Oleh: Herry Dim
PEKAN ini, tepatnya 28 – 30 Juli 2017, berlangsung kembali “Bandung International Arts Festival (BIAF)” yang antara lain mengambil tempat di area curug (air terjun) Batu Templek, Kampung Cisanggarung, Desa Cikadut, Kabupaten Bandung. Kali ini adalah peristiwa yang ke-3. Menurut keterangan Deden Tresnawan, event kali ini diisi oleh seniman-seniman dari 12 daerah/kabupaten dari beberapa provinsi di Indonesia, dan sembilan negara dari luar Indonesia.
Jauh sebelum berlangsungnya
BIAF #1, kerap kami berbincang dengan Deden Tresnawan terutama di sela-sela
kegiatan proses Wayang Motekar tahun 2000an, bahwa kawan-kawan dari
sekolahan/akademisi yang memilih jalan seni itu perlu turun dan berjalin dengan
masyarakat di daerah-daerah. Di sana, salasatunya, akan kita temukan kenyataan
sejak cara pandang hingga tata nilai yang sudah bergeser. Pandangan mereka
tentang seni terarah kepada televisi yang memang telah masuk ke setiap sudut
rumah tinggal berbagai keluarga dimanapun. Bersebab sejak bangun tidur hingga
menjelang pergi lagi ke peraduan untuk tidur senantiasa berhadapan dengan
tontonan televisi, maka lumrah lah jika masyarakat berpandangan bahwa kebenaran
seni itu semata-mata yang hadir di layar televisi. Pun tentang tata nilai,
lambat-laun berubah, alam sadar hingga bawah sadarnya kian terbentuk dengan
anggapan bahwa sejatinya seni itu adalah yang hadir di televisi, dan (contoh)
seni yang terbaik itu adalah seni hiburan di televisi.
Seperti sepele
bahkan dua pihak, industri hiburan televisi dan masyarakat sendiri, kian fasih
mengatakan “justru dengan itu maka masyarakat mendapatkan hiburan.” Itu yang
didapat namun tak pernah dihitung tentang hal-hal yang hilang. Pada awalnya seperti sekadar urusan fisik
semisal tak ada lagi wujud dan yang memainkan kohkol (kentongan), keprak
(alat bunyi terbuat dari bambu), toleat
(sejenis alat musik tiup) dan sebagainya, karena itu semua tidak keren lagi, tidak seperti yang terlihat
di televisi. Padahal di balik yang hilang tersebut, lambat laun terjadi proses
kehilangan kepercayaan diri dan kebanggaan, yang artinya “diri” itu sendiri
menghilang.
Catatan ini,
tentu, tidak dimaksudkan sebagai uraian anti-televisi sebab di dalam berbagai
hal alat komunikasi tersebut tetap ada pentingnya bagi masyarakat. Ini sekadar
gambaran kecil betapa pentingnya seniman sekolahan atau pun yang tumbuh dari
masyarakat itu kembali ke tengah-tengah publik, yaitu demi membangkitkan
kembali kesadaran bahwa “aku ini ada” dan “aku ini memiliki adab dan peradaban
sendiri.” Itu kian terasa penting bagi masyarakat desa yang kian terpinggirkan
bahkan termiskinkan, maka urusannya bukan sekadar pada tarap hiburan melainkan
(lebih jauhnya lagi) berkenaan dengan kebangkitan dan terbangkitkannya kembali harapan
hidup.
Dengan itu pula
dalam pertemuan kecil dan ringkas bersama Deden Tresnawan, Abah Nanu Munajat,
Yudi Arab, Ine Arini, serta tuan rumah Faiz Manshur dan Yani Manshur, di rumah
tinggal sekaligus kantor Odesa Indonesia, tercetuskan kembali kalimat bahwa
tanda suksesnya BIAF itu bukan pada seberapa heboh dan maraknya pemberitaan, tidak berakhir pada nama dan
foto-foto senimannya masuk koran; melainkan pada ukuran sejauh mana peristiwa
tersebut sedikit demi sedikit mendorong kebangkitan kembali kepercayaan diri
publik atas dirinya sendiri.
Untuk itu, tentu,
sekurang-kurangnya perlu nafas panjang. Syukurlah BIAF sudah mampu sampai
kepada pelaksanaan yang ke-3, kesadaran masyarakat bahwa sesungguhnya memiliki venue yang demikian indah pun mulai
terbangkitkan. Semoga bisa terus berkelanjutan, mengingat Curug Batu Templek yang berada di kawasan Kecamatan Cimenyan
tersebut menyimpan berbagai persoalan ekonomi dan sosial masyarakat yang cukup
rumit. Seni dan kegiatan seni, sedikit-banyaknya bisa menjadi salasatu pengurai
kerumitan tersebut.
Menuju Kawasan Wisata
Panorama
seputaran Curug Batu Templek masih menyimpan keindahan alam yang natural, masih
ada hutan kecil, kesuburan, sejuk, udara yang relatif masih bersih karena
kekotoran udara kota terserap kerimbunan pepohonan, pun limpahan air tanah dan
sungai yang lumayan baik dan (jika dikelola dengan baik) mencukupi kebutuhan
masyarakatnya.
Namun, berdasar
data-data survey Odesa Indonesia (OI) di kawasan Cimenyan, ternyata terdapat
paradoks antara panorama indah dan kemiskinan. OI sendiri dalam setahun ini
telah berusaha keras melakukan berbagai upaya sejak perbaikan WC dan rumah
tinggal rakyat miskin, pelatihan masyarakat, membangkitkan semangat pertanian,
hingga perjuangan propaganda tanaman kelor (moringa)
yang memang sangat baik untuk kesehatan serta memiliki pula potensi ekonomi
bagi masyarakat.
Sejauh mata
memandang, khususnya di kawasan sekitar Curug Batu Templek, sesungguhnya amat
mungkin untuk dikembangkan menjadi kawasan kunjungan wisata yang berorientasi
kepada pemberdayaan publik, yaitu menuju “industri” (dalam tanda petik) wisata
alam sekaligus olahraga jalan kaki (jogging),
serta sajian atraksi seni hingga kemungkinan penyediaan kuliner a la Batu Templek. Kemungkinan ini
sedini mungkin perlu didasari itikad bahwa semuanya demi perbaikan hidup
masyarakat setempat dan kelak masyarakat pula yang memelihara serta menjalankan
kehidupannya.
Ini tentu tak
mudah dan lagi-lagi memerlukan nafas panjang untuk mengerjakannya. Berbeda
dengan sistem “pembuatan” destinasi wisata yang berdasar kepada kekuatan modal
(kapital) yang sejak gagasan hingga pelaksanaannya berdasar satu pusat kuasa
modal, maka wisata dengan dasar publik niscaya mesti dimulai dengan kesadaran
publiknya itu sendiri. Inilah yang tak mudah. Proses penyadaran, membangkitkan etos, hingga tumbuh bersama secara
gotong-royong itu relatif membutuhkan proses berkelanjutan yang panjang. Di
sisi lain, seperti terdata di OI, sejumlah lahan yang ada di kawasan Curug Batu
Templek itu sudah terpotong-potong menjadi milik orang per orang. Di hadapan
ini terdapat kerumitan lain karena menyangkut hak orang per orang atas tanah
miliknya yang belum tentu punya kehendak agar tanahnya dimanfaatkan bagi
kepentingan publik.
Beruntunglah di
titik venue Curug Batu Templek
tercatat sebagai milik Pak Ujang, dan kebetulan pula dirinya memiliki kesadaran
memelihara lingkungan hidup yang cukup tinggi, serta memiliki pula harapan
bahwa masyarakatnya bisa bangkit bersama tanah miliknya; atas kebesaran hati
Pak Ujang pula BIAF bisa berjalan dan sangat mungkin untuk terus berkembang.
Semoga saja pemilik-pemilik lahan lainnya berpikiran sama sehingga kawasan
wisata Curug Batu Templek pun menjadi kenyataan, kehidupan masyarakat pun
mengalami perbaikan dan/atau bukan sebaliknya. Semoga.***
(Herry Dim, seniman, pelukis, pemerhati kebudayaan, penulis, tinggal di Bandung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar