Catatan: Herry Dim
SASTRAWAN Utuy Tatang Sontani (1920 -
1979) menulis naskah “Sang Kuriang” dalam bentuk libreto, yaitu teks untuk karya musik atau semacam “skrip” yang
biasanya dilanjutkan pengerjaannya oleh komposer sehingga menjadi bentuk
“naskah” opera, opereta, masque,
oratorio, kantata, dan manakala sudah
digarap jadilah karya drama musikal yang kerap juga menjadi pertunjukan balet.
Libreto “Sang Kuriang” ditulis oleh
Utuy Tatang Sontani (UTS) pada perkiraan tahun 1955 di dalam bahasa Sunda, kali
pertama diterbitkan dalam bentuk buku oleh penerbit Bhatara pada 1962. Sejauh
yang penulis ketahui, naskah ini tak pernah kesampaian mencapai bentuk opera
seperti yang dikehendaki sang libretis
atau sang penulis libreto. Naskah dalam dua babak ini umumnya dipentaskan dalam
bentuk drama, kalau pun ada pola kantata
kerap hanya muncul pada penampilan tokoh Arda Lepa dan teman-temannya. Namun demikian perlu pula dicatat, setelah
belasan kali menonton dan beberapa kali di antaranya menjadi bagian dari
garapan “Sang Kuriang,” itu
senantiasa hadir sebagai tontonan yang bagus, intelek, sublim. Ini menjadi
mungkin karena kekuatan naskahnya itu sendiri; sublim dalam hal pola dramatik
hingga pengolahan bahasanya, pun sudut pandang pengarangnya yang cenderung eksistensialis
sehingga membuka ruang pemikiran bagi penikmatnya.
Pada tahun 2004 adalah aktor
sekaligus sutradara teater,
Bambang Arayana Sambas, yang beritikad keras untuk mewujudkan kehendak sang libretis UTS. Bambang Arayana
bekerjasama dengan komposer muda, Una Dairry Bayanullah, berjibaku hingga
akhirnya mewujudlah Pop Opera “Sang Kuriang” (POSK) yang kali pertama
dipentaskan pada tahun 2004 itu juga. Jika dihitung dari masa selesai ditulis
naskahnya pada 1955, maka baru 49 tahun kemudian libreto ini menjadi kenyataan, atau setelah 25 tahun sang libretisnya wafat di Moskow.
Kini, atau 13 tahun kemudian setelah
pentas perdananya pada tahun 2004, POSK dipentaskan kembali pada 6 September di
Teater Tertutup Taman Budaya
Jawa Barat, dan 13 September 2017 di Teater Tertutup Taman Budaya Ambon. Atas alasan itu pula catatan
ini disusun dan diturunkan.
| SALASATU adegan POSK, foto dari FB Selintas Kiprah Bambang Arayana Sambas.* |
POSK Generasi Ke-3
Bambang Arayana Sambas sejak awal
penggarapan libreto “Sang
Kuriang,” itu bercita-cita ingin mendekatankan seni pertunjukan atau teater kepada kalangan muda. “Kita
mesti membuat garapan yang serius tapi tetap digemari oleh kalangan muda,”
katanya 13 tahun yang lalu di SMKI yang kini menjadi SMKN 10 Bandung. Itu,
lanjutnya, demi menjaga keberadaan publik teater, “jangan sampai panggung teater ditinggalkan oleh penontonnya,” tandasnya.
Di sisi yang lain, seperti
diskusi-diskusi kami di sepanjang penggarapan, ada pula semacam keprihatinan
atas kesalahkaprahan garapan-garapan operet(a) yang sedang musim dikerjakan anak-anak muda di berbagai
sekolah saat itu. Operet yang
sedang musim saat itu adalah pertunjukan anak muda dengan cara
menyambung-sambungkan karya musik yang telah ada, kemudian diisi semacam
laku-peran yang umumnya berupa intensitas
ngabojeg atau sekadar memancing tawa penonton.
“Kita tak patut dan tak harus
melarang mereka sebab itu pun
merupakan jalan agar anak muda tetap mencintai panggung teater, yang paling patut dan
seyogianya kita kerjakan adalah memberi contoh bagaimana membuat opera yang
mendekati benar,” kata Bambang.
Atas dasar itu Bambang Arayana
menggandeng Una Dairry
Bayanullah yang saat itu tentu masih muda dan memang bisa menciptakan
lagu/musik dengan kemampuan di atas rata-rata seusianya. Bambang Arayana
sendiri menciptakan beberapa lagu berdasar teks UTS, singkatnya dari mereka berdua jadilah nyanyian-nyanyian, jadilah bahan awal untuk
sebuah opera dengan pendekatan kepada genre
musik pop sebagai pilihan agar dekat dengan dunia anak muda. Berikutnya,
tarian-tarian pun dicipta dan dilatihkan, analisa peran dilakukan, dan
penyutradaraan pun dilaksanakan hingga jadilah sebentuk Pop Opera.
Kala kali pertama POSK dipentaskan,
memang terbukti bahwa karya tersebut begitu komunikatif dengan kalangan muda.
Sungguh bukan atas alasan karena penulis pernah menjadi bagian dari produksi awal
dan/atau maksud mukul gong sendiri,
saat itu pun segera menyimpulkan bahwa bukan hanya untuk kalangan muda tapi
tontonan tersebut tetaplah layak bagi kalangan dewasa dan publik teater
serius sekalipun, mengingat hasil penyutradaraan Bambang Arayana masih terjaga
sejak olah seni-peran hingga struktur dramatiknya.
Kini dengan label produksi “Komunitas
Seni Gentala” (Gentala Art Community),
para pelaku dan tim produksi POSK dikerjakan oleh generasi ke-3. Kecuali
Bambang Arayana sendiri sebagai sutradara serta Una Dairry Bayanullah sebagai
penata musik, maka sejumlah pelaku lainnya telah beralih-generasi. Tentang daya
alih-generasi ini pun perlu mendapatkan catatan khusus.
Menuju
Teater Permanen
Disebabkan perkenalan dengan Jörg
Friedrich yang pernah bersama-sama menggarap drama “Kapten dari Köpenick” untuk
pertunjukan di GK Rumentang Siang, penulis menjadi berkesempatan bertandang ke GRIPS Theater di Berlin pada 1994. Di
sana nonton drama musikal “Linie 1,” yang dijelaskan oleh Jörg Friedrich telah dimainkan oleh generasi yang ke-4 dan tiap bulan senantiasa dimainkan di
tempat yang sama.
Itu memicu pemikiran bahwa Indonesia hingga kini belum memiliki seni teater modern yang permanen
atau mendekati permanen. Janganlah
terlebih dahulu seperti Royal Shakespeare
Company yang sudah bertahan ribuan tahun mementaskan drama-drama Shakespeare
dan menjadi destinasi wisata
seni yang utama di Inggris, seyogianya kita pun mengingat bahwa kita pernah
memiliki moda pertunjukan sandiwara yang bisa hadir secara tetap di
gedung-gedung pertunjukan yang tetap pula.
Sejak awal, seperti kerap disampaikan
kepada Bambang Arayana, bahwa POSK amat memungkinkan untuk menjadi seni
pertunjukan permanen di suatu venue (tempat pertunjukan) yang menetap.
Sekurang-kurangnya ada tiga alasan, yaitu: Sang Kuriang adalah legenda milik
masyarakat Bandung atau Sunda pada umumnya, kesastrawanan UTS yang memang patut
ditempatkan sebagai salasatu “harta” kebudayaan, dan hasil penyutradaraan
Bambang Arayana sendiri yang memang telah berhasil dengan baik.
Itu pula yang suatu saat mendorong
penulis menawar-tawarkan POSK agar menjadi pertunjukan tetap SAU (Saung
Angklung Udjo) di malam hari, pun ditawarkan kepada Arthur S. Nalan saat masih
menjabat sebagai ketua STSI (kini ISBI) agar menjadikannya pertunjukan tetap di
Dewi Asri, hingga kepada Padepokan Seni Mayang Sunda saat masih
dipimpin Ibu Wati Tarso, dll.
Catatan ini pun masih dilandasi
semangat yang sama, saatnya Bandung memiliki pertunjukan permanen yang bisa diturunkan dari generasi
ke generasi, menjadi sumber rujukan dalam tataran pendidikan seni, hingga
kemungkinan sebagai destinasi
wisata seni sehingga senimannya pun bisa hidup dari karyanya. POSK sangat
memungkinkan. Sila buktikan dan semoga.***
(Herry
Dim, pelukis, pemerhati kebudayaan,
penulis, tinggal di Bandung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar