|
(Ketiga dari Lima Catatan) SEJUMLAH peneliti bambu mengatakan hanya sedikit saja pengetahuan
kita tentang sumber daya dan penyebaran bambu, apalagi tentang ragam bambu
yang berada di hutan yang masih alami. Sebagai tanaman hutan non-kayu, bambu tidaklah
dimasukan secara tetap ke dalam inventarisasi kehutanan, itu pun membuat
kurang dan belum lengkapnya data yang bisa didapat. Merujuk kepada data FAO (Food
and Agriculture Organization, 2001) tentang statistik bambu ternyata
masih menggunakan data periode 1954 hingga 1971. Saat ini, negara-negara yang
memonitor produksi hutan non-kayu (NTFP) terus berupaya untuk melakukan
pendataan bambu, namun selalu mendapatkan kesulitan pendataan karena empat
hal di lapangan, yaitu: (1) belum ada kesamaan dalam taksonomi; (2) begitu
banyaknya penggunaan di tingkat lokal, nasional, dan internasional; (3) ada
fakta-fakta bahwa peredaran, penggunaan, atau pemasaran sejumlah produk bambu
itu di luar struktur ekonomi non-bambu; (4) belum memiliki terminologi
umum dan metoda pengukurannya yang belum sama di berbagai negara (FAO 2001). Ditambah lagi oleh kemungkinan bahwa antara satu peneliti dengan
peneliti lainnya, atau satu lembaga penelitian dengan lembaga penelitian
lainnya yang berbeda negara itu belum saling akses dan/atau saling
memperbaharui data, maka kerap terjadi antara data satu lembaga dengan
lembaga lainnya itu berlainan. Empat orang peneliti (Bystriakova, Valerie
Kapos, Chris Stapleton, Igor Lysenko) yang masing-masing dari International
Network for Bamboo and Rattan Beijing (Cina), UNEP World
Conservation Monitoring Centre Cambridge (Inggris), dan Royal
Botanic Gardens, menurunkan data sebagai berikut:
Jika berpegang kepada tabel data di atas, jelas bahwa bambu
yang ada di Indonesia itu hanya 56 species saja. Sementara
berdasar kepada data kita sendiri, beberapa sumber menyebutkan bahwa di
dunia terdapat sekitar 1200 - 1300 jenis bambu, dari jumlah tersebut sebanyak
143 jenis (data baru ada pula yang menyebut 259 species) terdapat
di Indonesia; 60 jenis tumbuh di pulau Jawa dan selebihnya menyebar di
pulau-pulau lain di Nusantara. Dari jumlah tersebut, 14 jenis di antaranya
bisa dilihat di Kebun Raya Bogor dan Cibodas, sementara 9 jenis di antaranya
merupakan endemik (jenis bambu yang hanya tumbuh/asli) pulau Jawa. Maka,
sesungguhnya Indonesia merupakan negara terkaya kedua di dunia dalam hal
kepemilikan jumlah species bambu. Dari sejumlah kenis bambu yang telah dikenali tersebut, banyak
pula yang telah dikenal, digunakan, dan diberi nama oleh masyarakat setempat,
beberapa lagi yang belum familiar diidentifikasi berdasarkan pengelompokan
spesiesnya oleh pakar taksonomi sebagaimana berikut ini: Arundinaria
japonica Sieb & Zuc ex Stend ditemukan di Jawa; pring ori
atau Bambusa arundinacea (Retz.) Wild. di
Jawa dan Sulawesi; loleba (Bambusa atra Lindl.) di Maluku; Bambusa
balcooa Roxb. di Jawa; bambu duri atau Bambusa blumeana Bl.
ex Schul. f. di Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara; bambu pagar atau
cendani atau Bambusa glaucescens (Wild) Sieb
ex Munro di Jawa; bambu embong (Bambusa horsfieldii Munro.)
di Jawa; bambu tutul, pring tutul (Bambusa maculata) di Bali; bambu
cendani, mrengenani (Bambusa multiplex) di Jawa; Bambusa
polymorpha Munro. di Jawa; Bambusa tulda Munro. di Jawa; haur
hejo (Bambusa tuldoides) di Jawa; awi ampel, haur koneng, haur hejo,
pring kuning (Bambusa vulgaris Schard.) di Jawa, Sumatera, Kalimantan,
dan Maluku; bambu petung (Dendrocalamus asper) di Jawa, Sumatera,
Kalimantan, Bali, dan Sulawesi; bambu sembilang (Dendrocalamus giganteus
Munro.) di Jawa; bambu Batu atau Dendrocalamus strictur (Roxb) Ness.
di Jawa; bambu cangkoreh, kadalan (Dinochloa scandens) di Jawa; bambu
apus, awi tali (Gigantochloa apus Kurz.) di Jawa; bambu hitam, awi
wulung, gombong (Gigantochloa atroviolacea) di Jawa; bambu legi, bambu
ater, buluh, Jawa benel, awi ater, awi kekes (Gigantochloa atter) di
Jawa; buluh Apus (Gigantochloa achmadii Widjaja) di Sumatera; bambu
lengka tali (Gigantochloa hasskarliana) di Sumatera, Jawa, dan Bali;
awi belang (Gigantochloa kuring) di Jawa; bambu suluk atau Gigantochloa levis (Blanco) Merr.
di Kalimantan; bambu manggong (Gigantochloa manggong Widjaja.) di
Jawa; bambu lengka, bambu terung, bambu bubat (Gigantochloa nigrocillata Kurz) di Jawa; buluh Rengen (Gigantochloa
pruriens) di Sumatera; bambu andong, gambang surat, peri (Gigantochloa
psedoarundinaceae) di Jawa; tiyang kaas (Gigantochloa ridleyi Holtum.) di Bali; bambu mayan, temen
serit (Gigantochloa robusta Kurz.) di Sumatera, Jawa, dan Bali; buluh
dabo (Gigantochloa waryi Gamble) di Sumatera; bambu hitam (Gigantochloa
verticillata); Melocanna bacifera (Roxb) Kurz.
di Jawa; bambu eul-eul atau Nastus elegantissimus (Hassk) Holt.
di Jawa; bambu uncea, bambu buluh kecil (Phyllostachys aurea A&Ch.
Riviera) di Jawa; bambu wuluh, tamiang (Schizotachyum blunei Ness.)
di Jawa, Nusa Tenggara Timur, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku;
bambu buluh besar, buluh nehe; awi buluh, ute watat, tomula (Schizotachyum
brachycladum Kuez.) di Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Maluku; buluh bungkok
(Schizotachyum candatum Backer ex Heyne) di Sumatera; bambu toi
atau Schizotachyum lima (Blanco) Merr. di
Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua; bambu jalur (Schizotachyum
longispiculata Kurz.) di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa; bambu jala,
cakeutreuk, bambu lampar (Schizotachyum zollingeri Stend.) di Sumatera
dan Jawa; dan bambu Jepang (Thryrsostachys siamensis Gamble.) di Jawa. Sebagian dari jenis-jenis bambu di atas telah akrab dimanfaatkan
masyarakat Nusantara untuk bahan bangunan (kontruksi), transportasi air,
pembuatan alat musik, makanan, kerajinan, hiasan atau ornamen, serta beberapa
untuk bahan pengobatan alami. Beberapa diantaranya sudah tersebar nyaris
merata di Indonesia, meski ada pula beberapa jenis bambu yang mulai langka.
Kelangkaan ini terjadi antara lain disebabkan oleh konversi lahan menjadi
daerah pemukiman. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Bambu gombong (Foto dari berbagai sumber).* |
| Bambu hitam (Foto: HDim).* |
Bambu kuning (Foto dari berbagai sumber).*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar