Rabu, 17 November 2021

Batu Templek vs Televisi



Oleh: Herry Dim

PEKAN ini, tepatnya 28 – 30 Juli 2017, berlangsung kembali “Bandung International Arts Festival (BIAF)” yang antara lain mengambil tempat di area curug (air terjun) Batu Templek, Kampung Cisanggarung, Desa Cikadut, Kabupaten Bandung. Kali ini adalah peristiwa yang ke-3. Menurut keterangan Deden Tresnawan, event kali ini diisi oleh seniman-seniman dari 12 daerah/kabupaten dari beberapa provinsi di Indonesia, dan sembilan negara dari luar Indonesia.

Jauh sebelum berlangsungnya BIAF #1, kerap kami berbincang dengan Deden Tresnawan terutama di sela-sela kegiatan proses Wayang Motekar tahun 2000an, bahwa kawan-kawan dari sekolahan/akademisi yang memilih jalan seni itu perlu turun dan berjalin dengan masyarakat di daerah-daerah. Di sana, salasatunya, akan kita temukan kenyataan sejak cara pandang hingga tata nilai yang sudah bergeser. Pandangan mereka tentang seni terarah kepada televisi yang memang telah masuk ke setiap sudut rumah tinggal berbagai keluarga dimanapun. Bersebab sejak bangun tidur hingga menjelang pergi lagi ke peraduan untuk tidur senantiasa berhadapan dengan tontonan televisi, maka lumrah lah jika masyarakat berpandangan bahwa kebenaran seni itu semata-mata yang hadir di layar televisi. Pun tentang tata nilai, lambat-laun berubah, alam sadar hingga bawah sadarnya kian terbentuk dengan anggapan bahwa sejatinya seni itu adalah yang hadir di televisi, dan (contoh) seni yang terbaik itu adalah seni hiburan di televisi.

Seperti sepele bahkan dua pihak, industri hiburan televisi dan masyarakat sendiri, kian fasih mengatakan “justru dengan itu maka masyarakat mendapatkan hiburan.” Itu yang didapat namun tak pernah dihitung tentang hal-hal yang hilang.  Pada awalnya seperti sekadar urusan fisik semisal tak ada lagi wujud dan yang memainkan kohkol (kentongan), keprak (alat bunyi terbuat dari bambu), toleat (sejenis alat musik tiup) dan sebagainya, karena itu semua tidak keren lagi, tidak seperti yang terlihat di televisi. Padahal di balik yang hilang tersebut, lambat laun terjadi proses kehilangan kepercayaan diri dan kebanggaan, yang artinya “diri” itu sendiri menghilang.

Catatan ini, tentu, tidak dimaksudkan sebagai uraian anti-televisi sebab di dalam berbagai hal alat komunikasi tersebut tetap ada pentingnya bagi masyarakat. Ini sekadar gambaran kecil betapa pentingnya seniman sekolahan atau pun yang tumbuh dari masyarakat itu kembali ke tengah-tengah publik, yaitu demi membangkitkan kembali kesadaran bahwa “aku ini ada” dan “aku ini memiliki adab dan peradaban sendiri.” Itu kian terasa penting bagi masyarakat desa yang kian terpinggirkan bahkan termiskinkan, maka urusannya bukan sekadar pada tarap hiburan melainkan (lebih jauhnya lagi) berkenaan dengan kebangkitan dan terbangkitkannya kembali harapan hidup.  

Dengan itu pula dalam pertemuan kecil dan ringkas bersama Deden Tresnawan, Abah Nanu Munajat, Yudi Arab, Ine Arini, serta tuan rumah Faiz Manshur dan Yani Manshur, di rumah tinggal sekaligus kantor Odesa Indonesia, tercetuskan kembali kalimat bahwa tanda suksesnya BIAF itu bukan pada seberapa heboh dan maraknya pemberitaan, tidak berakhir pada nama dan foto-foto senimannya masuk koran; melainkan pada ukuran sejauh mana peristiwa tersebut sedikit demi sedikit mendorong kebangkitan kembali kepercayaan diri publik atas dirinya sendiri.

Untuk itu, tentu, sekurang-kurangnya perlu nafas panjang. Syukurlah BIAF sudah mampu sampai kepada pelaksanaan yang ke-3, kesadaran masyarakat bahwa sesungguhnya memiliki venue yang demikian indah pun mulai terbangkitkan. Semoga bisa terus berkelanjutan, mengingat Curug Batu Templek yang berada di kawasan Kecamatan Cimenyan tersebut menyimpan berbagai persoalan ekonomi dan sosial masyarakat yang cukup rumit. Seni dan kegiatan seni, sedikit-banyaknya bisa menjadi salasatu pengurai kerumitan tersebut.

 

Menuju Kawasan Wisata

 

Panorama seputaran Curug Batu Templek masih menyimpan keindahan alam yang natural, masih ada hutan kecil, kesuburan, sejuk, udara yang relatif masih bersih karena kekotoran udara kota terserap kerimbunan pepohonan, pun limpahan air tanah dan sungai yang lumayan baik dan (jika dikelola dengan baik) mencukupi kebutuhan masyarakatnya.

Namun, berdasar data-data survey Odesa Indonesia (OI) di kawasan Cimenyan, ternyata terdapat paradoks antara panorama indah dan kemiskinan. OI sendiri dalam setahun ini telah berusaha keras melakukan berbagai upaya sejak perbaikan WC dan rumah tinggal rakyat miskin, pelatihan masyarakat, membangkitkan semangat pertanian, hingga perjuangan propaganda tanaman kelor (moringa) yang memang sangat baik untuk kesehatan serta memiliki pula potensi ekonomi bagi masyarakat.

Sejauh mata memandang, khususnya di kawasan sekitar Curug Batu Templek, sesungguhnya amat mungkin untuk dikembangkan menjadi kawasan kunjungan wisata yang berorientasi kepada pemberdayaan publik, yaitu menuju “industri” (dalam tanda petik) wisata alam sekaligus olahraga jalan kaki (jogging), serta sajian atraksi seni hingga kemungkinan penyediaan kuliner a la Batu Templek. Kemungkinan ini sedini mungkin perlu didasari itikad bahwa semuanya demi perbaikan hidup masyarakat setempat dan kelak masyarakat pula yang memelihara serta menjalankan kehidupannya.

Ini tentu tak mudah dan lagi-lagi memerlukan nafas panjang untuk mengerjakannya. Berbeda dengan sistem “pembuatan” destinasi wisata yang berdasar kepada kekuatan modal (kapital) yang sejak gagasan hingga pelaksanaannya berdasar satu pusat kuasa modal, maka wisata dengan dasar publik niscaya mesti dimulai dengan kesadaran publiknya itu sendiri. Inilah yang tak mudah. Proses penyadaran, membangkitkan etos, hingga tumbuh bersama secara gotong-royong itu relatif membutuhkan proses berkelanjutan yang panjang. Di sisi lain, seperti terdata di OI, sejumlah lahan yang ada di kawasan Curug Batu Templek itu sudah terpotong-potong menjadi milik orang per orang. Di hadapan ini terdapat kerumitan lain karena menyangkut hak orang per orang atas tanah miliknya yang belum tentu punya kehendak agar tanahnya dimanfaatkan bagi kepentingan publik.

Beruntunglah di titik venue Curug Batu Templek tercatat sebagai milik Pak Ujang, dan kebetulan pula dirinya memiliki kesadaran memelihara lingkungan hidup yang cukup tinggi, serta memiliki pula harapan bahwa masyarakatnya bisa bangkit bersama tanah miliknya; atas kebesaran hati Pak Ujang pula BIAF bisa berjalan dan sangat mungkin untuk terus berkembang. Semoga saja pemilik-pemilik lahan lainnya berpikiran sama sehingga kawasan wisata Curug Batu Templek pun menjadi kenyataan, kehidupan masyarakat pun mengalami perbaikan dan/atau bukan sebaliknya. Semoga.***


(Herry Dim, seniman, pelukis, pemerhati kebudayaan, penulis, tinggal di Bandung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar