Selasa, 09 November 2021

Ekstase Jenar

 


Sebuah pertunjukan berdasar lakon "Syekh Siti Jenar: Babad Geger Pengging" karya Saini KM

Sutradara: Fathul A. Husein

Merupakan pertunjukan teater dramatik, teater tubuh, tari, dan budaya Islam. Produksi Jurusan Teater ISBI Bandung dalam rangkaian 5th Invitation to the Theatre

Kamis, 18 November 2021 pkl. 09.17 – 10.45 WIB

Link Virtual bit.ly/JurusanTeaterChannel

Sunan Jenar diperankan oleh DR. Tony Broer

Didukung para aktor:

DR. Rusman Nurdin, Irwan Jamal, Rusli Keleeng, Indrasitas, Patuh Aminin, Yeni Saru Ovikawati, Nur Fitriyani Padjriah, Pahrul, Kevin Geraldi, Fairus Putra Ananda, Rian Nopriadi

Artistik: Cep Kohar, Maulana Fikri, Alwi Faisal

Busana & Rias: Tegar Purba Purina, Desi Ratnasari, Karina Adinda, Sukma Rahma Dian

Tata Vahaya: Zamzam Mubarok, Rohmad Yuwono

Musik: Isep Sepiralisman

Vokalis: M. Wail Irsyad, Cucu Sulastri, Indra Dewa

Multimedia: Bayuning Arjunanto, Shabilla Anggraini Cipta Dewi

Dokumentasi: Juhari Usman Ali, Zaidan

Videografi: M. Sidik, Robby  

Dukungan khusus: Neo Theatre dan Keluarga Mahasiswa Teater ISBI Bandung.


Pengantar Pentas "Ekstase Jenar"

 Oleh : Fathul A.Husein

GEMPA di Pengging tidak saja mengakibatkan keruntuhan tatanan fisik dan jatuhnya banyak korban tanpa pilih bulu, namun juga berdampak pada krisis keimanan dan gegar politik-kekuasaan. Rakyat Pengging menghujat Tuhan, pada awalnya, sebelum kemudian Sunan Jenar (ulama kharismatik setempat) menggulirkan hikmah gempa ke arah ‘pencerahan’ dan jalan lempang menuju Tuhan, tentu melalui ajaran tasawuf dan kemakrifatannya yang terkenal, ‘Wahdatul Wujud’ (Manunggaling Kawula-Gusti).

Bagi Sunan Jenar, tiada do’a dan sembahyang yang dapat mencegah terjadinya bencana dan malapetaka. Bencana dan malapetaka adalah ujian Ilahiah atas kodrat manusia sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Tolong-menolong dan ‘welas-asih’ dalam ketawakkalan, keikhlasan dan kegembiraan, terutama saat bencana, adalah wujud tanggungjawab manusia dalam mengemban tugas keilahian sebagai ‘khalifatullah’ (wakil penyelenggaraan Ilahi di muka bumi). Manusia adalah ‘pancaran’ (emanasi) cahaya Ilahi dan memiliki dzat yang sama dengan Tuhan, hanya sedang mengambil bentuk kemanusiaan. Tuhan tidak merupakan pribadi yang terpisah dari ciptaanNya. Ciptaan Tuhan adalah bagian dari Tuhan sendiri, seperti halnya cahaya memancar dari sumbernya. Tuhan adalah sumber cahaya itu. Oleh karenanya, sebagai pancaran dari Tuhan, betapa pun terbatas dan fananya, manusia memiliki sifat-sifat keilahian.

Di pihak lain, Kebo Kenongo alias Ki Ageng Pengging, bupati setempat yang dianggap murid dari ajaran Sunan Jenar, menggunakan isyu gempa dan krisis keimanan warganya untuk tujuan-tujuan politik-kekuasaan masa silam dengan mengaitkan bencana pada mitos lama tentang menurunnya kekuatan dan kekuasaan raja. Ia membelokkan arah keguncangan jiwa (akibat gempa) sebagian warga dan petinggi wilayah untuk memberontak kepada kekuasaan raja yang sah, yakni Sri Sultan Demak. Tidak lain tujuan utamanya adalah demi menegakkan kembali kerajaan dan agama/kepercayaan lama sebelum era Kesultanan Demak.

Lain halnya dengan Darmacaraka. Pangeran muda Kesultanan Demak yang berlumur ambisi kekuasaan dan menghalalkan segala cara dengan kerap mengatasnamakan agama dan Tuhan, tak segan memberantas dan menghabisi siapa pun yang tak mau ‘seiring dan sejalan’ dengan garis kekuasaan. Di bawah komandonya yang garang, pemberontakan Kebo Kenongo ditumpas-habis hingga ke akar-akarnya. Kebo Kenongo, bupati ‘bercita-cita’ tinggi yang dicap ‘sisa-sisa kafir’ itu pun tewas seketika dalam pemberontakannya. Tidak cukup sampai di situ, Darmacaraka juga menangkap Sunan Jenar, menyeretnya ke pengadilan dan menjatuhkan hukuman mati kepada ulama kharismatik itu, dengan tuduhan bahwa Sunan Jenar dan ajarannya dianggap sebagai akar penyebab dan ‘sumber pijakan’ dari meletusnya pemberontakan Kebo Kenongo. Nalar politik Darmacaraka untuk kekuasaan memang luar biasa, ia menawari Sunan Jenar pengampunan asalkan mau mengakui di hadapan khalayak umum bahwa dirinya dan ajarannya adalah sesat, murtad, syirik, zindik, dan kafir. Ia senantiasa memaksakan kehendak kepada Dewan Wali (penasehat Kesultanan) dan bahkan ‘melampaui’ kebijakan Sri Sultan. ‘Jubah agama’ selalu ia kenakan dalam menjustifikasi tindakan dan ambisi beratnya terhadap kekuasaan.

Sunan Jenar sendiri dengan sadrah, tenang dan sepenuh keyakinan, mengumumkan keputusan eksistensialnya yang mengejutkan Darmacaraka. Ia menolak tunduk terhadap kuasa apa pun di luar dirinya, dengan lebih memilih hukuman mati dengan cara dipancung ketimbang harus menuruti itikad busuk politik-kekuasaan berparas ‘tebar pesona’ dan pencitraan seorang Darmacaraka.

Tatkala jenasah Sunan Jenar dimakamkan, diam-diam Darmacaraka mengganti jenasah itu dengan bangkai seekor anjing kudisan, sehingga ketika para santri Sunan Jenar hendak memindahkan jenasah itu ke tempat lain, mereka dibuat terperangah oleh suatu fakta yang mengguncang keyakinan mereka, bahwa jenasah guru mereka telah berubah menjadi bangkai seekor anjing yang hina. Dari sanalah mungkin muasal ‘mitos’ yang mengungkapkan bahwa Sunan Jenar atau Syekh Siti Jenar, oleh akibat meyakini dan menyebarkan ajaran yang dituding sesat, murtad, syirik, zindik, dan kafir, maka saat kematiannya berubah hina menjadi seekor anjing mati.

‘Wallaahu a’lam bishowab’… Hanya Allah SWT yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya…

**

PERTUNJUKAN ini hendak menyelami situasi saling menelusup dan saling menerobos (inter-penetrasi) antara kekuatan teater dramatik, teater fisik (disiplin tubuh), dan tari.

Memadukan elemen-elemen artistik dari ranah disiplin yang berbeda tersebut dengan menciptakan tegangan dan kontras yang mengungkap esensi dari inisiasi rite de passage, ritus perjalanan dan pengembaraan melampaui ‘maqom’ nafsu manusiawi (dalam bingkai tarikat Islam), sejak ‘amarah-lawwamah’ hingga ‘sufiyah-muthmainnah’. Dari api yang berkobar-kobar dan menghanguskan jiwa lalu berubah menjadi cahaya putih yang tenang, sunyi, dan tanpa batas.

Pertunjukan ini berkelindan di antara intensitas dan ekspresivitas akting (seni peran), geliat-hentak gerak tari dalam level simbolis, reflektivitas visual, musikalitas dan lantunan puji-pujian religi dan kultur Islami yang meluluhkan hati, dan dengan ‘meminjam’ budaya lokal pemantik kontemplasi macam Topeng Klana dan Topeng Panji.

Melalui kearifan lakon masterpiece buah pena Saini KM, pertunjukan ini juga sekedar ingin mengingatkan kita tentang makna penting ‘budaya tabayyun’, salah-satu nilai luhur dari kultur Islami, bahwa setiap muncul isyu sosial apapun di tengah masyarakat, kita hendaknya beramah-tamah dan bersilaturahim untuk mengkonfirmasi sumber utama yang dianggap menggulirkan isyu itu, tidak lain guna mendapatkan kejelasan yang terang-benderang dan tidak malah termakan ‘hoaks’.

Selamat menonton. Moga tontonan ini menjadi ‘tuntunan’ untuk lebih mendewasakan kita semua dalam memahami dan menyikapi segala hal secara arif nan luhur.

Salam Budaya,

Fathul A. Huseinsutradara EKSTASE JENAR


Sumber: FB @Irwan Jamal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar