Senin, 01 November 2021

Mengurai Kenangan pada Bambu

(Kedua dari Lima Catatan)

MUNGKIN di antara kita ada yang masih kita ingat nyanyian “Badminton” (terbit tahun 1955) ciptaan Mang Koko (1917 - 1985) yang sangat populer sekali pada masanya. Di dalam nyanyian tersebut tergambarkan tentang bagaimana rakyat (kecil) melaksanakan kegemaran main badminton di kebon awi atau di suatu halaman di antara rumpun bambu. Penggalan dari salasatu bait nyanyian tersebut, sebagai berikut:

kok-na ku bulu éntog

nét-na ku samping butut

rékétna panggebug kasur

tempatna di kebon awi

Nyanyian tersebut menjadi semacam tautan kenangan terhadap keelokan bambu, maka kehadirannya bukan saja memberikan pengalaman tekstual melainkan juga mengikat sejumlah kenangan empirik.

 

Mang Koko (1917 – 1985) pencipta lagu "Batminton" yang mengungkapkan kesederhanaan sekaligus kebahagiaan rakyat yang bermain batminton di kebun bambu. (Foto dari www.wikiwand.com/id/Mang_Koko)

Mungkin tergambar pula di dalam ingatan kita adanya sebidang halaman yang lening (bersih, nyaman, tak berdebu) karena memang kerap disapu. Saat matahari di puncak terik, sinar-sinarnya hanya sedikit saja menembus halaman itu, sungguh indah melihat bocoran cahayanya yang menerobos di antara celah-celah rumpun dedaunan bambu. Udara di halaman itu pun terasa nyaman, teduh tapi tidak lembab, bahkan hembusan angin besar tersaring dedaunan dan rumpun bambu sehingga angin yang tiba di halaman itu adalah semilir dengan kesejukannya yang alami. Ini pula, mungkin, yang menjadi alasan mengapa pelataran permainan badminton kerap memilih tempat di halaman yang terlindung rumpun bambu; permainan yang memang perlu menghindar hembusan angin, itu terbantu oleh daya serap pohon-pohon bambu.

Sedikit lebih sore lagi, kita kenang, bahwa di tempat yang sama adalah sejumlah anak laki-laki atau pun perempuan berlatih penca (silat). Semuanya berlatih dengan telanjang kaki, pori-pori telapak kaki bersentuhan langsung dengan bumi, gusuran telapak kaki yang memang tidak boleh terangkat manakala melapalkan adeg-adeg; itu seperti elusan-elusan di permukaan tanah yang lama kelamaan membuka patina (kesejatian) tekstur tanah. Jika diperhatikan, akan tampak bagian renik akar-akar bambu yang bertebar itu saling mengikat dengan tanah tempat berpijak, membentuk komposisi permukaan yang tak tergantikan keindahannya. Itu pula rupanya yang membuat tanah tidak terlalu gembur, tak mendebu saat kemarau, tak melumpur saat hujan, dan yang terpenting; sebaran akar-akar bambu tersebut menjadi semacam pengikat tanah, sifat tanah menjadi tetap “terbuka,” fungsional sebagai resapan manakala musik hujan, itu pula sejatinya biopori.

Kenangan Dialog dengan Mang Udjo

Penulis, ketika masih aktif di H.U. Pikiran Rakyat, pada tahun-tahun sebelum 1980an, mulailah berkenalan dengan Mang Udjo Ngalagena (1929 – 2001). Masih terkenang bagaimana Mang Udjo begitu kerap mengundang untuk ditemani ngobrol yang antara lain membicarakan pencapaian Saung Angklung Udjo (SAU) serta menjabarkan gagasan-gagasan masa depannya. Sejak itu pula pintu gerbang apresiasi terhadap bamboo mulai terbuka.

Kerap misalnya kami berbincang sambil jalan mengitari sekeliling area SAU yang belum seluas sekarang ini. Sampai di suatu tempat Mang Udjo berhenti lantas berkata “ari kahayang mah di dieu teh lain keur ngawangun imah, engke sugan mun Saung Angklung ngalegaan kuduna mah ieu teh jadi dapuran awi.” (jika berdasar keinginan, di tempat ini harusnya tidak dibangun rumah, kelak kalau SAU sudah mampu memperluas diri mestinya dijadikan kebun bambu).

 Sekadar untuk menggali alasannya, saya melontarkan pertanyaan “jika memang SAU meluas, mengapa kebun bambu dan bukan sawah yang lebih menghasilkan?”

Mang Udjo tertawa terbahak-bahak lantas menjawab (aslinya di dalam bahasa Sunda) “nah, begitulah umumnya anak muda… bagus memikirkan hal yang bisa menghasilkan itu, tapi bagaimana bisa menghasilkan jika dasar-dasarnya tidak dipersiapkan… bagaimana bisa ada sawah jika kebun bambunya tidak ada.”

Seperti biasanya pembicaraan Mang Udjo kerap topiknya melompat-lompat, pembicaraan di atas tidak berlanjut karena berpindah ke pembicaraan lain. Tapi pernyataan “bagaimana ada sawah jika kebun bambunya tidak ada,” itu betul-betul tertancap di dalam pikiran dan bertahun-tahun menjadi pertanyaan sekaligus bertahun-tahun pula dicari jawabannya. Maka pada pertemuan-pertemuan berikutnya, nyaris selalu menyempatkan membelokan pembicaraan ke arah pernyataan tersebut. Setelah berupaya “menyusun” lompatan-lompatan pikiran dari waktu yang berbeda-beda tersebut, ditambah lagi pembicaraan dengan sesepuh lain akhirnya didapat satu bangunan jawaban yang menimbulkan rasa takjub yang luar biasa.

Dari Mang Udjo sendiri didapat penjelasan lanjutan bahwa “sawah sifatna perlu cai, sumber cai bisa ti ci nyusu atawa walungan… rek ci nyusu atawa walungan perlu oge tempat keur neundeunna kalayan ngajagaanna, tah anu neundeun jeung ngajaga cai teh nyaeta dapuran awi” (sifanya sawah itu senantiasa perlu air, sumbernya bisa dari mata air atau pun sungai… baik mata air atau pun sungai, keduanya perlu tempat penyimpanan sekaligus yang menjaga, tugas menyimpan dan menjaga itu tak lain hanya bisa dilakukan oleh kebun bambu).

Perlu dicatat di sini bahwa pembicaraan tersebut berlangsung sekira tahun 1980an, suatu masa ihwal lingkungan hidup belum menjadi pembicaraan luas, masih perlu 30 tahun lagi bagi munculnya seorang Al Gore yang berbicara masalah pemanasan global dan krisis air. Mang Udjo lebih awal memberikan gambaran bahwa alam ini memiliki ikatan atau kesalingterikatan semesta.

Pernah pula tersampaikan bahwa padi tetap saja bisa tumbuh meski tidak ada pohon bambu. Mang Udjo segera menjawab: “tapi eta ngaranna sasawahan anu tangtu moal bakal bener jadina” (tapi itu namanya sawah-sawahan yang bisa dipastikan tidak akan benar pertumbuhannya).

Bersamaan dengan itu, selangkah demi selangkah mulai pula difahami bahwa sifat akar bambu dan kerimbunan dedaunannya itu memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air, akar-akarnya sanggup mengikat tanah atau lingkungan sekitarnya menjadi tidak mudah rusak. Demikian halnya bantaran sungai, niscaya akan terjaga jika di sepanjang tubuhnya diikat dan ditahan oleh tumbuhan bambu.

Mang Udjo Ngalagena pada tahun 1980an (Foto: HDim).*

Geger

Dari sumber yang lain bahkan didapat penjelasan bahwa masyarakat Sunda itu memiliki tradisi geger yang memiliki kesatuan dengan tradisi sawah. Jika kini kita mengenal daerah yang bernama geger kalong hilir dan girang, kiranya di balik kata geger tersebut ternyata menyimpan suatu makna yang penting. Geger adalah sebentuk hutan kecil yang terdapat di tengah atau di bagian lain dari bentangan pesawahan. Sumber lain ada juga yang menyebutkan geger itu bagian gunung paling atas atau punggung gunung yang memanjang. Tapi yang jelas ini pun mengacu kepada sebentuk hutan yang berdampingan dengan pesawahan. Biasanya di dalam geger terdapat mata air, jika pun di daerah pesawahan tersebut tidak terdapat mata air; sebuah geger tetap saja harus hadir menjadi bagian dari pesawahan.

Fungsi geger prinsipnya adalah hutan, di sana tempat hidupnya unggas hingga ular pemangsa tikus, ulat, atau hama padi lainnya. Jika di tempat tersebut terdapat mata air, maka geger menjadi berfungsi ganda yaitu menjadi penjaga mata air pula. Jajaran rumpun bambu biasanya berbaris membentengi geger sementara tumbuhan lainnya berada di dalam, tapi adakalanya pula dengan posisi terbalik yaitu rumpun bambu berada di tengah dan tumbuhan lainnya di luar. Penghuni geger adalah burung hantu, elang, kelelawar, serta ragam burung lainnya; pada musim-musim tertentu bahkan biasanya dikunjungi pula jenis burung lain yang bermigrasi dari tempat jauh untuk sekadar singgah. Di sanalah terjadinya siklus hidup atau matarantai ekosistem. Tikus, ulat, atau hama lainnya tidak menyerang padi melainkan tinggal di geger. Burung hantu dan ular menjaga populasi tikus, dan burung-burung yang membereskan ulat dan hama padi.

Itulah apresiasi awal terhadap pentingnya tanaman atau rumpun bambu di dalam kehidupan.

Perhatikan di sudut kanan foto ini, terdapat sebentuk hutan kecil yang disebut “geger” sebagai pengatur ekosistem. Jika foto pada bagian “geger” tersebut diperbesar, maka akan tampak rimbunan dapuran bambu mengelilingi bagian luar hutan tersebut (Foto diunduh dari mediataniindonesia.blogspot.nl).*
Foto bagus ini dari situs indonesiabiru.com/tag/ciptagelar/. Dipinjam demi menunjukan ikatan dan saling keterhubungan alam di wewengkon Ciptagelar. Kita lihat rumpun bambu (di sebelah kanan foto) menyangga irigasi yang kemudian terhubung ke pesawahan. Di sekelilingnya pun masih memuliakan "geger" sebagi pengatur ekosistem.*  
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar