbana, dll.


Demi Ekonomi Rakyat Koto Lamo

Salasatu poster Sikukeluang sehubungan program Festival Rimbang-Baling #3 berbunyi: “Kebudayaan itu investasi, semestinya ia mampu menggerakan ekonomi rakyat.” Itu adalah cita-cita dasarnya. “Segala hal yang bisa dilakukan itu taklain demi perbaikan kehidupan masyarakat adat Koto Lamo,” ujar Heri Budiman sambil menjelaskan itulah sebabnya ia menggunakan tagar #saverimbang baling atau #lestariadat-lestarihutan. Pilihan itu dilakukan karena ada kecemasan hutan adat Rimbang-Baling pun mengalami deforestasi seperti kebanyakan hutan di Indonesia, bahkan hutan-hutan yang takjauh dari Rimbang-Baling pun telah banyak berubah menjadi perkebunan sawit.

Baik Heri Budiman ataupun tetua adat, Datuk Bandaro, menjelaskan bahwa kehidupan masyarakatnya cukup berat. Satu-satunya penghasilan rakyat adalah dari menyadap karet yang pohon-pohonnya tumbuh liar di hutan dan/atau dalam arti tidak berupa perkebunan. Manakala harga karet lumayan baik, kehidupan tentu saja masih bisa bergantung pada hasil karet. Tapi selain sudah cukup lama harga karet anjlok ditambah lagi jumlah pohonnya yang bisa disadap pun kian menipis, maka kehidupan masyarakat menjadi sangat berat. Kebutuhan dasar terutama sandang dan pangan, sangat sulit untuk bisa dipenuhi dengan baik. Meski sayur bisa didapat dari berkebun dan ikan bisa didapat dari sungai, tapi yang paling pokok berupa beras tetaplah harus mereka beli dari luar. Persoalan utamanya bukanlah pada ketersediaan sandang dan pangan, melainkan pada daya beli mereka yang sangat lemah.

Datuk Bandaro dan Heri Budiman.
Selanjutnya Heri Budiman, menambahkan bahwa kondisi yang tergolong miskin inilah yang pada gilirannya mendorong sebagian masyarakat “terpaksa” melakukan pembalakan liar, mereka menebang pohon-pohon di dalam hutan demi mempertahankan hidup. Mereka bukan taktahu bahwa kawasan tersebut merupakan Suaka Margasatwa, namun desakan hidup membuat mereka melakukan tindakan yang sesungguhnya melanggar hukum. Pada sisi lainnya, iming-iming mengubah hutan menjadi perkebunan sawit pun sudah menyentuh masyarakat Koto Lamo. Akibatnya masyarakat pun terbelah antara yang mendukung deforestasi menjadi kebun sawit, dan di sisi lain yang dipertahankan oleh Datuk Bandaro bersama masyarakat adat adalah tetap menjaga sebagai hutan adat.

“Berat sih, Kang, tapi apapun yang bisa dilakukan ya kerjakan saja,” kata Heri Budiman. Salasatu yang ditempuhnya yaitu dengan mendatangkan pelancong dari luar yang kemudian dikaitkan dengan program-program kebudayaan yang ia buat. “Tapi bukan juga jualan wisata sebab ini pun jika kebablasan adalah sama mencemaskannya,” tambah Heri Budiman. Maka yang ia lakukan adalah memfasilitasi perjalanan rombongan-rombongan kecil, dan itu pun melalui semacam seleksi dan/atau penyampaian pengertian tentang adat setempat serta cita-cita dasarnya itu sendiri.

Kendaraan khusus Siku Keluang untuk menuju Koto Lamo.
Setiap pelancong yang berkenan ke sana telah bisa difasilitasi oleh Sikukeluang. Perjalanannya dimulai dari Pekanbaru untuk menuju Gema dengan mobil. Dari Gema ke Koto Lamo ditempuh dengan piyau (sampan). Di sana, pelancong bisa mengikuti 'rock balancing,' berenang, bersampan di perairan sungai Bio yang jernih, rafting di sungai Santi yang juga sangat jernih, jalan kaki ke Gerbang Awan, api unggun di camping ground, dll.***    

 

 

 

Senin, 22 November 2021

Hoax dan Efek Kupu-kupu

 


Catatan Herry Dim

HOAX itu memiliki potensi yang bisa menyebabkan kekacauan, runtuhnya suatu bentuk pemerintahan, bubarnya suatu ikatan kebangsaan, bahkan perang saudara hingga kemungkinan perang yang meluas. Keadaan seperti itulah yang kemudian dikenal di dalam teori politik kontemporer dengan sebutan chaos politik.

Di dalam teori chaos politik, yang pada dasarnya merujuk teori matematika dan ilmu alam, antara lain adalah istilah efek kupu-kupu (butterfly effect). Teori kekacauan ini antara lain mengemukakan bahwa perubahan kecil (tak linear) pada satu tempat dapat mengakibatkan perubahan atau pun kekacauan besar di tempat lain. Penggambaran Edward Norton Lorenz merujuk pada sebuah metafora yang elok sekaligus mengerikan, bunyinya: "kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brasil hari ini, dapat menghasilkan tornado di Texas dalam beberapa bulan kemudian." Padanan "kepakan sayap kupu-kupu" di dalam ilmu aslinya (matematika) dikenal dengan sebutan "penarik perhatian" (attractor), kondisi awal suatu sistem berupa susunan numerik yang bisa berkembang menjadi ragam sistem lain yang lebih lebar/besar.   . 

Saya bukan ahlinya dalam matematika apalagi matematika tingkat tinggi seperti itu, maka segera melompat pada kenyataan bahwa teori tersebut akhir-akhir ini kerap dirujuk dan diterapkan pada analisa sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan pada umumnya. Atraktor di dalam politik, maaf, saya cari penggambaran mudahnya saja, kita padankan dengan juru kampanye di dalam kontes pemilu dan semacamnya. Sesungguhnya, dalam perilaku politik yang normal, keberadaan atraktor ini wajar dan biasa-biasa saja, umumnya digunakan untuk menggerakkan goyangan pendulum dari satu pilihan ke pilihan lainnya; contoh sederhananya semisal penggunaan artis atau pesohor di dalam kegiatan-kegiatan kampanye. Dengan catatan tambahan, juru kampanye atau atraktor di sini adalah sosok yang teridentifikasi atau dikenali secara umum.

Tapi, bukan tidak mungkin adanya pihak yang menghendaki politik menjadi tidak normal alias kacau, pelaku atau atraktornya dibikin samar bahkan beridentitas palsu. Dan/atau mereka yang relatif jelas identitasnya namun memainkan muatan atraksi yang disamarkan, diplintir dari kebenaran sejatinya, bisa pula berupa kebohongan hingga penggunaan kata-kata kasar yang tidak patut diterakan pada manusia. Bisa pula dasarnya adalah fakta namun diplesetkan demi menimbulkan ketidaksukaan/kebencian kepada pihak tertentu. Inilah yang kemudian kita kenal dengan istilah hoax.

Waspada Terhadap Agenda Tersembunyi

PARA pelaku hoax berada di dalam dua kemungkinan. Pertama, mereka yang semata-mata berlandas emosional yang melempar hoax begitu saja, tujuannya asal ramai dan menimbulkan kegemparan. Kedua, adalah mereka yang menyadari bahwa hoax itu adalah atraktor serupa kepak sayap kupu-kupu yang bisa menjadi badai. Baik golongan 1 atau pun 2, itu sama-sama menggunakan alat produksi industri 3.0 yaitu telefon cerdas sekaligus dengan sadar bahwa “gelombang”nya kelak bisa mempengaruhi media konvensional, menyadi berita alias kian membesar, yang artinya mereka pun menyadari bahwa gabungan dari itu semua bisa mengubah “kepak sayap kupu-kupu” untuk menjadi gelombang besar, kehebohan, hingga daya untuk mempengaruhi sejumlah orang di luar sana yang kemudian ikut serta memperbesar gelombang hingga menjadi badai. Daya ini pula yang dimainkan di dalam hoax politik, seperti halnya yang kita rasakan berupa banjir hoax menjelang Pemilu 2019 saat ini.    

Hitung-hitungan awalnya relatif naif, hoax dibikin demi menggiring opini publik menjadi tidak suka itu dan berpihak ke ini, dan/atau dalam tujuan naif demi pemenangan ini alias mengalahkan itu. Para pelaku hoax politik yang naif ini, entah, mungkin sadar atau tidak sadar bahwa lemparan hoax sekecil apapun, itu sesungguhnya memiliki potensi menimbulkan badai dan kekacauan. Entah, apakah mereka mimikirkan atau tidak bahwa impak hoax itu bisa membesar lantas membentuk kekacuan pikir, terpelesetnya persepsi, kebingungan, dan kecemasan yang meluas di tengah kehidupan masyarakat.

Yang lebih mengerikan lagi manakala kepak sayap kupu-kupu itu sesungguhnya berada di tempat jauh, mungkin pula sejatinya tidak kita kenali, ia tersembunyi di “rimba raya,” tak tersentuh tapi di sebaliknya adalah agenda besar dalam bentuk desain bahwa kekacauan itu memang dikehendaki dan diciptakan demi robohnya gerbang, hancurnya tatanan suatu bangsa atau negara, kekacauan yang masif, hingga kemungkinan peperangan. Itu artinya pedoman berbangsa dan bernegara dalam bentuk undang-undang, hukum dan segenap aturan lainnya menjadi hancur dan/atau tidak berlaku lagi sehingga agenda besar yang tersembunyi tadi bisa melenggang masuk dan menggantikan keseluruhan sistem. Agenda besar yang tersembunyi ini bisa saja menyelusup dengan berbagai cara ke dalam struktur bangunan bangsa/negara, dan/atau dengan cerdik memanfaatkan para pembuat hoax yang naif tadi.

Kita semua tentu tak menghendaki itu semua, melainkan tetap sebagai satu kesatuan bangsa dan negara (NKRI). Kita telah menjadi “sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat” seperti tersurat dalam butir pertama Trisakti yang dikemukakan oleh Proklamator Soekarno di awal kemerdekaan Indonesia. Kita tentu tak akan pernah rela jika bangsa dan negara ini menjadi hancur dan kemudian digantikan oleh bentuk lain yang berasal dari antah-berantah.

Ke arah tujuan untuk tetap menjaga dan mempertahankan NKRI dengan landasan Trisakti Bung Karno, kiranya tak ada jalan lain; kita mesti menyatakan perang terhadap hoax yang menebarkan kebencian dan berpotensi memecah belah atau membuat kita jadi saling membenci. Kita mesti siaga untuk senantiasa mematikan setiap kepak sayap-sayap hoax sejak anginnya belum membadai, dan itu mesti dimulai dari diri kita masing-masing.

Sebagai penutup catatan, perlu disampaikan bahwa ada sisi lain yang bersifat positif dari teori chaos yang berlandas pada metafora “kepak sayap kupu-kupu” ini. Di atas, memang, cenderung mengemukakan kengeriannya jika teori ini diarahkan ke hal yang buruk agar kita faham dan siaga. Tapi di sisi lainnya dan lebih khususnya saat kita memasuki masa Revolusi Industri 4.0,  “teori kepak sayap kupu-kupu” sejatinya bisa diarahkan pada kebaikan, kreativitas, industri kreatif, pemuliaan manusia. Gelombang energi serta kemungkinan matematiknya tetaplah sama, jika ia digunakan untuk kebaikan maka akan menghasilkan gelombang kebaikan yang besar pula. Semoga.***

(Herry Dim, pekerja seni, pengamat kebudayaan, aktivis Bidang Revitalisasi Sumber Daya Alam di Odesa Indonesia, tinggal di Bandung)

: tulisan ini telah dimuat H.U. Pikiran Rakyat, Kamis, 21 Maret 2019, halaman 18.

Minggu, 21 November 2021

Catatan Perang # Cebong vs Kampret

 


 

Oleh: Herry Dim

TULISAN ini mulai disusun manakala perseteruan perang hastag #2019GantiPresiden dan #2019TetapJokowi bukan saja kian meruncing melainkan kian (maaf) "menyebalkan" sekaligus mengkhawatirkan jika dilihat dari sisi tanda runtuhnya kecendekiaan akibat fanatisme yang berlebihan. Dua belah pihak tidak lagi berdasar kepada sejatinya kritisisme yang seyogianya beranjak dari nalar, cara pandang menyeluruh, komparasi atau studi banding, menjumpai akar masalah, menarik simpul, dan mencarikan jalan keluar bagi keberlanjutan berbangsa/bernegara. Kritik bahkan digelincirkan menjadi sekadar mengumbar cemooh, saling caci-maki, hujat-menghujat, hingga munculnya petanda (signified) yang relatif tak patut yaitu semiotika "cebong" (untuk mengejek pendukung Jokowi) dan "kampret" (sebagai olok-olok bagi lawan Jokowi). Itu saja sudah memperlihatkan bahwa "kritik" tidak lagi berstruktur dan bertubuh, sejatinya tak bisa lagi disebut sebagai suatu bangunan kritisisme, dan bisa dipastikan tak sedikitpun berkenaan dengan kecendekiaan.

Sebelum terlalu jauh, perlu dikemukakan bahwa tulisan ini pun tidak dimaksudkan untuk menganut sekurang-kurangnya istilah (jika tidak dikatakan teori) "kritik membangun" seperti kerap dikemukakan di masa rezim Soeharto. Kritik Membangun, setidaknya dalam pandangan penulis, tak lebih dari kritisisme semu (pseudo-criticism) yaitu prinsip yang seolah-olah "membolehkan" kritis asal "tak mengganggu" stabilitas kebijakan-kebijakan yang diluncurkan rezim kala itu.

Sekadar untuk mengingatkan bahwa istilah "kritik membangun" tak lain merupakan eufemisme dari konsep untuk mematikan kritik itu sendiri. Prinsip dasarnya adalah konsep "stabilitas" yang praktek sejatinya adalah represi terhadap segala pengucapan kritis. Salasatu produknya adalah kebebasan pers yang dibatasi SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers), dan sekadar contoh buahnya adalah breidel (pencabutan SIUUP) atas tiga media (Tempo, Detik, dan Editor) yang dilakukan Orde Baru pada 21 Juni 1994.

Kritik itu galibnya boleh "membantah" bahkan menggugurkan bangunan teori sebelumnya dengan mengedepankan struktur atau diskursus teori baru. Contoh yang telah menjadi klasik di tataran ilmu pengetahuan antara lain adalah teori gravitasi Einstein yang menggugurkan teori gravitasi Newton. Yang perlu dicatat, bahwa dua teori tersebut tidaklah saling membunuh atau saling meniadakan, melainkan satu sama lain saling melengkapkan; setidaknya di dalam matarantai logis bahwa tak akan ada teori Einstein jika sebelumnya tidaklah ada teori Newton (tan hana nguni tan hana mangke, Sunda), dan/atau struktur kritisisme Einstein itu akan terbaca jelas jika sebelumnya kita memahami terlebih dahulu teori Newton.          

Atau, di dalam peta politik/kebudayaan kita sendiri, sebut di antaranya Sutan Syahrir dengan kitab "Perjuangan Kita," Tan Malaka yang melahirkan "Madilog," tulisan-tulisan Bung Karno yang kemudian terkumpul di dalam "Di Bawah Bendera Revolusi," Mohammad Hatta dengan buku "Alam Pikiran," hingga "Dimensi Manusia Dalam Pembangunan" karya Soedjatmoko yang (rasanya) melandasi gagasan Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) hingga pelaksanaan Pelita (Pembangunan Lima Tahun) Orde Baru namun kemudian melenceng karena maraknya KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme). Praxis politiknya sendiri, memang, dihadapkan pada kenyataan kalah dan menang tapi sebagai produk kecendekiaan, buah-buah pikiran tersebut nyatanya masih bisa dipetik cahaya-cahayanya hingga sekarang.      

 

**

 

PUN catatan ini tidak bermaksud menyampaikan segelintir judul buku dari sejumlah buku lainnya, melainkan sekadar menunjukkan bahwa galibnya tradisi berfikir dan kecendendekiaan itu biasanya bermuara pada karya tulis, sehingga segalanya berjejak serta bisa dikaji ulang demi peradaban selanjutnya.

Itu sekaligus untuk menyadarkan kita kembali bahwa demokrasi dan pergantian rezim itu seyogianya tidaklah dilihat sebagai pergantian kekuasaan, melainkan berada pada matarantai perjalanan gagas dan tindakan yang berlandaskan pemikiran yang kian maju serta kian beradab, cendekia, berperikemanusiaan sebagaimana lazimnya proses pemanusiaan manusia.

Urat-nadi kemungkinan tersebut memang bernada Hegelian di dalam metoda Dialektika yaitu tesis (pengiyaan), antitesis (pengingkaran) dan sintesis (kesatuan kontradiksi). Pikiran dan perbuatan terdahulu itu (katakanlah) sebagai tesis yang memang sepatutnya dilihat kembali, ditimbang-ulang, dikritik, bahkan bisa diingkari. Mengingat tesis tersebut merupakan suatu struktur bentuk pemikiran, maka hingga pada kemungkinan pengingkaran pun mestinya berstruktur dan berbentuk pula. Kelak memang akan memunculkan sejumlah kontradiksi, tidak saja pada rentang antara tesis dan antitesis melainkan sangat mungkin bermunculan perbedaan di antara antitesis itu sendiri. Sejumlah kontradiksi tersebut dipilih hingga terhimpun menjadi semacam kumpulan cahaya antitesis, inilah yang disebut sintesis. Manakala sintesis itu sudah terhimpun, menjadi gagasan, menjadi (katakanlah) kebijakan hingga tindakan, saat itulah ia sejatinya telah menjadi tesis baru yang kelak akan kembali ditimbang-ulang oleh antitesis berikutnya. Dan demikianlah sejarah manusia dan pemanusiaannya itu berjalan ke muka, ke arah yang kian baik. Hegel pula yang merumuskan bahwa sejarah itu merepresentasikan perkembangan roh kesadaran (represents the development of the spirit's consciousness).

Tiba pada kosakata “kembang” atau dengan awalan dan akhiran menjadi kata kerja “perkembangan,” itu menyimpan makna keberlanjutan. Tak mungkin ada kembang jika tidak bermula dari menanam benih dan merawatnya. Itulah sejarah (historis). Jika kita senantiasa berfikir bahwa perpindahan kekuasaan itu seperti halnya Ken Arok merebut/membunuh kuasa Tunggul Ametung, maka sama dengan menebas yang pernah ditanam untuk terus berulang pada setiap peralihan itu selalu bermula dari nol atau a-historis.

Hidup di zaman “Badai Celetukkan Medsos” memang repot, kebanyakan jadi tenggelam di kubangan Simulacra, simulasi yang tidak lagi peduli realitas. Samar di antara kategori-kategori nyata, semu, benar, salah, fakta, citra, produksi atau reproduksi melebur menjadi satu dalam silang sengkarut tanda.***        

(Herry Dim, seniman, pelukis, pemerhati kebudayaan, penulis, tinggal di Bandung) 

 

Jumat, 19 November 2021

Kedamaian di Ciburial

Oleh: Herry Dim

 

PETANG di hari Sabtu, 25 November 2017, meruap-ruap hati menghirup sejumlah keindahan dan kedamaian di Eco Camp, jalan Pakar Kulon, Ciburial, Bandung. Begitu kaki menapak turun mengikuti sesusunan tangga kecil, segera pandang mata, penciuman, dan pori-pori sekujur tubuh disambut kerimbunan alam yang begitu terjaga. Pandang mata segera terpana oleh barisan pohon pinus dengan tubuh-tubuhnya yang menjulang tinggi tegak lurus ke langit. Melihat diameter batang serta ketinggiannya sekira lebih dari 40 meter, pinus-pinus tersebut diperkirakan telah berumur di atas 50an tahun. Tak sempat bertanya kepada Romo Ferry Sutrisna Wijaya yang sehari-hari memimpin kegiatan di sana, namun diperkirakan itu adalah jenis Pinus merkusii Jungh atau Pinus ponderosa. Tampak juga di sana serumpun bambu serta jenis pohon atau tanaman keras lainnya, bangunan pesanggrahan dan semacam pendopo dengan arsitektur tropis yang ramah serta menyerap keasrian lingkungan sekelilingnya. Di tengah lingkungan seperti itu, apatah namanya selain merasakan tentram dan damai?

Kedamaian lainnya meruap-ruap dari atmosfer acara yang tengah berlangsung. Petang itu memang bertepatan dengan peluncuran kumpulan haiku karya Yesmil Anwar yang berjudul “Bunga Ilalang.” Tampak hadir di sana Ceu Popong, Wawan S. Husein, Supardiyono Sobirin, Yayat Hendayana, Sis Triadji, Rosyid E. Abby, Etti RS, Iwan Abdurachman, Risyani, Agus Safari, Ine Arini, Martha Topeng, Dian Kencana, Reny Hasanah Ninit, Edief Wangi, Aming D Rahman, Imas Utami Lokayanti, serta tentu saja sang presiden HaikuKu Diro Aritonang dan para haijin (penulis haiku) lainnya. Sebagian dari nama-nama tersebut bergantian tampil baca haiku, menari, dan menyanyi dalam situasi meditatif, kontemplatif, dan tentu damai.

Di penghujung acara pentas haiku, para penonton didaulat masuk arena untuk kemudian semuanya diajak menulis haiku oleh Supardiyono Sobirin. Mereka dibagi ke dalam tiga kelompok besar, masing-masing kelompok mulai lah mencari kata-kata sambil menghitung jemari untuk menyusun pola 5-7-5 suku kata seperti lazimnya haiku.

Itu pun menarik. Ada kegirangan, kesibukan mencari kembali “kata” yang sesungguhnya digunakan sehari-hari tapi kemudian harus ditemukan polanya, dan yang terpenting menyusunnya menjadi kalimat puitik serta mendapatkan kigo atau isyarat waktu saat haiku ditulis, dan kireji yang berfungsi sebagai “kalimat pemotong” sekaligus menjadi sebuah klimaks haiku jika ditempatkannya di baris terakhir.

Dan yang lebih menarik lagi adalah kejadian saat mereka berkerumun saling-bantu menyusun haiku. Tampak di sana ada ibu biarawati berkerudung serta busana antara biru atau abu-abu, ada juga yang lebih muda dengan kerundung dan busana warna hitam, serta beberapa dengan setelan putih. Mereka berkelindan bersama ibu-ibu dan sejumlah remaja yang berjilbab atau pun tanpa kerudung, semuanya sama sibuk menyusun kata-kata untuk haiku. Selain mereka, tentu saja, ada juga sejumlah pria yang juga ikut sibuk di dalam kerumunan.

Begitu damai, itulah kesan kuat yang menyeruak. Kesan tersebut mendesak begitu kuat, maklum, karena kita semua pada hari dan waktu yang sama masih diramaikan oleh berita sehari sebelumnya berupa serangan bom di sebuah masjid di Mesir yang merenggut korban tewas 235 orang. Dua gambar kontras pun muncul. Kejadian di Mesir serta sekian banyak perseteruan berdarah sepanjang sejarah, itu seperti hadir menjadi gambar tanda tanya buram berukuran besar. Sementara kedamaian di Ciburial menjelma menjadi tanda seru atau tanda jawab kecil namun jernih, jelas, tajam menyentuh kalbu kemanusiaan kita.

 

Dari yang Kecil

 

JIKA kita masih percaya bahwa segala hal yang besar itu bermula dari yang kecil, dan yakin pula segala persoalan besar itu sejatinya mesti diurai ke bagian-bagian yang terkecil dan/atau bukan sebaliknya diperkeruh dengan berbagai “omong besar,” maka gambaran Eco Camp di kawasan Ciburial itu adalah jawaban yang paling konkret.

Romo Ferry Sutrisna Wijaya selaku Pembina sekaligus pengelola Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup, menyatakan bahwa Eco Camp sudah dirintisnya sejak 15 tahun yang lalu. Dalam tiga tahun terakhir ini serta berturut-turut bekerja sama dengan Saratoga untuk melakukan pelatihan para guru seluruh Indonesia. Tahun 2015 diikuti 51 guru, 2016 diikuti 55, dan tahun 2017 ini diikuti oleh 46 orang.

Mereka yang hadir di dalam kenduri kumpulan haiku “Bunga Ilalang, itu tak lain adalah para peserta pelatihan tahun ini. Untuk disebut beberapa saja diantaranya adalah para santri dari Jember, peserta dari Biara Domusorationis Manado, Rumah Sehat Cianjur, Ekopastoral Fransiskan NTT, Biara Elisa Tobelo Ternate, SMKN 1 Gunung Timang Kalimantan, SMAN 1 Sampit, dan lain-lain.

Tahun ini, bertepatan dengan Hari Guru Nasional ke –72, Eco Camp dan Saratoga memberikan pelatihan TOT (Training of Trainers) berbasis lingkungan, budaya, dan teknologi kepada 46 guru hasil seleksi dari 200 guru di Indonesia. Jumlah 46 orang di hadapan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 257.912.349 jiwa berdasar data per 30 Juni 2016, itu tentu sangat kecil bahkan bak butiran kecil di hamparan pasir, tapi justru yang kecil-kecil seperti inilah yang mendesak sekali untuk kian ditumbuh-kembangkan di seluruh kawasan Indonesia.

Tegangan suasana yang terutama tersulut oleh tensi politik, perkembangan perkotaan yang kian sesak dan panas, kehidupan yang kian tergesa-gesa, takaran hidup yang kian bergeser kepada raihan ekonomi ketimbang pencapaian harkat kemanusiaan, hingga pertikaian-pertikaian beraneka latar dan tak perlu itu hanya bisa terurai melalui hubungan kasih antar-manusia serta belajar dari kesabaran alam. Tempatnya bahkan bukan di uraian pidato hingga ceramah-ceramah, melainkan berbagai praxis yang bersentuhan langsung dengan kenyataan.

Alam dan lingkungan hidup yang baik niscaya memberikan dasar praxis itu semua. Melati dan mawar tak pernah berebut kuasa siapa yang paling utama, tak juga berebut udara; keduanya saling memberikan keharuman bagi semesta. Alam pun mengajarkan bahwa tak ada pohon yang tumbuh tergesa-gesa, semua berproses dengan penuh kesabaran, dan pada galibnya bukan “mengambil hidup” tapi justru “memberi kehidupan.” Itulah inti kasih seperti yang menyeruak petang itu di Ciburial.***

     

(Herry Dim, seniman, pelukis, pemerhati kebudayaan, penulis, tinggal di Bandung)

Rabu, 17 November 2021

Batu Templek vs Televisi



Oleh: Herry Dim

PEKAN ini, tepatnya 28 – 30 Juli 2017, berlangsung kembali “Bandung International Arts Festival (BIAF)” yang antara lain mengambil tempat di area curug (air terjun) Batu Templek, Kampung Cisanggarung, Desa Cikadut, Kabupaten Bandung. Kali ini adalah peristiwa yang ke-3. Menurut keterangan Deden Tresnawan, event kali ini diisi oleh seniman-seniman dari 12 daerah/kabupaten dari beberapa provinsi di Indonesia, dan sembilan negara dari luar Indonesia.

Jauh sebelum berlangsungnya BIAF #1, kerap kami berbincang dengan Deden Tresnawan terutama di sela-sela kegiatan proses Wayang Motekar tahun 2000an, bahwa kawan-kawan dari sekolahan/akademisi yang memilih jalan seni itu perlu turun dan berjalin dengan masyarakat di daerah-daerah. Di sana, salasatunya, akan kita temukan kenyataan sejak cara pandang hingga tata nilai yang sudah bergeser. Pandangan mereka tentang seni terarah kepada televisi yang memang telah masuk ke setiap sudut rumah tinggal berbagai keluarga dimanapun. Bersebab sejak bangun tidur hingga menjelang pergi lagi ke peraduan untuk tidur senantiasa berhadapan dengan tontonan televisi, maka lumrah lah jika masyarakat berpandangan bahwa kebenaran seni itu semata-mata yang hadir di layar televisi. Pun tentang tata nilai, lambat-laun berubah, alam sadar hingga bawah sadarnya kian terbentuk dengan anggapan bahwa sejatinya seni itu adalah yang hadir di televisi, dan (contoh) seni yang terbaik itu adalah seni hiburan di televisi.

Seperti sepele bahkan dua pihak, industri hiburan televisi dan masyarakat sendiri, kian fasih mengatakan “justru dengan itu maka masyarakat mendapatkan hiburan.” Itu yang didapat namun tak pernah dihitung tentang hal-hal yang hilang.  Pada awalnya seperti sekadar urusan fisik semisal tak ada lagi wujud dan yang memainkan kohkol (kentongan), keprak (alat bunyi terbuat dari bambu), toleat (sejenis alat musik tiup) dan sebagainya, karena itu semua tidak keren lagi, tidak seperti yang terlihat di televisi. Padahal di balik yang hilang tersebut, lambat laun terjadi proses kehilangan kepercayaan diri dan kebanggaan, yang artinya “diri” itu sendiri menghilang.

Catatan ini, tentu, tidak dimaksudkan sebagai uraian anti-televisi sebab di dalam berbagai hal alat komunikasi tersebut tetap ada pentingnya bagi masyarakat. Ini sekadar gambaran kecil betapa pentingnya seniman sekolahan atau pun yang tumbuh dari masyarakat itu kembali ke tengah-tengah publik, yaitu demi membangkitkan kembali kesadaran bahwa “aku ini ada” dan “aku ini memiliki adab dan peradaban sendiri.” Itu kian terasa penting bagi masyarakat desa yang kian terpinggirkan bahkan termiskinkan, maka urusannya bukan sekadar pada tarap hiburan melainkan (lebih jauhnya lagi) berkenaan dengan kebangkitan dan terbangkitkannya kembali harapan hidup.  

Dengan itu pula dalam pertemuan kecil dan ringkas bersama Deden Tresnawan, Abah Nanu Munajat, Yudi Arab, Ine Arini, serta tuan rumah Faiz Manshur dan Yani Manshur, di rumah tinggal sekaligus kantor Odesa Indonesia, tercetuskan kembali kalimat bahwa tanda suksesnya BIAF itu bukan pada seberapa heboh dan maraknya pemberitaan, tidak berakhir pada nama dan foto-foto senimannya masuk koran; melainkan pada ukuran sejauh mana peristiwa tersebut sedikit demi sedikit mendorong kebangkitan kembali kepercayaan diri publik atas dirinya sendiri.

Untuk itu, tentu, sekurang-kurangnya perlu nafas panjang. Syukurlah BIAF sudah mampu sampai kepada pelaksanaan yang ke-3, kesadaran masyarakat bahwa sesungguhnya memiliki venue yang demikian indah pun mulai terbangkitkan. Semoga bisa terus berkelanjutan, mengingat Curug Batu Templek yang berada di kawasan Kecamatan Cimenyan tersebut menyimpan berbagai persoalan ekonomi dan sosial masyarakat yang cukup rumit. Seni dan kegiatan seni, sedikit-banyaknya bisa menjadi salasatu pengurai kerumitan tersebut.

 

Menuju Kawasan Wisata

 

Panorama seputaran Curug Batu Templek masih menyimpan keindahan alam yang natural, masih ada hutan kecil, kesuburan, sejuk, udara yang relatif masih bersih karena kekotoran udara kota terserap kerimbunan pepohonan, pun limpahan air tanah dan sungai yang lumayan baik dan (jika dikelola dengan baik) mencukupi kebutuhan masyarakatnya.

Namun, berdasar data-data survey Odesa Indonesia (OI) di kawasan Cimenyan, ternyata terdapat paradoks antara panorama indah dan kemiskinan. OI sendiri dalam setahun ini telah berusaha keras melakukan berbagai upaya sejak perbaikan WC dan rumah tinggal rakyat miskin, pelatihan masyarakat, membangkitkan semangat pertanian, hingga perjuangan propaganda tanaman kelor (moringa) yang memang sangat baik untuk kesehatan serta memiliki pula potensi ekonomi bagi masyarakat.

Sejauh mata memandang, khususnya di kawasan sekitar Curug Batu Templek, sesungguhnya amat mungkin untuk dikembangkan menjadi kawasan kunjungan wisata yang berorientasi kepada pemberdayaan publik, yaitu menuju “industri” (dalam tanda petik) wisata alam sekaligus olahraga jalan kaki (jogging), serta sajian atraksi seni hingga kemungkinan penyediaan kuliner a la Batu Templek. Kemungkinan ini sedini mungkin perlu didasari itikad bahwa semuanya demi perbaikan hidup masyarakat setempat dan kelak masyarakat pula yang memelihara serta menjalankan kehidupannya.

Ini tentu tak mudah dan lagi-lagi memerlukan nafas panjang untuk mengerjakannya. Berbeda dengan sistem “pembuatan” destinasi wisata yang berdasar kepada kekuatan modal (kapital) yang sejak gagasan hingga pelaksanaannya berdasar satu pusat kuasa modal, maka wisata dengan dasar publik niscaya mesti dimulai dengan kesadaran publiknya itu sendiri. Inilah yang tak mudah. Proses penyadaran, membangkitkan etos, hingga tumbuh bersama secara gotong-royong itu relatif membutuhkan proses berkelanjutan yang panjang. Di sisi lain, seperti terdata di OI, sejumlah lahan yang ada di kawasan Curug Batu Templek itu sudah terpotong-potong menjadi milik orang per orang. Di hadapan ini terdapat kerumitan lain karena menyangkut hak orang per orang atas tanah miliknya yang belum tentu punya kehendak agar tanahnya dimanfaatkan bagi kepentingan publik.

Beruntunglah di titik venue Curug Batu Templek tercatat sebagai milik Pak Ujang, dan kebetulan pula dirinya memiliki kesadaran memelihara lingkungan hidup yang cukup tinggi, serta memiliki pula harapan bahwa masyarakatnya bisa bangkit bersama tanah miliknya; atas kebesaran hati Pak Ujang pula BIAF bisa berjalan dan sangat mungkin untuk terus berkembang. Semoga saja pemilik-pemilik lahan lainnya berpikiran sama sehingga kawasan wisata Curug Batu Templek pun menjadi kenyataan, kehidupan masyarakat pun mengalami perbaikan dan/atau bukan sebaliknya. Semoga.***


(Herry Dim, seniman, pelukis, pemerhati kebudayaan, penulis, tinggal di Bandung)

Senin, 15 November 2021

Anak Generasi Krismon

 


Oleh: Herry Dim

 SEPERTI dilansir sejumlah média bahwa dua orang yang diduga pelaku bom bunuh diri Kampung Melayu adalah AS (32 tahun) dan INS (31 tahun). Jika dirata-ratakan, keduanya dalam usia 30an atau kelahiran sekitar tahun 1987an. Jika kedua orang tersebut pernah menempuh pendidikan, maka berada di bangku SD/ Ibtidaiyah pada 1993-1999, SMP/Tsanawiyah1999-2002, dan SMA/Aliyah 2002-2005.

Fokus catatan ini ingin memperhatikan masa awal tumbuh anak-anak zaman ini, yaitu semasa SD/ Ibtidaiyah sekitar tahun 1993-1999an. Ini adalah masa paling genting dalam tatanan politik, ékonomi dan keuangan di Indonésia. Dari sisi politik adalah masa mulai goyahnya kekuasaan rézim Suharto hingga léngsér pada 1998, sementara dari sisi ékonomi dan keuangan adalah masa berlangsungnya krisis monétér yang kemudian kerap disingkat menjadi krismon.

Sejumlah téori menyebutkan krisis monétér atau krisis finansial itu dimulai pada Juli 1997 di Thailand, yang kemudian mempengaruhi mata uang, bursa saham, dan harga asét lainnya di beberapa negara Asia, termasuk Indonésia, Koréa Selatan, Hongkong, Malaysia, dan Filipina. Taraf kesulitan hidup masyarakat menengah-bawah di Indonésia sendiri sudah mulai terasa sejak menjelang masuk tahun 1990an. Kurs rupiah terhadap dolar AS pada 1990 masih sebesar Rp.1.901,00 per dolar AS, tapi kesulitan rakyat untuk mendapatkan uang sudah terasa merata di mana-mana, orang Sunda kerap mengatakannya sebagai zaman seuseut hirup (hidup yang seret). Ketika di awal krismon, 1997, nilai rupiah mulai anjlok ke tingkat lebih dari dua kali lipat menjadi sekitaran Rp. 3.989,00 per dolar AS, rakyat pun sertamerta menjerit. Puncaknya adalah pada tahun 1998, rupiah terjun bébas hingga sekitaran Rp. 11.591,00 per dolar AS.

Beberapa analisa sosial menyampaikan sekurang-kurangnya ada tujuh dampak krismon, dua di antaranya adalah (1) Angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) meningkat karena banyak perusahaan yang melakukan éfisiénsi ataupun menghentikan kegiatan sama sekali; dan (2) Persediaan barang nasional, khususnya sembilan bahan pokok di pasaran mulai menipis pada akhir tahun 1997. Akibatnya, harga naik tak terkendali dan biaya hidup semakin tinggi.

Dampak yang disebut terakhir rélatif tidak sepenuhnya tepat, sejumlah pengalaman kami bersama Bandung Peduli yang ketika itu turun langsung menghampiri masyarakat, melihat bukti bahwa sembilan bahan pokok umumnya tersedia di pasar karena di antaranya diatasi dengan pasokan impor. Bahkan beberapa kali kami ke gudang Bulog – waktu itu Bulog difungsikan sebagai pengendali logistik pangan—menjumpai tumpukan karung-karung beras yang diantaranya rusak karena tidak terserap oléh pasar. Itu sekadar bukti kecil bahwa persoalan terbesar zaman krismon adalah lemahnya daya beli masyarakat, sehingga kami pun menyebutnya krisis daya beli alias rakyat tak memiliki uang untuk belanja kebutuhan hidup. Kemiskinan rakyat saat itu memang mencemaskan. Setelah tidak mampu belanja bahan pokok, berikutnya rakyat pun tak mampu memperhatikan pendidikan dan keséhatan.

Saat melihat itu semua dengan berjalan dari pintu ke pintu, di setiap rumah yang kami hampiri senantiasa melihat sejumlah anak-anak. Sambil menyerahkan secuil bantuan karitatif, tercetuslah dalam obrolan bersama sejumlah rélawan, bahwa bantuan karitatif sesungguhnya tak menyelesaikan persoalan kecuali berupa bantuan darurat. Sementara persoalan terbesarnya, jika ékonomi dan keuangan bangsa/negara tak kunjung reda, adalah nasib anak-anak yang sedang tumbuh di tengah kemiskinan tersebut. “Meréka lambat laun bisa tumbuh menjadi semacam bom waktu yang suatu saat meledak dalam bentuk dentuman sosial. Yang kita cemaskan sesungguhnya adalah réalitas bangsa/negara antara sepuluh sampai 15 tahun ke depan,” demikian antara lain obrolan kami sambil menyerahkan kantong kérésék hitam yang berisi 5 – 10 kg beras, ikan asin, minyak goréng, dan beberapa bungkus mie instan.

 

Kapai-kapai Arifin C. Noer

 

Setiap kali menyaksikan kemiskinan hampir selalu membawa ingatan kepada naskah drama "Kapai-kapai" karya Arifin C. Noer (1941 - 1995). Drama ini tidak berbicara tentang bom bunuh diri Kampung Melayu atau pun bom serta tidak kekerasan dan penghancuran kemanusiaan lainnya, tapi secara radikal –dalam arti medasar atau sampai ke radix— berbicara tentang kemiskinan material, moral, dan spiritual. Kapai-kapai ditulis tahun 1970an, Arifin C. Noer seperti telah menyampaikan sinyal peringatan, bahwa perkara kemiskinan material, moral, dan spiritual itu merupakan bahaya personal sekaligus sosial.

Persoalan Indonésia, seperti diungkapkan léwat tokoh Abu di dalam drama “Kapai-kapai,” pada awalnya adalah lautan problém kemiskinan materi atau kenyataan manusia-manusia ékonomi lemah yang merebak dan menjadi mayoritas di seantéro tanah air. Abu seperti manusia-manusia miskin lain, lazimnya tetaplah memiliki impian, memiliki hasrat kebahagiaan, yang pada kenyataannya hasrat tersebut terus-menerus berbenturan dengan réalitas hidup. Abu malah terombang-ambing. Bahkan kala sudah bisa kerja kantoran, Abu digambarkan layaknya sebuah mesin yang tidak punya kuasa berkehendak. Tokoh Abu sebagaimana gambaran umumnya manusia miskin, bisa terjebak ke dalam ketidakberdayaan ékonomi, tak memiliki ruang berkehendak, hingga akhirnya bisa saja tenggelam di kedalaman putus asa.

Kemiskinan, mémang, tak senantiasa bersisi gelap. Sebut misalnya Dostoyevsky yang sejak kecil dihadapkan pada kehidupan rumah sakit rakyat miskin di Moskow atau Leo Tolstoy yang hidup dan membuat cerpén-cerpén bersama petani miskin, nyatanya justru karena gencétan hidup merejel lah karya-karya kréatif yang bahkan mempengaruhi dunia. Begitu pula Jepang setelah Hirosima dan Nagasaki diluluh-lantakan, luka dan perihnya jejak perang malah membangkitkan étos bangsa untuk bangkit mengejar ketertinggalan.

Yang perlu ditandaskan dalam catatan ini, bahwa kemiskinan itu rentan. Betul, di zaman baru sekarang ini, “sumbu péndék” bom waktu bertebar di mana-mana, idéologinya bisa dari luar (negeri) sekaligus berada pula di genggaman alat komunikasi télépon genggam. Tapi selama ketahanan ékonomi rakyat terjaga, artinya terjaga kebutuhan dasar, pendidikan, dan keséhatan; maka daya tahan publik pun akan cukup kuat dan rélatif akan cukup memiliki ruang untuk melakukan pertimbangan. Dan sebaliknya.

Catatan ini pun tak hendak terpaku kepada réalitas krismon 20 tahun yang lalu. Jangan lupa, pada hari ini dan/atau pada saat catatan ini ditulis, nilai dolar AS di hadapan rupiah dalam kisaran Rp. 13.219,00 – Rp. 13.351,00 artinya malah jauh di atas masa awal krismon, entah kapan bisa kembali menjadi Rp.1.901,00 per dolar AS seperti pada 1990an. Itu mengindikasikan bahwa ancaman kemiskinan masih menyelimuti langit Indonésia. Lima présidén pasca-Suharto nyata belum sanggup mengembalikan keadaan pada situasi aman. Suka atau tak suka, Indonésia masih berada di dalam bayang-bayang ancaman anéka macam kasus sosial-politik. Ledakan-ledakan bom adalah salasatunya saja.***

(Herry Dim, seniman, pelukis, pemerhati kebudayaan, penulis, tinggal di Bandung)