Senin, 15 November 2021

Anak Generasi Krismon

 


Oleh: Herry Dim

 SEPERTI dilansir sejumlah média bahwa dua orang yang diduga pelaku bom bunuh diri Kampung Melayu adalah AS (32 tahun) dan INS (31 tahun). Jika dirata-ratakan, keduanya dalam usia 30an atau kelahiran sekitar tahun 1987an. Jika kedua orang tersebut pernah menempuh pendidikan, maka berada di bangku SD/ Ibtidaiyah pada 1993-1999, SMP/Tsanawiyah1999-2002, dan SMA/Aliyah 2002-2005.

Fokus catatan ini ingin memperhatikan masa awal tumbuh anak-anak zaman ini, yaitu semasa SD/ Ibtidaiyah sekitar tahun 1993-1999an. Ini adalah masa paling genting dalam tatanan politik, ékonomi dan keuangan di Indonésia. Dari sisi politik adalah masa mulai goyahnya kekuasaan rézim Suharto hingga léngsér pada 1998, sementara dari sisi ékonomi dan keuangan adalah masa berlangsungnya krisis monétér yang kemudian kerap disingkat menjadi krismon.

Sejumlah téori menyebutkan krisis monétér atau krisis finansial itu dimulai pada Juli 1997 di Thailand, yang kemudian mempengaruhi mata uang, bursa saham, dan harga asét lainnya di beberapa negara Asia, termasuk Indonésia, Koréa Selatan, Hongkong, Malaysia, dan Filipina. Taraf kesulitan hidup masyarakat menengah-bawah di Indonésia sendiri sudah mulai terasa sejak menjelang masuk tahun 1990an. Kurs rupiah terhadap dolar AS pada 1990 masih sebesar Rp.1.901,00 per dolar AS, tapi kesulitan rakyat untuk mendapatkan uang sudah terasa merata di mana-mana, orang Sunda kerap mengatakannya sebagai zaman seuseut hirup (hidup yang seret). Ketika di awal krismon, 1997, nilai rupiah mulai anjlok ke tingkat lebih dari dua kali lipat menjadi sekitaran Rp. 3.989,00 per dolar AS, rakyat pun sertamerta menjerit. Puncaknya adalah pada tahun 1998, rupiah terjun bébas hingga sekitaran Rp. 11.591,00 per dolar AS.

Beberapa analisa sosial menyampaikan sekurang-kurangnya ada tujuh dampak krismon, dua di antaranya adalah (1) Angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) meningkat karena banyak perusahaan yang melakukan éfisiénsi ataupun menghentikan kegiatan sama sekali; dan (2) Persediaan barang nasional, khususnya sembilan bahan pokok di pasaran mulai menipis pada akhir tahun 1997. Akibatnya, harga naik tak terkendali dan biaya hidup semakin tinggi.

Dampak yang disebut terakhir rélatif tidak sepenuhnya tepat, sejumlah pengalaman kami bersama Bandung Peduli yang ketika itu turun langsung menghampiri masyarakat, melihat bukti bahwa sembilan bahan pokok umumnya tersedia di pasar karena di antaranya diatasi dengan pasokan impor. Bahkan beberapa kali kami ke gudang Bulog – waktu itu Bulog difungsikan sebagai pengendali logistik pangan—menjumpai tumpukan karung-karung beras yang diantaranya rusak karena tidak terserap oléh pasar. Itu sekadar bukti kecil bahwa persoalan terbesar zaman krismon adalah lemahnya daya beli masyarakat, sehingga kami pun menyebutnya krisis daya beli alias rakyat tak memiliki uang untuk belanja kebutuhan hidup. Kemiskinan rakyat saat itu memang mencemaskan. Setelah tidak mampu belanja bahan pokok, berikutnya rakyat pun tak mampu memperhatikan pendidikan dan keséhatan.

Saat melihat itu semua dengan berjalan dari pintu ke pintu, di setiap rumah yang kami hampiri senantiasa melihat sejumlah anak-anak. Sambil menyerahkan secuil bantuan karitatif, tercetuslah dalam obrolan bersama sejumlah rélawan, bahwa bantuan karitatif sesungguhnya tak menyelesaikan persoalan kecuali berupa bantuan darurat. Sementara persoalan terbesarnya, jika ékonomi dan keuangan bangsa/negara tak kunjung reda, adalah nasib anak-anak yang sedang tumbuh di tengah kemiskinan tersebut. “Meréka lambat laun bisa tumbuh menjadi semacam bom waktu yang suatu saat meledak dalam bentuk dentuman sosial. Yang kita cemaskan sesungguhnya adalah réalitas bangsa/negara antara sepuluh sampai 15 tahun ke depan,” demikian antara lain obrolan kami sambil menyerahkan kantong kérésék hitam yang berisi 5 – 10 kg beras, ikan asin, minyak goréng, dan beberapa bungkus mie instan.

 

Kapai-kapai Arifin C. Noer

 

Setiap kali menyaksikan kemiskinan hampir selalu membawa ingatan kepada naskah drama "Kapai-kapai" karya Arifin C. Noer (1941 - 1995). Drama ini tidak berbicara tentang bom bunuh diri Kampung Melayu atau pun bom serta tidak kekerasan dan penghancuran kemanusiaan lainnya, tapi secara radikal –dalam arti medasar atau sampai ke radix— berbicara tentang kemiskinan material, moral, dan spiritual. Kapai-kapai ditulis tahun 1970an, Arifin C. Noer seperti telah menyampaikan sinyal peringatan, bahwa perkara kemiskinan material, moral, dan spiritual itu merupakan bahaya personal sekaligus sosial.

Persoalan Indonésia, seperti diungkapkan léwat tokoh Abu di dalam drama “Kapai-kapai,” pada awalnya adalah lautan problém kemiskinan materi atau kenyataan manusia-manusia ékonomi lemah yang merebak dan menjadi mayoritas di seantéro tanah air. Abu seperti manusia-manusia miskin lain, lazimnya tetaplah memiliki impian, memiliki hasrat kebahagiaan, yang pada kenyataannya hasrat tersebut terus-menerus berbenturan dengan réalitas hidup. Abu malah terombang-ambing. Bahkan kala sudah bisa kerja kantoran, Abu digambarkan layaknya sebuah mesin yang tidak punya kuasa berkehendak. Tokoh Abu sebagaimana gambaran umumnya manusia miskin, bisa terjebak ke dalam ketidakberdayaan ékonomi, tak memiliki ruang berkehendak, hingga akhirnya bisa saja tenggelam di kedalaman putus asa.

Kemiskinan, mémang, tak senantiasa bersisi gelap. Sebut misalnya Dostoyevsky yang sejak kecil dihadapkan pada kehidupan rumah sakit rakyat miskin di Moskow atau Leo Tolstoy yang hidup dan membuat cerpén-cerpén bersama petani miskin, nyatanya justru karena gencétan hidup merejel lah karya-karya kréatif yang bahkan mempengaruhi dunia. Begitu pula Jepang setelah Hirosima dan Nagasaki diluluh-lantakan, luka dan perihnya jejak perang malah membangkitkan étos bangsa untuk bangkit mengejar ketertinggalan.

Yang perlu ditandaskan dalam catatan ini, bahwa kemiskinan itu rentan. Betul, di zaman baru sekarang ini, “sumbu péndék” bom waktu bertebar di mana-mana, idéologinya bisa dari luar (negeri) sekaligus berada pula di genggaman alat komunikasi télépon genggam. Tapi selama ketahanan ékonomi rakyat terjaga, artinya terjaga kebutuhan dasar, pendidikan, dan keséhatan; maka daya tahan publik pun akan cukup kuat dan rélatif akan cukup memiliki ruang untuk melakukan pertimbangan. Dan sebaliknya.

Catatan ini pun tak hendak terpaku kepada réalitas krismon 20 tahun yang lalu. Jangan lupa, pada hari ini dan/atau pada saat catatan ini ditulis, nilai dolar AS di hadapan rupiah dalam kisaran Rp. 13.219,00 – Rp. 13.351,00 artinya malah jauh di atas masa awal krismon, entah kapan bisa kembali menjadi Rp.1.901,00 per dolar AS seperti pada 1990an. Itu mengindikasikan bahwa ancaman kemiskinan masih menyelimuti langit Indonésia. Lima présidén pasca-Suharto nyata belum sanggup mengembalikan keadaan pada situasi aman. Suka atau tak suka, Indonésia masih berada di dalam bayang-bayang ancaman anéka macam kasus sosial-politik. Ledakan-ledakan bom adalah salasatunya saja.***

(Herry Dim, seniman, pelukis, pemerhati kebudayaan, penulis, tinggal di Bandung)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar