Catatan: Herry Dim
TAKGEGAP gempita seperti keheranan atas hilangnya garam dari warung dan pasar-pasar Indonesia yang kemudian menjadi berita takhenti dalam sebulan ini, jauh pula dari kebisingan politik di Indonesia yang kian menjemukan, dan tanpa gemerlap seperti kesenian-kesenian hiburan di televisi. Malam itu di penghujung rangkaian acara BIAF (Bandung International Arts Festival) ke-3, bahkan di suatu tempat relatif terpencil meski hanya berjarak taklebih 10 km dari pusat kota Bandung, di sebuah lingkungan tebing-tebing batu sisa penggalian yang berhiaskan air terjun kecil bernama Curug Batu Templek; muncul sebuah keindahan yang sayang sekali jika takdicatat dan/atau diabaikan begitu saja.
Malam itu, 30 Juli 2017, pada puncak atau penutup seluruh rangkaian acara, adalah Agus Riyanto, penari asal Batu – Malang, duduk dalam semedi di hamparan batu sungai Cisanggarung yang mengaliri Curug Batu Templek. Taklama kemudian tampak Agung Gunawan, penari dari Manisrenggo – Jateng, dekat tebing curug (air terjun) dengan membawa dupa dan cemeti yang biasa hadir pada Reog Ponorogo atau Jatilan. Berikutnya Tony Yap, penari kelahiran Melaka-Malaysia yang mukim di Melbourne, mulai masuk menggantikan tempat Agus Riyanto yang mulai beranjak. Agung Gunawan terus menari di sekitaran dekat tebing, menyapa cucuran air terjun, sesekali mengingatkan pula pada Warok dengan lecutan pecutnya. Agus Riyanto bergerak menghampiri tebing dengan gerak-gerak geliat serta adakalanya mengingatkan kita pada gerak-gerak pada tarian topeng Malang. Sementara Tony Yap intens dengan pola-pola gerak Butoh. Ketiga penari ini tegas melakukan gerak dari sumber-sumber asalinya, kecuali Tony Yap yang kelahiran Melaka tapi pada tahun 1980an memang pernah bersama Tanaka dan Yoko Ashikawa serta menjalani perjalanan panjang bersama Yumi Umiumare, sepenuhnya bergerak dengan intensitas Butoh yang menembus batas antara dimensi sadar dan taksadar, trance.
Mereka berjalin bersatu, bersahabat, hilang batas-batas asal dari mana dan membawakan tarian apa. Demikianlah ketika peserta-peserta lain dipanggil dengan bahasa tubuh dan petanda dari lecutan cambuk Sang Warok. Masuklah Takashi Takiguchi (Jepang), Anne Dietrich (Jerman), Vikram M Mohan (India), Ine Arini (Bandung), Gita Kinanthi (Banjarmasin), Panik Yin (Malaysia), Nanu Munajat (Bandung), dan seterusnya hingga semua peserta masuk dan menceburkan diri di aliran sungai Cisanggarung hingga kemudian berkumpul di tepian tebing Curug Batu Templek. Semua bergerak dengan citra dirinya masing-masing atau pun bersumber pada perbendaharaan gerak berdasar latar budaya asalinya, dan semua perbedaan-perbedaan ini diikat oleh intensitas batin sehingga yang muncul adalah kesan betapa indahnya perbedaan dalam ikatan persahabatan itu.
Demikianlah, di luar pesan sponsor turismus “Pesona Indonesia” yang takjelas bahkan hanya menimbulkan kecurigaan bahwa ini merupakan proyek negara yang berbeaya besar, saya lebih terpesona kepada kekentalan dan indahnya persaudaraan. Sejak acara dibuka (28/7) dengan helaran Reak Tibelat pimpinan Bah Enjum, kemudian Nanu Munajat yang mengajak anak-anak setempat “bermain” air sungai Cisanggarung, hingga satu demi satu perorangan atau pun kelompok dari Bandung, Pacitan, Jakarta, Salatiga, Yogyakarta, Lampung, Surakarta, Bali, Surabaya, Australia, Jepang, Thailand, Amerika, dan Hongaria itu hadir dan tampil baik di Curug Batu Templek atau pun di Plaza Cikapundung dan Dago Car Freeday; facet atau cahaya belahan permata terbaiknya adalah rasa kebersamaan, senasib-sepenangunggan, dan geliat baru dari dimensi seni pertunjukan khususnya tari dan musik.
| PENARI Ine Arini saat tampil di Batu Templek dalam BIAF#3 |
Bersatu dengan Alam
Rasanya sejak takkurang 30 tahun yang lalu hingga kini bersama Ine Arini mengingatkan terutama kepada seniman atau calon seniman tari sekolahan atau seni pertunjukan lainnya agar menyempatkan keluar dari gedung atau panggung berbatas dinding tembok. Awalnya dilandasi semacam kecemasan bahwa tari menjadi sekadar salon, kemolekan, hiasan. Turun ke tengah masyarakat adalah jalan untuk menempa diri sekaligus tempat untuk “membaca” sosiologi dalam kaitannya dengan seni, sebab dari sana pula tempat menggali berbagai hal untuk kemudian melandasi karya-karya baru sekaligus untuk tetap menjaga agar seni dan masyarakatnya tetap terhubung. Itu saja pada awalnya, tanpa pengetahuan lain kecuali samar-samar memiliki gambaran Sui generis Hudoq di Kalimantan, ragam helaran pada kebudayaan Sunda, Jatilan di Jawa Timur, Ronggeng Gunung dari Ciamis, Sisingaan di Subang, hingga Badawang Endo Suanda pada 1980an yang diangkat dari tradisi Cirebon dan/atau seperti halnya “bebarang” Topeng Cirebon itu adalah seni gerak dan tubuh yang bersatu dengan alam dan kehidupan masyarakat.
Ajakan tersebut relatif taklaku, takdidengar, bahkan samar-samar yang terdengar hanya cemooh. Maka takada jalan lain selain berjalan sendiri, menjalani sepi selama puluhan tahun. Sementara itu pula penglihatan kian melebar, terlihat dan terbaca misalnya gerakan Butoh yang dimulai oleh Kazuo Ohno, awal mulanya juga takdiperhatikan tapi terus merembes hingga kini tumbuh di kantung-kantung seni seluruh dunia. Berikutnya kian terbuka bahwa memang dunia tari sedang bergerak ke arah sana. Istilah-istilah baru bermunculan semisal tari di alam (dance in nature), tarian bumi dan air (earth and water dance), hingga gerakan (akademik) yang dilakukan Sardono W. Kusumo yang “menggiring” mahasiswa-mahasiswanya untuk membuat karya akhir dan ujian di tengah-tengah kehidupan.
Diantara jumlah teramat sedikit yang berkenan mendengar “hasutan” agar menyempatkan keluar dari gedung atau panggung berbatas dinding tembok itu antara lain adalah Deden Tresnawan, dia lah yang merancang dan melaksanakan BIAF hingga yang ke-3 ini. Tentu di sana-sini masih banyak kekurangan, tapi takpula dimungkiri mencengangkan mengingat baru dalam tiga langkah saja sudah sanggup merangkai jejaring seni tari dan seni pertunjukkan dari dalam dan luar negeri dengan cakupan cukup luas. Jika masih boleh berharap, perjuangan berikutnya dan/atau sejatinya yang mesti dicapai adalah membangun kehidupan baru yang lebih baik di seputaran tempat kejadian yaitu kawasan Curug Batu Templek, seni pada umumnya tentu takmungkin menyelesaikan semua persoalan yang ada tapi sangat mungkin sebagai penanda dan pengurai masalah sosial. Semoga masih berlanjut ke BIAF#4.***
(Herry Dim, seniman, pelukis, pemerhati kebudayaan, penulis, tinggal di Bandung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar