Kamis, 09 Desember 2021
Minat Baca Masyarakat Indonesia Rendah Sekali
Selasa, 02 November 2021
Kuam-keom Baca “Ini dan Itu Indonesia”
BAHKAN
manakala membaca esei berjudul “Bahasa Pancasila” masih di bagian tengah, tak
tertahankan mulut kuam-keom yang artinya sebuah pergeseran
senyum antara malu tapi membuat berfikir, tersindir dan menertawakan diri,
serta ada juga upaya-upaya kritis untuk mencari-cari alasan atau harapannya
bisa menemukan pledoi atas konsep bahasa Indonesia yang
termaktub di dalam teks Pancasila.
Terjadinya kuam-keom itu
sambil berkata-kata dalam hati di sepanjang proses membaca: Ya, jadi ingat,
bahwa sejak kelas 1 SD di tahun 1961 dengan kemampuan baca masih terbata-bata
hingga kini memiliki cucu menjelang masuk SD, rasanya tak pernah mengalami
keraguan sedikit pun atas bahasa Indonesia yang termaktub di dalam lima sila
pada Pancasila. Itu untuk mengatakan bahwa Pancasila diterima seperti demikian
adanya, dan diterima pula “harus” demikian adanya. Sepanjang 55 tahun tak
mengalami kritisisme atas teks Pancasilanya itu sendiri, kecuali menjadi karya
seni yang memaknai keprihatinan atas Pancasila yang tak jua menjadi
kenyataan.
Esei
“Bahasa Pancasila” yang sesungguhnya pernah dimuat di dalam “kolom bahasa”
Majalah Tempo, 2011, itu seperti setrum kejut pembangun kesadaran yang pernah
tertidur tak kurang dari 55 tahun. Dua sila saja yang dibahas di dalam esei
tersebut yaitu sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” manakala dibahas berdasar
prinsip imbuhan ke dan an seperti lazimnya di
dalam bahasa Indonesia, muncul lah apa yang dimaksud dengan sila tersebut yaitu
“Keesaan Tuhan”; dan sila keempat yaitu “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan” yang kemudian terkuak kerumitan
bahasanya.
“Bahasa
Pancasila” adalah esei pertama karya Berthold Damshäuser yang termuat di dalam
buku “Ini dan Itu Indonesia : Pandangan Seorang Jerman” (Komodo Books, 2015).
Sebuah buku setebal 223 halaman yang terdiri atas sepuluh esei tentang bahasa
(Indonesia), delapan esei tentang sastra, tiga esei tentang budaya, dan sebuah
cerpen. Buku berkesan humor cerdas, kritis tapi tak menggurui apalagi bikin
jengkel, dan membawa kepada kenangan indah ini dilengkapki kata pengantar Agus
R. Sarjono “Berthold Damshäuser dan Ambiguitas Indonesia” dan kata penutup
Jamal D. Rahman “Wisata Intelektual Seorang Indonesianis.”
**
TAPI tunggu, ternyata tak semua isi buku disampaikan dengan gurau cerdas berupa esei-esei yang berdasar factum di bangku kuliah bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman, nyatanya manakala sampai ke pembicaraan tentang Kang Atun (Ramadhan K.H.) tak ada lagi gurau di sana kecuali kisah haru percintaan intelektual antara dua orang pejuang sastra. Demikian halnya Pak Trum, begitu lah panggilan kami kepada Berthold Damshäuser, manakala menurunkan tulisan-tulisan penghormatan semisal kepada Hamid Jabbar, Trisno Sumardjo, dan Sapardi Djoko Damono; di sana sangat kuat sekali didasari rasa keterlibatan, emfati, keren-nya feeling into atau einfühlung terhadap subjek yang dibicarakan kemudian di sekelilingnya diberi bangunan prinsip-prinsip keilmuan yang meyakinkan. Dengan itu si pembaca dibawa masuk ke dunia subjek yang dibicarakan, dan pada saat bersamaan pembaca pun diajak tamasya ke lautan ilmu sastra. Maka bagi yang belum kenal menjadi kenal, bagi yang telah kenal jadi ingat kembali bahkan kian kenal, menitikan air mata haru, lantas manggut-anggut mengatakan: “iya, ya, agung sekali mereka itu, bukan sekadar menyerahkan seluruh hidupnya bagi sastra tapi di sana pun terdapat samudra kecendekiaan, dan betapa kuatnya mereka menempuh jalan sepi, jalan arif.”
Kemudian
pada esei-esei yang memang tak ada jalan lain selain melalui pertanggungjawaban
ilmiah, seperti manakala Pak Trum menyampaikan kerinduannya pada “Puisi yang
Bukan Prosa,” mempertanyakan sekaligus menjawab hal-ihwal dan masa depan “Puisi
Esei,” apalagi ihwal “pertukaran budaya” yang hampir sepanjang hidup dijalani
Pak Trum, diurai dalam esei-esei panjang bahkan sulit (untuk tidak dikatakan
tak bisa lagi) disebut esei mengingat lebih dekat kepada kajian ilmiah.
Baru
kemudian di bagian penutup Pak Trum kembali ke dunia ironi dan humor tinggi.
Pada esei “Indonesia adalah Sarang Toleransi!” Pak Trum kembali ke setting perkuliahan
kelas bahasa Indonesia di Universitas Bonn. Di sini menyuruk sampai kepada hal
yang esensial di dalam kemanusiaan, mempertanyakan “teistis dan ateitis” di
dalam konteks toleransi Indonesia. Dan lagi, hal yang mungkin bisa bikin senewen bagi
yang masih tunggal dimensi, di sini malah bisa dibaca sambil kuam-keom,
dan menjadi paham meski tanpa kesimpulan.
Buku ditutup dengan sebuah fiksi (cerpen) tapi kiranya bersifat biografis atau pengalaman langsung penulisnya manakala sedang di dalam taksi, terjebak kemacetan kota Jakarta, lantas muncul ironi dramatik melalui percakapan dengan sopir taksi yang ternyata suku Sampit. Ada yang perih karena diingatkan kembali kepada tragedi “Sampit – Madura,” tapi kita, kembali kuam-keom saat membacanya.
(Herry Dim, pelukis, pengamat kebudayaan, eseis,
tinggal di Cibolerang, Bandung)***
-
Sebuah pertunjukan berdasar lakon "Syekh Siti Jenar: Babad Geger Pengging" karya Saini KM Sutradara: Fathul A. Husein Merupakan ...
-
MOMEN penyematan gelar Ksatria Seni oleh Dubes Prancis kepada Nyoman Nuarta, Rabu (3/11) di NuArt Sculpture Park Bandung. [FOTO tangkapan da...
-
Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, ditutup saat pemberlakuan PSBB. (Foto: ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi/PR) ...
-
: dalam forum “Urun Rembuk – Berpikir dan Bertindak yang Berkelanjutan” Pengantar DI TENGAH upaya menulis “Gerbang Awan Rimbang-...
-
Catatan (Revisi): Herry Dim ADA beberapa pertanyaan yang, mau takmau, teralamatkan kepada gubernur provinsi Jawa Barat, Ridwan Kamil, sehubu...
-
DEWAN JURI Anugerah Budaya Kota Bandung 2021 (dari kiri ke kanan) Dr. Tisna Sanjaya, Dr. Tedi Permadi, Prof. Dr. Arthur Supardan Nalan, Dr. ...
-
The Virgin and Child with a Flower on a Grassy Bank (sekitar 1503) - Agnews, London SEBUAH karya grafis yang semula tak dikenali karya A...
-
waktu tara ngabohong sakedap deui kami baris mulang ka alam kubur mun ayeuna meredih tilas palaguna sangkan ngajadi taman asri paniisan éstu...
-
SENIMAN Bandung, Rahmat Jabaril, dalam Annual Jeprut #1 bersama rombongan berkuda ke DPRD Provinsi Jawa Barat untuk menyampaikan 'buku t...
-
Pengantar LUAR BIASA, sungguh menakjubkan. Itu niscaya menjadi kesan umum setiap orang setelah membaca tulisannya Iulia Cabacenco ini. Pe...