Senin, 01 November 2021

Dari Tusuk Sate hingga Seni Instalasi

 (Keempat dari Lima Catatan)

BAMBU berperanan penting bagi ekonomi lokal dan kian berkembang pula menjadi komoditi nasional dan internasional, di wilayah Asia-Pasifik. Masing-masing digunakan untuk berbagai kepentingan, data yang sejauh ini terdokumentasikan mencatat bahwa ada 1.500 kegunaan bambu. Pemanfaatan tradisional yang paling utama antara lain adalah untuk perumahan, makanan, dan kriya. Di seluruh dunia terdapat sekitar 2.5 milyar orang yang terlibat dalam perdagangan atau penggunaan bambu (INBAR 1999). Teknologi pabrikan modern membuka jalan bagi industri bambu yang menyerupai fungsi kayu (timber-based industries), hingga mampu menyediakan produk bambu untuk lantai, dinding, laminasi, dan furnitur. Bambu pun menjadi substitusi/pengganti kayu bagi pembuatan bubur (pulp) bahan kertas; sekira 25% serat yang setiap tahun digunakan pada industri kertas di India, itu berbahan dasar bambu (FAO 1998). Iwung (Sunda), rebung (Ind), atau tunas bambu diketahui pula menjadi bahan makanan penting di sejumlah pasar lokal bahkan internasional. Cina termasuk negeri pertama yang melakukan ekspor produksi rebung, berdasar data ekspor tahunan nilainya mendekati angka US$ 140 juta (Feng Lu, 2001). Furnitur bambu pun kian meluas menjadi lahan bisnis berbagai negara; ekspor furnitur bambu dari Filipina tahun 1998 bernilai US$ 1.4 juta (Vantomme et al. 2002). Sementara di seluruh dunia, pasar domestik dan aneka ragam penggunaan bambu ditaksir bernilai tak kurang dari US$ 4.5 milyar per tahun. Ekspor bambu secara global berada pada kisaran US$ 2.7 milyar (INBAR 1999).

Itu sekadar gambaran bahwa demikian beragam/multi-fungsinya bambu di dalam kehidupan masyarakat di dunia. Peradaban atau kebudayaan kita sendiri, memang, telah mengenal bambu sejak ribuan tahun yang lampau. Jejak peradaban “buhun” tersebut bahkan sebagian di antaranya masih berlanjut hingga sekarang. Di dalam peradaban Sunda saja, kita mengenal sejumlah benda, peralatan, makanan yang berbahan dasar bambu semisal iwung (rebung atau tunas bambu untuk bahan makanan), hihid (alat kipas perapian), aseupan (bagian dari alat untuk menanak nasi), palupuh (bambu yang dipecah untuk alas tempat duduk), besek (wadah nasi/makanan), pipiti (wadah nasi/makanan), bilik (dinding rumah), nyiru (alat tampi beras), boboko (tempat nasi), ayakan (alat penyaring), taraje (tangga), korang (tempat ikan hasil pancingan), jeujeur (tangkai kail), sumplit (sumpit), suling (seruling), angklung, karamba (tempat ternak ikan di sungai), waroge (media upacara suku Badui), tiir (tusuk sate atau lainnya), cemped (bagian dari rumah berupa penjepit dinding), cukang beurit (bagian rangka silang konstruksi rumah), dampit (rusuk konstruksi sebuah leuit atau tempat penyimpanan padi), jungjang (bambu yang dipalangkan untuk pengikat konstruksi), rancatan (alat pikul), jambatan (jembatan), usuk (tulang atap rumah), ancak (anyaman bambu tempat penganan), carangka (tempat sampah), ceceting (alat untuk mendulang air), cireung (tempat menyimpan/membawa ikan), lodong (mainan seperti meriam), kekeba (wadah penganan), kojong (tempat ikan), pengki (tempat sampah), ranggap (kurung ayam), songsong (alat peniup bara api), telebug (tempat barang), tetenong (tempat menyimpan masakan), bubu (perangkap ikan), babalean (tempat bersantai), gatrik (mainan anak-anak menyerupai kasti), jajangkungan (mainan anak/berjalan dengan peninggian tubuh), perang gobang (mainan anak berupa pedang-pedangan); itu untuk menyebut sebagian saja dari sejumlah benda yang nyaris digunakan sepanjang hari di dalam kehidupan. 

Fungsi atau manfaat bambu sejak menjadi tusuk sate, penyangga konstruksi bangunan, kriya, alat musik, bangunan gereja, wadah, jembatan, dan aneka kegunaan lainnya di dalam kehidupan (Foto: HDim & berbagai sumber).*

Yang paling mengemuka setidaknya dalam 10 tahun terakhir ini adalah perkembangan arsitektur serta “bahan bangunan” yang berbahan bambu. Berkenaan dengan itu maka lahir pula sejumlah rancangan arsitektural yang menakjubkan serta demikian melimpah jumlah kreativitasnya. Berikutnya adalah ragam karya seni, baik yang terkategorikan seni murni atau pun seni terapan di ruang publik hingga berbagai bentuk kriya.

Sebut misalnya rumah-rumah bambu atau lebih tepatnya tenda-tenda persinggahan yang dirancang dan direalisasikan oleh arsitek Ming Tang di Cina. Rancang yang kemudian menjadi pemenang “WA Awards, 4th Cycle 2009” ini berdasar kepada gagasan sekaligus kebutuhan rumah singgah bagi korban gempa bumi yang terjadi di Sichuan, Cina, pada 2008. Bisa kita lihat bagaimana menariknya karya Ming Tang ini secara visual, pola strukturnya struktur unik, serta kisi-kisi cahaya dari efek bahan bambu tersebut. Tak kalah menariknya bahwa rancangan ini ternyata memikirkan struktur berkelanjutan, bangunan dapat dilipat dan dibuka dengan mudah, sehingga fungsional sekali sebagai tempat penampungan sementara bagi korban bencana alam apapun.

Sementara itu pada tataran seni murni sekaligus sejenis seni patung yang dihadiekan di ruang publik, tentulah harus menyebut karya-karya Joko Avianto. Bagi warga Bandung tentu pernah menjumpai karyanya antara lain di simpang jalan Pajajaran – Cicendo dan simpang Cicendo – Kebon Kawung. Karya lainnya yang membuat “terperangah” adalah karya instalasi berjudul ’Pohon Besar (Big Trees)’ yang tersusun dari beton dan 1.500 lebih batang bambu dengan panjang setiap bambu sekitar 6 (enam) meter. Instalasi bambu yang dikerjakannya selama tiga minggu ini dipajang di bagian depan Galeri Kunstverein, menghadap ke lingkungan perkotaan Frankfurt, ditampilkan di dalam pameran “ROOTS: Indonesian Contemporary Art” yang kaitannya dengan keikutsertaan Indonesia di dalam Frankfurt Book Fair 2015.

Tenda-tenda persinggahan yang dirancang dan direalisasikan oleh arsitek Ming Tang di Cina. Rancang yang kemudian menjadi pemenang “WA Awards, 4th Cycle 2009” ini berdasar kepada gagasan sekaligus kebutuhan rumah singgah bagi korban gempa bumi yang terjadi di Sichuan, Cina, pada 2008 (Foto dari http://www.bamboosdesign.com/)*.

Langkah Kelanjutan

Bambu yang begitu dekat dengan kebudayaan Nusantara dan khususnya dalam kebudayaan Sunda, bisa dikatakan terus berkembang bahkan sesungguhnya mengalami perkembangan cukup jauh jika dibanding dengan tradisi awalnya. Di bidang konstruksi dan arsitektur atau desain bangunan bambu, misalnya, tampak sekali pada karya-karya Jatnika Nanggamiharja sang arsitek rumah bambu dari Cibinong, kenyataan karya-karya Effan Adhiwira, hingga (jika melihat ke luar) tak terhindarkan untuk menyebut karya-karya Simon Velez.

Perkembangan di bidang kriya bambu bahkan sampai ke seni murni yang telah dirintis lama oleh Ahadiat Joedawinata dan terutama sang istri yaitu Rini Chairin Hayati, kini terus berkembang dengan bermunculnya pakar-pakar baru desain produk yang berkenan turun ke masyarakat pengrajin. Kriya bambu yang semula beredar di kalangan masyarakat (maaf) bawah, kini tak canggung lagi bermunculan di tempat-tempat yang sangat bergengsi.

Meski tak terlalu baru, patut pula dicatatkan di sini bahwa bambu yang semula diperlakukan sebagaimana material alamiahnya yaitu sebagai tanaman berongga (misal menjadi suling, kohkol, angklung, dsb.), dan/atau dan sifat kulit luarnya yang elastis untuk kemudian dimanfaatkan menjadi aneka anyaman; kini bisa diolah, dipadatkan, dibentuk baru dengan istilah baru yaitu teknik laminasi. Dengan teknik ini bambu menjadi berbentuk tak bedanya dengan kayu bahkan dengan tingkat kekuatan dan daya tahan yang lebih baik, maka muncul lah bambu padat berbentuk batangan, lembaran seperti halnya papan, bentuk-bentuk parket untuk lantai, bahkan menjadi aneka furnitur yang serba baru baik desain atau pun teknologi pembuatannya.

Belakangan, dengan teknik menyerupai laminasi, bambu dibuat menjadi sebentuk gitar. Sila bayangkan lekuk-lekuk bentuk gitar yang tak mungkin lagi dibuat dengan sifat alamiahnya bambu. Bahkan, ditangan Endo Suanda dibuktikan bambu pun bisa dibentuk menjadi kendang (gendang), dogdog, biola, kacapi, dalam arti bambu telah berubah menjadi material solid (padat).

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar