(Tulisan ke-5 dari 5 Tulisan Berkenaan dengan Ci Tarum)
KABAR, pertukaran gagasan dan pengalaman, laporan kerja lapangan, doa, hingga sekadar obrolan senantiasa bermunculan setiap hari di grup WA “Spirit Citarum Harum” sebagai bagian yang relatif sangat aktif menjaga silaturahmi jejaring yang bercita-cita sama. Di antara silang-siur obrolan, salasatu dan sekadar contoh saja, adalah informasi sebagai berikut: “Tanggul jebol di wilayah Arcamanik. Saat ini sedang dilaksanakan pengerahan pembuatan tanggul sementara dengan melibatkan Kodim 0618, satu peleton Arhanudri, Polisi, dan masyarakat.”
Rasanya
siapapun dapat merasakan indahnya kebersamaan manakala menghadapi derita orang
lain dan kemudian mengatasinya secara gotong-royong, seperti terbersit di dalam
potongan informasi di atas.
Seperti
yang kita ketahui, Kodim 0618 itu Komando Distrik Militer 0618/Berdiri Sendiri
di Kota Bandung atau kerap ditulis Kodim 0618/BS yang bertanggung jawab
langsung kepada Kodam, dalam hal ini Kodam III/Siliwangi. Sementara Arhanudri
atau Batalyon Artileri Pertahanan Udara Ringan adalah satuan bantuan tempur
organik Kodam III/Siliwangi.
Apa
gunanya mengungkap kilas catatan ketentaraan tersebut? Tak lain demi memperlihatkan
bahwa keduanya tak memiliki hubungan teknis dengan urusan air dan banjir,
melainkan lebih berkenaan dengan urusan tempur. Tapi, inilah indahnya, sambil
bergandengan tangan dengan kepolisian yang sejatinya lebih berkenaan dengan
tugas-tugas keamanan dan penegakan hukum, kemudian bersatu dengan masyarakat
“berperang” melawan “amuk air.” Tersadari atau pun tidak, inilah konkretnya
berbangsa dan bernegara. Sagulung-sagalang atau hadir bersama
dalam kesetaraan, aparat hadir saat dibutuhkan, lantas rakyat pun ikut
berjibaku dengan sepenuh keikhlasannya demi kemanusiaan.
Tanggul
di wilayah Arcamanik bukanlah Ci Tarum, namun, seperti terurai di bagian lain
rangkaian catatan ini, langsung atau pun tak langsung galibnya sungai-sungai di
kota Bandung dan umumnya di Jawa Barat ini berangkai dengan Ci Tarum. Pun,
langsung tak langsung, kebersamaan tersebut relatif masih berada di lingkup
semangat “Ci Tarum Harum.” Komando dari Panglima Komando Daerah Militer
III/Siliwangi (Pangdam Siliwangi), Mayjen TNI Doni Monardo, terasa betul
berjejak dalam memperhatikan lingkungan dan khususnya Ci Tarum.
Di
penghujung waktu mengakhiri rangkaian tulisan ini, muncul salinan Surat
Keputusan Presiden RI tertanggal 14 Maret 2018, yang kemudian seperti dilansir
sejumlah media bahwa Mayjen TNI Doni Monardo diangkat menjadi Sesjen Wantanas
(Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional). Melalui surat terpisah,
tepatnya Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/247/III/2018, 19 Maret 2018,
Pangdam Siliwangi selanjutnya dijabat oleh Mayjen TNI Besar Harto Karyawan.
Semoga saja tongkat estafet yang telah terbentuk begitu indah dalam menghadapi
masalah Ci Tarum dan sungai-sungai lainnya di Jawa Barat, itu berlanjut di
bawah komando Pangdam Siliwangi yang baru.
Harapan
tersebut kiranya tidaklah nihil, masih bersumberkan kepada grup WA “Spirit
Citarum Harum” adalah petikan video pidato Mayjen TNI Besar Harto Karyawan yang
dikirim Peltu Kowad, Anna Ratnasari, tegas di sana terucapkan bahwa setelah
pelaksanaan acara Lepas Sambut Pangdam III/Siliwangi akan langsung melanjutkan
perjuangan Ci Tarum. Hadirin anggota grup pun segera bersahutan menyambut
gembira mengingat semangat Ci Tarum akan terus terjaga.
|
|
|
PRAJURIT Siliwangi sedang melakukan
reforestasi atau penghijauan kembali kawasan sekitar Ci Santi (kiri), dan
(kanan) saat bahu-membahu dengan masyarakat memperbaiki tanggul jebol.* |
Mengapa Harus Tentara?
Pertanyaan seperti subjudul di atas tak ayal sempat pula datang menghampiri pendengaran penulis. Meski tidak memosisikan diri sebagai orang yang paham, penulis katakan: “Bersama tentara dan Polri mengapa tidak?” Itu ditambah dengan sedikit uraian seperti halnya yang pernah disampaikan kepada mantan ketua Walhi Jabar dan pusat, Dadang Sudardja, di pertemuan awal bahwa bagus sekali turun tangannya Kodam III/Siliwangi serta Polri tersebut. Tentara bagaimanapun memiliki sistem komando yang begitu kuat, solid, dan efektif disamping ada latar kesejarahan kebersatuan Siliwangi dengan rakyat Jabar sejak zaman A.H. Nasution. Sementara Polri sangat penting mengingat banyak masalah-masalah yang berkenaan dengan pelacakan hingga penegakan hukum yang notabene tidak bisa dilakukan masyarakat umum.
Hampir
umumnya masyarakat Bandung/Jawa Barat tahu bahwa “mempermasalahkan” Ci Tarum
itu sudah berlangsung lama. Isu yang berkembang pun aneka ragam sejak
kajian-kajian akademik yang serius, jeritan- jeritan kalangan pecinta
lingkungan hidup, mereka yang turun langsung ke “medan perang,” ekspresi
seniman, hingga moda peminjaman isu untuk kepentingan politik pun pernah muncul
di sana. Pada Hari Air Sedunia 2012, misalnya, turunlah ke sana seniman Tisna
Sanjaya, Rahmat Jabaril, Ine Arini, Ratman DS, Doddo Abdullah, serta jejaring
Walhi dan Greenpeace. Tentu bukan bagian pekerjaan mereka untuk menyelesaikan
persoalannya kecuali ikut menyuarakan bahwa sudah begitu parahnya kadar “racun”
di Ci Tarum.
Sejumlah
pribadi dan komunitas-komunitas lain pun relatif begitu banyak yang
memperlihatkan kepedulian sekaligus terjun langsung sejak merawat limpahan
sampah hingga berbagai upaya tanggap darurat pada saat-saat banjir datang.
Namun, seperti yang dipahami pula, bahwa Ci Tarum tak bisa lagi dihadapi dengan
cara sporadis dan terpisah-pisah. Langkah yang terbaik adalah terjun bersama
dalam kesetaraan dan berkelanjutan. Untuk keserempakan, rasanya hampir tak ada
jalan lain kecuali adanya satu komando yang kemudian diterjemahkan ke dalam
ragam disposisi/keahlian serta irama kerjanya masing-masing. Mayjen TNI Doni
Monardo bagaimanapun telah memulai dan berinisiatif mengambil tongkat komando
kebersamaan yang kiranya akan berlanjut pada kepemimpinan Mayjen TNI Besar
Harto Karyawan.
Tujuh
tahun kiranya merupakan hitungan waktu yang cukup terutama di dalam penanganan
hal-hal teknis, dan bisa berhasil jika berjalan dalam gerak cepat serta tingkat
kekompakan yang tinggi. Inilah gerakan yang tidak lagi di dalam ruang diskusi
melainkan operasi langsung seperti hal yang biasanya dilakukan tentara dan
kepolisian. Sementara “gerakan budaya,” kemungkinan besar membutuhkan durasi
waktu tiga kali lipat atau sekira 21 – 30 tahun bahkan seyogianya tak berujung
meski “bersih” itu telah menjadi habit (kebiasaan).***
|
|
|
SEJUMLAH seniman antara lain Tisna
Sanjaya, Rahmat Jabaril, Ine Arini, Ratman DS, Doddo Abdullah, serta jejaring
Walhi dan Greenpeace, mengekspresikan nasib Ci Tarum dengan caranya
masing-masing pada Hari Air Sedunia 2012 di Ci Tarum.* (FOTO: Ali Mecca dan
Greenpeace Indonesia) : tulisan ini telah dimuat pada rubrik “Selisik” H.U. Pikiran Rakyat, 16 April 2016, halaman 21 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar