"Yoyon
itu mirip sekali Jim Lim, kurus dan kecil," kata Pa' Saini KM demi
membedakannya dengan Suyatna Anirun yang terhitung 'dedeg' atau tinggi besar.
Disebutnya juga nama Aris Permana, yang perawakannya nyaris sama dengan Kang
Yatna. Kang Aris, demikian panggilan kami, adalah anggota Teater Perintis
asuhan Jim Lim, yang tak pernah mau ikut gabung dengan STB hingga meninggalnya.
Bekerja sebagai karyawan GK Rumentang Siang bersama Kang Tjetje Raksa dan Kang
Engkos (Koswara) sejak awal didirikan oleh Pa' Endang Rusma, sebagai tambahan
ia bersama ayahnya membuka bengkel kamera foto di rumahnya.
"Bedanya
Yoyon itu lebih kasep," tambah Pa' Saini ketika berikutnya
membandingkannya dengan Jim Lim yang kemudian berlanjut pada penceritaan
keaktorannya.
"Yoyon
itu aktor bagus," urai Pa' Saini yang kemudian menyebut pula Kang Yatna,
Kang Tjetje, dan Kang Yayat Hendayana yang berkait dengan sejumlah naskah yang
dimainkan mereka.
Saat
itu, nama Kang Yoyon dan kehebatannya sebagai aktor masih berupa imaji dalam
benak saya. Lain halnya dengan Kang Tjetje dan Kang Yayat yang kemudian
mengalami perjumpaan langsung dengan saya sejak garapan "Lingkaran Kapur
Putih" karya Brecht tahun 1978. Sementara dengan Kang Yatna sudah lebih
awal karena beliau pun mengajar di jurusan teater, bahkan beliau pula yang
mengetes saya dan Yoyo C. Durachman untuk jadi mahasiswa.
Informasi
tambahan yang saya dapat ketika itu bahwa Kang Yoyon bekerja sebagai penyiar di
Radio Mara.
Atas
informasi tersebut serta magnet "kekaguman yang masih dalam imaji,"
mendorong saya untuk melacak gelombang Radio Mara. Sejak awal mendengar Kang
Yoyon membawakan acara musik klasik, kekaguman pun kian bertambah. Dalam
siaran-siarannya, Kang Yoyon cenderung serius, tak hanya memutar lagu-lagu tapi
disertai "pengetahuan" tentang musik klasik. Saya yang saat itu
sedang gemar juga menulis artikel-artikel musik di Pikiran Rakyat lembaran
Minggu, tak ayal seperti 'memantek' jarum gelombang radio transistor saya di
frekuensi gelombang Radio Mara. Kian tak beranjak lagi sebab kemudian saya
kagum dan suka juga pada siaran-siaran Sonny Soeng untuk program musik jazz,
acara Rolling Stones yang dibawakan Mang Aben, acara The Beatles (lupa namanya,
yang jelas ia bukan bernama Indonesia), dan satu nama legendaris Gulia(?) yang
membawakan musil-musik populer Indonesia. Belakangan ditambah lagi dengan
adanya acara musik blues dari Hadi Pramono.
Sejak
itu, sesungguhnya besar sekali keinginan untuk jumpa Kang Yoyon yang tak bisa
dijumpai lagi di panggung teater kecuali bertandang ke Radio Mara.
**
KONTAK
awal saya dengan Radio Mara, itu justru dengan Sonny Soeng, khususnya kala ia
menyelenggarakan acara off air semisal menampilkan Indra Lesmana di Toko You
dan kemudian juga di rumah Harry Roesli. Berikutnya dengan Mang Aben (Benny
Fitriadi) sehubungan berjalannya gerakan-gerakan menolak breidel 1994, (lupa)
perjumpaannya di GIM, atau markas PMB, atau rumah Harry Roesli; tapi ini pula
yang kemudian "memasukan" saya ke Radio Mara untuk suatu wawancara.
Gelegak
menolak breidel kian panas, lagi saya diajak ke Radio Mara, dan saat inilah
saya dipertemukan oleh Mang Aben dengan Kang Yoyon oleh Mang Aben.
Diam-diam,
jika dihitung dari semasa kuliah (1978) hingga masa breidel (1994), kiranya
kerinduan ingin jumpa itu sempat terpendam tak kurang dari 16 tahun.
Saat
dipertemukan, Kang Yoyon tengah duduk di kursi panjang ruang belakang Radio
Mara. Ia duduk dengan sebelah kaki menjuntai menginjak lantai, sebelahnya lagi
terangkat di bantalan kursi, sebelah tangan menopang di lutut, dan di ujung
kedua jarinya terjepit sebatang rokok.
"Saha
ieu?" Tanyanya tanpa beranjak.
Saya
menyalami sambil memperkenalkan diri. Semula merasa ada gelagat Kang Yoyon ini
angkuh, buktinya tak beringsut sedikitpun saat sapaan awal hingga salam
perkenalan.
WAKTU pertemuan awal itu sangat singkat karena saya sendiri harus masuk studio untuk sebuah wawancara.
Dalam
kesingkatan waktu tersebut, saya mencoba mengakrabkan diri dengan menempatkan
diri sebagai orang teater kemudian menyanjung-sanjung Kang Yoyon berdasar
informasi-informasi Pa' Saini seperti telah diurai di atas.
Di
luar dugaan, Kang Yoyon malah kelihatan gelisah, ada rona berang yang ditahan,
pendeknya kelihatan tak suka ketika bicara teater.
"Teater
geus poho ka saya..." Itu yang paling terngiang-ngiang di ingatan.
Luar
biasa penasaran tapi jam masuk studio sudah tiba. Tak ayal obrolan pun
terputus. Usai wawancara Kang Yoyon seperti menghindar dan diketahui
pula itu menjelang jam siaran Kang Yoyon, artinya harus menyiapkan materi
siaran.
Saya
akhirnya meninggalkan Radio Mara dengan masygul bergulung penasaran. Apa
sesungguhnya yang terjadi pada aktor hebat tapi terkesan tak mau lagi bicara
teater itu?
Pertanyaan
tersebut berdengung-dengung. Bagusnya program-program menyoal breidel terus
berlanjut, bahkan bersambung dengan "pemanasan" Reformasi. Saya kian
sering diundang ke Radio Mara, pembicaraan pun melebar antara seni dan politik.
Itulah saatnya berkali-kali juga "bicara" bersama Mamannoor dan
kemudian juga Bambang Subarnas. Salasatu diantaranya, kami sempat juga
mengundang sang pembuat logo Reformasi, lupa namanya, ia waktu itu masih kuliah
di FSRD ITB. Rasanya (ini benar-benar harus diricek) hadir juga Gustaff Hariman
Iskandar yang masih suka salah-salah ketika saya menyebut namanya menjadi
Gustaff Hariman Siregar.
Karena
seringnya ke Mara, kian besar pula kesempatan saya untuk ngobrol dengan Kang
Yoyon, khususnya dalam keperluan membongkar kepenasaran di atas.
Pada
awal-awalnya masih juga seperti enggan, merasa dilupakan, bahkan seperti
terbuang. Pusarannya pada pernyataan: "Teater tidak mau ngajak lagi saya
main."
Belakangan,
modal saya untuk melakukan "pendekatan teater" kepada Kang Yoyon pun
sudah kian bertambah. Pemasok modalnya adalah istri saya sendiri, Ine Arini, ia
antara lain pernah bercerita bahwa Kang Yoyon itu pernah "kerja"
dengan Wa Aun Harun saat mengurus percetakan CV Tjitalang.
Info
tersebut betul-betul saya jadikan modal. Ternyata jitu. Impresi Kang Yoyon yang
angkuh serta sedang "marah" kepada teater, itu segera sirna. Cair,
begitu akrab. Sejatinya Kang Yoyon yang penuh dengan limpahan rasa
persaudaraan, itu jadi ngagolontor tanpa penghalang lagi. Sebagai sedikit tanda
saja, Kang Yoyon kerap memanggil istri saya itu bukan dengan namanya melainkan
"eh, alona Aun atau alona Utuy," karena Utuy T Sontani itu bersaudara
dan pernah tinggal di rumah Wa Aun, demikian juga Kang Yoyon. Sementara dari
sisi lain Wa Aun, yaitu Wa Juju, adalah Hendra Gunawan, tapi itu bagian dari
cerita lain.
Pertemuan
dengan Kang Yoyon jadi kian sering. Sesekali sambil minum bir bersama meski tak
ada hubungannya lagi dengan siaran Mara. Celah untuk "mengorek" kian
lebar.
Usut
punya usut dan singkatnya saja, tafsir saya (sekali lagi ini "tafsir"
sebab sejatinya Kang Yoyon dalam hal ini tak pernah 'togmol" melainkan
berliku) "kemarahan" Kang Yoyon kepada teater itu semacam kamuflase
untuk "menutup" hal yang sebenarnya.
Yang
ia sembunyikan itu adalah cintanya kepada salaseorang aktris STB, namun kandas
karena ybs menikah dengan orang lain. Kang Yoyon patah hati, lari, sehingga tak
mau lagi menghampiri teater kecuali tenggelam sebagai penyiar radio dan bir.
Tapi, mungkin (ya, lagi, kata "mungkin" digunakan sebagai penegas
tafsir) ia tak mau kelihatan cengeng maka yang keluar adalah seolah-olah marah.
Bahkan, dari sejumlah obrolan yang berliku itu, saya menafsir rasa cinta Kang
Yoyon itu sesungguhnya tidak/belum pernah disampaikan secara langsung kepada
ybs, melainkan dipendam dalam angan-angan.
Hal
semacam ini (meski tak sama dan tak sebangun), ajaibya pernah pula saya temukan
kecenderungannya pada Kang Rustandi Kartakusuma dan Wing Kardjo.
Ya,
perasaan cinta itu tak pernah dinyatakan langsung melainkan dibiarkan tumbuh di
dalam imaji, yang kemudian menjadi puisi.
Alkisah,
tibalah pada munculnya keinginan aktor/sutradara muda, Irwan Guntari, yang
hendak membentuk kelompok teater dan mementaskan sebuah naskah. Kelompoknya itu
kelak bernama Teater Alibi, naskah pertama yang dipentaskan adalah "Nafsu
di Bawah Pohon Elm" (Eugene O'Neil) 1996.
Saya
diikutkan pada tahap pembahasan naskah. Ringkasnya lagi, tibalah pada
kesimpulan untuk mementaskan drama tersebut butuh aktor yang sudah matang.
Irwan menyebut sejumlah nama di ruang lingkup ASTI, saya diam meski mengakui
juga yang disebut Irwan itu adalah aktor-aktor bagus.
Karena
saya bergeming, Irwan pun bertanya: "Saha atuhnya, Kang?"
"Kang
Yoyon," jawab saya tanpa ditambahi embel-embel lain.
"Tahhhhh,"
ungkap Irwan, "tapi Kang Herr lah yang ngajaknya..."
PENULISAN "tah" dengan suara panjang atau dengan "5h" atas ungkapan Irwan Guntari, itu memang demikian adanya. Sekaligus sebagai penunjuk bahwa pra-kemunculannya kembali, nama Kang Yoyon itu sudah sangat dikenal oleh kawan-kawan.
Namun,
baik generasi Irwan dan tak terkecuali generasi saya, itu sesungguhnya tak
pernah melihat/nonton penampilan Kang Yoyon. Ya, nama itu tumbuh sebagaimana
legenda.
Itu
hampir sama dengan ketika "mendengar" nama Suyatna Anirun sebagai
aktor. Narasi dan cerita-ceritanya sudah banyak kami dengar, tapi tak pernah
menyaksikan bagaimana Kang Yatna tampil memainkan suatu peran.
Maka
ketika Kang Yatna kembali naik panggung memerankan Raja Lear pada 1987, itu
terasa seperti hadiah yang jatuh dari langit dan/atau seperti air suci bening
yang menghilangkan dahaga berkepanjangan. Singkatnya, saya yang semula begitu
kagum pada "Ran" Kurosawa, mendapatkan titik penyeimbang yang setara
ketika melihat Kang Yatna memainkan Lear, dan "haduh" tubuh kecil
Godi Suwarna yang menjadi Badut pendamping Lear, sungguh selalu terbayang
keasyikannya hingga kini.
Bunyi
"tahhhhh" Irwan Guntari, itu kira-kira sama dengan pengharapan banyak
kawan ketika menunggu-tunggu tampilnya Kang Yatna di panggung.
Disebabkan
permintaan Irwan itu pun adalah harapan saya, maka permintaannya agar saya
menghubungi Kang Yoyon pun saya sanggupi.
Tiba
lah kedatangan saya kembali ke Mara dalam misi "ngolo" Kang Yoyon.
Kali
ini segalanya sudah serba ringan mengingat ruang ngobrol & bir sudah
terbuka lebar. Namun kala hendak menyampaikan yang dimaksud, lumayan keringatan
(dingin), sambil ngobrol cari-cari akal, kata jadi berlika-liku, malapah
gedang... hingga akhirnya dan ringkasnya saja: "Kang Yon, ayo mainlah
lagi... kawan-kawan muda sungguh berharap, jangan pendam ilmu Kang Yoyon itu,
turunkanlah kepada kawan muda yang sedang semangat-semangatnya... harapan itu
juga terlontar dari Jajang C. Noer yang mau juga main..."
"Hah,
Si Jajang milu maen... cik engke sayah ningali heula naskahna," potong
Kang Yoyon.
Dalam
hati saya mengumpat "sialan," maksudnya umpatan kegirangan sekaligus
umpatan untuk diri sendiri: "kenapa harus ngomong berlika-liku, tahu
begitu ya langsung saja bilang bahwa kelak Kang Yoyon mainnya bersama Jajang C.
Noer..."
Hmmm,
berikut ini adalah tafsir yang sangat mungkin salah, pun bukan tafsir yang
muncul saat ajakan itu disampaikan sebab waktu Kang Yoyon menyampaikan sinyal
"ya," itu tak ada tafsir-tafsiran, yang ada hanya satu yaitu
kegirangan selebihnya adalah kehendak untuk segera menyampaikan kabar kepada
Irwan Guntari.
Tafsir
itu muncul atas pertanyaan: "Mengapa nyatanya begitu
mudah?" Berjalan melewati sejumlah tahun dan beberapa
pertunjukkan drama yang melibatkan Kang Yoyon.
"Karena
Jajang itu perempuan," jawab saya atas pertanyaan sendiri. Itu di satu
sisi saya lihat seperti obat penawar yang jitu atas kepatah-hatiannya dulu.
Sisi tafsir lainnya, ya, ada semacam benih cinta yang kembali tumbuh.
Tapi,
tunggu dulu, meski berkait dengan ihwal lelaki-perempuan, saya tak melihat
adanya unsur libidinal. Entah jika pada Kang Yoyon muda dulu, tapi dalam
kaitnya dengan Jajang C. Noer lebih berkenaan dengan perempuan panggung. Gairah
atau passion-nya itu seperti ketika Kang Yoyon sendiri menyebut Tuti Indra
Malaon dan nama perempuan pelaku seni peran lainnya di film "Pacar
Ketinggalan Kereta" (Teguh Karya atau Steve Lim jika mengikuti pelafalan
Kang Yoyon).
Demikianlah,
Kang Yoyon akhirnya bangkit kembali ikut garapan drama "Nafsu di Bawah
Pohon Elm's (Eugene O'Neil) yang dipentaskan tahun 1996, memerankan tokoh Cabot
bersama Teater Alibi dengan sutradara Irwan Guntari.
Pada
masa awal proses latihan tahap 'reading,' saya masih sempat mengikuti beberapa
kali di rumah kontrakannya Jajang C. Noer di kawasan kompleks wartawan di
Buahbatu. Namun tak bisa ikut lagi, bahkan sampai berlangsungnya pentas tak
bisa ikut menyaksikan. Jika tak salah, saya 'riweuh' ngurus persiapan dan
pameran "Art Across the Oceans '96" di Copenhagen.
Setelah
itu, 1997, Kang Yoyon masih ikut produksi Teater Alibi, memainkan lakon
"Buku Harian Bajingan Tengik (Alexander Ostrovski). Lagi-lagi saya absen
karena sedang 'riweuh-riweuh'nya melanjutkan aksi anti-breidel, berlanjut ke
'pemanasan' Reformasi, dan terutama Bandung Peduli bersama Harry Roesli.
Pertemuan
yang lebih kerap lagi baru terjadi ketika Actors Unlimited diberdirikan beserta
sejumlah pementasannya.
Pada
masa inilah saya melihat passion 'cinta' Kang Yoyon itu sudah betul-betul lepas
dari cinta lelaki-perempun (panggung), ya hanya tinggal cintanya kepada
panggung teater.
Keaktorannya
di panggung teater, telah diurai dengan sangat bagus oleh Fathul A. Husein
seperti yang disiarkan Majalah Tempo.
Al Fatihah untuk Kang Yoyon.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar