Sabtu, 30 Oktober 2021

Rimbangbaling ke documenta-fifteen

 


: dalam forum “Urun Rembuk – Berpikir dan Bertindak yang Berkelanjutan”

 

Pengantar

DI TENGAH upaya menulis “Gerbang Awan Rimbang-Baling” yang kemudian saya (hd) terbitkan di ‘Kompasiana,’ muncul pesan atau kabar singkat dari Heri Budiman yang isinya: "Oh ya Kang, saya/sikukeluang tgl 30 Okt - 11 Nov akan ke Jerman ada simposium yang diadakan documenta-fifteen di Kassel. Selain itu di bulan Juni 2022, kita (rimbangbaling) akan pameran di Forum Wissen Göttingen juga dalam rangka documenta. Mohon doa dan dukungannya."

Karena terkejut saking ikut senang, saya hanya membalas singkat: "WOW keren, documenta pula... selamat, ikut senang... lancar & sukses di sana."

Terkejut dan senang karena selintasan telah saya ketahui kiprah documenta sejauh ini. Lembaga documenta basisnya adalah penyelenggaraan pameran seni rupa kontemporer yang diadakan setiap lima tahun sekali di Kassel, Jerman. Didirikan oleh seniman, guru, dan kurator Arnold Bode pada tahun 1955 sebagai bagian dari Bundesgartenschau (Pertunjukan Hortikultura Federal) yang berlangsung di Kassel pada waktu itu. Dalam perkembangannya, sejauh pandang mata saya dari kejauhan, pilihan ‘seni’ documenta itu jauh melampaui pandangan futuristik, menyentuh fenomena yang paling muskil sekalipun tapi selalu berlandaskan pada sains, ilmu pengetahuan, dan tentu saja seni.  

Dalam penyelenggaraan documenta-fifteen dari 18 Juni hingga 25 September 2022 di Kassel, antara lain mengedepankan thema khusus “Urun Rembuk – Berpikir dan Bertindak yang Berkelanjutan” seputar hutan, masyarakat adat, dan seni.

Berikut ini adalah teks terjemahan dari situs resmi documenta-fifteen, semoga ada manfaatnya bagi kita semua.

(hd)

 

Festival Musik Rimbangbaling #2, Koto Lamo, Riau, 2018.
Foto: Rumah Budaya Sikukeluang


“Urun Rembuk – Berpikir dan Bertindak yang Berkelanjutan”

Dengan diskusi panel urun rembuk – berpikir dan bertindak yang keberlanjutan, mengacu kepada kosakata urun rembuk yang bisa diartikan sebagai “mencapai sesuatu secara bersama-sama,” documenta-fifteen menghubungkan upaya keberlanjutannya dengan pendekatan artistik. Percakapan urun rembuk ini menyoroti minat bersama yang menyeluruh dalam melestarikan lingkungan yang sehat, mempromosikan kesetaraan sosial, dan memperkuat ekosistem sosial dan ekonomi.

Kelebihan dari pameran documenta sebelumnya, documenta-fifteen menempatkan penekanan khusus pada keberlanjutan. Fokus ini dipupuk oleh praktik artistik lumbung, yang menjadi dasar ruangrupa untuk edisi documenta mendatang. Berdasarkan pemahaman holistik tentang keberlanjutan, lumbung menyatukan dimensi sosial dan ekologisnya sebagai landasan bagi semua tindakan organisasi dan artistik dalam kerangka documenta-fifteen.

Selama urun rembuk, “Euro Keberlanjutan” yang termasuk di dalam documenta-fifteen akan diperkenalkan, baik kepada mitra dan proyek internasional ataupun lokal yang terlibat. Ini termasuk dengan Universitas Göttingen, dimana documenta-fifteen telah memprakarsai pembuatan proyek keberlanjutan jangka panjang untuk memperkaya perkebunan kelapa sawit dengan pohon-pohon asli di wilayah Jambi Sumatera, Indonesia; dan bersama Forum Wissen, yang berafiliasi dengan Universitas Göttingen, akan mempresentasikan hasil proyek ini ke publik pada tahun 2022. Karya akademik ini diharapkan mengalami local anchor yang lebih kuat melalui kolaborasi dengan seniman kolektif Rumah Budaya Sikukeluang dari provinsi Riau di Sumatera dan diperkaya dengan festival di mana seniman dan penduduk lokal Sumatera diajak untuk terlibat. Sementara mitra proyek yang berbasis di Kassel, HessenForst, bersama dengan documenta-fifteen, melakukan beberapa aksi penanaman pohon yang mengundang partisipasi publik. Penanaman pertama 600 pohon ek sessile di hutan Reinhardswald dekat Kassel pada 26 November 2021.

Diskusi panel dilengkapi dengan pilihan intervensi artistik oleh seniman lumbung Saodat Ismailova, Nguyen Trinh Thi, dan Pınar Öğrenci. Saodat Ismailova merepresentasikan kutipan dari film dokumenternya ARAL, Memancing di Laut yang Tak Terlihat, yang diwujudkan bersama dengan Carlos Casas pada tahun 2004. Film documenter ini memperkenalkan tiga generasi nelayan yang tersisa di Laut Aral dan perjuangan sehari-hari mereka untuk bertahan hidup di salah satu tempat paling tandus di Bumi. Kemudian Nguyen Trinh Thi mempresentasikan karyanya Seri Lanskap #1 tahun 2013, di mana ia menganggap lanskap sebagai saksi bisu sejarah Vietnam dan tempat-tempat peristiwa masa lalu yang menyimpan sesuatu yang kini lenyap, hilang, atau sirna. Dan Pınar Öğrenci memperkenalkan karyanya Resisting Forest (2019/20), di mana dia mewawancarai wanita petani di pantai Laut Hitam, Turki, yang memberontak menggunakan tongkat kayu terhadap proyek pembangkit listrik di Gerze dan pembangkit listrik tenaga air di Aslandere.

Kontribusi dari anggota lumbung “Más Arte Más Acción” dan INLAND difokuskan pada hutan. Film Más Arte Más Acción mengerjakan Kemungkinan Dialog Cap. 2 (2021) berurusan dengan hutan hujan dan penghuninya di wilayah Amazon Kolombia, INLAND membahas isu-isu ekologi dan proyek-proyek terkait keberlanjutan dengan presentasi mereka Think a Forest – On New Commons and the Politics of Re-wilding.

Diskusi penutup yaitu meletakkan dasar untuk percakapan berkelanjutan tentang berbagai isu keberlanjutan yang relevan, termasuk potensi dampak sosial, lingkungan, dan ekonomi, serta tantangan keberlanjutan yang ada di depan.

Acara ini berlangsung di ruruHaus di Kassel. Beberapa peserta akan bergabung secara digital. Rekaman acara akan online di situs web documenta.

 

PROGRAM

·        Ucapan “selamat datang” oleh Andrea Linnenkohl, Tim Artistik dan Koordinator Umum documenta-fifteen

·        Ucapan “Selamat datang” oleh Dr. Sabine Schormann, Director General documenta und Museum Fridericianum gGmbH

·        Pendahuluan ruangrupa, Artistic Direction documenta-fifteen: documenta-fifteen dan Ekologi Berkelanjutan

·        Saodat Ismailova: ARAL. Fishing in an Invisible Sea, 2004, Nguyen Trinh Thi: Landscape Series #1, 2013

·        Pusat Penelitian Kolaborasi 990, Universitas Göttingen: “Fungsi Ekologi dan Sosial Ekonomi Sistem Transformasi Hutan Hujan Tropis Dataran Rendah,” Prof. Dr. Alexander Knohl, Prof. Dr. Holger Kreft, Dr. Aiyen Tjoa, dan Prof. Dr. Meike Wollni

·        Forum Wissen Göttingen: Museum Pengetahuan, Dr. Marie Luisa Allemeyer dan Dr. Michael Fürst

·       Rumah Budaya Siku Keluang: kemah bumi – Festival Seni dan Sains sebagai Media untuk Lingkungan Berkelanjutan, Heri Budiman dan Adhari Donora berbincang dengan Dr. Fabian Brambach

·       Pınar Öğrenci: Resisting Forest, 2019/20, Más Arte Más Acción: Possible Dialogues Cap. 2, 2021

·       HessenForst: Seni Bekerja – Bagaimana Kita Menolong Hutan demi Menyelamatkan Iklim, Michael Gerst, Lutz Hofheinz dan Michelle Sundermann

·       Memikirkan Hutan – Tentang Kesamaan Baru dan Politik Peliaran Kembali

·       Diskusi panel

·       Tanya & Jawab dan kata penutup

·       Nongkrong bersama

 

PARTISIPAN

·       Marie Luisa Allemeyer adalah direktur “Zentrale Kustodie” dari Universitas Göttingen dan pemimpin proyek “Forum Wissen,” yang akan dibuka di Universitas Göttingen pada Mei 2022.

·       Dr. Fabian Brambach adalah peneliti pascadoktoral di Universitas Göttingen dan bekerja pada keanekaragaman dan ekologi tumbuhan di daerah tropis.

·       Heri Budiman adalah seorang aktivis seni yang bergerak di bidang fotografi dan pembuatan film dokumenter tentang seni, budaya dan lingkungan. Heri Budiman adalah salah satu pendiri Rumah Budaya Sikukeluang.

·       Adhari Donora adalah salasatu pendiri berbagai inisiatif termasuk lifepatch.org – inisiatif warga yang bekerja pada praktik interdisipliner dalam seni, sains dan teknologi, serta serempak.org, praktik dan platform lintas disiplin untuk seni di Pekanbaru, Indonesia. Adhari Donora juga salah satu pendiri Rumah Budaya Sikukeluang.

·       Michael Fürst adalah Manajer Pameran di Pusat Pengembangan Koleksi di Universitas Göttingen sejak 2018. Sebelumnya untuk perannya saat ini, Fürst pernah menjadi kurator dan mengelola pameran dan acara di Museum Schwules Berlin, dan bekerja sebagai Yayasan Pengembang Program di Federal Budaya Jerman.

·       Michael Gerst memegang gelar di bidang kehutanan. Sejak 2001 ia menjadi direktur HessenForst, sebuah perusahaan milik pemerintah yang berbasis di Kassel yang mengelola 850.000 hektar hutan milik negara serta sebagian besar hutan perusahaan dan swasta di Hesse.

·       Lutz Hofheinz adalah kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Hanau-Wolfgang. Di antara keterlibatan profesionalnya adalah misi penasehat jangka panjang dan pendek di berbagai negara termasuk penugasan 3 tahun di Indonesia.

·       INLAND adalah kerja kolektif yang didedikasikan untuk produksi pertanian, sosial dan budaya, dan agen kolaboratif. INLAND dimulai pada tahun 2009 dan merupakan anggota lumbung documenta-fifteen.

·       Saodat Ismailova adalah pembuat film dan seniman yang tinggal di antara Paris dan Tashkent. Wilayah kelahirannya tetap menjadi sumber inspirasi utama untuk karyanya, yang berfokus pada praktik spiritual wanita dan pengetahuan leluhur. Dia adalah seniman lumbung documenta-fifteen.

·       Prof. Dr. Alexander Knohl adalah profesor bioklimatologi di Universitas Göttingen yang berfokus pada penelitiannya tentang proses pertukaran atmosfer-darat.

·       Prof. Dr. Holger Kreft adalah profesor keanekaragaman hayati dan makroekologi di Universitas Göttingen dan tertarik pada bagaimana spesies dan ekosistem dipengaruhi oleh kekuatan alam dan antropogenik.

·       Más Arte Más Acción dari Chocó, Kolombia, adalah yayasan budaya nirlaba yang menghasilkan pemikiran kritis melalui seni. Más Arte Más Acción adalah anggota lumbung documenta-fifteen.

·       Artis dan pembuat film Pınar Öğrenci tinggal di Berlin. Karya dan instalasinya yang puitis dan eksperimental berbasis video memperlihatkan jejak-jejak budaya material di berbagai daerah yang terkena dampak pemindahan dan penghilangan penduduk. Dia adalah seniman lumbung documenta-fifteen.

·       ruangrupa adalah Pengarah Artistik documenta-fifteen.

·       Michelle Sundermann adalah Petugas Pers di HessenForst. Sebelumnya dia bekerja sebagai ilmuwan di Proyek Penelitian Hutan Alam dan telah mendukung keterlibatan HessenForst dalam bantuan pembangunan internasional.

·       Nguyen Trinh Thi adalah pembuat film dan seniman yang berbasis di Hanoi. Dia adalah seniman lumbung documenta-fifteen.

·       Dr. Aiyen Tjoa adalah dosen di Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Indonesia, dengan fokus penelitian pada interaksi tanah-tanaman. Dia adalah anggota dewan manajemen bersama CRC 990.

·       Prof. Dr. Meike Wollni adalah profesor ekonomi lingkungan dan sumber daya di Universitas Göttingen. Dalam penelitiannya, ia berfokus pada insentif untuk pilihan penggunaan lahan yang lebih berkelanjutan.

 

PROTOKOL COVID-19

Akses ke ruruHaus hanya dimungkinkan dengan bukti kesehatan, vaksinasi atau tes negatif, yang tidak lebih dari 24 jam (aturan 3G).

Acara ini berlangsung di bawah protokol kesehatan yang berlaku. Ada kewajiban untuk menutup mulut dan hidung di seluruh area indoor.

 

______________

Bacaan lanjutan:

Sekilas tentang Rimbangbaling, lihat:

Herry Dim, “Gerbang Awan Rimbang-Baling,” Kompasiana  https://www.kompasiana.com/herrydim6585/61768400dfa97e0db71ba8e2/gerbang-awan-rimbang-baling

Sekilas tentang Festival Musik Rimbangbaling #2, lihat:

Herry Dim, "Seni di Tengah Rimba Kampar," TEMPO, Edisi 11 Februari 2018 https://majalah.tempo.co/read/seni/154914/seni-di-tengah-rimba-kampar

Sumber asli dari documenta-fifteen adalah:

https://documenta-fifteen.de/en/events/urun-rembuk-thinking-and-acting-on-sustainability/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar