Rabu, 27 Oktober 2021

Uga Ci Tarum: Bersatulah!

(Tulisan ke-4 dari 5 Tulisan Berkenaan dengan Ci Tarum)

Oleh: Herry Dim

KAMIS pagi, 22 Februari 2018, Presiden RI Joko Widodo memenuhi janjinya memberi tanda dimulainya upaya pemulihan ekosistem DAS (Daerah Aliran Sungai) Ci Tarum, bersama sejumlah menteri Kabinet Kerja di Bale Sawala Situ Cisanti yang merupakan kawasan hulu Sungai Ci Tarum, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Ditandai dengan penanaman pohon endemik Jawa Barat jenis manglid, Jokowi disertai juga Pangdam III Siliwangi saat itu Mayjen Doni Monardo, Kapolda Jabar Irjen Agung Budi Maryoto, dan jajaran lainnya serta sejumlah besar aktivis, kalangan pakar, sesepuh, komunitas yang “mikadeudeuh” Ci Tarum.

Sebelumnya yaitu Selasa, 16 Januari 2018, melalui undangan Sekretariat Kabinet RI, telah berlangsung rapat terbatas di Bandung bersama sejumlah tokoh masyarakat pemerhati lingkungan didampingi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Menteri Sekretaris Negara, Sekretaris Kabinet, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan Kepala Staf Kepresidenan. Saat itulah Jokowi menyatakan: "Ini pekerjaan besar dan harus dimulai, semua mesti terintegrasi dari mulai rehabilitasi, menyelesaikan persoalan limbah dan polusi dan segala kaitan di bawahnya lagi. Mungkin insya Allah dapat dilakukan dalam waktu tujuh tahun."

Jika agak mundur lagi sedikit, semuanya terhubung dengan pernyataannya saat meninjau pembangunan proyek kolam retensi di Cieunteung, Bale Endah, Kabupaten Bandung, Senin, 4 Desember 2017. “Mungkin Januari 2018 kita akan mulai besar-besaran dari hulu sampai ke hilir,” tutur Presiden Joko Widodo saat itu (lihat, Herry Dim “Jokowi dan Ci Tarum,” PR, Jumat, 8 Desember 2019, hal 28).

Itu sebatas tahapan yang disampaikan ke media hingga kemudian diketahui oleh publik, sementara yang berupa rapat-rapat khusus ternyata lebih banyak lagi. Seperti yang disampaikan Presiden sendiri saat memberikan pengantar rapat tertabatas 16 Januari 2018, bahwa sebelumnya telah terjadi rapat-rapat khusus membahas DAS Ci Tarum dengan Wapres dan jajaran Menko sebanyak tak kurang dari 14 kali.


PRAJURIT Siliwangi sedang melakukan reforestasi atau penghijauan kembali kawasan sekitar Ci Santi (kiri), dan (kanan) saat bahu-membahu dengan masyarakat memperbaiki tanggul jebol.* 

Kebersamaan

Apakah Jokowi bisa melakukannya sendiri? Siapapun tentu bisa segera menjawab dengan yakin: tidak akan bisa! Ya, Jokowi jelas bukan mahluk sakti mandraguna, bukan superman seperti dalam salasatu filmnya bisa memperbaiki bendungan jebol seorang diri, dan tentu bukan tukang sulap dengan simsalabim memunculkan wujud baru.

Jokowi sangat menyadari keterbatasannya sebagai manusia, dan dengan kapasitasnya sebagai pemimpin negara/bangsa, pun berujar dengan rendah hati: “Saya tak mampu apa-apa. Yang dibutuhkan adalah menggabungkan semua, saling percaya, masing-masing mengerahkan kepemimpinan dan bergerak bersama dengan potensi masing-masing.”

Di dalam rapat 16 Januari 2018 itu pun Jokowi menandaskan, bahwa penyelesaian Ci Tarum bukanlah semata-mata pekerjaan pemerintah tapi menjadi tugas seluruh masyarakat, landasannya adalah spirit kebersamaan dan semua bekerja.

Sangat masuk akal. Problem Ci Tarum memang sangat luar biasa. Terbukti sejumlah pergantian pemerintahan, misalnya, tak ada yang mampu menyelesaikan banjir di Cieunteung dan kawasan lainnya. Predikatnya kini pun tak tanggung-tanggung karena telah dinobatkan sebagai sungai terkotor di dunia. Anatomi tubuh Ci Tarumnya sendiri yang sepanjang 269 km, itu terhubung dengan tak kurang dari 21 anak sungai dengan aneka ragam dan/atau keberbagaian kehidupannya.

Bersumber kepada data grafis yang disampaikan Komandan Staf Khusus Presiden, Teten Masduki, tergambarkan bahwa 80% air Ci Tarum dikonsumsi penduduk DKI Jakarta, digunakan masyarakat sepanjang DAS untuk budidaya air tawar dan irigasi 430.000 hektare sawah, dan pemasok listrik sebesar 1.888 MW yang menerangi Jawa-Bali. Namun di sisi lainnya, adalah kenyataan hulu DAS Ci Tarum yang seyogianya berupa hutan telah berubah menjadi perkebunan. Seluruh tubuh dan alur sungainya telah dipenuhi limbah manusia atau pun industri. Data yang sama menyebutkan tubuh sungai Ci Tarum setiap harinya mendapat kiriman 35,5 ton tinja manusia, 56 ton kotoran ternak, 20.462 ton sampah organik dan non-organik, 340.000 ton limbah industri cair. Sementara berdasar hasil uji klinis menunjukan air dan juga pada ikan yang mengandung berbagai bahan berbahaya seperti merkuri, bakteri coliform, pseudomonas, aeroginosa, logam berat berupa besi (Fe), Mangan (Mn), Timbal (Pb), Sulfur (SO4), dan Klor (Cl). Serta harus pula dicatatat bahwa alur sungai yang seyogianya menjadi sumber kehidupan tersebut, di sisi lainnya adalah kenyataan bencana banjir yang terjadi setiap saat terutama di kawasan yang termasuk cekungan Bandung.

Di hadapan tumpukan persoalan seperti di atas, pemulihan Ci Tarum niscaya tak akan cukup hanya dihampiri dengan satu atau dua ilmu dan kepentingan, melainkan perlu diselesaikan dengan seluruh disiplin ilmu dan pengalaman hidup, mengingat ujung proyeksi ilmu dan pengalaman itu sendiri adalah azas manfaatnya bagi kehidupan.  


CI TARUM antara kenyataan dan harapan berdasar selebaran yang didapat langsung melalui Komandan Staf Khusus Presiden RI.*

Satu sama lain antara ilmu, pengalaman, dan kepentingan pun tak bisa lagi berlandas pikir sektoral dan/atau memosisikan diri sebagai yang terpenting, satu sama lain sangat perlu saling-membaca dan saling memahami kepentingan yang lain. Sisi pandang pengusaha yang berkenaan dengan perkebunan atau industri, misalnya, tak bisa lagi hanya menghitung laba dari hasil perkebunan dan produk industri belaka. Mereka seyogianya membuat hitungan lengkap antara untung dan rugi; di satu sisi, keuntungan memanglah keniscayaan bagi setiap bidang usaha, tapi di sisi lainnya tak terhindarkan untuk menghitung dampak kerusakan lingkungan yang bahkan bisa berakibat massal serta mengalir di sepanjang tubuh sungai Ci Tarum dan tak tersembuhkan dalam waktu panjang.

Itu kiranya Uga Ci Tarum terkini: bersatulah demi mengembalikan Ci Tarum sebagai sumber kehidupan, jika abai maka berbalik akan menjadi sumber bencana sepanjang sejarah.***

 


SEJUMLAH seniman antara lain Tisna Sanjaya, Rahmat Jabaril, Ine Arini, Ratman DS, Doddo Abdullah, serta jejaring Walhi dan Greenpeace, mengekspresikan nasib Ci Tarum dengan caranya masing-masing pada Hari Air Sedunia 2012 di Ci Tarum.* (FOTO: Ali Mecca dan Greenpeace Indonesia)

 (Herry Dimseniman, pelukis, pemerhati kebudayaan, penulis, tinggal di Bandung)

 : tulisan ini telah dimuat pada rubrik “Selisik” H.U. Pikiran Rakyat, 16 April 2016, halaman 21

Tidak ada komentar:

Posting Komentar