(Kelima dari Lima Catatan)
PENULIS manakala menyusun artikel-artikel berkait tentang
bambu ini, tidak dilandasi asumsi sebagai pakar di bidang bambu, melainkan
hanya bermodalkan kenangan, kecintaan, dan harapan terjadinya perubahan
perlakuan terhadap bambu secara besar-besaran. Perubahan yang dimaksud, seperti
teks serba selintas pada bagian lain tulisan ini, nyata sekali berkenaan dengan
kepentingan lingkungan hidup, aspek ekonomi, perkembangan kecendekiaan (baik
ilmu pengetahuan atau pun seni), dan/atau sejatinya budaya hingga kemungkinan
perkembangan bagi peradaban dan kebudayaannya itu sendiri.
Sejatinya pakar bambu yang pertama sekali harus disebut
adalah Elizabeth A. Widjaja. Meski pada dasarnya pengetahuan
tentang bambu telah tumbuh di masyarakat secara alamiah dan turun temurun,
namun Elizabeth A. Widjaja lah yang paling awal melakukan penelitian-penelitian
ilmiah tentang bambu. Ia tercatat sebagai peneliti senior ihwal taksonomi bambu
di IPB, dan peneliti di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Penelitian
Indonesia (LIPI). Salah satu karyanya adalah buku tipis tentang aneka jenis
bambu yang diterbitkan LIPI, merupakan buku hasil penelitian dan identifikasi
bambu yang tumbuh di Kebun Raya Bogor tersebut selalu menjadi rujukan bagi siapapun
yang ingin mengenal bambu lebih jauh.
Pakar teknik struktur bangunan yang kemudian
menjadi peneliti bambu sejak 1993 hingga sekarang adalah Prof.
Dr. Ir. Morisco. Banyak sekali temuan dan sumbangan ilmunya yang berkenaan
dengan bambu, diantaranya adalah cara penyambungan bambu
dengan pengisi (1993), alat pengawetan bambu dengan tekanan
(1998) yang memperoleh sertifikat paten
pada 2004, pelat dinding beton pencetak
dengan tulangan bambu (paten 2005), bambu laminasi (2004)
dalam bentuk papan yang dapat diaplikasikan untuk dinding, penutup lantai, daun
pintu, serta mebel, pengembangan bambu laminasi dalam bentuk
balok dapat diaplikasikan untuk kusen, batang-batang struktural yang mampu
memikul momen, gaya aksial dan lateral. Pria kelahiran Solo, 8
Februari 1945, ini terus menjadi peneliti bambu dan menjadi dosen tetap
pada Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas
Teknik di Universitas Gadjah Mada.
Seorang yang dikenal sebagai pendekar penghijauan dan
pengekspor rumah bambu dari Cimande adalah Jatnika Nanggamiharja. Pria
kelahiran Cikidang, Sukabumi, 2 Oktober 1956 ini tak terpisahkan dari tanaman
bambu. Produk-produk rumah bambunya, kini telah menjadi komoditas ekspor,
antara lain ke Malaysia, Brunei, dan Arab Saudi. Sejak tahun 1985, tercatat
telah membangun lebih dari 3.000 rumah bambu. Jatnika senantiasa menyisihkan
keuntungan bisnisnya untuk penghijauan tebing sungai terutama di sekitar sungai
sebagai penahan tebing. Bambu yang ditanamnya kini sudah merimbun di bantaran
Sungai Ciliwung, Cisadane, dan Ciluwer. Di kampung halamannya, Jatnika menanam
lebih dari 10 hektar bambu di tepian sungai Cimande. Tanaman bambu tersebut tak
sekadar mencegah erosi sungai, tapi juga memberi kesejahteraan bagi warga
sekitar. Jatnika pun melatih tenaga ahli pembuatan rumah bambu, mereka bahkan
dibekali kemampuan olahraga bela diri pencak silat Cimande. Jatnika pernah
menerima penghargaan sebagai pembuat rumah bambu tradisional terbanyak dari
Ikatan Arsitek Indonesia pada tahun 2009.
Jika kita ke Bali, hendaknya sempatkanlah ke sekolah
alternatif yang berkelanjutan, yaitu Green School yang
dibangun dan direalisasikan oleh pasangan John dan Cynthia Hardy pada tahun
2008. Di sana akan kita lihat bangunan ramah lingkungan serba bambu yang begitu
menakjubkan. Di balik itu, yang hendak kita catat di sini, adalah seorang pria
yang relatif masih muda yaitu Effan Adhiwira, kelahiran Jakarta, 19
September 1982. Pada 2007 Effan mendaftar ke PT Bambu yang pada saat itu sedang
memulai proyek Green School. Sarjana arsitektur lulusan Universitas
Gadjah Mada 2005 ini, tentu sebelumnya telah mendapat bekal dari Prof. Dr. Ir.
Morisco, tapi kiranya di Green School itulah ia mengalami
titik-balik dan mendapatkan ruang kesempatan untuk merealisasikan
gagasan-gagasannya yang antara lain berupa teknik lengkung untuk bambu.
Belakangan Effan merintis dan mengembangkan lembaganya sendiri yang bernama
“eff studio,” sejak itu pula karya mandirinya berupa arsitektur hingga seni
instalasi bermunculan di mana-mana. Untuk menyebut alakadarnya saja, karya Effan
Adhiwira antara lain adalah bangunan Dodoha Mosintuwu di pinggiran danau Poso,
Sulawesi tengah, dan restoran Bamboe Koening di Bali.
Demi menatap ambahan masa depan bambu yang lebih jauh,
patut kiranya kita menyebut Dr. Dwinita Larasati, M.A. sebagai
peneliti, pakar, ilmiahwati, dan aktivis bambu yang relatif masih tergolong
muda. Ia menyelesaikan studinya di bidang Desain Produk, Departemen Desain,
Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) 1997, dan meraih
gelar Doktor (Dr.), bidang Urbanism dan Materials Science &
Sustainable Construction, Faculty of Architecture dan Faculty of Civil
Engineering & Geosciences, di Delft University of Technology, Delft,
Belanda, 2007. Panjang sekali jika harus menguraikan seluruh kegiatan peraih
penghargaan Teknologi Inovator, Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-15,
Kementrian Riset dan Teknologi, 2010 ini. Di antara sederet aktivitasnya, Tita
(demikian panggilannya sehari-hari) nyaris tak henti turun langsung ke
masyarakat pengrajin demi pengembangan desain baru kriya bambu. Ia pun termasuk
yang gigih sejak merancang hingga merealisasikan teknologi hibrida, yaitu
teknologi pengolahan bambu dengan tetap merawat keahlian atau metoda
tradisional pada masyarakat yang dipertemukan dengan teknologi baru hingga
membentuk teknologi hibrida. Itu dikembangkannya demi melipat-gunakan potensi
bambu sekaligus demi meneguhkan gagasannya yang terus diperjuangkan yaitu
“bambu sebagai bahan berkelanjutan bagi kebutuhan hidup.”
Itu, tentu saja, teramat sedikit saja dari pakar atau tokoh
bambu yang ada di Indonesia. Tujuannya memang bukan hendak menguraikan daftar
nama-nama tokoh, melainkan sekadar menggambarkan bahwa bambu yang begitu dekat
dengan kebudayaan Nusantara itu ternyata terus berlanjut. Sebagai penutup, izinkan
menurunkan penggalan pusat pikiran Tita Larasati yang tertuang di dalam
thesisnya: “Bambu tumbuh di seluruh pulau dan kepulauan Indonesia, dan telah
menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia sejak berabad-abad yang
lampau. Disebabkan pertumbuhannya yang demikian cepat, bambu pun pada
gilirannya diyakini bisa menjadi sumberdaya berkelanjutan (sustainable
resource). Meski bambu tergolong ke dalam keluarga rumputan, kenyataan
teknisnya ternyata menyerupai sifat-sifat kayu, maka amat sangat memungkinkan
untuk menggantikan dan/atau sekurang-kurangnya menjadi sela di dalam penggunaan
kayu yang cenderung kian mencemaskan ketersediaannya,
Ada tiga faktor utama yang sangat mungkin bagi pengembangan
bahan alam yang luar biasa ini, yaitu (1) kontribusi teknologi madia (advanced
technology) dan metoda pengolahan yang bisa meningkatkan kualitas bambu,
(2) menyelia sumberdaya manusia tepat guna melalui penerapan teknologi tepat
guna, dan (3) memperkenalkan desain-desain yang telah teruji untuk mendorong
terciptanya produk-produk fungsional bagi potensi pasar yang lebih luas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar