Tampilkan postingan dengan label Gumam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gumam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Oktober 2021

Covid-19: Tetanda “Babalik Pikir”


Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, ditutup saat pemberlakuan PSBB. (Foto: ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi/PR)

 

Catatan Herry Dim

DATANGNYA pandemi Covid-19 yang melanda dunia, itu sungguh mengagetkan yang kemudian menyadarkan nyaris orang per orang bahwa kehidupan ini ternyata begitu rentan. Di satu sisi adalah kenyataan rentannya “jaminan hidup dan kesehatan” mengingat ancaman penyakit akibat virus Corona ini ternyata tidak bisa langsung didapat penawarnya. Secara langsung membuktikan bahwa setinggi-tingginya ilmu serta teknologi pengobatan ternyata tak mampu menghadapi datangnya penyakit baru yang mewabah tersebut. Ketakberdayaan ilmu dan teknologi bahkan teralami negara-negara yang semula kita duga telah begitu mapan dalam hal jaminan kesehatan. Di sisi lain, adalah kenyataan baru bahwa segala pranata sosial, politik, ekonomi, agama, dan kebudayaan pada umumnya yang semula kita anggap telah mapan, telah/sedang berjalan, mungkin juga telah dianggap kokoh, pun ternyata goyah, rentan, bisa berubah dengan sangat tiba-tiba, dan dituntut untuk segera melakukan tafsir ulang atas segala konsep hingga praxisnya.

Pembalikan

FENOMENA terbesar seiring covid-19, itu terjadinya pembalikan di berbagai sendi kehidupan. Yang paling mudah dikenali dan kasat mata antara lain pembalikan dari komunal ke personal, tempat keramaian menjadi kesenyapan; bahkan pusat keagamaan semisal Mekah, Vatikan, Pura-pura di Bali melakukan penutupan; ummat dari masing-masing  kepercayaan itu "balik" ke bilik dan tiap diri.

Apakah ini artinya?

Saya tak hendak masuk ke ihwal "fiqih" dan tata laksana keagamaan dari masing-masing agama, mengingat itu di luar kapasitas penulis. Hanya saja dari sudut pandang awam sekaligus abangan, terlihat hubungan orang per orang dengan ke"Illahi"an itu seperti diberi kesempatan untuk berbalik menjadi hubungan antar-diri. Menjadi tipis, jika tidak dikatakan samasekali hilang, keberadaan "ruang perwakilan"nya. Hubungan "digiring" menjadi bersifat langsung tegak lurus ke langit atau habluminallah jika di dalam konsep keyakinan Islam.

Kenyataan ini, diam-diam terjadi pula di dalam tatanan sosial-politik. Untuk pembuktiannya mari kita lihat hal sepele sekaligus penting di dalam hal Corona, yaitu urusan cuci tangan. Pekerjaan tersebut jelas merupakan tindakan personal yang tidak bisa diwakilkan kepada DPR, DPD, partai-partai, dsb. Sejalan dengan hal itu, tak terwakilkan pula ihwal kecemasan dan harapan hidup, doa dan kerja keras petugas kesehatan, hingga perkara rakyat yang berusaha patuh bertahan diam dan "terpaksa" bergerak demi survival.

Pembalikan terjadi pula pada sebagian besar (jika tidak dikatakan seluruh) moda perdagangan. Ambil contoh KFC yang pada saat artikel ini ditulis, telah mengumumkan akan menutup sejumlah besar gerai serta mem-phk-kan pegawainya. Menyebut KFC ini semata-mata demi pencontohan bagaimana raksasa yang terkategorikan industri multinasional bidang makanan, itu sempoyongan bahkan bukan tidak mungkin ambruk jika masa krisis Covid-19 ini berkepanjangan. Pertanyaannya: moda dagang makanan seperti apa yang bertahan?

Sejumlah data atau kenyataan lapangan membuktikan, bahwa perdagangan orang per orang lah yang tetap bertahan dan berjalan. Banyak anak muda misalnya yang terhenti dari pekerjaan "besar"nya, itu justru berbalik jualan kue, roti, hingga rempeyek dan penganan lainnya dengan moda "purba" yaitu eceran bahkan dilaksanakan "door to door" yang artinya antar-personal dan/atau bukan manufaktur.

Demikian sekadar ilustrasi kecil tentang terjadinya pembalikan. Sementara untuk lebih luasnya lagi bisa dikembangkan sendiri oleh pembaca dengan bukti-bukti lapangannya masing-masing.

Kesemestaan

AJAIBNYA, di satu sisi orang per orang itu ditarik untuk masuk ke dalam pribadi dirinya masing-masing: tapi pada saat yang bersamaan ia pun dituntut untuk menyadari kembali bahwa tubuh diri ini sejatinya tak lepas hubungan dengan tubuh-tubuh lain yang bahkan tak saling kenal dan sangat berjauhan.

Demikianlah, di balik prinsip jaga jarak untuk memotong matarantai penyebaran Covid-19; kita seperti disadarkan kembali bahwa tubuh ini berada di dalam kesemestaan tubuh-tubuh yang lain. Kita tak bisa abai atau "elu-elu gua-gua" karena ternyata setiap tubuh itu "terikat" di dalam satu matarantai kehidupan yang bisa juga matarantai kematian.

Hikmah apa yang bisa dipetik dari kenyataan ini?

Sejatinya kita tak bisa lagi berfikir egoistis atau individualistik. Covid-19 mengajarkan bahwa di dalam setiap tubuh itu ada daya hidup tapi sekaligus juga daya mati. Daya hidup berupa segenap kebaikan yang bisa berimpak kehidupan baik bagi orang-orang lainnya. Sebaliknya daya mati, itu berdiam di dalam sikap "elu-elu gua-gua" hingga segenap keburukan yang berupa tindakan kegenahan diri dengan mengabaikan bahkan mengorbankan orang lain.

Tani

DI balik getirnya pandemik Covid-19, ini (bagi yang jembar membacanya) pun merupakan kesempatan besar untuk “babalik pikir,” demikian jika memungut pepatah Sunda yang artinya mengubah segenap kelakuan buruk menjadi baik. Panduan “berbalik”nya pun cukup jelas yaitu mengarahkan hampir seluruh sendi kehidupan sesuai irama pembalikan yang terjadi sambil memetik hikmah ihwal daya hidup dan daya mati.

Di dalam skala makro, kejadian ini pun mesti dibaca sebagai kesempatan untuk melakukan pembalikan konsep berbangsa dan bernegara, semisal (1) Dengan sesungguhnya melakukan pembalikan dari logika pusat-pusat kuasa ke daulat rakyat yang sesungguhnya telah termaktub sebagai pokok dalam prinsip demokrasi; (2) Sudah terlalu lama bahkan sejak masa Hindia-Belanda, orientasi kita itu kota-desa atau pusat-daerah. Ini mesti dibalik menjadi berorientasi ke desa atau daerah, sehingga kelak terbukti manakala desa-desa itu kuat maka kota pun ajeg.

Seyogianya tak boleh ada lagi istilah desa tertinggal. Sarana publik yang mendasar yaitu pendidikan, sarana kesehatan, pola pengelolaan ekonomi di desa-desa itu mesti setara dengan di perkotaan yang berlaku sekarang.

Bahkan di depan mata kita sekarang ini, terbukti bagaimana kota-kota tak berdaya, sementara desa atau daerah meski dalam keadaan belum terperhatikan secara serius itu nyata menjadi basis terakhir, harapan terakhir di tengah bakal munculnya “wabah lain” barupa kesulitan bahan pangan dan anjloknya daya beli masyarakat.

Sila lihat pula, manakala kota “tutup” bersebab Covid-19, desa malah didorong “buka” demi terselamatkannya kebutuhan pangan. Lembaga-lembaga dunia semisal FAO mempersilakan kegiatan pertanian dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Sejumlah negara pun mengucurkan insentif pada kegiatan pertanian demi amannya stok pangan masing-masing negara.

Sejauh desa atau daerah itu masih mungkin bagi pertanian, hendaknya ke arah itulah bangsa dan negara ini berbalik arah orientasi. Mudah-mudahan tulisan ringkas ini kelak bisa terhampiri kembali sebab ihwal tani ini perlu dibahas dengan khusus mengingat di sebaliknya adalah problematika budaya tani yang sebagaian terlanjur pucat bahkan menghilang, ada juga problem seputar petani yang tak lagi memiliki lahan garap karena umumnya lahan telah menjadi milik orang kota, hingga yang terujung ihwal bibit yang cenderung kocar-kacir.***

(Herry Dimpekerja seni, aktivis Bidang Revitalisasi Sumber Daya Alam di Odesa Indonesia, tinggal di Bandung)

[Tulisan ini telah dimuat di Pikiran Rakyat, Kamis, 30 April 2020; di sana ada sedikit bagian yang terpotong karena terbatasnya halaman. Berikut ini versi lengkapnya bagi yang berkenan. Selamat membaca] 

sekadar ingin optimis

GAMBAR unduhan/pinjaman dari iqra.id


Generasi Y dan Z

CATATAN Herry "Si Acung" Dim

pada Facebook 02 Juni 2011 jam 10:57

SELEPAS tahun 2012, atas izin Tuhan Yang Maha Esa, Indonesia dan dunia akan pulih, perekonomian membaik, demokrasi dan hak azasi manusia relatif ajeg, lingkungan hidup terpelihara, korupsi sirna, pendapatan dan waktu luang kembali meningkat.

Itu bukanlah lamunan sebab tak ada satu pun bangsa setelah terpuruk lantas ambruk selama-lamanya. Kebangkitan hampir selalu lahir di puncak kegetiran. Di ujung keterpurukan akibat panjangnya perang saudara Zaman Edo, terbitlah kebangkitan Restorasi Meiji atau Meiji Ishin, atau Pembaruan Meiji 1866 – 1869.

Seabad kemudian, Jepang mengalami kebangkrutan kembali karena ambisinya pada masa PD (Perang Dunia) II. Semakin luluh-lantak dengan jatuhnya si “Bocah Kecil,” 6 Agustus 1945, di Hirosima; dan si “Orang Gemuk,” 9 Agustus 1945, di Nagasaki. Setelah itu bukan terus-menerus berlarat-larat di dalam kesedihan; melainkan muncul semangat bangsa untuk “merebut” ilmu, mereguk pengetahuan, dan menguasai teknologi.

PD I (1914 – 1918) dan PD II (1939 – 1945) tak hanya menghancurkan Asia. Kematian, luka, penyakit jasad atau pun mental, dan kebangkrutan ekonomi terjadi pula di Eropa dan AS. Suka atau pun tak suka, di penghujung “sakit” itu pula revolusi industri jejak-jejaknya mulai menapak, yang padahal sebagai gagasan dan sejumlah temuan telah dimulai dua abad sebelumnya yaitu abad ke-18 dan abad ke-19.

Indonesia setelah pukulan krisis moneter 1997, terlalu kencangnya hiruk-pikuk politik hingga melewati abad ke-21, dan mengguritanya jejaring korupsi… kiranya telah memetik semua pelajaran itu dan siap memasuki dunia baru yang tidak korup, lebih bersih, demokratis, memperhatikan lingkungan, dan berkesadaran maju bersama terutama memalui energi baru Generasi Y dan bahkan Generasi Z.

Generasi Y atau disebut juga Generasi Millenial, Generasi Selanjutnya, dan Echo Boomers adalah mereka yang di masa "baby boom" tahun 1990an masih kanak-kanak. Mereka mempelajari kesalahan-kesalahan Generasi X, dan tentu saja beritikad untuk lebih baik dari generasi sebelumnya.

Karakteristik Generasi Y, tentu berbeda-beda di setiap wilayahnya dan tergantung pula kepada kondisi sosial-ekonomi sekitarnya. Tapi dalam tataran umum, inilah generasi yang akrab dengan komunikasi, media, dan teknologi digital.

Sementara Generasi Z sebagai generasi terbaru yang secara umum lahir pada tahun 1991an. Disebut pula generasi yang lahir setelah jatuhnya Uni Soviet dan fajar dari World Wide Web. Generasi termudanya lahir sekitar masa krisis keuangan global dekade 2000-an yang berakhir sekitar tahun 2010.

Satu sama lain masyarakat Generasi Z saling terhubung, sebagian besar waktu dan hidupnya berada di dunia komunikasi dan teknologi media seperti World Wide Web, pesan instan, pesan teks, MP3 player, ponsel dan YouTube, produktif; maka mendapat julukan "pribumi digital."

Di tangan gegerasi Y dan Z, kehidupan mengalami percepatan yang jauh melampui kehidupan generasi X dan apalagi generasi-generasi sebelumnya. Dalam raihan finansial dan keluasan ekonomi, misalnya, terdapat selisih waktu perjuangan dan pertumbuhan yang amat jauh antara yang dicapai Howard Robard Hughes, Jr. (1905 –1976) dan apalagi Howard Robard Hughes, Sr. (1869 –1924) dengan pasangan anak muda Jerry Yang (1968-) dan David Filo (1966-) dengan korporasi Yahoo Inc-nya pada tahun 1995.

Di atas adalah sekadar contoh mengingat bagi gegerasi Y dan Z raihan finansial itu bukanlah segalanya, sebab pandangan mereka terhadap kehidupan dan standar kebahagiaan itu relatif berbeda dengan generasi X. Beberapa sumber bahkan menyebutkan generasi baru ini cenderung spiritual dengan pendekatan yang juga berbeda dengan generasi sebelumnya.

-------------
*) ini sesungguhnya merupakan petikan obrolan saya (HD) dengan Hario Soeprobo (HS) suatu saat dalam perjalanan sepulang acara launching buku Agus R Sarjono di Goethe Institut menuju Omah Sendok, sebelum seterusnya HD pulang ke Bandung.