DANAU
Ci Santi (foto kiri) sebagai sumber Ci Tarum yang kini tampak jauh lebih
terawat dan asri setelah berjalannya program "Citarum Harum." Foto
tengah, pertemuan sungai Ci Tarum dengan salasatu anak sungainya (Ci Beureum)
tampak airnya yang hitam. Foto kanan, pemandangan sampah yang masih umum
terjadi di bagian Ci Tarum tengah hingga hilir seperti tampak ketika diambil
gambarnya di atas jembatan Kampung Mahmud. (FOTO: Herry Dim) |
(Tulisan ke-1 dari 5 Tulisan Berkenaan dengan Ci Tarum)
Oleh: Herry Dim
AWAL mula catatan ini dari obrolan dengan Irma Hutabarat sehubungan dirinya yang membangun saung di kawasan Ci Santi dan hendak diberi nama Saung Nyi Santi. Mima, demikian panggilan kami kepada Irma Hutabarat, memang hampir dalam setahun ini bolak-balik ke hulu sungai Ci Tarum tersebut untuk ikut membantu melakukan pemulihan lingkungan dan kualitas airnya. Ia menanam vetiver (Chrysopogon zizanioides) yang memang akar-akarnya potensial untuk penyaring (filtering) dan juga mampu menahan longsor.
Pembangunan
saung di kawasan Ci Santi itu sendiri, kiranya atas kesadaran bahwa upaya
pemulihan Ci Tarum dan merawat lingkungannya tak bisa dilakukan dalam tempo
singkat, bahkan manakala sudah kembali jernih pun mesti dijaga
keberlanjutannya. Untuk itu kiranya memerlukan tempat semacam posko tempat
berkumpul atau pusat gerakan sejak pengawasan, pelatihan dan pembelajaran
tentang perlindungan alam, merawat vetiver yang telah ditanam,
hingga kemungkinan membangun komunitas untuk kepentingan itu semua.
Sementara
yang menjadi pusat obrolan dengan penulis sesungguhnya tentang penamaan saung
“Nyi Santi.” Kala itu, penulis masih “menawar” dengan mengatakan: “rasanya
penggunaan kata sebutan Nyi atau Nyai seyogianya
ditimbang lagi.” Mima tentu mempertanyakan alasan-alasannya.
Penulis,
saat itu, terpaku kepada “Santi” sebagai nama yang mengesankan modern semisal
Giovanni Santi, Santi Sundari, Santi Diansari, dan sebagainya. Di sisi lain,
penulis menangkap penggunaan “Nyi” yang dimaksud oleh Mima itu seperti sebutan
Nyi Pohaci, Nyi Ageng Serang, Nyi Roro Kidul, Nyi Kantri Manik, dan semacamnya.
Mengingat sebelumnya dan telah lama Mima berkeinginan besar membuat rumah kerja
dengan nama Pohaci, seperti terucap pada bagian lain obrolannya: “Iya Kang,
sehat kan? Saung Bumi Pohaci Ci Tarum sudah jadi Kang, namanya Saung Nyi Santi
karena aku kini dibilang orang-orang kuncennya Ci Santi.”
Atas
dasar itu, penulis sampaikan bahwa "Nyi" jika untuk langitan seperti
Nyi Pohaci atau orang yang memang dihormati semisal Nyi Kantri Manik, itu
fungsinya sebagai tanda kerendah-hatian atau adab, dan/atau berfungsi
konotatif. Tapi jika digunakan untuk nama-nama di luar itu bisa berarti
sebaliknya dari langitan atau kehormatan, yaitu (maaf) rendah
atau yang direndahkan. Posisinya menjadi denotatif, seperti manakala
menyebutkan nama-nama dalam kategori “Nyai-nyai Belanda” yang artinya para
perempuan penghibur bagi para lelaki kolonial yang kesepian.
Obrolan
dengan Mima sesungguhnya berakhir hanya sampai di sana. Tapi di balik itu
terus-menerus terpikirkan sambil bertanya-tanya kembali: “Mestinya ada hal lain
dengan nama/kata “Santi” dalam kaitannya dengan Ci Santi yang berupa mata air
dan situ yang menjadi hulu sungai Ci Tarum itu?”
Dari Catatan Arca yang Hilang
Teks yang menghubungkan Ci Santi dengan masa lalunya antara lain adalah artikel “Dari Gunung Wayang, Angin Dewata Berembus” karya T. Bachtiar dan Dewi Syafriani yang termaktub di dalam buku “Bandung Purba” (2016:297-303). Bersumberkan kepada N.J. Krom (1914), disebutkan bahwa di salasatu puncak Gunung Wayang terdapat beberapa arca batu serta 40 arca lainnya. Tulisan TB dan DS tak menjelaskan rupa dan bentuk patung-patung tersebut karena memang telah lama “teu aya di kieuna” alias telah hilang. Informasi tambahannya barulah didapat dari “Komunitas Aleut!” berdasar tulisan Ariyono Wahyu Widjajadi yang berjudul “Arca-arca yang Hilang di Gunung Wayang.”
“Aleut!”
dengan mengutip informasi dari buku “Semerbak Bunga di Bandung Raya” karya
Haryoto Kunto, menyebut adanya sebuah arca begaya Polinesia. Keterangan
tersebut diperkuat dengan temuan “Aleut!” berupa buku “Tāmu: a New Zealand
family in Java” karya Marie Gray. Menurut Marie Gray yang mendaki Gunung Wayang
pada 1967, di puncak gunung terdapat enam arca yang juga disebut bertipekan
Polinesia. Keterangan Gray relatif meyakinkan, selain catatannya dilengkapi
sketsa bentuk patung temuannya, pun perlu dicatat bahwa Marie Gray itu
berkebangsaan Selandia Baru yang sedikit-banyaknya mengenal arca-arca dan
kebudayaan Maori (penduduk asli Selandia Baru) yang tak lain adalah masyarakat
kebudayaan Polinesia.
Berdasar
sketsa Marie Gray yang menggambarkan sosok bentuk sangat sederhana,
patung-patung tersebut diduga berasal dari peradaban Polinesia tua. Ini
dipertegas lagi oleh tulisan S. Percy Smith di dalam Jurnal Masyarakat
Polinesia Volume 30 - No. 117 – 1921. Disebutkan, mereka itu bergerak melalui
India pada sekitar awal abad ke-4 SM ke Indonesia, antara lain tiba di Sumatera
(Polinesia Tawhiti-roa), Jawa (salah satu dari Hawaikis), Kalimantan
(Ta-whiti-nui), dan Sulawesi. Bahkan sumber-sumber lain ada yang menyebutkan
migrasi masyarakat Polinesia ke Filipina dan bagian timur Indonesia itu pada
perkiraan tahun 3000 - 1000 SM.
Dari
kebudayaan Polinesia, anehnya, tidak ditemukan kosa-kata “Santi” kecuali
pada matarantai Polinesia-Prancis seperti di Haiti adalah “santi” yang berarti
“perasaan” atau dari bahasa Swahili dikenal ucapan “sana santi” yang artinya
“banyak terimakasih.” Dari sumber Polinesia-Prancisnya sendiri yang berpengaruh
pula kepada rumpun bahasa Italia dan Spanyol, arti santi berdekatan dengan
“suci” atau “yang disucikan.” Namun, itu pun kaitannya dengan Santo, Santa,
atau Saint, hingga kemudian kerap hanya dituliskan dengan “San”
saja seperti San Domenico, dsb. Sementara dari bahasa Maori dan Samoa yang
nyaris utuh sebagai pelanjut kebudayaan Polinesia, terjumpa kata “santi” kala
dipecah ke dalam dua suku kata yaitu “san” yang arinya “tahu atau paham” dan
“ti” yang berarti “dari.”
Pun
di dalam bahasa Sunda sebagai lingkup budaya tempatnya Ci Santi, ternyata tidak
memiliki kosa-kata "Santi" kecuali satu-satunya kata
"santika" (lihat, “Kamus Umum Basa Sunda,” LBSS, 1995) yang
berasal dari bahasa Kawi yang artinya tak begitu "nyambung" dengan
kawasan air jernih, séké (mata air), tempat yang luhung, tempat menyepi, dsb.
Demikian
halnya ketika kosakata tersebut dipecah menjadi dua suku kata "San"
dan "Ti." Khususnya pada suku kata "San" ternyata (dalam
bahasa Sunda) tak pernah berdiri sendiri seperti halnya di dalam kata
“sandiwara” atau “sandékala.” Kecuali untuk suku kata/bunyi pengucapan
"ti," relatif banyak kombinasinya baik sebagai awalan (prefix),
akhiran (suffix), atau pun sisipan (infix).
Mungkin
hubungannya yang terdekat justru dengan Hindu yang mulai masuk ke Indonesia
pada abad ke-9 hingga ke-16 Masehi. Memperhatikan pula catatan Marie Gray yang
menyebut dua patung bernama Hyang Pameget dan Hyang Istri, kiranya bisa saja
patung-patung tersebut asal-mulanya dari kebudayaan Polinesia namun kemudian
oleh masyarakat ketika itu digunakan sebagai “medium” yang berlandas pada
kepercayaan Hindu. Keberadaan Ci Tarum sendiri kerap disandingkan dengan
Tarumanagara atau Kerajaan Taruma, salasatu kerajaan tertua di Nusantara dan
pernah berkuasa di wilayah barat pulau Jawa pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M.
Taruma merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara, berdasar artefak-
artefak yang ada, umumnya kalangan pakar sejarah menyimpulkan bahwa Taruma
merupakan kerajaan Hindu beraliran Wisnu.
|
|
|
UMUMNYA
lingkungan sepanjang DAS Ci Tarum itu tidak begitu terawat dengan baik, namun
masih menyisakan potensi keindahan alam jika terurus dan airnya tidak keruh
seperti tampak pada foto ini.* (FOTO: Herry Dim) |
“Ti” di balik Ci Santi
Kosa-kata "Santi" dalam kaitannya dengan Ci Santi, kini, terhubung dengan mantra Hindu yang disebut Paramashanti yang berbunyi "Om Shanti Shanti Shanti Om" yang artinya "Oh Hyang Widhi, semoga senantiasa damai atas karuniaMu." Penulisan yang tepat memang dengan penghadiran konsonan "h" yaitu "Shanti," arti harfiahnya adalah kedamaian yang sempurna. Sementara kosa-kata "santi" di dalam bahasa Hindu-Bali berarti semboyan atau motto. Lain halnya “santi” (tanpa “h”) di dalam bahasa Sansekerta yang ternyata begitu subur pemaknaannya yaitu hadir/eksis, keberadaan, mungkin, di sana, adalah (jamak), hidup, menjadi.
Hilangnya
konsonan "h" pada penulisan Ci Santi, kiranya, berpokok kepada sistem
penulisan yang berdasar bunyi atau pengucapan. Ini kerap terjadi di dalam
sistem bahasa apapun, “want to” di dalam bahasa Inggris, misalnya, diucapkan
oleh orang Amerika dengan bunyi “wanna” maka seperti itu pula dituliskannya.
Dermikian halnya pergeseran antara “Shanti” dengan “Santi.”
Yang
menarik adalah kecenderungan tesisanya bunyi “ti” dari pengucapan “san-ti” yang
kemudian berkembang di dalam bahasa Sunda dan bahkan berpengaruh terhadap
bahasa Indonesia. Bahasa ucap kita, terutama dalam pengucapan panggilan,
cenderung menggunakan bunyi akhir atau terkadang bunyi awal. Terhadap orang
yang bernama Abdurahman, misalnya, di dalam percakapan bisa hanya tinggal bunyi
“man,” contohnya dalam ujaran: “Man, kamu sudah shalat Isya atau belum?”
Ada
dugaan hal pembunyian itu pula yang terjadi pada kosa-kata “san-ti” hingga
menjadi “ti” yang ternyata masih terus berkait dengan pengertian asalinya yaitu
sekitar damai, awal-mula, nilai, kausalitas atau berkenaan sebab-musabab, isi,
paham, yang sudah tentu, dsb. Perhatikan misalnya di dalam ucapan “ti Bandung
bade ka Jakarta” (dari Bandung hendak ke Jakarta), “ti” di sana menjadi penanda
titik awal. Bisa pula menjadi penunjuk kausalitas dari keadaan aman ke
peristiwa hingga akibatnya yang bernada petaka, seperti di dalam kata
ti-kosewad, ti-jalikeuh, ti-tajong, ti-dagor, dsb.
Sekadar
catatan, kita perhatikan kata pa-ti (nyawa), beu-ti (isi), sur-ti (paham atau
tahu diri), pinas-ti (yang sudah tentu), ti-nangtu (tentu), ja-ti (inti), ba-ti
(nilai atau kelebihan), a-ti (hati), ka-ti-ga (masa musim kemarau), murwakan-ti
(selaras), dan banyak lagi yang masih bisa dikumpul dan dicontohkan.
Selanjutnya kita perhatikan pula pengaruh bunyi “ti” terhadap bahasa Indonesia
yang ternyata masih memiliki kaitan makna dengan aslinya semisal ti-tik,
teli-ti, sak-ti, ha-ti yang bisa pula menjadi “hati-hati,” ke-ti-ka, hen-ti,
peris-ti-wa, dan seterusnya.
Demikianlah sekadar
catatan selintas yang bermaksud melihat bahwa Ci Tarum, Ci Santi, Gunung
Wayang, itu bukan semata-mata tempat, suatu kawasan, benda, atau sekadar nama
saja; melainkan suatu keberadaan yang saling-berkait dengan kesemestaan lainnya
(kosmologis). Betul bahwa waktu telah berubah, sistem kepercayaan dan sistem
kelola kemanusiaan pun mengalami perkembangan; tapi kiranya tentang nyawa, isi,
paham atau tahu diri, yang sudah tentu, inti, nilai atau kelebihan, hati,
musim, selaras; itu tetaplah universal dan berlaku di dalam sistem kepercayaan
apapun atau sistem kelola kemanusiaan manapun.***
|
|
|
BANYAK
ragam kehidupan yang relatif bergantung kepada Ci Tarum seperti antara lain
tampak pada gambar yaitu perkebunan pisang (foto kiri), pesawahan (tengah),
hingga industri rumahan yang memanfaatkan lumpur Ci Tarum untuk produksi bata
merah.* (FOTO: Herry Dim) |
(Herry
Dim, pelukis, pengamat kebudayaan, eseis, tinggal di Cibolerang,
Bandung).
: tulisan ini telah dimuat pada rubrik “Selisik” H.U. Pikiran Rakyat, 16 April 2016, halaman 19
Tidak ada komentar:
Posting Komentar