[esei status facebook 27 Desember pukul 16:36]
PALING tidak berdasar delapan kesaksian yang diucapkan delapan jepruter (dari
jumlah keseluruhan 11 orang), dalam pembukaan Pameran Arsip Jeprut #1 di Galeri
Soemardja, tadi sore hingga malam (26/12/2014), ada kesamaan ‘jurus’ yang
dijadikan dasar pijakan mereka yaitu jurus ikhlas.
Dasar ikhlas ini pula yang kemudian muncul dalam bingkai umum menjadi semacam ‘ketakpedulian.’
Ya, dalam kajian umum, bisa saja mereka itu terlihat sebagai pelaku yang tak
peduli lagi karya dan perbuatannya itu disebut kesenian atau pun bukan seni,
tak peduli dikatakan estetik atau pun tak-estetik, tak peduli dianggap berharga
atau pun tak berharga, tak peduli dianggap berfungsi atau pun tak berfungsi,
tak peduli barang(karya)nya itu dianggap sampah atau emas permata, dan
seterusnya.
Itu jika diukur dengan kajian umum dan/atau kajian materialistik. Maka “jeprut”
akan segera terbaca sebagai “nihilisme,” sesuatu yang bukan untuk apapun. Itu
pula, kelak, jika jeprut hanya dilihat melalui benda-benda peninggalan
(artefak)nya.
Sementara jeprut jika dilihat di dalam konteks dan peristiwanya, ternyata amat
sangat berlainan dan/atau bertentangan dengan premis ‘ketakpedulian.’
Seluruh perbuatan jeprut yang kemudian artefaknya dipamerkan di Galeri
Soemardja hingga 16 Januari 2015, itu tegas sekali beranjak dari sejumlah
kepedulian bahkan sangat peduli karena relatif di atas rata-rata kepedulian
umum.
Wawan S Husin yang ‘nga’jeprut jauh-jauh ke hulu sungai di daerah lembang,
tiada lain karena kepeduliannya bahwa sumber air itu perlu dirawat, ‘dimumule,’
dan bukan sebaliknya ketika menjadi sungai yang menjulur ke laut malah
dinistakan menjadi tempat sampah dan/atau tempat membuang segala kotoran
bikinan manusia.
Mas Nanu Muda dan kawan-kawan ketika menggelar “ngukus” di muka gedung Sate,
tegas dan jelas semacam mengantar doa agar pemerintah dan rakyat menjadi baik.
Hung, asap dupa itu ‘ngelun’ ke langit, sejauh dan setinggi itu pula kepedulian
dan harapan yang disampaikan.
Pun Isa Perkasa yang ‘berkantor’ di kandang monyet adalah kepeduliannya yang
amat sangat agar politisi di tampuk DPR itu itu tidak menjadi sekumpulan monyet
melainkan betul-betul menjadi wakil rakyat yang berguna bagi rakyatnya.
Lihat pula perbuatan Iwan Ismael. Meski pada awal-mulanya bisa saja intuitif
tapi kemudian tumbuh menjadi kepedulian dirinya atas perkembangan kota. Hajat
warga kota yang paling mendasar yaitu buang air besar atau pun kecil, nyaris
luput dari perhatian umum tapi nyatanya ‘tertangkap’ oleh sensibilitas
(kepekaan) Iwan bahwa sebuah kota yang adab itu selayaknya memiliki sarana umum
tempat kencing.
Kawan-kawan komunitas Ke’ruh secara material menampilkan artefak sejumlah lalat
yang diambil dari beberapa tempat pembuangan sampah di kota Bandung. Jika bukan
karena kepedulian, apa kiranya nama bagi perbuatan tersebut? Seperti kita
ketahui, sampah di berbagai kota telah menjadi persoalan masing-masing
regional, dan sejatinya pula menjadi persoalan nasional, bahkan sudah menjadi
persoalan global.
Diyanto kemudian ‘nikreuh’ (berjalan jauh) sambil memanggul sejumlah bantal, ia
hampiri setiap orang kecil yang dijumpainya kemudian meminta mereka menuliskan
impiannya di atas bantal.
Ah, hanya bantal bertulisan, itu jika penglihatan kita berhenti pada material.
Tapi, di balik itu, sesungguhnya bukan sekadar impian orang-orang yang
kebetulan berkesempatan terhampiri, melainkan berkenaan dengan impian kita,
impian umat manusia. Ya, bantal-bantal itu berhubungan dengan hal humanis yang
universal.
Rahmat Jabaril dengan kawan-kawannya pergi berkuda ke gedung DPRD untuk
menyampaikan ‘tagihan’ atas sejumlah Perda lingkungan hidup yang tidak/belum
dilaksanakan, dan menawarkan revisi atas beberapa kandungan Perda. Apalagi
namanya jika bukan kepedulian yang sungguh-sungguh atas berbagai kasus
lingkungan hidup di kota Bandung dan provinsi Jawa Barat?
Lantas kawan-kawan ‘invalider urban’ yang mendorong sebuah roda penuh pernik,
menyusur jalan panjang dari Buahbatu mendaki hingga Tamansari. Berkenaan dengan
itu, banyak hal sesungguhnya yang bisa dibahas, tapi (saya sendiri) terpesona
dan kemudian disadarkan atas gejala ‘moving men,’ perpindahan manusia, warga,
bangsa-bangsa; dan yang terpenting (bagi saya) seperti dibawa kepada kesadaran
bahwa zaman kontemporer yang kita alami sekarang ini ditandai oleh ‘perpindahan,’
tak ada lagi yang bersifat tetap dan abadi, segalanya berloncatan, ‘sagala
dibawa’ atau pun tak sengaja terbawa sejak dari tumpukan informasi hingga
kebendaan. Sementara di dalam setiap kepindahan, kita sendiri tak pernah tahu
mengapa harus pindah, bahkan tak pernah bisa menentukan arah tuju kecuali
berjalan begitu saja laiknya sysiphus yang bolak-balik mendorong batu ke puncak
gunung.
Ya, ini sekadar untuk mengatakan betapa besar kepedulian invalider urban itu
untuk mengajak berjalan di wilayah pikiran bahkan filsafat.
Dan kemudian Ine Arini yang kebetulan melibatkan diri saya sendiri... “ah, teu
wasa menuliskannya,” itu saja.
**
Bahasan berikut ini (untuk sementara) tidak berkehendak memasuki perdebatan seni atau bukan seni, maka jalan yang segera diambil adalah meng”ya”kan asumsi bahwa jeprut bukan seni.
Sesuatu yang bukan seni atau bukan apapun tapi pada kenyataannya dipertanyakan, dipikirkan, dicemooh sekalgus diberi tepuk tangan, dihujat tapi juga dirangkul, dan seterusnya, itu (di bidang keilmuan, psikologi, sosiologi, dan filsafat) disebut fenomena tempat kajiannya para fenomenolog. Nietzsche menyebutnya ‘lobang hitam’ yang ketika dirumuskan oleh Heideger menjadi ajaran Nietzsche tentang kembalinya kekekalan (eternal return) dan fenomenologi keterbatasan manusia (human finitude).
Panjang, tapi singkatnya saja, manusia selalu sadar akan keterbatasannya tapi bersamaan dengan itu selalu saja manusia itu berusaha menembus keterbatasannya. Itulah yang sebut Nietzsche memasuki lobang hitam, memasuki ruang gelap sambil tidak pernah diketahui apa hasilnya dan/atau akan bagaimana setelah memasuki itu.
“Lobang itu mengerikan sekaligus menantang,” ujar Nietzsche, maka tak setiap orang pergi dan berani masuk ke sana, bahkan kebanyakannya lagi justru menjauh karena sadar bahwa pergi ke sana itu tidak aman.
Seniman sejati, rajuk Nietzsche seperti dirumuskan Heideger, justru harus mau ke sana, di sanalah yang disebut kreativitas itu (ini 100% sudah reintrepetasi dan/atau dibahasakan sendiri oleh HD). Sebab, hanya dengan itulah kita bisa menemukan kekekalan (dalam hal ini mohon dibaca ‘jantung seni’).
Kini, mari kita bertanya: manusia seperti apa yang mau/berani memasuki ruang hitam tak jelas itu? Apa kiranya yang bisa dijadikan modal?
[TULUYKEUN ATAWA ULAH NYA? IEU GEUS ASA NGACAPRUK YEUH, PIRAKU STATUS FB PANJANG-PANJANG TEUING, DASAR ...]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar