Selasa, 02 November 2021

Harry Roesli: "Tertawakanlah Diri Sendiri"

Harry Roesli (Sumber: Tangkapan layar YouTube)

 

[Sebuah Catatan Kecil]

 

Oleh: Herry Dim

 

HARRY Roesli (1951 – 2014) tidak pernah menyatakan dirinya itu jeprut tapi kepada karya atau tindak-tanduk kawan-kawannya yang “mahiwal,” ia kerap menggunakan kosa-kata “edan siah maneh,” “gelo,” “dasar jeprut.”

Suatu ketika, misalnya, datanglah Arahmaiani ke Supratman 57, ia dari tutup kepala hingga alas kakinya mengenakan batik, lantas Harry Roesli (HR) pun berkata: “Herry tingali siah Si Yani, dasar jeprut.” Tapi manakala saya menyelenggarakan pameran “Senirupa Ritus – Ritus Senirupa” (1986), ia mengatakan: “gelo maneh mah... dst.” Sebaliknya kepada Reksalam yang kerap datang ke Supratman 57 dan beberapa kali juga datang dan menginap di rumah saya, HR tidak menggunakan kosa-kata “gelo” melainkan “jeprut.” Padahal, (maaf) secara psikologis Reksalam bisa dikategorikan mengalami gangguan kejiwaan yang sesungguhnya.

HR sendiri pada masa pertengahan 1980an itu mengaku sedang dalam proses konsultasi dengan psikiater, ia menyebut nama psikiaternya tapi saya lupa (jika tak salah Prof. Dr. Sutardjo A. Wiramihardja, Psi., maaf jika saya salah). Inilah saat saya kerap dipanggil untuk menemani ngobrol, berkali-kali bahkan panggilannya itu muncul dini hari antara pkl. 01:00 atau 02:00 – tak ayal saya pun mengayuh sepeda dari Cibolerang ke Supratman dan di kemudian hari dengan sepeda motor bebek butut warna merah. Saya, tentu saja tak merasa ahli ilmu jiwa, hanya bisa ikut merasakan saja bahwa HR saat itu sedang mengalami “kegilaan” atau “kegelisahan” di dalam proses berkarya. Pada salasatu malam, misalnya, muncul kembali panggilan lewat telepon rumah (saat itu belum ada ponsel): “Herr, maneh ka dieu euy, make taxi bae, engke mayarna ku urang di dieu.” Saya pergi naik sepeda karena di daerah Cibolerang bahkan siang hari pun hampir tidak pernah ada taxi.

Begitu tiba di Supratman, HR menyodorkan majalah yang sudah lusuh terbitan Kedutaan Besar Belanda. “Tah, tingali ku maneh, ceuk urang mah ieu jelema edan,” kata HR sambil menyodorkan majalah yang terbuka di halaman mengenai karya M. C. Escher serial “Relativitas.”

Meski awalnya obrolan berkisar pada “Relativitas” Escher yang saya katakan struktural bahkan matematis tapi cara susunnya jeprut, jungkir-balik, melawan gravitasi; pembicaraan sampai pagi itu selanjutnya lebih berpusat kepada kepenasaran HR dan dunianya yaitu musik.

Ia antara lain mengatakan senirupa lebih leluasa dalam hal ruang dan waktu, cara melihatnya bisa dimulai dari manapun dan boleh berakhir di manapun. Itu berbeda sekali dengan musik yang nyatanya selalu terikat oleh awal dan akhir dari suatu komposisi.

HR, seperti dalam obrolan dini hari hingga terbitnya matahari, itu “ngotot” ingin membuat karya musik “yang bebas dari ikatan ruang dan waktu,” seperti halnya grafis karya M. C. Escher yang menunjukan banyak pintu, setiap orang bisa masuk dari pintu manapun bahkan dalam posisi pintu dan tangga yang terbalik (melawan gravitasi).

Panjang ceritanya. Ringkasnya saja, dari obrolan itu antara lain lahirlah karya “Peti Kaca” yang direkam terbatas dan hanya beredar pada kesempatan berlangsungnya Pasar Seni ITB (lagi-lagi saya lupa tahunnya). Namun puncaknya, menurut hemat saya, adalah pada karya “Tertawa.”

Komposisi “Tertawa” untuk dimainkan sejumlah orang, “partitur”nya berupa rekaman suara   

HR sendiri berupa cerita-cerita lucu yang memancing tawa. Saat dimainkan HR pernah memimpin presentasinya sebagai dirigen, tapi pada pentas-pentas lain dibiarkan berjalan sendiri. Setiap pemain dibekali alat putar pita rekam saku dan masing-masing dilengkapi ‘headphone’ sebagai alat dengar. Setiap pemain (katakanlah choral) menyalakan alat pemutar suaranya secara acak, satu demi satu di antara mereka mulai tertawa kecil hingga terbahak-bahak. Susunan choral tertawa itulah karya musiknya.

HR sudah berhenti konsultasi kejiwaan. Obatnya, seperti kerap juga ia katakan kepada saya, itu datangnya dari Putu Wijaya. “Jelema cageur jeung sehat mah jelema anu bisa nyeungseurikeun dirina sorangan,” kata HR.

Seiring dengan itu lahirlah karya lainnya seperti “Tahlil” yang menjadi bagian untuk pameran “Senirupa Ritus – Ritus Senirupa.” Karya ini berupa looping delapan suara tahlil yang disebar melalui delapan alat pemutar pita suara. Sedikit saja catatan, bahwa looping masa itu belum menggunakan komputer karena belum ada, melainkan dengan cara memotong pita kaset lantas dibongkar-sambung hingga menghasilkan suara bolak-balik tanpa akhir. Berikutnya adalah (katakan saja) workshop berulangkali yang kemudian diberi nama oleh Eddy Purnawadi dengan sebutan “proses untuk menjadi.” Gerakan proses ini antara lain melibatkan HR sendiri, Haviel, Sulasmoro, Ine Arini, Marintan Sirait, kemudian Tisna Sanjaya, dll. Setiap kali “proses untuk menjadi” itu tidak pernah melalui kodifikasi atau sistem penanda dari mana harus mulai dan tidak ada pula penanda kapan mesti berakhir.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar