Catatan: Herry Dim
ALBUM rekaman perdana Harry Roesli (1951 – 2004) yang berjudul Philosophy Gang atas nama Gang of Harry Roesli, dicetak ulang dengan label La Munai Records dan diluncurkan pada 17 Maret 2017 yang lalu di SAE Institute, Jakarta. Sejak itu nama Harry Roesli hidup kembali, karya-karya musiknya kembali diperdengarkan, dan tentang segala sepak-terjang Harry Roeslinya sendiri terus-menerus jadi pembicaraan. Sehari setelah peluncuran cetak ulang album Philosophy Gang, hampir seluruh media nasional memberitakan serta membahas peristiwa atau pun musikalitas Gang of Harry Roesli.
Semula
saya menduga keramaian tersebut hanya akan berlangsung sesaat seperti umumnya
dunia pop Indonesia. Ternyata dugaan itu salah. Dua hari pasca-rerilis Philosophy Gang, tepatnya 19 Maret 2017,
adalah forum perbincangan di Keep Keep Musik jl. Kiputih 1, Bandung. Yang lebih
mengejutkan lagi adalah yang mengurus forum, penyelia tempat, serta yang hadir;
ternyata hampir seluruhnya adalah kalangan muda generasi anak atau bahkan cucu
dari pembicara (a.l. Hari Pochang dan penulis). Selang sebulan kemudian, Awal
Mei 2017, adalah perbincangan “Harry Roesli Lima Tiga Tahun Oposisi” di sebuah cafĂ© di Cilandak, Jakarta. Sementara di
luar forum-forum tersebut, semisal di tengah persiapan dan pelaksanaan aksi
#saveXpalaguna, nama Harry Roesli kembali disebut-sebut, baik dalam obrolan
kerinduan ataupun perasaan kehilangan atas panutan yang bisa membersatukan
pluralitas. Pun baru-baru ini manakala berita wafatnya Leo Kristi pada 21 Mei
2017 bertebar di berbagai media, tentu sejumlah pembicaraan mengarah kepada
kepeloporan hingga musikalitas Leo Kristi, tapi pada sisi lain tak lepas juga
pada pembicaraan tentang Harry Roesli.
Monumen Musik Indonesia
Harry Roesli, suka atau tak suka, memang merupakan monumen penting bagi musik Indonesia. Sejak ia menerbitkan album pertamanya "Harry Roesli - Philosophy Gang” (1973) hingga ia meninggal pada 11 Desember 2004, tidak ada satu pun pemusik Indonesia lainnya yang melakukan penjelajahan musikal seluas dirinya. Bahkan hingga "Harry Roesli Philosophy Gang” ini diterbitkan ulang pada 2017 ini, bisa dibuktikan hanya Harry Roesli yang begitu merdeka melakukan lintasan musikal dari gaya musik populer hingga musik kontemporer, ia memasuki dunia musik industri tapi ia pun dengan keliaran dan kemerdekaannya menggubah sejumlah musik serius yang tak wantah bagi kalangan awam. Hanya Harry Roesli pula yang akrab dengan musik jalanan tapi fasih di tataran perbincangan musik akademik. Tembok kaku pembatas antara musik tradisi dan musik baru pun ditabrak dan dibongkarnya, maka ia tercatat sebagai musisi yang paling awal mempertemukan dan membangun kecenderungan musik berlatar tradisi dan musik baru seperti terbukti di dalam “Titik Api” (1976).
Harus
pula dicatat, Harry Roesli adalah musisi yang paling tegar melakukan opisisi
terhadap kekuasaan yang tidak beres, setidaknya terbukti dengan rekaman L.T.O.
(Lima Tahun Oposisi, 1978), Cuaca Buruk (1992), Cuaca Lebih Buruk (1992), dan
Politisi Busuk (2004). Bahkan jauh sebelum ia meneruskan kuliah musik di Rotterdam Conservatory di Belanda (1981)
dan meraih gelar profesor di bidang musik, banyak “kenakalan” Harry Roesli yang
ditandai dengan ngotak-atik wilayah tonal
sekaligus atonal. Dunianya demikian
luas maka ia pun bersahabat bahkan kerap membuat karya bersama dengan pelukis
atau pun perupa pada umumnya, penari, sastrawan, teater, aktivis, rohaniawan,
hingga anak jalanan.
Rindu Saat
Indonesia Gonjang-ganjing
Ya,
dunia Harry Roesli bukan sekadar musik tapi lebih besar lagi adalah
kepeduliannya atas masalah-masalah bangsa dan negara. Ia menjadi bagian dari
perubahan yang disebut Reformasi, rumah tinggalnya di jalan Supratman bahkan
dijadikan posko pergerakan.
Seperti
yang kita rasakan dan kita ketahui, sepanjang 19 tahun pasca-Reformasi adalah
kegelisahan bahkan was-was, indikasi
retaknya pluralitas kebangsaan mengemuka, NKRI dan Pancasila disuarakan
kembali, ringkasnya dalam 19 tahun Indonesia terus-menerus dalam situasi
gonjang-ganjing.
Kiranya
disebabkan “langit mendung Indonesia” seperti itulah kerinduan kepada sosok
seperti Harry Roesli menjadi hidup kembali. Jika kita ingat kembali, pada
masanya hidup adalah nama-nama lain seperti M.T. Zen yang menjadi tautan untuk
bidang sains, ilmu pengetahuan dan teknologi, Otto Soemarwoto sebagai pusat
rujukan tentang lingkungan hidup, serta indah dan mesranya pula hubungan Nurcholish
Madjid, Gus Dur, Romo Mangun, Martinus Antonius Weselinus (MAW) Brouwer, Franz
Magnis-Suseno (itu untuk menyebut beberapa nama saja), yang pada dasarnya
berada pula di wilayah kerinduan.
Situasi
ketegangan pra-Reformasi sesungguhnya relatif genting, tapi keberadaan
nama-nama seperti disebut di atas itu berfungsi menjadi semacam tambatan sekaligus
pemecah arus, selain tentu saja sebagai inspirasi. Tambatan di dalam situasi
gonjang-ganjing itu penting karena menjadi semacam tempat untuk berpegang
sehingga tidak semua orang masuk ke dalam pusaran. Mereka pun menjadi semacam
pemecah arus besar hingga gelombang besar itu terurai menjadi arus-arus kecil.
Itu semua “menjadi” karena sosok-sosok tersebut sanggup menjadi panutan dan
inspirasi.
Manakala
panutan, tambatan, dan pemecah arus itu hilang, maka “kolam Indonesia” itu
menjadi mudah diaduk-aduk, keruh, sehingga semua terbawa ke dalam arus
keruwetan. Arusnya pun memusat dan kian membesar. Segala persoalan menjadi
terpusatkan kepada pusat kekuasaan. Sedikit-sedikit
presiden, presiden kok sedikit-sedikit, demikian jika meminjam guyonan
Srimulat, yang artinya semua arus mengarah ke presiden sementara kemampuan
presiden untuk mengurai arus itu sangat terbatas (sedikit-sedikit saja). Karena
begitu terbatasnya kemampuan untuk mengurai, tak ayal ada pula saluran-saluran
arus yang tersumbat, akibatnya desakan arus itu meletus di sembarang titik.
"Jangan
menangis Indonesia, kami berdiri membelamu Pertiwi," demikian salasatu
larik dari syair lagu Harry Roesli, semoga bisa menebus kerinduan, semoga
Indonesia menemukan kembali tambatan dan sejumlah pemecah arus persoalan.
Semoga.***
(Herry Dim, seniman, pengamat kebudayaan, penulis, tinggal di Cibolerang, Bandung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar