Senin, 01 November 2021

Mengenal Beberapa Tokoh Bambu

 

Sebagian dari tokoh atau pakar bambu (dari kiri atas searah jarum jam): Elizabeth A. Widjaja, Prof. Dr. Ir. Morisco, Dr. Dwinita Larasati, M.A, Effan Adhiwira, dan Jatnika Nanggamiharja (Foto dari berbagai sumber).*

(Kelima dari Lima Catatan)

PENULIS manakala menyusun artikel-artikel berkait tentang bambu ini, tidak dilandasi asumsi sebagai pakar di bidang bambu, melainkan hanya bermodalkan kenangan, kecintaan, dan harapan terjadinya perubahan perlakuan terhadap bambu secara besar-besaran. Perubahan yang dimaksud, seperti teks serba selintas pada bagian lain tulisan ini, nyata sekali berkenaan dengan kepentingan lingkungan hidup, aspek ekonomi, perkembangan kecendekiaan (baik ilmu pengetahuan atau pun seni), dan/atau sejatinya budaya hingga kemungkinan perkembangan bagi peradaban dan kebudayaannya itu sendiri.

Sejatinya pakar bambu yang pertama sekali harus disebut adalah Elizabeth A. Widjaja. Meski pada dasarnya pengetahuan tentang bambu telah tumbuh di masyarakat secara alamiah dan turun temurun, namun Elizabeth A. Widjaja lah yang paling awal melakukan penelitian-penelitian ilmiah tentang bambu. Ia tercatat sebagai peneliti senior ihwal taksonomi bambu di IPB, dan peneliti di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI). Salah satu karyanya adalah buku tipis tentang aneka jenis bambu yang diterbitkan LIPI, merupakan buku hasil penelitian dan identifikasi bambu yang tumbuh di Kebun Raya Bogor tersebut selalu menjadi rujukan bagi siapapun yang ingin mengenal bambu lebih jauh.

Pakar teknik struktur bangunan yang kemudian menjadi peneliti bambu sejak 1993 hingga sekarang adalah Prof. Dr. Ir. Morisco. Banyak sekali temuan dan sumbangan ilmunya yang berkenaan dengan bambu, diantaranya adalah cara penyambungan bambu dengan pengisi (1993), alat pengawetan bambu dengan tekanan (1998) yang memperoleh sertifikat paten pada 2004, pelat dinding beton pencetak dengan tulangan bambu (paten 2005), bambu laminasi (2004) dalam bentuk papan yang dapat diaplikasikan untuk dinding, penutup lantai, daun pintu, serta mebel, pengembangan bambu laminasi dalam bentuk balok dapat diaplikasikan untuk kusen, batang-batang struktural yang mampu memikul momen, gaya aksial dan lateral. Pria kelahiran Solo, 8 Februari 1945, ini terus menjadi peneliti bambu dan menjadi dosen tetap pada Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik di Universitas Gadjah Mada.

Seorang yang dikenal sebagai pendekar penghijauan dan pengekspor rumah bambu dari Cimande adalah Jatnika Nanggamiharja. Pria kelahiran Cikidang, Sukabumi, 2 Oktober 1956 ini tak terpisahkan dari tanaman bambu. Produk-produk rumah bambunya, kini telah menjadi komoditas ekspor, antara lain ke Malaysia, Brunei, dan Arab Saudi. Sejak tahun 1985, tercatat telah membangun lebih dari 3.000 rumah bambu. Jatnika senantiasa menyisihkan keuntungan bisnisnya untuk penghijauan tebing sungai terutama di sekitar sungai sebagai penahan tebing. Bambu yang ditanamnya kini sudah merimbun di bantaran Sungai Ciliwung, Cisadane, dan Ciluwer. Di kampung halamannya, Jatnika menanam lebih dari 10 hektar bambu di tepian sungai Cimande. Tanaman bambu tersebut tak sekadar mencegah erosi sungai, tapi juga memberi kesejahteraan bagi warga sekitar. Jatnika pun melatih tenaga ahli pembuatan rumah bambu, mereka bahkan dibekali kemampuan olahraga bela diri pencak silat Cimande. Jatnika pernah menerima penghargaan sebagai pembuat rumah bambu tradisional terbanyak dari Ikatan Arsitek Indonesia pada tahun 2009.

Jika kita ke Bali, hendaknya sempatkanlah ke sekolah alternatif yang berkelanjutan, yaitu Green School yang dibangun dan direalisasikan oleh pasangan John dan Cynthia Hardy pada tahun 2008. Di sana akan kita lihat bangunan ramah lingkungan serba bambu yang begitu menakjubkan. Di balik itu, yang hendak kita catat di sini, adalah seorang pria yang relatif masih muda yaitu Effan Adhiwira, kelahiran Jakarta, 19 September 1982. Pada 2007 Effan mendaftar ke PT Bambu yang pada saat itu sedang memulai proyek Green School. Sarjana arsitektur lulusan Universitas Gadjah Mada 2005 ini, tentu sebelumnya telah mendapat bekal dari Prof. Dr. Ir. Morisco, tapi kiranya di Green School itulah ia mengalami titik-balik dan mendapatkan ruang kesempatan untuk merealisasikan gagasan-gagasannya yang antara lain berupa teknik lengkung untuk bambu. Belakangan Effan merintis dan mengembangkan lembaganya sendiri yang bernama “eff studio,” sejak itu pula karya mandirinya berupa arsitektur hingga seni instalasi bermunculan di mana-mana. Untuk menyebut alakadarnya saja, karya Effan Adhiwira antara lain adalah bangunan Dodoha Mosintuwu di pinggiran danau Poso, Sulawesi tengah, dan restoran Bamboe Koening di Bali.

Demi menatap ambahan masa depan bambu yang lebih jauh, patut kiranya kita menyebut Dr. Dwinita Larasati, M.A. sebagai peneliti, pakar, ilmiahwati, dan aktivis bambu yang relatif masih tergolong muda. Ia menyelesaikan studinya di bidang Desain Produk, Departemen Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) 1997, dan meraih gelar Doktor (Dr.), bidang Urbanism dan Materials Science & Sustainable Construction, Faculty of Architecture dan Faculty of Civil Engineering & Geosciences, di Delft University of Technology, Delft, Belanda, 2007. Panjang sekali jika harus menguraikan seluruh kegiatan peraih penghargaan Teknologi Inovator, Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-15, Kementrian Riset dan Teknologi, 2010 ini. Di antara sederet aktivitasnya, Tita (demikian panggilannya sehari-hari) nyaris tak henti turun langsung ke masyarakat pengrajin demi pengembangan desain baru kriya bambu. Ia pun termasuk yang gigih sejak merancang hingga merealisasikan teknologi hibrida, yaitu teknologi pengolahan bambu dengan tetap merawat keahlian atau metoda tradisional pada masyarakat yang dipertemukan dengan teknologi baru hingga membentuk teknologi hibrida. Itu dikembangkannya demi melipat-gunakan potensi bambu sekaligus demi meneguhkan gagasannya yang terus diperjuangkan yaitu “bambu sebagai bahan berkelanjutan bagi kebutuhan hidup.”

Itu, tentu saja, teramat sedikit saja dari pakar atau tokoh bambu yang ada di Indonesia. Tujuannya memang bukan hendak menguraikan daftar nama-nama tokoh, melainkan sekadar menggambarkan bahwa bambu yang begitu dekat dengan kebudayaan Nusantara itu ternyata terus berlanjut. Sebagai penutup, izinkan menurunkan penggalan pusat pikiran Tita Larasati yang tertuang di dalam thesisnya: “Bambu tumbuh di seluruh pulau dan kepulauan Indonesia, dan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia sejak berabad-abad yang lampau. Disebabkan pertumbuhannya yang demikian cepat, bambu pun pada gilirannya diyakini bisa menjadi sumberdaya berkelanjutan (sustainable resource). Meski bambu tergolong ke dalam keluarga rumputan, kenyataan teknisnya ternyata menyerupai sifat-sifat kayu, maka amat sangat memungkinkan untuk menggantikan dan/atau sekurang-kurangnya menjadi sela di dalam penggunaan kayu yang cenderung kian mencemaskan ketersediaannya,

Ada tiga faktor utama yang sangat mungkin bagi pengembangan bahan alam yang luar biasa ini, yaitu (1) kontribusi teknologi madia (advanced technology) dan metoda pengolahan yang bisa meningkatkan kualitas bambu, (2) menyelia sumberdaya manusia tepat guna melalui penerapan teknologi tepat guna, dan (3) memperkenalkan desain-desain yang telah teruji untuk mendorong terciptanya produk-produk fungsional bagi potensi pasar yang lebih luas. 

 (Herry Dim, pelukis, pengamat kebudayaan, eseis, tinggal di Cibolerang, Bandung).***

 Rangkaian tulisan ini telah dimuat di “Selisik/Pikiran Rakyat,” Senin, 5 Desember 2016, dalam versi yang telah diedit untuk kepentingan media.