Rabu, 27 Oktober 2021

Kang Yoyon

Catatan Herry Dim
 

NAMA Kang Yoyon, Mohamad Sunjaya, itu pertama saya dengar ketika mengikuti perkuliahan dari Pa' Saini KM sekira tahun-tahun 1978an. Khususnya ketika mengurai kehebatan Jim Lim, tentu berkait juga dengan sang guru yaitu Suyatna Anirun, Pa' Saini KM hampir selalu menyebut nama Yoyon. Tak sekali saya dengar uraiannya itu berkenaan dengan perawakan.

"Yoyon itu mirip sekali Jim Lim, kurus dan kecil," kata Pa' Saini KM demi membedakannya dengan Suyatna Anirun yang terhitung 'dedeg' atau tinggi besar. Disebutnya juga nama Aris Permana, yang perawakannya nyaris sama dengan Kang Yatna. Kang Aris, demikian panggilan kami, adalah anggota Teater Perintis asuhan Jim Lim, yang tak pernah mau ikut gabung dengan STB hingga meninggalnya. Bekerja sebagai karyawan GK Rumentang Siang bersama Kang Tjetje Raksa dan Kang Engkos (Koswara) sejak awal didirikan oleh Pa' Endang Rusma, sebagai tambahan ia bersama ayahnya membuka bengkel kamera foto di rumahnya.

"Bedanya Yoyon itu lebih kasep," tambah Pa' Saini ketika berikutnya membandingkannya dengan Jim Lim yang kemudian berlanjut pada penceritaan keaktorannya.

"Yoyon itu aktor bagus," urai Pa' Saini yang kemudian menyebut pula Kang Yatna, Kang Tjetje, dan Kang Yayat Hendayana yang berkait dengan sejumlah naskah yang dimainkan mereka.

Saat itu, nama Kang Yoyon dan kehebatannya sebagai aktor masih berupa imaji dalam benak saya. Lain halnya dengan Kang Tjetje dan Kang Yayat yang kemudian mengalami perjumpaan langsung dengan saya sejak garapan "Lingkaran Kapur Putih" karya Brecht tahun 1978. Sementara dengan Kang Yatna sudah lebih awal karena beliau pun mengajar di jurusan teater, bahkan beliau pula yang mengetes saya dan Yoyo C. Durachman untuk jadi mahasiswa.

Informasi tambahan yang saya dapat ketika itu bahwa Kang Yoyon bekerja sebagai penyiar di Radio Mara.

Atas informasi tersebut serta magnet "kekaguman yang masih dalam imaji," mendorong saya untuk melacak gelombang Radio Mara. Sejak awal mendengar Kang Yoyon membawakan acara musik klasik, kekaguman pun kian bertambah. Dalam siaran-siarannya, Kang Yoyon cenderung serius, tak hanya memutar lagu-lagu tapi disertai "pengetahuan" tentang musik klasik. Saya yang saat itu sedang gemar juga menulis artikel-artikel musik di Pikiran Rakyat lembaran Minggu, tak ayal seperti 'memantek' jarum gelombang radio transistor saya di frekuensi gelombang Radio Mara. Kian tak beranjak lagi sebab kemudian saya kagum dan suka juga pada siaran-siaran Sonny Soeng untuk program musik jazz, acara Rolling Stones yang dibawakan Mang Aben, acara The Beatles (lupa namanya, yang jelas ia bukan bernama Indonesia), dan satu nama legendaris Gulia(?) yang membawakan musil-musik populer Indonesia. Belakangan ditambah lagi dengan adanya acara musik blues dari Hadi Pramono.

Sejak itu, sesungguhnya besar sekali keinginan untuk jumpa Kang Yoyon yang tak bisa dijumpai lagi di panggung teater kecuali bertandang ke Radio Mara.

**

KONTAK awal saya dengan Radio Mara, itu justru dengan Sonny Soeng, khususnya kala ia menyelenggarakan acara off air semisal menampilkan Indra Lesmana di Toko You dan kemudian juga di rumah Harry Roesli. Berikutnya dengan Mang Aben (Benny Fitriadi) sehubungan berjalannya gerakan-gerakan menolak breidel 1994, (lupa) perjumpaannya di GIM, atau markas PMB, atau rumah Harry Roesli; tapi ini pula yang kemudian "memasukan" saya ke Radio Mara untuk suatu wawancara.

Gelegak menolak breidel kian panas, lagi saya diajak ke Radio Mara, dan saat inilah saya dipertemukan oleh Mang Aben dengan Kang Yoyon oleh Mang Aben.

Diam-diam, jika dihitung dari semasa kuliah (1978) hingga masa breidel (1994), kiranya kerinduan ingin jumpa itu sempat terpendam tak kurang dari 16 tahun.

Saat dipertemukan, Kang Yoyon tengah duduk di kursi panjang ruang belakang Radio Mara. Ia duduk dengan sebelah kaki menjuntai menginjak lantai, sebelahnya lagi terangkat di bantalan kursi, sebelah tangan menopang di lutut, dan di ujung kedua jarinya terjepit sebatang rokok.

"Saha ieu?" Tanyanya tanpa beranjak.

Saya menyalami sambil memperkenalkan diri. Semula merasa ada gelagat Kang Yoyon ini angkuh, buktinya tak beringsut sedikitpun saat sapaan awal hingga salam perkenalan.

 **

WAKTU pertemuan awal itu sangat singkat karena saya sendiri harus masuk studio untuk sebuah wawancara.

Dalam kesingkatan waktu tersebut, saya mencoba mengakrabkan diri dengan menempatkan diri sebagai orang teater kemudian menyanjung-sanjung Kang Yoyon berdasar informasi-informasi Pa' Saini seperti telah diurai di atas.

Di luar dugaan, Kang Yoyon malah kelihatan gelisah, ada rona berang yang ditahan, pendeknya kelihatan tak suka ketika bicara teater.

"Teater geus poho ka saya..." Itu yang paling terngiang-ngiang di ingatan.

Luar biasa penasaran tapi jam masuk studio sudah tiba. Tak ayal obrolan pun terputus. Usai wawancara Kang Yoyon  seperti menghindar dan diketahui pula itu menjelang jam siaran Kang Yoyon, artinya harus menyiapkan materi siaran.

Saya akhirnya meninggalkan Radio Mara dengan masygul bergulung penasaran. Apa sesungguhnya yang terjadi pada aktor hebat tapi terkesan tak mau lagi bicara teater itu?

Pertanyaan tersebut berdengung-dengung. Bagusnya program-program menyoal breidel terus berlanjut, bahkan bersambung dengan "pemanasan" Reformasi. Saya kian sering diundang ke Radio Mara, pembicaraan pun melebar antara seni dan politik. Itulah saatnya berkali-kali juga "bicara" bersama Mamannoor dan kemudian juga Bambang Subarnas. Salasatu diantaranya, kami sempat juga mengundang sang pembuat logo Reformasi, lupa namanya, ia waktu itu masih kuliah di FSRD ITB. Rasanya (ini benar-benar harus diricek) hadir juga Gustaff Hariman Iskandar yang masih suka salah-salah ketika saya menyebut namanya menjadi Gustaff Hariman Siregar.

Karena seringnya ke Mara, kian besar pula kesempatan saya untuk ngobrol dengan Kang Yoyon, khususnya dalam keperluan membongkar kepenasaran di atas.

Pada awal-awalnya masih juga seperti enggan, merasa dilupakan, bahkan seperti terbuang. Pusarannya pada pernyataan: "Teater tidak mau ngajak lagi saya main."

Belakangan, modal saya untuk melakukan "pendekatan teater" kepada Kang Yoyon pun sudah kian bertambah. Pemasok modalnya adalah istri saya sendiri, Ine Arini, ia antara lain pernah bercerita bahwa Kang Yoyon itu pernah "kerja" dengan Wa Aun Harun saat mengurus percetakan CV Tjitalang.

Info tersebut betul-betul saya jadikan modal. Ternyata jitu. Impresi Kang Yoyon yang angkuh serta sedang "marah" kepada teater, itu segera sirna. Cair, begitu akrab. Sejatinya Kang Yoyon yang penuh dengan limpahan rasa persaudaraan, itu jadi ngagolontor tanpa penghalang lagi. Sebagai sedikit tanda saja, Kang Yoyon kerap memanggil istri saya itu bukan dengan namanya melainkan "eh, alona Aun atau alona Utuy," karena Utuy T Sontani itu bersaudara dan pernah tinggal di rumah Wa Aun, demikian juga Kang Yoyon. Sementara dari sisi lain Wa Aun, yaitu Wa Juju, adalah Hendra Gunawan, tapi itu bagian dari cerita lain.

Pertemuan dengan Kang Yoyon jadi kian sering. Sesekali sambil minum bir bersama meski tak ada hubungannya lagi dengan siaran Mara. Celah untuk "mengorek" kian lebar.

Usut punya usut dan singkatnya saja, tafsir saya (sekali lagi ini "tafsir" sebab sejatinya Kang Yoyon dalam hal ini tak pernah 'togmol" melainkan berliku) "kemarahan" Kang Yoyon kepada teater itu semacam kamuflase untuk "menutup" hal yang sebenarnya.

Yang ia sembunyikan itu adalah cintanya kepada salaseorang aktris STB, namun kandas karena ybs menikah dengan orang lain. Kang Yoyon patah hati, lari, sehingga tak mau lagi menghampiri teater kecuali tenggelam sebagai penyiar radio dan bir. Tapi, mungkin (ya, lagi, kata "mungkin" digunakan sebagai penegas tafsir) ia tak mau kelihatan cengeng maka yang keluar adalah seolah-olah marah. Bahkan, dari sejumlah obrolan yang berliku itu, saya menafsir rasa cinta Kang Yoyon itu sesungguhnya tidak/belum pernah disampaikan secara langsung kepada ybs, melainkan dipendam dalam angan-angan.

Hal semacam ini (meski tak sama dan tak sebangun), ajaibya pernah pula saya temukan kecenderungannya pada Kang Rustandi Kartakusuma dan Wing Kardjo.

Ya, perasaan cinta itu tak pernah dinyatakan langsung melainkan dibiarkan tumbuh di dalam imaji, yang kemudian menjadi puisi.

Alkisah, tibalah pada munculnya keinginan aktor/sutradara muda, Irwan Guntari, yang hendak membentuk kelompok teater dan mementaskan sebuah naskah. Kelompoknya itu kelak bernama Teater Alibi, naskah pertama yang dipentaskan adalah "Nafsu di Bawah Pohon Elm" (Eugene O'Neil) 1996.

Saya diikutkan pada tahap pembahasan naskah. Ringkasnya lagi, tibalah pada kesimpulan untuk mementaskan drama tersebut butuh aktor yang sudah matang. Irwan menyebut sejumlah nama di ruang lingkup ASTI, saya diam meski mengakui juga yang disebut Irwan itu adalah aktor-aktor bagus.

Karena saya bergeming, Irwan pun bertanya: "Saha atuhnya, Kang?"

"Kang Yoyon," jawab saya tanpa ditambahi embel-embel lain.

"Tahhhhh," ungkap Irwan, "tapi Kang Herr lah yang ngajaknya..."

 **

PENULISAN "tah" dengan suara panjang atau dengan "5h" atas ungkapan Irwan Guntari, itu memang demikian adanya. Sekaligus sebagai penunjuk bahwa pra-kemunculannya kembali, nama Kang Yoyon itu sudah sangat dikenal oleh kawan-kawan.

Namun, baik generasi Irwan dan tak terkecuali generasi saya, itu sesungguhnya tak pernah melihat/nonton penampilan Kang Yoyon. Ya, nama itu tumbuh sebagaimana legenda.

Itu hampir sama dengan ketika "mendengar" nama Suyatna Anirun sebagai aktor. Narasi dan cerita-ceritanya sudah banyak kami dengar, tapi tak pernah menyaksikan bagaimana Kang Yatna tampil memainkan suatu peran.

Maka ketika Kang Yatna kembali naik panggung memerankan Raja Lear pada 1987, itu terasa seperti hadiah yang jatuh dari langit dan/atau seperti air suci bening yang menghilangkan dahaga berkepanjangan. Singkatnya, saya yang semula begitu kagum pada "Ran" Kurosawa, mendapatkan titik penyeimbang yang setara ketika melihat Kang Yatna memainkan Lear, dan "haduh" tubuh kecil Godi Suwarna yang menjadi Badut pendamping Lear, sungguh selalu terbayang keasyikannya hingga kini.

Bunyi "tahhhhh" Irwan Guntari, itu kira-kira sama dengan pengharapan banyak kawan ketika menunggu-tunggu tampilnya Kang Yatna di panggung.

Disebabkan permintaan Irwan itu pun adalah harapan saya, maka permintaannya agar saya menghubungi Kang Yoyon pun saya sanggupi.

Tiba lah kedatangan saya kembali ke Mara dalam misi "ngolo" Kang Yoyon.

Kali ini segalanya sudah serba ringan mengingat ruang ngobrol & bir sudah terbuka lebar. Namun kala hendak menyampaikan yang dimaksud, lumayan keringatan (dingin), sambil ngobrol cari-cari akal, kata jadi berlika-liku, malapah gedang... hingga akhirnya dan ringkasnya saja: "Kang Yon, ayo mainlah lagi... kawan-kawan muda sungguh berharap, jangan pendam ilmu Kang Yoyon itu, turunkanlah kepada kawan muda yang sedang semangat-semangatnya... harapan itu juga terlontar dari Jajang C. Noer yang mau juga main..."

"Hah, Si Jajang milu maen... cik engke sayah ningali heula naskahna," potong Kang Yoyon.

Dalam hati saya mengumpat "sialan," maksudnya umpatan kegirangan sekaligus umpatan untuk diri sendiri: "kenapa harus ngomong berlika-liku, tahu begitu ya langsung saja bilang bahwa kelak Kang Yoyon mainnya bersama Jajang C. Noer..."

Hmmm, berikut ini adalah tafsir yang sangat mungkin salah, pun bukan tafsir yang muncul saat ajakan itu disampaikan sebab waktu Kang Yoyon menyampaikan sinyal "ya," itu tak ada tafsir-tafsiran, yang ada hanya satu yaitu kegirangan selebihnya adalah kehendak untuk segera menyampaikan kabar kepada Irwan Guntari.

Tafsir itu muncul atas pertanyaan: "Mengapa nyatanya begitu mudah?"  Berjalan melewati sejumlah tahun dan beberapa pertunjukkan drama yang melibatkan Kang Yoyon.

"Karena Jajang itu perempuan," jawab saya atas pertanyaan sendiri. Itu di satu sisi saya lihat seperti obat penawar yang jitu atas kepatah-hatiannya dulu. Sisi tafsir lainnya, ya, ada semacam benih cinta yang kembali tumbuh.

Tapi, tunggu dulu, meski berkait dengan ihwal lelaki-perempuan, saya tak melihat adanya unsur libidinal. Entah jika pada Kang Yoyon muda dulu, tapi dalam kaitnya dengan Jajang C. Noer lebih berkenaan dengan perempuan panggung. Gairah atau passion-nya itu seperti ketika Kang Yoyon sendiri menyebut Tuti Indra Malaon dan nama perempuan pelaku seni peran lainnya di film "Pacar Ketinggalan Kereta" (Teguh Karya atau Steve Lim jika mengikuti pelafalan Kang Yoyon).

Demikianlah, Kang Yoyon akhirnya bangkit kembali ikut garapan drama "Nafsu di Bawah Pohon Elm's (Eugene O'Neil) yang dipentaskan tahun 1996, memerankan tokoh Cabot bersama Teater Alibi dengan sutradara Irwan Guntari.

Pada masa awal proses latihan tahap 'reading,' saya masih sempat mengikuti beberapa kali di rumah kontrakannya Jajang C. Noer di kawasan kompleks wartawan di Buahbatu. Namun tak bisa ikut lagi, bahkan sampai berlangsungnya pentas tak bisa ikut menyaksikan. Jika tak salah, saya 'riweuh' ngurus persiapan dan pameran "Art Across the Oceans '96" di Copenhagen.

Setelah itu, 1997, Kang Yoyon masih ikut produksi Teater Alibi, memainkan lakon "Buku Harian Bajingan Tengik (Alexander Ostrovski). Lagi-lagi saya absen karena sedang 'riweuh-riweuh'nya melanjutkan aksi anti-breidel, berlanjut ke 'pemanasan' Reformasi, dan terutama Bandung Peduli bersama Harry Roesli.

Pertemuan yang lebih kerap lagi baru terjadi ketika Actors Unlimited diberdirikan beserta sejumlah pementasannya.

Pada masa inilah saya melihat passion 'cinta' Kang Yoyon itu sudah betul-betul lepas dari cinta lelaki-perempun (panggung), ya hanya tinggal cintanya kepada panggung teater.

Keaktorannya di panggung teater, telah diurai dengan sangat bagus oleh Fathul A. Husein seperti yang disiarkan Majalah Tempo.

Al Fatihah untuk Kang Yoyon.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar