Senin, 06 Desember 2021

Gerbang Awan Rimbang-Baling


Catatan: Herry Dim

 

INGINKAH merasakan berada di atas awan? Sungguh indah, takhenti membuat decak kagum antara takjub oleh fenomena alam, kontemplasi yang membawa kita ke situasi spiritual, dan mendapat pengalaman yang niscaya tak terlupakan. Jika ingin merasakan, datanglah ke ‘Gerbang Awan Rimbang-Baling.’

Sekilas, mungkin, deskripsi ringkas itu terasa sebagai bualan atau sebagaimana umumnya promosi atau propaganda turistik. Segera saja harus dijawab: Bukan bualan dan takjuga bermaksud promosi turistik melainkan impresi ringkas atas pengalaman yang sesungguhnya. Atau bisa juga seseorang mengatakan: “Ah, bagi yang pernah apalagi sering naik pesawat terbang, berada di atas awan itu biasa dan sudah sering melihat atau mengalaminya!”

Tentu saja pengalaman berada di atas awan saat terbang di dalam pesawat itu takpatut dinisbikan karena benar adanya. Tapi ada bedanya bahkan jauh berbeda antara melihat dan merasakan di dalam pesawat dengan kehadiran tubuh kita di Gerbang Awan Rimbang-Baling. Manakala di dalam pesawat, bagaimanapun, kita berada di ruang tertutup, tubuh kita terpisah dari sejatinya awan kecuali sekadar penglihatan. Sementara di Gerbang Awan Rimbang-Baling, tubuh kita bersentuhan langsung dengan awan, dan kita berada diantara awan atau di atasnya. Karena itu, sentuhan titik-titik air yang lembut pembentuk awan tersebut akan langsung terasakan, itu pula yang menimbulkan ketakjuban sekaligus tentu saja: dingin!

Ya, awan di Rimbang-Baling seperti juga fenomena alam di manapun di muka bumi ini. Seperti yang kita tahu, secara sederhana, awan itu terbentuk karena penguapan air yang berasal dari laut, danau, atau sungai. Kemudian, uap air naik ke atas menjadi titik-titik air dan terbentuklah awan. Evaporasi atau penguapan yang terjadi di Rimbang-Baling itu terjadi dari sungai Bio yang membentang di kawasan Koto Lamo, dan air yang berada di dedaunan hutan yang relatif masih terjaga kelestariannya.


Sulit Dijangkau

Gerbang Awan Rimbang-Baling berada di kawasan Nagari Koto Lamo, berjarak sekira 180 km dari kota Pekan Baru, Riau, Sumatera Tengah, atau membutuhkan waktu tempuh dengan kendaraan sekira 4 – 6 jam. Perjalanan dengan kendaraan standar hanya bisa sampai di Desa Gema, ibukota Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kab. Kampar. Untuk selanjutnya bisa dilanjutkan dengan dua opsi, yaitu: (a) jalan darat dengan kendaraan khusus (off road), atau (b) jalan air dengan perahu sampan menyusur sungai Subayang.

Kendaraan khusus baik empat roda atau pun dua roda diperlukan karena harus menempuh jalur berat yang masih berupa tanah dan bebatuan dengan bagian-bagian tertentu yang berongga lebar-lebar, jalanan menaik cukup terjal, serta masih harus menyeberang sungai dengan menaikan kendaraan ke atas rakit penyeberangan. Secara teknis dalam ukuran normal, jalan dari Desa Gema sampai Koto Lamo itu takbisa dilewati kendaraan. Untuk sekadar iseng membuktikan silakan periksa peta Google ataupun lainnya, niscaya akan didapat jawaban “maaf, kami tidak dapat mengalkulasi petunjuk arah mengemudi dari “Gema” ke “Koto Lamo.” Jarak tempuh terberat sesungguhnya takterlalu jauh, yaitu sekira 8 – 12 km atau dengan waktu tempuh antara 60 – 90 menit. Bagi yang berkegemaran off road, bertualang, atau untuk mendapatkan pengalaman baru; perjalanan ini sungguh merupakan ‘sesuatu’ yang takakan terlupakan.

Begini keadaan jalun darat menuju Rimbangbaling Koto Lamo.
Alternatif dengan jalan air takkalah serunya. Pertama, tentu harus memperhatikan betul cuaca, jika saat hujan jangan pernah coba-coba memaksa. Warga pun akan melarang karena sangat berbahaya, manakala air sungai melimpah serta kemungkinan banjir, gelegak arus sungai takakan bisa dikendalikan lagi. Kedua, harus bersama warga Koto Lamo yang mengendalikan sampan bermesin, teruji keterampilannya, serta telah hapal betul medan yang akan dilalui. Ketiga, perlengkapan pengaman perjalanan air, sekurang-kurangnya mengenakan baju pelampung. Dalam cuaca baik, pada daerah-daerah tertentu, perjalanan laiknya rafting (arung jeram). Perahu bermotor itu mesti dikendalikan dengan lincah, bermain dengan arus deras sambil berkelat-kelit di antara bebatuan sungai. Sesekali jumpa juga dengan arus tenang, melaju di antara kerimbunan hutan dan tebing-tebing batu.

Keindahan jalur air menuju Rimbangbaling Koto Lamo.

“Berat nian ya perjalanan ke sini,” komentar seseorang yang suatu ketika mengikuti perjalanan ke Koto Lamo.

“Ya, itulah luar biasanya, jika biasa-biasa saja ya biasa, takaneh dan takmenantang lagi,” gurau Heri Budiman, pendiri Rumah Budaya Sikukeluang sekaligus yang merintis pemberdayaan masyarakat adat Koto Lamo bersama Datuk Bandaro sebagai tetua adatnya.

Takdimungkiri, pengalaman perjalanan ke Koto Lamo itu bak perjalanan menembus alam mimpi, perjalanan yang takpernah terbayangkan sebelumnya tapi nyata teralami.

Menikmati gerbang awan Rimbangbaling.

Gerbang Awan

Merujuk kepada data BPS (Badan Pusat Statistik) Kabupaten Kampar yang menyebut Gema berada pada ketinggian 100 m/dpl (di atas permukaan laut) atau situs resmi pekanbaru.go.id yang menyebut Pekanbaru berada pada ketinggian 5 - 50 m/dpl, maka letak geografis Gerbang Awan diperkirakan berada pada ketinggian 600 – 900 m/dpl. Takbegitu tinggi, namun justru itu menariknya. Manakala evaporasi terjadi sejak menjelang matahari terbit, embun-embun yang menguap membentuk awan itu takterlalu jauh dari tubuh kita, bahkan berada di sekeliling kita sebelum ia kian meninggi dan bergabung dengan awan lainnya di langit. Dalam ketinggian seperti itu, jika cuaca cukup baik, pandang mata ke kejauhan bisa melihat jajaran bukit barisan karena Koto Lamo sendiri berbatasan dengan Sumatera Barat. Sementara sekeliling terdekatnya adalah hutan lindung.

Koto Lamo sebuah Kenegerian yang tepatnya berada di kawasan Bukit Rimbang dan Bukit Baling, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Merujuk kepada catatan perjalanan Thomas Diaz, orang Portugis yang disewa VOC untuk mencari hasil hutan dan emas, kenegerian atau desa ini sudah ada sejak abad ke 16. Kini, Kenegerian Koto Lamo dihuni oleh 260 Kepala keluarga dangan penduduk lebih kurang 1200 jiwa, dan berada dalam Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling. Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 173/Kpts-II/1986 dan SK Gubernur  Riau Nomor Kpts.149/V/1982, kawasan  seluas 141.226,25 ha ini telah ditetapkan sebagai suaka margasatwa.

Di Kenegerian Koto Lamo terdapat 6 suku yaitu suku yang pertama kali datang (membuka kampung) adalah suku Petopang, kemudian suku yang ke dua datang adalah suku Melayu, Melayu Ulak, Melayu Bosa, Domo, dan Piliang.  Bagi orang yang ingin tinggal atau menikah dengan orang Kenegerian Koto Lamo disyaratkan bahwa orang tersebut harus masuk salah satu suku yang ada.  Selain dua alasan tersebut masih ada satu lagi yang bisa masuk suku yaitu perjalinan persaudaraan.

Heri Budiman
Heri Budiman, pegiat Rumah Budaya Sikukeluang, seperti yang telah disebut di atas; adalah pelopor yang bercita-cita memberdayakan masyarakat adat serta menjaga kelestarian hutan sekeliling Koto Lamo dengan tagar #saverimbangbaling dan motto gerakan “Lestari Adat, Lestari Hutan.” Karena pengabdiannya kepada masyarakat adat serta persaudaraannya, terhitung tanggal 2 Agustus 2017 Heri Budiman diangkat atau masuk ke dalam Suku Petopang melalui sebuah upacara adat selama 3 hari 2 malam. Suku Petopang biasa disebut juga Pulang Bamamak, oleh karena itu, sebelum pengangkatan Heri Budiman harus mencari keluarga yang mau menerimanya sebagai keluarga (bamamak). Kelak, mamak inilah yang bertanggungjawab atas segala hal menyangkut orang yang masuk suku tersebut.

Suasana malam di camping ground Koto Lamo.
Gerbang Awan adalah salasatu spot yang jauh-jauh hari telah dibangun oleh Heri Budiman bersama Sikukeluang dan tentu saja masyarakat adat Koto Lamo. Selain itu, Heri Budiman pun membangun sarana perkemahan (camping ground) pada ketinggian di tepi Sungai Bio, sarana arung jeram dengan memanfaatkan ban-ban bekas di sungai Santi, mermbangun tempat singgah bagi pendatang, pembudidayaan tanaman kopi, dan membangun Rumah Adab yang dicita-citakan menjadi museum peradaban Koto Lamo. Sementara program annual adalah Festival Musik Rimbang-Baling yang hingga kini telah sempai ke peristiwa #3. Pernah tampil pada program ini antara lain Riau Rhtym Chamber, Iksan Skuter, Sisir Tanah, Ujung Sirih, Agus Salim, Beni Riaw, Teater Lorong, Rusli Keleeng, Boy Hendra Wijaya, Young Onyai, Ary Juliyant, Jerit Rimba, Pusakata, Black Box, Bie Kiboe, Rabbana, dll.


Demi Ekonomi Rakyat Koto Lamo

Salasatu poster Sikukeluang sehubungan program Festival Rimbang-Baling #3 berbunyi: “Kebudayaan itu investasi, semestinya ia mampu menggerakan ekonomi rakyat.” Itu adalah cita-cita dasarnya. “Segala hal yang bisa dilakukan itu taklain demi perbaikan kehidupan masyarakat adat Koto Lamo,” ujar Heri Budiman sambil menjelaskan itulah sebabnya ia menggunakan tagar #saverimbang baling atau #lestariadat-lestarihutan. Pilihan itu dilakukan karena ada kecemasan hutan adat Rimbang-Baling pun mengalami deforestasi seperti kebanyakan hutan di Indonesia, bahkan hutan-hutan yang takjauh dari Rimbang-Baling pun telah banyak berubah menjadi perkebunan sawit.

Baik Heri Budiman ataupun tetua adat, Datuk Bandaro, menjelaskan bahwa kehidupan masyarakatnya cukup berat. Satu-satunya penghasilan rakyat adalah dari menyadap karet yang pohon-pohonnya tumbuh liar di hutan dan/atau dalam arti tidak berupa perkebunan. Manakala harga karet lumayan baik, kehidupan tentu saja masih bisa bergantung pada hasil karet. Tapi selain sudah cukup lama harga karet anjlok ditambah lagi jumlah pohonnya yang bisa disadap pun kian menipis, maka kehidupan masyarakat menjadi sangat berat. Kebutuhan dasar terutama sandang dan pangan, sangat sulit untuk bisa dipenuhi dengan baik. Meski sayur bisa didapat dari berkebun dan ikan bisa didapat dari sungai, tapi yang paling pokok berupa beras tetaplah harus mereka beli dari luar. Persoalan utamanya bukanlah pada ketersediaan sandang dan pangan, melainkan pada daya beli mereka yang sangat lemah.

Datuk Bandaro dan Heri Budiman.
Selanjutnya Heri Budiman, menambahkan bahwa kondisi yang tergolong miskin inilah yang pada gilirannya mendorong sebagian masyarakat “terpaksa” melakukan pembalakan liar, mereka menebang pohon-pohon di dalam hutan demi mempertahankan hidup. Mereka bukan taktahu bahwa kawasan tersebut merupakan Suaka Margasatwa, namun desakan hidup membuat mereka melakukan tindakan yang sesungguhnya melanggar hukum. Pada sisi lainnya, iming-iming mengubah hutan menjadi perkebunan sawit pun sudah menyentuh masyarakat Koto Lamo. Akibatnya masyarakat pun terbelah antara yang mendukung deforestasi menjadi kebun sawit, dan di sisi lain yang dipertahankan oleh Datuk Bandaro bersama masyarakat adat adalah tetap menjaga sebagai hutan adat.

“Berat sih, Kang, tapi apapun yang bisa dilakukan ya kerjakan saja,” kata Heri Budiman. Salasatu yang ditempuhnya yaitu dengan mendatangkan pelancong dari luar yang kemudian dikaitkan dengan program-program kebudayaan yang ia buat. “Tapi bukan juga jualan wisata sebab ini pun jika kebablasan adalah sama mencemaskannya,” tambah Heri Budiman. Maka yang ia lakukan adalah memfasilitasi perjalanan rombongan-rombongan kecil, dan itu pun melalui semacam seleksi dan/atau penyampaian pengertian tentang adat setempat serta cita-cita dasarnya itu sendiri.

Kendaraan khusus Siku Keluang untuk menuju Koto Lamo.
Setiap pelancong yang berkenan ke sana telah bisa difasilitasi oleh Sikukeluang. Perjalanannya dimulai dari Pekanbaru untuk menuju Gema dengan mobil. Dari Gema ke Koto Lamo ditempuh dengan piyau (sampan). Di sana, pelancong bisa mengikuti 'rock balancing,' berenang, bersampan di perairan sungai Bio yang jernih, rafting di sungai Santi yang juga sangat jernih, jalan kaki ke Gerbang Awan, api unggun di camping ground, dll.***    

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar