(Kedua dari Lima Catatan)
MUNGKIN di antara kita ada yang masih kita ingat
nyanyian “Badminton” (terbit tahun 1955) ciptaan Mang Koko (1917 -
1985) yang sangat populer sekali pada masanya. Di
dalam nyanyian tersebut tergambarkan tentang bagaimana rakyat (kecil)
melaksanakan kegemaran main badminton di kebon awi atau
di suatu halaman di antara rumpun bambu. Penggalan dari salasatu bait
nyanyian tersebut, sebagai berikut:
kok-na ku bulu éntog
nét-na ku samping butut
rékétna panggebug kasur
tempatna di kebon awi
Nyanyian tersebut menjadi semacam tautan kenangan terhadap keelokan
bambu, maka kehadirannya bukan saja memberikan pengalaman tekstual
melainkan juga mengikat sejumlah kenangan empirik.
| Mang Koko (1917 – 1985) pencipta lagu "Batminton" yang mengungkapkan kesederhanaan sekaligus kebahagiaan rakyat yang bermain batminton di kebun bambu. (Foto dari www.wikiwand.com/id/Mang_Koko) |
Mungkin tergambar pula di dalam ingatan kita
adanya sebidang halaman yang lening (bersih, nyaman,
tak berdebu) karena memang kerap disapu. Saat matahari di puncak terik,
sinar-sinarnya hanya sedikit saja menembus halaman itu, sungguh indah melihat
bocoran cahayanya yang menerobos di antara celah-celah rumpun
dedaunan bambu. Udara di halaman itu pun terasa nyaman, teduh
tapi tidak lembab, bahkan hembusan angin besar tersaring dedaunan dan rumpun
bambu sehingga angin yang tiba di halaman itu adalah semilir dengan
kesejukannya yang alami. Ini pula, mungkin, yang menjadi alasan mengapa
pelataran permainan badminton kerap memilih tempat di halaman yang terlindung
rumpun bambu; permainan yang memang perlu menghindar hembusan angin, itu
terbantu oleh daya serap pohon-pohon bambu.
Sedikit lebih sore lagi, kita kenang, bahwa di tempat
yang sama adalah sejumlah anak laki-laki atau pun
perempuan berlatih penca (silat). Semuanya berlatih
dengan telanjang kaki, pori-pori telapak kaki bersentuhan langsung dengan bumi,
gusuran telapak kaki yang memang tidak boleh terangkat manakala
melapalkan adeg-adeg; itu seperti elusan-elusan di permukaan tanah
yang lama kelamaan membuka patina (kesejatian) tekstur tanah.
Jika diperhatikan, akan tampak bagian renik akar-akar bambu yang
bertebar itu saling mengikat dengan tanah tempat berpijak,
membentuk komposisi permukaan yang tak tergantikan keindahannya. Itu pula
rupanya yang membuat tanah tidak terlalu gembur, tak mendebu saat kemarau, tak
melumpur saat hujan, dan yang terpenting; sebaran akar-akar bambu tersebut
menjadi semacam pengikat tanah, sifat tanah menjadi tetap “terbuka,” fungsional
sebagai resapan manakala musik hujan, itu pula sejatinya biopori.
Kenangan Dialog dengan Mang Udjo
Penulis, ketika masih aktif di H.U. Pikiran Rakyat, pada tahun-tahun sebelum 1980an, mulailah berkenalan dengan Mang Udjo Ngalagena (1929 – 2001). Masih terkenang bagaimana Mang Udjo begitu kerap mengundang untuk ditemani ngobrol yang antara lain membicarakan pencapaian Saung Angklung Udjo (SAU) serta menjabarkan gagasan-gagasan masa depannya. Sejak itu pula pintu gerbang apresiasi terhadap bamboo mulai terbuka.
Kerap misalnya kami berbincang sambil jalan mengitari sekeliling
area SAU yang belum seluas sekarang ini. Sampai di suatu tempat Mang Udjo
berhenti lantas berkata “ari kahayang mah di dieu teh lain keur ngawangun
imah, engke sugan mun Saung Angklung ngalegaan kuduna mah ieu teh jadi dapuran
awi.” (jika berdasar keinginan, di tempat ini harusnya tidak
dibangun rumah, kelak kalau SAU sudah mampu memperluas diri mestinya dijadikan
kebun bambu).
Sekadar untuk menggali alasannya, saya melontarkan pertanyaan
“jika memang SAU meluas, mengapa kebun bambu dan bukan sawah yang lebih
menghasilkan?”
Mang Udjo tertawa terbahak-bahak lantas menjawab (aslinya di dalam
bahasa Sunda) “nah, begitulah umumnya anak muda… bagus memikirkan hal yang bisa
menghasilkan itu, tapi bagaimana bisa menghasilkan jika dasar-dasarnya tidak
dipersiapkan… bagaimana bisa ada sawah jika kebun bambunya tidak ada.”
Seperti biasanya pembicaraan Mang Udjo kerap topiknya
melompat-lompat, pembicaraan di atas tidak berlanjut karena berpindah ke
pembicaraan lain. Tapi pernyataan “bagaimana ada sawah jika kebun bambunya
tidak ada,” itu betul-betul tertancap di dalam pikiran dan bertahun-tahun
menjadi pertanyaan sekaligus bertahun-tahun pula dicari jawabannya. Maka pada
pertemuan-pertemuan berikutnya, nyaris selalu menyempatkan membelokan
pembicaraan ke arah pernyataan tersebut. Setelah berupaya “menyusun”
lompatan-lompatan pikiran dari waktu yang berbeda-beda tersebut, ditambah lagi
pembicaraan dengan sesepuh lain akhirnya didapat satu bangunan jawaban yang
menimbulkan rasa takjub yang luar biasa.
Dari Mang Udjo sendiri didapat penjelasan lanjutan bahwa “sawah
sifatna perlu cai, sumber cai bisa ti ci nyusu atawa walungan… rek ci nyusu
atawa walungan perlu oge tempat keur neundeunna kalayan ngajagaanna, tah anu
neundeun jeung ngajaga cai teh nyaeta dapuran awi” (sifanya sawah itu
senantiasa perlu air, sumbernya bisa dari mata air atau pun sungai… baik mata
air atau pun sungai, keduanya perlu tempat penyimpanan sekaligus yang menjaga,
tugas menyimpan dan menjaga itu tak lain hanya bisa dilakukan oleh kebun
bambu).
Perlu dicatat di sini bahwa pembicaraan tersebut berlangsung sekira
tahun 1980an, suatu masa ihwal lingkungan hidup belum menjadi pembicaraan luas,
masih perlu 30 tahun lagi bagi munculnya seorang Al Gore yang berbicara masalah
pemanasan global dan krisis air. Mang Udjo lebih awal memberikan
gambaran bahwa alam ini memiliki ikatan atau kesalingterikatan semesta.
Pernah pula tersampaikan bahwa padi tetap saja bisa tumbuh meski
tidak ada pohon bambu. Mang Udjo segera menjawab: “tapi eta
ngaranna sasawahan anu tangtu moal bakal bener jadina” (tapi itu
namanya sawah-sawahan yang bisa dipastikan tidak akan benar pertumbuhannya).
Bersamaan dengan itu, selangkah demi selangkah mulai pula
difahami bahwa sifat akar bambu dan kerimbunan dedaunannya itu memiliki
kemampuan menyerap dan menyimpan air, akar-akarnya sanggup mengikat tanah
atau lingkungan sekitarnya menjadi tidak mudah rusak. Demikian halnya bantaran
sungai, niscaya akan terjaga jika di sepanjang tubuhnya diikat dan ditahan oleh
tumbuhan bambu.
| Mang Udjo Ngalagena pada tahun 1980an (Foto: HDim).* |
Geger
Dari sumber yang lain bahkan didapat penjelasan bahwa masyarakat Sunda itu memiliki tradisi geger yang memiliki kesatuan dengan tradisi sawah. Jika kini kita mengenal daerah yang bernama geger kalong hilir dan girang, kiranya di balik kata geger tersebut ternyata menyimpan suatu makna yang penting. Geger adalah sebentuk hutan kecil yang terdapat di tengah atau di bagian lain dari bentangan pesawahan. Sumber lain ada juga yang menyebutkan geger itu bagian gunung paling atas atau punggung gunung yang memanjang. Tapi yang jelas ini pun mengacu kepada sebentuk hutan yang berdampingan dengan pesawahan. Biasanya di dalam geger terdapat mata air, jika pun di daerah pesawahan tersebut tidak terdapat mata air; sebuah geger tetap saja harus hadir menjadi bagian dari pesawahan.
Fungsi geger prinsipnya adalah hutan, di sana tempat hidupnya
unggas hingga ular pemangsa tikus, ulat, atau hama padi lainnya. Jika di tempat
tersebut terdapat mata air, maka geger menjadi berfungsi ganda yaitu menjadi
penjaga mata air pula. Jajaran rumpun bambu biasanya berbaris membentengi geger
sementara tumbuhan lainnya berada di dalam, tapi adakalanya pula dengan posisi
terbalik yaitu rumpun bambu berada di tengah dan tumbuhan lainnya di luar.
Penghuni geger adalah burung hantu, elang, kelelawar, serta ragam burung
lainnya; pada musim-musim tertentu bahkan biasanya dikunjungi pula jenis burung
lain yang bermigrasi dari tempat jauh untuk sekadar singgah. Di sanalah
terjadinya siklus hidup atau matarantai ekosistem. Tikus, ulat, atau hama
lainnya tidak menyerang padi melainkan tinggal di geger. Burung hantu dan ular
menjaga populasi tikus, dan burung-burung yang membereskan ulat dan hama padi.
Itulah apresiasi awal terhadap pentingnya tanaman
atau rumpun bambu di dalam kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar