Oleh:
Herry Dim
PELETAKAN batu pertama kerinduan Bandung memiliki biennale senirupa kiranya perlu disebut terselenggaranya BAE (Bandung Art Event) pada tahun 2001, penggeraknya antara lain Rifky Effendy, Rizki A Zaelani, Asmujo Jono Irianto, Agung Hujatnikajennong, dan Bambang Subarnas. Cakupan kegiatan, konsep, serta pola pelaksanaannya harus dikatakan bagus setidaknya dalam pengertian betul-betul berorientasi kepada keberadaan dan kondisi Bandung. BAE tersebar di sejumlah titik lokus seni yang pada gilirannya takmelulu menyajikan senirupa melainkan mencakup senipertunjukan dengan pilihan karya-karya serius. Sayangnya BAE takberlanjut alias hanya terjadi sekali itu saja.
Duabelas tahun
kemudian, tepatnya 2013, muncul forum Bandung [Nyawang] Biennale yang dimotori oleh Koko Sondari. Penyertaan kata
“nyawang” dari bahasa Sunda, kiranya cukup jelas seperti artinya yaitu melihat
ke kejauhan. Forum pembicaraan selama tiga hari tiga malam di sebuah hotel di
Bandung, itu sesungguhnya melahirkan rancangan yang cukup matang. Maklum karena
sebelumnya, di penghujung 2011 hingga pertengahan 2012, terjadi dabrul (obrolan) berkala serta aprak-aprakan (menjelajah berbagai
tempat) dalam rangka mengimpikan Biennale Bandung bersama Koko Sondari, Tisna
Sanjaya, Muhammad Zico Albaiquni, dan Bambang Subarnas. Itu berlanjut pada dabrul dengan komunitas-komunitas
semisal berkali-kali dengan Iwan R. Ismael di Gedung Indonesia Menggugat.
Tercatat pula perbincangan dengan Rosid di studionya, lantas secara terpisah dengan
Aming D. Rachman serta dorongan semangat yang takhenti-hentinya dari Tubagus
Andre Sukmana yang ketika itu selaku direktur Galeri Nasional Indonesia. Di
sela sejumlah dabrul sekaligus
sebagai pemanasan dilaksanakanlah pameran Senirupa Tenda 2013 di kota Bandung
dan beberapa kota lain di Jawa Barat. Sementara bincang informal terus
berlanjut. Di sela pameran “Jiwa Ketok dan Kebangsaan” yang berlangsung di
Galeri Nasional, terjadi pembicaraan informal di antara sarapan pagi bersama
Rizki A. Zaelani, Koko Sondari, dan beberapa teman seniman lain di sebuah hotel
di Jakarta. Pembicaraan yang sangat ringkas ini justru memberikan dorongan “to
be or not to be” untuk membuat forum formal Bandung [Nyawang] Biennale, sementara pematangannya terjadi secara informal
di Selasar Sunaryo, Oktober 2013, melibatkan Sunaryo, Tisna Sanjaya, Rifky
Effendi, Gustaff Hariman Iskandar, dan Agung Hujatnikajennong. Namun, Bandung [Nyawang] Biennale pun hanya melahirkan kerangka
di atas kertas, takpernah kesampaian menjadi biennale.
Itu sekadar gambaran
betapa tertatih-tatihnya Bandung dalam memelihara mimpi memiliki biennale.
Delapan belas tahun kemudian, jika dihitung dari BAE 2001, atau 6 tahun dari
Bandung [Nyawang] Biennale lahirlah
Bijaba #1 pada 2019 yang menggelar karya 57 perupa Jawa Barat termasuk karya
seni instalasi melalui tangan Diyanto selaku kurator atas dukungan UPTD
Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
Jawa Barat. Saat berlangsung hingga usainya Bijaba #1, masyarakat seni serta
publik secara umum berharap-harap cemas sambal mengantongi pertanyaan: Akankah
berlanjut?
Sebuah pertanyaan yang
lazim mengingat biennale begitu dicetuskan taklain merupakan janji yang seyogianya
berlangsung periodik dua tahunan, dan BIJABA sendiri merupakan akronim dari
Biennale seni rupa Jawa Barat. Maka ketika Bijaba #2 terealisasikan pada 2021
ini, sungguh merupakan setitik benih harapan yang bisa menjadi pohon senirupa
bagi keberadaan peradaban atau kebudayaan kota Bandung dan provinsi Jawa Barat.
Penanda Peradaban Kontemporer
SETIDAKNYA sejak
1960an, biennale atau triennale tumbuh menjadi penanda peradaban dan kebudayaan
kontemporer di kota-kota dan negara-negara di berbagai belahan dunia. Tidak
dirumuskan secara khusus dan bersama-sama tapi kemudian menjadi impresi umum
bahwa kota atau negara yang memiliki keberlanjutan peradaban dan kebudayaan
hingga masa kontemporer itu niscaya memiliki wahana biennale, triennale, atau
pun lima tahunan. Di sisi lainnya menjadi semacam wahana gaul pencapaian seni di kota/negara tertentu pada masa kontemporer
dengan pencapaian bangsa atau negara-negara lainnya. Moda, tata cara, hingga
fokus pelaksanaannya di setiap kota/provinsi/negara masing-masing itu tentu
berbeda-beda. Namun karena pertumbuhannya bisa pula menjadi ajang hubungan
diplomatik antar-bangsa/negara, maka biennale atau triennale di dunia itu
hampir umum dilaksanakan oleh tiga unsur (negara/pemerintah, jejaring seniman,
dan pihak swasta). Ujung terakhir dari gaul
peradaban tentu bisa ke mana-mana, yang terdekat tentu bagi kepentingan
perkembangan seni, selanjutnya dan yang umumnya terjadi, adalah pertukaran
wawasan dan wacana dengan jejaring kemanusiaan, hingga bisa sampai ke gaul sosial, politik, dan ekonomi.
Untuk sampai kepada
impian ideal seperti itu, seperti dikemukakan Drs.Pustanto, M.M, selaku Kepala
Galeri Nasional Indonesia di dalam diskusi Bijaba #2, bahwa pada gilirannya
peristiwa biennale itu membutuhkan tata-kelola atau sistem manajemen yang rapih
sekaligus aktif, terus bergerak, berkesinambungan, senantiasa memelihara
hubungan dengan berbagai jejaring, dan takperlu ragu lagi untuk menggunakan
sarana gaul mutakhir.
Sementara modal
utamanya yaitu karya seni, jelas takusah diragukan lagi. Tanpa maksud
mengemukakan majas hiperbola, sejumlah karya yang hadir pada Bijaba #2
membuktikan kualitasnya akan sanggup jika disandingkan dengan karya seni
kota-kota lain di tanah air bahkan mancanegara. Sebut misalnya karya berjudul
Besi Kertas Batu (Rudi ST Darma), Packaging #2 (Irman Anas Rahman), Tau diri...
nggak (Setiyoko Hadisusanto), Eden (Yogie Achmad Ginanjar), performance art
"Mencuci Dunia" (Isa Perkasa), Inscription - Memorable 2
(Nandanggawe), Venomania / maniac racun tumbuh merasuk tubuh (Hendra Riadi),
Under Pressure (Agus Suwanda), Hyperthymesia Nitrocellulose Paint (Andri
Kurniawan), Appetizer (Carla Agustian), Lelaki dan Perahu Merah (Eris Lungguh
S), Beragam (Fahmi Mursyid), Garden's Heart: Indispendable #2 (Fazar Roma
Agung), Melihat Aku dari Jejakmu (Gilang Mustofa), Memburu Barang Antik,
Manusia, Benda, dan Waktu (Gugum Gunawan), Mengangkat Batu (Iwan Ismael),
Electric Identity #7 (Lutfi Yanuar), Saling Merangkul (M Fikri), Malam Sabtu (M
Samba), The Ghost Writer (Pupung Prayitno), Between Land Scapers (Roni
Kurniawan), End End Unity (Royhan Zaki S), dan Janosigen #1 dan #2 (Sio
Sandarjaya) untuk menyebut sebagian diantaranya saja.
Munculnya karya-karya
“bagus” seperti itu membuktikan bahwa kreativitas terus berjalan dan adanya
ketajaman penglihatan kurator. Selamat Bijaba #2.***
(Herry Dim, pekerja seni, pengamat kebudayaan, aktivis Bidang Revitalisasi Sumber Daya Alam di Odesa Indonesia, tinggal di Bandung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar