Pengantar
LUAR BIASA, sungguh menakjubkan. Itu niscaya menjadi kesan umum setiap orang setelah membaca tulisannya Iulia Cabacenco ini. Pertama, tentu saja, manakala melihat usianya yang baru menginjak 15 tahun (lihat, tentang penulis). Kedua, sungguh di luar perkiraan, ia menunjukan pengetahuan dan pemahamannya tentang seni yang begitu luas. Ketiga, adalah jangkauan pikirannya yang nyaris takterbayangkan sebelumnya oleh orang dewasa sekalipun.
Pada butir ke-3
itulah ia menggulirkan optimisme di tengah situasi Covid-19 yang kelabu.
Takhanya optimisme, ia pun berpandangan begitu visioner, jauh melanglang ke
depan, khususnya bagi perkembangan seni(rupa) di kemudian hari. Sungguh
inspiratif, baik bagi seni ataupun bagi kemanusiaan pada umumnya.
Itu yang membuat taktertahankan untuk menerjermahkannya ke dalam bahasa Indonesia serta menyiarkannya. Tindakan ini, dengan sadar, tidak/belum melalui permintaan izin kepada penulisnya ataupun kepada UNICEF. Jalan ini ditempuh karena ingin segera berbagi inspirasi, optimisme, dan penyadaran kemanusiaan. Dengan ini sekaligus, saya mohon izin kepada Iulia Cabacenco dan UNICEF. Semoga berkenan dan mengizinkan. Andai berkeberatan, silakan sampaikan ke email herrydim57@gmail.com agar saya bisa segera mencabut hasil terjemahan ini.
Pembuka dari UNICEF sendiri, sbb: Gadis remaja dari Moldova mengeksplorasi bagaimana seni dipengaruhi oleh COVID-19 dan bagaimana hal itu dapat mengubah dunia di sekitar kita.
(HDim)**
| Iulia Cabacenco |
Mengimajinasikan Kembali Seni Visual:
keluar dari virus
dan keluar dari kotak
© UNICEF Interpretasiku atas “Girl on the ball” karya Pablo Picasso dengan model diri saya sendiri. |
Siapa senimannya?
Seni
akan bertahan melewati setiap bencana dan orang-orang akan bertahan hidup
bersamanya. Energi penciptaan tidak akan pernah habis, dan itulah yang membantu
menyeimbangkan bola selama masa kehancuran. Virus Corona melahirkan karya seni
yang mungkin-tidak-profesional tetapi luar biasa yang tak terhitung jumlahnya.
Anda
bisa menjadi seorang seniman jika Anda memiliki cerita untuk diceritakan.
COVID-19 adalah pengalaman baru bagi kita semua dan setiap “orang yang selamat”
memiliki sesuatu untuk dikatakan. Sebagian besar orang yakin bahwa mereka tidak
cukup terampil untuk membuat sebuah karya seni dan takut gagal atas apa yang
bahkan belum pernah mereka coba. Tetapi banyak yang menemukan bakat terpendamnya
justru karena pekerjaan yang terhenti dan waktu luang yang tidak terduga.
Misalnya, skater Rusia terkenal Evghenia Medvedeva selama lockdown mendedikasikan waktu luangnya yang sangat langka bagi
atlet seperti itu untuk hasrat keduanya – seni. Fans-nya bahkan tidak tahu dia
bisa menggambar tetapi Evghenia akhirnya menemukan keberanian untuk
mengungkapkan seninya kepada publik.
Bagi
seniman amatir otodidak yang sejatinya adalah olahragawan profesional, pekerjaan
seninya ini takdapat dibandingkan. Saya percaya itu dapat menginspirasi orang
lain untuk mencoba berkreasi. Keberanian, kesabaran, dan harapan mendasari
semua pembuatan seni. Selain itu, kualitas-kualitas ini akan membantu umat
manusia untuk bertahan dari pandemi dan menemukan solusi inovatif yang kreatif
untuk membangun kembali dunia di banyak bidang selain seni.
Setelah
COVID-19, saya pikir, akan muncul lebih banyak lagi orang multipotensial dalam
seni dan itu akan menjadi jauh lebih kompetitif. Kualitas seni akan meningkat,
dan standar akan ditetapkan lebih tinggi. Bayangkan saja campuran pola pikir
ahli biologi dan seniman! Sementara itu, masyarakat seni tiarap dalam arti
sedang mengumpulkan energi yang kelak meledak dalam ratusan pameran dan ide-ide
yang keluar dari kotak (out-of-the-box)
yang luar biasa.
Virus
corona dan seni manakala lahir dunia, itu sama, sangat tidak dapat diprediksi,
dan kita tidak dapat mengatakan apapun yang akan terjadi selanjutnya. Ini lebih
merupakan penemuan ketimbang invensi. Penemuan (discovery) tidak dapat dihalangi batasan apa pun semisal kewajiban
untuk memenuhi harapan dan tenggat waktu. Artis Jess Johnson membagikan
pemikirannya tentang hal itu: “Begitu banyak seniman, termasuk saya sendiri,
menghasilkan karya seni dengan tujuan, seperti pameran atau langkah karier.
Manakala menghapus hal itu malah dapat membebaskan kita untuk bereksperimen dan
menciptakan seni yang menghubungkan kita dengan universalitas manusia, sebagai
lawan dari 'seniman profesional' yang beroperasi dalam struktur dunia seni
komersial.” Jadi, ke mana arah eksperimen kita?
| © https://www.facebook.com/groups/izoizolyacia |
Siapa inspiratornya?
Pandemi
telah memperlihatkan sejumlah besar karya aneh yang berbeda tetapi semuanya
dapat dijelaskan dalam dua kata: LUKISAN HIDUP. Sebutan ini memiliki arti yang
luas. Mari kita mulai dengan yang sudah saya coba sendiri.
•
Hidup di atas kanvas
Bagi
orang-orang lockdown mengakibatkan desakan untuk mencari cara menghibur
diri. Ide untuk menata ulang dan menampilkan lukisan terkenal dengan cepat
menjadi viral di Internet.
Impresi
kreatif karya Magritte ini diposting di grup publik Rusia “Izoizolyacia” yang
mengguncang Facebook dengan sejumlah besar lukisan hidup yang cerdik. “Izoizolyacia”
telah dimulai selama lockdown di Rusia dan sekarang diikuti oleh lebih dari 500
ribu orang di seluruh dunia yang menemukan diri mereka melukis dekorasi dan
membuat kostum atau hanya menjelajahi dunia baru kesenimanan dan melukis.
Puluhan peserta mengaku sedikit lebih mudah setelah proses meditasi ini. Seni
membantu melampiaskan emosi negatif mereka karena kini memiliki kendali penuh
atas dunia seninya dan dapat menafsirkan lukisan seperti yang kita lihat.
Selain itu, praktik semacam itu akan mempopulerkan seni dan membuat orang lebih
cerdas di bidang ini.
•
Kehidupan seputar kita
Jenis
lukisan hidup berikutnya adalah gambar reportase yang disebut juga dengan
refleksi. Ini adalah sketsa singkat tentang apa yang terjadi di sekitar kita
saat ini yang dapat dibuat di jalan atau di dalam ruangan. Reportase menggambar
foto serupa menangkap satu momen singkat: posisi tertentu seseorang, tampilan
yang menarik. Hanya saja ini adalah refleksi yang lebih pribadi di mana kita
mungkin memperhatikan pendapat dan perasaan artis terhadap subjek.
| © Evghenii Rusak Karya ini berjudul “A tired doctor.” Kita dapat menjumpai lebih banyak lagi di channel Telegram “Coronavirus art”nya Evghenii Rusak. |
Karya ini dibuat oleh pelukis Rusia Evghenii Rusak yang memutuskan untuk membuat buku harian virus corona, membuat gambar reportase setiap hari. Dia yakin bahwa ini tidak akan pernah terulang dan ini adalah kesempatan unik untuk menggambarkan kemanusiaan sepersekian detik sebelum perubahan besar. Ribuan seniman lain “mereflkesikan” kehidupan di tengah pandemi.
Praktik
ini akan meningkat karena nyaman bagi pemula, mengerjakan gambar-gambar yang
takbegitu detail dan “professional.” Proses pembuatannya cepat, dan kita dapat
mengukir waktunya setiap hari. Misalnya, sekarang banyak seniman perempuan yang
sibuk dengan anak-anak dan pekerjaan rumah, tetapi “refleksi” bisa menjadi cara
mereka untuk terus menggambar. Seniman Francesca DiMattio dalam sebuah
wawancara tentang penciptaan di karantina menyebutkan: “Keduanya membutuhkan
tangan dan perhatian, keibuan dan praktik studio, bagi seseorang itu dirasakan
saling bertentangan secara langsung”
Di sisi lain, ternyata keduanya dapat diselesaikan manakala diubah menjadi sesuatu seperti neo-impresionisme-COVID. Impresionisme melibatkan adegan kehidupan sehari-hari di abad ke-19 sementara genre baru akan menunjukkan rutinitas kita sekarang: memasak, merawat anak-anak atau melakukan pekerjaan rumah. Siapa yang tahu hal-hal ini lebih baik daripada ibu kita? Omong-omong, impresionis adalah yang pertama menarik perhatian pada adegan kerja. Topik yang paling umum untuk karya seni sekarang adalah “dokter dalam misi mereka” dan mungkin sketsa kecil akan berubah menjadi kanvas besar.
• Di mana kita tinggal
Ketika seniman terblokir di dalam rumah, interior (furnitur, desain) menjadi pusat komposisinya. Saya suka sekali melihat bagaimana kamar mandi digunakan pada karya seni work-from-home oleh seniman jalanan terkenal, Banksy, yang biasanya takdapat menggunakan permukaan biasa bagi karya seninya.
Itu mosaik asli saya yang terbuat dari kantong sampah dan lainnya yang saya temukan di rumah. Jangan menilainya, ini adalah eksperimen |
Kala itu musim panas pertama, saya tanpa pergi ke laut, dan kini saya menyadari bahwa alam memiliki hak istimewa. Sebagian besar dari kita menganggap alam berjalan begitu saja dan tidak menghargainya sebagaimana mestinya. Saya pikir ketika COVID-19 usai, orang akan menghabiskan lebih banyak waktu mengunjungi taman dan pergi ke pedesaan untuk merenungkan keindahannya. Plein-airs[1] akan mendapatkan kembali popularitasnya di dunia seni dan seniman akan berusaha untuk melestarikan alam karena terancam punah.
“Ingat
mereka tidak bisa membatalkan musim semi” adalah salah satu dari 10
pemandangan alam dalam koleksi seni baru David Hockney. Sangat menenangkan
melihat alam berjalan seperti biasa di hari-hari yang penuh kekacauan ini.
Kematian seolah tidak nyata di musim semi sewaktu kita melihat bunga bakung
bermekaran. Ini menempatkan kita di depan sebuah pertanyaan: siapa yang
akhirnya akan hidup lebih lama? Apakah kita atau alam? Sepertinya alam memiliki
bahan yang tidak pernah berakhir untuk menciptakan dirinya sendiri, tetapi
apakah pikiran kita yang berkembang memiliki bahan untuk diciptakan?
Apa materinya?
Meskipun David Hockney berusia 82 tahun, ia berhasil mengejar metoda menggambar modern. Karyanya di atas dibuat di iPad dan itu merupakan kombinasi mengejutkan antara baru dan lama. Saya pikir dunia akan mengikuti jalan yang sama: alam akan merebut kembali maknanya bagi kita, tetapi dunia akan menjadi lebih digital.
Saat
ini banyak seniman kehabisan bahan yang tidak dapat mereka miliki karena krisis
atau tidak dapat pergi ke studio untuk mendapatkan instrumen atau ruang yang
mereka butuhkan. Namun, ruang digital dapat diakses setiap saat dan
banyak seniman akan beralih dari kertas dan cat ke tablet grafis. Gelombang
baru ini akan membutuhkan museum untuk beradaptasi dengannya.
Material
melukis akan digantikan oleh monitor di mana seni digital akan dipamerkan.
Sekarang masih diremehkan oleh kritikus dan dianggap tidak layak untuk berada
di museum. Tapi seni digital memiliki keuntungan besar. Ini akan mengurangi
harga tiket museum karena lukisan akan menempati lebih sedikit tempat: karya
seni di monitor dapat bertukar setelah pengamat ingin pindah ke yang
berikutnya. Selain itu, pengiriman dan pemasangan tidak diperlukan. Pameran
online akan sering diselenggarakan dan berkat itu seni akan menjadi lebih
mudah diakses dan terjangkau. Hampir setiap orang yang tertarik akan dapat
menikmati seni! Saya percaya itu jawaban positif untuk pertanyaan saya di awal.
Tidak
hanya alam dan seni digital akan lebih penting bagi umat manusia, tetapi juga
hal-hal sederhana yang semula tidak kita perhatikan sebelumnya. Kurangnya bahan
mendorong seniman berbuat dari bahan yang takterduga. Membuat kolase dari
kertas bekas adalah solusi yang baik untuk memanfaatkannya kembali.
Pil,
kancing, sampah, dan lusinan hal lainnya memiliki kesempatan untuk menjalani
kehidupan kedua dengan diubah menjadi gambar mosaik yang luar biasa. Mosaik
yang terbuat dari sampah dapat dibuat untuk mendukung ekologi dan berkomunikasi
tentang polusi.
Saya
percaya bahwa penciptaan seni dapat menjadi alat yang jauh lebih efektif dan
kuat untuk mengekspresikan sudut pandang dan membuat perubahan ketimbang protes
dan manifestasi kekerasan. Pertanyaannya adalah: apa yang bisa diubah seni
virus corona?
Apa tujuannya?
Seni membuat informasi menjadi lebih mudah dipahami dan lebih mudah diterima. Itulah sebabnya ia sanggup menaklukkan dunia dan menembus setiap bagian kehidupan kita. Dari buku pelajaran sekolah hingga dokumen resmi, permintaannya akan bertumbuh. Lihat saja bagaimana langkah-langkah Kementerian Kebudayaan Ukraina dalam memutuskan untuk mengingatkan orang-orang untuk melindungi diri dari COVID-19:
©Ministry of Culture of Ukraine
Kemudian
saya bertanya pada diri sendiri: “Bukankah seharusnya kita mendedikasikan uang
dan waktu kita untuk kebutuhan yang mendesak agar semua orang mampu membeli dan
menghargai seni sejak awal? Bisakah orang hidup tanpa seni? Apakah itu sama
pentingnya dengan makanan? Apakah seni merupakan hak istimewa atau diterima
begitu saja?”
Kita
dapat menemukan banyak contoh seniman-aktivis dan seni menyelesaikan banyak
masalah global yang esensial. Banyak seniman sekarang secara finansial membantu
meringankan konsekuensi pandemi dengan menyumbangkan uang dari penjualan untuk
dana bantuan virus corona. Misalnya, seniman Peter Regly mendapat manfaat dari
#FirstRespondersFirst, sebuah
inisiatif Harvard yang menyediakan sumber daya bagi petugas kesehatan di garis
depan. Jean-Michelle Othoniel dengan gambar-gambarnya mendorong pengikut
Instagram-nya untuk menyumbang ke Palang Merah.
Dan
orang-orang tidak akan bertahan hidup tanpa seni – makanan spiritual – serta
tanpa nutrisi biasa. Jika seniman meninggalkan studio mereka untuk bekerja di
bidang ekonomi, perawatan kesehatan atau yurisprudensi, dunia perlahan akan
berhenti dari kebosanan dan kesuraman! Orang sebaliknya harus berusaha untuk
membuatnya untuk semua orang dan begitu saja.
Seni
membuat orang lebih cerah dan ramah, dunia akan menjadi lebih berwarna
dengan hidup secara kreatif. Itu sebabnya untuk keluar dari virus kita perlu
melangkah keluar dari kotak.
Sumber https://www.unicef.org/eca/stories/reimagining-visual-art-out-virus-and-out-box
Tentang penulis:
Iulia Cabacenco adalah
siswa sekolah menengah berusia lima belas tahun dari Chisinau, Moldova. Selain
menjadi relawan aktif dan siswa berprestasi yang mengikuti kejuaraan akademik
internasional, Iulia sangat menyukai seni dan memiliki banyak bakat. Dia tampil
di teater dan merupakan salah satu penyanyi utama dari proyek inklusi musik
pertama di Moldova – Paduan suara kaum muda “LaLaPlay Voices.”
[1] En
plein air (dari bahasa Prancis yang berarti “outdoors”), atau plein air
painting, adalah melukis di luar ruangan. Metoda ini kontras dengan lukisan
studio atau aturan akademik yang mungkin menciptakan tampilan yang telah
ditentukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar