Selasa, 02 November 2021

Cosmogony Peduli Lingkungan

SEHUBUNGAN dengan serial karya Cosmogony, Prof. Jakob Sumardjo melakukan telaah estetik, kosmologi, dan kajian filsafat (tulisan lengkapnya bisa dibaca pada bagian lain blog ini).

Namun di luar bahasan Prof. Jakob Sumardjo, suatu ketika Herry Dim bertanya-tanya sendiri: bagaimana kiranya seniman agar bisa ambil bagian di dalam perkara pemanasan global, penebangan hutan (deforestasi), dan perkara lingkungan hidup pada umumnya yang kian menjadi masalah kontemporer?

Cukup banyak pilihan bagi kemungkinan kepedulian terhadap masalah tersebut. Cosmogony sendiri, setelah menjalani masa uji-coba ke arah kemungkinan daur-ulang sampah plastik, akhirnya memutuskan untuk fokus kepada kemungkinan daur-ulang sampah kertas.

Sampah kertas koran dan bekas karung semen dijadikan bahan dasar pembuatan karya Cosmogony.*


Kertas dan Problem Deforestasi

Data dari berbagai lembaga lingkungan hidup menyebutkan kisaran kebutuhan untuk setiap 15 rim kertas ukuran A4 itu mesti menebang 1 pohon. Sementara setiap 7.000 eksemplar koran yang kita baca setiap hari itu akan menghabiskan 10-17 pohon hutan. Jika satu penerbitan surat kabar itu katakanlah setiap harinya mencetak 140.000 eksemplar saja, maka penerbit tersebut ikut mengambil tak kurang dari 200 - 340 pohon per hari. Dalam sebulan, jumlah cetaknya menjadi 4.200.000 eks. atau setara dengan 6.000 - 10.200 pohon.
Jika kita melakukan hitung-hitungan berdasarkan angka terkecil saja, kita patok bahwa kebutuhannya itu 6.000 pohon saja, dan jika jarak ideal pertumbuhan antar-pohon itu sekira 2 meter, maka tiap bulan sekira 1.500 m2 hutan harus dideforestasi.
Angka-angka di atas, tentu, akan lebih mencengangkan jika dihitung berdadarkan tiras koran yang lebih besar lagi. Sebuah terbitan koran nasional, misalnya, mencetak tak kurang dari 500.000 eks. per hari. Akan didapat pula angkaangka yang tak terbayangkan jika kita menghitung berdasar jumlah penerbitan regional, nasional, dan dunia.


Herry Dim melatih Cecep yang sehariharinya bekerja sebagai penarik becak untuk mampu mengerjakan Cosmogony dengan memanfaatkan sampah kertas.*


Kertas dan Kebudayaan

Catatan atau hitung-hitungan di atas, tentu, bukan di dalam kepentingan untuk mengambil sikap antipenggunaan kertas. Ditemukannya kertas dan teknik tulis di dalam kebudayaan dan peradaban umat manusia, bagaimana pun, itu sangat menentukan perkembangan lainnya. Apapun yang dicapai peradaban dan kebudayaan manusia saat ini, niscaya tak lepas bahkan bisa dikatakan bermula dari ditemukannya ilmu dan teknologi tulis serta kertas di sisi lainnya. Yang diperlukan, kiranya, adalah gagasan-gagasan dan upaya praxis daur-ulang terhadap bekas/sampah hasil industri apapun yang menggunakan kertas.
Upaya-upaya yang muncul itu boleh jadi sangat kecil jika dibanding dengan pangkal soal dan keseluruhan kenyataannya. Tapi, jika yang kecil-kecil ini terus tumbuh dan bisa berjalan; maka bukan tidak mungkin akan mengurangi lajunya penebangan hutan.
Demikian halnya dengan karya serial Cosmogony, tentu, tak akan pernah mampu untuk bisa menyelesaikan perkara yang berkenaan dengan penggunaan kertas dan penebangan hutan. Seperti umumnya karya seni, Cosmogony pun (mungkin) hanya mampu menjadi penanda, celah pembuka gagas, tempat lalu-lintas pertukaran pikiran, atau terkadang menjadi semacam kata kunci (password) agar bisa memasuki ruang yang lebih luas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar