Sabtu, 11 Desember 2021

Pop Opera Sang Kuriang

 Catatan: Herry Dim

 

SASTRAWAN Utuy Tatang Sontani (1920 - 1979) menulis naskah “Sang Kuriang” dalam bentuk libreto, yaitu teks untuk karya musik atau semacam “skrip” yang biasanya dilanjutkan pengerjaannya oleh komposer sehingga menjadi bentuk “naskah” opera, opereta, masque, oratorio, kantata, dan manakala sudah digarap jadilah karya drama musikal yang kerap juga menjadi pertunjukan balet.

Libreto “Sang Kuriang” ditulis oleh Utuy Tatang Sontani (UTS) pada perkiraan tahun 1955 di dalam bahasa Sunda, kali pertama diterbitkan dalam bentuk buku oleh penerbit Bhatara pada 1962. Sejauh yang penulis ketahui, naskah ini tak pernah kesampaian mencapai bentuk opera seperti yang dikehendaki sang libretis atau sang penulis libreto. Naskah dalam dua babak ini umumnya dipentaskan dalam bentuk drama, kalau pun ada pola kantata kerap hanya muncul pada penampilan tokoh Arda Lepa dan teman-temannya. Namun demikian perlu pula dicatat, setelah belasan kali menonton dan beberapa kali di antaranya menjadi bagian dari garapan “Sang Kuriang,” itu senantiasa hadir sebagai tontonan yang bagus, intelek, sublim. Ini menjadi mungkin karena kekuatan naskahnya itu sendiri; sublim dalam hal pola dramatik hingga pengolahan bahasanya, pun sudut pandang pengarangnya yang cenderung eksistensialis sehingga membuka ruang pemikiran bagi penikmatnya.

Pada tahun 2004 adalah aktor sekaligus sutradara teater, Bambang Arayana Sambas, yang beritikad keras untuk mewujudkan kehendak sang libretis UTS. Bambang Arayana bekerjasama dengan komposer muda, Una Dairry Bayanullah, berjibaku hingga akhirnya mewujudlah Pop Opera “Sang Kuriang” (POSK) yang kali pertama dipentaskan pada tahun 2004 itu juga. Jika dihitung dari masa selesai ditulis naskahnya pada 1955, maka baru 49 tahun kemudian libreto ini menjadi kenyataan, atau setelah 25 tahun sang libretisnya wafat di Moskow.

Kini, atau 13 tahun kemudian setelah pentas perdananya pada tahun 2004, POSK dipentaskan kembali pada 6 September di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, dan 13 September 2017 di Teater Tertutup Taman Budaya Ambon. Atas alasan itu pula catatan ini disusun dan diturunkan.

SALASATU adegan POSK, foto dari FB Selintas Kiprah Bambang Arayana Sambas.*

POSK Generasi Ke-3

 

Bambang Arayana Sambas sejak awal penggarapan libreto “Sang Kuriang,” itu bercita-cita ingin mendekatankan seni pertunjukan atau teater kepada kalangan muda. “Kita mesti membuat garapan yang serius tapi tetap digemari oleh kalangan muda,” katanya 13 tahun yang lalu di SMKI yang kini menjadi SMKN 10 Bandung. Itu, lanjutnya, demi menjaga keberadaan publik teater, “jangan sampai panggung teater ditinggalkan oleh penontonnya,” tandasnya.

Di sisi yang lain, seperti diskusi-diskusi kami di sepanjang penggarapan, ada pula semacam keprihatinan atas kesalahkaprahan garapan-garapan operet(a) yang sedang musim dikerjakan anak-anak muda di berbagai sekolah saat itu. Operet yang sedang musim saat itu adalah pertunjukan anak muda dengan cara menyambung-sambungkan karya musik yang telah ada, kemudian diisi semacam laku-peran yang umumnya berupa intensitas ngabojeg atau sekadar memancing tawa penonton.

“Kita tak patut dan tak harus melarang mereka sebab itu pun merupakan jalan agar anak muda tetap mencintai panggung teater, yang paling patut dan seyogianya kita kerjakan adalah memberi contoh bagaimana membuat opera yang mendekati benar,” kata Bambang.

Atas dasar itu Bambang Arayana menggandeng Una Dairry Bayanullah yang saat itu tentu masih muda dan memang bisa menciptakan lagu/musik dengan kemampuan di atas rata-rata seusianya. Bambang Arayana sendiri menciptakan beberapa lagu berdasar teks UTS, singkatnya dari mereka berdua jadilah nyanyian-nyanyian, jadilah bahan awal untuk sebuah opera dengan pendekatan kepada genre musik pop sebagai pilihan agar dekat dengan dunia anak muda. Berikutnya, tarian-tarian pun dicipta dan dilatihkan, analisa peran dilakukan, dan penyutradaraan pun dilaksanakan hingga jadilah sebentuk Pop Opera.

Kala kali pertama POSK dipentaskan, memang terbukti bahwa karya tersebut begitu komunikatif dengan kalangan muda. Sungguh bukan atas alasan karena penulis pernah menjadi bagian dari produksi awal dan/atau maksud mukul gong sendiri, saat itu pun segera menyimpulkan bahwa bukan hanya untuk kalangan muda tapi tontonan tersebut tetaplah layak bagi kalangan dewasa dan publik teater serius sekalipun, mengingat hasil penyutradaraan Bambang Arayana masih terjaga sejak olah seni-peran hingga struktur dramatiknya.

Kini dengan label produksi “Komunitas Seni Gentala” (Gentala Art Community), para pelaku dan tim produksi POSK dikerjakan oleh generasi ke-3. Kecuali Bambang Arayana sendiri sebagai sutradara serta Una Dairry Bayanullah sebagai penata musik, maka sejumlah pelaku lainnya telah beralih-generasi. Tentang daya alih-generasi ini pun perlu mendapatkan catatan khusus.

 

Menuju Teater Permanen

 

Disebabkan perkenalan dengan Jörg Friedrich yang pernah bersama-sama menggarap drama “Kapten dari Köpenick” untuk pertunjukan di GK Rumentang Siang, penulis menjadi berkesempatan bertandang ke GRIPS Theater di Berlin pada 1994. Di sana nonton drama musikal “Linie 1,” yang dijelaskan oleh Jörg Friedrich telah dimainkan oleh generasi yang ke-4 dan tiap bulan senantiasa dimainkan di tempat yang sama.

Itu memicu pemikiran bahwa Indonesia hingga kini belum memiliki seni teater modern yang permanen atau mendekati permanen. Janganlah terlebih dahulu seperti Royal Shakespeare Company yang sudah bertahan ribuan tahun mementaskan drama-drama Shakespeare dan menjadi destinasi wisata seni yang utama di Inggris, seyogianya kita pun mengingat bahwa kita pernah memiliki moda pertunjukan sandiwara yang bisa hadir secara tetap di gedung-gedung pertunjukan yang tetap pula.

Sejak awal, seperti kerap disampaikan kepada Bambang Arayana, bahwa POSK amat memungkinkan untuk menjadi seni pertunjukan permanen di suatu venue (tempat pertunjukan) yang menetap. Sekurang-kurangnya ada tiga alasan, yaitu: Sang Kuriang adalah legenda milik masyarakat Bandung atau Sunda pada umumnya, kesastrawanan UTS yang memang patut ditempatkan sebagai salasatu “harta” kebudayaan, dan hasil penyutradaraan Bambang Arayana sendiri yang memang telah berhasil dengan baik.

Itu pula yang suatu saat mendorong penulis menawar-tawarkan POSK agar menjadi pertunjukan tetap SAU (Saung Angklung Udjo) di malam hari, pun ditawarkan kepada Arthur S. Nalan saat masih menjabat sebagai ketua STSI (kini ISBI) agar menjadikannya pertunjukan tetap di Dewi Asri, hingga kepada Padepokan Seni Mayang Sunda saat masih dipimpin Ibu Wati Tarso, dll.

Catatan ini pun masih dilandasi semangat yang sama, saatnya Bandung memiliki pertunjukan permanen yang bisa diturunkan dari generasi ke generasi, menjadi sumber rujukan dalam tataran pendidikan seni, hingga kemungkinan sebagai destinasi wisata seni sehingga senimannya pun bisa hidup dari karyanya. POSK sangat memungkinkan. Sila buktikan dan semoga.***

 

(Herry Dim, pelukis, pemerhati kebudayaan, penulis, tinggal di Bandung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar