Sabtu, 06 November 2021

Memetik Pelajaran dari Toga

Catatan: Herry Dim

SEMAKIN yakin bahwa sebenar-benarnya membangun peradaban dan mendorong kemajuan bangsa itu pertama sekali dengan memelihara alam dan sumberdayanya, sebab itulah habitat tempat hidup dan tumbuhnya suatu bangsa dan negara. Tak perlu kerumitan teoritik untuk memahami ini, cukup dengan logika sederhana saja, bahwa tak mungkin ada manusia yang bisa tumbuh dan berkembang dengan baik di tengah lingkungan yang buruk.

Katakanlah hal di atas itu tak lebih dari sebuah hipothesa yang ternyata kemudian terbuktikan kebenarannya ketika ada kesempatan dan tiba di sebuah pedesaan yang bernama Toga, bagian dari provinsi (prefecture) Toyama, Jepang.

Perjalanan kami ke Toga, sesungguhnya, adalah perjalanan untuk memenuhi undangan SCOT (Tadashi – Suzuki Company of Toga) kepada sutradara Fathul A. Husein bersama grup Neo Teater untuk mementaskan drama “Rumah Boneka” (A Doll’s House) karya Henrik Ibsen dalam forum “Asia Theatre Directors Festival Toga 2017,” bagian dari hajat besar “SCOT Summer Season 2017” yang lengkapnya berlangsung dari 25 Agustus s/d 10 September 2017. Selain NEO Theater yang mewakilkan Indonesia, forum tersebut menghadirkan juga grup undangan dari Cina, Taiwan, Korea, dan Jepang sendiri sebagai tuan rumah. Sebagai penutup dari keseluruhan rangkaian program adalah pementasan “Greetings from the Edge of the Earth” karya Tadashi Suzuki yang sekaligus disutradarainya sendiri.

Sejak kedatangan dan sepanjang mata memandang, terasa banyak hal yang mungkin sangat berguna untuk dicatat. Pertama, tentu saja sehubungan dengan program “Asia Theatre Directors Festival Toga 2017” itu sendiri. Bukan saja karena sifatnya program internasional yang diselenggarakan oleh SCOT/Toga Art Park yang secara resmi menyatakan sebagai “Mekahnya Teater” (the Mecca of Theatre), tapi juga banyak informasi yang kiranya bisa dipetik sesuai kebutuhan kita seperti yang diurai oleh Fathul A. Husein dalam bagian lain tulisan ini tentang “Pluralitas Teater Asia.” Kedua, tentu kita pun merasa perlu adanya gambaran tentang apa dan bagaimana NEO Theater seperti yang ditulis pula oleh Fathul A. Husein dalam ringkasan “Prinsip NEO Theater.” Ketiga, katakanlah inti oleh-oleh dari Toga berupa catatan teramat ringkas tentang lima pementasan dari lima negara. Keempat, tentang kawasan “Mekahnya Teater” yang begitu “siap” dan begitu terawat lingkungan hidupnya sehingga antara alam, seni, dan kebudayaan begitu saling-terkait seperti diantaranya terurai pada tulisan berikut ini. Ini terasa penting mengingat kita sendiri sesungguhnya memiliki sumber daya alam sekaligus seni dan kebudayaan yang menakjubkan, maka semoga bisa memetik pengalaman dari Toga ihwal merawat dan memuliakannya. Terakhir atau kelima, sambil senantiasa ingat sekaligus cinta kepada Cikapundung, Citarum, dan sungai-sungai lainnya di Indonesia, adalah tulisan khusus tentang Momose Gawa atau sungai Momose yang kaitannya dengan tingkat kesadaran masyarakat Jepang tentang kebersihan.


Kawan-kawan NEO Theater Indonesia saat berlatih di pelataran alam terbuka sekitar SCOT.*

Maju Tanpa Membabat Alam

Meski belakangan sekurangnya ada dua negara Asia yang demikian maju dalam berbagai hal termasuk industri sekaligus menguasai pasar dunia yaitu Korea Selatan dan China, kiranya Jepang tetap tak terbantahkan sebagai negeri yang memulai dan masih menempati posisi teratas. Negeri yang besaran wilayah daratnya kira-kira setara pulau Sumatera, itu ternyata menjadi demikian maju tanpa harus membabat dan merusak alamnya. Begitu menginjakan kaki di Toyama untuk kemudian menempuh jalan darat, sejauh mata memandang terkesan sekali bahwa bumi Jepang demikian terawat. Sebagian dari kita bolehlah berargumen bahwa kesan keterawatan itu muncul karena melihat Toyama yang besaran kotanya tidaklah seperti Tokyo. Argumen itu pun relatif segera terbantahkan manakala ada kesempatan bersepeda hingga bisa menyusuri pedesaan Toga, muncul kesan kuat bahwa desa bukanlah kawasan yang harus diperah dan disiksa demi kepentingan kota, malah sebaliknya, desa diperlakukan dengan begitu baik, dimuliakan, dan menjadi sumber-sumber inspirasi bagi kota. Tokyo, hemat saya, memang menjadi kota yang demikian besar tapi kiranya berkembang dengan menyerap ruh dari berbagai pedesaan sehingga perkembangannya tetaplah merupakan cerminan dari kehidupan sekaligus kekuatan kebudayaan desa-desanya yaitu sangat menghormati alam, tingkat kesadaran atas kebersihan yang demikian tinggi, dan merawat tradisi seni (jangan dibalik menjadi seni tradisi, pen) dengan sungguh-sungguh dan/atau dengan begitu baik. Dari landasan atau benih-benih itulah kiranya ilmu, kecendekiaan, teknologi, industri, hingga ekonomi kemudian ditumbuhkan.

Singkat cerita, tibalah kami di Taman Toyamaken Togageijutsu, Taman Seni Toga – Toyama. Di atas kawasan seluas kira-kira 54.804 m² terbentang sekeliling dan di dalamnya adalah hutan yang demikian terawat dengan baik. Kawasan tersebut berbatasan dengan Momose Gawa atau sungai Momose yang diaping pegunungan berhutan rimbun. Sekira 2 km dari Taman Seni Toga ke arah selatan adalah perkampungan kecil yang dihuni para petani. Sambil bersepeda dan beberapa kali menyempatkan berhenti untuk melepas pandang, terlihatlah sawah-sawah yang subur serta rumah-rumah petani yang nyata benar bedanya dengan rumah-rumah petani kita. Sedikit ke arah utara adalah Togasozokoryukan atau kawasan berkemah (camping ground) yang kerap dikaitan dengan kegiatan pementasan-pementasan teater di Taman Seni Toga.

Di sela-sela hutan di atas lahan tak kurang dari lima hektare tersebut berdiri dua gedung teater dengan arsitektur tradisional Jepang yaitu Toga Sanbo yang telah berumur 150 tahun dan kembaran mudanya yaitu New Toga Sanbo. Terdapat juga sebuah teater terbuka, Rock Theater, berupa teater alam berkesan Taman Zen yang membiarkan batu-batu besar sebagai bagian dari lingkungan; sejajar dengan itu adalah sebuah amfiteater, Toga Open Air Theater, berlatarkan sebuah danau kecil dan kerimbunan pepohonan. Sarana pertunjukan lainnya adalah teater kotak hitam yang terdapat di dalam gedung pusat pertukaran kreatif. Sedikit di luar kawasan tapi masih menjadi bagian dari Taman Seni Toga adalah gedung teater besar yang bernama Toga Grand Theater atau Toga Dai Sanbo.

Enam sarana teater tersebut digagas dan dikembangkan oleh teatrawan Tadashi Suzuki yang dikenal sebagai sutradara, penulis, dan filsuf kelahiran Shimizu, Shizuoka, 20 Juni 1939. Itu pula yang melandasi nama kelembagaannya yaitu Suzuki Company of Toga (SCOT). Berjalanannya visi Tadashi Suzuki yang mengembangkan filsafat “Culture is the Body!” serta menghadirkan pertunjukan-pertunjukan teater mancanegara dengan standar tinggi, itu berkat dukungan pemerintahan lokal dan nasional. Demikian setidaknya berdasar informasi dari situs resmi SCOT.

Tadashi Suzuki memang orang besar di dunia teater. Manakala jumpa dan berkesempatan ngobrol singkat dengan Suzuki, yang terbayang justru nama-nama besar dunia teater di tanah air. Berkelebatan di antaranya sosok Suyatna Anirun, Rendra, Arifin C Noer, dan Teguh Karya. Maka lidah pun tak ayal bertanya: “Pak Suzuki kenalkah dengan Rendra?” Tanya saya disaksikan Fathul A. Husein. Pertanyaan tersebut muncul karena sebelumnya pun telah masuk informasi di kepala bahwa Rendra pernah jumpa dengan Suzuki di New York, selain perjumpaannya dengan Richard Schechner. “Ya, saya kenal Rendra,” jawab Suzuki di tengah kerepotannya mengahadapi limpahan tamu.

Bersama Tadashi Suzuki.*

Jawaban singkat yang masih harus dikejar dengan investigasi tersebut, setidaknya “menghibur” saya yang selama puluhan tahun memangku hipothesis bahwa tiga teatrawan tersebut sepertinya memiliki titik hubung gagasan; Rendra sepulang dari AS antara lain menulis “Mempertimbangkan Tradisi,” memanggungkan “Oedipus” berkain sarung, serta tentu saja teater tubuh Bip Bop, hingga tehkrah-tekrih sendiri membuka Bengkel Teater di secuil lahan di tengah kepadatan kawasan Depok; Schechner mengembangkan teater lingkungan hidup (Environmental Theater); dan tersaksikan dengan mata-kepala sendiri bahwa Suzuki dengan prinsip “Kebudayaan adalah Tubuh” itu menggali habis-habisan tradisi teater Jepang dan kemudian ia transformasikan ke dalam dimensi teater kontemporer.

Bedanya, demikian sekelebatan hati saat ngobrol ringkas tersebut, Tadashi Suzuki itu jelas diurus, didorong, dan dijadikan aset kebudayaan kontemporer bangsa dan negaranya hingga menjadi inspirasi bagi negara/bangsa Jepang di dalam pengembangan bidang-bidang lainnya. Sementara tokoh-tokoh kita yang disebut di atas, itu nyata diabaikan bahkan sangat mungkin negara RI tak mengingat dan tak mengenal lagi nama-nama tersebut. Sebagai pembuktian, sila tanya gubernur Jawa Barat atau walikota Bandung: Apakah mengenal nama Suyatna Anirun?

Cukup itu saja pertanyaannya, jangan ditambah lagi dengan apa dan bagaimana yang pernah dipentaskan, apa yang pernah ditulis, diajarkan, apalagi tentang uang gajinya yang senantiasa disisihkan untuk produksi teater bahkan kerapkali ditunjang uang pinjaman dari koperasi tempatnya bekerja. Jangan, jangan ditambah dengan pertanyaan atau persoalan itu, kasihan, sebab hanya akan membuat gubernur atau pun walikota kita jadi bingung. Biarkan saja mereka membabat hutan dan membeton kotanya, biarkan mereka mengamputasi seni dan kebudayaan yang ada di daerah kekuasaannya. Biarkan.***

Dedi Warsana, Yayat HK, Muhammad Firdaus, Heksa Ramdono, dan Fathul A. Husein di pelataran sasana pertukaran budaya SCOT.*

Tulisan ini dimuat di lembar “Selisik” Pikiran Rakyat, 16 Oktober 2017, hal. 21.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar