Jumat, 26 November 2021

BIJABA: Setitik Benih Harapan

 


Oleh: Herry Dim

PELETAKAN batu pertama kerinduan Bandung memiliki biennale senirupa kiranya perlu disebut terselenggaranya BAE (Bandung Art Event) pada tahun 2001, penggeraknya antara lain Rifky Effendy, Rizki A Zaelani, Asmujo Jono Irianto, Agung Hujatnikajennong, dan Bambang Subarnas. Cakupan kegiatan, konsep, serta pola pelaksanaannya harus dikatakan bagus setidaknya dalam pengertian betul-betul berorientasi kepada keberadaan dan kondisi Bandung. BAE tersebar di sejumlah titik lokus seni yang pada gilirannya takmelulu menyajikan senirupa melainkan mencakup senipertunjukan dengan pilihan karya-karya serius. Sayangnya BAE takberlanjut alias hanya terjadi sekali itu saja.

Duabelas tahun kemudian, tepatnya 2013, muncul forum Bandung [Nyawang] Biennale yang dimotori oleh Koko Sondari. Penyertaan kata “nyawang” dari bahasa Sunda, kiranya cukup jelas seperti artinya yaitu melihat ke kejauhan. Forum pembicaraan selama tiga hari tiga malam di sebuah hotel di Bandung, itu sesungguhnya melahirkan rancangan yang cukup matang. Maklum karena sebelumnya, di penghujung 2011 hingga pertengahan 2012, terjadi dabrul (obrolan) berkala serta aprak-aprakan (menjelajah berbagai tempat) dalam rangka mengimpikan Biennale Bandung bersama Koko Sondari, Tisna Sanjaya, Muhammad Zico Albaiquni, dan Bambang Subarnas. Itu berlanjut pada dabrul dengan komunitas-komunitas semisal berkali-kali dengan Iwan R. Ismael di Gedung Indonesia Menggugat. Tercatat pula perbincangan dengan Rosid di studionya, lantas secara terpisah dengan Aming D. Rachman serta dorongan semangat yang takhenti-hentinya dari Tubagus Andre Sukmana yang ketika itu selaku direktur Galeri Nasional Indonesia. Di sela sejumlah dabrul sekaligus sebagai pemanasan dilaksanakanlah pameran Senirupa Tenda 2013 di kota Bandung dan beberapa kota lain di Jawa Barat. Sementara bincang informal terus berlanjut. Di sela pameran “Jiwa Ketok dan Kebangsaan” yang berlangsung di Galeri Nasional, terjadi pembicaraan informal di antara sarapan pagi bersama Rizki A. Zaelani, Koko Sondari, dan beberapa teman seniman lain di sebuah hotel di Jakarta. Pembicaraan yang sangat ringkas ini justru memberikan dorongan “to be or not to be” untuk membuat forum formal Bandung [Nyawang] Biennale, sementara pematangannya terjadi secara informal di Selasar Sunaryo, Oktober 2013, melibatkan Sunaryo, Tisna Sanjaya, Rifky Effendi, Gustaff Hariman Iskandar, dan Agung Hujatnikajennong. Namun, Bandung [Nyawang] Biennale pun hanya melahirkan kerangka di atas kertas, takpernah kesampaian menjadi biennale.

Itu sekadar gambaran betapa tertatih-tatihnya Bandung dalam memelihara mimpi memiliki biennale. Delapan belas tahun kemudian, jika dihitung dari BAE 2001, atau 6 tahun dari Bandung [Nyawang] Biennale lahirlah Bijaba #1 pada 2019 yang menggelar karya 57 perupa Jawa Barat termasuk karya seni instalasi melalui tangan Diyanto selaku kurator atas dukungan UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat. Saat berlangsung hingga usainya Bijaba #1, masyarakat seni serta publik secara umum berharap-harap cemas sambal mengantongi pertanyaan: Akankah berlanjut?

Sebuah pertanyaan yang lazim mengingat biennale begitu dicetuskan taklain merupakan janji yang seyogianya berlangsung periodik dua tahunan, dan BIJABA sendiri merupakan akronim dari Biennale seni rupa Jawa Barat. Maka ketika Bijaba #2 terealisasikan pada 2021 ini, sungguh merupakan setitik benih harapan yang bisa menjadi pohon senirupa bagi keberadaan peradaban atau kebudayaan kota Bandung dan provinsi Jawa Barat.

 


Penanda Peradaban Kontemporer

SETIDAKNYA sejak 1960an, biennale atau triennale tumbuh menjadi penanda peradaban dan kebudayaan kontemporer di kota-kota dan negara-negara di berbagai belahan dunia. Tidak dirumuskan secara khusus dan bersama-sama tapi kemudian menjadi impresi umum bahwa kota atau negara yang memiliki keberlanjutan peradaban dan kebudayaan hingga masa kontemporer itu niscaya memiliki wahana biennale, triennale, atau pun lima tahunan. Di sisi lainnya menjadi semacam wahana gaul pencapaian seni di kota/negara tertentu pada masa kontemporer dengan pencapaian bangsa atau negara-negara lainnya. Moda, tata cara, hingga fokus pelaksanaannya di setiap kota/provinsi/negara masing-masing itu tentu berbeda-beda. Namun karena pertumbuhannya bisa pula menjadi ajang hubungan diplomatik antar-bangsa/negara, maka biennale atau triennale di dunia itu hampir umum dilaksanakan oleh tiga unsur (negara/pemerintah, jejaring seniman, dan pihak swasta). Ujung terakhir dari gaul peradaban tentu bisa ke mana-mana, yang terdekat tentu bagi kepentingan perkembangan seni, selanjutnya dan yang umumnya terjadi, adalah pertukaran wawasan dan wacana dengan jejaring kemanusiaan, hingga bisa sampai ke gaul sosial, politik, dan ekonomi.

Untuk sampai kepada impian ideal seperti itu, seperti dikemukakan Drs.Pustanto, M.M, selaku Kepala Galeri Nasional Indonesia di dalam diskusi Bijaba #2, bahwa pada gilirannya peristiwa biennale itu membutuhkan tata-kelola atau sistem manajemen yang rapih sekaligus aktif, terus bergerak, berkesinambungan, senantiasa memelihara hubungan dengan berbagai jejaring, dan takperlu ragu lagi untuk menggunakan sarana gaul mutakhir.

Sementara modal utamanya yaitu karya seni, jelas takusah diragukan lagi. Tanpa maksud mengemukakan majas hiperbola, sejumlah karya yang hadir pada Bijaba #2 membuktikan kualitasnya akan sanggup jika disandingkan dengan karya seni kota-kota lain di tanah air bahkan mancanegara. Sebut misalnya karya berjudul Besi Kertas Batu (Rudi ST Darma), Packaging #2 (Irman Anas Rahman), Tau diri... nggak (Setiyoko Hadisusanto), Eden (Yogie Achmad Ginanjar), performance art "Mencuci Dunia" (Isa Perkasa), Inscription - Memorable 2 (Nandanggawe), Venomania / maniac racun tumbuh merasuk tubuh (Hendra Riadi), Under Pressure (Agus Suwanda), Hyperthymesia Nitrocellulose Paint (Andri Kurniawan), Appetizer (Carla Agustian), Lelaki dan Perahu Merah (Eris Lungguh S), Beragam (Fahmi Mursyid), Garden's Heart: Indispendable #2 (Fazar Roma Agung), Melihat Aku dari Jejakmu (Gilang Mustofa), Memburu Barang Antik, Manusia, Benda, dan Waktu (Gugum Gunawan), Mengangkat Batu (Iwan Ismael), Electric Identity #7 (Lutfi Yanuar), Saling Merangkul (M Fikri), Malam Sabtu (M Samba), The Ghost Writer (Pupung Prayitno), Between Land Scapers (Roni Kurniawan), End End Unity (Royhan Zaki S), dan Janosigen #1 dan #2 (Sio Sandarjaya) untuk menyebut sebagian diantaranya saja.

Munculnya karya-karya “bagus” seperti itu membuktikan bahwa kreativitas terus berjalan dan adanya ketajaman penglihatan kurator. Selamat Bijaba #2.***

(Herry Dim, pekerja seni, pengamat kebudayaan, aktivis Bidang Revitalisasi Sumber Daya Alam di Odesa Indonesia, tinggal di Bandung)







Kamis, 25 November 2021

Nyampah Itu Dosa

 


Oleh: Herry Dim

TAHUN 1999 saya membuat karya “Puitika Sampah” yang melibatkan juga Bambang Subarnas, Dédén Sambas, Iman Soléh, Tony Broer, Ine Arini, Harry Roesli, Yuséf Muldyana dan Laskar Panggung, Héndra "Mboth" Permana, Nandang Gawé, dan beberapa anak jalanan di CCF (kini IFI, Institut Français d'Indonésie), Bandung. Risét fotografi, sosial, dan perkara sampah untuk karya tersebut dikerjakan bersama Harry Pochang di TPA Leuwigajah.

Berlandas kepada risét kecil-kecilan sebelumnya atau pun yang kemudian dilakukan untuk “Puitika Sampah,” sudah muncul semacam kesimpulan bahwa telah datang peradaban baru yang memang tak terhindarkan, seyogianya itu seiring berjalan bersama munculnya kesadaran baru atau kebudayaan baru. Jika luput, maka bukan mustahil Bandung dalam ancaman “darurat sampah.”

Selang enam tahun kemudian, 2005, terjadi longsor besar di TPA Leuwigajah yang merenggut korban antara 140 – 150 jiwa meninggal. Saat itu, saya dan besar kemungkinan semua kawan-kawan “Puitika Sampah” hanya bisa mengurut dada.

Demikian halnya ketika halaman muka Pikiran Rakyat, Kamis (13/4), menyajikan foto antrian truk sampah di jalan menuju TPA Sarimukti dan dua berita utama yang berkenaan dengan sampah. Ingatan bersama kita sontak terbangkitkan kembali: sampah merupakan persoalan besar. Seperti diberitakan PR, disebabkan rusaknya alat timbang di TPA maka menyebabkan timbulnya rangkaian masalah hingga kerugian yang besarannya ratusan juta rupiah. Berita lain di halaman yang sama mengungkap utang-piutang miliaran rupiah sehubungan perkara sampah dari Pasar Induk Caringin.

Tulisan ini tak bermaksud ikut membahas masalah di TPA Sarimukti apalagi berkenaan hal téknis kerusakan alat timbang yang mémang di luar kemampuan penulis, melainkan ingin melihat kembali ihwal sampah yang sesungguhnya berada di dalam lingkaran besar peradaban dan kebudayaan.

Antrian truk sampah di TPA Sarimukti dan peristiwa TPA Leuwigajah yang bahkan merenggut korban ratusan jiwa, itu sesungguhnya merupakan pucuk gunung és, mengingat masih terdapat persoalan-persoalan lain seputaran sampah yang jauh lebih besar, dan bisa menelan korban serta permasalahan yang lebih besar lagi jika tak teratasi lebih dini. Di dalam gunungan persoalan tersebut antara lain terdapat perkara bawaan dari géséran kebudayaan rural ke urban, populasi penduduk dan produksi sampah di perkotaan, ketaksiapan (pemerintah serta masyarakatnya) di dalam perubahan peradaban dan kebudayaan baru, tidak/belum terhubungnya dunia pendidikan bahkan agama mayoritas terhadap persoalan-persoalan baru, hingga (salasatu ujungnya) ketimbang melahirkan adab dan kebudayaan baru malah melahirkan manusia-manusia “semau gué,” tidak/kurang memiliki daya toléransi, mementingkan diri sendiri atau kelompoknya dan tidak/kurang peduli terhadap orang lain atau pun kelompok lain, juga kecenderungan sképtis yang antara lain disebabkan kian merosotnya kepercayaan publik terhadap pemerintah (éksékutif, législatif, dan yudikatif) yang berulang-ulang mencederai rakyatnya.

Itu sekadar gambaran seringkas-ringkasnya, bahwa seurusan sampah pun sejatinya saling kait-berkait dengan aspék-aspék kehidupan lainnya. Ia yang asal-muasalnya bisa saja dari perkara pribadi bahkan perkara seringan melempar plastik bekas pembungkus, nyatanya berkait dengan keberadaan dan kehidupan orang lain, berjalin dengan masyarakat sekitar bahkan berkenaan dengan kehidupan yang jauh. Contohnya iring-iringan truk sampah di kawasan TPA Sarimukti dan korban di TPA Leuwigajah, itu pasti berasal dari tempat-tempat yang jaraknya puluhan kilometer bahkan berasal dari buangan seluas kota Bandung dan sekitarnya. Demikian untuk menyebutkan bahwa selemparan sampah dari sejumput plastik, itu berkenaan dengan pola kepribadian orang per orang, selanjutnya berada di dalam lingkaran tatanan sosial, tatanan peradaban, dan tatanan kebudayaan.

Dari Daun ke Plastik

DI atas telah disinggung ihwal terjadinya géséran kebudayaan rural ke urban, sayangnya dalam prosés tersebut umumnya terjadi dua hal yang relatif tak wajar. Hal pertama kecenderungan tak berlanjut bahkan hilangnya kearifan masa lalu, baik karena tergantikan oléh peradaban baru atau pun karena tidak adanya tradisi/sistem keilmuan pewarisan dan keberlanjutan budaya. Kedua, berupa kecenderungan datangnya peradaban baru yang selalu tiba-tiba sehingga dalam berbagai hal tidak mengalami prosés kebudayaan kecuali langsung terhubung kepada hal-hal fungsional.

Agar tidak menjadi uraian téoritik dan berkepanjangan, ihwal dua hal di atas antara lain bisa kita lihat pada géséran budaya penggunaan material keseharian, perlakuan, hingga penyelesaian akhirnya dalam wujud sampah. Ini pun kita tentukan salasatu contoh saja yaitu berupa budaya yang hubungannya dengan pembungkus atau kemasan penganan.

Hampir seluruh kearifan lokal Nusantara yang kelak menjadi Indonesia, itu memiliki tradisi membungkus makanan dengan bahan organik yang umumnya berupa dedaunan. Sebut misalnya lemper dan nasi timbel berbungkus daun pisang, sega/nasi jamblang - daun jati, wajit - kulit jagung, ketupat - daun kelapa, bubur sagu – daun mangkokan, tapé – daun jambu, dan sebagainya. Semua bahan pembungkus tersebut tergolong organik, tumbuh/hidup di tengah tradisi ketika lahan tanah masih luas terbuka dan belum beraspal atau beton, maka manakala bekas pembungkus tersebut (katakanlah) dibuang sembarangan pun segera mengalami pelapukan dan secara alamiah menjadi kompos.

Kini, baik penganan-penganan tersebut di atas dan/atau umumnya modél penganan baru itu berbungkus aluminium foil, kertas lilin (kertas berlapis sejenis plastik), styrofoam, dan anéka ragam plastik murni. Itu semua tergolong tak organik, tak bisa berprosés secara alamiah, butuh waktu panjang bahkan cenderung tidak bisa kembali menjadi organik. Barang-barang tak organik tersebut sangat umum digunakan di tengah kehidupan urban, bahkan lambat laun merembes pula ke pedésaan.

Nyampah Itu Dosa

SEOLAH sepélé, mungkin hanya terlihat sebagai peralihan dari penggunaan daun ke plastik, dan terasa seringan melempar sampah “kérésék” (istilah untuk jenis kantong plastik). Tapi nyatanya, selemparan “kérésék” tersebut jika terakumulasi bisa menjadi sampah puluhan ton dan menimbulkan bencana yang bahkan merenggut jiwa.

Ini demi menyatakan bahwa dari peradaban rural yang menggunakan dedaunan itu perlu pranata baru berupa kebudayaan urban. Jika dahulu melempar sampah daun itu tak menjadi perkara, maka kini selemparan “kérésék” yang sembarangan niscaya menjadi bencana bagi orang lain. Karena nyampah atau buang sampah sembarangan itu mencelakakan orang lain semisal menjadi banjir di mana-mana, bukankah itu berarti perbuatan dosa?

Sayangnya karena masyarakat sképtis sudah terlanjur bertumbuhan, maka kesadaran “dosa” ini pun sirna dalam keriuhan.***

(Herry Dim, seniman, pemerhati kebudayaan, penulis, tinggal di Bandung)

 

Rabu, 24 November 2021

Jokowi dan Citarum

 

Presiden Joko Widodo (kanan) dan Menteri PUPR Basuki Hadi Muljono (dua kiri) didampingi Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (dua kanan) serta Bupati Kab. Bandung Dadang M. Nasser meninjau dan meresmikan Terowongan Nanjung di Kabupaten Bandung, Rabu (29/1/2020). ANTARA/HO-Humas Pemprov Jabar/aa.

Oleh: Herry Dim

PAGI, 5 Desember 2017, kita mungkin sama-sama membuka lembar halaman Bandung Raya “PR,” di sana tertera judul berita “Ini Strategi Presiden Joko Widodo Tuntaskan Banjir Rutin Bandung Selatan.” Isi awal berita menyebutkan Presiden Joko Widodo meninjau pembangunan proyek kolam retensi di Cieunteung, Bale Endah, Kabupaten Bandung, Senin, 4 Desember 2017. Dia meyakini pembangunan kolam retensi dan terowongan saluran air bisa mengurangi banjir tahunan di Bale Endah, Bojong Soang dan Dayeuh Kolot.

Apakah kolam retensi dan terowongan saluran air akan menjadi satu-satunya pusat perhatian di dalam menangani banjir rutin Bandung Selatan?

Senyatanya, pertanyaan itu segera menyeruak di tengah perjalanan membaca berita di atas. Pikiran pun segera menyela bahwa kolam retensi dan terowongan saluran air di titik-titik terjadinya banjir, itu bukanlah jalan keluar yang utama dan bahkan bisa saja tidak menyelesaikan persoalan. Landasannya sederhana, ya, sesederhana sifat dan hukum air yaitu senantiasa mengalir dari tempat lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Demikian untuk menyatakan bahwa inti perkara banjir di Bandung selatan, itu bukan perkara di titik-titik kejadian melainkan perkara keseluruhan sejak dari hulu hingga hilir Citarum serta sejumlah anak-anak sungainya.

Pun manakala membaca istilah “terowongan saluran air,” segera terbayang saluran hingga terowongan yang belakangan ini pun banyak dibangun di perkotaan. Lagi-lagi pikiran iseng menyela, bahwa itu pun bukanlah sejatinya jalan keluar, itu justru menambah percepatan perpindahan air dari ketinggian menuju yang lebih rendah. Semata-mata semacam pemindahan beban untuk diderita oleh mereka yang berada di tempat yang lebih rendah.

 

Ekologis dan Ekosistem Perairan

 

Syukurlah, bagian lain dari isi berita di atas itu disusul dengan pernyataan bahwa setelah kolam retensi dan terowongan rampung, akan disambung dengan pengintensifan penataan kawasan hulu sampai hilir DAS Citarum dengan normalisasi sungai. Dikatakan oleh Jokowi bahwa keterpaduan pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat penting dalam penataan DAS Citarum ke depannya. “Mungkin Januari 2018 kita akan mulai besar-besaran dari hulu sampai ke hilir,” tutur Presiden Joko Widodo.

Sebagai pernyataan, itu relatif sudah bagus. Kelak jika benar-benar niat menyusur Citarum dari hulu sampai ke hilir itu dilaksanakan, niscaya akan bertemu dengan satu sungai legendaris lainnya yaitu Cikapundung. Sungai yang sepanjang 28 kilometer melintasi 11 kecamatan di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat, ini justru bermuara di sungai Citarum yaitu di kawasan Bale Endah, dan menjadi salah satu dari 13 anak sungai utama yang memasok air untuk sungai Citarum.

Sejumlah data menyebutkan bahwa sungai Cikapundung, kini, “dikepung” oleh bangunan, sebagian besarnya merupakan pemukiman yang berada langsung di bantaran sungai. Data BPLHD (Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah) Jawa Barat menyebut, di bantaran sungai Cikapundung sepanjang 11 km dari Babakan Siliwangi sampai Cikapundung Timur sudah disesaki lebih dari 1.100 bangunan yang dihuni lebih dari 75.000 jiwa sehingga terjadi

penyempitan badan sungai. Pemukiman yang padat ini menghasilkan 90% pembuangan limbah yang langsung dibuang ke sungai Cikapundung sehingga sungai ini menerima limbah lebih dari 2,5 juta liter/hari dan ditambah limbah pabrik yang menyebabkan kondisi sungai Cikapundung ini menjadi sangat mengkhawatirkan.

Yang menjadi perhatian catatan ini bahwa kebutuhan hunian, penggunaan lahan, hingga perkembangan kota dan desa itu niscaya dari waktu ke waktu telah mengubah alur dan aliran alami sungai. Perubahan-perubahan yang relatif tanpa kontrol kesadaran ekosistem itu pula yang relatif menjadi faktor utama munculnya dataran banjir, serta berkontribusi terhadap hilangnya keanekaragaman hayati dan fungsi ekologis ekosistem perairan. Perubahan pada aliran alami --secara teoritik atau pun berdasar kenyataan yang ada-- itu menyebabkan pengurangan dan/atau peningkatan arus, mengubah irama aliran, frekuensi, durasi, besaran, waktu, prediktabilitas, dan variabilitas kejadian arus. Bersamaan dengan itu, berubah pula permukaan dan tingkat air bawah permukaan.

Sungai Cikapundung dan 12 sungai lainnya yang kemudian bermuara di Citarum, itu seperti aorta, nadi, jejaring urat di dalam tubuh yang satu sama lain tak terpisahkan. Bukan saja antar-sungai sebab ia pun terhubung ke sungai-sungai kecil, parit, got, hingga saluran-saluran air dari rumah-rumah hunian. Seperti telah disebut di atas bahwa sejatinya sungai itu memiliki alur dan aliran alaminya masing-masing. Sesuai kontur tanah asali dan alaminya, tiap sungai itu lazimnya memiliki leuwi atau lubuk yang terbentuk alamiah. Itulah kebijakan alam, leuwi yang berbentuk cekungan dalam di dasar sungai itu berfungsi sebagai tempat perhentian dan pengatur besaran arus terutama saat debit air melimpah.  

Kini, terutama di sungai-sungai perkotaan, hampir tidak kita ditemukan lagi leuwi. Bahkan sungai yang membentang di Leuwi Panjang, kini hanya tinggal nama sebab sungainya sendiri sudah berubah menjadi bentangan lurus dengan dinding beton dan berbatasan langsung dengan jalan. Jenis-jenis sungai yang telah berubah inilah yang menjadi penyumbang besar bagi timbulnya dataran basah hingga banjir di hilir atau dataran yang lebih rendah.    

 

Suara dari yang Terdampak

 

Catatan kecil serba alakadarnya ini terhubung dengan kicauan Adji Kasrinandi yang dalam beberapa tahun terakhir ini bahu-membahu dengan Asep Mulyana, terutama di dalam penanganan masyarakat yang terdampak banjir di kawasan yang telah disebut di atas. Dengan bahasa ‘gaul’ facebook, 23 November 2017, Adji Kasrinandi antara lain menulis: “Pemerintah, saya yakin paham benar karena para pakar juga segudang di sana. Tapi, sepanjang parsial, ya gitu deh.” Itu berkenaan dengan pemahaman bahwa mengurus ekosistem perairan itu seyogianya bagai kita mengurus aorta serta jejaring peredaran darah di dalam tubuh kita sendiri, satu sama lain terkait dan/atau harus diperhatikan secara keseluruhan.

Bagian terpenting dari kicauannya sebagai suara dari yang terdampak adalah fakta lapangan.

Adji Kasrinandi antara lain menulis telah terjadinya penurunan muka tanah. Ia pun melihat bahwa pelurusan sungai Citarum di Bojongsoang dan desa Mekarsari, itu mengakibatkan arus air menjadi cepat mengalir ke daerah Kampung Ciputat. Sementara sedimentasi di belokan Parunghalang justru memperlambat aliran air, kelokan di kawasan tersebut menyempit dan otomatis memperlambat surutnya limpahan air. Pun setelah Parunghalang, aliran air melambat lagi di Rancamanyar. Artinya, tulis Adji, begitu banyak hambatan untuk mengalirnya air dengan lancar.

Itu sekaligus menjelaskan bahwa memperlancar jalannya air di satu titik bukanlah penyelesaian persoalan, justru bisa mempercepat kiriman derita di titik berikutnya.***

(Herry Dim, seniman, pelukis, pemerhati kebudayaan, penulis, tinggal di Bandung)

- - - - - - - - - - 

: tulisan ini telah dimuat Pikiran Rakyat, Jumat, 8 Desember 2019, hal 28.

Senin, 22 November 2021

Grafis karya Dürer yang Dibeli dengan $30 - Terjual Seharga $50.000.000 di Galeri London

 

The Virgin and Child with a Flower on a Grassy Bank (sekitar 1503) - Agnews, London

SEBUAH karya grafis yang semula tak dikenali karya Albrecht Dürer resmi telah dikoleksi Galeri Agnews di London. Karya tersebut, lima tahun lalu, dibeli oleh seorang yang takmau disebutkan namanya hanya dengan $30 atau sekira Rp. 400 ribuan di sebuah rumah yang melakukan obral di AS. Manakala dibeli oleh Galeri Agnews harganya mencapai $50 juta atau sekira Rp. 712.260.000.000!

Clifford Schorer, dari Agnews, dan orang yang menemukan karya tersebut, meyakini nilainya “mencapai rekor harga tertinggi” bagi karya Old Master dengan media di atas kertas. Sebelumnya rekor ini dipegang oleh Raphael, Head of a Muse (1510-11), yang terjual seharga $48 juta di Christie's London pada 2009. Namun Agnews sejauh ini belum menetapkan harga pasti, galeri yang berkedudukan di London itu masih sedang menjajaki peminatnya. Demikian seperti dilaporkan Martin Bailey untuk Koran Seni (The Art Newspaper), Jumat, 19 November 2021.

Karya berjudul “Sang Perawan dan Anak” (The Virgin and Child with a Flower on a Grassy Bank) dibuat oleh senimannya sekira tahun 1503. Didapat informasi pernah menjadi koleksi arsitek Jean-Paul Carlhian, yang tinggal di Concord, di luar Boston. Jean-Paul Carlhian meninggal pada 2012 dan jandanya Elizabeth meninggal tiga tahun kemudian. Dalam penjualan rumah tahun 2016, karya tersebut dijual dengan label harga $30.

Karya tersebut tergolong monogram “AD” yang sangat menonjol (sangat terkenal dalam sejarah seni), namun putri-putri Carlhian tidak tahu jika itu karya asli. Salaseorang diantaranya berkata dengan canda kepada pembelinya, “oh, jadi Anda menginginkan Dürer.”

Keluarga Carlhian menduga itu adalah reproduksi abad ke-20, yang padahal cetakan aslinya sangat diburu kolektor, sering mencapai harga puluhan ribu dolar.

Karya Dürer tersebut tampaknya telah diakuisisi oleh perusahaan Maison Carlhian pada tahun 1919, diduga karya asli, dan kemudian diwariskan ke keluarga. Yang mengherankan bahwa Jean-Paul dan putri-putrinya tidak menganggap bahwa karya itu asli.

Leluhur Jean-Paul adalah keluarga yang menjalankan usaha furnitur antik dan galeri seni dekoratif Maison Carlhian di Paris, kerap bekerja sama dengan dealer yang sangat sukses, Joseph Duveen. Jean-Paul belajar di Ecole des Beaux Arts di Paris, merupakan orang yang berbudaya dengan perpustakaan pribadi yang besar. Sebagai seorang arsitek, ia bekerja di beberapa bangunan museum, termasuk dua untuk Institusi Smithsonian. Dengan latar belakang seperti itu, rasanya luar biasa mengherankan bahwa Jean-Paul ternyata gagal menyadari apa yang terkandung di dalam bingkai antik yang bagus itu.***

.

Lengkapnya bisa diikuti di The Art Newspaper https://www.theartnewspaper.com/2021/11/19/unknown-durer-drawingbought-for-just-dollar30-at-a-house-clearancecould-sell-for-dollar50m

Hoax dan Efek Kupu-kupu

 


Catatan Herry Dim

HOAX itu memiliki potensi yang bisa menyebabkan kekacauan, runtuhnya suatu bentuk pemerintahan, bubarnya suatu ikatan kebangsaan, bahkan perang saudara hingga kemungkinan perang yang meluas. Keadaan seperti itulah yang kemudian dikenal di dalam teori politik kontemporer dengan sebutan chaos politik.

Di dalam teori chaos politik, yang pada dasarnya merujuk teori matematika dan ilmu alam, antara lain adalah istilah efek kupu-kupu (butterfly effect). Teori kekacauan ini antara lain mengemukakan bahwa perubahan kecil (tak linear) pada satu tempat dapat mengakibatkan perubahan atau pun kekacauan besar di tempat lain. Penggambaran Edward Norton Lorenz merujuk pada sebuah metafora yang elok sekaligus mengerikan, bunyinya: "kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brasil hari ini, dapat menghasilkan tornado di Texas dalam beberapa bulan kemudian." Padanan "kepakan sayap kupu-kupu" di dalam ilmu aslinya (matematika) dikenal dengan sebutan "penarik perhatian" (attractor), kondisi awal suatu sistem berupa susunan numerik yang bisa berkembang menjadi ragam sistem lain yang lebih lebar/besar.   . 

Saya bukan ahlinya dalam matematika apalagi matematika tingkat tinggi seperti itu, maka segera melompat pada kenyataan bahwa teori tersebut akhir-akhir ini kerap dirujuk dan diterapkan pada analisa sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan pada umumnya. Atraktor di dalam politik, maaf, saya cari penggambaran mudahnya saja, kita padankan dengan juru kampanye di dalam kontes pemilu dan semacamnya. Sesungguhnya, dalam perilaku politik yang normal, keberadaan atraktor ini wajar dan biasa-biasa saja, umumnya digunakan untuk menggerakkan goyangan pendulum dari satu pilihan ke pilihan lainnya; contoh sederhananya semisal penggunaan artis atau pesohor di dalam kegiatan-kegiatan kampanye. Dengan catatan tambahan, juru kampanye atau atraktor di sini adalah sosok yang teridentifikasi atau dikenali secara umum.

Tapi, bukan tidak mungkin adanya pihak yang menghendaki politik menjadi tidak normal alias kacau, pelaku atau atraktornya dibikin samar bahkan beridentitas palsu. Dan/atau mereka yang relatif jelas identitasnya namun memainkan muatan atraksi yang disamarkan, diplintir dari kebenaran sejatinya, bisa pula berupa kebohongan hingga penggunaan kata-kata kasar yang tidak patut diterakan pada manusia. Bisa pula dasarnya adalah fakta namun diplesetkan demi menimbulkan ketidaksukaan/kebencian kepada pihak tertentu. Inilah yang kemudian kita kenal dengan istilah hoax.

Waspada Terhadap Agenda Tersembunyi

PARA pelaku hoax berada di dalam dua kemungkinan. Pertama, mereka yang semata-mata berlandas emosional yang melempar hoax begitu saja, tujuannya asal ramai dan menimbulkan kegemparan. Kedua, adalah mereka yang menyadari bahwa hoax itu adalah atraktor serupa kepak sayap kupu-kupu yang bisa menjadi badai. Baik golongan 1 atau pun 2, itu sama-sama menggunakan alat produksi industri 3.0 yaitu telefon cerdas sekaligus dengan sadar bahwa “gelombang”nya kelak bisa mempengaruhi media konvensional, menyadi berita alias kian membesar, yang artinya mereka pun menyadari bahwa gabungan dari itu semua bisa mengubah “kepak sayap kupu-kupu” untuk menjadi gelombang besar, kehebohan, hingga daya untuk mempengaruhi sejumlah orang di luar sana yang kemudian ikut serta memperbesar gelombang hingga menjadi badai. Daya ini pula yang dimainkan di dalam hoax politik, seperti halnya yang kita rasakan berupa banjir hoax menjelang Pemilu 2019 saat ini.    

Hitung-hitungan awalnya relatif naif, hoax dibikin demi menggiring opini publik menjadi tidak suka itu dan berpihak ke ini, dan/atau dalam tujuan naif demi pemenangan ini alias mengalahkan itu. Para pelaku hoax politik yang naif ini, entah, mungkin sadar atau tidak sadar bahwa lemparan hoax sekecil apapun, itu sesungguhnya memiliki potensi menimbulkan badai dan kekacauan. Entah, apakah mereka mimikirkan atau tidak bahwa impak hoax itu bisa membesar lantas membentuk kekacuan pikir, terpelesetnya persepsi, kebingungan, dan kecemasan yang meluas di tengah kehidupan masyarakat.

Yang lebih mengerikan lagi manakala kepak sayap kupu-kupu itu sesungguhnya berada di tempat jauh, mungkin pula sejatinya tidak kita kenali, ia tersembunyi di “rimba raya,” tak tersentuh tapi di sebaliknya adalah agenda besar dalam bentuk desain bahwa kekacauan itu memang dikehendaki dan diciptakan demi robohnya gerbang, hancurnya tatanan suatu bangsa atau negara, kekacauan yang masif, hingga kemungkinan peperangan. Itu artinya pedoman berbangsa dan bernegara dalam bentuk undang-undang, hukum dan segenap aturan lainnya menjadi hancur dan/atau tidak berlaku lagi sehingga agenda besar yang tersembunyi tadi bisa melenggang masuk dan menggantikan keseluruhan sistem. Agenda besar yang tersembunyi ini bisa saja menyelusup dengan berbagai cara ke dalam struktur bangunan bangsa/negara, dan/atau dengan cerdik memanfaatkan para pembuat hoax yang naif tadi.

Kita semua tentu tak menghendaki itu semua, melainkan tetap sebagai satu kesatuan bangsa dan negara (NKRI). Kita telah menjadi “sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat” seperti tersurat dalam butir pertama Trisakti yang dikemukakan oleh Proklamator Soekarno di awal kemerdekaan Indonesia. Kita tentu tak akan pernah rela jika bangsa dan negara ini menjadi hancur dan kemudian digantikan oleh bentuk lain yang berasal dari antah-berantah.

Ke arah tujuan untuk tetap menjaga dan mempertahankan NKRI dengan landasan Trisakti Bung Karno, kiranya tak ada jalan lain; kita mesti menyatakan perang terhadap hoax yang menebarkan kebencian dan berpotensi memecah belah atau membuat kita jadi saling membenci. Kita mesti siaga untuk senantiasa mematikan setiap kepak sayap-sayap hoax sejak anginnya belum membadai, dan itu mesti dimulai dari diri kita masing-masing.

Sebagai penutup catatan, perlu disampaikan bahwa ada sisi lain yang bersifat positif dari teori chaos yang berlandas pada metafora “kepak sayap kupu-kupu” ini. Di atas, memang, cenderung mengemukakan kengeriannya jika teori ini diarahkan ke hal yang buruk agar kita faham dan siaga. Tapi di sisi lainnya dan lebih khususnya saat kita memasuki masa Revolusi Industri 4.0,  “teori kepak sayap kupu-kupu” sejatinya bisa diarahkan pada kebaikan, kreativitas, industri kreatif, pemuliaan manusia. Gelombang energi serta kemungkinan matematiknya tetaplah sama, jika ia digunakan untuk kebaikan maka akan menghasilkan gelombang kebaikan yang besar pula. Semoga.***

(Herry Dim, pekerja seni, pengamat kebudayaan, aktivis Bidang Revitalisasi Sumber Daya Alam di Odesa Indonesia, tinggal di Bandung)

: tulisan ini telah dimuat H.U. Pikiran Rakyat, Kamis, 21 Maret 2019, halaman 18.

Minggu, 21 November 2021

Catatan Perang # Cebong vs Kampret

 


 

Oleh: Herry Dim

TULISAN ini mulai disusun manakala perseteruan perang hastag #2019GantiPresiden dan #2019TetapJokowi bukan saja kian meruncing melainkan kian (maaf) "menyebalkan" sekaligus mengkhawatirkan jika dilihat dari sisi tanda runtuhnya kecendekiaan akibat fanatisme yang berlebihan. Dua belah pihak tidak lagi berdasar kepada sejatinya kritisisme yang seyogianya beranjak dari nalar, cara pandang menyeluruh, komparasi atau studi banding, menjumpai akar masalah, menarik simpul, dan mencarikan jalan keluar bagi keberlanjutan berbangsa/bernegara. Kritik bahkan digelincirkan menjadi sekadar mengumbar cemooh, saling caci-maki, hujat-menghujat, hingga munculnya petanda (signified) yang relatif tak patut yaitu semiotika "cebong" (untuk mengejek pendukung Jokowi) dan "kampret" (sebagai olok-olok bagi lawan Jokowi). Itu saja sudah memperlihatkan bahwa "kritik" tidak lagi berstruktur dan bertubuh, sejatinya tak bisa lagi disebut sebagai suatu bangunan kritisisme, dan bisa dipastikan tak sedikitpun berkenaan dengan kecendekiaan.

Sebelum terlalu jauh, perlu dikemukakan bahwa tulisan ini pun tidak dimaksudkan untuk menganut sekurang-kurangnya istilah (jika tidak dikatakan teori) "kritik membangun" seperti kerap dikemukakan di masa rezim Soeharto. Kritik Membangun, setidaknya dalam pandangan penulis, tak lebih dari kritisisme semu (pseudo-criticism) yaitu prinsip yang seolah-olah "membolehkan" kritis asal "tak mengganggu" stabilitas kebijakan-kebijakan yang diluncurkan rezim kala itu.

Sekadar untuk mengingatkan bahwa istilah "kritik membangun" tak lain merupakan eufemisme dari konsep untuk mematikan kritik itu sendiri. Prinsip dasarnya adalah konsep "stabilitas" yang praktek sejatinya adalah represi terhadap segala pengucapan kritis. Salasatu produknya adalah kebebasan pers yang dibatasi SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers), dan sekadar contoh buahnya adalah breidel (pencabutan SIUUP) atas tiga media (Tempo, Detik, dan Editor) yang dilakukan Orde Baru pada 21 Juni 1994.

Kritik itu galibnya boleh "membantah" bahkan menggugurkan bangunan teori sebelumnya dengan mengedepankan struktur atau diskursus teori baru. Contoh yang telah menjadi klasik di tataran ilmu pengetahuan antara lain adalah teori gravitasi Einstein yang menggugurkan teori gravitasi Newton. Yang perlu dicatat, bahwa dua teori tersebut tidaklah saling membunuh atau saling meniadakan, melainkan satu sama lain saling melengkapkan; setidaknya di dalam matarantai logis bahwa tak akan ada teori Einstein jika sebelumnya tidaklah ada teori Newton (tan hana nguni tan hana mangke, Sunda), dan/atau struktur kritisisme Einstein itu akan terbaca jelas jika sebelumnya kita memahami terlebih dahulu teori Newton.          

Atau, di dalam peta politik/kebudayaan kita sendiri, sebut di antaranya Sutan Syahrir dengan kitab "Perjuangan Kita," Tan Malaka yang melahirkan "Madilog," tulisan-tulisan Bung Karno yang kemudian terkumpul di dalam "Di Bawah Bendera Revolusi," Mohammad Hatta dengan buku "Alam Pikiran," hingga "Dimensi Manusia Dalam Pembangunan" karya Soedjatmoko yang (rasanya) melandasi gagasan Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) hingga pelaksanaan Pelita (Pembangunan Lima Tahun) Orde Baru namun kemudian melenceng karena maraknya KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme). Praxis politiknya sendiri, memang, dihadapkan pada kenyataan kalah dan menang tapi sebagai produk kecendekiaan, buah-buah pikiran tersebut nyatanya masih bisa dipetik cahaya-cahayanya hingga sekarang.      

 

**

 

PUN catatan ini tidak bermaksud menyampaikan segelintir judul buku dari sejumlah buku lainnya, melainkan sekadar menunjukkan bahwa galibnya tradisi berfikir dan kecendendekiaan itu biasanya bermuara pada karya tulis, sehingga segalanya berjejak serta bisa dikaji ulang demi peradaban selanjutnya.

Itu sekaligus untuk menyadarkan kita kembali bahwa demokrasi dan pergantian rezim itu seyogianya tidaklah dilihat sebagai pergantian kekuasaan, melainkan berada pada matarantai perjalanan gagas dan tindakan yang berlandaskan pemikiran yang kian maju serta kian beradab, cendekia, berperikemanusiaan sebagaimana lazimnya proses pemanusiaan manusia.

Urat-nadi kemungkinan tersebut memang bernada Hegelian di dalam metoda Dialektika yaitu tesis (pengiyaan), antitesis (pengingkaran) dan sintesis (kesatuan kontradiksi). Pikiran dan perbuatan terdahulu itu (katakanlah) sebagai tesis yang memang sepatutnya dilihat kembali, ditimbang-ulang, dikritik, bahkan bisa diingkari. Mengingat tesis tersebut merupakan suatu struktur bentuk pemikiran, maka hingga pada kemungkinan pengingkaran pun mestinya berstruktur dan berbentuk pula. Kelak memang akan memunculkan sejumlah kontradiksi, tidak saja pada rentang antara tesis dan antitesis melainkan sangat mungkin bermunculan perbedaan di antara antitesis itu sendiri. Sejumlah kontradiksi tersebut dipilih hingga terhimpun menjadi semacam kumpulan cahaya antitesis, inilah yang disebut sintesis. Manakala sintesis itu sudah terhimpun, menjadi gagasan, menjadi (katakanlah) kebijakan hingga tindakan, saat itulah ia sejatinya telah menjadi tesis baru yang kelak akan kembali ditimbang-ulang oleh antitesis berikutnya. Dan demikianlah sejarah manusia dan pemanusiaannya itu berjalan ke muka, ke arah yang kian baik. Hegel pula yang merumuskan bahwa sejarah itu merepresentasikan perkembangan roh kesadaran (represents the development of the spirit's consciousness).

Tiba pada kosakata “kembang” atau dengan awalan dan akhiran menjadi kata kerja “perkembangan,” itu menyimpan makna keberlanjutan. Tak mungkin ada kembang jika tidak bermula dari menanam benih dan merawatnya. Itulah sejarah (historis). Jika kita senantiasa berfikir bahwa perpindahan kekuasaan itu seperti halnya Ken Arok merebut/membunuh kuasa Tunggul Ametung, maka sama dengan menebas yang pernah ditanam untuk terus berulang pada setiap peralihan itu selalu bermula dari nol atau a-historis.

Hidup di zaman “Badai Celetukkan Medsos” memang repot, kebanyakan jadi tenggelam di kubangan Simulacra, simulasi yang tidak lagi peduli realitas. Samar di antara kategori-kategori nyata, semu, benar, salah, fakta, citra, produksi atau reproduksi melebur menjadi satu dalam silang sengkarut tanda.***        

(Herry Dim, seniman, pelukis, pemerhati kebudayaan, penulis, tinggal di Bandung) 

 

Sabtu, 20 November 2021

Harry Roesli Hidup Kembali

 


 

Catatan: Herry Dim

ALBUM rekaman perdana Harry Roesli (1951 – 2004) yang berjudul Philosophy Gang atas nama Gang of Harry Roesli, dicetak ulang dengan label La Munai Records dan diluncurkan pada 17 Maret 2017 yang lalu di SAE Institute, Jakarta. Sejak itu nama Harry Roesli hidup kembali, karya-karya musiknya kembali diperdengarkan, dan tentang segala sepak-terjang Harry Roeslinya sendiri terus-menerus jadi pembicaraan. Sehari setelah peluncuran cetak ulang album Philosophy Gang, hampir seluruh media nasional memberitakan serta membahas peristiwa atau pun musikalitas Gang of Harry Roesli.

Semula saya menduga keramaian tersebut hanya akan berlangsung sesaat seperti umumnya dunia pop Indonesia. Ternyata dugaan itu salah. Dua hari pasca-rerilis Philosophy Gang, tepatnya 19 Maret 2017, adalah forum perbincangan di Keep Keep Musik jl. Kiputih 1, Bandung. Yang lebih mengejutkan lagi adalah yang mengurus forum, penyelia tempat, serta yang hadir; ternyata hampir seluruhnya adalah kalangan muda generasi anak atau bahkan cucu dari pembicara (a.l. Hari Pochang dan penulis). Selang sebulan kemudian, Awal Mei 2017, adalah perbincangan “Harry Roesli Lima Tiga Tahun Oposisi” di sebuah café di Cilandak, Jakarta. Sementara di luar forum-forum tersebut, semisal di tengah persiapan dan pelaksanaan aksi #saveXpalaguna, nama Harry Roesli kembali disebut-sebut, baik dalam obrolan kerinduan ataupun perasaan kehilangan atas panutan yang bisa membersatukan pluralitas. Pun baru-baru ini manakala berita wafatnya Leo Kristi pada 21 Mei 2017 bertebar di berbagai media, tentu sejumlah pembicaraan mengarah kepada kepeloporan hingga musikalitas Leo Kristi, tapi pada sisi lain tak lepas juga pada pembicaraan tentang Harry Roesli.

Monumen Musik Indonesia

Harry Roesli, suka atau tak suka, memang merupakan monumen penting bagi musik Indonesia. Sejak ia menerbitkan album pertamanya "Harry Roesli - Philosophy Gang” (1973) hingga ia meninggal pada 11 Desember 2004, tidak ada satu pun pemusik Indonesia lainnya yang melakukan penjelajahan musikal seluas dirinya. Bahkan hingga "Harry Roesli Philosophy Gang” ini diterbitkan ulang pada 2017 ini, bisa dibuktikan hanya Harry Roesli yang begitu merdeka melakukan lintasan musikal dari gaya musik populer hingga musik kontemporer, ia memasuki dunia musik industri tapi ia pun dengan keliaran dan kemerdekaannya menggubah sejumlah musik serius yang tak wantah bagi kalangan awam. Hanya Harry Roesli pula yang akrab dengan musik jalanan tapi fasih di tataran perbincangan musik akademik. Tembok kaku pembatas antara musik tradisi dan musik baru pun ditabrak dan dibongkarnya, maka ia tercatat sebagai musisi yang paling awal mempertemukan dan membangun kecenderungan musik berlatar tradisi dan musik baru seperti terbukti di dalam “Titik Api” (1976).

Harus pula dicatat, Harry Roesli adalah musisi yang paling tegar melakukan opisisi terhadap kekuasaan yang tidak beres, setidaknya terbukti dengan rekaman L.T.O. (Lima Tahun Oposisi, 1978), Cuaca Buruk (1992), Cuaca Lebih Buruk (1992), dan Politisi Busuk (2004). Bahkan jauh sebelum ia meneruskan kuliah musik di Rotterdam Conservatory di Belanda (1981) dan meraih gelar profesor di bidang musik, banyak “kenakalan” Harry Roesli yang ditandai dengan ngotak-atik wilayah tonal sekaligus atonal. Dunianya demikian luas maka ia pun bersahabat bahkan kerap membuat karya bersama dengan pelukis atau pun perupa pada umumnya, penari, sastrawan, teater, aktivis, rohaniawan, hingga anak jalanan.

 

Rindu Saat Indonesia Gonjang-ganjing

 

Ya, dunia Harry Roesli bukan sekadar musik tapi lebih besar lagi adalah kepeduliannya atas masalah-masalah bangsa dan negara. Ia menjadi bagian dari perubahan yang disebut Reformasi, rumah tinggalnya di jalan Supratman bahkan dijadikan posko pergerakan.

Seperti yang kita rasakan dan kita ketahui, sepanjang 19 tahun pasca-Reformasi adalah kegelisahan bahkan was-was, indikasi retaknya pluralitas kebangsaan mengemuka, NKRI dan Pancasila disuarakan kembali, ringkasnya dalam 19 tahun Indonesia terus-menerus dalam situasi gonjang-ganjing.

Kiranya disebabkan “langit mendung Indonesia” seperti itulah kerinduan kepada sosok seperti Harry Roesli menjadi hidup kembali. Jika kita ingat kembali, pada masanya hidup adalah nama-nama lain seperti M.T. Zen yang menjadi tautan untuk bidang sains, ilmu pengetahuan dan teknologi, Otto Soemarwoto sebagai pusat rujukan tentang lingkungan hidup, serta indah dan mesranya pula hubungan Nurcholish Madjid, Gus Dur, Romo Mangun, Martinus Antonius Weselinus (MAW) Brouwer, Franz Magnis-Suseno (itu untuk menyebut beberapa nama saja), yang pada dasarnya berada pula di wilayah kerinduan.

Situasi ketegangan pra-Reformasi sesungguhnya relatif genting, tapi keberadaan nama-nama seperti disebut di atas itu berfungsi menjadi semacam tambatan sekaligus pemecah arus, selain tentu saja sebagai inspirasi. Tambatan di dalam situasi gonjang-ganjing itu penting karena menjadi semacam tempat untuk berpegang sehingga tidak semua orang masuk ke dalam pusaran. Mereka pun menjadi semacam pemecah arus besar hingga gelombang besar itu terurai menjadi arus-arus kecil. Itu semua “menjadi” karena sosok-sosok tersebut sanggup menjadi panutan dan inspirasi.

Manakala panutan, tambatan, dan pemecah arus itu hilang, maka “kolam Indonesia” itu menjadi mudah diaduk-aduk, keruh, sehingga semua terbawa ke dalam arus keruwetan. Arusnya pun memusat dan kian membesar. Segala persoalan menjadi terpusatkan kepada pusat kekuasaan. Sedikit-sedikit presiden, presiden kok sedikit-sedikit, demikian jika meminjam guyonan Srimulat, yang artinya semua arus mengarah ke presiden sementara kemampuan presiden untuk mengurai arus itu sangat terbatas (sedikit-sedikit saja). Karena begitu terbatasnya kemampuan untuk mengurai, tak ayal ada pula saluran-saluran arus yang tersumbat, akibatnya desakan arus itu meletus di sembarang titik. 

"Jangan menangis Indonesia, kami berdiri membelamu Pertiwi," demikian salasatu larik dari syair lagu Harry Roesli, semoga bisa menebus kerinduan, semoga Indonesia menemukan kembali tambatan dan sejumlah pemecah arus persoalan. Semoga.***

(Herry Dim, seniman, pengamat kebudayaan, penulis, tinggal di Cibolerang, Bandung)

Jumat, 19 November 2021

Nandang Gawé Pamér Sirkus

Nandang Gawé bersama salasatu serial karyanya "Ndankestein."

Catatan: Herry Dim

MARI kita sempatkan nengok kolase karya Nandang Gawé yang dipamérkan dengan tajuk “Sirkus,” 22 – 30 Agustus 2017, di Galéri 212, jl. Buahbatu 212, Bandung. Unik, itu yang menjadi alasan ajakan ini ditawarlan. Nandang Gawé (NG) menyuguhkan bakalan atau bahan baku rupa (shape) yang jauh dari élok, melainkan susunan demi susunan bentuk (form) karya dengan gambaran sosok-sosok déformatif bahkan invalid. Ini, paling tidak, mendobrak pemahaman umum tentang seni yang pengertiannya élok, indah, halus (lihat, Herry Dim, “Ketakindahan Pun Seni,” Kompas, Sabtu, 8 Juli 2017, hal 24).

Karya-karya NG, langsung atau pun tak langsung, itu terhubung kepada karya-karya Affandi, Héndra Gunawan, dan Sudjana Kerton sebagai pendahulunya. Dalam penggayaan lain berjejak pula pada sejumlah karya yang sudah tidak mempedulikan lagi sosok figuratif, ornamén, melainkan sepenuhnya berdasar kontémplasi dalam rentang panjang sejak méditasi spiritual hingga naluri héwani atau yang lebih halusnya gelegak Dionysian. Semuanya tak berjejak pada prinsip élok tapi tetap memukau.

Paméran “sirkus” NG setidaknya menyadarkan kita bahwa keélokan atau cacat bentuk, halus atau kasar, indah atau takindah pada dasarnya tidaklah menentukan kekuatan, daya pukau, dan/atau nilai seni. Memang benar ada sejumlah karya seni dengan prinsip élok mencapai pesona sekaligus nilai seni yang tinggi, tapi tak kalah banyaknya yang sekadar dihalus-haluskan, diélok-élokan, diindah-indahkan tapi tidak mencapai nilai apapun. Demikian halnya lukisan kasar dengan prinsip ketakindahan banyak contohnya yang mencapai ke’agung’an seni, tapi banyak juga yang hanya berupa gurat, ciprat, blabar, dan permainan barik yang tak berarti apa-apa.  

Rupa Gawé

Rupa karya NG cemderung jahil, nakal, iseng, éksploratif, menawarkan guncangan-guncangan imajinatif, atau seperti yang diteorikannya sendiri yaitu belangbuntal. Menariknya lagi bahwa seperti paméran-paméran NG sebelumnya, sebut misalnya Baladupak, Bebalitikum, SCHIZOchronic, dan kini Sirkus, itu senantiasa dilatari semacam risét-risét ke berbagai arah; semisal ke arah psikososial, kondisi sosial masyarakat, serta tentu saja sejumlah studinya yang berkenaan dengan “rupa.”

Yang dimaksud risét di sini, tentu saja, tidak di dalam pengertian seperti halnya disiplin ilmu sosial melakukan penelitian dengan alat dan métodanya. Risét yang dilakukan NG itu semacam jalan pengembaraan, jalan untuk memasuki ruang-ruang yang tak terduga, dan atau bisa juga menjadi tempat bagi NG untuk membentur-benturkan diri terhadap segala hal yang dijumpainya; bisa juga menjadi ruang “tawar-menawar,” gurau kréatif, hingga keisengan inteléktual seperti yang terjadi pada “Ndankenstein” yang kaitannya dengan “Frankenstein.” Maka bukan sekadar otak-atik nama/sebutan (“Ndankenstein” dan “Frankenstein”), melainkan muncul di sana dua penanda yang masing-masing memiliki métaforik, material yang merdéka, dan kualitas sémiotiknya sendiri, demikian jika meminjam rumusan sliding signifiers/signified-nya Lacan.

Semangat NG seperti halnya semangat gerakan Avant-garde, l’art pour l’art, seni untuk seni; ia berada di luar kecenderungan umum senirupa Indonesia, tak mempedulikan hal di luar dirinya kecuali kepentingan karyanya itu sendiri. Maka dalam berbagai hal karya-karya NG itu hadir mandiri.

Bagi peta seni Indonesia, NG bisa dikatakan berada di garis depan (Avant-garde), dalam arti memulai sekaligus mendobrak kecenderungan umum. Sementara di tataran peta seni dunia, NG cenderung ambil posisi berbincang, dialog, atau bisa pula melakukan jalan dialéktis terhadap seniman-seniman senada dengan penggayaannya. Itu setidaknya terbukti dengan adanya risét-risét NG terhadap karya-karya semisal Mireille Suzanne Francette, Geoffrey Farmer, dan Annegret Soltau.      

Nama lengkap NG berdasar akte kelahiran adalah Nandang Gumelar Wahyudi, lahir di Bandung pada tahun 1970. Ia seperti seorang ambivalén. Saat mengerjakan karya-karyanya cenderung menjadi penyendiri, asyik dan anteng dengan dunianya sendiri, bahkan ruang tamu di rumahnya yang tak seberapa luas itu pepak dipenuhi bakalan, guntingan-guntingan anéka imaji visual, hingga karya-karya yang telah jadi. Ruang itu seperti dikuasainya sendiri. Tapi di sisi lainnya ia cenderung sebagai mahluk atau manusia yang sangat sosial. 

VIDEO dipetik dari IG @nandanggawe_artualizr

NG sebagai mahluk sosial bahkan tidak sekadar melihat panorama atau melihat dari kejauhan, melainkan seorang yang cenderung begitu ditél melihat dari kedekatan. Ia fasih, misalnya, menceritakan seseorang yang mencari nafkah dengan mendorong-dorong roda di tengah malam. Bahkan hingga kini NG masih berketetapan tidak memiliki kendaraan sendiri sehingga ke sana ke mari dengan menggunakan angkot (angkutan kota). Itu, hémat saya, adalah caranya agar ia bisa melihat orang per orang di tengah kehidupan sosial dalam jarak yang terdekat, yang tak lain merupakan jalan baginya dalam mencari “wajah” dirinya sendiri. Penglihatan ke luar (sosial) dan penglihatan ke dalam (diri) pun berlalu-lalang, yang sejatinya tak lain sedang mencari jawaban atas pertanyaan: apa dan bagaimana manusia itu? Siapakah kita ini? Atau bentuk pertanyaan-pertanyaan éksisténsial lainnya.

Kemudian NG menemukan bahwa manusia itu cenderung absurd, jungkir-balik, sirkus, tak tetap atau berubah-ubah berdasar ruang dan waktunya. Itulah yang ia rumuskan dengan diktum belangbuntal; seperti hal umumnya manusia kecil untuk survive hidupnya tambal-sulam dan jungkir-balik. Sementara meréka yang di atas pun tiap saat nyiliwuri dengan wajah-wajah dan kepalsuan.       

Itu senada dengan Cabell Pronko yang melakukan studi atas Beckett, Ionesco, Adamov, dan Sartre dalam menghubungkan éksisténsi manusia dan absurditas, pada butir terakhir dari empat kesimpulannya tertera: “Tak ada réalitas manusia itu. Kenyataan manusia itu adalah apa yang ia bentuk bagi dirinya; tak ada watak yang tetap, manusia adalah éksisténsi di dalam suatu situasi” (Pronko 1966:19).

NG, meski di dalam salasatu postulatnya tentang “Frankestein” dan Ndankestein” menyatakan bermula dari merasa gagal membuat potrét diri, ia sesungguhnya tidaklah membicarakan diri melainkan gambaran sosial atau gambaran kehidupan yang abusurd.

Silakan untuk dibuktikan dengan menyaksikan karya-karyanya, dan “selamat berpaméran Ndang.” Salam.***    

(Hérry Dim, seniman, pelukis, pemerhati kebudayaan, penulis, tinggal di Bandung)