Pancaaksara guru-guruning janma. Pancaaksara byakta nu katongton kawreton, kacaksuh ku indriya. Guru ma pananyaan na urang reya, nya mana dingaranan guru ing janma, sang moha ma sa(ng) geusna aya bwana.
(Sanghiang
Siksa Kandang Karesian, Atja/Saleh Danasasmita)
| RAWATLAH ALAM MAKA ALAM MERAWAT KITA Dalam foto adalah Yayan Hadian, Pemuda 23 penggerak pertanian Agroforestry. Setiap bulan ia membibit lebih 15.000 bibit pertanian dan menanam ribuan pohon bersama para petani di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. [FOTO: Odesa Indonesia] |
LONGSOR, kini, menjadi bencana paling mematikan, sepanjang Januari-Oktober 2016 tercatat ada 1.853 bencana yang terjadi di Indonesia. Demikian seperti diberitakan Tribun Jabar, 31 Oktober 2016 di halaman 2. Dari jumlah bencana tersebut, ditegaskan 89 persen adalah bencana hidrometeorologi yaitu bencana akibat siklus meteorologi (cuaca) dengan siklus hidrologi (air) terutama di musim hujan.
Itu
hanya salasatu saja dari sekian berita-berita sebelumnya dan berita di
hari-hari berikutnya yang senantiasa berkabar tentang longsor, banjir,
pergerakan atau amblasnya tanah di berbagai kawasan. Sementara longsor di
Sumedang dan banjir di Garut dengan begitu banyak korban, itu masih mengambang
dalam ingatan. Padahal, khususnya yang berkenaan dengan longsor, sesungguhnya
gejala alam yang paling mungkin diantisipasi dini sehingga kemungkinannya bisa
diperkecil bahkan mungkin sekali dihindari. Seperti yang telah kita ketahui,
kejadian longsor di Sumedang, September 2016, di satu kawasan longsor itu saja
mencakup lima kampung dan menelan korban jiwa juga. Berbagai sumber pun
menyebutkan bahwa penyebab longsor Sumedang karena terjadinya alih fungsi lahan
terutama di kawasan dengan kemiringan bahkan sampai 80 derajat. Data kecil itu
saja sudah menjelaskan bahwa tak bisa lagi terjadi pembiaran alih fungsi lahan
terutama di kawasan yang memiliki kemiringan cukup terjal.
Berbeda
misalnya dengan gempa (tektonik atau pun vulkanik) yang terjadi di kedalaman
maka tidak ada jalan lain selain siaga ditambah pengetahuan dasar bagi publik
agar tidak melahap korban, sementara longsor merupakan kejadian di permukaan
tanah yang artinya bisa dikenali melalui sifat dan konturnya.
Lantas
berbagai tudingan pun diarahkan kepada perubahan iklim global yang ekstrem.
Tudingan itu tak salah, tapi jika tanpa pemahaman yang lengkap maka seolah-olah
si iklim global itulah yang akan menjadi tertuduh, padahal benih atau
asal-muasalnya justru karena terjadinya perubahan pada diri kita sendiri
(manusia) dalam memperlakukan alam.
Ajaran
Lama dan Kontemporer
PETIKAN pada awal tulisan di atas, berdasar terjemahan Atja/Saleh Danasasmita/Ma’mur Danasasmita adalah “Pancaaksara gurunya manusia. Pancaaksara itu kenyataan yang terlihat, terasa, dan tersaksikan oleh indera kita. Guru itu tempat bertanya orang banyak. Karena itu dinamakan guru manusia. Kebodohan itu baru ada setelah adanya dunia” (Ma’mur Danasasmita, Wacana Bahasa dan Sastra Sunda Lama, STSI Press, 2001).
Tafsir
Atja/Saleh Danasasmita/Ma’mur Danasasmita atas naskah kuno bertarikh tahun 1440
Saka atau 1518 Masehi tersebut antara lain: “Karenanya manusia melalui
inderanya harus mengenali lingkungannya yakni pancabyapara dan pancadrebya dalam
mengembangkan pengalaman dirinya. Pancabyapara merupakan lingkungan yang lima,
meliputi pretiwi (tanah), apali (air), teja
(cahaya), bayu (angin), dan angkasa (langit) [...] Pancadrebya (milik yang
lima) ada pada diri manusia yaitu: kulit, darah-ludah, mata, tulang, dan kepala
[...] manusia perlu dan berkewajiban mengenali lingkungan sekitarnya yang tak
terbatas (makrokosmos) serta dalam dirinya sendiri yang terbatas (mikrokosmos)
[dst].”
Ajaran
di atas tegas menunjukan bahwa alam besar dan alam kecil (diri kita) itu tak
terpisahkan, memelihara alam besar sama dengan memelihara diri sendiri, dan
sebaliknya. Bahkan alam besar itu pun ditegaskan sebagai tempat kita (manusia)
untuk berguru, ini mirip sekali dengan prinsip mimetik yang
digariskan Aristoteles: ars simia naturae. Bedanya, pada
Aristoteles dan kemudian penentangnya, Plato, antara alam dan manusia itu
posisinya berhadap-hadapan (ontologis), sementara pada ajaran Siksa
Kandang Karesian bersifat kosmologis (bersatunya mikro dan
makrokosmos).
Kini,
mari kita tanya diri kita sendiri: apakah masih seperti ajaran lama yaitu
memelihara alam seperti halnya memelihara diri sendiri?
Jika
melihat kenyataan kesemenaan-menaan perlakuan terhadap gawir (tebing),
alih fungsi lahan di sepanjang sungai, membangun sembarang hunian di kawasan yang
seharusnya menjadi penyangga alam, pembangunan perkotaan (bahkan kini sudah
sampai pula ke pedesaan) dengan tanpa menyisakan “paru-paru” bagi sirkulasi
udara dan ruang bagi perjalanan serta mengendapnya air; jelas menunjukan bahwa
kita telah terpisah dan/atau memisahkan diri dari alam, bahkan cenderung
memperlakukan alam itu sebagai benda mati yang boleh dieksploitasi dengan sakarep manusia.
Alam telah dilukai maka sesungguhnya luka pula diri kita seperti dalam wujud
banjir dan longsor itu. Ini sekaligus menunjukan bahwa “perubahan” itu pertama
sekali terjadi pada diri kita sendiri yang kemudian mengubah keadaan alam.
Pun
kenyataan kontemporer dalam konteks global, seperti dilansir oleh situs Greenpeace bahwa
perubahan iklim global merupakan malapetaka! Kita telah mengetahui sebabnya
[...] sebagian dari akibat pemanasan global ini yaitu mencairnya tudung es
di kutub, meningkatnya suhu lautan, kekeringan yang berkepanjangan, penyebaran
wabah penyakit berbahaya, banjir besar-besaran, coral bleaching dan
gelombang badai besar. Kita juga telah mengetahui siapa yang akan terkena
dampak paling besar yaitu negara pesisir pantai, negara kepulauan, dan daerah
negara yang kurang berkembang seperti Asia Tenggara.
Kiranya,
tak ada jalan lain, umat manusia mesti kembali kepada kesadaran kosmologis. Itu
bukan sekadar kita mesti belajar kembali kepada kearifan kuno, sebab
teori-teori mutahir seputaran environmentalisme pun pada gilirannya mengajak
manusia agar kembali bersatu bersama alam. Satu sama lain tidak
saling-mencederai melainkan memelihara dan saling memberi kehidupan.
(Herry Dim, seniman, pengamat kebudayaan, eseis, tinggal di kota Bandung).***
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar