Rabu, 27 Oktober 2021

Tentara, Aktivis, dan Seniman

 (Tulisan ke-5 dari 5 Tulisan Berkenaan dengan Ci Tarum)

 Oleh: Herry Dim

KABAR, pertukaran gagasan dan pengalaman, laporan kerja lapangan, doa, hingga sekadar obrolan senantiasa bermunculan setiap hari di grup WA “Spirit Citarum Harum” sebagai bagian yang relatif sangat aktif menjaga silaturahmi jejaring yang bercita-cita sama. Di antara silang-siur obrolan, salasatu dan sekadar contoh saja, adalah informasi sebagai berikut: “Tanggul jebol di wilayah Arcamanik. Saat ini sedang dilaksanakan pengerahan pembuatan tanggul sementara dengan melibatkan Kodim 0618, satu peleton Arhanudri, Polisi, dan masyarakat.”

Rasanya siapapun dapat merasakan indahnya kebersamaan manakala menghadapi derita orang lain dan kemudian mengatasinya secara gotong-royong, seperti terbersit di dalam potongan informasi di atas.

Seperti yang kita ketahui, Kodim 0618 itu Komando Distrik Militer 0618/Berdiri Sendiri di Kota Bandung atau kerap ditulis Kodim 0618/BS yang bertanggung jawab langsung kepada Kodam, dalam hal ini Kodam III/Siliwangi. Sementara Arhanudri atau Batalyon Artileri Pertahanan Udara Ringan adalah satuan bantuan tempur organik Kodam III/Siliwangi.

Apa gunanya mengungkap kilas catatan ketentaraan tersebut? Tak lain demi memperlihatkan bahwa keduanya tak memiliki hubungan teknis dengan urusan air dan banjir, melainkan lebih berkenaan dengan urusan tempur. Tapi, inilah indahnya, sambil bergandengan tangan dengan kepolisian yang sejatinya lebih berkenaan dengan tugas-tugas keamanan dan penegakan hukum, kemudian bersatu dengan masyarakat “berperang” melawan “amuk air.” Tersadari atau pun tidak, inilah konkretnya berbangsa dan bernegara. Sagulung-sagalang atau hadir bersama dalam kesetaraan, aparat hadir saat dibutuhkan, lantas rakyat pun ikut berjibaku dengan sepenuh keikhlasannya demi kemanusiaan.

Tanggul di wilayah Arcamanik bukanlah Ci Tarum, namun, seperti terurai di bagian lain rangkaian catatan ini, langsung atau pun tak langsung galibnya sungai-sungai di kota Bandung dan umumnya di Jawa Barat ini berangkai dengan Ci Tarum. Pun, langsung tak langsung, kebersamaan tersebut relatif masih berada di lingkup semangat “Ci Tarum Harum.” Komando dari Panglima Komando Daerah Militer III/Siliwangi (Pangdam Siliwangi), Mayjen TNI Doni Monardo, terasa betul berjejak dalam memperhatikan lingkungan dan khususnya Ci Tarum.

Di penghujung waktu mengakhiri rangkaian tulisan ini, muncul salinan Surat Keputusan Presiden RI tertanggal 14 Maret 2018, yang kemudian seperti dilansir sejumlah media bahwa Mayjen TNI Doni Monardo diangkat menjadi Sesjen Wantanas (Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional). Melalui surat terpisah, tepatnya Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/247/III/2018, 19 Maret 2018, Pangdam Siliwangi selanjutnya dijabat oleh Mayjen TNI Besar Harto Karyawan. Semoga saja tongkat estafet yang telah terbentuk begitu indah dalam menghadapi masalah Ci Tarum dan sungai-sungai lainnya di Jawa Barat, itu berlanjut di bawah komando Pangdam Siliwangi yang baru.

Harapan tersebut kiranya tidaklah nihil, masih bersumberkan kepada grup WA “Spirit Citarum Harum” adalah petikan video pidato Mayjen TNI Besar Harto Karyawan yang dikirim Peltu Kowad, Anna Ratnasari, tegas di sana terucapkan bahwa setelah pelaksanaan acara Lepas Sambut Pangdam III/Siliwangi akan langsung melanjutkan perjuangan Ci Tarum. Hadirin anggota grup pun segera bersahutan menyambut gembira mengingat semangat Ci Tarum akan terus terjaga.


PRAJURIT Siliwangi sedang melakukan reforestasi atau penghijauan kembali kawasan sekitar Ci Santi (kiri), dan (kanan) saat bahu-membahu dengan masyarakat memperbaiki tanggul jebol.* 

Mengapa Harus Tentara?

Pertanyaan seperti subjudul di atas tak ayal sempat pula datang menghampiri pendengaran penulis. Meski tidak memosisikan diri sebagai orang yang paham, penulis katakan: “Bersama tentara dan Polri mengapa tidak?” Itu ditambah dengan sedikit uraian seperti halnya yang pernah disampaikan kepada mantan ketua Walhi Jabar dan pusat, Dadang Sudardja, di pertemuan awal bahwa bagus sekali turun tangannya Kodam III/Siliwangi serta Polri tersebut. Tentara bagaimanapun memiliki sistem komando yang begitu kuat, solid, dan efektif disamping ada latar kesejarahan kebersatuan Siliwangi dengan rakyat Jabar sejak zaman A.H. Nasution. Sementara Polri sangat penting mengingat banyak masalah-masalah yang berkenaan dengan pelacakan hingga penegakan hukum yang notabene tidak bisa dilakukan masyarakat umum.

Hampir umumnya masyarakat Bandung/Jawa Barat tahu bahwa “mempermasalahkan” Ci Tarum itu sudah berlangsung lama. Isu yang berkembang pun aneka ragam sejak kajian-kajian akademik yang serius, jeritan- jeritan kalangan pecinta lingkungan hidup, mereka yang turun langsung ke “medan perang,” ekspresi seniman, hingga moda peminjaman isu untuk kepentingan politik pun pernah muncul di sana. Pada Hari Air Sedunia 2012, misalnya, turunlah ke sana seniman Tisna Sanjaya, Rahmat Jabaril, Ine Arini, Ratman DS, Doddo Abdullah, serta jejaring Walhi dan Greenpeace. Tentu bukan bagian pekerjaan mereka untuk menyelesaikan persoalannya kecuali ikut menyuarakan bahwa sudah begitu parahnya kadar “racun” di Ci Tarum.

Sejumlah pribadi dan komunitas-komunitas lain pun relatif begitu banyak yang memperlihatkan kepedulian sekaligus terjun langsung sejak merawat limpahan sampah hingga berbagai upaya tanggap darurat pada saat-saat banjir datang. Namun, seperti yang dipahami pula, bahwa Ci Tarum tak bisa lagi dihadapi dengan cara sporadis dan terpisah-pisah. Langkah yang terbaik adalah terjun bersama dalam kesetaraan dan berkelanjutan. Untuk keserempakan, rasanya hampir tak ada jalan lain kecuali adanya satu komando yang kemudian diterjemahkan ke dalam ragam disposisi/keahlian serta irama kerjanya masing-masing. Mayjen TNI Doni Monardo bagaimanapun telah memulai dan berinisiatif mengambil tongkat komando kebersamaan yang kiranya akan berlanjut pada kepemimpinan Mayjen TNI Besar Harto Karyawan.

Tujuh tahun kiranya merupakan hitungan waktu yang cukup terutama di dalam penanganan hal-hal teknis, dan bisa berhasil jika berjalan dalam gerak cepat serta tingkat kekompakan yang tinggi. Inilah gerakan yang tidak lagi di dalam ruang diskusi melainkan operasi langsung seperti hal yang biasanya dilakukan tentara dan kepolisian. Sementara “gerakan budaya,” kemungkinan besar membutuhkan durasi waktu tiga kali lipat atau sekira 21 – 30 tahun bahkan seyogianya tak berujung meski “bersih” itu telah menjadi habit (kebiasaan).***   

 


SEJUMLAH seniman antara lain Tisna Sanjaya, Rahmat Jabaril, Ine Arini, Ratman DS, Doddo Abdullah, serta jejaring Walhi dan Greenpeace, mengekspresikan nasib Ci Tarum dengan caranya masing-masing pada Hari Air Sedunia 2012 di Ci Tarum.* (FOTO: Ali Mecca dan Greenpeace Indonesia)

: tulisan ini telah dimuat pada rubrik “Selisik” H.U. Pikiran Rakyat, 16 April 2016, halaman 21

Tidak ada komentar:

Posting Komentar