Minggu, 31 Oktober 2021

Harry Roesli Sang Jenius Monumen Musik Indonesia

Catatan: Herry Dim

PIRINGAN hitam cetakan pertama Harry Roesli - Philosophy Gang
(1973) koleksi HD.*

Prakata

SEKIRA setahun sebelum wafatnya Harry Roesli (1951-2004), ia sudah berkata: "Herr, urang rek nerbitkeun buku kandel, moal kurang ti 200 halaman tapi kabeh halamanna kosong kecuali prakata jeung sambutan" (Herr, saya hendak menerbitkan buku tebal, tidak kurang dari 200 halaman tapi semua halamannya kosong kecuali prakata dan tulisan sambutan).

"Maksud Mas Harry?" Demikian sontak saya bertanya.

"Enya, engke eusian ku maneh" (Ya, nanti kamu yang mengisi), jawabnya.

Pernyataannya sangat serius. Itu di luar kebiasaan Harry Roesli yang biasanya penuh dengan canda. Maka saya dan Sulasmoro (panggilannya Moro) menanggapinya dengan serius pula.

"Moro, gawekeun desain jeung dummy-na ku maneh" (Moro, kerjakan desain dan dummy-nya sama kamu), tandas Harry Roesli.

Sejak itu Moro ditemani Rahadian P. Paramita mulai bekerja dan saya mulai menulis seperti yang diminta almarhum. Selang sekira tiga bulan kemudian, "buku kosong" rampung dikerjakan bahkan telah dicetak dengan judul "Tulisan di Atas Angin" pada September 2004. Tapi, Harry Roesli masih kurang "sreg" terutama dengan sampulnya.

"Alus, tapi hideung we kabeh" (bagus, tapi bikin hitam saja semua), kata Harry Roesli sambil menunjuk ilustrasi gambar tengkorak yang kala itu diberi warna perak.

Tak ayal Sulasmoro pun bekerja lagi hingga dummy baru pun selesai dikerjakan. Harry Roesli sempat melihat dummy terakhir, ia suka, namun tak sempat sampai dicetak. Harry Roesli meninggal pada 11 Desember 2004.

Buku tersebut baru dicetak setelah wafatnya Harry Roesli, sehubungan dengan itu judulnya pun diubah menjadi "Kesaksian Harry Roesli 1951-2004," diterbitkan oleh Yayasan Harry Roesli sekira bulan Februari 2005.

Setiap kali saya melihat boks buku tersebut di rak perpustakaan pribadi saya, selalu teringat pernyataan Harry Roesli: "Enya, engke eusian ku maneh."

Padahal, sejak itu terucap hati saya selalu berkata: "Apakah saya akan sanggup?"

Nyatanya saya tidak pernah sanggup mengingat begitu luasnya facet kehidupan Harry Roesli, di sisi lainnya adalah perasaan "siapa tega mengotori halaman-halaman putih bersih itu?"

Maka, sepanjang membuat tulisan pendek untuk menyambut cetak-ulang album "Harry Roesli - Philosophy Gang” ini, selalu saya bayangkan sedang mengisi halaman-halaman di buku "Kesaksian Harry Roesli 1951-2004." Tentu saja teramat jauh dari cukup untuk jumlah halaman yang tak kurang dari 300 itu. Tapi, inilah yang bisa saya perbuat.

"Semoga Mas Harry tersenyum di sorga, ya, Mas."

Tulisan di bawah ini, sesungguhnya dipersiapkan untuk terbit pada 2017, yaitu sebagai pengantar terbitnya edisi cetak ulang "Harry Roesli - Philosophy Gang.” Namun, bersamaan dengan proses penulisan pun sedang hangat-hangatnya rencana “Reuni DKSB” yang akan dilaksanakan pada 17 Desember 2016, kini menjadi bagian dari media blog ini. (HD)

**

HARRY Roesli adalah monumen penting bagi musik Indonesia. Sejak ia menerbitkan album pertamanya "Harry Roesli - Philosophy Gang” (1973) hingga ia meninggal pada 11 Desember 2004, tidak ada satu pun pemusik Indonesia lainnya yang melakukan penjelajahan musikal seluas dirinya. Bahkan hingga "Harry Roesli Philosophy Gang” ini diterbitkan ulang pada 2017 ini, bisa dibuktikan hanya Harry Roesli yang begitu merdeka melakukan lintasan musikal dari gaya musik populer hingga musik kontemporer, ia memasuki dunia musik industri tapi ia pun dengan keliaran dan kemerdekaannya menggubah sejumlah musik serius yang tak wantah bagi kalangan awam. Hanya Harry Roesli pula yang akrab dengan musik jalanan tapi fasih di tataran perbincangan musik akademik. Tembok kaku pembatas antara musik tradisi dan musik baru pun ditabrak dan dibongkarnya, maka ia tercatat sebagai musisi yang paling awal mempertemukan dan membangun kecenderungan musik berlatar tradisi dan musik baru seperti terbukti di dalam “Titik Api” (1976). Perlu pula dicatat, Harry Roesli adalah musisi yang paling tegar melakukan opisisi terhadap kekuasaan yang tidak beres, setidaknya terbukti dengan rekaman L.T.O. (Lima Tahun Oposisi, 1978), Cuaca Buruk (1992), Cuaca Lebih Buruk (1992), dan Politisi Busuk (2004). Bahkan jauh sebelum ia meneruskan kuliah musik di Rotterdam Conservatory di Belanda (1981) dan meraih gelar profesor di bidang musik, banyak “kenakalan” Harry Roesli yang ditandai dengan ngotak-atik wilayah tonal sekaligus atonal. Dunianya demikian luas maka ia pun bersahabat bahkan kerap membuat karya bersama dengan pelukis atau pun perupa pada umumnya, penari, sastrawan, teater, aktivis, rohaniawan, hingga anak jalanan.

Seluruh perjalanan Harry Roesli  tak bisa lepas dari monumen awalnya yaitu album "Harry Roesli - Philosophy Gang” (HR-PG), sebuah album piringan hitam yang diproduksi Robert Wong Jr. di Singapura. Album HR-PG dirilis pada tahun 1973, tapi menurut keterangan Harry Roesli sendiri atau pun sahabatnya yang tergabung di dalam HR-PG, Harry Pochang, album tersebut telah dipersiapkan tak kurang dari tiga tahun sebelumnya. “Lagu Malaria dan Roda Angin, misalnya,” kata Harry Pochang, “itu sudah dimainkan di berbagai panggung dan kampus-kampus sejak tahun 1970an.”

HR-PG artinya dikerjakan Harry Roesli ketika masih berusia antara 19 - 22 tahun. Di usia semuda itu dan di zaman musik Indonesia masih sedang bersolek, Harry Roesli telah melangkah begitu jauh meninggalkan kecenderungan umum musik Indonesia ketika itu, demikian halnya di tataran dunia mungkin hanya bisa disejajarkan dengan “We're Only In It for the Money”nya Frank Zappa yang sampul albumnya saling sindir atau saling melakukan parodi dengan “Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band”nya the Beatles.

Penamaan kelompoknya yaitu “Philosophy Gang,” jelas merupakan nama kelompok musik yang tak lazim ketika itu di Indonesia bahkan di dunia, mengingat baru pada tahun 2000an ada semisal sebuah kelompok yang bernama “The Doctors of Philosophy,” yaitu kelompok musik yang mengacu kepada gaya musik “Grateful Dead,” didirikan pada tahun 2010 dan baru merilis album pada 2016.

“Philosophy Gang” bukan sekadar nama kelompok musik tapi secara mendasar Harry Roesli memang menghampiri filsafat atau radix pemikiran baik dalam teks (lirik lagu) atau pun musikalitasnya. Dalam wujud teks atau lirik, tegas sekali di dalam lagu “Roda Angin,” di sana  terdapat pertanyaan yang sangat mendasar tentang kemanusiaan. Lagu tersebut menunjukan bahwa di atas fisika atau fakta-fakta yang bisa didengar, terlihat, dan teraba adalah metafisika yaitu hal yang tidak berwujud tapi bisa dirasakan, itulah hal mendasar yang sejatinya hanya milik manusia dan energi keillahian. Pertanyaan “apakah gagal?” di dalam lagu “Roda Angin” itu akan mendapatkan jawaban “ya” jika kehidupan hanya diukur dengan hal-hal yang bersifat fisik (terdengar, terlihat, dan teraba), tapi lain halnya jika metafisika bergerak sebab di sana terdapat hal-hal yang tak terdengar, tak tampak, dan tak teraba semisal cinta kasih, imajinasi, hingga spiritualitas. Metafor “hangat badan” jika kita tafsirkan sebagai fisika yang sumbernya tak lain adalah di kedalaman “kehangatan jiwa,” maka kehangatan tersebut akan berguna sekali bagi pendamai api kemarahan yang menyala-nyala sekalipun.

 

Dekonstruksi ala Harry Roesli          

Mari sejenak kita perhatikan bagian ujung atau katakanlah coda dari lagu “Peacock Dog,” di sana ada suara “i i i i iii” dari vokal Harry Roesli sendiri. Selintas mungkin saja terkesan “iseng,” tapi itu sesungguhnya merupakan cikal-bakal kecenderungan Harry Roesli yang senantiasa selalu ingin “mengganggu” struktur bangunan setiap karya yang diciptakan atau pun menyisipkan nomor “menyimpang” di dalam suatu album. Kecenderungan seperti itu menempatkan Harry Roesli menjadi seorang yang di kemudian hari dikenal dengan istilah dekonstruksionis.

Jauh masa sebelum istilah dekonstruksi kita kenal dan barangkali pula masih sedang dituliskan oleh Derrida,[1] Harry Roesli memang memiliki kebiasaan untuk “mengganggu” apapun semisal menertawakan kelakuan, pekerjaan, hingga karya yang pernah dibuatnya sendiri. Menertawakan adalah cara Harry Roesli untuk membongkar struktur bangunan pikiran, konsep tertentu, atau pun karya seni yang pernah ada. Waktu itu istilah dekonstruksi atau gerakan pemikiran pasca-strukturalis belumlah dikenal di Indonesia, Harry Roesli sendiri tak memiliki itikad untuk membangun konsep filsafat pasca-modern, kecuali gairah terdekat sebagai sosok anti-kemapanan seperti yang begitu sering dibincangkan bersama penulis. Gairah itulah yang mendasari sifat progresifnya sehingga ia tidak bisa menerima hal-hal yang bersifat stagnan atau status-quo, dan itu tercermin di setiap karya musik, perilaku, gerakan sosial, hingga gerakan-gerakan politik non-partisannya.

Kecenderungan bersikap pasca-strukturalis telah tercermin pula di dalam album perdananya ini. Silakan perhatikan pola susun atau struktur puitika pada lagu “Malaria.” Lagu tersebut tidak disusun dengan pola kausalitas linear, antara bait ke-1 dan ke-2 tak saling menjelaskan secara linear, demikian pula bait-bait selanjutnya seperti tak saling-berhubungan. Tapi, anehnya, manakala mengikuti “bunyi” atau kalimat musikal (phrase), kita akan mendapatkan nada-nada yang saling berhubungan, kata-kata yang liar dan tidak saling berhubungan tersebut berlompatan, saling-mengikat, dan satu sama lain menjadi saling berhubungan semisal menjadi kalimat-kalimat:

“Kau bersedih dan hanya terus menangis dengan tangis yang palsu sebab air mata dan tawamu yang kau paksa. Kepura-puraan seperti itu bagaikan seekor monyet bergaya. Hidup pun hanya dipenuhi bualan tanpa perbuatan. Itu hidup yang kosong, hidup seorang pengecut. Tapi jika itu pilihan hidupmu, silakan lanjutkan saja sebagai nyamuk malaria. Terbang ke mana-mana hanya menebar penyakit.”

Cara ungkap bahasa seperti itu berbeda sekali dengan cara bercerita sang kakek yaitu Marah Roesli (1889 - 1968). Seperti pada umumnya sastra Balai Pustaka, Marah Roesli dalam menulis prosa atau pun sejumlah kecil puisinya itu dengan pola strukturalis, menjaga betul keteraturan dan stabilitas dalam sistem bahasa; sementara cucunya, yaitu Harry Roesli, memperlakukan bahasa dengan liar dan tak stabil seperti halnya kalangan pascastrukturalis. Bahkan dengan sastra sejaman, Harry Roesli cenderung hanya bisa berdampingan dengan cerpen-cerpen Danarto yang terkumpul di dalam “Godlob” dan karya-karya Putu Wijaya.[2]         

Ciri-ciri keliaran dan sikap dekonstruktif Harry Roesli terhadap sistem bahasa, itu terus berkembang di sepanjang hidup dan di sepanjang masa kreatifnya. Kata-kata dan sistem bahasa pertama sekali tidaklah diperlakukan sebagai penghantar ide-ide, terkadang dibebaskan pula dari makna leksikal; bersamaan dengan kekuatan musikalnya, kata-kata lebih diperlakukan sebagai kekuatan bunyi. Kelak akan tegas sekali terasa di dalam komposisi-komposisi seperti “Orang Basah,” “Samba Setan,” “Tiga Bendera,” “Bharatayudha,” dan “Lagu Zappa Buat Zappa.” Di sana bunyi kata-kata lebih berfungsi perkusif sekaligus pola nada, siapapun seperti dipersilakan untuk “mendengar” terlebih dahulu seperti halnya jika kita memperlakukan musik murni, baru kemudian (jika berkehendak) kita bisa mengurai kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga terbentuk struktur isi pikirannya.

Itu semua hanya terjadi pada seorang jenius bernama Harry Roesli, dan segalanya dimulai dengan album "Harry Roesli - Philosophy Gang” yang kini Anda miliki.***  

----------

(Herry Dimpelukis, sahabat kental Harry Roesli yang dijalin sejak terbitnya album “Titik Api” hingga mengantar pemakamannya di Bogor pada 11 Desember 2004)



[1] Dekonstruksi, seperti dicetuskan Jacques Derrida mulai pada perkiraan tahun 1990an, adalah cara menempatkan diri sebagai oposisi terhadap diskursus apapun. Ini merupakan jalan kritisnya terhadap teori-teori strukturalis, maka buhul pemikiran Derrida antara lain adalah pandangannya bahwa identitas yang terlihat itu sesungguhnya tak-esensial melainkan suatu konstruksi, karena berupa konstruksi-konstruksi maka hanya memproduksi rupa-rupa makna yang saling-mempengaruhi, jadi kenyataan yang kita lihat itu sebenarnya adalah rangkaian sistem yang terdiri dari tanda-tanda pembeda. Maka (inilah sikap dekonstruktifnya, hd), segala hal yang berlangsung di dalam sistem penanda dan tanda itu sesungguhnya tidaklah absolut, singkatnya bisa dan boleh (jika tidak dikatakan harus) diotak-atik.

[2] Godlob, kumpulan cerpen karya Danarto yang terbit tahun 1975 tapi beberapa di antaranya pernah terbit di dalam majalah “Aktuil” menjelang tahun 1970an. Harry Roesli sangat mengagumi karya-karya Danarto tersebut.  Sementara dengan Putu Wijaya di kemudian hari menjadi sangat bersahabat dan menggarap karya bersama-sama.   

COSMOGONY


SETELAH pameran terakhirnya, "A Child's World of Hope and Peace" pada tahun 2008 di Salle de Pas Perdus, Palais des Nations, Geneva, Switzerland (Markas Besar PBB di Jenewa, Swiss), Herry Dim menyelenggarakan kembali pameran tunggalnya yang disiapkan tak kurang dari empat tahun.

Bersama dukungan Bale Motekar Universitas Padjadjaran,

pameran tunggal senirupa karya Herry Dim kali ini berlandas kepada thema "Cosmogony."

Pameran pada 12 April 2015 s/d 19 Mei 2015.

 *

Salam sejahtera bagi kita semua; semoga kedamaian, rahmat, dan berkahNYA
senantiasa terlimpah kepada Anda dan kita semua.

COSMOGONY hadir dan menyapa demi keindahan, kedamaian, kecendekiaan,
kesejahteraan, dan keseimbangan di tengah kehidupan kita semua.

Katalog versi blog ini berisi tentang serial karya yang berjudul

COSMOGONY, yaitu karya seni rupa yang dikreasikan dengan prinsip

badingkut dan art[i]faction.

Diciptakan sebagai karya yang meretas batas

antara “seni murni” dan “kriya.”

Gagasan dan penciptaan serial karya ini dilakukan oleh Herry Dim bersama tim kerjanya.


COSMOGONY sebagai fenomena yang berada di antara “seni murni” dan “kriya,” maka di satu sisi memiliki fungsi pemenuhan kebutuhan “seni,” di sisi lainnya demi kesempurnaan, keindahan,

kedamaian, kecendekiaan, kesejahteraan, dan keseimbangan ruang

hati atau pun ruang kehidupan pada umumnya. 

Seperti umumnya karya seni, COSMOGONY bermula dari gagasan dan sejumlah sketsa studi, bahkan serangkaian studi tekstual. Selepas dari rancangan utama yang dikerjakan seniman, COSMOGONY memasuki tahap pengerjaan mal atau molding yang dikerjakan oleh tenaga ahli di bidang kriya.*

Di antara serangkaian studi, dijumpai adanya sari visual “arketipe” (bawah sadar kolektif) yang berlaku sejak masa purba hingga kehidupan kontemporer. Jejak dan tanda-tandanya terdapat sejak pada gurat jari kita sendiri, pertanda alam yang tumbuh, bahkan berupa hukum semesta alam. Tanda-tanda alam, teori kesemestaan, hingga kaidah-kaidah estetik itulah yang menjadi pijakan penciptaan COSMOGONY.*

Maka karya serial COSMOGONY merupakan pula pilgrim sekaligus perjalanan ke muka bersama cahaya-cahaya kearifan yang mencerahkan.*


*

berikut ini sebagian dari serial 

C O S M O G O N Y 

yang telah dipamerkan 2015

Seluruh karya, pada album berikut ini, dengan media: akrilik di atas sack kraft paper daur ulang setebal 5 lapis dan beralas multiplek 12 mm, 75 X 75 cm atau 100 X 100 cm (termasuk bingkai).*

COSMOGONY #1 in the Heart of Stone (original works), 2014.*


*

COSMOGONY #2 in Green Jadeite Chrysoprasus (original works), 2014.*

*

COSMOGONY #3 in Turqouise Blue (original works), 2014.


*

COSMOGONY #4 in Terracotta and Gold (original works), 2014.*


*

COSMOGONY #5 in Red Spinel (original works), 2014.*


*

COSMOGONY #6 in White Satin (original works), 2014.*


*

COSMOGONY #7 Goes into Greenland (original works), 2014.*

*

COSMOGONY #1 in Turqouise Blue (original works), 2014.* 

[SOLD]

*

 

Sabtu, 30 Oktober 2021

Rimbangbaling ke documenta-fifteen

 


: dalam forum “Urun Rembuk – Berpikir dan Bertindak yang Berkelanjutan”

 

Pengantar

DI TENGAH upaya menulis “Gerbang Awan Rimbang-Baling” yang kemudian saya (hd) terbitkan di ‘Kompasiana,’ muncul pesan atau kabar singkat dari Heri Budiman yang isinya: "Oh ya Kang, saya/sikukeluang tgl 30 Okt - 11 Nov akan ke Jerman ada simposium yang diadakan documenta-fifteen di Kassel. Selain itu di bulan Juni 2022, kita (rimbangbaling) akan pameran di Forum Wissen Göttingen juga dalam rangka documenta. Mohon doa dan dukungannya."

Karena terkejut saking ikut senang, saya hanya membalas singkat: "WOW keren, documenta pula... selamat, ikut senang... lancar & sukses di sana."

Terkejut dan senang karena selintasan telah saya ketahui kiprah documenta sejauh ini. Lembaga documenta basisnya adalah penyelenggaraan pameran seni rupa kontemporer yang diadakan setiap lima tahun sekali di Kassel, Jerman. Didirikan oleh seniman, guru, dan kurator Arnold Bode pada tahun 1955 sebagai bagian dari Bundesgartenschau (Pertunjukan Hortikultura Federal) yang berlangsung di Kassel pada waktu itu. Dalam perkembangannya, sejauh pandang mata saya dari kejauhan, pilihan ‘seni’ documenta itu jauh melampaui pandangan futuristik, menyentuh fenomena yang paling muskil sekalipun tapi selalu berlandaskan pada sains, ilmu pengetahuan, dan tentu saja seni.  

Dalam penyelenggaraan documenta-fifteen dari 18 Juni hingga 25 September 2022 di Kassel, antara lain mengedepankan thema khusus “Urun Rembuk – Berpikir dan Bertindak yang Berkelanjutan” seputar hutan, masyarakat adat, dan seni.

Berikut ini adalah teks terjemahan dari situs resmi documenta-fifteen, semoga ada manfaatnya bagi kita semua.

(hd)

 

Festival Musik Rimbangbaling #2, Koto Lamo, Riau, 2018.
Foto: Rumah Budaya Sikukeluang


“Urun Rembuk – Berpikir dan Bertindak yang Berkelanjutan”

Dengan diskusi panel urun rembuk – berpikir dan bertindak yang keberlanjutan, mengacu kepada kosakata urun rembuk yang bisa diartikan sebagai “mencapai sesuatu secara bersama-sama,” documenta-fifteen menghubungkan upaya keberlanjutannya dengan pendekatan artistik. Percakapan urun rembuk ini menyoroti minat bersama yang menyeluruh dalam melestarikan lingkungan yang sehat, mempromosikan kesetaraan sosial, dan memperkuat ekosistem sosial dan ekonomi.

Kelebihan dari pameran documenta sebelumnya, documenta-fifteen menempatkan penekanan khusus pada keberlanjutan. Fokus ini dipupuk oleh praktik artistik lumbung, yang menjadi dasar ruangrupa untuk edisi documenta mendatang. Berdasarkan pemahaman holistik tentang keberlanjutan, lumbung menyatukan dimensi sosial dan ekologisnya sebagai landasan bagi semua tindakan organisasi dan artistik dalam kerangka documenta-fifteen.

Selama urun rembuk, “Euro Keberlanjutan” yang termasuk di dalam documenta-fifteen akan diperkenalkan, baik kepada mitra dan proyek internasional ataupun lokal yang terlibat. Ini termasuk dengan Universitas Göttingen, dimana documenta-fifteen telah memprakarsai pembuatan proyek keberlanjutan jangka panjang untuk memperkaya perkebunan kelapa sawit dengan pohon-pohon asli di wilayah Jambi Sumatera, Indonesia; dan bersama Forum Wissen, yang berafiliasi dengan Universitas Göttingen, akan mempresentasikan hasil proyek ini ke publik pada tahun 2022. Karya akademik ini diharapkan mengalami local anchor yang lebih kuat melalui kolaborasi dengan seniman kolektif Rumah Budaya Sikukeluang dari provinsi Riau di Sumatera dan diperkaya dengan festival di mana seniman dan penduduk lokal Sumatera diajak untuk terlibat. Sementara mitra proyek yang berbasis di Kassel, HessenForst, bersama dengan documenta-fifteen, melakukan beberapa aksi penanaman pohon yang mengundang partisipasi publik. Penanaman pertama 600 pohon ek sessile di hutan Reinhardswald dekat Kassel pada 26 November 2021.

Diskusi panel dilengkapi dengan pilihan intervensi artistik oleh seniman lumbung Saodat Ismailova, Nguyen Trinh Thi, dan Pınar Öğrenci. Saodat Ismailova merepresentasikan kutipan dari film dokumenternya ARAL, Memancing di Laut yang Tak Terlihat, yang diwujudkan bersama dengan Carlos Casas pada tahun 2004. Film documenter ini memperkenalkan tiga generasi nelayan yang tersisa di Laut Aral dan perjuangan sehari-hari mereka untuk bertahan hidup di salah satu tempat paling tandus di Bumi. Kemudian Nguyen Trinh Thi mempresentasikan karyanya Seri Lanskap #1 tahun 2013, di mana ia menganggap lanskap sebagai saksi bisu sejarah Vietnam dan tempat-tempat peristiwa masa lalu yang menyimpan sesuatu yang kini lenyap, hilang, atau sirna. Dan Pınar Öğrenci memperkenalkan karyanya Resisting Forest (2019/20), di mana dia mewawancarai wanita petani di pantai Laut Hitam, Turki, yang memberontak menggunakan tongkat kayu terhadap proyek pembangkit listrik di Gerze dan pembangkit listrik tenaga air di Aslandere.

Kontribusi dari anggota lumbung “Más Arte Más Acción” dan INLAND difokuskan pada hutan. Film Más Arte Más Acción mengerjakan Kemungkinan Dialog Cap. 2 (2021) berurusan dengan hutan hujan dan penghuninya di wilayah Amazon Kolombia, INLAND membahas isu-isu ekologi dan proyek-proyek terkait keberlanjutan dengan presentasi mereka Think a Forest – On New Commons and the Politics of Re-wilding.

Diskusi penutup yaitu meletakkan dasar untuk percakapan berkelanjutan tentang berbagai isu keberlanjutan yang relevan, termasuk potensi dampak sosial, lingkungan, dan ekonomi, serta tantangan keberlanjutan yang ada di depan.

Acara ini berlangsung di ruruHaus di Kassel. Beberapa peserta akan bergabung secara digital. Rekaman acara akan online di situs web documenta.

 

PROGRAM

·        Ucapan “selamat datang” oleh Andrea Linnenkohl, Tim Artistik dan Koordinator Umum documenta-fifteen

·        Ucapan “Selamat datang” oleh Dr. Sabine Schormann, Director General documenta und Museum Fridericianum gGmbH

·        Pendahuluan ruangrupa, Artistic Direction documenta-fifteen: documenta-fifteen dan Ekologi Berkelanjutan

·        Saodat Ismailova: ARAL. Fishing in an Invisible Sea, 2004, Nguyen Trinh Thi: Landscape Series #1, 2013

·        Pusat Penelitian Kolaborasi 990, Universitas Göttingen: “Fungsi Ekologi dan Sosial Ekonomi Sistem Transformasi Hutan Hujan Tropis Dataran Rendah,” Prof. Dr. Alexander Knohl, Prof. Dr. Holger Kreft, Dr. Aiyen Tjoa, dan Prof. Dr. Meike Wollni

·        Forum Wissen Göttingen: Museum Pengetahuan, Dr. Marie Luisa Allemeyer dan Dr. Michael Fürst

·       Rumah Budaya Siku Keluang: kemah bumi – Festival Seni dan Sains sebagai Media untuk Lingkungan Berkelanjutan, Heri Budiman dan Adhari Donora berbincang dengan Dr. Fabian Brambach

·       Pınar Öğrenci: Resisting Forest, 2019/20, Más Arte Más Acción: Possible Dialogues Cap. 2, 2021

·       HessenForst: Seni Bekerja – Bagaimana Kita Menolong Hutan demi Menyelamatkan Iklim, Michael Gerst, Lutz Hofheinz dan Michelle Sundermann

·       Memikirkan Hutan – Tentang Kesamaan Baru dan Politik Peliaran Kembali

·       Diskusi panel

·       Tanya & Jawab dan kata penutup

·       Nongkrong bersama

 

PARTISIPAN

·       Marie Luisa Allemeyer adalah direktur “Zentrale Kustodie” dari Universitas Göttingen dan pemimpin proyek “Forum Wissen,” yang akan dibuka di Universitas Göttingen pada Mei 2022.

·       Dr. Fabian Brambach adalah peneliti pascadoktoral di Universitas Göttingen dan bekerja pada keanekaragaman dan ekologi tumbuhan di daerah tropis.

·       Heri Budiman adalah seorang aktivis seni yang bergerak di bidang fotografi dan pembuatan film dokumenter tentang seni, budaya dan lingkungan. Heri Budiman adalah salah satu pendiri Rumah Budaya Sikukeluang.

·       Adhari Donora adalah salasatu pendiri berbagai inisiatif termasuk lifepatch.org – inisiatif warga yang bekerja pada praktik interdisipliner dalam seni, sains dan teknologi, serta serempak.org, praktik dan platform lintas disiplin untuk seni di Pekanbaru, Indonesia. Adhari Donora juga salah satu pendiri Rumah Budaya Sikukeluang.

·       Michael Fürst adalah Manajer Pameran di Pusat Pengembangan Koleksi di Universitas Göttingen sejak 2018. Sebelumnya untuk perannya saat ini, Fürst pernah menjadi kurator dan mengelola pameran dan acara di Museum Schwules Berlin, dan bekerja sebagai Yayasan Pengembang Program di Federal Budaya Jerman.

·       Michael Gerst memegang gelar di bidang kehutanan. Sejak 2001 ia menjadi direktur HessenForst, sebuah perusahaan milik pemerintah yang berbasis di Kassel yang mengelola 850.000 hektar hutan milik negara serta sebagian besar hutan perusahaan dan swasta di Hesse.

·       Lutz Hofheinz adalah kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Hanau-Wolfgang. Di antara keterlibatan profesionalnya adalah misi penasehat jangka panjang dan pendek di berbagai negara termasuk penugasan 3 tahun di Indonesia.

·       INLAND adalah kerja kolektif yang didedikasikan untuk produksi pertanian, sosial dan budaya, dan agen kolaboratif. INLAND dimulai pada tahun 2009 dan merupakan anggota lumbung documenta-fifteen.

·       Saodat Ismailova adalah pembuat film dan seniman yang tinggal di antara Paris dan Tashkent. Wilayah kelahirannya tetap menjadi sumber inspirasi utama untuk karyanya, yang berfokus pada praktik spiritual wanita dan pengetahuan leluhur. Dia adalah seniman lumbung documenta-fifteen.

·       Prof. Dr. Alexander Knohl adalah profesor bioklimatologi di Universitas Göttingen yang berfokus pada penelitiannya tentang proses pertukaran atmosfer-darat.

·       Prof. Dr. Holger Kreft adalah profesor keanekaragaman hayati dan makroekologi di Universitas Göttingen dan tertarik pada bagaimana spesies dan ekosistem dipengaruhi oleh kekuatan alam dan antropogenik.

·       Más Arte Más Acción dari Chocó, Kolombia, adalah yayasan budaya nirlaba yang menghasilkan pemikiran kritis melalui seni. Más Arte Más Acción adalah anggota lumbung documenta-fifteen.

·       Artis dan pembuat film Pınar Öğrenci tinggal di Berlin. Karya dan instalasinya yang puitis dan eksperimental berbasis video memperlihatkan jejak-jejak budaya material di berbagai daerah yang terkena dampak pemindahan dan penghilangan penduduk. Dia adalah seniman lumbung documenta-fifteen.

·       ruangrupa adalah Pengarah Artistik documenta-fifteen.

·       Michelle Sundermann adalah Petugas Pers di HessenForst. Sebelumnya dia bekerja sebagai ilmuwan di Proyek Penelitian Hutan Alam dan telah mendukung keterlibatan HessenForst dalam bantuan pembangunan internasional.

·       Nguyen Trinh Thi adalah pembuat film dan seniman yang berbasis di Hanoi. Dia adalah seniman lumbung documenta-fifteen.

·       Dr. Aiyen Tjoa adalah dosen di Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Indonesia, dengan fokus penelitian pada interaksi tanah-tanaman. Dia adalah anggota dewan manajemen bersama CRC 990.

·       Prof. Dr. Meike Wollni adalah profesor ekonomi lingkungan dan sumber daya di Universitas Göttingen. Dalam penelitiannya, ia berfokus pada insentif untuk pilihan penggunaan lahan yang lebih berkelanjutan.

 

PROTOKOL COVID-19

Akses ke ruruHaus hanya dimungkinkan dengan bukti kesehatan, vaksinasi atau tes negatif, yang tidak lebih dari 24 jam (aturan 3G).

Acara ini berlangsung di bawah protokol kesehatan yang berlaku. Ada kewajiban untuk menutup mulut dan hidung di seluruh area indoor.

 

______________

Bacaan lanjutan:

Sekilas tentang Rimbangbaling, lihat:

Herry Dim, “Gerbang Awan Rimbang-Baling,” Kompasiana  https://www.kompasiana.com/herrydim6585/61768400dfa97e0db71ba8e2/gerbang-awan-rimbang-baling

Sekilas tentang Festival Musik Rimbangbaling #2, lihat:

Herry Dim, "Seni di Tengah Rimba Kampar," TEMPO, Edisi 11 Februari 2018 https://majalah.tempo.co/read/seni/154914/seni-di-tengah-rimba-kampar

Sumber asli dari documenta-fifteen adalah:

https://documenta-fifteen.de/en/events/urun-rembuk-thinking-and-acting-on-sustainability/