Sabtu, 20 November 2021

Harry Roesli Hidup Kembali

 


 

Catatan: Herry Dim

ALBUM rekaman perdana Harry Roesli (1951 – 2004) yang berjudul Philosophy Gang atas nama Gang of Harry Roesli, dicetak ulang dengan label La Munai Records dan diluncurkan pada 17 Maret 2017 yang lalu di SAE Institute, Jakarta. Sejak itu nama Harry Roesli hidup kembali, karya-karya musiknya kembali diperdengarkan, dan tentang segala sepak-terjang Harry Roeslinya sendiri terus-menerus jadi pembicaraan. Sehari setelah peluncuran cetak ulang album Philosophy Gang, hampir seluruh media nasional memberitakan serta membahas peristiwa atau pun musikalitas Gang of Harry Roesli.

Semula saya menduga keramaian tersebut hanya akan berlangsung sesaat seperti umumnya dunia pop Indonesia. Ternyata dugaan itu salah. Dua hari pasca-rerilis Philosophy Gang, tepatnya 19 Maret 2017, adalah forum perbincangan di Keep Keep Musik jl. Kiputih 1, Bandung. Yang lebih mengejutkan lagi adalah yang mengurus forum, penyelia tempat, serta yang hadir; ternyata hampir seluruhnya adalah kalangan muda generasi anak atau bahkan cucu dari pembicara (a.l. Hari Pochang dan penulis). Selang sebulan kemudian, Awal Mei 2017, adalah perbincangan “Harry Roesli Lima Tiga Tahun Oposisi” di sebuah cafĂ© di Cilandak, Jakarta. Sementara di luar forum-forum tersebut, semisal di tengah persiapan dan pelaksanaan aksi #saveXpalaguna, nama Harry Roesli kembali disebut-sebut, baik dalam obrolan kerinduan ataupun perasaan kehilangan atas panutan yang bisa membersatukan pluralitas. Pun baru-baru ini manakala berita wafatnya Leo Kristi pada 21 Mei 2017 bertebar di berbagai media, tentu sejumlah pembicaraan mengarah kepada kepeloporan hingga musikalitas Leo Kristi, tapi pada sisi lain tak lepas juga pada pembicaraan tentang Harry Roesli.

Monumen Musik Indonesia

Harry Roesli, suka atau tak suka, memang merupakan monumen penting bagi musik Indonesia. Sejak ia menerbitkan album pertamanya "Harry Roesli - Philosophy Gang” (1973) hingga ia meninggal pada 11 Desember 2004, tidak ada satu pun pemusik Indonesia lainnya yang melakukan penjelajahan musikal seluas dirinya. Bahkan hingga "Harry Roesli Philosophy Gang” ini diterbitkan ulang pada 2017 ini, bisa dibuktikan hanya Harry Roesli yang begitu merdeka melakukan lintasan musikal dari gaya musik populer hingga musik kontemporer, ia memasuki dunia musik industri tapi ia pun dengan keliaran dan kemerdekaannya menggubah sejumlah musik serius yang tak wantah bagi kalangan awam. Hanya Harry Roesli pula yang akrab dengan musik jalanan tapi fasih di tataran perbincangan musik akademik. Tembok kaku pembatas antara musik tradisi dan musik baru pun ditabrak dan dibongkarnya, maka ia tercatat sebagai musisi yang paling awal mempertemukan dan membangun kecenderungan musik berlatar tradisi dan musik baru seperti terbukti di dalam “Titik Api” (1976).

Harus pula dicatat, Harry Roesli adalah musisi yang paling tegar melakukan opisisi terhadap kekuasaan yang tidak beres, setidaknya terbukti dengan rekaman L.T.O. (Lima Tahun Oposisi, 1978), Cuaca Buruk (1992), Cuaca Lebih Buruk (1992), dan Politisi Busuk (2004). Bahkan jauh sebelum ia meneruskan kuliah musik di Rotterdam Conservatory di Belanda (1981) dan meraih gelar profesor di bidang musik, banyak “kenakalan” Harry Roesli yang ditandai dengan ngotak-atik wilayah tonal sekaligus atonal. Dunianya demikian luas maka ia pun bersahabat bahkan kerap membuat karya bersama dengan pelukis atau pun perupa pada umumnya, penari, sastrawan, teater, aktivis, rohaniawan, hingga anak jalanan.

 

Rindu Saat Indonesia Gonjang-ganjing

 

Ya, dunia Harry Roesli bukan sekadar musik tapi lebih besar lagi adalah kepeduliannya atas masalah-masalah bangsa dan negara. Ia menjadi bagian dari perubahan yang disebut Reformasi, rumah tinggalnya di jalan Supratman bahkan dijadikan posko pergerakan.

Seperti yang kita rasakan dan kita ketahui, sepanjang 19 tahun pasca-Reformasi adalah kegelisahan bahkan was-was, indikasi retaknya pluralitas kebangsaan mengemuka, NKRI dan Pancasila disuarakan kembali, ringkasnya dalam 19 tahun Indonesia terus-menerus dalam situasi gonjang-ganjing.

Kiranya disebabkan “langit mendung Indonesia” seperti itulah kerinduan kepada sosok seperti Harry Roesli menjadi hidup kembali. Jika kita ingat kembali, pada masanya hidup adalah nama-nama lain seperti M.T. Zen yang menjadi tautan untuk bidang sains, ilmu pengetahuan dan teknologi, Otto Soemarwoto sebagai pusat rujukan tentang lingkungan hidup, serta indah dan mesranya pula hubungan Nurcholish Madjid, Gus Dur, Romo Mangun, Martinus Antonius Weselinus (MAW) Brouwer, Franz Magnis-Suseno (itu untuk menyebut beberapa nama saja), yang pada dasarnya berada pula di wilayah kerinduan.

Situasi ketegangan pra-Reformasi sesungguhnya relatif genting, tapi keberadaan nama-nama seperti disebut di atas itu berfungsi menjadi semacam tambatan sekaligus pemecah arus, selain tentu saja sebagai inspirasi. Tambatan di dalam situasi gonjang-ganjing itu penting karena menjadi semacam tempat untuk berpegang sehingga tidak semua orang masuk ke dalam pusaran. Mereka pun menjadi semacam pemecah arus besar hingga gelombang besar itu terurai menjadi arus-arus kecil. Itu semua “menjadi” karena sosok-sosok tersebut sanggup menjadi panutan dan inspirasi.

Manakala panutan, tambatan, dan pemecah arus itu hilang, maka “kolam Indonesia” itu menjadi mudah diaduk-aduk, keruh, sehingga semua terbawa ke dalam arus keruwetan. Arusnya pun memusat dan kian membesar. Segala persoalan menjadi terpusatkan kepada pusat kekuasaan. Sedikit-sedikit presiden, presiden kok sedikit-sedikit, demikian jika meminjam guyonan Srimulat, yang artinya semua arus mengarah ke presiden sementara kemampuan presiden untuk mengurai arus itu sangat terbatas (sedikit-sedikit saja). Karena begitu terbatasnya kemampuan untuk mengurai, tak ayal ada pula saluran-saluran arus yang tersumbat, akibatnya desakan arus itu meletus di sembarang titik. 

"Jangan menangis Indonesia, kami berdiri membelamu Pertiwi," demikian salasatu larik dari syair lagu Harry Roesli, semoga bisa menebus kerinduan, semoga Indonesia menemukan kembali tambatan dan sejumlah pemecah arus persoalan. Semoga.***

(Herry Dim, seniman, pengamat kebudayaan, penulis, tinggal di Cibolerang, Bandung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar