Catatan Herry Dim
HOAX itu memiliki potensi yang bisa menyebabkan kekacauan, runtuhnya suatu bentuk pemerintahan, bubarnya suatu ikatan kebangsaan, bahkan perang saudara hingga kemungkinan perang yang meluas. Keadaan seperti itulah yang kemudian dikenal di dalam teori politik kontemporer dengan sebutan chaos politik.
Di
dalam teori chaos politik, yang pada dasarnya merujuk teori matematika dan ilmu
alam, antara lain adalah istilah efek kupu-kupu (butterfly effect). Teori kekacauan ini antara lain mengemukakan
bahwa perubahan kecil (tak linear)
pada satu tempat dapat mengakibatkan perubahan atau pun kekacauan besar di
tempat lain. Penggambaran Edward Norton Lorenz merujuk pada sebuah metafora
yang elok sekaligus mengerikan, bunyinya: "kepakan sayap kupu-kupu di
hutan belantara Brasil hari ini, dapat menghasilkan tornado di Texas dalam
beberapa bulan kemudian." Padanan "kepakan sayap kupu-kupu" di
dalam ilmu aslinya (matematika) dikenal dengan sebutan "penarik
perhatian" (attractor), kondisi
awal suatu sistem berupa susunan numerik yang bisa berkembang menjadi ragam
sistem lain yang lebih lebar/besar. .
Saya
bukan ahlinya dalam matematika apalagi matematika tingkat tinggi seperti itu,
maka segera melompat pada kenyataan bahwa teori tersebut akhir-akhir ini kerap dirujuk
dan diterapkan pada analisa sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan pada
umumnya. Atraktor di dalam politik, maaf,
saya cari penggambaran mudahnya saja, kita padankan dengan juru kampanye di
dalam kontes pemilu dan semacamnya. Sesungguhnya, dalam perilaku politik yang
normal, keberadaan atraktor ini wajar dan biasa-biasa saja, umumnya digunakan
untuk menggerakkan goyangan pendulum dari satu pilihan ke pilihan lainnya;
contoh sederhananya semisal penggunaan artis atau pesohor di dalam
kegiatan-kegiatan kampanye. Dengan catatan tambahan, juru kampanye atau
atraktor di sini adalah sosok yang teridentifikasi atau dikenali secara umum.
Tapi,
bukan tidak mungkin adanya pihak yang menghendaki politik menjadi tidak normal
alias kacau, pelaku atau atraktornya dibikin samar bahkan beridentitas palsu. Dan/atau
mereka yang relatif jelas identitasnya namun memainkan muatan atraksi yang
disamarkan, diplintir dari kebenaran
sejatinya, bisa pula berupa kebohongan hingga penggunaan kata-kata kasar yang
tidak patut diterakan pada manusia. Bisa pula dasarnya adalah fakta namun diplesetkan demi menimbulkan
ketidaksukaan/kebencian kepada pihak tertentu. Inilah yang kemudian kita kenal
dengan istilah hoax.
Waspada Terhadap Agenda Tersembunyi
PARA pelaku hoax berada di dalam dua kemungkinan. Pertama, mereka yang semata-mata berlandas emosional yang melempar hoax begitu saja, tujuannya asal ramai dan menimbulkan kegemparan. Kedua, adalah mereka yang menyadari bahwa hoax itu adalah atraktor serupa kepak sayap kupu-kupu yang bisa menjadi badai. Baik golongan 1 atau pun 2, itu sama-sama menggunakan alat produksi industri 3.0 yaitu telefon cerdas sekaligus dengan sadar bahwa “gelombang”nya kelak bisa mempengaruhi media konvensional, menyadi berita alias kian membesar, yang artinya mereka pun menyadari bahwa gabungan dari itu semua bisa mengubah “kepak sayap kupu-kupu” untuk menjadi gelombang besar, kehebohan, hingga daya untuk mempengaruhi sejumlah orang di luar sana yang kemudian ikut serta memperbesar gelombang hingga menjadi badai. Daya ini pula yang dimainkan di dalam hoax politik, seperti halnya yang kita rasakan berupa banjir hoax menjelang Pemilu 2019 saat ini.
Hitung-hitungan
awalnya relatif naif, hoax dibikin
demi menggiring opini publik menjadi tidak suka itu dan berpihak ke ini,
dan/atau dalam tujuan naif demi
pemenangan ini alias mengalahkan itu.
Para pelaku hoax politik yang naif
ini, entah, mungkin sadar atau tidak sadar bahwa lemparan hoax sekecil apapun,
itu sesungguhnya memiliki potensi menimbulkan badai dan kekacauan. Entah,
apakah mereka mimikirkan atau tidak bahwa impak hoax itu bisa membesar lantas
membentuk kekacuan pikir, terpelesetnya persepsi, kebingungan, dan kecemasan
yang meluas di tengah kehidupan masyarakat.
Yang
lebih mengerikan lagi manakala kepak sayap kupu-kupu itu sesungguhnya berada di
tempat jauh, mungkin pula sejatinya tidak kita kenali, ia tersembunyi di “rimba
raya,” tak tersentuh tapi di sebaliknya adalah agenda besar dalam bentuk desain
bahwa kekacauan itu memang dikehendaki dan diciptakan demi robohnya gerbang,
hancurnya tatanan suatu bangsa atau negara, kekacauan yang masif, hingga
kemungkinan peperangan. Itu artinya pedoman berbangsa dan bernegara dalam
bentuk undang-undang, hukum dan segenap aturan lainnya menjadi hancur dan/atau tidak
berlaku lagi sehingga agenda besar yang tersembunyi tadi bisa melenggang masuk
dan menggantikan keseluruhan sistem. Agenda besar yang tersembunyi ini bisa
saja menyelusup dengan berbagai cara ke dalam struktur bangunan bangsa/negara,
dan/atau dengan cerdik memanfaatkan para pembuat hoax yang naif tadi.
Kita
semua tentu tak menghendaki itu semua, melainkan tetap sebagai satu kesatuan
bangsa dan negara (NKRI). Kita telah menjadi “sebuah bangsa yang merdeka dan
berdaulat” seperti tersurat dalam butir pertama Trisakti yang dikemukakan oleh
Proklamator Soekarno di awal kemerdekaan Indonesia. Kita tentu tak akan pernah
rela jika bangsa dan negara ini menjadi hancur dan kemudian digantikan oleh
bentuk lain yang berasal dari antah-berantah.
Ke
arah tujuan untuk tetap menjaga dan mempertahankan NKRI dengan landasan
Trisakti Bung Karno, kiranya tak ada jalan lain; kita mesti menyatakan perang
terhadap hoax yang menebarkan kebencian dan berpotensi memecah belah atau
membuat kita jadi saling membenci. Kita mesti siaga untuk senantiasa mematikan setiap
kepak sayap-sayap hoax sejak anginnya belum membadai, dan itu mesti dimulai
dari diri kita masing-masing.
Sebagai
penutup catatan, perlu disampaikan bahwa ada sisi lain yang bersifat positif
dari teori chaos yang berlandas pada metafora “kepak sayap kupu-kupu” ini. Di
atas, memang, cenderung mengemukakan kengeriannya jika teori ini diarahkan ke
hal yang buruk agar kita faham dan siaga. Tapi di sisi lainnya dan lebih
khususnya saat kita memasuki masa Revolusi Industri 4.0, “teori kepak sayap kupu-kupu” sejatinya bisa
diarahkan pada kebaikan, kreativitas, industri kreatif, pemuliaan manusia.
Gelombang energi serta kemungkinan matematiknya tetaplah sama, jika ia
digunakan untuk kebaikan maka akan menghasilkan gelombang kebaikan yang besar
pula. Semoga.***
(Herry Dim, pekerja seni, pengamat kebudayaan, aktivis Bidang Revitalisasi Sumber Daya Alam di Odesa Indonesia, tinggal di Bandung)
: tulisan ini telah dimuat H.U. Pikiran Rakyat, Kamis, 21 Maret 2019, halaman 18.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar