Jumat, 19 November 2021

Kedamaian di Ciburial

Oleh: Herry Dim

 

PETANG di hari Sabtu, 25 November 2017, meruap-ruap hati menghirup sejumlah keindahan dan kedamaian di Eco Camp, jalan Pakar Kulon, Ciburial, Bandung. Begitu kaki menapak turun mengikuti sesusunan tangga kecil, segera pandang mata, penciuman, dan pori-pori sekujur tubuh disambut kerimbunan alam yang begitu terjaga. Pandang mata segera terpana oleh barisan pohon pinus dengan tubuh-tubuhnya yang menjulang tinggi tegak lurus ke langit. Melihat diameter batang serta ketinggiannya sekira lebih dari 40 meter, pinus-pinus tersebut diperkirakan telah berumur di atas 50an tahun. Tak sempat bertanya kepada Romo Ferry Sutrisna Wijaya yang sehari-hari memimpin kegiatan di sana, namun diperkirakan itu adalah jenis Pinus merkusii Jungh atau Pinus ponderosa. Tampak juga di sana serumpun bambu serta jenis pohon atau tanaman keras lainnya, bangunan pesanggrahan dan semacam pendopo dengan arsitektur tropis yang ramah serta menyerap keasrian lingkungan sekelilingnya. Di tengah lingkungan seperti itu, apatah namanya selain merasakan tentram dan damai?

Kedamaian lainnya meruap-ruap dari atmosfer acara yang tengah berlangsung. Petang itu memang bertepatan dengan peluncuran kumpulan haiku karya Yesmil Anwar yang berjudul “Bunga Ilalang.” Tampak hadir di sana Ceu Popong, Wawan S. Husein, Supardiyono Sobirin, Yayat Hendayana, Sis Triadji, Rosyid E. Abby, Etti RS, Iwan Abdurachman, Risyani, Agus Safari, Ine Arini, Martha Topeng, Dian Kencana, Reny Hasanah Ninit, Edief Wangi, Aming D Rahman, Imas Utami Lokayanti, serta tentu saja sang presiden HaikuKu Diro Aritonang dan para haijin (penulis haiku) lainnya. Sebagian dari nama-nama tersebut bergantian tampil baca haiku, menari, dan menyanyi dalam situasi meditatif, kontemplatif, dan tentu damai.

Di penghujung acara pentas haiku, para penonton didaulat masuk arena untuk kemudian semuanya diajak menulis haiku oleh Supardiyono Sobirin. Mereka dibagi ke dalam tiga kelompok besar, masing-masing kelompok mulai lah mencari kata-kata sambil menghitung jemari untuk menyusun pola 5-7-5 suku kata seperti lazimnya haiku.

Itu pun menarik. Ada kegirangan, kesibukan mencari kembali “kata” yang sesungguhnya digunakan sehari-hari tapi kemudian harus ditemukan polanya, dan yang terpenting menyusunnya menjadi kalimat puitik serta mendapatkan kigo atau isyarat waktu saat haiku ditulis, dan kireji yang berfungsi sebagai “kalimat pemotong” sekaligus menjadi sebuah klimaks haiku jika ditempatkannya di baris terakhir.

Dan yang lebih menarik lagi adalah kejadian saat mereka berkerumun saling-bantu menyusun haiku. Tampak di sana ada ibu biarawati berkerudung serta busana antara biru atau abu-abu, ada juga yang lebih muda dengan kerundung dan busana warna hitam, serta beberapa dengan setelan putih. Mereka berkelindan bersama ibu-ibu dan sejumlah remaja yang berjilbab atau pun tanpa kerudung, semuanya sama sibuk menyusun kata-kata untuk haiku. Selain mereka, tentu saja, ada juga sejumlah pria yang juga ikut sibuk di dalam kerumunan.

Begitu damai, itulah kesan kuat yang menyeruak. Kesan tersebut mendesak begitu kuat, maklum, karena kita semua pada hari dan waktu yang sama masih diramaikan oleh berita sehari sebelumnya berupa serangan bom di sebuah masjid di Mesir yang merenggut korban tewas 235 orang. Dua gambar kontras pun muncul. Kejadian di Mesir serta sekian banyak perseteruan berdarah sepanjang sejarah, itu seperti hadir menjadi gambar tanda tanya buram berukuran besar. Sementara kedamaian di Ciburial menjelma menjadi tanda seru atau tanda jawab kecil namun jernih, jelas, tajam menyentuh kalbu kemanusiaan kita.

 

Dari yang Kecil

 

JIKA kita masih percaya bahwa segala hal yang besar itu bermula dari yang kecil, dan yakin pula segala persoalan besar itu sejatinya mesti diurai ke bagian-bagian yang terkecil dan/atau bukan sebaliknya diperkeruh dengan berbagai “omong besar,” maka gambaran Eco Camp di kawasan Ciburial itu adalah jawaban yang paling konkret.

Romo Ferry Sutrisna Wijaya selaku Pembina sekaligus pengelola Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup, menyatakan bahwa Eco Camp sudah dirintisnya sejak 15 tahun yang lalu. Dalam tiga tahun terakhir ini serta berturut-turut bekerja sama dengan Saratoga untuk melakukan pelatihan para guru seluruh Indonesia. Tahun 2015 diikuti 51 guru, 2016 diikuti 55, dan tahun 2017 ini diikuti oleh 46 orang.

Mereka yang hadir di dalam kenduri kumpulan haiku “Bunga Ilalang, itu tak lain adalah para peserta pelatihan tahun ini. Untuk disebut beberapa saja diantaranya adalah para santri dari Jember, peserta dari Biara Domusorationis Manado, Rumah Sehat Cianjur, Ekopastoral Fransiskan NTT, Biara Elisa Tobelo Ternate, SMKN 1 Gunung Timang Kalimantan, SMAN 1 Sampit, dan lain-lain.

Tahun ini, bertepatan dengan Hari Guru Nasional ke –72, Eco Camp dan Saratoga memberikan pelatihan TOT (Training of Trainers) berbasis lingkungan, budaya, dan teknologi kepada 46 guru hasil seleksi dari 200 guru di Indonesia. Jumlah 46 orang di hadapan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 257.912.349 jiwa berdasar data per 30 Juni 2016, itu tentu sangat kecil bahkan bak butiran kecil di hamparan pasir, tapi justru yang kecil-kecil seperti inilah yang mendesak sekali untuk kian ditumbuh-kembangkan di seluruh kawasan Indonesia.

Tegangan suasana yang terutama tersulut oleh tensi politik, perkembangan perkotaan yang kian sesak dan panas, kehidupan yang kian tergesa-gesa, takaran hidup yang kian bergeser kepada raihan ekonomi ketimbang pencapaian harkat kemanusiaan, hingga pertikaian-pertikaian beraneka latar dan tak perlu itu hanya bisa terurai melalui hubungan kasih antar-manusia serta belajar dari kesabaran alam. Tempatnya bahkan bukan di uraian pidato hingga ceramah-ceramah, melainkan berbagai praxis yang bersentuhan langsung dengan kenyataan.

Alam dan lingkungan hidup yang baik niscaya memberikan dasar praxis itu semua. Melati dan mawar tak pernah berebut kuasa siapa yang paling utama, tak juga berebut udara; keduanya saling memberikan keharuman bagi semesta. Alam pun mengajarkan bahwa tak ada pohon yang tumbuh tergesa-gesa, semua berproses dengan penuh kesabaran, dan pada galibnya bukan “mengambil hidup” tapi justru “memberi kehidupan.” Itulah inti kasih seperti yang menyeruak petang itu di Ciburial.***

     

(Herry Dim, seniman, pelukis, pemerhati kebudayaan, penulis, tinggal di Bandung)