(Tulisan ke-4 dari 5 Tulisan Berkenaan dengan Ci Tarum)
Oleh: Herry Dim
KAMIS pagi, 22 Februari 2018, Presiden RI Joko Widodo memenuhi janjinya memberi tanda dimulainya upaya pemulihan ekosistem DAS (Daerah Aliran Sungai) Ci Tarum, bersama sejumlah menteri Kabinet Kerja di Bale Sawala Situ Cisanti yang merupakan kawasan hulu Sungai Ci Tarum, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Ditandai dengan penanaman pohon endemik Jawa Barat jenis manglid, Jokowi disertai juga Pangdam III Siliwangi saat itu Mayjen Doni Monardo, Kapolda Jabar Irjen Agung Budi Maryoto, dan jajaran lainnya serta sejumlah besar aktivis, kalangan pakar, sesepuh, komunitas yang “mikadeudeuh” Ci Tarum.
Sebelumnya yaitu Selasa, 16 Januari
2018, melalui undangan Sekretariat Kabinet RI, telah berlangsung rapat terbatas
di Bandung bersama sejumlah tokoh masyarakat pemerhati lingkungan didampingi
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Menteri Sekretaris Negara, Sekretaris
Kabinet, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat,
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan Kepala Staf Kepresidenan. Saat
itulah Jokowi menyatakan: "Ini pekerjaan besar dan harus dimulai, semua
mesti terintegrasi dari mulai rehabilitasi, menyelesaikan persoalan limbah dan
polusi dan segala kaitan di bawahnya lagi. Mungkin insya Allah dapat dilakukan
dalam waktu tujuh tahun."
Jika agak mundur lagi sedikit,
semuanya terhubung dengan pernyataannya saat meninjau pembangunan proyek kolam
retensi di Cieunteung, Bale Endah, Kabupaten Bandung, Senin, 4 Desember 2017.
“Mungkin Januari 2018 kita akan mulai besar-besaran dari hulu sampai ke hilir,”
tutur Presiden Joko Widodo saat itu (lihat, Herry Dim “Jokowi dan Ci
Tarum,” PR, Jumat, 8 Desember 2019, hal 28).
Itu sebatas tahapan yang disampaikan
ke media hingga kemudian diketahui oleh publik, sementara yang berupa
rapat-rapat khusus ternyata lebih banyak lagi. Seperti yang disampaikan
Presiden sendiri saat memberikan pengantar rapat tertabatas 16 Januari 2018,
bahwa sebelumnya telah terjadi rapat-rapat khusus membahas DAS Ci Tarum dengan
Wapres dan jajaran Menko sebanyak tak kurang dari 14 kali.
|
|
|
PRAJURIT
Siliwangi sedang melakukan reforestasi atau penghijauan kembali kawasan
sekitar Ci Santi (kiri), dan (kanan) saat bahu-membahu dengan masyarakat
memperbaiki tanggul jebol.* |
Kebersamaan
Apakah Jokowi bisa melakukannya sendiri? Siapapun tentu bisa segera menjawab dengan yakin: tidak akan bisa! Ya, Jokowi jelas bukan mahluk sakti mandraguna, bukan superman seperti dalam salasatu filmnya bisa memperbaiki bendungan jebol seorang diri, dan tentu bukan tukang sulap dengan simsalabim memunculkan wujud baru.
Jokowi sangat menyadari
keterbatasannya sebagai manusia, dan dengan kapasitasnya sebagai pemimpin
negara/bangsa, pun berujar dengan rendah hati: “Saya tak mampu apa-apa. Yang
dibutuhkan adalah menggabungkan semua, saling percaya, masing-masing
mengerahkan kepemimpinan dan bergerak bersama dengan potensi masing-masing.”
Di dalam rapat 16 Januari 2018 itu
pun Jokowi menandaskan, bahwa penyelesaian Ci Tarum bukanlah semata-mata
pekerjaan pemerintah tapi menjadi tugas seluruh masyarakat, landasannya adalah
spirit kebersamaan dan semua bekerja.
Sangat masuk akal. Problem Ci Tarum
memang sangat luar biasa. Terbukti sejumlah pergantian pemerintahan, misalnya,
tak ada yang mampu menyelesaikan banjir di Cieunteung dan kawasan lainnya.
Predikatnya kini pun tak tanggung-tanggung karena telah dinobatkan sebagai
sungai terkotor di dunia. Anatomi tubuh Ci Tarumnya sendiri yang sepanjang 269
km, itu terhubung dengan tak kurang dari 21 anak sungai dengan aneka ragam
dan/atau keberbagaian kehidupannya.
Bersumber kepada data grafis yang
disampaikan Komandan Staf Khusus Presiden, Teten Masduki, tergambarkan bahwa
80% air Ci Tarum dikonsumsi penduduk DKI Jakarta, digunakan masyarakat
sepanjang DAS untuk budidaya air tawar dan irigasi 430.000 hektare sawah, dan
pemasok listrik sebesar 1.888 MW yang menerangi Jawa-Bali. Namun di sisi
lainnya, adalah kenyataan hulu DAS Ci Tarum yang seyogianya berupa hutan telah
berubah menjadi perkebunan. Seluruh tubuh dan alur sungainya telah dipenuhi
limbah manusia atau pun industri. Data yang sama menyebutkan tubuh sungai Ci
Tarum setiap harinya mendapat kiriman 35,5 ton tinja manusia, 56 ton kotoran
ternak, 20.462 ton sampah organik dan non-organik, 340.000 ton limbah industri
cair. Sementara berdasar hasil uji klinis menunjukan air dan juga pada ikan
yang mengandung berbagai bahan berbahaya seperti merkuri, bakteri coliform,
pseudomonas, aeroginosa, logam berat berupa besi (Fe), Mangan (Mn), Timbal
(Pb), Sulfur (SO4), dan Klor (Cl). Serta harus pula dicatatat bahwa alur sungai
yang seyogianya menjadi sumber kehidupan tersebut, di sisi lainnya adalah
kenyataan bencana banjir yang terjadi setiap saat terutama di kawasan yang
termasuk cekungan Bandung.
Di hadapan tumpukan persoalan
seperti di atas, pemulihan Ci Tarum niscaya tak akan cukup hanya dihampiri
dengan satu atau dua ilmu dan kepentingan, melainkan perlu diselesaikan dengan
seluruh disiplin ilmu dan pengalaman hidup, mengingat ujung proyeksi ilmu dan
pengalaman itu sendiri adalah azas manfaatnya bagi kehidupan.
|
|
|
CI
TARUM antara kenyataan dan harapan berdasar selebaran yang didapat langsung
melalui Komandan Staf Khusus Presiden RI.* |
Satu sama lain antara ilmu, pengalaman, dan kepentingan pun tak bisa lagi berlandas pikir sektoral dan/atau memosisikan diri sebagai yang terpenting, satu sama lain sangat perlu saling-membaca dan saling memahami kepentingan yang lain. Sisi pandang pengusaha yang berkenaan dengan perkebunan atau industri, misalnya, tak bisa lagi hanya menghitung laba dari hasil perkebunan dan produk industri belaka. Mereka seyogianya membuat hitungan lengkap antara untung dan rugi; di satu sisi, keuntungan memanglah keniscayaan bagi setiap bidang usaha, tapi di sisi lainnya tak terhindarkan untuk menghitung dampak kerusakan lingkungan yang bahkan bisa berakibat massal serta mengalir di sepanjang tubuh sungai Ci Tarum dan tak tersembuhkan dalam waktu panjang.
Itu kiranya Uga Ci
Tarum terkini: bersatulah demi mengembalikan Ci Tarum sebagai sumber kehidupan,
jika abai maka berbalik akan menjadi sumber bencana sepanjang sejarah.***
|
|
|
SEJUMLAH
seniman antara lain Tisna Sanjaya, Rahmat Jabaril, Ine Arini, Ratman DS,
Doddo Abdullah, serta jejaring Walhi dan Greenpeace, mengekspresikan nasib Ci
Tarum dengan caranya masing-masing pada Hari Air Sedunia 2012 di Ci Tarum.*
(FOTO: Ali Mecca dan Greenpeace Indonesia) |
: tulisan ini telah dimuat pada rubrik “Selisik” H.U. Pikiran Rakyat, 16 April 2016, halaman 21
Tidak ada komentar:
Posting Komentar