| Harry Roesli (Sumber: Tangkapan layar YouTube) |
[Sebuah Catatan Kecil]
Oleh:
Herry Dim
HARRY Roesli (1951 – 2014) tidak pernah menyatakan dirinya itu jeprut tapi kepada karya atau tindak-tanduk kawan-kawannya yang “mahiwal,” ia kerap menggunakan kosa-kata “edan siah maneh,” “gelo,” “dasar jeprut.”
Suatu
ketika, misalnya, datanglah Arahmaiani ke Supratman 57, ia dari tutup kepala
hingga alas kakinya mengenakan batik, lantas Harry Roesli (HR) pun berkata: “Herry
tingali siah Si Yani, dasar jeprut.” Tapi manakala saya menyelenggarakan
pameran “Senirupa Ritus – Ritus Senirupa” (1986), ia mengatakan: “gelo maneh
mah... dst.” Sebaliknya kepada Reksalam yang kerap datang ke Supratman 57
dan beberapa kali juga datang dan menginap di rumah saya, HR tidak menggunakan
kosa-kata “gelo” melainkan “jeprut.” Padahal, (maaf) secara psikologis Reksalam
bisa dikategorikan mengalami gangguan kejiwaan yang sesungguhnya.
HR
sendiri pada masa pertengahan 1980an itu mengaku sedang dalam proses konsultasi
dengan psikiater, ia menyebut nama psikiaternya tapi saya lupa (jika tak salah
Prof. Dr. Sutardjo A. Wiramihardja, Psi., maaf jika saya salah). Inilah saat
saya kerap dipanggil untuk menemani ngobrol, berkali-kali bahkan panggilannya
itu muncul dini hari antara pkl. 01:00 atau 02:00 – tak ayal saya pun mengayuh
sepeda dari Cibolerang ke Supratman dan di kemudian hari dengan sepeda motor
bebek butut warna merah. Saya, tentu saja tak merasa ahli ilmu jiwa, hanya bisa
ikut merasakan saja bahwa HR saat itu sedang mengalami “kegilaan” atau
“kegelisahan” di dalam proses berkarya. Pada salasatu malam, misalnya, muncul
kembali panggilan lewat telepon rumah (saat itu belum ada ponsel): “Herr,
maneh ka dieu euy, make taxi bae, engke mayarna ku urang di dieu.” Saya
pergi naik sepeda karena di daerah Cibolerang bahkan siang hari pun hampir
tidak pernah ada taxi.
Begitu
tiba di Supratman, HR menyodorkan majalah yang sudah lusuh terbitan Kedutaan
Besar Belanda. “Tah, tingali ku maneh, ceuk urang mah ieu jelema edan,”
kata HR sambil menyodorkan majalah yang terbuka di halaman mengenai karya M. C.
Escher serial “Relativitas.”
Meski
awalnya obrolan berkisar pada “Relativitas” Escher yang saya katakan struktural
bahkan matematis tapi cara susunnya jeprut, jungkir-balik, melawan gravitasi;
pembicaraan sampai pagi itu selanjutnya lebih berpusat kepada kepenasaran HR
dan dunianya yaitu musik.
Ia
antara lain mengatakan senirupa lebih leluasa dalam hal ruang dan waktu, cara
melihatnya bisa dimulai dari manapun dan boleh berakhir di manapun. Itu berbeda
sekali dengan musik yang nyatanya selalu terikat oleh awal dan akhir dari suatu
komposisi.
HR,
seperti dalam obrolan dini hari hingga terbitnya matahari, itu “ngotot” ingin
membuat karya musik “yang bebas dari ikatan ruang dan waktu,” seperti halnya
grafis karya M. C. Escher yang menunjukan banyak pintu, setiap orang bisa masuk
dari pintu manapun bahkan dalam posisi pintu dan tangga yang terbalik (melawan
gravitasi).
Panjang
ceritanya. Ringkasnya saja, dari obrolan itu antara lain lahirlah karya “Peti
Kaca” yang direkam terbatas dan hanya beredar pada kesempatan berlangsungnya
Pasar Seni ITB (lagi-lagi saya lupa tahunnya). Namun puncaknya, menurut hemat
saya, adalah pada karya “Tertawa.”
Komposisi
“Tertawa” untuk dimainkan sejumlah orang, “partitur”nya berupa rekaman suara
HR
sendiri berupa cerita-cerita lucu yang memancing tawa. Saat dimainkan HR pernah
memimpin presentasinya sebagai dirigen, tapi pada pentas-pentas lain dibiarkan
berjalan sendiri. Setiap pemain dibekali alat putar pita rekam saku dan
masing-masing dilengkapi ‘headphone’ sebagai alat dengar. Setiap pemain
(katakanlah choral) menyalakan alat pemutar suaranya secara acak,
satu demi satu di antara mereka mulai tertawa kecil hingga terbahak-bahak.
Susunan choral tertawa itulah karya musiknya.
HR
sudah berhenti konsultasi kejiwaan. Obatnya, seperti kerap juga ia katakan
kepada saya, itu datangnya dari Putu Wijaya. “Jelema cageur jeung sehat mah
jelema anu bisa nyeungseurikeun dirina sorangan,” kata HR.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar