Oleh: Jakob Sumardjo
nagara satelung puluh telu
bagawan sawidak lima
pancer salawe nagara
[Kanekes]
1
Manusia Simbol
Nenek
moyang bangsa Indonesia hidup dengan simbol, dalam simbol, dan untuk simbol,
justru karena tingkat religiositasnya yang tinggi. Simbol adalah Realitas,
yaitu penghubung antara manusia dengan Realitas Tertinggi Yang Maha Esa,
sesuatu yang terakbar, terluas, terdalam, terkuasa, tak terbatas, yang berada
di luar realitas manusia yang terbatas. Dia yang tidak terbatas berada di dunia
terbatas namun tidak terkena batas itu. Simbol adalah imanensi yang transenden
tak terbatas itu.
Alam
tempat manusia ini bergantung adalah simbol-simbol. Gunung bukan lagi sekadar
wujud bernama gunung, tetapi simbol penghubung bumi yang terbatas dengan langit
tanpa batas. Pohon yang menjulang tinggi ke langit juga simbol mediasi dengan
yang transenden. Gua, tebing curam, hulu sungai dan muaranya, bunga dan buah
yang berwarna-warni, hewan-hewan, semua adalah simbol.
Begitu
pula tubuh manusia sendiri adalah simbol . Wujud kelamin lelaki dan kelamin
perempuan adalah simbol. Rambut, tulang, kulit, darah, semen, adalah
simbol-simbol mediasi.
Karena
manusia hidup di tengah-tengah alam raya yang penuh simbol, maka semua karya
budayanya juga didesain dalam simbol-simbol. Rumah yang mereka bangun adalah
simbol manusia sekaligus semesta, makrokosmos dan mikrokosmos. Hunian kampung
dan kemudian negara yang mereka bangun berdesain simbolik. Bahkan lisung, leuit, saung
lisung, hihid, boboko, kujang, semuanya
mengandung simbol-simbol. Melalui benda-benda budaya itulah Yang Kuasa
mengimanensikan diriNya, atau di Jawa Barat disebut Sanghyang Hurip.
Nenek
moyang Indonesia hidup di dunia ini dalam totalitas keberadaan, yaitu segala
sesuatu yang ditunjuk sebagai realitas. Antara yang transenden dan imanen,
antara yang ada di sana dan yang ada di sini adalah suatu kesatuan. Yang di
sana dapat berada di sini, dan yang di sini dapat berada di sana. Muncullah
realitas paradoks yang struktur paradoksalnya dapat berbeda-beda untuk setiap
suku di Indonesia. Kondisi paradoksal sifatnya dapat sementara dan dapat
menetap.
Lukisan-lukisan Herry Dim dengan tajuk serial Cosmogony mungkin dapat disebut “lukisan abstrak” pada pertengahan abad 20. Tetapi karena simbol-simbol “abstrak” yang dipakainya dapat mengacu pada simbol-simbol primordial Indonesia, maka saya akan membahasnya sebagai karya-karya simbolik primordial. Judul karya yang dipakainya juga mengacu pada cara berfikir primordial atau pra-modern Indonesia.
Kosmogoni
atau kosmologi erat sekali hubungannya dengan mitologi-mitologi tua. Kosmogoni
lebih mengacu pada asal-usul keberadaan yang dalam kamus bahasa Inggris
diartikan the origin or generation of the universe. Di situ
mengandung makna proses atau gerak dinamik yang mengarah kepada kosmologi atau
ketataan keberadaan yang kurang-lebih tetap. Namun kosmologi yang nampaknya
permanen itu ternyata juga tidak permanen alias dalam gerak perubahan yang
terus-menerus juga.
Cara
Herry Dim memanifestasikan dirinya dalam lukisan-lukisannya ini dapat
mengandung dua teori semesta yang saling berseberangan, yakni teori Big
Bang dan teori Alam Tetap. Menurut saya ada kandungan paradoks dalam
lukisan-lukisan Cosmogony, tetap dan bergerak, materi dan
energi, being dan becoming, serta berbagai jenis
paradoks yang Anda inginkan.
Untuk
mempertanggungjawabkan tafsiran saya ini, harus dibahas terlebih dahulu
simbol-simbol primordial Indonesia yang dipakainya.
Kalau
diperhatikan lukisan-lukisan ini mengandung sejumlah vokabuler yang tetap yang
selalu hadir dalam tiap lukisannya.
Bujur Sangkar
Bentuk
bujur sangkar, dalam genealogi budaya Indonesia, sebenarnya termasuk pinjaman kemudian,
yaitu konsep mandala dari India yang dikembangkan agama Budha.
Bentuk yang lebih primordial adalah lingkaran yang dapat ditemukan dalam
berbagai produk budaya masyarakat-masyarakat suku Indonesia yang tidak
kemasukan agama-agama India kuno.
Bujur
sangkar sebagai mandala berarti dunia terbatas yang dihadiri oleh dunia tak
terbatas. Dalam budaya religius berarti hadirnya yang transenden di batas-batas
dunia imanen, hadirnya yang sakral di wujud yang profan, sehingga bujur sangkar
keterbatasan itu mengandung yang tak terbatas. Itulah wilayah buyut di
Sunda atau angker, wingit, di Jawa. Bujur sangkar atau
mandala adalah ruang sakral yang dihadiri daya-daya transenden.
Di
Jawa Barat, mungkin juga di berbagai daerah lain, ruang-ruang mandala seperti
itu terlarang untuk dimasuki sembarang orang. Hanya orang-orang tertentu yang
berkualitas transenden pula yang dapat masuk ke dalamnya. Tempat-tempat
demikian itu bernilai buyut alias tabu alias terlarang dan
tertutup. Itulah sebabnya mandala-mandala itu dipilih di wilayah-wilayah
terasing yang kadang sulit dimasuki manusia justru karena wingitnya itu. Sampai
sekarang kabuyutan-kabuyutan semacam itu, di Jawa Barat, tetap lestari karena
penduduknya patuh pada tradisi nenek-moyangnya.
Tentu
saja Herry Dim tidak bermaksud menciptakan lukisan-lukisan yang buyut seperti
itu. Sebagai manusia kontemporer tentu saja hanya peduli makna wacananya. Ya,
tetapi siapa tahu bahwa pembeli lukisannya masih kuat faham primordialnya
sehingga menempatkan “mandala lukisan” Herry Dim secara khusus di kamar
pribadinya, lengkap dengan sesajen dan dupa.
Bujur
sangkar atau mandala Herry Dim tersusun dari 25 bujur sangkar kecil. Kalau
digambarkan sebagaimana tampak pada gambar 1.
Jumlah 25 bujur sangkar kecil atau mandala anak ini disusun dalam pola 5 lajur horisontal arah kiri ke kanan dan arah vertikal dari atas ke bawah. Dengan pola demikian maka akan ditemukan anak bujur sangkar yang tepat berada di tengah keseimbangan horisontal sekaligus vertikalnya, itulah “pusat” hadirnya yang transenden. Dari pusat itulah terjadi “Big Bang” yang membentuk universe mandala besarnya. Inilah mandala statis yang menetap yang sudah being.
Namun
Herry Dim kurang tertarik pada bentuk mandala tetap yang purbawi itu. Sebagai
manusia modern yang ambisinya adalah progres, maju terus secara
linear, bentuk statis semacam itu tidak membuatnya nyaman. Herry Dim lebih
melihat mandalanya sebagai gerak perubahan terus-menerus dengan maknanya
sendiri yang kurang-lebih tak terbatas. Bukan kosmogoni tetap yang menjadi
kosmologi, tetapi seperti penganut teori Big Bang yang melihat
semesta atau hidup ini senantiasa dalam gerak, berubah, menjadi lain dari
sebelumnya.
Mandala
purbawi yang tetap tak berubah digambarkan sebagai “bujur sangkar dari
lingkaran” atau “lingkaran dalam bujur sangkar.” Bentuknya memang bujur
sangkar, tetapi sebenarnya sebuah lingkaran.
Bujur
sangkar adalah keterbatasan yang jelas awal dan akhirnya dalam garis-garis
linear. Inilah simbol dunia manusia atau dunia material. Sedangkan lingkaran
tidak punya awal dan tak punya akhir. Kalau Anda menunjukan satu titik pada
lingkaran, maka berarti titik awal sekaligus titik akhir. Keberadaannya
sirkuler yang tidak ada habisnya. Inilah simbol keabadian, dunia spiritual.
Titik kosmogoni kehadirannya tepat di tengah-tengah, pusat, pancer,
anak mandala di pusat.
Herry
Dim menandainya dengan bujur sangkar yang di pusatnya ada lingkaran, lebih
tepatnya tonjolan lingkaran. Tanda ini dapat dijadikan pegangan penting dalam
membaca berbagai mandala lukisannya.
Pusat atau pancer sebagai kehadiran kebenaran tertinggi, kuasa tertinggi, dan keinginan tertinggi (takdir) adalah Maha Esa yang menjadikan dirinya menyebar ke segala arah mata angin semesta dalam wujud dan sifat yang berbeda-beda, bahkan saling berseberangan. Dalam vokabuler Herry Dim dapat digambarkan sebagaimana (gambar 2) berikut ini:
Gambar 2
Penyebaran arah semesta lebih lanjut adalah (gambar 3) sebagai berikut:
| Gambar 3 |
Begitulah selanjutnya sampai seluruh bidang anak-anak mandala dapat diisi dengan pasangan-pasangan oposisi yang lain, misalnya lobang-lobang kecil beroposisi dengan sembulan bulat kecil pula. Komposisi kosmologi yang mengarah demikian itu terdapat dalam lukisan Cosmogony #4 in Terracotta and Gold dan Cosmogony #5 in Red Spinel.
Namun
sebagian besar lukisannya merupakan kosmologi yang “rusak” atau “belum jadi.”
Mereka menggambarkan proses kosmogoni yang saling menerjang, saling menggusur,
saling merampok entah pasangan oposisinya atau jenisnya sendiri. Lukisan-lukisan
Herry Dim menggambarkan Chaos semesta entah yang mikro maupun
makro. Sebuah dunia yang belum tertata.
Perhatikan
saja letak mandalanya (kabuyutan) tidak di pusat atau di tengah-tengah ruang
mandala (kabuyutan) tetapi terombang-ambing di mana-mana. Begitu pula
pasangan-pasangan oposisinya bisa saling berdempetan, menggusur yang lain,
bahkan wilayah beberapa mandalanya masih kosong, setengah kosong atau
seperempat kosong.
Kalau
lukisan Herry Dim ini gambar sebuah mandala besar yang terdiri dari 25
mandala-mandala bagian (kecil) merupakan simbol sebuah negara, maka hanya ada
dua lukisan yang saya sebut di atas yang mendekati terbentuknya mandala negara
yang selesai, tenang, aman, adil, makmur. Sebuah mandala negara yang loh
jinawi, sebuah negara Nusa Damai. Hampir seluruh lukisannya, kalau
ditempatkan dalam keberadaan sebuah negara, menggambaran negara yang masih
chaos dalam suasana saling menyikut, melahap, menggeser, tidak menghormati
“pusat” atau pancernya, saling melenyapkan, salah tempat.
Bagaimana
kualitas chaos mandala negara semacam itu dapat dibaca dari simbol-simbol
oposisionernya yang salah tempat, banyaknya mandala kosong, mandala teriris,
mandala yang belum selesai terisi nilai-nilainya.
Entah
disadari atau tidak, Herry Dim dengan 25 bagiannya membawakan ungkapan Sunda
lama yang terdapat dalam cerita pantun Panggung Karaton dan
kaum adat Baduy. Bunyi ungkapan adat itu sebagai berikut:
Buyut yang dititipkan kepada puun
Negara tiga puluh tiga
Sungai enam puluh lima
Pancer dua puluh lima negara
atau
nagara satelung puluh telu
bagawan sawidak lima
pancer salawe nagara
Sedangkan dalam cerita pantun Panggung Karaton, jumlah 25 itu terdapat dalam bagian ketika Prabu Siliwangi membekali puteranya, Raden Layung, yang ingin mengembara untuk menemukan daerah yang dapat dijadikan negara baru. Prabu Siliwangi memberikan peta yang isinya tergambar suatu daerah yang terdiri dari 33 pulau, 65 sungai, dan pancernya 25 “negara.” Kalau daerah semacam itu ditemukan maka tempat dimana negara yang ideal dapat didirikan. Ternyata daerah semacam itu ada di negara Dayeuh Manggung dengan kepala negara (daerah) Panggung Karaton.
Apa
yang dimaksud dengan pulo (pulau)? Bagaimana daerah perbukitan
yang merupakan dataran tinggi di Jawa Barat terdapat pulau-pulau? Pulau di sini
simbol yang ada di alam Pasundan ini. Pulau adalah suatu wilayah yang berada di
pertemuan dua sungai. Kadang dua sungai itu bertemu (patimuan) begitu
rupa sehingga membentuk wilayah “terisolasi” akibat di satu ujung dua sungai
itu benar-benar bersatu dan ujung yang lain hampir menyatu dan hanya menyisakan
daratan tipis antara kedua sungai tersebut. Kalau pertemuan dua sungai tersebut
tidak memiliki bagian dimana “dua sungai nyaris bertemu,” maka sering dibikin
terusan (walungan) sehingga sebuah daerah pulo terbentuk.
Dengan
demikian 33 pulau memerlukan adanya 65 sungai karena setiap pulau memerlukan
hadirnya dua sungai. Hitungannya adalah 32 pulau memerlukan 64 sungai, sedang 1
pulau merupakan pusat atau pancer negara (mandala) dengan hanya 1 sungai induk
atau “sungai negara.” Dengan demikian dapat diduga bahwa kerajaan-kerajaan
Sunda lama berorientasi pada sungai-sungai besar seperti Citarum, Ciliwung,
Cimandiri, dan lain-lain. Saya menduga bahwa orientasi kerajaan Galuh di Ciamis
berpusat pada sungai Cimuntur yang menyambung ke Citanduy.
Apa
yang disebut pancer mungkin mengacu pada semacam “ibu negara,” kalau sekarang
semacam kota Jakarta, yang merupakan sebuah “negara” yang berarti provinsi. Di
masyarakat Jawa mirip dengan apa yang disebut negaragung atau
negara agung. Negara pancer dari 32 pulo yang kira-kira kalau
di Jawa disebut mancanegara atau wilayah kuasa suatu negara pusat (Galuh,
Pajajaran, Galunggung atau semacam itu). Jumlah 32 pulo atau
daerah-daerah “negara kampung” yang menjadi kekuasaannya hanya merupakan
idealisme. Dalam kenyataannya mungkin tidak sampai meliputi 32 negara kampung.
Dalam
lukisan Herry Dim dapat ditandai dengan mandala-mandala kosong berupa
ceruk-ceruk datar. Atau ibu negara itu sendiri juga tidak selalu dikelilingi
oleh 24 negara kota lainnya. Mungkin itu pula yang digambarkan dalam
lukisan-lukisan Herry Dim, yaitu mandala besar (ibu negara) yang terdiri dari
25 negara bagian (yang dikuasai pangeran), karena kanvas Herry Dim selalu bujur
sangkar dengan tatanan 25 bujur-bujur sangkar kecil (bagian).
Kanvas-kanvas Cosmogony Herry Dim yang bujur sangkar ibaratnya negaragung yang dikitari oleh wilayah-wilayah bawahannya atau mancanegara. Semuanya berbentuk mandala-mandala kekuasaan dan kesakralan yang bujur sangkar. Kalau digambarkan dalam konsep Salawe Nagara (25 negara) sebagaimana tampak pada (gambar 4) berikut ini:
Gambar 4
Kini saya tinggal menjelaskan kedudukan masing-masing mandala atau “negara bagian” dalam ungkapan: 33 pulau dan 65 sungai. Apa yang dimaksud pulo (negara bagian atau bagian mandala atau anak mandala) dapat digambarkan sebagaimana tampak pada gambar 5 berikut ini:
| Gambar 5 |
Dalam peta-peta yang dibuat oleh orang-orang kerajaan Sunda masa lampau, gambar sebuah negara wujudnya kira-kira seperti gambar 6 sebagai berikut:
| Gambar 6 |
| Gambar 7 |
Itulah satu-satunya mandala agung kekuasaan.
Mandala
agung kekuasaan raja di pusat negara ini dikelilingi oleh 8 mandala pengikut
yang biasanya daerah-daerah kekuasaan keluarga raja, entah anak-anaknya atau
saudara-saudara kandungnya.
| Gambar 8 |
Kalau digambarkan besar-kecilnya suatu negara sebagai sebuah mandala besar adalah seperti gambar 10 berikut ini:
Gambar 10
Keistimewaan
Herry Dim dengan proyek Cosmogony ini adalah meninggalkan
jumlah hitung-hitungan mandala besar yang sudah jadi itu. Kalau hanya itu yang
mau digambarkan, alangkah membosankannya. Cukup dibikin satu lukisan besar.
Negara yang sudah adil makmur kerta raharja penuh damai tata tentrem itu memang
hidup, tetapi amat membosankan. Tidak ada masalah. Tidak ada dinamika. Tidak
ada konflik. Tidak ada cerita.
Herry
Dim seperti seniman-seniman lain lebih tertarik pada adanya dinamika konflik
berupa belitan-belitan masalah. Tetapi belitan-belitan konflik itu diletakan
dalam pola besarnya yang jelas sistem hubungan kesatuannya. Setiap masalah atau
konflik dalam setiap lukisannya dapat dikenali asal-usul maknanya, karena
dasarnya adalah desain besar mandala yang dipakainya.
Saya
tidak akan membahasnya karena setiap orang dapat menemukan lenyapnya
hubungan-hubungan, yang menimbulkan masalah, dalam proses pembentukan suatu
harmoni yang adem ayem. Mandala ideal itu tetap ideal belaka, atau
sebenarnya yang demikian itu tak akan pernah ada. Yang ada ialah apa yang
dilukiskan Herry Dim, bahwa jalan menuju idealisme seperti itu senantiasa
berproses terus-menerus dengan berbagai permasalahan yang rumit.
Yang
menarik manusia itu adalah adanya cerita, adanya suatu proses. Kalau cerita itu
sudah selesai, maka kebosanan yang akan diperoleh. Saya sudah tahu, jadi mau
apa lagi? Tetapi kalau Anda mengamati lukisan-lukisan ini, dan Anda ingin tahu,
tetapi tidak kunjung tahu juga, itulah daya tarik Cosmogony Herry
Dim.
Tidak
tahu itu bukan dalam arti tidak tahu sama sekali. Sebenarnya Anda sudah tahu
aturan main Herry Dim dengan lukisan-lukisan mandalanya, namun belum sepenuhnya
memperoleh jawaban finalnya.
Itulah
keasyikan seni.
Itulah
tepatnya bidang lukisan Herry Dim yang merupakan “pancer salawe nagara.”
Tentu
saja lukisan-lukisan itu tidak harus merupakan simbol-simbol mandala negara,
tetapi juga mandala pribadi, mandala bangsa, lembaga-lembaga pendidikan,
kehakiman, dan banyak lagi. Prinsipnya adalah bhineka tunggal ika, yang
nampaknya banyak dan saling berseberangan, sebenarnya dapat saling mengisi,
saling melengkapi, saling menggenapi, sehingga setiap bagian yang tak pernah
sempurna pada dirinya akan menjadi sesuatu yang sempurna kalau semuanya
mengesa. Kesatuan totalitas yang membentuk keseimbangan tanpa melenyapkan atau
mengecilkan yang lain itulah prinsip pokok primordial Indonesia.
Pancer
Pancer
adalah pusat, entitas yang mengandung semua bagian-bagiannya karena
bagian-bagian itu adalah pancaran dari keberadaannya. Nilai pancer adalah
tertinggi karena hadirnya yang transenden padanya. Kalau dia manusia maka
disebut manusia sempurna, dewa-kemanusiaan, dewa-raja, insan kamil.
Pencapaian
tingkat demikian tidak mudah. Kalau manusia harus mencapai tingkat hakikat
tiada perbedaan yang dualistik lagi. Dengan tingkat ini manusia atau lembaga
dapat mentransendenkan diri menyatu dengan Yang Maha Esa, yaitu sampai tingkat
tertinggi manusia yang makrifat (unio). Pada tingkat ini apa pun yang
dikehendakinya, apa yang dipikirkannya, dan apa yang diputuskannya senantiasa
benar belaka, meskipun kadang tidak masuk akal.
Dalam lukisan Herry Dim digambarkan dalam pilihan sebuah mandala bagian dalam dengan sembulan lingkaran padat di tengah-tengahnya. Dalam bahasa mandala itulah tempat hiranya garbha atau rahim murni primordial. Inilah gambarnya (gambar 11):
Seharusnya pancer itu ada di pusat mandala yang dikelilingi oleh mandala-mandala lain yang serupa di arah empat mata angin semesta atau delapan arah semesta, atau kelipatan dari jumlah itu. Dari pancer terjadi proses menyebar dalam gerak sentrifugal atau justru gerak memusat dalam gerak sentripetal.
Dalam
lukisan Herry Dim hanya dua lukisan yang memasang pancer persis di pusat
mandala. Meskipun demikian letak mandala-mandala yang mengandung oposisinya
belum tertata dengan benar. Inilah simbol negara yang belum menyatu padu dalam
totalitas kehidupannya. Pancer sudah ada, namun bagian-bagian belum menjalankan
tugas semestinya di ruang masing-masing.
Mandala Kosong
Bidang
mandala kecil atau mandala bagian yang berisi lobang bundar atau lobang ceruk
adalah simbol kekosongan, ketiadaan, yang mirip goa-goa dalam dunia primordial
Indonesia. Goa berarti keperempuanan asal-muasal hidup ini. Dalam banyak
mitologi di Papua misalnya goa-goa berisi roh-roh. Tidak mengherankan kalau
banyak goa-goa yang dindingnya dipenuhi lukisan aneka rupa. Itulah ruang
roh-roh, semacam mandala spiritual,
Dengan
demikian pasangan mandala kosong ini adalah mandala isi, yakni mandala yang
berisi sembulan bundar. Itulah pasangan baut dan sekrup, isi dan wadah. Wadah
menentukan bobot isi, dan isi menyesuaikan dengan wadahnya. Dengan demikian
sembulan bernilai kelaki-lakian.
Kategori
laki-permpuan dalam pasangan oposisioner dwitunggal dapat berarti banyak,
misalnya pemimpin adalah lelaki dan yang dipimpin adalah rakyat yang perempuan.
Ketegasan adalah lelaki, kasih sayang perempuan. Mendapat banyak (kaya) bernilai
laki-laki sedang memberi banyak (derma) adalah perempuan.
Pada lukisan Herry Dim mandala kosong ini biasanya berisi lobang yang lebih kecil dari sembulan bulat pancernya. Bahkan kadang disertai lobang yang lebih besar namun tak lengkap, hanya seperempat atau setengahnya saja. Inilah gangguan, belum sempurna sebagai mandala. Inilah gambarnya (gambar 12):
5
Lingkaran Linear
Gambarnya seperti di bawah ini (gambar 13):
| Gambar 13 |
Gerak melingkar garis linear ini disebut mengkanankan pancer atau pusat, yakni gerak searah jarum jam modern. Gerak ini bermakna dari bawah ke atas, dari material ke spiritual, dari manusia menuju illahiah. Di daerah Subang sering disebut ider naga, kalau anti-jarum jam disebut ider munding. Inilah bentuk primordial yang-yin Cina. Ras Indonesia yang mongoloid purba masih ada hubungan dengan perkembangan peradaban Cina.
Dalam
yang-yin Cina kesempurnaan totalitas dari peleburan dualitas digambarkan
sempurna dalam satu entitas yang sebenarnya dibentuk oleh dua entitas yang
saling berbalikan (gambar 14).
Dengan demikian penggunaan bentuk melingkar dalam lukisan Herry Dim bertolak dari konsep yang amat purba di Indonesia, sebelum ras mongoloid terpecah-pecah dalam banyak bangsa dan negara sekarang ini. Dalam bentuknya yang purba yang-yin Indonesia terpisah dalam dua bentuk motif huruf “S” yang normal dan yang terbalik. Beginilah gambarnya (gambar 16):
Gambar 16
Kalau motif huruf “S” normal mengandung arah melingkar yang mengkanan, maka motif huruf “S” terbalik mengandung arah melingkar mengkirikan pusat.
Arah
lingkar anti-jarum jam, yakni arah gerak mengkirikan pusat berarti “turun”
mengikuti hukum gravitasi, yakni dari atas ke bawah, dari rohani ke materi.
Arah gerak ini dapat diasosiasikan dalam kategori perempuan. Sedang arah gerak
jarum jam masuk kategori lelaki. Hal ini masih dapat dilihat dari cara melipat
kain batik pada lelaki yang ujungnya jatuh di kaki kanan, sedang pada perempuan
arah lipatannya terbalik sehingga ujung kain batik jatuh di kaki kiri.
Dalam
lukisan Herry Dim dapat dibaca sebagai gerak melingkar ke kanan dalam mandala
yang manusianya mentransendensikan diri. Sedang gerak mengkiri Yang Esa
mengimanen di dunia manusia.
Dalam mandala yang kedua gerak itu ada, maka berarti pertemuan yang bawah ke atas dan yang atas ke bawah, transendensi dan imanensi terjadi dalam satu mandala.
6
Garis-garis Lurus
Dalam gambar Herry Dim berbentuk seperti (gambar 17) ini:
Inilah mandala yang belum mandala karena jajaran garis lurus yang meskipun berdampingan tetapi saling terpisah. Motif demikian ada pada kain lurik di Jawa atau kain sarung Nusantara. Bedanya dengan kain lurik adalah adanya pola hubungan antara garis-garis besar dan kecil dalam penempatan atau komposisi yang tetap. Misalnya (gambar 18) begini:
Gambar 18
Garis tebal adalah gabungan antara dua garis kecil yang berarti menyatukan yang pasangan garis kecil. Atau sebaliknya pasangan 4 garis besar justru disatukan oleh garis kecil (halus, rohaniah).
Dalam lukisan Herry Dim bahkan bidang mandala tidak berisi garis-garis penuh. Ketidak sempurnaan. Ketidak seimbangan. Garis-garis yang sama tebalnya, selama berjajar adalah pemisah. Liniaritas adalah pemisahan, tetapi garis sirkuler menyatukan yang mendefinisikan ruang. Pada Herry Dim ada ruang terisi pemisahan-pemisahan dan sekaligus ruang kosong belum terisi. Misalnya (gambar 19) begini:
Gambar 19
7
Lapis-lapis Mandala
Dalam satu anak mandala, Herry Dim mengisinya dengan mandala-mandala berlapis seperti (gambar 20) ini:
Gambar 20
Tetapi tidak saya jumpai lapis-lapis mandala yang digambarkan seperti (gambar 21) ini:
Gambar 21
Mandala berlapis semacam itu menunjukan tingkat hierarki kesakralan seperti terdapat pada candi Borobudur, kira-kira begini (gambar 22):
Gambar 22
Mengapa Herry Dim lebih menyukai mandala “jajaran genjang” seperti itu? Dan tidak lapis-lapis mandala seperti Borobudur?
Entah disadari atau tidak, mandala jajaran genjang atau belah ketupat itu sampai sekarang masih digunakan di daerah kasepuhan Banten Kidul, yaitu ketika menentukan pancer dalam suatu ritualnya. Bentuknya seperti (gambar 23) ini:
Gambar 23
Bandingkan dengan lambang swastika yang bahkan digunakan juga oleh Hitler (gambar 24).
Gambar 24
Untuk memahami hal ini kita harus kembali pada makna pancer sakral yang menyebarkan kesakralannya ke semua penjuru mata angin semesta. Umumnya sebuah mandala hanya menunjuk pada 4 arah mata angin, yaitu timur, barat, utara, selatan. Tetapi pada mandala besar jumlah arah mata angin semesta itu ada 8, yang ditambah dengan arah barat-utara (barat laut), barat-selatan (barat daya), timur-utara (timur laut), dan timur-selatan (tenggara).
Penjelasannya
adalah pada masyarakat pesawahan yang hidup dari berladang di dataran-dataran
tinggi yang berbukit-bukit, mereka hanya mengalami arah hulu-hilir (biasanya
utara-selatan) dan arah matahari terbit dan tenggelam. Pada dasarnya hanya
mengenal dua arah saja, yakni utara-selatan dan barat-timur sebagai garis ayah
yang bermakna “cahaya” (mungkin arah terbit dan tenggelamnya matahari).
Pertemuan dua arah semesta besar inilah (tritangtu) yang dijadikan
pancer-pancer, sehingga keempat pancernya menyatu dalam ruang mandala, dan
terbentuklah mandala belah ketupat.
Gambar
mandala di Bali, seperti terlihat dari pola letak bangunan-bangunan dalam
sebuah rumah, mirip pengertian arah semesta di kampung kasepuhan Banten Kidul,
yakin garis miring yang mengandung rangkap arah alias paradoksal, yaitu
menunjuk arah barat laut, barat daya, timur laut, tenggara. Bukan arah
utara-selatan barat-timur.
Dengan
cara pandang demikian maka tempat paling sakral justru tidak ada di pusat
tetapi justru di pojok timur laut.
Makna mandala di Bali biasanya digambarkan seperti (gambar 25) berikut:
Gambar 25
Mungkin inilah sebabnya bentuk mandala belah ketupat lebih “benar” dan “cocok” sebagai orang Sunda. Tetapi boleh jadi juga oleh pandangan modernnya yang nanti akan saya jelaskan.
Mengapa
letak pancer pada banyak lukisan Herry Dim menghindari pusat yang persis di
tengah-tengah bujur sangkar mandala?
Tekstur Ceruk dan Sembulan
Lukisan-lukisan
Herry Dim ini paradoks, karena biasanya lukisan hanya berada di bidang datar
kain atau kanvas. Padanya ada aspek ruang karena permukaan lukisannya
bertekstur, sebagian muncul di permukaan dan sebagian dibuat ceruk ke dalam,
jadi mirip seni rupa tua Indonesia, yakni lukisan relief pada candi-candi.
Lukisan-lukisan Herry Dim pada dasarnya relief modern.
Bidang-bidang
ceruk biasanya memberikan kesan kekosongan, tidak ada, belum ada, atau ada
gejala akan mengada (lubang-lubang kecil yang senantiasa ditoreh secara
berirama). Atau kosong itu sendiri jangan-jangan dapat berarti Kosong, Sunya,
Awang Uwung, Suwung.
Justru
ceruk adalah ketiadaan atau kekosongan yang sejatinya justru segalanya,
mengikuti ungkapan Sunda: adanya tidak ada, adanya ada (ayana aya, ayana
euweuh, aya teh euweuh, euweuh teh aya).
Kosmogoni Herry Dim
Begitulah
tafsir saya atas lukisan-lukisan Cosmogony Herry Dim
berdasarkan cara berfikir pra-modern Indonesia. Elemen-elemen kosmogoninya
sudah saya tafsirkan sesuai dengan pola mandala. Meskipun Herry Dim menggunakan
pola mandala tetapi dia mengubahnya menurut naluri dan pemikirannya sendiri.
Atau mungkin saja sebenarnya Herry Dim sama sekali tidak menyadari bahwa
lukisan-lukisan reliefnya ini dapat merujuk pada konsep mandala. Perhatiannya hanya
pada asal-usul atau “the origin” semesta (universe), yakni asal-usul
keberadaan ini.
Dalam
pandangan modern entitas seperti pancer, pusat, sakral, transenden, semua itu
tidak ada. Kaum astronom dapat mengatakan bahwa “our universe has no center.”
Kalau pusat original (berlawanan dengan Big Bang) itu tidak ada,
maka yang disebut pancer dan pusat itu bisa di mana-mana. Mengikuti pandangan
ini, maka pusat kosmogoni Herry Dim memang wajar saja dapat ada di mana-mana,
tidak harus di pusat atau tengah-tengah kanvasnya. Jadi pembacaannya,
kalau center itu ada di pinggir maka bagaimana hubungan pancer
yang di pinggir itu dibangun dalam wujud kosmologinya.
Simbol-simbol
yang sudah saya uraikan berdasarkan kenyataan masa lalu bangsa ini. Itulah
warisan cara berfikir nenek moyang kita dahulu memaknai dirinya, dunia, dan
Tuhan. Kita sekarang juga memiliki pemaknaan sendiri tentang diri, dunia, dan
idea-idea. Tetapi apakah cara berfikir lama dalam memaknai keberadaan ini sudah
lapuk dan ketinggalan zaman sehingga lebih baik kita bunuh ramai-ramai? Atau
sebenarnya pola-pola pikiran tua ini masih sangat relevan untuk menjalani hidup
masa kini?
Bukankah
kita mengalami begitu banyak masalah yang tak terpecahkan justru karena kita
telah melupakan filosofi tua Indonesia ini? Bukankah telah terbukti bahwa
selama 4 atau 3 millenium bangsa ini berhasil hidup lestari dalam kedamaian?
Bukankah masuknya cara berfikir luar itulah yang memulai menimbulkan
masalah-masalah di Indonesia?
Tengoklah
kaum adat yang keras kepala tidak mau masuk ke modernitas. Mereka hidup penuh
kedamaian tanpa diusik oleh cara berfikir baru dari luar. Mereka ini akan tetap
terus hidup damai, tata tentrem kerta raharja, meskipun republik ini tidak ada!
Mengapa cara hidup kedamaian semacam itu tidak kita telisik kembali?
Herry
Dim telah melakukan dan mencoba menafsirkan kehidupan modern ini berdasarkan
pola-pola pikir tua, disadari atau tidak. Dengan melokal akan mengglobal.***
Jakob
Sumardjo adalah
seorang penulis kritik sastra dan juga pelopor filsafat seni di Indonesia.
Jakob merupakan anak sulung dari tujuh bersaudara, putra dari pensiunan ABRI,
P. Djojoprajitno.
Karier
kefilsafatan Jakob Sumardjo dimulai ketika menulis kolom di harian Kompas,
Pikiran Rakyat, Suara Karya, Suara Pembaruan, dan majalah Prisma, Basis, dan
Horison sejak 1969. Buku-bukunya yang membahas filsafat Indonesia ialah: Filsafat
Seni (2000), Menjadi Manusia (2001), Arkeologi
Buadaya Indonesia (2002), Mencari Sukma Indonesia: Pendataan
Kesadaran Keindonesiaan di tengah Letupan Disintegrasi Sosial Kebangsaan (2003), Simbol-simbol
Artefak Budaya Sunda (2003), Sunda: Pola
Rasionalitas Budaya (2012), Negeri Sepanjang Tikai: 100
Esei Kesaksian Indonesia (2012), dan Estetika Paradoks (edisi
revisi, 2014).***
Serial “Cosmogony”
karya Herry Dim
Cosmogony #1 in the Heart of Stone
Cosmogony #2 in Green Jadeite Chrysoprasus
Cosmogony #3 in Turqouise Blue
Cosmogony #4 in Terracotta and Gold
Cosmogony #5 in Red Spinel
Cosmogony #6 in White Satin
Cosmogony #7 Goes into Greenland
Cosmogony #1 in Turqouise Blue