Selasa, 02 November 2021

JEPRUT DALAM JURUS IKHLAS

SENIMAN Bandung, Rahmat Jabaril, dalam Annual Jeprut #1 bersama rombongan berkuda ke DPRD Provinsi Jawa Barat untuk menyampaikan 'buku tuntutan perbaikan KBU (Kawasan Bandung Utara) yang telah mengalami kerusakan lingkungan. (FOTO dari facebook Jeprut).*


[esei status facebook 27 Desember pukul 16:36]


PALING tidak berdasar delapan kesaksian yang diucapkan delapan jepruter (dari jumlah keseluruhan 11 orang), dalam pembukaan Pameran Arsip Jeprut #1 di Galeri Soemardja, tadi sore hingga malam (26/12/2014), ada kesamaan ‘jurus’ yang dijadikan dasar pijakan mereka yaitu jurus ikhlas.
Dasar ikhlas ini pula yang kemudian muncul dalam bingkai umum menjadi semacam ‘ketakpedulian.’ 
Ya, dalam kajian umum, bisa saja mereka itu terlihat sebagai pelaku yang tak peduli lagi karya dan perbuatannya itu disebut kesenian atau pun bukan seni, tak peduli dikatakan estetik atau pun tak-estetik, tak peduli dianggap berharga atau pun tak berharga, tak peduli dianggap berfungsi atau pun tak berfungsi, tak peduli barang(karya)nya itu dianggap sampah atau emas permata, dan seterusnya.
Itu jika diukur dengan kajian umum dan/atau kajian materialistik. Maka “jeprut” akan segera terbaca sebagai “nihilisme,” sesuatu yang bukan untuk apapun. Itu pula, kelak, jika jeprut hanya dilihat melalui benda-benda peninggalan (artefak)nya. 
Sementara jeprut jika dilihat di dalam konteks dan peristiwanya, ternyata amat sangat berlainan dan/atau bertentangan dengan premis ‘ketakpedulian.’
Seluruh perbuatan jeprut yang kemudian artefaknya dipamerkan di Galeri Soemardja hingga 16 Januari 2015, itu tegas sekali beranjak dari sejumlah kepedulian bahkan sangat peduli karena relatif di atas rata-rata kepedulian umum.
Wawan S Husin yang ‘nga’jeprut jauh-jauh ke hulu sungai di daerah lembang, tiada lain karena kepeduliannya bahwa sumber air itu perlu dirawat, ‘dimumule,’ dan bukan sebaliknya ketika menjadi sungai yang menjulur ke laut malah dinistakan menjadi tempat sampah dan/atau tempat membuang segala kotoran bikinan manusia.
Mas Nanu Muda dan kawan-kawan ketika menggelar “ngukus” di muka gedung Sate, tegas dan jelas semacam mengantar doa agar pemerintah dan rakyat menjadi baik. Hung, asap dupa itu ‘ngelun’ ke langit, sejauh dan setinggi itu pula kepedulian dan harapan yang disampaikan.
Pun Isa Perkasa yang ‘berkantor’ di kandang monyet adalah kepeduliannya yang amat sangat agar politisi di tampuk DPR itu itu tidak menjadi sekumpulan monyet melainkan betul-betul menjadi wakil rakyat yang berguna bagi rakyatnya.
Lihat pula perbuatan Iwan Ismael. Meski pada awal-mulanya bisa saja intuitif tapi kemudian tumbuh menjadi kepedulian dirinya atas perkembangan kota. Hajat warga kota yang paling mendasar yaitu buang air besar atau pun kecil, nyaris luput dari perhatian umum tapi nyatanya ‘tertangkap’ oleh sensibilitas (kepekaan) Iwan bahwa sebuah kota yang adab itu selayaknya memiliki sarana umum tempat kencing.
Kawan-kawan komunitas Ke’ruh secara material menampilkan artefak sejumlah lalat yang diambil dari beberapa tempat pembuangan sampah di kota Bandung. Jika bukan karena kepedulian, apa kiranya nama bagi perbuatan tersebut? Seperti kita ketahui, sampah di berbagai kota telah menjadi persoalan masing-masing regional, dan sejatinya pula menjadi persoalan nasional, bahkan sudah menjadi persoalan global.
Diyanto kemudian ‘nikreuh’ (berjalan jauh) sambil memanggul sejumlah bantal, ia hampiri setiap orang kecil yang dijumpainya kemudian meminta mereka menuliskan impiannya di atas bantal. 
Ah, hanya bantal bertulisan, itu jika penglihatan kita berhenti pada material. Tapi, di balik itu, sesungguhnya bukan sekadar impian orang-orang yang kebetulan berkesempatan terhampiri, melainkan berkenaan dengan impian kita, impian umat manusia. Ya, bantal-bantal itu berhubungan dengan hal humanis yang universal.
Rahmat Jabaril dengan kawan-kawannya pergi berkuda ke gedung DPRD untuk menyampaikan ‘tagihan’ atas sejumlah Perda lingkungan hidup yang tidak/belum dilaksanakan, dan menawarkan revisi atas beberapa kandungan Perda. Apalagi namanya jika bukan kepedulian yang sungguh-sungguh atas berbagai kasus lingkungan hidup di kota Bandung dan provinsi Jawa Barat?
Lantas kawan-kawan ‘invalider urban’ yang mendorong sebuah roda penuh pernik, menyusur jalan panjang dari Buahbatu mendaki hingga Tamansari. Berkenaan dengan itu, banyak hal sesungguhnya yang bisa dibahas, tapi (saya sendiri) terpesona dan kemudian disadarkan atas gejala ‘moving men,’ perpindahan manusia, warga, bangsa-bangsa; dan yang terpenting (bagi saya) seperti dibawa kepada kesadaran bahwa zaman kontemporer yang kita alami sekarang ini ditandai oleh ‘perpindahan,’ tak ada lagi yang bersifat tetap dan abadi, segalanya berloncatan, ‘sagala dibawa’ atau pun tak sengaja terbawa sejak dari tumpukan informasi hingga kebendaan. Sementara di dalam setiap kepindahan, kita sendiri tak pernah tahu mengapa harus pindah, bahkan tak pernah bisa menentukan arah tuju kecuali berjalan begitu saja laiknya sysiphus yang bolak-balik mendorong batu ke puncak gunung.
Ya, ini sekadar untuk mengatakan betapa besar kepedulian invalider urban itu untuk mengajak berjalan di wilayah pikiran bahkan filsafat.
Dan kemudian Ine Arini yang kebetulan melibatkan diri saya sendiri... “ah, teu wasa menuliskannya,” itu saja.

**

Setiap pelaku jeprut, dalam konteks konvensi seni atau ke-seni-an yang disepakati secara umum, itu hampir pasti dinilai tak wantah, mahiwal, atau bisa juga tidak dikategorikan seni sebab tidak ada di dalam konvensinya.
Bahasan berikut ini (untuk sementara) tidak berkehendak memasuki perdebatan seni atau bukan seni, maka jalan yang segera diambil adalah meng”ya”kan asumsi bahwa jeprut bukan seni.
Sesuatu yang bukan seni atau bukan apapun tapi pada kenyataannya dipertanyakan, dipikirkan, dicemooh sekalgus diberi tepuk tangan, dihujat tapi juga dirangkul, dan seterusnya, itu (di bidang keilmuan, psikologi, sosiologi, dan filsafat) disebut fenomena tempat kajiannya para fenomenolog. Nietzsche menyebutnya ‘lobang hitam’ yang ketika dirumuskan oleh Heideger menjadi ajaran Nietzsche tentang kembalinya kekekalan (eternal return) dan fenomenologi keterbatasan manusia (human finitude).
Panjang, tapi singkatnya saja, manusia selalu sadar akan keterbatasannya tapi bersamaan dengan itu selalu saja manusia itu berusaha menembus keterbatasannya. Itulah yang sebut Nietzsche memasuki lobang hitam, memasuki ruang gelap sambil tidak pernah diketahui apa hasilnya dan/atau akan bagaimana setelah memasuki itu.
“Lobang itu mengerikan sekaligus menantang,” ujar Nietzsche, maka tak setiap orang pergi dan berani masuk ke sana, bahkan kebanyakannya lagi justru menjauh karena sadar bahwa pergi ke sana itu tidak aman.
Seniman sejati, rajuk Nietzsche seperti dirumuskan Heideger, justru harus mau ke sana, di sanalah yang disebut kreativitas itu (ini 100% sudah reintrepetasi dan/atau dibahasakan sendiri oleh HD). Sebab, hanya dengan itulah kita bisa menemukan kekekalan (dalam hal ini mohon dibaca ‘jantung seni’). 
Kini, mari kita bertanya: manusia seperti apa yang mau/berani memasuki ruang hitam tak jelas itu? Apa kiranya yang bisa dijadikan modal?

[TULUYKEUN ATAWA ULAH NYA? IEU GEUS ASA NGACAPRUK YEUH, PIRAKU STATUS FB PANJANG-PANJANG TEUING, DASAR ...]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar