Oleh: Herry Dim
PETANG di hari Sabtu,
25 November 2017, meruap-ruap hati menghirup sejumlah keindahan dan kedamaian di
Eco Camp, jalan Pakar Kulon, Ciburial, Bandung. Begitu kaki menapak turun
mengikuti sesusunan tangga kecil, segera pandang mata, penciuman, dan pori-pori
sekujur tubuh disambut kerimbunan alam yang begitu terjaga. Pandang mata segera
terpana oleh barisan pohon pinus dengan tubuh-tubuhnya yang
menjulang tinggi tegak
lurus ke langit. Melihat diameter batang serta ketinggiannya sekira lebih dari
40 meter, pinus-pinus tersebut diperkirakan telah berumur di atas 50an tahun.
Tak sempat bertanya kepada Romo Ferry Sutrisna Wijaya yang sehari-hari memimpin
kegiatan di sana, namun diperkirakan itu adalah jenis Pinus merkusii Jungh atau Pinus
ponderosa. Tampak juga di sana serumpun bambu serta
jenis pohon atau tanaman keras lainnya, bangunan pesanggrahan dan semacam
pendopo dengan arsitektur tropis yang ramah serta menyerap keasrian lingkungan
sekelilingnya. Di tengah lingkungan seperti itu, apatah namanya selain
merasakan tentram dan damai?
Kedamaian lainnya
meruap-ruap dari atmosfer acara yang tengah berlangsung. Petang itu memang
bertepatan dengan peluncuran kumpulan haiku karya Yesmil Anwar yang berjudul
“Bunga Ilalang.” Tampak hadir di sana Ceu Popong, Wawan S. Husein, Supardiyono
Sobirin, Yayat Hendayana, Sis Triadji, Rosyid E. Abby, Etti RS, Iwan
Abdurachman, Risyani, Agus Safari, Ine Arini, Martha Topeng, Dian Kencana, Reny
Hasanah Ninit, Edief Wangi, Aming D Rahman, Imas Utami Lokayanti, serta tentu
saja sang presiden HaikuKu Diro
Aritonang dan para haijin (penulis
haiku) lainnya. Sebagian dari nama-nama tersebut bergantian tampil baca haiku,
menari, dan menyanyi dalam situasi meditatif, kontemplatif, dan tentu damai.
Di penghujung acara
pentas haiku, para penonton didaulat masuk arena untuk kemudian semuanya diajak
menulis haiku oleh Supardiyono Sobirin. Mereka dibagi ke dalam tiga kelompok
besar, masing-masing kelompok mulai lah mencari kata-kata sambil menghitung
jemari untuk menyusun pola 5-7-5 suku kata seperti lazimnya haiku.
Itu pun menarik. Ada
kegirangan, kesibukan mencari kembali “kata” yang sesungguhnya digunakan
sehari-hari tapi kemudian harus ditemukan polanya, dan yang terpenting
menyusunnya menjadi kalimat puitik serta mendapatkan kigo atau isyarat waktu saat haiku ditulis, dan kireji yang berfungsi sebagai “kalimat
pemotong” sekaligus menjadi sebuah klimaks haiku jika ditempatkannya di baris
terakhir.
Dan yang lebih menarik
lagi adalah kejadian saat mereka berkerumun saling-bantu menyusun haiku. Tampak
di sana ada ibu biarawati berkerudung serta busana antara biru atau abu-abu,
ada juga yang lebih muda dengan kerundung dan busana warna hitam, serta
beberapa dengan setelan putih. Mereka berkelindan bersama ibu-ibu dan sejumlah
remaja yang berjilbab atau pun tanpa kerudung, semuanya sama sibuk menyusun
kata-kata untuk haiku. Selain mereka, tentu saja, ada juga sejumlah pria yang
juga ikut sibuk di dalam kerumunan.
Begitu damai, itulah
kesan kuat yang menyeruak. Kesan tersebut mendesak begitu
kuat, maklum, karena kita semua pada hari dan waktu yang sama masih diramaikan
oleh berita sehari sebelumnya berupa serangan bom di sebuah masjid di Mesir
yang merenggut korban tewas 235 orang. Dua gambar kontras pun muncul. Kejadian
di Mesir serta sekian banyak perseteruan berdarah sepanjang sejarah, itu
seperti hadir menjadi gambar tanda tanya buram berukuran besar. Sementara
kedamaian di Ciburial menjelma menjadi tanda seru atau tanda jawab kecil namun
jernih, jelas, tajam menyentuh kalbu kemanusiaan kita.
Dari yang Kecil
JIKA
kita masih percaya bahwa segala hal yang besar itu bermula dari yang kecil, dan
yakin pula segala persoalan besar itu sejatinya mesti diurai ke bagian-bagian
yang terkecil dan/atau bukan sebaliknya diperkeruh dengan berbagai “omong
besar,” maka gambaran Eco Camp di kawasan Ciburial itu adalah jawaban yang
paling konkret.
Romo Ferry Sutrisna
Wijaya selaku Pembina sekaligus pengelola Yayasan
Sahabat Lingkungan Hidup, menyatakan bahwa Eco Camp sudah dirintisnya sejak 15
tahun yang lalu. Dalam tiga tahun terakhir ini serta berturut-turut bekerja
sama dengan Saratoga untuk melakukan pelatihan para guru seluruh Indonesia. Tahun
2015 diikuti 51 guru, 2016 diikuti 55, dan tahun 2017 ini diikuti oleh 46
orang.
Mereka
yang hadir di dalam kenduri kumpulan haiku “Bunga Ilalang,”
itu tak lain adalah para peserta pelatihan tahun ini. Untuk disebut beberapa
saja diantaranya adalah para santri dari Jember, peserta dari Biara
Domusorationis Manado, Rumah Sehat Cianjur, Ekopastoral Fransiskan NTT, Biara
Elisa Tobelo Ternate, SMKN 1 Gunung Timang Kalimantan, SMAN 1 Sampit, dan
lain-lain.
Tahun ini, bertepatan
dengan Hari Guru Nasional ke –72, Eco
Camp dan Saratoga memberikan pelatihan TOT (Training of Trainers) berbasis lingkungan, budaya, dan teknologi kepada
46 guru hasil
seleksi
dari 200 guru di
Indonesia. Jumlah 46 orang di hadapan jumlah penduduk Indonesia sebanyak
257.912.349 jiwa berdasar data per 30 Juni 2016, itu tentu sangat kecil bahkan
bak butiran kecil di hamparan pasir, tapi justru yang kecil-kecil seperti
inilah yang mendesak sekali untuk kian ditumbuh-kembangkan di seluruh kawasan
Indonesia.
Tegangan suasana yang terutama tersulut oleh tensi
politik, perkembangan perkotaan yang kian sesak dan panas, kehidupan yang kian
tergesa-gesa, takaran hidup yang kian bergeser kepada raihan ekonomi ketimbang
pencapaian harkat kemanusiaan, hingga pertikaian-pertikaian beraneka latar dan
tak perlu itu hanya bisa terurai melalui hubungan kasih antar-manusia serta
belajar dari kesabaran alam. Tempatnya bahkan bukan di uraian pidato hingga
ceramah-ceramah, melainkan berbagai praxis yang bersentuhan langsung dengan
kenyataan.
Alam dan lingkungan hidup yang baik niscaya memberikan
dasar praxis itu semua. Melati dan mawar tak pernah berebut kuasa siapa yang
paling utama, tak juga berebut udara; keduanya saling memberikan keharuman bagi
semesta. Alam pun mengajarkan bahwa tak ada pohon yang tumbuh tergesa-gesa,
semua berproses dengan penuh kesabaran, dan pada galibnya bukan “mengambil
hidup” tapi justru “memberi kehidupan.” Itulah inti kasih seperti yang
menyeruak petang itu di Ciburial.***
(Herry Dim, seniman, pelukis, pemerhati kebudayaan, penulis, tinggal di Bandung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar