Senin, 27 Desember 2021
Di Atas Kaligrafi
Jumat, 03 Desember 2021
BIAF#3: Seni dan Persahabatan
| PENARI Ine Arini saat tampil di Batu Templek dalam BIAF#3 |
Kamis, 02 Desember 2021
Anugerah Budaya Kota Bandung 2021
| Para penerima Anugerah Budaya Kota Bandung 2021.* |
Jumat, 26 November 2021
BIJABA: Setitik Benih Harapan
Oleh:
Herry Dim
PELETAKAN batu pertama kerinduan Bandung memiliki biennale senirupa kiranya perlu disebut terselenggaranya BAE (Bandung Art Event) pada tahun 2001, penggeraknya antara lain Rifky Effendy, Rizki A Zaelani, Asmujo Jono Irianto, Agung Hujatnikajennong, dan Bambang Subarnas. Cakupan kegiatan, konsep, serta pola pelaksanaannya harus dikatakan bagus setidaknya dalam pengertian betul-betul berorientasi kepada keberadaan dan kondisi Bandung. BAE tersebar di sejumlah titik lokus seni yang pada gilirannya takmelulu menyajikan senirupa melainkan mencakup senipertunjukan dengan pilihan karya-karya serius. Sayangnya BAE takberlanjut alias hanya terjadi sekali itu saja.
Duabelas tahun
kemudian, tepatnya 2013, muncul forum Bandung [Nyawang] Biennale yang dimotori oleh Koko Sondari. Penyertaan kata
“nyawang” dari bahasa Sunda, kiranya cukup jelas seperti artinya yaitu melihat
ke kejauhan. Forum pembicaraan selama tiga hari tiga malam di sebuah hotel di
Bandung, itu sesungguhnya melahirkan rancangan yang cukup matang. Maklum karena
sebelumnya, di penghujung 2011 hingga pertengahan 2012, terjadi dabrul (obrolan) berkala serta aprak-aprakan (menjelajah berbagai
tempat) dalam rangka mengimpikan Biennale Bandung bersama Koko Sondari, Tisna
Sanjaya, Muhammad Zico Albaiquni, dan Bambang Subarnas. Itu berlanjut pada dabrul dengan komunitas-komunitas
semisal berkali-kali dengan Iwan R. Ismael di Gedung Indonesia Menggugat.
Tercatat pula perbincangan dengan Rosid di studionya, lantas secara terpisah dengan
Aming D. Rachman serta dorongan semangat yang takhenti-hentinya dari Tubagus
Andre Sukmana yang ketika itu selaku direktur Galeri Nasional Indonesia. Di
sela sejumlah dabrul sekaligus
sebagai pemanasan dilaksanakanlah pameran Senirupa Tenda 2013 di kota Bandung
dan beberapa kota lain di Jawa Barat. Sementara bincang informal terus
berlanjut. Di sela pameran “Jiwa Ketok dan Kebangsaan” yang berlangsung di
Galeri Nasional, terjadi pembicaraan informal di antara sarapan pagi bersama
Rizki A. Zaelani, Koko Sondari, dan beberapa teman seniman lain di sebuah hotel
di Jakarta. Pembicaraan yang sangat ringkas ini justru memberikan dorongan “to
be or not to be” untuk membuat forum formal Bandung [Nyawang] Biennale, sementara pematangannya terjadi secara informal
di Selasar Sunaryo, Oktober 2013, melibatkan Sunaryo, Tisna Sanjaya, Rifky
Effendi, Gustaff Hariman Iskandar, dan Agung Hujatnikajennong. Namun, Bandung [Nyawang] Biennale pun hanya melahirkan kerangka
di atas kertas, takpernah kesampaian menjadi biennale.
Itu sekadar gambaran
betapa tertatih-tatihnya Bandung dalam memelihara mimpi memiliki biennale.
Delapan belas tahun kemudian, jika dihitung dari BAE 2001, atau 6 tahun dari
Bandung [Nyawang] Biennale lahirlah
Bijaba #1 pada 2019 yang menggelar karya 57 perupa Jawa Barat termasuk karya
seni instalasi melalui tangan Diyanto selaku kurator atas dukungan UPTD
Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
Jawa Barat. Saat berlangsung hingga usainya Bijaba #1, masyarakat seni serta
publik secara umum berharap-harap cemas sambal mengantongi pertanyaan: Akankah
berlanjut?
Sebuah pertanyaan yang
lazim mengingat biennale begitu dicetuskan taklain merupakan janji yang seyogianya
berlangsung periodik dua tahunan, dan BIJABA sendiri merupakan akronim dari
Biennale seni rupa Jawa Barat. Maka ketika Bijaba #2 terealisasikan pada 2021
ini, sungguh merupakan setitik benih harapan yang bisa menjadi pohon senirupa
bagi keberadaan peradaban atau kebudayaan kota Bandung dan provinsi Jawa Barat.
Penanda Peradaban Kontemporer
SETIDAKNYA sejak
1960an, biennale atau triennale tumbuh menjadi penanda peradaban dan kebudayaan
kontemporer di kota-kota dan negara-negara di berbagai belahan dunia. Tidak
dirumuskan secara khusus dan bersama-sama tapi kemudian menjadi impresi umum
bahwa kota atau negara yang memiliki keberlanjutan peradaban dan kebudayaan
hingga masa kontemporer itu niscaya memiliki wahana biennale, triennale, atau
pun lima tahunan. Di sisi lainnya menjadi semacam wahana gaul pencapaian seni di kota/negara tertentu pada masa kontemporer
dengan pencapaian bangsa atau negara-negara lainnya. Moda, tata cara, hingga
fokus pelaksanaannya di setiap kota/provinsi/negara masing-masing itu tentu
berbeda-beda. Namun karena pertumbuhannya bisa pula menjadi ajang hubungan
diplomatik antar-bangsa/negara, maka biennale atau triennale di dunia itu
hampir umum dilaksanakan oleh tiga unsur (negara/pemerintah, jejaring seniman,
dan pihak swasta). Ujung terakhir dari gaul
peradaban tentu bisa ke mana-mana, yang terdekat tentu bagi kepentingan
perkembangan seni, selanjutnya dan yang umumnya terjadi, adalah pertukaran
wawasan dan wacana dengan jejaring kemanusiaan, hingga bisa sampai ke gaul sosial, politik, dan ekonomi.
Untuk sampai kepada
impian ideal seperti itu, seperti dikemukakan Drs.Pustanto, M.M, selaku Kepala
Galeri Nasional Indonesia di dalam diskusi Bijaba #2, bahwa pada gilirannya
peristiwa biennale itu membutuhkan tata-kelola atau sistem manajemen yang rapih
sekaligus aktif, terus bergerak, berkesinambungan, senantiasa memelihara
hubungan dengan berbagai jejaring, dan takperlu ragu lagi untuk menggunakan
sarana gaul mutakhir.
Sementara modal
utamanya yaitu karya seni, jelas takusah diragukan lagi. Tanpa maksud
mengemukakan majas hiperbola, sejumlah karya yang hadir pada Bijaba #2
membuktikan kualitasnya akan sanggup jika disandingkan dengan karya seni
kota-kota lain di tanah air bahkan mancanegara. Sebut misalnya karya berjudul
Besi Kertas Batu (Rudi ST Darma), Packaging #2 (Irman Anas Rahman), Tau diri...
nggak (Setiyoko Hadisusanto), Eden (Yogie Achmad Ginanjar), performance art
"Mencuci Dunia" (Isa Perkasa), Inscription - Memorable 2
(Nandanggawe), Venomania / maniac racun tumbuh merasuk tubuh (Hendra Riadi),
Under Pressure (Agus Suwanda), Hyperthymesia Nitrocellulose Paint (Andri
Kurniawan), Appetizer (Carla Agustian), Lelaki dan Perahu Merah (Eris Lungguh
S), Beragam (Fahmi Mursyid), Garden's Heart: Indispendable #2 (Fazar Roma
Agung), Melihat Aku dari Jejakmu (Gilang Mustofa), Memburu Barang Antik,
Manusia, Benda, dan Waktu (Gugum Gunawan), Mengangkat Batu (Iwan Ismael),
Electric Identity #7 (Lutfi Yanuar), Saling Merangkul (M Fikri), Malam Sabtu (M
Samba), The Ghost Writer (Pupung Prayitno), Between Land Scapers (Roni
Kurniawan), End End Unity (Royhan Zaki S), dan Janosigen #1 dan #2 (Sio
Sandarjaya) untuk menyebut sebagian diantaranya saja.
Munculnya karya-karya
“bagus” seperti itu membuktikan bahwa kreativitas terus berjalan dan adanya
ketajaman penglihatan kurator. Selamat Bijaba #2.***
(Herry Dim, pekerja seni, pengamat kebudayaan, aktivis Bidang Revitalisasi Sumber Daya Alam di Odesa Indonesia, tinggal di Bandung)
Senin, 22 November 2021
Grafis karya Dürer yang Dibeli dengan $30 - Terjual Seharga $50.000.000 di Galeri London
| The Virgin and Child with a Flower on a Grassy Bank (sekitar 1503) - Agnews, London |
SEBUAH karya grafis yang semula tak dikenali karya Albrecht Dürer resmi telah dikoleksi Galeri Agnews di London. Karya tersebut, lima tahun lalu, dibeli oleh seorang yang takmau disebutkan namanya hanya dengan $30 atau sekira Rp. 400 ribuan di sebuah rumah yang melakukan obral di AS. Manakala dibeli oleh Galeri Agnews harganya mencapai $50 juta atau sekira Rp. 712.260.000.000!
Clifford Schorer, dari Agnews, dan orang yang menemukan karya tersebut, meyakini
nilainya “mencapai rekor harga tertinggi” bagi karya Old Master dengan media di
atas kertas. Sebelumnya rekor ini dipegang oleh Raphael, Head of a Muse (1510-11), yang terjual seharga $48 juta di
Christie's London pada 2009. Namun Agnews sejauh ini belum menetapkan harga
pasti, galeri yang berkedudukan di London itu masih sedang menjajaki peminatnya.
Demikian seperti dilaporkan Martin Bailey untuk Koran Seni (The Art Newspaper), Jumat, 19 November
2021.
Karya berjudul “Sang
Perawan dan Anak” (The Virgin and Child
with a Flower on a Grassy Bank) dibuat oleh senimannya sekira tahun 1503.
Didapat informasi pernah menjadi koleksi arsitek Jean-Paul Carlhian, yang
tinggal di Concord, di luar Boston. Jean-Paul Carlhian meninggal pada 2012 dan
jandanya Elizabeth meninggal tiga tahun kemudian. Dalam penjualan rumah tahun
2016, karya tersebut dijual dengan label harga $30.
Karya tersebut tergolong
monogram “AD” yang sangat menonjol (sangat terkenal dalam sejarah seni), namun putri-putri
Carlhian tidak tahu jika itu karya asli. Salaseorang diantaranya berkata dengan
canda kepada pembelinya, “oh, jadi Anda menginginkan Dürer.”
Keluarga Carlhian
menduga itu adalah reproduksi abad ke-20, yang padahal cetakan aslinya sangat diburu
kolektor, sering mencapai harga puluhan ribu dolar.
Karya Dürer tersebut tampaknya telah diakuisisi oleh perusahaan Maison
Carlhian pada tahun 1919, diduga karya asli, dan kemudian diwariskan ke
keluarga. Yang mengherankan bahwa Jean-Paul dan putri-putrinya tidak menganggap
bahwa karya itu asli.
Leluhur Jean-Paul adalah keluarga yang menjalankan usaha furnitur antik
dan galeri seni dekoratif Maison Carlhian di Paris, kerap bekerja sama dengan dealer yang sangat sukses, Joseph
Duveen. Jean-Paul belajar di Ecole des
Beaux Arts di Paris, merupakan orang yang berbudaya dengan perpustakaan
pribadi yang besar. Sebagai seorang arsitek, ia bekerja di beberapa bangunan
museum, termasuk dua untuk Institusi Smithsonian. Dengan latar belakang seperti
itu, rasanya luar biasa mengherankan bahwa Jean-Paul ternyata gagal menyadari
apa yang terkandung di dalam bingkai antik yang bagus itu.***
.
Lengkapnya bisa diikuti di The Art Newspaper https://www.theartnewspaper.com/2021/11/19/unknown-durer-drawingbought-for-just-dollar30-at-a-house-clearancecould-sell-for-dollar50m
Sabtu, 20 November 2021
Harry Roesli Hidup Kembali
Catatan: Herry Dim
ALBUM rekaman perdana Harry Roesli (1951 – 2004) yang berjudul Philosophy Gang atas nama Gang of Harry Roesli, dicetak ulang dengan label La Munai Records dan diluncurkan pada 17 Maret 2017 yang lalu di SAE Institute, Jakarta. Sejak itu nama Harry Roesli hidup kembali, karya-karya musiknya kembali diperdengarkan, dan tentang segala sepak-terjang Harry Roeslinya sendiri terus-menerus jadi pembicaraan. Sehari setelah peluncuran cetak ulang album Philosophy Gang, hampir seluruh media nasional memberitakan serta membahas peristiwa atau pun musikalitas Gang of Harry Roesli.
Semula
saya menduga keramaian tersebut hanya akan berlangsung sesaat seperti umumnya
dunia pop Indonesia. Ternyata dugaan itu salah. Dua hari pasca-rerilis Philosophy Gang, tepatnya 19 Maret 2017,
adalah forum perbincangan di Keep Keep Musik jl. Kiputih 1, Bandung. Yang lebih
mengejutkan lagi adalah yang mengurus forum, penyelia tempat, serta yang hadir;
ternyata hampir seluruhnya adalah kalangan muda generasi anak atau bahkan cucu
dari pembicara (a.l. Hari Pochang dan penulis). Selang sebulan kemudian, Awal
Mei 2017, adalah perbincangan “Harry Roesli Lima Tiga Tahun Oposisi” di sebuah café di Cilandak, Jakarta. Sementara di
luar forum-forum tersebut, semisal di tengah persiapan dan pelaksanaan aksi
#saveXpalaguna, nama Harry Roesli kembali disebut-sebut, baik dalam obrolan
kerinduan ataupun perasaan kehilangan atas panutan yang bisa membersatukan
pluralitas. Pun baru-baru ini manakala berita wafatnya Leo Kristi pada 21 Mei
2017 bertebar di berbagai media, tentu sejumlah pembicaraan mengarah kepada
kepeloporan hingga musikalitas Leo Kristi, tapi pada sisi lain tak lepas juga
pada pembicaraan tentang Harry Roesli.
Monumen Musik Indonesia
Harry Roesli, suka atau tak suka, memang merupakan monumen penting bagi musik Indonesia. Sejak ia menerbitkan album pertamanya "Harry Roesli - Philosophy Gang” (1973) hingga ia meninggal pada 11 Desember 2004, tidak ada satu pun pemusik Indonesia lainnya yang melakukan penjelajahan musikal seluas dirinya. Bahkan hingga "Harry Roesli Philosophy Gang” ini diterbitkan ulang pada 2017 ini, bisa dibuktikan hanya Harry Roesli yang begitu merdeka melakukan lintasan musikal dari gaya musik populer hingga musik kontemporer, ia memasuki dunia musik industri tapi ia pun dengan keliaran dan kemerdekaannya menggubah sejumlah musik serius yang tak wantah bagi kalangan awam. Hanya Harry Roesli pula yang akrab dengan musik jalanan tapi fasih di tataran perbincangan musik akademik. Tembok kaku pembatas antara musik tradisi dan musik baru pun ditabrak dan dibongkarnya, maka ia tercatat sebagai musisi yang paling awal mempertemukan dan membangun kecenderungan musik berlatar tradisi dan musik baru seperti terbukti di dalam “Titik Api” (1976).
Harus
pula dicatat, Harry Roesli adalah musisi yang paling tegar melakukan opisisi
terhadap kekuasaan yang tidak beres, setidaknya terbukti dengan rekaman L.T.O.
(Lima Tahun Oposisi, 1978), Cuaca Buruk (1992), Cuaca Lebih Buruk (1992), dan
Politisi Busuk (2004). Bahkan jauh sebelum ia meneruskan kuliah musik di Rotterdam Conservatory di Belanda (1981)
dan meraih gelar profesor di bidang musik, banyak “kenakalan” Harry Roesli yang
ditandai dengan ngotak-atik wilayah tonal
sekaligus atonal. Dunianya demikian
luas maka ia pun bersahabat bahkan kerap membuat karya bersama dengan pelukis
atau pun perupa pada umumnya, penari, sastrawan, teater, aktivis, rohaniawan,
hingga anak jalanan.
Rindu Saat
Indonesia Gonjang-ganjing
Ya,
dunia Harry Roesli bukan sekadar musik tapi lebih besar lagi adalah
kepeduliannya atas masalah-masalah bangsa dan negara. Ia menjadi bagian dari
perubahan yang disebut Reformasi, rumah tinggalnya di jalan Supratman bahkan
dijadikan posko pergerakan.
Seperti
yang kita rasakan dan kita ketahui, sepanjang 19 tahun pasca-Reformasi adalah
kegelisahan bahkan was-was, indikasi
retaknya pluralitas kebangsaan mengemuka, NKRI dan Pancasila disuarakan
kembali, ringkasnya dalam 19 tahun Indonesia terus-menerus dalam situasi
gonjang-ganjing.
Kiranya
disebabkan “langit mendung Indonesia” seperti itulah kerinduan kepada sosok
seperti Harry Roesli menjadi hidup kembali. Jika kita ingat kembali, pada
masanya hidup adalah nama-nama lain seperti M.T. Zen yang menjadi tautan untuk
bidang sains, ilmu pengetahuan dan teknologi, Otto Soemarwoto sebagai pusat
rujukan tentang lingkungan hidup, serta indah dan mesranya pula hubungan Nurcholish
Madjid, Gus Dur, Romo Mangun, Martinus Antonius Weselinus (MAW) Brouwer, Franz
Magnis-Suseno (itu untuk menyebut beberapa nama saja), yang pada dasarnya
berada pula di wilayah kerinduan.
Situasi
ketegangan pra-Reformasi sesungguhnya relatif genting, tapi keberadaan
nama-nama seperti disebut di atas itu berfungsi menjadi semacam tambatan sekaligus
pemecah arus, selain tentu saja sebagai inspirasi. Tambatan di dalam situasi
gonjang-ganjing itu penting karena menjadi semacam tempat untuk berpegang
sehingga tidak semua orang masuk ke dalam pusaran. Mereka pun menjadi semacam
pemecah arus besar hingga gelombang besar itu terurai menjadi arus-arus kecil.
Itu semua “menjadi” karena sosok-sosok tersebut sanggup menjadi panutan dan
inspirasi.
Manakala
panutan, tambatan, dan pemecah arus itu hilang, maka “kolam Indonesia” itu
menjadi mudah diaduk-aduk, keruh, sehingga semua terbawa ke dalam arus
keruwetan. Arusnya pun memusat dan kian membesar. Segala persoalan menjadi
terpusatkan kepada pusat kekuasaan. Sedikit-sedikit
presiden, presiden kok sedikit-sedikit, demikian jika meminjam guyonan
Srimulat, yang artinya semua arus mengarah ke presiden sementara kemampuan
presiden untuk mengurai arus itu sangat terbatas (sedikit-sedikit saja). Karena
begitu terbatasnya kemampuan untuk mengurai, tak ayal ada pula saluran-saluran
arus yang tersumbat, akibatnya desakan arus itu meletus di sembarang titik.
"Jangan
menangis Indonesia, kami berdiri membelamu Pertiwi," demikian salasatu
larik dari syair lagu Harry Roesli, semoga bisa menebus kerinduan, semoga
Indonesia menemukan kembali tambatan dan sejumlah pemecah arus persoalan.
Semoga.***
(Herry Dim, seniman, pengamat kebudayaan, penulis, tinggal di Cibolerang, Bandung)
Rabu, 17 November 2021
Batu Templek vs Televisi
Oleh: Herry Dim
PEKAN ini, tepatnya 28 – 30 Juli 2017, berlangsung kembali “Bandung International Arts Festival (BIAF)” yang antara lain mengambil tempat di area curug (air terjun) Batu Templek, Kampung Cisanggarung, Desa Cikadut, Kabupaten Bandung. Kali ini adalah peristiwa yang ke-3. Menurut keterangan Deden Tresnawan, event kali ini diisi oleh seniman-seniman dari 12 daerah/kabupaten dari beberapa provinsi di Indonesia, dan sembilan negara dari luar Indonesia.
Jauh sebelum berlangsungnya
BIAF #1, kerap kami berbincang dengan Deden Tresnawan terutama di sela-sela
kegiatan proses Wayang Motekar tahun 2000an, bahwa kawan-kawan dari
sekolahan/akademisi yang memilih jalan seni itu perlu turun dan berjalin dengan
masyarakat di daerah-daerah. Di sana, salasatunya, akan kita temukan kenyataan
sejak cara pandang hingga tata nilai yang sudah bergeser. Pandangan mereka
tentang seni terarah kepada televisi yang memang telah masuk ke setiap sudut
rumah tinggal berbagai keluarga dimanapun. Bersebab sejak bangun tidur hingga
menjelang pergi lagi ke peraduan untuk tidur senantiasa berhadapan dengan
tontonan televisi, maka lumrah lah jika masyarakat berpandangan bahwa kebenaran
seni itu semata-mata yang hadir di layar televisi. Pun tentang tata nilai,
lambat-laun berubah, alam sadar hingga bawah sadarnya kian terbentuk dengan
anggapan bahwa sejatinya seni itu adalah yang hadir di televisi, dan (contoh)
seni yang terbaik itu adalah seni hiburan di televisi.
Seperti sepele
bahkan dua pihak, industri hiburan televisi dan masyarakat sendiri, kian fasih
mengatakan “justru dengan itu maka masyarakat mendapatkan hiburan.” Itu yang
didapat namun tak pernah dihitung tentang hal-hal yang hilang. Pada awalnya seperti sekadar urusan fisik
semisal tak ada lagi wujud dan yang memainkan kohkol (kentongan), keprak
(alat bunyi terbuat dari bambu), toleat
(sejenis alat musik tiup) dan sebagainya, karena itu semua tidak keren lagi, tidak seperti yang terlihat
di televisi. Padahal di balik yang hilang tersebut, lambat laun terjadi proses
kehilangan kepercayaan diri dan kebanggaan, yang artinya “diri” itu sendiri
menghilang.
Catatan ini,
tentu, tidak dimaksudkan sebagai uraian anti-televisi sebab di dalam berbagai
hal alat komunikasi tersebut tetap ada pentingnya bagi masyarakat. Ini sekadar
gambaran kecil betapa pentingnya seniman sekolahan atau pun yang tumbuh dari
masyarakat itu kembali ke tengah-tengah publik, yaitu demi membangkitkan
kembali kesadaran bahwa “aku ini ada” dan “aku ini memiliki adab dan peradaban
sendiri.” Itu kian terasa penting bagi masyarakat desa yang kian terpinggirkan
bahkan termiskinkan, maka urusannya bukan sekadar pada tarap hiburan melainkan
(lebih jauhnya lagi) berkenaan dengan kebangkitan dan terbangkitkannya kembali harapan
hidup.
Dengan itu pula
dalam pertemuan kecil dan ringkas bersama Deden Tresnawan, Abah Nanu Munajat,
Yudi Arab, Ine Arini, serta tuan rumah Faiz Manshur dan Yani Manshur, di rumah
tinggal sekaligus kantor Odesa Indonesia, tercetuskan kembali kalimat bahwa
tanda suksesnya BIAF itu bukan pada seberapa heboh dan maraknya pemberitaan, tidak berakhir pada nama dan
foto-foto senimannya masuk koran; melainkan pada ukuran sejauh mana peristiwa
tersebut sedikit demi sedikit mendorong kebangkitan kembali kepercayaan diri
publik atas dirinya sendiri.
Untuk itu, tentu,
sekurang-kurangnya perlu nafas panjang. Syukurlah BIAF sudah mampu sampai
kepada pelaksanaan yang ke-3, kesadaran masyarakat bahwa sesungguhnya memiliki venue yang demikian indah pun mulai
terbangkitkan. Semoga bisa terus berkelanjutan, mengingat Curug Batu Templek yang berada di kawasan Kecamatan Cimenyan
tersebut menyimpan berbagai persoalan ekonomi dan sosial masyarakat yang cukup
rumit. Seni dan kegiatan seni, sedikit-banyaknya bisa menjadi salasatu pengurai
kerumitan tersebut.
Menuju Kawasan Wisata
Panorama
seputaran Curug Batu Templek masih menyimpan keindahan alam yang natural, masih
ada hutan kecil, kesuburan, sejuk, udara yang relatif masih bersih karena
kekotoran udara kota terserap kerimbunan pepohonan, pun limpahan air tanah dan
sungai yang lumayan baik dan (jika dikelola dengan baik) mencukupi kebutuhan
masyarakatnya.
Namun, berdasar
data-data survey Odesa Indonesia (OI) di kawasan Cimenyan, ternyata terdapat
paradoks antara panorama indah dan kemiskinan. OI sendiri dalam setahun ini
telah berusaha keras melakukan berbagai upaya sejak perbaikan WC dan rumah
tinggal rakyat miskin, pelatihan masyarakat, membangkitkan semangat pertanian,
hingga perjuangan propaganda tanaman kelor (moringa)
yang memang sangat baik untuk kesehatan serta memiliki pula potensi ekonomi
bagi masyarakat.
Sejauh mata
memandang, khususnya di kawasan sekitar Curug Batu Templek, sesungguhnya amat
mungkin untuk dikembangkan menjadi kawasan kunjungan wisata yang berorientasi
kepada pemberdayaan publik, yaitu menuju “industri” (dalam tanda petik) wisata
alam sekaligus olahraga jalan kaki (jogging),
serta sajian atraksi seni hingga kemungkinan penyediaan kuliner a la Batu Templek. Kemungkinan ini
sedini mungkin perlu didasari itikad bahwa semuanya demi perbaikan hidup
masyarakat setempat dan kelak masyarakat pula yang memelihara serta menjalankan
kehidupannya.
Ini tentu tak
mudah dan lagi-lagi memerlukan nafas panjang untuk mengerjakannya. Berbeda
dengan sistem “pembuatan” destinasi wisata yang berdasar kepada kekuatan modal
(kapital) yang sejak gagasan hingga pelaksanaannya berdasar satu pusat kuasa
modal, maka wisata dengan dasar publik niscaya mesti dimulai dengan kesadaran
publiknya itu sendiri. Inilah yang tak mudah. Proses penyadaran, membangkitkan etos, hingga tumbuh bersama secara
gotong-royong itu relatif membutuhkan proses berkelanjutan yang panjang. Di
sisi lain, seperti terdata di OI, sejumlah lahan yang ada di kawasan Curug Batu
Templek itu sudah terpotong-potong menjadi milik orang per orang. Di hadapan
ini terdapat kerumitan lain karena menyangkut hak orang per orang atas tanah
miliknya yang belum tentu punya kehendak agar tanahnya dimanfaatkan bagi
kepentingan publik.
Beruntunglah di
titik venue Curug Batu Templek
tercatat sebagai milik Pak Ujang, dan kebetulan pula dirinya memiliki kesadaran
memelihara lingkungan hidup yang cukup tinggi, serta memiliki pula harapan
bahwa masyarakatnya bisa bangkit bersama tanah miliknya; atas kebesaran hati
Pak Ujang pula BIAF bisa berjalan dan sangat mungkin untuk terus berkembang.
Semoga saja pemilik-pemilik lahan lainnya berpikiran sama sehingga kawasan
wisata Curug Batu Templek pun menjadi kenyataan, kehidupan masyarakat pun
mengalami perbaikan dan/atau bukan sebaliknya. Semoga.***
(Herry Dim, seniman, pelukis, pemerhati kebudayaan, penulis, tinggal di Bandung)
Selasa, 09 November 2021
Ekstase Jenar
Sebuah pertunjukan berdasar lakon "Syekh Siti Jenar: Babad Geger Pengging" karya Saini KM
Sutradara: Fathul A. Husein
Merupakan pertunjukan teater dramatik, teater tubuh, tari, dan budaya Islam. Produksi Jurusan Teater ISBI Bandung dalam rangkaian 5th Invitation to the Theatre.
Kamis, 18 November 2021 pkl. 09.17 – 10.45 WIB
Link Virtual bit.ly/JurusanTeaterChannel
Sunan Jenar diperankan oleh DR. Tony Broer
Didukung para aktor:
DR. Rusman Nurdin, Irwan Jamal, Rusli Keleeng, Indrasitas, Patuh Aminin, Yeni Saru Ovikawati, Nur Fitriyani Padjriah, Pahrul, Kevin Geraldi, Fairus Putra Ananda, Rian Nopriadi
Artistik: Cep Kohar, Maulana Fikri, Alwi Faisal
Busana & Rias: Tegar Purba Purina, Desi Ratnasari, Karina Adinda, Sukma Rahma Dian
Tata Vahaya: Zamzam Mubarok, Rohmad Yuwono
Musik: Isep Sepiralisman
Vokalis: M. Wail Irsyad, Cucu Sulastri, Indra Dewa
Multimedia: Bayuning Arjunanto, Shabilla Anggraini Cipta Dewi
Dokumentasi: Juhari Usman Ali, Zaidan
Videografi: M. Sidik, Robby
Dukungan khusus: Neo Theatre dan Keluarga Mahasiswa Teater ISBI Bandung.
Pengantar Pentas "Ekstase Jenar"
Oleh : Fathul A.Husein
GEMPA di Pengging tidak saja mengakibatkan keruntuhan tatanan fisik dan jatuhnya banyak korban tanpa pilih bulu, namun juga berdampak pada krisis keimanan dan gegar politik-kekuasaan. Rakyat Pengging menghujat Tuhan, pada awalnya, sebelum kemudian Sunan Jenar (ulama kharismatik setempat) menggulirkan hikmah gempa ke arah ‘pencerahan’ dan jalan lempang menuju Tuhan, tentu melalui ajaran tasawuf dan kemakrifatannya yang terkenal, ‘Wahdatul Wujud’ (Manunggaling Kawula-Gusti).
Bagi Sunan Jenar, tiada do’a dan sembahyang yang dapat mencegah terjadinya bencana dan malapetaka. Bencana dan malapetaka adalah ujian Ilahiah atas kodrat manusia sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Tolong-menolong dan ‘welas-asih’ dalam ketawakkalan, keikhlasan dan kegembiraan, terutama saat bencana, adalah wujud tanggungjawab manusia dalam mengemban tugas keilahian sebagai ‘khalifatullah’ (wakil penyelenggaraan Ilahi di muka bumi). Manusia adalah ‘pancaran’ (emanasi) cahaya Ilahi dan memiliki dzat yang sama dengan Tuhan, hanya sedang mengambil bentuk kemanusiaan. Tuhan tidak merupakan pribadi yang terpisah dari ciptaanNya. Ciptaan Tuhan adalah bagian dari Tuhan sendiri, seperti halnya cahaya memancar dari sumbernya. Tuhan adalah sumber cahaya itu. Oleh karenanya, sebagai pancaran dari Tuhan, betapa pun terbatas dan fananya, manusia memiliki sifat-sifat keilahian.
Di pihak lain, Kebo Kenongo alias Ki Ageng Pengging, bupati setempat yang dianggap murid dari ajaran Sunan Jenar, menggunakan isyu gempa dan krisis keimanan warganya untuk tujuan-tujuan politik-kekuasaan masa silam dengan mengaitkan bencana pada mitos lama tentang menurunnya kekuatan dan kekuasaan raja. Ia membelokkan arah keguncangan jiwa (akibat gempa) sebagian warga dan petinggi wilayah untuk memberontak kepada kekuasaan raja yang sah, yakni Sri Sultan Demak. Tidak lain tujuan utamanya adalah demi menegakkan kembali kerajaan dan agama/kepercayaan lama sebelum era Kesultanan Demak.
Lain halnya dengan Darmacaraka. Pangeran muda Kesultanan Demak yang berlumur ambisi kekuasaan dan menghalalkan segala cara dengan kerap mengatasnamakan agama dan Tuhan, tak segan memberantas dan menghabisi siapa pun yang tak mau ‘seiring dan sejalan’ dengan garis kekuasaan. Di bawah komandonya yang garang, pemberontakan Kebo Kenongo ditumpas-habis hingga ke akar-akarnya. Kebo Kenongo, bupati ‘bercita-cita’ tinggi yang dicap ‘sisa-sisa kafir’ itu pun tewas seketika dalam pemberontakannya. Tidak cukup sampai di situ, Darmacaraka juga menangkap Sunan Jenar, menyeretnya ke pengadilan dan menjatuhkan hukuman mati kepada ulama kharismatik itu, dengan tuduhan bahwa Sunan Jenar dan ajarannya dianggap sebagai akar penyebab dan ‘sumber pijakan’ dari meletusnya pemberontakan Kebo Kenongo. Nalar politik Darmacaraka untuk kekuasaan memang luar biasa, ia menawari Sunan Jenar pengampunan asalkan mau mengakui di hadapan khalayak umum bahwa dirinya dan ajarannya adalah sesat, murtad, syirik, zindik, dan kafir. Ia senantiasa memaksakan kehendak kepada Dewan Wali (penasehat Kesultanan) dan bahkan ‘melampaui’ kebijakan Sri Sultan. ‘Jubah agama’ selalu ia kenakan dalam menjustifikasi tindakan dan ambisi beratnya terhadap kekuasaan.
Sunan Jenar sendiri dengan sadrah, tenang dan sepenuh keyakinan, mengumumkan keputusan eksistensialnya yang mengejutkan Darmacaraka. Ia menolak tunduk terhadap kuasa apa pun di luar dirinya, dengan lebih memilih hukuman mati dengan cara dipancung ketimbang harus menuruti itikad busuk politik-kekuasaan berparas ‘tebar pesona’ dan pencitraan seorang Darmacaraka.
Tatkala jenasah Sunan Jenar dimakamkan, diam-diam Darmacaraka mengganti jenasah itu dengan bangkai seekor anjing kudisan, sehingga ketika para santri Sunan Jenar hendak memindahkan jenasah itu ke tempat lain, mereka dibuat terperangah oleh suatu fakta yang mengguncang keyakinan mereka, bahwa jenasah guru mereka telah berubah menjadi bangkai seekor anjing yang hina. Dari sanalah mungkin muasal ‘mitos’ yang mengungkapkan bahwa Sunan Jenar atau Syekh Siti Jenar, oleh akibat meyakini dan menyebarkan ajaran yang dituding sesat, murtad, syirik, zindik, dan kafir, maka saat kematiannya berubah hina menjadi seekor anjing mati.
‘Wallaahu a’lam bishowab’… Hanya Allah SWT yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya…
**
PERTUNJUKAN ini hendak menyelami situasi saling menelusup dan saling menerobos (inter-penetrasi) antara kekuatan teater dramatik, teater fisik (disiplin tubuh), dan tari.
Memadukan elemen-elemen artistik dari ranah disiplin yang berbeda tersebut dengan menciptakan tegangan dan kontras yang mengungkap esensi dari inisiasi rite de passage, ritus perjalanan dan pengembaraan melampaui ‘maqom’ nafsu manusiawi (dalam bingkai tarikat Islam), sejak ‘amarah-lawwamah’ hingga ‘sufiyah-muthmainnah’. Dari api yang berkobar-kobar dan menghanguskan jiwa lalu berubah menjadi cahaya putih yang tenang, sunyi, dan tanpa batas.
Pertunjukan ini berkelindan di antara intensitas dan ekspresivitas akting (seni peran), geliat-hentak gerak tari dalam level simbolis, reflektivitas visual, musikalitas dan lantunan puji-pujian religi dan kultur Islami yang meluluhkan hati, dan dengan ‘meminjam’ budaya lokal pemantik kontemplasi macam Topeng Klana dan Topeng Panji.
Melalui kearifan lakon masterpiece buah pena Saini KM, pertunjukan ini juga sekedar ingin mengingatkan kita tentang makna penting ‘budaya tabayyun’, salah-satu nilai luhur dari kultur Islami, bahwa setiap muncul isyu sosial apapun di tengah masyarakat, kita hendaknya beramah-tamah dan bersilaturahim untuk mengkonfirmasi sumber utama yang dianggap menggulirkan isyu itu, tidak lain guna mendapatkan kejelasan yang terang-benderang dan tidak malah termakan ‘hoaks’.
Selamat menonton. Moga tontonan ini menjadi ‘tuntunan’ untuk lebih mendewasakan kita semua dalam memahami dan menyikapi segala hal secara arif nan luhur.
Salam Budaya,
Fathul A. Husein, sutradara EKSTASE JENAR
Sumber: FB @Irwan Jamal
Minggu, 07 November 2021
Pameran "Wayang Jawa Barat dalam Senirupa"
PAMERAN "Wayang Jawa Barat dalam Senirupa" yang beranjak dari Mahabarata, Panji, dan Babad Sejarah Pajajaran. Pembukaan pameran 7 November 2021 pkl. 15:00 - pameran berlangsung s/d 7 Desember 2021 di Galeri Pusat Kebudayaan jl. Naripan Bandung serta daring siaran langsung melalui IG dan FB. Kurator pameran: Isa Perkasa dan Opick Sunandar.
Sumber berita: FB @Isa Perkasa
Wayang Tak Tergantikan Animasi
Mang Ewon (berdiri) dalam adegan ‘pertengkaran’ dengan wayang yang dimainkan dalang Asep Sunandar Sunarya, pada pentas di ASTI (kini STSI) Bandung.*
LEBIH
dari sepuluh tahun yang lalu seusai pementasan wayang motekar di
kampus Universitas Widyatama, bandung, acara dilanjutkan dengan sebuah diskusi.[i] Dengan penyelia Asep Deni
Iskandar M.Sn dan (alm) Drs. Ondi Kuswandi, diskusi mengedepankan pembahas
Prof. Primadi Tabrani sebagai pakar bahasa rupa dan Dr. Priyanto Sunarto yang
lebih dikenal sebagai karikaturis majalah berita mingguan Tempo.
Sejumlah pembicaraan, pada intinya mengungkapkan ketakjuban sekaligus
penyampaian harapan bahwa wayang motekar sebagai seni baru itu masih sangat
mungkin dikembangkan lebih jauh lagi.
Selang
beberapa bulan kemudian, sebagai tindak lanjut dari diskusi terjadilah
pertemuan informal bersama keempat tokoh di atas serta beberapa mahasiswa
pilihan dari FDKV (Fakultas Desain Komunikasi Visual). Pembicaraan lebih
menyasar kepada kemungkinan bahwa wayang motekar akan dan bisa dikembangkan ke dalam
bentuk seni animasi. Pertemuan dengan topik pembahasan menganimasikan wayang
motekar ini, berikutnya masih berlangsung beberapa kali di tempat yang
berbeda-beda, antara lain tak kurang dari dua kali dibicarakan khusus di Studio
Pohaci bersama Asep Deni Iskandar M.Sn dan Drs. Ondi Kuswandi.
Sepanjang
pembicaraan lebih dari sepuluh tahun tersebut, wayang motekar tetap mengambil
sikap “pikir-pikir dahulu.” Inti persoalannya, tentu, bukan pada masalah “bisa”
atau “tidak bisa,” bahkan moda uji-coba dengan durasi 5 menit pernah dibuat
oleh HD sendiri. Secara teknis hingga ketersediaan SDM di Widyatama kala itu,
bisa dikatakan lebih dari memadai. Juga bukan karena tidak apresiatif, sebab
sejak awal pun tak pernah kurang untuk menghormati seni animasi sebagai salasatu
kemungkinan baru di dalam mengomunikasikan gagasan-gagasan visual atau pun
tekstual. Tersadari pula bahwa animasi dengan kemungkinan dukungan seni rekam
dan teknologi penyiaran (broadcast), maka daya sebarnya bisa puluhan
bahkan ratusan kali lipat dari daya yang bisa dicapai oleh wayang (dalam hal
ini wayang motekar). Bahkan seni gambar serta teknik visualisasi animasi, itu
tentu saja sudah sangat jauh melampaui hal-hal yang bisa dicapai oleh wayang.
Lantas,
apa yang membuat wayang motekar masih “pikir-pikir dahulu” di hadapan
kemungkinan dan kehebatan yang berlipat ganda itu?
Jawabannya
karena tiga hal yang tak tergantikan, yaitu prinsip “teatrikalitas,”
“emansipatoris,” dan “partisipatoris.”
**
TENTU
bukan pada tempatnya untuk menjelaskan berpanjang lebar ihwal prinsip teatrikalitas, emansipatoris,
dan partisipatoris di sini. Untuk itu marilah kita ingat-ingat
kembali beberapa pengalaman kita sendiri saat menonton pertunjukan wayang.
Mungkin
diantara kita sebagai penonton wayang pernah bereaksi terhadap jalan cerita
dengan tepuk tangan, menyampaikan kata-kata celetukan, bahkan
mungkin pula bercakap-cakap dengan salasatu tokoh yang sedang dimainkan oleh
dalang. Inilah salasatu teatrikalitas yang tak tergantikan oleh animasi.
Teatrikalitas
pengertian sederhananya adalah daya atau peristiwa teater yang saling terhubung
langsung antara tontonan dan penonton di dalam satu ruang pertunjukan yang
sama. Sehebat-hebatnya teknik dan teknologi animasi, setidaknya hingga saat
catatan ini ditulis, tak mungkin bisa mencapai teatrikalitas sebab penonton dan
tontonannya itu masing-masing berada pada ruang yang berbeda sehingga yang
terjadi bukanlah saling-keterhubungan secara langsung melainkan hubungan maya.
Emfati atau keterlibatan terhadap cerita masih mungkin terjadi, tapi kita
sebagai penonton tak mungkin bereaksi langsung dan apalagi melakukan percakapan
dengan tokoh-tokoh di dalam cerita tersebut.
Sementara
di dalam pertunjukan wayang nyata bahwa ruang teatrikalitasnya itu amat
terbuka. Bukan saja kemungkinan dalang melalui wayang-wayangnya melakukan
hubungan dengan penonton, bahkan sinden atau penyanyi pada
wayang (golek, misalnya) saat bernyanyi bisa saja menyisipkan atau menyebut
nama-nama orang yang berada di tengah-tengah penonton. Pada saat nama-nama
tersebut didaulat, sesegera itu pula si empunya nama bereaksi yang kemudian
bersambung dengan reaksi-reaksi penonton lain di sekelilingnya. Perhatikan pula
interaksi antara wayang, dalang, nayaga (pemain musik) di
dalam suatu pertunjukan wayang; kerap di antara mereka terjadi dialog-dialog
spontan yang pada gilirannya menimbulkan pula reaksi lain dari penontonnya.
Itu
sekadar untuk menggambarkan bahwa penonton di dalam pertunjukan wayang tidaklah
diperlakukan sebagai objek melainkan sebagai subjek-subjek yang amat mungkin
ikut terlibat di dalam keseluruhan pertunjukan, inilah yang disebut
peristiwa partisipatoris. Di dalam hubungan ini bisa saja,
misalnya, tokoh raja atau bahkan dewa dalam pewayangan itu berdialog langsung
dengan penonton yang notabene adalah jelata. Sadar atau tak tersadari di balik
peristiwa ini sesungguhnya terjadi hubungan kesetaraan, kesederajatan, yang tak
lain merupakan hubungan antar-manusia dan saling memanusiakan; inilah
cerminan emansipatoris pada wayang.
Di
balik itu semua, sesungguhnya masih banyak lagi yang bisa dikupas-uraikan, satu
hal saja yang mungkin penting sebagai penutup catatan bahwa di dalam
pertunjukan wayang kerap terjadi semacam prinsip pembebasan publik sebab
penonton bisa mendapatkan ruang keleluasaan yang begitu luas dan merdeka.
Ingat, bahwa setinggi apapun tingkat kontemplasi yang mungkin terjadi di dalam
pertunjukan wayang, penonton niscaya tetap sadar bahwa yang di hadapannya itu
adalah tontonan dan/atau yang disaksikannya itu adalah wayang; rujukan terdekat
atas teatrikalitas ini adalah konsep a-effect seperti yang
dirumuskan oleh dramawan Bertolt Brecht.
Akan
terlalu panjang lagi jika diurai semua, ringkasnya saja, sejatinya publik
(penonton) teater niscaya bisa merasakan dan tahu bedanya manakala menyaksikan
teater yang dimainkan olek aktor (manusia) dibanding dengan manakala menonton
wayang. Sebesar-besarnya dorongan reaktif kita sebagai penonton terhadap
permainan aktor, tetap akan di”batas”i oleh kesadaran bahwa yang dihadapan kita
itu adalah manusia juga. Lain halnya manakala kita di hadapan tontonan wayang,
“batas” tadi bisa dikatakan segera menghilang sebab yang berada di hadapan kita
itu tak lain merupakan “media” yang wujudnya adalah wayang.
POTONGAN video penampilan "wayang motekar" pada Festival Wayang Internasional (2013) dengan dalang Sukma Sadulur Putra.
Saya
permudah lagi kerangka teoritik ini ke dalam gambaran kejadian empirik. Di
dalam salah satu pementasan wayang motekar, tiba-tiba ada seorang anak yang
melempar botol kemasan minuman ke arah tokoh Pademo yang digambarkan licik,
penghasut, dan pencari gara-gara yang menyulut keributan. Ada semacam dorongan
kekesalan atau mungkin pula kemarahan dari anak tersebut yang sesegera itu pula
dibebaskannya ke dalam ekspresi pelemparan. Hal ini, rasanya, tidak akan pernah
terjadi jika tokoh Pademo itu dimainkan dalam bentuk drama dan dimainkan oleh
aktor. Ingat pula gambaran-gambaran kehebatan Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya
ketika memainkan wayangnya hingga kemudian terjadi adegan ‘pertengkaran’ antara
wayang yang dimainkan dengan salaseorang nayaga yang bernama Mang Ewon. Pernah
di antaranya Mang Ewon sampai merenggut wayang dari tangan dalang, lantas
melemparkannya ke dalam kotak. Anehnya, di dalam kedua gambaran ekstrem itu
tadi, kita tidak merasakan bahwa tindakan tersebut sebagai perilaku vandal,
sebagian penonton lainnya bahkan merasa terwakili dan paling tidak bereaksi
sambil tertawa. Sekali lagi, saat itulah sesungguhnya wayang betul-betul telah
“hidup” sebagai medium pembuka keleluasaan publik.
**
Demikian sekadar pengantar bagi berlangsungnya Festival Wayang Internasional – Jawa Barat 2013 yang berlangsung atas kerjasama Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat, Bale Rumawat Unpad, dan jejaring wayang dunia.
Jika
kita termasuk kepada golongan yang pandai bersyukur, Jawa Barat dalam hal ini
kota Bandung bisa dikatakan bahwa pada 12 – 13 September 2013 ini seperti
“kagunturan madu” karena telah berhasil mempertemukan wayang dari Australia,
Belanda, Filipina, Indonesia, Madagaskar, Singapura, dan Turki.
Pertemuan ini menjadi
penting bukan demi melihat itu bagus dan ini buruk, melainkan semacam “simbol” bahwa
ada ikatan persaudaraan di dunia pelaku seni pewayangan. Sementara bagi kita
sendiri menjadi punya kesempatan yang amat berharga untuk bisa melihat moda dan
penggayaan wayang dari negara-negara lain.***
https://youtu.be/8Fj05OHECZ0
KESEMPATAN jumpa dengan ragam pewayangan dunia pada Festival Wayang Internasional (2013), antara lain sempat bersentuhan dan mencoba memainkan Karagöz (wayang Turki) dibimbing langsung Cengiz Özek sang maestro Karagöz.*
[i]
Jika dihitung kini (2021) artinya sudah sekira 18 tahun yang lalu.
-
Sebuah pertunjukan berdasar lakon "Syekh Siti Jenar: Babad Geger Pengging" karya Saini KM Sutradara: Fathul A. Husein Merupakan ...
-
MOMEN penyematan gelar Ksatria Seni oleh Dubes Prancis kepada Nyoman Nuarta, Rabu (3/11) di NuArt Sculpture Park Bandung. [FOTO tangkapan da...
-
Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, ditutup saat pemberlakuan PSBB. (Foto: ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi/PR) ...
-
: dalam forum “Urun Rembuk – Berpikir dan Bertindak yang Berkelanjutan” Pengantar DI TENGAH upaya menulis “Gerbang Awan Rimbang-...
-
Catatan (Revisi): Herry Dim ADA beberapa pertanyaan yang, mau takmau, teralamatkan kepada gubernur provinsi Jawa Barat, Ridwan Kamil, sehubu...
-
DEWAN JURI Anugerah Budaya Kota Bandung 2021 (dari kiri ke kanan) Dr. Tisna Sanjaya, Dr. Tedi Permadi, Prof. Dr. Arthur Supardan Nalan, Dr. ...
-
The Virgin and Child with a Flower on a Grassy Bank (sekitar 1503) - Agnews, London SEBUAH karya grafis yang semula tak dikenali karya A...
-
waktu tara ngabohong sakedap deui kami baris mulang ka alam kubur mun ayeuna meredih tilas palaguna sangkan ngajadi taman asri paniisan éstu...
-
SENIMAN Bandung, Rahmat Jabaril, dalam Annual Jeprut #1 bersama rombongan berkuda ke DPRD Provinsi Jawa Barat untuk menyampaikan 'buku t...
-
Pengantar LUAR BIASA, sungguh menakjubkan. Itu niscaya menjadi kesan umum setiap orang setelah membaca tulisannya Iulia Cabacenco ini. Pe...