(Keempat dari Lima Catatan)
BAMBU berperanan penting bagi ekonomi lokal dan kian berkembang
pula menjadi komoditi nasional dan internasional, di wilayah Asia-Pasifik.
Masing-masing digunakan untuk berbagai kepentingan, data yang sejauh ini terdokumentasikan
mencatat bahwa ada 1.500 kegunaan bambu. Pemanfaatan tradisional yang paling
utama antara lain adalah untuk perumahan, makanan, dan kriya. Di seluruh dunia
terdapat sekitar 2.5 milyar orang yang terlibat dalam perdagangan atau
penggunaan bambu (INBAR 1999). Teknologi pabrikan modern membuka jalan bagi
industri bambu yang menyerupai fungsi kayu (timber-based industries),
hingga mampu menyediakan produk bambu untuk lantai, dinding, laminasi, dan
furnitur. Bambu pun menjadi substitusi/pengganti kayu bagi pembuatan bubur (pulp)
bahan kertas; sekira 25% serat yang setiap tahun digunakan pada industri kertas
di India, itu berbahan dasar bambu (FAO 1998). Iwung (Sunda), rebung (Ind),
atau tunas bambu diketahui pula menjadi bahan makanan penting di sejumlah pasar
lokal bahkan internasional. Cina termasuk negeri pertama yang melakukan ekspor
produksi rebung, berdasar data ekspor tahunan nilainya mendekati angka US$ 140
juta (Feng Lu, 2001). Furnitur bambu pun kian meluas menjadi lahan bisnis
berbagai negara; ekspor furnitur bambu dari Filipina tahun 1998 bernilai US$
1.4 juta (Vantomme et al. 2002). Sementara di seluruh dunia, pasar domestik dan
aneka ragam penggunaan bambu ditaksir bernilai tak kurang dari US$ 4.5 milyar
per tahun. Ekspor bambu secara global berada pada kisaran US$ 2.7 milyar (INBAR
1999).
Itu sekadar gambaran bahwa demikian beragam/multi-fungsinya bambu di dalam kehidupan masyarakat di dunia. Peradaban atau kebudayaan kita sendiri, memang, telah mengenal bambu sejak ribuan tahun yang lampau. Jejak peradaban “buhun” tersebut bahkan sebagian di antaranya masih berlanjut hingga sekarang. Di dalam peradaban Sunda saja, kita mengenal sejumlah benda, peralatan, makanan yang berbahan dasar bambu semisal iwung (rebung atau tunas bambu untuk bahan makanan), hihid (alat kipas perapian), aseupan (bagian dari alat untuk menanak nasi), palupuh (bambu yang dipecah untuk alas tempat duduk), besek (wadah nasi/makanan), pipiti (wadah nasi/makanan), bilik (dinding rumah), nyiru (alat tampi beras), boboko (tempat nasi), ayakan (alat penyaring), taraje (tangga), korang (tempat ikan hasil pancingan), jeujeur (tangkai kail), sumplit (sumpit), suling (seruling), angklung, karamba (tempat ternak ikan di sungai), waroge (media upacara suku Badui), tiir (tusuk sate atau lainnya), cemped (bagian dari rumah berupa penjepit dinding), cukang beurit (bagian rangka silang konstruksi rumah), dampit (rusuk konstruksi sebuah leuit atau tempat penyimpanan padi), jungjang (bambu yang dipalangkan untuk pengikat konstruksi), rancatan (alat pikul), jambatan (jembatan), usuk (tulang atap rumah), ancak (anyaman bambu tempat penganan), carangka (tempat sampah), ceceting (alat untuk mendulang air), cireung (tempat menyimpan/membawa ikan), lodong (mainan seperti meriam), kekeba (wadah penganan), kojong (tempat ikan), pengki (tempat sampah), ranggap (kurung ayam), songsong (alat peniup bara api), telebug (tempat barang), tetenong (tempat menyimpan masakan), bubu (perangkap ikan), babalean (tempat bersantai), gatrik (mainan anak-anak menyerupai kasti), jajangkungan (mainan anak/berjalan dengan peninggian tubuh), perang gobang (mainan anak berupa pedang-pedangan); itu untuk menyebut sebagian saja dari sejumlah benda yang nyaris digunakan sepanjang hari di dalam kehidupan.
Yang paling mengemuka setidaknya dalam 10 tahun terakhir ini adalah
perkembangan arsitektur serta “bahan bangunan” yang berbahan bambu. Berkenaan
dengan itu maka lahir pula sejumlah rancangan arsitektural yang menakjubkan
serta demikian melimpah jumlah kreativitasnya. Berikutnya adalah ragam karya
seni, baik yang terkategorikan seni murni atau pun seni terapan di ruang publik
hingga berbagai bentuk kriya.
Sebut misalnya rumah-rumah bambu atau lebih tepatnya tenda-tenda
persinggahan yang dirancang dan direalisasikan oleh arsitek Ming Tang di Cina.
Rancang yang kemudian menjadi pemenang “WA Awards, 4th Cycle 2009” ini berdasar
kepada gagasan sekaligus kebutuhan rumah singgah bagi korban gempa bumi yang
terjadi di Sichuan, Cina, pada 2008. Bisa kita lihat bagaimana menariknya karya
Ming Tang ini secara visual, pola strukturnya struktur unik, serta kisi-kisi
cahaya dari efek bahan bambu tersebut. Tak kalah menariknya bahwa rancangan ini
ternyata memikirkan struktur berkelanjutan, bangunan dapat dilipat dan dibuka
dengan mudah, sehingga fungsional sekali sebagai tempat penampungan sementara
bagi korban bencana alam apapun.
Sementara itu pada tataran seni murni sekaligus sejenis seni patung
yang dihadiekan di ruang publik, tentulah harus menyebut karya-karya Joko
Avianto. Bagi warga Bandung tentu pernah menjumpai karyanya antara lain di
simpang jalan Pajajaran – Cicendo dan simpang Cicendo – Kebon Kawung. Karya
lainnya yang membuat “terperangah” adalah karya instalasi berjudul ’Pohon Besar
(Big Trees)’ yang tersusun dari beton dan 1.500 lebih batang bambu
dengan panjang setiap bambu sekitar 6 (enam) meter. Instalasi bambu yang
dikerjakannya selama tiga minggu ini dipajang di bagian depan Galeri
Kunstverein, menghadap ke lingkungan perkotaan Frankfurt, ditampilkan di dalam
pameran “ROOTS: Indonesian Contemporary Art” yang kaitannya dengan
keikutsertaan Indonesia di dalam Frankfurt Book Fair 2015.
| Tenda-tenda persinggahan yang dirancang dan direalisasikan oleh arsitek Ming Tang di Cina. Rancang yang kemudian menjadi pemenang “WA Awards, 4th Cycle 2009” ini berdasar kepada gagasan sekaligus kebutuhan rumah singgah bagi korban gempa bumi yang terjadi di Sichuan, Cina, pada 2008 (Foto dari http://www.bamboosdesign.com/)*. |
Langkah Kelanjutan
Bambu yang begitu dekat dengan kebudayaan Nusantara dan khususnya dalam kebudayaan Sunda, bisa dikatakan terus berkembang bahkan sesungguhnya mengalami perkembangan cukup jauh jika dibanding dengan tradisi awalnya. Di bidang konstruksi dan arsitektur atau desain bangunan bambu, misalnya, tampak sekali pada karya-karya Jatnika Nanggamiharja sang arsitek rumah bambu dari Cibinong, kenyataan karya-karya Effan Adhiwira, hingga (jika melihat ke luar) tak terhindarkan untuk menyebut karya-karya Simon Velez.
Perkembangan di bidang kriya bambu bahkan sampai ke seni murni yang
telah dirintis lama oleh Ahadiat Joedawinata dan terutama sang istri yaitu Rini
Chairin Hayati, kini terus berkembang dengan bermunculnya pakar-pakar baru
desain produk yang berkenan turun ke masyarakat pengrajin. Kriya bambu yang
semula beredar di kalangan masyarakat (maaf) bawah, kini tak canggung lagi
bermunculan di tempat-tempat yang sangat bergengsi.
Meski tak terlalu baru, patut pula dicatatkan di sini bahwa bambu
yang semula diperlakukan sebagaimana material alamiahnya yaitu sebagai tanaman
berongga (misal menjadi suling, kohkol, angklung, dsb.), dan/atau
dan sifat kulit luarnya yang elastis untuk kemudian dimanfaatkan menjadi aneka
anyaman; kini bisa diolah, dipadatkan, dibentuk baru dengan istilah baru yaitu
teknik laminasi. Dengan teknik ini bambu menjadi berbentuk tak bedanya dengan
kayu bahkan dengan tingkat kekuatan dan daya tahan yang lebih baik, maka muncul
lah bambu padat berbentuk batangan, lembaran seperti halnya papan, bentuk-bentuk parket untuk
lantai, bahkan menjadi aneka furnitur yang serba baru baik desain atau pun
teknologi pembuatannya.
Belakangan, dengan teknik menyerupai laminasi, bambu dibuat menjadi
sebentuk gitar. Sila bayangkan lekuk-lekuk bentuk gitar yang tak mungkin lagi
dibuat dengan sifat alamiahnya bambu. Bahkan, ditangan Endo Suanda dibuktikan
bambu pun bisa dibentuk menjadi kendang (gendang), dogdog,
biola, kacapi, dalam arti bambu telah berubah menjadi material solid (padat).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar