Tampilkan postingan dengan label Teater. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teater. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Desember 2021

Pop Opera Sang Kuriang

 Catatan: Herry Dim

 

SASTRAWAN Utuy Tatang Sontani (1920 - 1979) menulis naskah “Sang Kuriang” dalam bentuk libreto, yaitu teks untuk karya musik atau semacam “skrip” yang biasanya dilanjutkan pengerjaannya oleh komposer sehingga menjadi bentuk “naskah” opera, opereta, masque, oratorio, kantata, dan manakala sudah digarap jadilah karya drama musikal yang kerap juga menjadi pertunjukan balet.

Libreto “Sang Kuriang” ditulis oleh Utuy Tatang Sontani (UTS) pada perkiraan tahun 1955 di dalam bahasa Sunda, kali pertama diterbitkan dalam bentuk buku oleh penerbit Bhatara pada 1962. Sejauh yang penulis ketahui, naskah ini tak pernah kesampaian mencapai bentuk opera seperti yang dikehendaki sang libretis atau sang penulis libreto. Naskah dalam dua babak ini umumnya dipentaskan dalam bentuk drama, kalau pun ada pola kantata kerap hanya muncul pada penampilan tokoh Arda Lepa dan teman-temannya. Namun demikian perlu pula dicatat, setelah belasan kali menonton dan beberapa kali di antaranya menjadi bagian dari garapan “Sang Kuriang,” itu senantiasa hadir sebagai tontonan yang bagus, intelek, sublim. Ini menjadi mungkin karena kekuatan naskahnya itu sendiri; sublim dalam hal pola dramatik hingga pengolahan bahasanya, pun sudut pandang pengarangnya yang cenderung eksistensialis sehingga membuka ruang pemikiran bagi penikmatnya.

Pada tahun 2004 adalah aktor sekaligus sutradara teater, Bambang Arayana Sambas, yang beritikad keras untuk mewujudkan kehendak sang libretis UTS. Bambang Arayana bekerjasama dengan komposer muda, Una Dairry Bayanullah, berjibaku hingga akhirnya mewujudlah Pop Opera “Sang Kuriang” (POSK) yang kali pertama dipentaskan pada tahun 2004 itu juga. Jika dihitung dari masa selesai ditulis naskahnya pada 1955, maka baru 49 tahun kemudian libreto ini menjadi kenyataan, atau setelah 25 tahun sang libretisnya wafat di Moskow.

Kini, atau 13 tahun kemudian setelah pentas perdananya pada tahun 2004, POSK dipentaskan kembali pada 6 September di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, dan 13 September 2017 di Teater Tertutup Taman Budaya Ambon. Atas alasan itu pula catatan ini disusun dan diturunkan.

SALASATU adegan POSK, foto dari FB Selintas Kiprah Bambang Arayana Sambas.*

POSK Generasi Ke-3

 

Bambang Arayana Sambas sejak awal penggarapan libreto “Sang Kuriang,” itu bercita-cita ingin mendekatankan seni pertunjukan atau teater kepada kalangan muda. “Kita mesti membuat garapan yang serius tapi tetap digemari oleh kalangan muda,” katanya 13 tahun yang lalu di SMKI yang kini menjadi SMKN 10 Bandung. Itu, lanjutnya, demi menjaga keberadaan publik teater, “jangan sampai panggung teater ditinggalkan oleh penontonnya,” tandasnya.

Di sisi yang lain, seperti diskusi-diskusi kami di sepanjang penggarapan, ada pula semacam keprihatinan atas kesalahkaprahan garapan-garapan operet(a) yang sedang musim dikerjakan anak-anak muda di berbagai sekolah saat itu. Operet yang sedang musim saat itu adalah pertunjukan anak muda dengan cara menyambung-sambungkan karya musik yang telah ada, kemudian diisi semacam laku-peran yang umumnya berupa intensitas ngabojeg atau sekadar memancing tawa penonton.

“Kita tak patut dan tak harus melarang mereka sebab itu pun merupakan jalan agar anak muda tetap mencintai panggung teater, yang paling patut dan seyogianya kita kerjakan adalah memberi contoh bagaimana membuat opera yang mendekati benar,” kata Bambang.

Atas dasar itu Bambang Arayana menggandeng Una Dairry Bayanullah yang saat itu tentu masih muda dan memang bisa menciptakan lagu/musik dengan kemampuan di atas rata-rata seusianya. Bambang Arayana sendiri menciptakan beberapa lagu berdasar teks UTS, singkatnya dari mereka berdua jadilah nyanyian-nyanyian, jadilah bahan awal untuk sebuah opera dengan pendekatan kepada genre musik pop sebagai pilihan agar dekat dengan dunia anak muda. Berikutnya, tarian-tarian pun dicipta dan dilatihkan, analisa peran dilakukan, dan penyutradaraan pun dilaksanakan hingga jadilah sebentuk Pop Opera.

Kala kali pertama POSK dipentaskan, memang terbukti bahwa karya tersebut begitu komunikatif dengan kalangan muda. Sungguh bukan atas alasan karena penulis pernah menjadi bagian dari produksi awal dan/atau maksud mukul gong sendiri, saat itu pun segera menyimpulkan bahwa bukan hanya untuk kalangan muda tapi tontonan tersebut tetaplah layak bagi kalangan dewasa dan publik teater serius sekalipun, mengingat hasil penyutradaraan Bambang Arayana masih terjaga sejak olah seni-peran hingga struktur dramatiknya.

Kini dengan label produksi “Komunitas Seni Gentala” (Gentala Art Community), para pelaku dan tim produksi POSK dikerjakan oleh generasi ke-3. Kecuali Bambang Arayana sendiri sebagai sutradara serta Una Dairry Bayanullah sebagai penata musik, maka sejumlah pelaku lainnya telah beralih-generasi. Tentang daya alih-generasi ini pun perlu mendapatkan catatan khusus.

 

Menuju Teater Permanen

 

Disebabkan perkenalan dengan Jörg Friedrich yang pernah bersama-sama menggarap drama “Kapten dari Köpenick” untuk pertunjukan di GK Rumentang Siang, penulis menjadi berkesempatan bertandang ke GRIPS Theater di Berlin pada 1994. Di sana nonton drama musikal “Linie 1,” yang dijelaskan oleh Jörg Friedrich telah dimainkan oleh generasi yang ke-4 dan tiap bulan senantiasa dimainkan di tempat yang sama.

Itu memicu pemikiran bahwa Indonesia hingga kini belum memiliki seni teater modern yang permanen atau mendekati permanen. Janganlah terlebih dahulu seperti Royal Shakespeare Company yang sudah bertahan ribuan tahun mementaskan drama-drama Shakespeare dan menjadi destinasi wisata seni yang utama di Inggris, seyogianya kita pun mengingat bahwa kita pernah memiliki moda pertunjukan sandiwara yang bisa hadir secara tetap di gedung-gedung pertunjukan yang tetap pula.

Sejak awal, seperti kerap disampaikan kepada Bambang Arayana, bahwa POSK amat memungkinkan untuk menjadi seni pertunjukan permanen di suatu venue (tempat pertunjukan) yang menetap. Sekurang-kurangnya ada tiga alasan, yaitu: Sang Kuriang adalah legenda milik masyarakat Bandung atau Sunda pada umumnya, kesastrawanan UTS yang memang patut ditempatkan sebagai salasatu “harta” kebudayaan, dan hasil penyutradaraan Bambang Arayana sendiri yang memang telah berhasil dengan baik.

Itu pula yang suatu saat mendorong penulis menawar-tawarkan POSK agar menjadi pertunjukan tetap SAU (Saung Angklung Udjo) di malam hari, pun ditawarkan kepada Arthur S. Nalan saat masih menjabat sebagai ketua STSI (kini ISBI) agar menjadikannya pertunjukan tetap di Dewi Asri, hingga kepada Padepokan Seni Mayang Sunda saat masih dipimpin Ibu Wati Tarso, dll.

Catatan ini pun masih dilandasi semangat yang sama, saatnya Bandung memiliki pertunjukan permanen yang bisa diturunkan dari generasi ke generasi, menjadi sumber rujukan dalam tataran pendidikan seni, hingga kemungkinan sebagai destinasi wisata seni sehingga senimannya pun bisa hidup dari karyanya. POSK sangat memungkinkan. Sila buktikan dan semoga.***

 

(Herry Dim, pelukis, pemerhati kebudayaan, penulis, tinggal di Bandung)

Selasa, 09 November 2021

Ekstase Jenar

 


Sebuah pertunjukan berdasar lakon "Syekh Siti Jenar: Babad Geger Pengging" karya Saini KM

Sutradara: Fathul A. Husein

Merupakan pertunjukan teater dramatik, teater tubuh, tari, dan budaya Islam. Produksi Jurusan Teater ISBI Bandung dalam rangkaian 5th Invitation to the Theatre

Kamis, 18 November 2021 pkl. 09.17 – 10.45 WIB

Link Virtual bit.ly/JurusanTeaterChannel

Sunan Jenar diperankan oleh DR. Tony Broer

Didukung para aktor:

DR. Rusman Nurdin, Irwan Jamal, Rusli Keleeng, Indrasitas, Patuh Aminin, Yeni Saru Ovikawati, Nur Fitriyani Padjriah, Pahrul, Kevin Geraldi, Fairus Putra Ananda, Rian Nopriadi

Artistik: Cep Kohar, Maulana Fikri, Alwi Faisal

Busana & Rias: Tegar Purba Purina, Desi Ratnasari, Karina Adinda, Sukma Rahma Dian

Tata Vahaya: Zamzam Mubarok, Rohmad Yuwono

Musik: Isep Sepiralisman

Vokalis: M. Wail Irsyad, Cucu Sulastri, Indra Dewa

Multimedia: Bayuning Arjunanto, Shabilla Anggraini Cipta Dewi

Dokumentasi: Juhari Usman Ali, Zaidan

Videografi: M. Sidik, Robby  

Dukungan khusus: Neo Theatre dan Keluarga Mahasiswa Teater ISBI Bandung.


Pengantar Pentas "Ekstase Jenar"

 Oleh : Fathul A.Husein

GEMPA di Pengging tidak saja mengakibatkan keruntuhan tatanan fisik dan jatuhnya banyak korban tanpa pilih bulu, namun juga berdampak pada krisis keimanan dan gegar politik-kekuasaan. Rakyat Pengging menghujat Tuhan, pada awalnya, sebelum kemudian Sunan Jenar (ulama kharismatik setempat) menggulirkan hikmah gempa ke arah ‘pencerahan’ dan jalan lempang menuju Tuhan, tentu melalui ajaran tasawuf dan kemakrifatannya yang terkenal, ‘Wahdatul Wujud’ (Manunggaling Kawula-Gusti).

Bagi Sunan Jenar, tiada do’a dan sembahyang yang dapat mencegah terjadinya bencana dan malapetaka. Bencana dan malapetaka adalah ujian Ilahiah atas kodrat manusia sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Tolong-menolong dan ‘welas-asih’ dalam ketawakkalan, keikhlasan dan kegembiraan, terutama saat bencana, adalah wujud tanggungjawab manusia dalam mengemban tugas keilahian sebagai ‘khalifatullah’ (wakil penyelenggaraan Ilahi di muka bumi). Manusia adalah ‘pancaran’ (emanasi) cahaya Ilahi dan memiliki dzat yang sama dengan Tuhan, hanya sedang mengambil bentuk kemanusiaan. Tuhan tidak merupakan pribadi yang terpisah dari ciptaanNya. Ciptaan Tuhan adalah bagian dari Tuhan sendiri, seperti halnya cahaya memancar dari sumbernya. Tuhan adalah sumber cahaya itu. Oleh karenanya, sebagai pancaran dari Tuhan, betapa pun terbatas dan fananya, manusia memiliki sifat-sifat keilahian.

Di pihak lain, Kebo Kenongo alias Ki Ageng Pengging, bupati setempat yang dianggap murid dari ajaran Sunan Jenar, menggunakan isyu gempa dan krisis keimanan warganya untuk tujuan-tujuan politik-kekuasaan masa silam dengan mengaitkan bencana pada mitos lama tentang menurunnya kekuatan dan kekuasaan raja. Ia membelokkan arah keguncangan jiwa (akibat gempa) sebagian warga dan petinggi wilayah untuk memberontak kepada kekuasaan raja yang sah, yakni Sri Sultan Demak. Tidak lain tujuan utamanya adalah demi menegakkan kembali kerajaan dan agama/kepercayaan lama sebelum era Kesultanan Demak.

Lain halnya dengan Darmacaraka. Pangeran muda Kesultanan Demak yang berlumur ambisi kekuasaan dan menghalalkan segala cara dengan kerap mengatasnamakan agama dan Tuhan, tak segan memberantas dan menghabisi siapa pun yang tak mau ‘seiring dan sejalan’ dengan garis kekuasaan. Di bawah komandonya yang garang, pemberontakan Kebo Kenongo ditumpas-habis hingga ke akar-akarnya. Kebo Kenongo, bupati ‘bercita-cita’ tinggi yang dicap ‘sisa-sisa kafir’ itu pun tewas seketika dalam pemberontakannya. Tidak cukup sampai di situ, Darmacaraka juga menangkap Sunan Jenar, menyeretnya ke pengadilan dan menjatuhkan hukuman mati kepada ulama kharismatik itu, dengan tuduhan bahwa Sunan Jenar dan ajarannya dianggap sebagai akar penyebab dan ‘sumber pijakan’ dari meletusnya pemberontakan Kebo Kenongo. Nalar politik Darmacaraka untuk kekuasaan memang luar biasa, ia menawari Sunan Jenar pengampunan asalkan mau mengakui di hadapan khalayak umum bahwa dirinya dan ajarannya adalah sesat, murtad, syirik, zindik, dan kafir. Ia senantiasa memaksakan kehendak kepada Dewan Wali (penasehat Kesultanan) dan bahkan ‘melampaui’ kebijakan Sri Sultan. ‘Jubah agama’ selalu ia kenakan dalam menjustifikasi tindakan dan ambisi beratnya terhadap kekuasaan.

Sunan Jenar sendiri dengan sadrah, tenang dan sepenuh keyakinan, mengumumkan keputusan eksistensialnya yang mengejutkan Darmacaraka. Ia menolak tunduk terhadap kuasa apa pun di luar dirinya, dengan lebih memilih hukuman mati dengan cara dipancung ketimbang harus menuruti itikad busuk politik-kekuasaan berparas ‘tebar pesona’ dan pencitraan seorang Darmacaraka.

Tatkala jenasah Sunan Jenar dimakamkan, diam-diam Darmacaraka mengganti jenasah itu dengan bangkai seekor anjing kudisan, sehingga ketika para santri Sunan Jenar hendak memindahkan jenasah itu ke tempat lain, mereka dibuat terperangah oleh suatu fakta yang mengguncang keyakinan mereka, bahwa jenasah guru mereka telah berubah menjadi bangkai seekor anjing yang hina. Dari sanalah mungkin muasal ‘mitos’ yang mengungkapkan bahwa Sunan Jenar atau Syekh Siti Jenar, oleh akibat meyakini dan menyebarkan ajaran yang dituding sesat, murtad, syirik, zindik, dan kafir, maka saat kematiannya berubah hina menjadi seekor anjing mati.

‘Wallaahu a’lam bishowab’… Hanya Allah SWT yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya…

**

PERTUNJUKAN ini hendak menyelami situasi saling menelusup dan saling menerobos (inter-penetrasi) antara kekuatan teater dramatik, teater fisik (disiplin tubuh), dan tari.

Memadukan elemen-elemen artistik dari ranah disiplin yang berbeda tersebut dengan menciptakan tegangan dan kontras yang mengungkap esensi dari inisiasi rite de passage, ritus perjalanan dan pengembaraan melampaui ‘maqom’ nafsu manusiawi (dalam bingkai tarikat Islam), sejak ‘amarah-lawwamah’ hingga ‘sufiyah-muthmainnah’. Dari api yang berkobar-kobar dan menghanguskan jiwa lalu berubah menjadi cahaya putih yang tenang, sunyi, dan tanpa batas.

Pertunjukan ini berkelindan di antara intensitas dan ekspresivitas akting (seni peran), geliat-hentak gerak tari dalam level simbolis, reflektivitas visual, musikalitas dan lantunan puji-pujian religi dan kultur Islami yang meluluhkan hati, dan dengan ‘meminjam’ budaya lokal pemantik kontemplasi macam Topeng Klana dan Topeng Panji.

Melalui kearifan lakon masterpiece buah pena Saini KM, pertunjukan ini juga sekedar ingin mengingatkan kita tentang makna penting ‘budaya tabayyun’, salah-satu nilai luhur dari kultur Islami, bahwa setiap muncul isyu sosial apapun di tengah masyarakat, kita hendaknya beramah-tamah dan bersilaturahim untuk mengkonfirmasi sumber utama yang dianggap menggulirkan isyu itu, tidak lain guna mendapatkan kejelasan yang terang-benderang dan tidak malah termakan ‘hoaks’.

Selamat menonton. Moga tontonan ini menjadi ‘tuntunan’ untuk lebih mendewasakan kita semua dalam memahami dan menyikapi segala hal secara arif nan luhur.

Salam Budaya,

Fathul A. Huseinsutradara EKSTASE JENAR


Sumber: FB @Irwan Jamal

Minggu, 07 November 2021

Wayang Tak Tergantikan Animasi

Mang Ewon (berdiri) dalam adegan ‘pertengkaran’ dengan wayang yang dimainkan dalang Asep Sunandar Sunarya, pada pentas di ASTI (kini STSI) Bandung.*

(Tulisan Pengantar Festival Wayang Internasional – Jawa Barat 2013)

Oleh: Herry Dim


LEBIH dari sepuluh tahun yang lalu seusai pementasan wayang motekar di kampus Universitas Widyatama, bandung, acara dilanjutkan dengan sebuah diskusi.[i] Dengan penyelia Asep Deni Iskandar M.Sn dan (alm) Drs. Ondi Kuswandi, diskusi mengedepankan pembahas Prof. Primadi Tabrani sebagai pakar bahasa rupa dan Dr. Priyanto Sunarto yang lebih dikenal sebagai karikaturis majalah berita mingguan Tempo. Sejumlah pembicaraan, pada intinya mengungkapkan ketakjuban sekaligus penyampaian harapan bahwa wayang motekar sebagai seni baru itu masih sangat mungkin dikembangkan lebih jauh lagi.

Selang beberapa bulan kemudian, sebagai tindak lanjut dari diskusi terjadilah pertemuan informal bersama keempat tokoh di atas serta beberapa mahasiswa pilihan dari FDKV (Fakultas Desain Komunikasi Visual). Pembicaraan lebih menyasar kepada kemungkinan bahwa wayang motekar akan dan bisa dikembangkan ke dalam bentuk seni animasi. Pertemuan dengan topik pembahasan menganimasikan wayang motekar ini, berikutnya masih berlangsung beberapa kali di tempat yang berbeda-beda, antara lain tak kurang dari dua kali dibicarakan khusus di Studio Pohaci bersama Asep Deni Iskandar M.Sn dan Drs. Ondi Kuswandi.

Sepanjang pembicaraan lebih dari sepuluh tahun tersebut, wayang motekar tetap mengambil sikap “pikir-pikir dahulu.” Inti persoalannya, tentu, bukan pada masalah “bisa” atau “tidak bisa,” bahkan moda uji-coba dengan durasi 5 menit pernah dibuat oleh HD sendiri. Secara teknis hingga ketersediaan SDM di Widyatama kala itu, bisa dikatakan lebih dari memadai. Juga bukan karena tidak apresiatif, sebab sejak awal pun tak pernah kurang untuk menghormati seni animasi sebagai salasatu kemungkinan baru di dalam mengomunikasikan gagasan-gagasan visual atau pun tekstual. Tersadari pula bahwa animasi dengan kemungkinan dukungan seni rekam dan teknologi penyiaran (broadcast), maka daya sebarnya bisa puluhan bahkan ratusan kali lipat dari daya yang bisa dicapai oleh wayang (dalam hal ini wayang motekar). Bahkan seni gambar serta teknik visualisasi animasi, itu tentu saja sudah sangat jauh melampaui hal-hal yang bisa dicapai oleh wayang.

Lantas, apa yang membuat wayang motekar masih “pikir-pikir dahulu” di hadapan kemungkinan dan kehebatan yang berlipat ganda itu?

Jawabannya karena tiga hal yang tak tergantikan, yaitu prinsip “teatrikalitas,” “emansipatoris,” dan “partisipatoris.”

**

TENTU bukan pada tempatnya untuk menjelaskan berpanjang lebar ihwal prinsip teatrikalitasemansipatoris, dan partisipatoris di sini. Untuk itu marilah kita ingat-ingat kembali beberapa pengalaman kita sendiri saat menonton pertunjukan wayang.

Mungkin diantara kita sebagai penonton wayang pernah bereaksi terhadap jalan cerita dengan tepuk tangan, menyampaikan kata-kata celetukan, bahkan mungkin pula bercakap-cakap dengan salasatu tokoh yang sedang dimainkan oleh dalang. Inilah salasatu teatrikalitas yang tak tergantikan oleh animasi.

Teatrikalitas pengertian sederhananya adalah daya atau peristiwa teater yang saling terhubung langsung antara tontonan dan penonton di dalam satu ruang pertunjukan yang sama. Sehebat-hebatnya teknik dan teknologi animasi, setidaknya hingga saat catatan ini ditulis, tak mungkin bisa mencapai teatrikalitas sebab penonton dan tontonannya itu masing-masing berada pada ruang yang berbeda sehingga yang terjadi bukanlah saling-keterhubungan secara langsung melainkan hubungan maya. Emfati atau keterlibatan terhadap cerita masih mungkin terjadi, tapi kita sebagai penonton tak mungkin bereaksi langsung dan apalagi melakukan percakapan dengan tokoh-tokoh di dalam cerita tersebut.

Sementara di dalam pertunjukan wayang nyata bahwa ruang teatrikalitasnya itu amat terbuka. Bukan saja kemungkinan dalang melalui wayang-wayangnya melakukan hubungan dengan penonton, bahkan sinden atau penyanyi pada wayang (golek, misalnya) saat bernyanyi bisa saja menyisipkan atau menyebut nama-nama orang yang berada di tengah-tengah penonton. Pada saat nama-nama tersebut didaulat, sesegera itu pula si empunya nama bereaksi yang kemudian bersambung dengan reaksi-reaksi penonton lain di sekelilingnya. Perhatikan pula interaksi antara wayang, dalang, nayaga (pemain musik) di dalam suatu pertunjukan wayang; kerap di antara mereka terjadi dialog-dialog spontan yang pada gilirannya menimbulkan pula reaksi lain dari penontonnya.

Itu sekadar untuk menggambarkan bahwa penonton di dalam pertunjukan wayang tidaklah diperlakukan sebagai objek melainkan sebagai subjek-subjek yang amat mungkin ikut terlibat di dalam keseluruhan pertunjukan, inilah yang disebut peristiwa partisipatoris. Di dalam hubungan ini bisa saja, misalnya, tokoh raja atau bahkan dewa dalam pewayangan itu berdialog langsung dengan penonton yang notabene adalah jelata. Sadar atau tak tersadari di balik peristiwa ini sesungguhnya terjadi hubungan kesetaraan, kesederajatan, yang tak lain merupakan hubungan antar-manusia dan saling memanusiakan; inilah cerminan emansipatoris pada wayang.

Di balik itu semua, sesungguhnya masih banyak lagi yang bisa dikupas-uraikan, satu hal saja yang mungkin penting sebagai penutup catatan bahwa di dalam pertunjukan wayang kerap terjadi semacam prinsip pembebasan publik sebab penonton bisa mendapatkan ruang keleluasaan yang begitu luas dan merdeka. Ingat, bahwa setinggi apapun tingkat kontemplasi yang mungkin terjadi di dalam pertunjukan wayang, penonton niscaya tetap sadar bahwa yang di hadapannya itu adalah tontonan dan/atau yang disaksikannya itu adalah wayang; rujukan terdekat atas teatrikalitas ini adalah konsep a-effect seperti yang dirumuskan oleh dramawan Bertolt Brecht.

Akan terlalu panjang lagi jika diurai semua, ringkasnya saja, sejatinya publik (penonton) teater niscaya bisa merasakan dan tahu bedanya manakala menyaksikan teater yang dimainkan olek aktor (manusia) dibanding dengan manakala menonton wayang. Sebesar-besarnya dorongan reaktif kita sebagai penonton terhadap permainan aktor, tetap akan di”batas”i oleh kesadaran bahwa yang dihadapan kita itu adalah manusia juga. Lain halnya manakala kita di hadapan tontonan wayang, “batas” tadi bisa dikatakan segera menghilang sebab yang berada di hadapan kita itu tak lain merupakan “media” yang wujudnya adalah wayang.

https://youtu.be/JSdNH5U67Ok

POTONGAN video penampilan "wayang motekar" pada Festival Wayang Internasional (2013) dengan dalang Sukma Sadulur Putra.

Saya permudah lagi kerangka teoritik ini ke dalam gambaran kejadian empirik. Di dalam salah satu pementasan wayang motekar, tiba-tiba ada seorang anak yang melempar botol kemasan minuman ke arah tokoh Pademo yang digambarkan licik, penghasut, dan pencari gara-gara yang menyulut keributan. Ada semacam dorongan kekesalan atau mungkin pula kemarahan dari anak tersebut yang sesegera itu pula dibebaskannya ke dalam ekspresi pelemparan. Hal ini, rasanya, tidak akan pernah terjadi jika tokoh Pademo itu dimainkan dalam bentuk drama dan dimainkan oleh aktor. Ingat pula gambaran-gambaran kehebatan Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya ketika memainkan wayangnya hingga kemudian terjadi adegan ‘pertengkaran’ antara wayang yang dimainkan dengan salaseorang nayaga yang bernama Mang Ewon. Pernah di antaranya Mang Ewon sampai merenggut wayang dari tangan dalang, lantas melemparkannya ke dalam kotak. Anehnya, di dalam kedua gambaran ekstrem itu tadi, kita tidak merasakan bahwa tindakan tersebut sebagai perilaku vandal, sebagian penonton lainnya bahkan merasa terwakili dan paling tidak bereaksi sambil tertawa. Sekali lagi, saat itulah sesungguhnya wayang betul-betul telah “hidup” sebagai medium pembuka keleluasaan publik.

**

KESEMPATAN jumpa dengan ragam pewayangan dunia pada Festival Wayang Internasional (2013), antara lain sempat bersentuhan dan mencoba memainkan Karagöz (wayang Turki) dibimbing langsung Cengiz Özek sang maestro Karagöz.*

Demikian sekadar pengantar bagi berlangsungnya Festival Wayang Internasional – Jawa Barat 2013 yang berlangsung atas kerjasama Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat, Bale Rumawat Unpad, dan jejaring wayang dunia.  

Jika kita termasuk kepada golongan yang pandai bersyukur, Jawa Barat dalam hal ini kota Bandung bisa dikatakan bahwa pada 12 – 13 September 2013 ini seperti “kagunturan madu” karena telah berhasil mempertemukan wayang dari Australia, Belanda, Filipina, Indonesia, Madagaskar, Singapura, dan Turki.

Pertemuan ini menjadi penting bukan demi melihat itu bagus dan ini buruk, melainkan semacam “simbol” bahwa ada ikatan persaudaraan di dunia pelaku seni pewayangan. Sementara bagi kita sendiri menjadi punya kesempatan yang amat berharga untuk bisa melihat moda dan penggayaan wayang dari negara-negara lain.***

https://youtu.be/8Fj05OHECZ0

KESEMPATAN jumpa dengan ragam pewayangan dunia pada Festival Wayang Internasional (2013), antara lain sempat bersentuhan dan mencoba memainkan Karagöz (wayang Turki) dibimbing langsung Cengiz Özek sang maestro Karagöz.*

 


[i] Jika dihitung kini (2021) artinya sudah sekira 18 tahun yang lalu.

Rabu, 27 Oktober 2021

Kang Yoyon

Catatan Herry Dim
 

NAMA Kang Yoyon, Mohamad Sunjaya, itu pertama saya dengar ketika mengikuti perkuliahan dari Pa' Saini KM sekira tahun-tahun 1978an. Khususnya ketika mengurai kehebatan Jim Lim, tentu berkait juga dengan sang guru yaitu Suyatna Anirun, Pa' Saini KM hampir selalu menyebut nama Yoyon. Tak sekali saya dengar uraiannya itu berkenaan dengan perawakan.

"Yoyon itu mirip sekali Jim Lim, kurus dan kecil," kata Pa' Saini KM demi membedakannya dengan Suyatna Anirun yang terhitung 'dedeg' atau tinggi besar. Disebutnya juga nama Aris Permana, yang perawakannya nyaris sama dengan Kang Yatna. Kang Aris, demikian panggilan kami, adalah anggota Teater Perintis asuhan Jim Lim, yang tak pernah mau ikut gabung dengan STB hingga meninggalnya. Bekerja sebagai karyawan GK Rumentang Siang bersama Kang Tjetje Raksa dan Kang Engkos (Koswara) sejak awal didirikan oleh Pa' Endang Rusma, sebagai tambahan ia bersama ayahnya membuka bengkel kamera foto di rumahnya.

"Bedanya Yoyon itu lebih kasep," tambah Pa' Saini ketika berikutnya membandingkannya dengan Jim Lim yang kemudian berlanjut pada penceritaan keaktorannya.

"Yoyon itu aktor bagus," urai Pa' Saini yang kemudian menyebut pula Kang Yatna, Kang Tjetje, dan Kang Yayat Hendayana yang berkait dengan sejumlah naskah yang dimainkan mereka.

Saat itu, nama Kang Yoyon dan kehebatannya sebagai aktor masih berupa imaji dalam benak saya. Lain halnya dengan Kang Tjetje dan Kang Yayat yang kemudian mengalami perjumpaan langsung dengan saya sejak garapan "Lingkaran Kapur Putih" karya Brecht tahun 1978. Sementara dengan Kang Yatna sudah lebih awal karena beliau pun mengajar di jurusan teater, bahkan beliau pula yang mengetes saya dan Yoyo C. Durachman untuk jadi mahasiswa.

Informasi tambahan yang saya dapat ketika itu bahwa Kang Yoyon bekerja sebagai penyiar di Radio Mara.

Atas informasi tersebut serta magnet "kekaguman yang masih dalam imaji," mendorong saya untuk melacak gelombang Radio Mara. Sejak awal mendengar Kang Yoyon membawakan acara musik klasik, kekaguman pun kian bertambah. Dalam siaran-siarannya, Kang Yoyon cenderung serius, tak hanya memutar lagu-lagu tapi disertai "pengetahuan" tentang musik klasik. Saya yang saat itu sedang gemar juga menulis artikel-artikel musik di Pikiran Rakyat lembaran Minggu, tak ayal seperti 'memantek' jarum gelombang radio transistor saya di frekuensi gelombang Radio Mara. Kian tak beranjak lagi sebab kemudian saya kagum dan suka juga pada siaran-siaran Sonny Soeng untuk program musik jazz, acara Rolling Stones yang dibawakan Mang Aben, acara The Beatles (lupa namanya, yang jelas ia bukan bernama Indonesia), dan satu nama legendaris Gulia(?) yang membawakan musil-musik populer Indonesia. Belakangan ditambah lagi dengan adanya acara musik blues dari Hadi Pramono.

Sejak itu, sesungguhnya besar sekali keinginan untuk jumpa Kang Yoyon yang tak bisa dijumpai lagi di panggung teater kecuali bertandang ke Radio Mara.

**

KONTAK awal saya dengan Radio Mara, itu justru dengan Sonny Soeng, khususnya kala ia menyelenggarakan acara off air semisal menampilkan Indra Lesmana di Toko You dan kemudian juga di rumah Harry Roesli. Berikutnya dengan Mang Aben (Benny Fitriadi) sehubungan berjalannya gerakan-gerakan menolak breidel 1994, (lupa) perjumpaannya di GIM, atau markas PMB, atau rumah Harry Roesli; tapi ini pula yang kemudian "memasukan" saya ke Radio Mara untuk suatu wawancara.

Gelegak menolak breidel kian panas, lagi saya diajak ke Radio Mara, dan saat inilah saya dipertemukan oleh Mang Aben dengan Kang Yoyon oleh Mang Aben.

Diam-diam, jika dihitung dari semasa kuliah (1978) hingga masa breidel (1994), kiranya kerinduan ingin jumpa itu sempat terpendam tak kurang dari 16 tahun.

Saat dipertemukan, Kang Yoyon tengah duduk di kursi panjang ruang belakang Radio Mara. Ia duduk dengan sebelah kaki menjuntai menginjak lantai, sebelahnya lagi terangkat di bantalan kursi, sebelah tangan menopang di lutut, dan di ujung kedua jarinya terjepit sebatang rokok.

"Saha ieu?" Tanyanya tanpa beranjak.

Saya menyalami sambil memperkenalkan diri. Semula merasa ada gelagat Kang Yoyon ini angkuh, buktinya tak beringsut sedikitpun saat sapaan awal hingga salam perkenalan.

 **

WAKTU pertemuan awal itu sangat singkat karena saya sendiri harus masuk studio untuk sebuah wawancara.

Dalam kesingkatan waktu tersebut, saya mencoba mengakrabkan diri dengan menempatkan diri sebagai orang teater kemudian menyanjung-sanjung Kang Yoyon berdasar informasi-informasi Pa' Saini seperti telah diurai di atas.

Di luar dugaan, Kang Yoyon malah kelihatan gelisah, ada rona berang yang ditahan, pendeknya kelihatan tak suka ketika bicara teater.

"Teater geus poho ka saya..." Itu yang paling terngiang-ngiang di ingatan.

Luar biasa penasaran tapi jam masuk studio sudah tiba. Tak ayal obrolan pun terputus. Usai wawancara Kang Yoyon  seperti menghindar dan diketahui pula itu menjelang jam siaran Kang Yoyon, artinya harus menyiapkan materi siaran.

Saya akhirnya meninggalkan Radio Mara dengan masygul bergulung penasaran. Apa sesungguhnya yang terjadi pada aktor hebat tapi terkesan tak mau lagi bicara teater itu?

Pertanyaan tersebut berdengung-dengung. Bagusnya program-program menyoal breidel terus berlanjut, bahkan bersambung dengan "pemanasan" Reformasi. Saya kian sering diundang ke Radio Mara, pembicaraan pun melebar antara seni dan politik. Itulah saatnya berkali-kali juga "bicara" bersama Mamannoor dan kemudian juga Bambang Subarnas. Salasatu diantaranya, kami sempat juga mengundang sang pembuat logo Reformasi, lupa namanya, ia waktu itu masih kuliah di FSRD ITB. Rasanya (ini benar-benar harus diricek) hadir juga Gustaff Hariman Iskandar yang masih suka salah-salah ketika saya menyebut namanya menjadi Gustaff Hariman Siregar.

Karena seringnya ke Mara, kian besar pula kesempatan saya untuk ngobrol dengan Kang Yoyon, khususnya dalam keperluan membongkar kepenasaran di atas.

Pada awal-awalnya masih juga seperti enggan, merasa dilupakan, bahkan seperti terbuang. Pusarannya pada pernyataan: "Teater tidak mau ngajak lagi saya main."

Belakangan, modal saya untuk melakukan "pendekatan teater" kepada Kang Yoyon pun sudah kian bertambah. Pemasok modalnya adalah istri saya sendiri, Ine Arini, ia antara lain pernah bercerita bahwa Kang Yoyon itu pernah "kerja" dengan Wa Aun Harun saat mengurus percetakan CV Tjitalang.

Info tersebut betul-betul saya jadikan modal. Ternyata jitu. Impresi Kang Yoyon yang angkuh serta sedang "marah" kepada teater, itu segera sirna. Cair, begitu akrab. Sejatinya Kang Yoyon yang penuh dengan limpahan rasa persaudaraan, itu jadi ngagolontor tanpa penghalang lagi. Sebagai sedikit tanda saja, Kang Yoyon kerap memanggil istri saya itu bukan dengan namanya melainkan "eh, alona Aun atau alona Utuy," karena Utuy T Sontani itu bersaudara dan pernah tinggal di rumah Wa Aun, demikian juga Kang Yoyon. Sementara dari sisi lain Wa Aun, yaitu Wa Juju, adalah Hendra Gunawan, tapi itu bagian dari cerita lain.

Pertemuan dengan Kang Yoyon jadi kian sering. Sesekali sambil minum bir bersama meski tak ada hubungannya lagi dengan siaran Mara. Celah untuk "mengorek" kian lebar.

Usut punya usut dan singkatnya saja, tafsir saya (sekali lagi ini "tafsir" sebab sejatinya Kang Yoyon dalam hal ini tak pernah 'togmol" melainkan berliku) "kemarahan" Kang Yoyon kepada teater itu semacam kamuflase untuk "menutup" hal yang sebenarnya.

Yang ia sembunyikan itu adalah cintanya kepada salaseorang aktris STB, namun kandas karena ybs menikah dengan orang lain. Kang Yoyon patah hati, lari, sehingga tak mau lagi menghampiri teater kecuali tenggelam sebagai penyiar radio dan bir. Tapi, mungkin (ya, lagi, kata "mungkin" digunakan sebagai penegas tafsir) ia tak mau kelihatan cengeng maka yang keluar adalah seolah-olah marah. Bahkan, dari sejumlah obrolan yang berliku itu, saya menafsir rasa cinta Kang Yoyon itu sesungguhnya tidak/belum pernah disampaikan secara langsung kepada ybs, melainkan dipendam dalam angan-angan.

Hal semacam ini (meski tak sama dan tak sebangun), ajaibya pernah pula saya temukan kecenderungannya pada Kang Rustandi Kartakusuma dan Wing Kardjo.

Ya, perasaan cinta itu tak pernah dinyatakan langsung melainkan dibiarkan tumbuh di dalam imaji, yang kemudian menjadi puisi.

Alkisah, tibalah pada munculnya keinginan aktor/sutradara muda, Irwan Guntari, yang hendak membentuk kelompok teater dan mementaskan sebuah naskah. Kelompoknya itu kelak bernama Teater Alibi, naskah pertama yang dipentaskan adalah "Nafsu di Bawah Pohon Elm" (Eugene O'Neil) 1996.

Saya diikutkan pada tahap pembahasan naskah. Ringkasnya lagi, tibalah pada kesimpulan untuk mementaskan drama tersebut butuh aktor yang sudah matang. Irwan menyebut sejumlah nama di ruang lingkup ASTI, saya diam meski mengakui juga yang disebut Irwan itu adalah aktor-aktor bagus.

Karena saya bergeming, Irwan pun bertanya: "Saha atuhnya, Kang?"

"Kang Yoyon," jawab saya tanpa ditambahi embel-embel lain.

"Tahhhhh," ungkap Irwan, "tapi Kang Herr lah yang ngajaknya..."

 **

PENULISAN "tah" dengan suara panjang atau dengan "5h" atas ungkapan Irwan Guntari, itu memang demikian adanya. Sekaligus sebagai penunjuk bahwa pra-kemunculannya kembali, nama Kang Yoyon itu sudah sangat dikenal oleh kawan-kawan.

Namun, baik generasi Irwan dan tak terkecuali generasi saya, itu sesungguhnya tak pernah melihat/nonton penampilan Kang Yoyon. Ya, nama itu tumbuh sebagaimana legenda.

Itu hampir sama dengan ketika "mendengar" nama Suyatna Anirun sebagai aktor. Narasi dan cerita-ceritanya sudah banyak kami dengar, tapi tak pernah menyaksikan bagaimana Kang Yatna tampil memainkan suatu peran.

Maka ketika Kang Yatna kembali naik panggung memerankan Raja Lear pada 1987, itu terasa seperti hadiah yang jatuh dari langit dan/atau seperti air suci bening yang menghilangkan dahaga berkepanjangan. Singkatnya, saya yang semula begitu kagum pada "Ran" Kurosawa, mendapatkan titik penyeimbang yang setara ketika melihat Kang Yatna memainkan Lear, dan "haduh" tubuh kecil Godi Suwarna yang menjadi Badut pendamping Lear, sungguh selalu terbayang keasyikannya hingga kini.

Bunyi "tahhhhh" Irwan Guntari, itu kira-kira sama dengan pengharapan banyak kawan ketika menunggu-tunggu tampilnya Kang Yatna di panggung.

Disebabkan permintaan Irwan itu pun adalah harapan saya, maka permintaannya agar saya menghubungi Kang Yoyon pun saya sanggupi.

Tiba lah kedatangan saya kembali ke Mara dalam misi "ngolo" Kang Yoyon.

Kali ini segalanya sudah serba ringan mengingat ruang ngobrol & bir sudah terbuka lebar. Namun kala hendak menyampaikan yang dimaksud, lumayan keringatan (dingin), sambil ngobrol cari-cari akal, kata jadi berlika-liku, malapah gedang... hingga akhirnya dan ringkasnya saja: "Kang Yon, ayo mainlah lagi... kawan-kawan muda sungguh berharap, jangan pendam ilmu Kang Yoyon itu, turunkanlah kepada kawan muda yang sedang semangat-semangatnya... harapan itu juga terlontar dari Jajang C. Noer yang mau juga main..."

"Hah, Si Jajang milu maen... cik engke sayah ningali heula naskahna," potong Kang Yoyon.

Dalam hati saya mengumpat "sialan," maksudnya umpatan kegirangan sekaligus umpatan untuk diri sendiri: "kenapa harus ngomong berlika-liku, tahu begitu ya langsung saja bilang bahwa kelak Kang Yoyon mainnya bersama Jajang C. Noer..."

Hmmm, berikut ini adalah tafsir yang sangat mungkin salah, pun bukan tafsir yang muncul saat ajakan itu disampaikan sebab waktu Kang Yoyon menyampaikan sinyal "ya," itu tak ada tafsir-tafsiran, yang ada hanya satu yaitu kegirangan selebihnya adalah kehendak untuk segera menyampaikan kabar kepada Irwan Guntari.

Tafsir itu muncul atas pertanyaan: "Mengapa nyatanya begitu mudah?"  Berjalan melewati sejumlah tahun dan beberapa pertunjukkan drama yang melibatkan Kang Yoyon.

"Karena Jajang itu perempuan," jawab saya atas pertanyaan sendiri. Itu di satu sisi saya lihat seperti obat penawar yang jitu atas kepatah-hatiannya dulu. Sisi tafsir lainnya, ya, ada semacam benih cinta yang kembali tumbuh.

Tapi, tunggu dulu, meski berkait dengan ihwal lelaki-perempuan, saya tak melihat adanya unsur libidinal. Entah jika pada Kang Yoyon muda dulu, tapi dalam kaitnya dengan Jajang C. Noer lebih berkenaan dengan perempuan panggung. Gairah atau passion-nya itu seperti ketika Kang Yoyon sendiri menyebut Tuti Indra Malaon dan nama perempuan pelaku seni peran lainnya di film "Pacar Ketinggalan Kereta" (Teguh Karya atau Steve Lim jika mengikuti pelafalan Kang Yoyon).

Demikianlah, Kang Yoyon akhirnya bangkit kembali ikut garapan drama "Nafsu di Bawah Pohon Elm's (Eugene O'Neil) yang dipentaskan tahun 1996, memerankan tokoh Cabot bersama Teater Alibi dengan sutradara Irwan Guntari.

Pada masa awal proses latihan tahap 'reading,' saya masih sempat mengikuti beberapa kali di rumah kontrakannya Jajang C. Noer di kawasan kompleks wartawan di Buahbatu. Namun tak bisa ikut lagi, bahkan sampai berlangsungnya pentas tak bisa ikut menyaksikan. Jika tak salah, saya 'riweuh' ngurus persiapan dan pameran "Art Across the Oceans '96" di Copenhagen.

Setelah itu, 1997, Kang Yoyon masih ikut produksi Teater Alibi, memainkan lakon "Buku Harian Bajingan Tengik (Alexander Ostrovski). Lagi-lagi saya absen karena sedang 'riweuh-riweuh'nya melanjutkan aksi anti-breidel, berlanjut ke 'pemanasan' Reformasi, dan terutama Bandung Peduli bersama Harry Roesli.

Pertemuan yang lebih kerap lagi baru terjadi ketika Actors Unlimited diberdirikan beserta sejumlah pementasannya.

Pada masa inilah saya melihat passion 'cinta' Kang Yoyon itu sudah betul-betul lepas dari cinta lelaki-perempun (panggung), ya hanya tinggal cintanya kepada panggung teater.

Keaktorannya di panggung teater, telah diurai dengan sangat bagus oleh Fathul A. Husein seperti yang disiarkan Majalah Tempo.

Al Fatihah untuk Kang Yoyon.