Senin, 01 November 2021

Keanekaragaman Bambu


(Ketiga dari Lima Catatan)

SEJUMLAH peneliti bambu mengatakan hanya sedikit saja pengetahuan kita tentang sumber daya dan penyebaran bambu, apalagi tentang ragam bambu yang berada di hutan yang masih alami. Sebagai tanaman hutan non-kayu, bambu tidaklah dimasukan secara tetap ke dalam inventarisasi kehutanan, itu pun membuat kurang dan belum lengkapnya data yang bisa didapat. Merujuk kepada data FAO (Food and Agriculture Organization, 2001) tentang statistik bambu ternyata masih menggunakan data periode 1954 hingga 1971. Saat ini, negara-negara yang memonitor produksi hutan non-kayu (NTFP) terus berupaya untuk melakukan pendataan bambu, namun selalu mendapatkan kesulitan pendataan karena empat hal di lapangan, yaitu: (1) belum ada kesamaan dalam taksonomi; (2) begitu banyaknya penggunaan di tingkat lokal, nasional, dan internasional; (3) ada fakta-fakta bahwa peredaran, penggunaan, atau pemasaran sejumlah produk bambu itu di luar struktur ekonomi non-bambu; (4) belum memiliki terminologi umum dan metoda pengukurannya yang belum sama di berbagai negara (FAO 2001).

Ditambah lagi oleh kemungkinan bahwa antara satu peneliti dengan peneliti lainnya, atau satu lembaga penelitian dengan lembaga penelitian lainnya yang berbeda negara itu belum saling akses dan/atau saling memperbaharui data, maka kerap terjadi antara data satu lembaga dengan lembaga lainnya itu berlainan. Empat orang peneliti (Bystriakova, Valerie Kapos, Chris Stapleton, Igor Lysenko) yang masing-masing dari International Network for Bamboo and Rattan Beijing (Cina), UNEP World Conservation Monitoring Centre Cambridge (Inggris), dan Royal Botanic Gardens, menurunkan data sebagai berikut:

 

NEGARA/ WILAYAH

JUMLAH SPECIES YANG DITEMUKAN

NEGARA/ WILAYAH

JUMLAH SPECIES YANG DITEMUKAN

Australia

3

Korea, DPR

2

Bangladesh

18

Pakistan

3

Bhutan

21

Papua New Guinea

22

Brunei

6

Philippines

26

Cambodia

4

Russia (Sakhalin and Kuril Islands)

1

China

626

Singapore

3

Hong Kong

9

Korea, Rep.

6

India

102

Sri Lanka

11

Indonesia

56

Thailand

36

Japan

84

Viet Nam

69

Laos

13

Malaysia

50

Myanmar

75

Nepal

25

Jumlah species di seluruh Negara 1.012

 

Sumber: Ohrnberger 1999

 

Jika berpegang kepada tabel data di atas, jelas bahwa bambu yang ada di Indonesia itu hanya 56 species saja. Sementara berdasar kepada data kita sendiri, beberapa sumber menyebutkan bahwa di dunia terdapat sekitar 1200 - 1300 jenis bambu, dari jumlah tersebut sebanyak 143 jenis (data baru ada pula yang menyebut 259 species) terdapat di Indonesia; 60 jenis tumbuh di pulau Jawa dan selebihnya menyebar di pulau-pulau lain di Nusantara. Dari jumlah tersebut, 14 jenis di antaranya bisa dilihat di Kebun Raya Bogor dan Cibodas, sementara 9 jenis di antaranya merupakan endemik (jenis bambu yang hanya tumbuh/asli) pulau Jawa. Maka, sesungguhnya Indonesia merupakan negara terkaya kedua di dunia dalam hal kepemilikan jumlah species bambu.

Dari sejumlah kenis bambu yang telah dikenali tersebut, banyak pula yang telah dikenal, digunakan, dan diberi nama oleh masyarakat setempat, beberapa lagi yang belum familiar diidentifikasi berdasarkan pengelompokan spesiesnya oleh pakar taksonomi sebagaimana berikut ini: Arundinaria japonica Sieb & Zuc ex Stend ditemukan di Jawa; pring ori atau Bambusa arundinacea (Retz.Wild. di Jawa dan Sulawesi; loleba (Bambusa atra Lindl.) di Maluku; Bambusa balcooa Roxb. di Jawa; bambu duri atau Bambusa blumeana Bl. ex Schul. f. di Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara; bambu pagar atau cendani atau Bambusa glaucescens (WildSieb ex Munro di Jawa; bambu embong (Bambusa horsfieldii Munro.) di Jawa; bambu tutul, pring tutul (Bambusa maculata) di Bali; bambu cendani, mrengenani (Bambusa multiplex) di Jawa; Bambusa polymorpha Munro. di Jawa; Bambusa tulda Munro. di Jawa; haur hejo (Bambusa tuldoides) di Jawa; awi ampel, haur koneng, haur hejo, pring kuning (Bambusa vulgaris Schard.) di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Maluku; bambu petung (Dendrocalamus asper) di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, dan Sulawesi; bambu sembilang (Dendrocalamus giganteus Munro.) di Jawa; bambu Batu atau Dendrocalamus strictur (RoxbNess. di Jawa; bambu cangkoreh, kadalan (Dinochloa scandens) di Jawa; bambu apus, awi tali (Gigantochloa apus Kurz.) di Jawa; bambu hitam, awi wulung, gombong (Gigantochloa atroviolacea) di Jawa; bambu legi, bambu ater, buluh, Jawa benel, awi ater, awi kekes (Gigantochloa atter) di Jawa; buluh Apus (Gigantochloa achmadii Widjaja) di Sumatera; bambu lengka tali (Gigantochloa hasskarliana) di Sumatera, Jawa, dan Bali; awi belang (Gigantochloa kuring) di Jawa;

bambu suluk atau Gigantochloa levis (BlancoMerr. di Kalimantan; bambu manggong (Gigantochloa manggong Widjaja.) di Jawa; bambu lengka, bambu terung, bambu bubat

(Gigantochloa nigrocillata Kurz) di Jawa; buluh Rengen (Gigantochloa pruriens) di Sumatera; bambu andong, gambang surat, peri (Gigantochloa psedoarundinaceae) di Jawa; tiyang kaas

(Gigantochloa ridleyi Holtum.) di Bali; bambu mayan, temen serit (Gigantochloa robusta Kurz.) di Sumatera, Jawa, dan Bali; buluh dabo (Gigantochloa waryi Gamble) di Sumatera; bambu hitam (Gigantochloa verticillata); Melocanna bacifera (RoxbKurz. di Jawa; bambu eul-eul atau Nastus elegantissimus (HasskHolt. di Jawa; bambu uncea, bambu buluh kecil (Phyllostachys aurea A&Ch. Riviera) di Jawa; bambu wuluh, tamiang (Schizotachyum blunei Ness.) di Jawa, Nusa Tenggara Timur, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku; bambu buluh besar, buluh nehe; awi buluh, ute watat, tomula (Schizotachyum brachycladum Kuez.) di Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Maluku; buluh bungkok (Schizotachyum candatum Backer ex Heyne) di Sumatera; bambu toi atau Schizotachyum lima (BlancoMerr. di Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua; bambu jalur (Schizotachyum longispiculata Kurz.) di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa; bambu jala, cakeutreuk, bambu lampar (Schizotachyum zollingeri Stend.) di Sumatera dan Jawa; dan bambu Jepang (Thryrsostachys siamensis Gamble.) di Jawa.

Sebagian dari jenis-jenis bambu di atas telah akrab dimanfaatkan masyarakat Nusantara untuk bahan bangunan (kontruksi), transportasi air, pembuatan alat musik, makanan, kerajinan, hiasan atau ornamen, serta beberapa untuk bahan pengobatan alami. Beberapa diantaranya sudah tersebar nyaris merata di Indonesia, meski ada pula beberapa jenis bambu yang mulai langka. Kelangkaan ini terjadi antara lain disebabkan oleh konversi lahan menjadi daerah pemukiman. 

Bambu gombong (Foto dari berbagai sumber).*

Bambu hitam (Foto: HDim).*


Bambu kuning (Foto dari berbagai sumber).*