Rabu, 27 Oktober 2021

Ci Tarum, Ci Santi, dan “Ti”


DANAU Ci Santi (foto kiri) sebagai sumber Ci Tarum yang kini tampak jauh lebih terawat dan asri setelah berjalannya program "Citarum Harum." Foto tengah, pertemuan sungai Ci Tarum dengan salasatu anak sungainya (Ci Beureum) tampak airnya yang hitam. Foto kanan, pemandangan sampah yang masih umum terjadi di bagian Ci Tarum tengah hingga hilir seperti tampak ketika diambil gambarnya di atas jembatan Kampung Mahmud. (FOTO: Herry Dim) 

 (Tulisan ke-1 dari 5 Tulisan Berkenaan dengan Ci Tarum)

 Oleh: Herry Dim

 AWAL mula catatan ini dari obrolan dengan Irma Hutabarat sehubungan dirinya yang membangun saung di kawasan Ci Santi dan hendak diberi nama Saung Nyi Santi. Mima, demikian panggilan kami kepada Irma Hutabarat, memang hampir dalam setahun ini bolak-balik ke hulu sungai Ci Tarum tersebut untuk ikut membantu melakukan pemulihan lingkungan dan kualitas airnya. Ia menanam vetiver (Chrysopogon zizanioides) yang memang akar-akarnya potensial untuk penyaring (filtering) dan juga mampu menahan longsor.

Pembangunan saung di kawasan Ci Santi itu sendiri, kiranya atas kesadaran bahwa upaya pemulihan Ci Tarum dan merawat lingkungannya tak bisa dilakukan dalam tempo singkat, bahkan manakala sudah kembali jernih pun mesti dijaga keberlanjutannya. Untuk itu kiranya memerlukan tempat semacam posko tempat berkumpul atau pusat gerakan sejak pengawasan, pelatihan dan pembelajaran tentang perlindungan alam, merawat vetiver yang telah ditanam, hingga kemungkinan membangun komunitas untuk kepentingan itu semua.

Sementara yang menjadi pusat obrolan dengan penulis sesungguhnya tentang penamaan saung “Nyi Santi.” Kala itu, penulis masih “menawar” dengan mengatakan: “rasanya penggunaan kata sebutan Nyi atau Nyai seyogianya ditimbang lagi.” Mima tentu mempertanyakan alasan-alasannya.

Penulis, saat itu, terpaku kepada “Santi” sebagai nama yang mengesankan modern semisal Giovanni Santi, Santi Sundari, Santi Diansari, dan sebagainya. Di sisi lain, penulis menangkap penggunaan “Nyi” yang dimaksud oleh Mima itu seperti sebutan Nyi Pohaci, Nyi Ageng Serang, Nyi Roro Kidul, Nyi Kantri Manik, dan semacamnya. Mengingat sebelumnya dan telah lama Mima berkeinginan besar membuat rumah kerja dengan nama Pohaci, seperti terucap pada bagian lain obrolannya: “Iya Kang, sehat kan? Saung Bumi Pohaci Ci Tarum sudah jadi Kang, namanya Saung Nyi Santi karena aku kini dibilang orang-orang kuncennya Ci Santi.”    

Atas dasar itu, penulis sampaikan bahwa "Nyi" jika untuk langitan seperti Nyi Pohaci atau orang yang memang dihormati semisal Nyi Kantri Manik, itu fungsinya sebagai tanda kerendah-hatian atau adab, dan/atau berfungsi konotatif. Tapi jika digunakan untuk nama-nama di luar itu bisa berarti sebaliknya dari langitan atau kehormatan, yaitu (maaf) rendah atau yang direndahkan. Posisinya menjadi denotatif, seperti manakala menyebutkan nama-nama dalam kategori “Nyai-nyai Belanda” yang artinya para perempuan penghibur bagi para lelaki kolonial yang kesepian.

Obrolan dengan Mima sesungguhnya berakhir hanya sampai di sana. Tapi di balik itu terus-menerus terpikirkan sambil bertanya-tanya kembali: “Mestinya ada hal lain dengan nama/kata “Santi” dalam kaitannya dengan Ci Santi yang berupa mata air dan situ yang menjadi hulu sungai Ci Tarum itu?”

Dari Catatan Arca yang Hilang

 Teks yang menghubungkan Ci Santi dengan masa lalunya antara lain adalah artikel “Dari Gunung Wayang, Angin Dewata Berembus” karya T. Bachtiar dan Dewi Syafriani yang termaktub di dalam buku “Bandung Purba” (2016:297-303). Bersumberkan kepada N.J. Krom (1914), disebutkan bahwa di salasatu puncak Gunung Wayang terdapat beberapa arca batu serta 40 arca lainnya. Tulisan TB dan DS tak menjelaskan rupa dan bentuk patung-patung tersebut karena memang telah lama “teu aya di kieuna” alias telah hilang. Informasi tambahannya barulah didapat dari “Komunitas Aleut!” berdasar tulisan Ariyono Wahyu Widjajadi yang berjudul “Arca-arca yang Hilang di Gunung Wayang.”

“Aleut!” dengan mengutip informasi dari buku “Semerbak Bunga di Bandung Raya” karya Haryoto Kunto, menyebut adanya sebuah arca begaya Polinesia. Keterangan tersebut diperkuat dengan temuan “Aleut!” berupa buku “Tāmu: a New Zealand family in Java” karya Marie Gray. Menurut Marie Gray yang mendaki Gunung Wayang pada 1967, di puncak gunung terdapat enam arca yang juga disebut bertipekan Polinesia. Keterangan Gray relatif meyakinkan, selain catatannya dilengkapi sketsa bentuk patung temuannya, pun perlu dicatat bahwa Marie Gray itu berkebangsaan Selandia Baru yang sedikit-banyaknya mengenal arca-arca dan kebudayaan Maori (penduduk asli Selandia Baru) yang tak lain adalah masyarakat kebudayaan Polinesia.

Berdasar sketsa Marie Gray yang menggambarkan sosok bentuk sangat sederhana, patung-patung tersebut diduga berasal dari peradaban Polinesia tua. Ini dipertegas lagi oleh tulisan S. Percy Smith di dalam Jurnal Masyarakat Polinesia Volume 30 - No. 117 – 1921. Disebutkan, mereka itu bergerak melalui India pada sekitar awal abad ke-4 SM ke Indonesia, antara lain tiba di Sumatera (Polinesia Tawhiti-roa), Jawa (salah satu dari Hawaikis), Kalimantan (Ta-whiti-nui), dan Sulawesi. Bahkan sumber-sumber lain ada yang menyebutkan migrasi masyarakat Polinesia ke Filipina dan bagian timur Indonesia itu pada perkiraan tahun 3000 - 1000 SM.

Dari kebudayaan Polinesia, anehnya,  tidak ditemukan kosa-kata “Santi” kecuali pada matarantai Polinesia-Prancis seperti di Haiti adalah “santi” yang berarti “perasaan” atau dari bahasa Swahili dikenal ucapan “sana santi” yang artinya “banyak terimakasih.” Dari sumber Polinesia-Prancisnya sendiri yang berpengaruh pula kepada rumpun bahasa Italia dan Spanyol, arti santi berdekatan dengan “suci” atau “yang disucikan.” Namun, itu pun kaitannya dengan Santo, Santa, atau Saint, hingga kemudian kerap hanya dituliskan dengan “San” saja seperti San Domenico, dsb. Sementara dari bahasa Maori dan Samoa yang nyaris utuh sebagai pelanjut kebudayaan Polinesia, terjumpa kata “santi” kala dipecah ke dalam dua suku kata yaitu “san” yang arinya “tahu atau paham” dan “ti” yang berarti “dari.”        

Pun di dalam bahasa Sunda sebagai lingkup budaya tempatnya Ci Santi, ternyata tidak memiliki kosa-kata "Santi" kecuali satu-satunya kata "santika" (lihat, “Kamus Umum Basa Sunda,” LBSS, 1995) yang berasal dari bahasa Kawi yang artinya tak begitu "nyambung" dengan kawasan air jernih, séké (mata air), tempat yang luhung, tempat menyepi, dsb.

Demikian halnya ketika kosakata tersebut dipecah menjadi dua suku kata "San" dan "Ti." Khususnya pada suku kata "San" ternyata (dalam bahasa Sunda) tak pernah berdiri sendiri seperti halnya di dalam kata “sandiwara” atau “sandékala.” Kecuali untuk suku kata/bunyi pengucapan "ti," relatif banyak kombinasinya baik sebagai awalan (prefix), akhiran (suffix), atau pun sisipan (infix).

Mungkin hubungannya yang terdekat justru dengan Hindu yang mulai masuk ke Indonesia pada abad ke-9 hingga ke-16 Masehi. Memperhatikan pula catatan Marie Gray yang menyebut dua patung bernama Hyang Pameget dan Hyang Istri, kiranya bisa saja patung-patung tersebut asal-mulanya dari kebudayaan Polinesia namun kemudian oleh masyarakat ketika itu digunakan sebagai “medium” yang berlandas pada kepercayaan Hindu. Keberadaan Ci Tarum sendiri kerap disandingkan dengan Tarumanagara atau Kerajaan Taruma, salasatu kerajaan tertua di Nusantara dan pernah berkuasa di wilayah barat pulau Jawa pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M. Taruma merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara, berdasar artefak- artefak yang ada, umumnya kalangan pakar sejarah menyimpulkan bahwa Taruma merupakan kerajaan Hindu beraliran Wisnu.

 


UMUMNYA lingkungan sepanjang DAS Ci Tarum itu tidak begitu terawat dengan baik, namun masih menyisakan potensi keindahan alam jika terurus dan airnya tidak keruh seperti tampak pada foto ini.* (FOTO: Herry Dim)

“Ti” di balik Ci Santi

Kosa-kata "Santi" dalam kaitannya dengan Ci Santi, kini, terhubung dengan mantra Hindu yang disebut Paramashanti yang berbunyi "Om Shanti Shanti Shanti Om" yang artinya "Oh Hyang Widhi, semoga senantiasa damai atas karuniaMu." Penulisan yang tepat memang dengan penghadiran konsonan "h" yaitu "Shanti," arti harfiahnya adalah kedamaian yang sempurna. Sementara kosa-kata "santi" di dalam bahasa Hindu-Bali berarti semboyan atau motto. Lain halnya “santi” (tanpa “h”) di dalam bahasa Sansekerta yang ternyata begitu subur pemaknaannya yaitu hadir/eksiskeberadaanmungkindi sanaadalah (jamak), hidupmenjadi.

Hilangnya konsonan "h" pada penulisan Ci Santi, kiranya, berpokok kepada sistem penulisan yang berdasar bunyi atau pengucapan. Ini kerap terjadi di dalam sistem bahasa apapun, “want to” di dalam bahasa Inggris, misalnya, diucapkan oleh orang Amerika dengan bunyi “wanna” maka seperti itu pula dituliskannya. Dermikian halnya pergeseran antara “Shanti” dengan “Santi.”

Yang menarik adalah kecenderungan tesisanya bunyi “ti” dari pengucapan “san-ti” yang kemudian berkembang di dalam bahasa Sunda dan bahkan berpengaruh terhadap bahasa Indonesia. Bahasa ucap kita, terutama dalam pengucapan panggilan, cenderung menggunakan bunyi akhir atau terkadang bunyi awal. Terhadap orang yang bernama Abdurahman, misalnya, di dalam percakapan bisa hanya tinggal bunyi “man,” contohnya dalam ujaran: “Man, kamu sudah shalat Isya atau belum?”

Ada dugaan hal pembunyian itu pula yang terjadi pada kosa-kata “san-ti” hingga menjadi “ti” yang ternyata masih terus berkait dengan pengertian asalinya yaitu sekitar damai, awal-mula, nilai, kausalitas atau berkenaan sebab-musabab, isi, paham, yang sudah tentu, dsb. Perhatikan misalnya di dalam ucapan “ti Bandung bade ka Jakarta” (dari Bandung hendak ke Jakarta), “ti” di sana menjadi penanda titik awal. Bisa pula menjadi penunjuk kausalitas dari keadaan aman ke peristiwa hingga akibatnya yang bernada petaka, seperti di dalam kata ti-kosewad, ti-jalikeuh, ti-tajong, ti-dagor, dsb.

Sekadar catatan, kita perhatikan kata pa-ti (nyawa), beu-ti (isi), sur-ti (paham atau tahu diri), pinas-ti (yang sudah tentu), ti-nangtu (tentu), ja-ti (inti), ba-ti (nilai atau kelebihan), a-ti (hati), ka-ti-ga (masa musim kemarau), murwakan-ti (selaras), dan banyak lagi yang masih bisa dikumpul dan dicontohkan. Selanjutnya kita perhatikan pula pengaruh bunyi “ti” terhadap bahasa Indonesia yang ternyata masih memiliki kaitan makna dengan aslinya semisal ti-tik, teli-ti, sak-ti, ha-ti yang bisa pula menjadi “hati-hati,” ke-ti-ka, hen-ti, peris-ti-wa, dan seterusnya.

Demikianlah sekadar catatan selintas yang bermaksud melihat bahwa Ci Tarum, Ci Santi, Gunung Wayang, itu bukan semata-mata tempat, suatu kawasan, benda, atau sekadar nama saja; melainkan suatu keberadaan yang saling-berkait dengan kesemestaan lainnya (kosmologis). Betul bahwa waktu telah berubah, sistem kepercayaan dan sistem kelola kemanusiaan pun mengalami perkembangan; tapi kiranya tentang nyawa, isi, paham atau tahu diri, yang sudah tentu, inti, nilai atau kelebihan, hati, musim, selaras; itu tetaplah universal dan berlaku di dalam sistem kepercayaan apapun atau sistem kelola kemanusiaan manapun.*** 


BANYAK ragam kehidupan yang relatif bergantung kepada Ci Tarum seperti antara lain tampak pada gambar yaitu perkebunan pisang (foto kiri), pesawahan (tengah), hingga industri rumahan yang memanfaatkan lumpur Ci Tarum untuk produksi bata merah.* (FOTO: Herry Dim)

      

(Herry Dim, pelukis, pengamat kebudayaan, eseis, tinggal di Cibolerang, Bandung).

 : tulisan ini telah dimuat pada rubrik “Selisik” H.U. Pikiran Rakyat, 16 April 2016, halaman 19

Tidak ada komentar:

Posting Komentar