Selasa, 02 November 2021

Kuam-keom Baca “Ini dan Itu Indonesia”


BAHKAN manakala membaca esei berjudul “Bahasa Pancasila” masih di bagian tengah, tak tertahankan mulut kuam-keom yang artinya sebuah pergeseran senyum antara malu tapi membuat berfikir, tersindir dan menertawakan diri, serta ada juga upaya-upaya kritis untuk mencari-cari alasan atau harapannya bisa menemukan pledoi atas konsep bahasa Indonesia yang termaktub di dalam teks Pancasila.

Terjadinya kuam-keom itu sambil berkata-kata dalam hati di sepanjang proses membaca: Ya, jadi ingat, bahwa sejak kelas 1 SD di tahun 1961 dengan kemampuan baca masih terbata-bata hingga kini memiliki cucu menjelang masuk SD, rasanya tak pernah mengalami keraguan sedikit pun atas bahasa Indonesia yang termaktub di dalam lima sila pada Pancasila. Itu untuk mengatakan bahwa Pancasila diterima seperti demikian adanya, dan diterima pula “harus” demikian adanya. Sepanjang 55 tahun tak mengalami kritisisme atas teks Pancasilanya itu sendiri, kecuali menjadi karya seni yang memaknai keprihatinan atas Pancasila yang tak jua menjadi kenyataan.       

Esei “Bahasa Pancasila” yang sesungguhnya pernah dimuat di dalam “kolom bahasa” Majalah Tempo, 2011, itu seperti setrum kejut pembangun kesadaran yang pernah tertidur tak kurang dari 55 tahun. Dua sila saja yang dibahas di dalam esei tersebut yaitu sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” manakala dibahas berdasar prinsip imbuhan ke dan an seperti lazimnya di dalam bahasa Indonesia, muncul lah apa yang dimaksud dengan sila tersebut yaitu “Keesaan Tuhan”; dan sila keempat yaitu “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan” yang kemudian terkuak kerumitan bahasanya.

“Bahasa Pancasila” adalah esei pertama karya Berthold Damshäuser yang termuat di dalam buku “Ini dan Itu Indonesia : Pandangan Seorang Jerman” (Komodo Books, 2015). Sebuah buku setebal 223 halaman yang terdiri atas sepuluh esei tentang bahasa (Indonesia), delapan esei tentang sastra, tiga esei tentang budaya, dan sebuah cerpen. Buku berkesan humor cerdas, kritis tapi tak menggurui apalagi bikin jengkel, dan membawa kepada kenangan indah ini dilengkapki kata pengantar Agus R. Sarjono “Berthold Damshäuser dan Ambiguitas Indonesia” dan kata penutup Jamal D. Rahman “Wisata Intelektual Seorang Indonesianis.”

**

TAPI tunggu, ternyata tak semua isi buku disampaikan dengan gurau cerdas berupa esei-esei yang berdasar factum di bangku kuliah bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman, nyatanya manakala sampai ke pembicaraan tentang Kang Atun (Ramadhan K.H.) tak ada lagi gurau di sana kecuali kisah haru percintaan intelektual antara dua orang pejuang sastra. Demikian halnya Pak Trum, begitu lah panggilan kami kepada Berthold Damshäuser, manakala menurunkan tulisan-tulisan penghormatan semisal kepada Hamid Jabbar, Trisno Sumardjo, dan Sapardi Djoko Damono; di sana sangat kuat sekali didasari rasa keterlibatan, emfati, keren-nya feeling into atau einfühlung terhadap subjek yang dibicarakan kemudian di sekelilingnya diberi bangunan prinsip-prinsip keilmuan yang meyakinkan. Dengan itu si pembaca dibawa masuk ke dunia subjek yang dibicarakan, dan pada saat bersamaan pembaca pun diajak tamasya ke lautan ilmu sastra. Maka bagi yang belum kenal menjadi kenal, bagi yang telah kenal jadi ingat kembali bahkan kian kenal, menitikan air mata haru, lantas manggut-anggut mengatakan: “iya, ya, agung sekali mereka itu, bukan sekadar menyerahkan seluruh hidupnya bagi sastra tapi di sana pun terdapat samudra kecendekiaan, dan betapa kuatnya mereka menempuh jalan sepi, jalan arif.”

Kemudian pada esei-esei yang memang tak ada jalan lain selain melalui pertanggungjawaban ilmiah, seperti manakala Pak Trum menyampaikan kerinduannya pada “Puisi yang Bukan Prosa,” mempertanyakan sekaligus menjawab hal-ihwal dan masa depan “Puisi Esei,” apalagi ihwal “pertukaran budaya” yang hampir sepanjang hidup dijalani Pak Trum, diurai dalam esei-esei panjang bahkan sulit (untuk tidak dikatakan tak bisa lagi) disebut esei mengingat lebih dekat kepada kajian ilmiah.

Baru kemudian di bagian penutup Pak Trum kembali ke dunia ironi dan humor tinggi. Pada esei “Indonesia adalah Sarang Toleransi!” Pak Trum kembali ke setting perkuliahan kelas bahasa Indonesia di Universitas Bonn. Di sini menyuruk sampai kepada hal yang esensial di dalam kemanusiaan, mempertanyakan “teistis dan ateitis” di dalam konteks toleransi Indonesia. Dan lagi, hal yang mungkin bisa bikin senewen bagi yang masih tunggal dimensi, di sini malah bisa dibaca sambil kuam-keom, dan menjadi paham meski tanpa kesimpulan.

Buku ditutup dengan sebuah fiksi (cerpen) tapi kiranya bersifat biografis atau pengalaman langsung penulisnya manakala sedang di dalam taksi, terjebak kemacetan kota Jakarta, lantas muncul ironi dramatik melalui percakapan dengan sopir taksi yang ternyata suku Sampit. Ada yang perih karena diingatkan kembali kepada tragedi “Sampit – Madura,” tapi kita, kembali kuam-keom saat membacanya. 

(Herry Dimpelukis, pengamat kebudayaan, eseis, tinggal di Cibolerang, Bandung)***


Dikirim ke Galamedia, 22 Oktober 2016 – dimuat 27 Oktober 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar