Catatan: Herry Dim
INGINKAH
merasakan berada di atas awan? Sungguh indah, takhenti membuat decak kagum
antara takjub oleh fenomena alam, kontemplasi yang membawa kita ke situasi
spiritual, dan mendapat pengalaman yang niscaya tak terlupakan. Jika ingin
merasakan, datanglah ke ‘Gerbang Awan Rimbang-Baling.’
Sekilas,
mungkin, deskripsi ringkas itu terasa sebagai bualan atau sebagaimana umumnya
promosi atau propaganda turistik. Segera saja harus dijawab: Bukan bualan dan takjuga
bermaksud promosi turistik melainkan impresi ringkas atas pengalaman yang
sesungguhnya. Atau bisa juga seseorang mengatakan: “Ah, bagi yang pernah
apalagi sering naik pesawat terbang, berada di atas awan itu biasa dan sudah
sering melihat atau mengalaminya!”
Tentu
saja pengalaman berada di atas awan saat terbang di dalam pesawat itu takpatut
dinisbikan karena benar adanya. Tapi ada bedanya bahkan jauh berbeda antara
melihat dan merasakan di dalam pesawat dengan kehadiran tubuh kita di Gerbang
Awan Rimbang-Baling. Manakala di dalam pesawat, bagaimanapun, kita berada di
ruang tertutup, tubuh kita terpisah dari sejatinya awan kecuali sekadar
penglihatan. Sementara di Gerbang Awan Rimbang-Baling, tubuh kita bersentuhan
langsung dengan awan, dan kita berada diantara awan atau di atasnya. Karena
itu, sentuhan titik-titik air yang lembut pembentuk awan tersebut akan langsung
terasakan, itu pula yang menimbulkan ketakjuban sekaligus tentu saja: dingin!
Ya,
awan di Rimbang-Baling seperti juga fenomena alam di manapun di muka bumi ini. Seperti
yang kita tahu, secara sederhana, awan itu terbentuk karena penguapan air yang
berasal dari laut, danau, atau sungai. Kemudian, uap air naik ke atas menjadi
titik-titik air dan terbentuklah awan. Evaporasi atau penguapan yang terjadi di
Rimbang-Baling itu terjadi dari sungai Bio yang membentang di kawasan Koto
Lamo, dan air yang berada di dedaunan hutan yang relatif masih terjaga
kelestariannya.
Sulit Dijangkau
Gerbang Awan Rimbang-Baling berada di kawasan Nagari Koto Lamo, berjarak sekira 180 km dari kota Pekan Baru, Riau, Sumatera Tengah, atau membutuhkan waktu tempuh dengan kendaraan sekira 4 – 6 jam. Perjalanan dengan kendaraan standar hanya bisa sampai di Desa Gema, ibukota Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kab. Kampar. Untuk selanjutnya bisa dilanjutkan dengan dua opsi, yaitu: (a) jalan darat dengan kendaraan khusus (off road), atau (b) jalan air dengan perahu sampan menyusur sungai Subayang.
Kendaraan
khusus baik empat roda atau pun dua roda diperlukan karena harus menempuh jalur
berat yang masih berupa tanah dan bebatuan dengan bagian-bagian tertentu yang
berongga lebar-lebar, jalanan menaik cukup terjal, serta masih harus
menyeberang sungai dengan menaikan kendaraan ke atas rakit penyeberangan.
Secara teknis dalam ukuran normal, jalan dari Desa Gema sampai Koto Lamo itu
takbisa dilewati kendaraan. Untuk sekadar iseng membuktikan silakan periksa
peta Google ataupun lainnya, niscaya akan didapat jawaban “maaf, kami tidak
dapat mengalkulasi petunjuk arah mengemudi dari “Gema” ke “Koto Lamo.” Jarak
tempuh terberat sesungguhnya takterlalu jauh, yaitu sekira 8 – 12 km atau
dengan waktu tempuh antara 60 – 90 menit. Bagi yang berkegemaran off road, bertualang, atau untuk
mendapatkan pengalaman baru; perjalanan ini sungguh merupakan ‘sesuatu’ yang
takakan terlupakan.
| Begini keadaan jalun darat menuju Rimbangbaling Koto Lamo. |
| Keindahan jalur air menuju Rimbangbaling Koto Lamo. |
“Berat
nian ya perjalanan ke sini,” komentar seseorang yang suatu ketika mengikuti
perjalanan ke Koto Lamo.
“Ya,
itulah luar biasanya, jika biasa-biasa saja ya biasa, takaneh dan takmenantang
lagi,” gurau Heri Budiman, pendiri Rumah Budaya Sikukeluang sekaligus yang
merintis pemberdayaan masyarakat adat Koto Lamo bersama Datuk Bandaro sebagai
tetua adatnya.
Takdimungkiri,
pengalaman perjalanan ke Koto Lamo itu bak perjalanan menembus alam mimpi,
perjalanan yang takpernah terbayangkan sebelumnya tapi nyata teralami.
| Menikmati gerbang awan Rimbangbaling. |
Gerbang Awan
Merujuk kepada data BPS (Badan Pusat Statistik) Kabupaten Kampar yang menyebut Gema berada pada ketinggian 100 m/dpl (di atas permukaan laut) atau situs resmi pekanbaru.go.id yang menyebut Pekanbaru berada pada ketinggian 5 - 50 m/dpl, maka letak geografis Gerbang Awan diperkirakan berada pada ketinggian 600 – 900 m/dpl. Takbegitu tinggi, namun justru itu menariknya. Manakala evaporasi terjadi sejak menjelang matahari terbit, embun-embun yang menguap membentuk awan itu takterlalu jauh dari tubuh kita, bahkan berada di sekeliling kita sebelum ia kian meninggi dan bergabung dengan awan lainnya di langit. Dalam ketinggian seperti itu, jika cuaca cukup baik, pandang mata ke kejauhan bisa melihat jajaran bukit barisan karena Koto Lamo sendiri berbatasan dengan Sumatera Barat. Sementara sekeliling terdekatnya adalah hutan lindung.
Koto
Lamo sebuah Kenegerian yang tepatnya berada di kawasan Bukit Rimbang dan Bukit
Baling, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Merujuk kepada
catatan perjalanan Thomas Diaz, orang Portugis yang disewa VOC untuk mencari hasil
hutan dan emas, kenegerian atau desa ini sudah ada sejak abad ke 16. Kini, Kenegerian
Koto Lamo dihuni oleh 260 Kepala keluarga dangan penduduk lebih kurang 1200
jiwa, dan berada dalam Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling. Berdasarkan
Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 173/Kpts-II/1986 dan SK Gubernur Riau Nomor Kpts.149/V/1982, kawasan seluas 141.226,25 ha ini telah ditetapkan
sebagai suaka margasatwa.
Di
Kenegerian Koto Lamo terdapat 6 suku yaitu suku yang pertama kali datang
(membuka kampung) adalah suku Petopang, kemudian suku yang ke dua datang adalah
suku Melayu, Melayu Ulak, Melayu Bosa, Domo, dan Piliang. Bagi orang yang ingin tinggal atau menikah
dengan orang Kenegerian Koto Lamo disyaratkan bahwa orang tersebut harus masuk
salah satu suku yang ada. Selain dua
alasan tersebut masih ada satu lagi yang bisa masuk suku yaitu perjalinan
persaudaraan.
| Heri Budiman |
| Suasana malam di camping ground Koto Lamo. |
Demi Ekonomi Rakyat Koto Lamo
Salasatu poster Sikukeluang sehubungan program Festival Rimbang-Baling #3 berbunyi: “Kebudayaan itu investasi, semestinya ia mampu menggerakan ekonomi rakyat.” Itu adalah cita-cita dasarnya. “Segala hal yang bisa dilakukan itu taklain demi perbaikan kehidupan masyarakat adat Koto Lamo,” ujar Heri Budiman sambil menjelaskan itulah sebabnya ia menggunakan tagar #saverimbang baling atau #lestariadat-lestarihutan. Pilihan itu dilakukan karena ada kecemasan hutan adat Rimbang-Baling pun mengalami deforestasi seperti kebanyakan hutan di Indonesia, bahkan hutan-hutan yang takjauh dari Rimbang-Baling pun telah banyak berubah menjadi perkebunan sawit.
Baik
Heri Budiman ataupun tetua adat, Datuk Bandaro, menjelaskan bahwa kehidupan
masyarakatnya cukup berat. Satu-satunya penghasilan rakyat adalah dari menyadap
karet yang pohon-pohonnya tumbuh liar di hutan dan/atau dalam arti tidak berupa
perkebunan. Manakala harga karet lumayan baik, kehidupan tentu saja masih bisa
bergantung pada hasil karet. Tapi selain sudah cukup lama harga karet anjlok
ditambah lagi jumlah pohonnya yang bisa disadap pun kian menipis, maka
kehidupan masyarakat menjadi sangat berat. Kebutuhan dasar terutama sandang dan
pangan, sangat sulit untuk bisa dipenuhi dengan baik. Meski sayur bisa didapat
dari berkebun dan ikan bisa didapat dari sungai, tapi yang paling pokok berupa
beras tetaplah harus mereka beli dari luar. Persoalan utamanya bukanlah pada
ketersediaan sandang dan pangan, melainkan pada daya beli mereka yang sangat
lemah.
| Datuk Bandaro dan Heri Budiman. |
“Berat
sih, Kang, tapi apapun yang bisa dilakukan ya kerjakan saja,” kata Heri
Budiman. Salasatu yang ditempuhnya yaitu dengan mendatangkan pelancong dari
luar yang kemudian dikaitkan dengan program-program kebudayaan yang ia buat.
“Tapi bukan juga jualan wisata sebab ini pun jika kebablasan adalah sama
mencemaskannya,” tambah Heri Budiman. Maka yang ia lakukan adalah memfasilitasi
perjalanan rombongan-rombongan kecil, dan itu pun melalui semacam seleksi
dan/atau penyampaian pengertian tentang adat setempat serta cita-cita dasarnya
itu sendiri.
| Kendaraan khusus Siku Keluang untuk menuju Koto Lamo. |