Oleh: Herry Dim
Fokus
catatan ini ingin memperhatikan masa awal tumbuh anak-anak zaman ini, yaitu
semasa SD/ Ibtidaiyah sekitar tahun 1993-1999an. Ini adalah masa paling genting
dalam tatanan politik, ékonomi dan keuangan di Indonésia. Dari sisi politik
adalah masa mulai goyahnya kekuasaan rézim Suharto hingga léngsér pada 1998,
sementara dari sisi ékonomi dan keuangan adalah masa berlangsungnya krisis monétér
yang kemudian kerap disingkat menjadi krismon.
Sejumlah
téori menyebutkan krisis monétér atau krisis finansial itu dimulai pada Juli
1997 di Thailand, yang kemudian mempengaruhi mata uang, bursa saham, dan harga
asét lainnya di beberapa negara Asia, termasuk Indonésia, Koréa Selatan, Hongkong,
Malaysia, dan Filipina. Taraf kesulitan hidup masyarakat menengah-bawah di Indonésia
sendiri sudah mulai terasa sejak menjelang masuk tahun 1990an. Kurs rupiah
terhadap dolar AS pada 1990 masih sebesar Rp.1.901,00 per dolar AS, tapi
kesulitan rakyat untuk mendapatkan uang sudah terasa merata di mana-mana, orang
Sunda kerap mengatakannya sebagai zaman seuseut
hirup (hidup yang seret). Ketika di awal krismon, 1997, nilai rupiah mulai anjlok
ke tingkat lebih dari dua kali lipat menjadi sekitaran Rp. 3.989,00 per dolar
AS, rakyat pun sertamerta menjerit. Puncaknya adalah pada tahun 1998, rupiah
terjun bébas hingga sekitaran Rp. 11.591,00 per dolar AS.
Beberapa
analisa sosial menyampaikan sekurang-kurangnya ada tujuh dampak krismon, dua di
antaranya adalah (1) Angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) meningkat karena
banyak perusahaan yang melakukan éfisiénsi ataupun menghentikan kegiatan sama
sekali; dan (2) Persediaan barang nasional, khususnya sembilan bahan pokok di
pasaran mulai menipis pada akhir tahun 1997. Akibatnya, harga naik tak
terkendali dan biaya hidup semakin tinggi.
Dampak
yang disebut terakhir rélatif tidak sepenuhnya tepat, sejumlah pengalaman kami
bersama Bandung Peduli yang ketika itu turun langsung menghampiri masyarakat, melihat
bukti bahwa sembilan bahan pokok umumnya tersedia di pasar karena di antaranya
diatasi dengan pasokan impor. Bahkan beberapa kali kami ke gudang Bulog – waktu itu Bulog difungsikan sebagai
pengendali logistik pangan—menjumpai tumpukan karung-karung beras yang
diantaranya rusak karena tidak terserap oléh pasar. Itu sekadar bukti kecil
bahwa persoalan terbesar zaman krismon adalah lemahnya daya beli masyarakat,
sehingga kami pun menyebutnya krisis daya beli alias rakyat tak memiliki uang untuk belanja kebutuhan hidup.
Kemiskinan rakyat saat itu memang mencemaskan. Setelah tidak mampu belanja bahan
pokok, berikutnya rakyat pun tak mampu memperhatikan pendidikan dan keséhatan.
Saat
melihat itu semua dengan berjalan dari pintu ke pintu, di setiap rumah yang
kami hampiri senantiasa melihat sejumlah anak-anak. Sambil menyerahkan secuil bantuan karitatif, tercetuslah
dalam obrolan bersama sejumlah rélawan, bahwa bantuan karitatif sesungguhnya
tak menyelesaikan persoalan kecuali berupa bantuan darurat. Sementara persoalan
terbesarnya, jika ékonomi dan keuangan bangsa/negara tak kunjung reda, adalah
nasib anak-anak yang sedang tumbuh di tengah kemiskinan tersebut. “Meréka lambat
laun bisa tumbuh menjadi semacam bom waktu yang suatu saat meledak dalam bentuk
dentuman sosial. Yang kita cemaskan sesungguhnya adalah réalitas bangsa/negara
antara sepuluh sampai 15 tahun ke depan,” demikian antara lain obrolan kami sambil
menyerahkan kantong kérésék hitam yang
berisi 5 – 10 kg beras, ikan asin, minyak goréng, dan beberapa bungkus mie
instan.
Kapai-kapai Arifin
C. Noer
Setiap
kali menyaksikan kemiskinan hampir selalu membawa ingatan kepada naskah drama "Kapai-kapai"
karya Arifin C. Noer (1941 - 1995). Drama ini tidak berbicara tentang bom bunuh
diri Kampung Melayu atau pun bom serta tidak kekerasan dan penghancuran
kemanusiaan lainnya, tapi secara radikal –dalam arti medasar atau sampai ke radix— berbicara tentang kemiskinan material,
moral, dan spiritual. Kapai-kapai ditulis tahun 1970an, Arifin C. Noer seperti
telah menyampaikan sinyal peringatan, bahwa perkara kemiskinan material, moral,
dan spiritual itu merupakan bahaya personal sekaligus sosial.
Persoalan
Indonésia, seperti diungkapkan léwat tokoh Abu di dalam drama “Kapai-kapai,”
pada awalnya adalah lautan problém kemiskinan materi atau kenyataan
manusia-manusia ékonomi lemah yang merebak dan menjadi mayoritas di seantéro
tanah air. Abu seperti manusia-manusia miskin lain, lazimnya tetaplah memiliki
impian, memiliki hasrat kebahagiaan, yang pada kenyataannya hasrat tersebut
terus-menerus berbenturan dengan réalitas hidup. Abu malah terombang-ambing.
Bahkan kala sudah bisa kerja kantoran, Abu digambarkan layaknya sebuah mesin
yang tidak punya kuasa berkehendak. Tokoh Abu sebagaimana gambaran umumnya
manusia miskin, bisa terjebak ke dalam ketidakberdayaan ékonomi, tak memiliki
ruang berkehendak, hingga akhirnya bisa saja tenggelam di kedalaman putus asa.
Kemiskinan,
mémang, tak senantiasa bersisi gelap. Sebut misalnya Dostoyevsky yang sejak
kecil dihadapkan pada kehidupan rumah sakit rakyat miskin di Moskow atau Leo
Tolstoy yang hidup dan membuat cerpén-cerpén bersama petani miskin, nyatanya
justru karena gencétan hidup merejel
lah karya-karya kréatif yang bahkan mempengaruhi dunia. Begitu pula Jepang
setelah Hirosima dan Nagasaki diluluh-lantakan, luka dan perihnya jejak perang
malah membangkitkan étos bangsa untuk
bangkit mengejar ketertinggalan.
Yang
perlu ditandaskan dalam catatan ini, bahwa kemiskinan itu rentan. Betul, di
zaman baru sekarang ini, “sumbu péndék” bom waktu bertebar di mana-mana, idéologinya
bisa dari luar (negeri) sekaligus berada pula di genggaman alat komunikasi télépon
genggam. Tapi selama ketahanan ékonomi rakyat terjaga, artinya terjaga
kebutuhan dasar, pendidikan, dan keséhatan; maka daya tahan publik pun akan
cukup kuat dan rélatif akan cukup memiliki ruang untuk melakukan pertimbangan.
Dan sebaliknya.
Catatan
ini pun tak hendak terpaku kepada réalitas krismon 20 tahun yang lalu. Jangan
lupa, pada hari ini dan/atau pada saat catatan ini ditulis, nilai dolar AS di
hadapan rupiah dalam kisaran Rp. 13.219,00 – Rp. 13.351,00 artinya malah jauh
di atas masa awal krismon, entah kapan bisa kembali menjadi Rp.1.901,00 per dolar
AS seperti pada 1990an. Itu mengindikasikan bahwa ancaman kemiskinan masih
menyelimuti langit Indonésia. Lima présidén pasca-Suharto nyata belum sanggup
mengembalikan keadaan pada situasi aman. Suka atau tak suka, Indonésia masih
berada di dalam bayang-bayang ancaman anéka macam kasus sosial-politik.
Ledakan-ledakan bom adalah salasatunya saja.***
(Herry Dim, seniman, pelukis, pemerhati kebudayaan, penulis, tinggal di Bandung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar