Sabtu, 06 November 2021

Berendam di Momosé Gawa

 

SEMULA tak ada referénsi apapun tentang Toga. Yang terhimpun di dalam kepala malah poténsi alam sekaligus paradoksnya dengan timbunan perkara perusakan alam di negeri sendiri. Sebut misalnya tuntutan bersama masyarakat Bandung agar lahan éks Palaguna dijadikan hutan kota (urban forest) dalam gerakan partisipatoris #saveXpalaguna mengingat kawasan pusat kota Bandung itu sudah tak mungkin lagi menanggung beban bangunan beton, dan saat lahan tersebut kini kosong justru merupakan kesempatan baik bagi kota Bandung untuk mengembalikannya kepada kesejatian sejarah kota dan/atau bukan berprinsip kepada “sejarah péndék yang keliru.” Seperti pernah diurai (lihat, Hérry Dim, "Prinsip Tata Ruang Garuda Ngupuk," pada lembar “Selisik,” PR, Senin, 3 April 2017), bahwa awal mula lahan keprabon itu menjadi aréa komérsial justru pada masa penjajahan Hindia-Belanda, yaitu dengan dibangunnya beberapa bioskop yang kemudian “sejarahnya” berlanjut hingga menjadi pusat perbelanjaan Palaguna. Maka pertanyaannya bagi pemerintahan terkini: apakah pemerintahan RI sendiri akan melanjutkan kolonialisme Hindia-Belanda terhadap daulat bangsa sendiri atau justru memerdékakannya?

Terbayang juga poténsi alam sekawasan Cimenyan, Kabupatén Bandung (Utara), yang masih menyisakan keindahan alam tapi diam-diam “menyembunyikan” kemiskinan sebagian masyarakatnya karena salah-urus pemerintah baik kabupatén atau pun provinsi. Meski belum mampu “ancrub” sepenuhnya, terpikirkan bahwa kawasan Cimenyan sesungguhnya amat mungkin dikembangkan menjadi kawasan wisata alam, seni, dan kebudayaan yang dikelola masyarakat sekaligus (diharapkan) menghidupkan masyarakatnya. Itu setidaknya yang pernah dibincangkan dengan Faiz Manshur, Budhiana Kartawijaya, Enton Supriyatna Sind dan kawan-kawan lain dari Sedesa Sehati, pun dibahas bersama Deden Bulenk dan Abah Ujang berkenaan dengan poténsi Curug Batu Témplék.

Ingatan berkelana juga ke kawasan agak berjarak dari Bandung yaitu ke hamparan bukit Rimbang dan bukit Baling yang begitu anggun, sebuah kawasan yang diikat liukan sungai Bio nan jernih dan melimpah, serta hamparan hutan alamiah yang terbentang luas di kawasan Koto Lamo, Riau. Tapi, inilah yang membimbing langkah hingga sampai ke sana, keélokan bumi Nusantara tersebut bukan tanpa ancaman kerusakan. Seperti diuraikan oleh aktivis kebudayaan, Heri Budiman, serangan mulai bermunculan dari kaki bukit berupa perkebunan sawit hingga pembukaan lahan pertambangan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah gerakan terselubung para pemodal yang “membius” sebagian warga, sehingga membuka celah pertikaian antara warga yang ikut kepada modal dan warga yang ingin mempertahankan kelestarian hutan.

Kecemasan seperti itu bukanlah khayalan mengingat gésékan bahkan konflik kepentingannya sudah terasa bermunculan. Beruntung di sana masih ada sejumlah kalangan muda dari NGO Hakiki yang mendampingi kedua belah pihak terutama dalam bidang pemetaan, dan memberlakukan tradisi musyawarah adat yang melibatkan para Datuk dari sejumlah suku yang ada di sana. Di sisi lain adalah pula komunitas Sikukeluang yang melakukan berbagai upaya penyelamatan melalui jalan seni dan kebudayaan.

Upaya semacam itu tampak pula di di kawasan Gunung Hampelas, Situsari, Bungursari, Tasikmalaya. Kawasan yang semula memberi tanda bagi sebutan kota Tasikmalaya sebagai kota seribu bukit, itu kini nyaris “tumpur” karena bukit demi bukit “ditugar” melalui penambangan pasir dan batu. Sedikit sisa Bukit Hampelas, kini, “dijaga” oleh komunitas Bumi Mahardhika melalui berbagai kegiatan seni yang kelak diharapkan menjadi tujuan wisata serta sanggup menghidupi masyarakatnya.

Kilas balik tersebut, tentu, hanya merupakan secuil titik-titik saja yang sempat terhampiri mengingat perkara perusakan alam di tanah air kita ini merebak di mana-mana. Yang jelas, itu semua terus berkecamuk di kepala selama berada di Toga.


Bersepeda dan Mandi di Momosé

Sebelum tiba di kawasan Taman Seni Toga, bus yang membawa rombongan NEO-Theater Indonésia menyempatkan singgah di sebuah jajaran pertokoan yang masih di wilayah Toyama. Saya bersegera menghampiri sungai atau tepatnya saluran air di samping jajaran pertokoan yang kala di bus pun sudah terlihat. Satu-satunya keingintahuan adalah melihat kondisi sungai tersebut.

“Bersih tak ada secuilpun sampah, tak ada pula busa sabun, padahal sungai ini berada di tengah kota, berdampingan dengan pertokoan, melintas perumahan, dan juga pesawahan,” ujar saya tak tertahankan manakala ada salaseorang teman menghampiri.

Kesan bersih dan jernih terus berbayang hingga kemudian sua dengan Momosé Gawa atau sungai Momosé yang berada di kawasan Taman Seni Toga. Singkat kisah, selepas agénda pertunjukan dan rombongan Indonésia memiliki sedikit waktu, mereka berjalan-jalan ke pusat kota provinsi Toyama. Saya sendiri memutuskan tak ikut, memilih tinggal sendirian karena sejak awal sudah berkeinginan bersepeda masuk pedésaan dan menyusuri sungai Momosé.

Setelah menatap dari jarak beberapa langkah, tak tertahankan tubuh terpanggil meminta ancrub ke Momose. Awalnya masih dengan pakaian lengkap meski risikonya celana basah. Setelah yakin begitu bersih, tak tertahankan pula untuk menyempatkan wudhu meski bukan untuk menjalankan shalat. Belakangan, sesungguhnya masih ada cerita lain yang terpaksa diringkas, saya memutuskan melepas semua pakaian kecuali celana dalam, lantas berendam di sana sendirian.

Saat berendam itulah terbayang Cikapundung, Citarum, Ciliwung, Kampar, dan sungai-sungai lainnya di tanah air. Empat nama yang disebut itu sekadar catatan saja yang pernah terhampiri dan ancrub pula. Selama berendam di kedinginan Momosé, hanya sebuah pertanyaan yang berulang-ulang bunyi di kepala: “Bagaimana sungai ini bisa bersih tanpa secuil pun sampah?”


Tradisi Bersih

Pertanyaan di atas kemudian saya sampaikan kepada Yoko 'pai' Nomura, kawan dari rombongan kami yang kelahiran Tokyo, Shibuya, tapi telah cukup lama menetap, menjadi pemusik, dan berkeluarga di Jakarta. Yoko bercerita bahwa tradisi bersih dan buang sampah pada tempatnya itu telah ditanamkan sejak anak-anak usia dua tahun. “Tidak dalam bentuk perintah tapi dengan cara main-main, anak-anak di setiap rumah itu dibiasakan membuang sampah pada tempatnya,” kata Yoko.

Ia meneruskan bahwa kelak saat telah sekolah, anak-anak pun diajak studi-wisata ke tempat penampungan dan pengolahan sampah. Meréka pun menjadi tahu bahwa sampah dari rumah atau dari manapun, itu mengalami perjalanan panjang dan rumit. “Saya sudah tahu sejak kecil bahwa sampah dari rumah saya sendiri itu sekurang-kurangnya harus mengalami perjalanan selama tiga bulan,” kata Yoko sambil menjelaskan bahwa dengan itu tiap anak kian menyadari sulitnya mengurus sampah dan arti penting hidup bersih. Tentang ini, segera dan keésokan paginya saya sengaja bangun pagi sekadar ingin melihat perjalanan sampah dari lingkungan tempat kami tinggal di SCOT.

Setiap pagi datanglah ibu-ibu setengah tua berkendaraan mobil sendiri berukuran kecil. Meréka merawat sampah-sampah yang sudah terkumpul untuk ditempatkan di penampungan utama. Yang menarik adalah kepribadian tiap ibu-ibu ini, sama sekali tak memperlihatkan kerendahan diri sebagai tukang ngurus sampah, demikian pula sekelilingnya memperlakukannya dengan hormat. Demikianlah amatan informal ini, saya lakukan juga kala datang truk sampah, memperhatikan sejak memilah-pilah kembali sampah hingga membawanya pergi.

Ketika saya kejar tentang adab bersih, tidak buang sampah sembarangan, hingga begitu beradabnya merawat pepohonan dan hutan; Yoko Nomura menjelaskan bahwa besar sekali sumbangannya dari kesadaran tradisi serta dasar kepercayaan masyarakat Jepang. Setiap tempat, baik itu sungai, sumber air, pohon, hutan, sawah, kebun, jelas Yoko, itu diyakini ada penunggunya, ada dewa-dewanya. Maka, kata Yoko pula, tiap orang tidak mungkin atau tidak pernah berani untuk memperlakukannya secara sembarangan.***



Tulisan ini dimuat di lembar “Selisik” Pikiran Rakyat, 16 Oktober 2017, hal. 23.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar