Selasa, 02 November 2021

Kala Manusia Terpisah dari Alam: Bencana!

Pancaaksara guru-guruning janma. Pancaaksara byakta nu katongton kawreton, kacaksuh ku indriya. Guru ma pananyaan na urang reya, nya mana dingaranan guru ing janma, sang moha ma sa(ng) geusna aya bwana.

(Sanghiang Siksa Kandang Karesian, Atja/Saleh Danasasmita)



RAWATLAH ALAM MAKA ALAM MERAWAT KITA
Dalam foto adalah Yayan Hadian, Pemuda 23 penggerak pertanian Agroforestry. Setiap bulan ia membibit lebih 15.000 bibit pertanian dan menanam ribuan pohon bersama para petani di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. [FOTO: Odesa Indonesia]

LONGSOR, kini, menjadi bencana paling mematikan, sepanjang Januari-Oktober 2016 tercatat ada 1.853 bencana yang terjadi di Indonesia. Demikian seperti diberitakan Tribun Jabar, 31 Oktober 2016 di halaman 2. Dari jumlah bencana tersebut, ditegaskan 89 persen adalah bencana hidrometeorologi yaitu bencana akibat siklus meteorologi (cuaca) dengan siklus hidrologi (air) terutama di musim hujan.

Itu hanya salasatu saja dari sekian berita-berita sebelumnya dan berita di hari-hari berikutnya yang senantiasa berkabar tentang longsor, banjir, pergerakan atau amblasnya tanah di berbagai kawasan. Sementara longsor di Sumedang dan banjir di Garut dengan begitu banyak korban, itu masih mengambang dalam ingatan. Padahal, khususnya yang berkenaan dengan longsor, sesungguhnya gejala alam yang paling mungkin diantisipasi dini sehingga kemungkinannya bisa diperkecil bahkan mungkin sekali dihindari. Seperti yang telah kita ketahui, kejadian longsor di Sumedang, September 2016, di satu kawasan longsor itu saja mencakup lima kampung dan menelan korban jiwa juga. Berbagai sumber pun menyebutkan bahwa penyebab longsor Sumedang karena terjadinya alih fungsi lahan terutama di kawasan dengan kemiringan bahkan sampai 80 derajat. Data kecil itu saja sudah menjelaskan bahwa tak bisa lagi terjadi pembiaran alih fungsi lahan terutama di kawasan yang memiliki kemiringan cukup terjal.  

Berbeda misalnya dengan gempa (tektonik atau pun vulkanik) yang terjadi di kedalaman maka tidak ada jalan lain selain siaga ditambah pengetahuan dasar bagi publik agar tidak melahap korban, sementara longsor merupakan kejadian di permukaan tanah yang artinya bisa dikenali melalui sifat dan konturnya.

Lantas berbagai tudingan pun diarahkan kepada perubahan iklim global yang ekstrem. Tudingan itu tak salah, tapi jika tanpa pemahaman yang lengkap maka seolah-olah si iklim global itulah yang akan menjadi tertuduh, padahal benih atau asal-muasalnya justru karena terjadinya perubahan pada diri kita sendiri (manusia) dalam memperlakukan alam.

 

Ajaran Lama dan Kontemporer

PETIKAN pada awal tulisan di atas, berdasar terjemahan Atja/Saleh Danasasmita/Ma’mur Danasasmita adalah “Pancaaksara gurunya manusia. Pancaaksara itu kenyataan yang terlihat, terasa, dan tersaksikan oleh indera kita. Guru itu tempat bertanya orang banyak. Karena itu dinamakan guru manusia. Kebodohan itu baru ada setelah adanya dunia” (Ma’mur Danasasmita, Wacana Bahasa dan Sastra Sunda Lama, STSI Press, 2001). 

Tafsir Atja/Saleh Danasasmita/Ma’mur Danasasmita atas naskah kuno bertarikh tahun 1440 Saka atau 1518 Masehi tersebut antara lain: “Karenanya manusia melalui inderanya harus mengenali lingkungannya yakni pancabyapara dan pancadrebya dalam mengembangkan pengalaman dirinya. Pancabyapara merupakan lingkungan yang lima, meliputi pretiwi (tanah), apali (air), teja (cahaya), bayu (angin), dan angkasa (langit) [...] Pancadrebya (milik yang lima) ada pada diri manusia yaitu: kulit, darah-ludah, mata, tulang, dan kepala [...] manusia perlu dan berkewajiban mengenali lingkungan sekitarnya yang tak terbatas (makrokosmos) serta dalam dirinya sendiri yang terbatas (mikrokosmos) [dst].”

Ajaran di atas tegas menunjukan bahwa alam besar dan alam kecil (diri kita) itu tak terpisahkan, memelihara alam besar sama dengan memelihara diri sendiri, dan sebaliknya. Bahkan alam besar itu pun ditegaskan sebagai tempat kita (manusia) untuk berguru, ini mirip sekali dengan prinsip mimetik yang digariskan Aristoteles: ars simia naturae. Bedanya, pada Aristoteles dan kemudian penentangnya, Plato, antara alam dan manusia itu posisinya berhadap-hadapan (ontologis), sementara pada ajaran Siksa Kandang Karesian bersifat kosmologis (bersatunya mikro dan makrokosmos).

Kini, mari kita tanya diri kita sendiri: apakah masih seperti ajaran lama yaitu memelihara alam seperti halnya memelihara diri sendiri?

Jika melihat kenyataan kesemenaan-menaan perlakuan terhadap gawir (tebing), alih fungsi lahan di sepanjang sungai, membangun sembarang hunian di kawasan yang seharusnya menjadi penyangga alam, pembangunan perkotaan (bahkan kini sudah sampai pula ke pedesaan) dengan tanpa menyisakan “paru-paru” bagi sirkulasi udara dan ruang bagi perjalanan serta mengendapnya air; jelas menunjukan bahwa kita telah terpisah dan/atau memisahkan diri dari alam, bahkan cenderung memperlakukan alam itu sebagai benda mati yang boleh dieksploitasi dengan sakarep manusia. Alam telah dilukai maka sesungguhnya luka pula diri kita seperti dalam wujud banjir dan longsor itu. Ini sekaligus menunjukan bahwa “perubahan” itu pertama sekali terjadi pada diri kita sendiri yang kemudian mengubah keadaan alam.   

Pun kenyataan kontemporer dalam konteks global, seperti dilansir oleh situs Greenpeace bahwa perubahan iklim global merupakan malapetaka! Kita telah mengetahui sebabnya [...] sebagian dari akibat pemanasan global ini yaitu mencairnya tudung es di kutub, meningkatnya suhu lautan, kekeringan yang berkepanjangan, penyebaran wabah penyakit berbahaya, banjir besar-besaran, coral bleaching dan gelombang badai besar. Kita juga telah mengetahui siapa yang akan terkena dampak paling besar yaitu negara pesisir pantai, negara kepulauan, dan daerah negara yang kurang berkembang seperti Asia Tenggara.

Kiranya, tak ada jalan lain, umat manusia mesti kembali kepada kesadaran kosmologis. Itu bukan sekadar kita mesti belajar kembali kepada kearifan kuno, sebab teori-teori mutahir seputaran environmentalisme pun pada gilirannya mengajak manusia agar kembali bersatu bersama alam. Satu sama lain tidak saling-mencederai melainkan memelihara dan saling memberi kehidupan.

(Herry Dim, seniman, pengamat kebudayaan, eseis, tinggal di kota Bandung).***    

*

Dikirim ke Tribun Jabar, 2 November 2016, dimuat 3 November 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar