Sabtu, 25 Desember 2021

1.000 Bambu dan Kebaikan Publik

Oleh: Herry Dim

BERITA baik itu agak lawas terlewatkan, bahwa pada 18 Maret 2017 ada ratusan orang yang berasal lebih dari 13 komunitas melakukan penanaman 1.000 bibit bambu di Arboretum Legok Pulus, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut. Gerakan tersebut merupakan upaya perbaikan atas kerusakan di wilayah hulu aliran sungai Cimanuk yang disinyalir menjadi salasatu penyebab banjir September 2016 yang lalu, yaitu banjir terparah yang pernah terjadi di Garut.

Tak disangsikan lagi, upaya tersebut merupakan kebaikan yang bisa dirasakan hasilnya dalam lima atau sepuluh tahun ke depan. Bambu yang hanya membutuhkan masa tumbuh antara 3 – 5 tahun, memang dikenal sebagai tanaman berakar serabut yang mampu mengikat unsur-unsur di dalam tanah sehingga bisa menjaga kemungkinan longsor meski di tanah tebing sekalipun. Sejumlah referensi khususnya bersumber kepada hasil penelitian bambu dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, menyebutkan bahwa penanaman bambu pun mampu mencegah agar sumber mata air tidak hilang karena tanaman ini mampu mengonservasi air. Bahkan batangnya dapat mengisap dan menampung air karena bersifat kapiler, sehingga air dapat dialirkan ke bawah dan menimbulkan mata air saat musim kemarau. Beberapa jenis bambu yang dianggap cocok ditanam di hulu dan sempadan sungai biasanya adalah Bambusa vulgaris (bambu ampel, haur) atau Bambusa vulgaris var. striata (bambu ampel kuning, bambu kuning), Schizostachyum iraten (buluh suling, buluh tamiang), Schizostachyum silicatum (buluh suling), Schizostachyum lima (butuh toi), dan Neololeba atra (loleba).

Kebaikan Publik

LEBIH jauh tentang bambu, bisa disimak di lembar “Selisik/Pikiran Rakyat, Senin, 5 Desember 2016. Catatan kali ini justru ingin melihat potensi keterlibatan publik di dalam menangani permasalahan-permasalahan lingkungan hidup yang harus diakui kian parah keadaannya.    

Penanaman 1.000 bibit bambu seperti disitir di awal catatan, merupakan kegiatan yang dikaitkan dengan Hari Air Dunia, 22 Maret, sekaligus merupakan rangkaian kegiatan Pikiran Rakyat dalam ulang tahunnya yang ke-51, bekerjasama dengan BNI, dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung. Sementara komunitas yang terlibat dalam kegiatan tersebut adalah Mahasiswa Pencinta Alam Mahacita Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Mapenta Universitas Islam Bandung (Unisba), Mapala Universitas Garut (Uniga), Kaniwata Universitas Siliwangi (Unsil), Siswa Pencinta Alam (Sispala) Himsipal SMAN 11 Bandung, Wanapala SMAN 6 Bandung, Stupala SMA Pasundan 8 Bandung, dan Sadagori SMAN 5 Bandung. Disertai juga Emergency Rescue Unit (ERU) Land Rover, Purna Paskibraka Indonesia Kabupaten Garut, hingga Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Kabupaten Tasikmalaya.

Bukan karena Pikiran Rakyat yang kebetulan menjadi tempat diturunkannya tulisan ini. Yang lebih penting diperhatikan adalah matarantai pola perayaan (ulang tahun dan semacamnya), kerjasama pihak swasta, dan keterlibatan lembaga-lembaga publik atau pun masyarakat pada umumnya. Mari kita bayangkan jika “guyub” demi kebaikan ini menjadi pola umum di dalam kehidupan kita, niscaya perkara-perkara lingkungan hidup akan lebih cepat teratasi. Pun sesungguhnya bisa diterapkan demi penyelesaian perkara-perkara sosial lainnya seperti yang berkenaan dengan pendidikan, kesehatan, hingga papan (hunian) rakyat, dan pangan. Berkenaan dengan itulah kita memahami pernyataan Direktur Pikiran Rakyat, Perdana Alamsyah, bahwa: "Kegiatan ini adalah simbol inspirasi. Sumber semangat untuk semua pihak dan juga diharapkan menjadi inspirasi untuk semua melakukan hal yang sama."

Hutan Bambu Arashiyama di Kyoto Jepang.*

FOTO: milik auroraxa.com

Peradaban Baru

KITA kembali ke pembicaraan bambu dan kaitannya dengan keterlibatan publik. Pertama harus diakui terlebih dahulu bahwa perlakuan terhadap tanaman bambu (sesungguhnya termasuk pula pada umumnya tanaman keras), itu dibiarkan tumbuh sendiri atau masih dianggap tanaman liar, sehingga tumbuhnya menjadi “leuweung simagonggong” atau hutan belantara. Di satu sisi, memang itulah kelebihannya bambu, tanpa diurus pun bisa tumbuh bahkan batangan bambu segar dengan cara ditancapkan begitu saja pun bisa tumbuh.

Kini kiranya perlu pula memperhatikan sisi lainnya, yaitu kemungkinan hutan bambu menjadi memiliki dimensi taman, bahkan sangat mungkin menjadi destinasi wisata. Salasatu contohnya adalah taman bambu Surabaya. Taman yang disebut juga Taman Sakura Keputih, itu bisa disebut belum sampai ke taraf ideal tapi sudah terasa adanya perlakuan baru terhadap tanaman bambu yaitu geseran dari pembiaran menjadi belantara ke prinsip taman. Contoh lain yang sepatutnya disebut adalah Taman Arashiyama yaitu Taman Hutan Bambu di Kyoto, Jepang.

Arashiyama merupakan taman hutan bambu yang dirawat dan dilindungi oleh negara, sangat terkenal keindahan dan penataannya, sehingga menjadi salasatu favorit kunjungan wisata. Setiap musim libur tiba, lorong-lorong jalan di sepanjang hutan bambu ini berubah menjadi lautan manusia. Kehidupan di sekelilingnya pun bertumbuhan. Sejak dari stasiun Kyoto ke arah Arashiyama itu berderet pertokoan, restoran, warung kue tradisional, aneka toko cendera mata, serta tentu saja sejumlah pemondokan hingga hotel berbintang.

Gambaran ini perlu dikemukakan mengingat segala bencana lingkungan hidup itu senantiasa diawali dengan terjadinya alih fungsi lahan hutan menjadi pertanian. Kejadian banjir September 2016 di Garut yang bahkan merenggut banyak korban jiwa, itu pun disinyalir karena terjadinya alih fungsi lahan hutan di sepanjang sungai Cimanuk yang menjadi pertanian.

Peraturan dan perundang-undangan sekitar alih fungsi lahan memang telah tersedia, tapi di sisi lain bahwa kebutuhan ekonomi masyarakat kerap menjadi seteru yang tak bisa dimungkiri. Konflik kepentingan inilah kiranya yang mesti ditengahi, pilihan terbaik adalah munculnya adab baru di setiap upaya penghutanan kembali lahan-lahan yang terambil alih. Khususnya yang berkenaan dengan penanaman bibit bambu, seyogianya dipikirkan pola perwatan dan pemanfaatan hutannya ke depan, sehingga hutan itu menjadi elok, menjadi taman, nyaman dikunjungi, dan akhirnya menghidupi kehidupan di sekelilingnya. Jika masyarakat sekeliling terhidupi ‘ada baru” tersebut, setidak-tidaknya kemungkinan alih fungsi dan apalagi penyerobotan itu akan berkurang atau tidak ada lagi.

Memang ada catatan lain, jenis bambu yang tumbuh di Arashiyama itu seperti umumnya bambu di kawasan empat musim yaitu monopodial, tumbuh per batang pohon bambu, kumpulan pohonnya berjejer-berbaris. Sementara bambu di Indonesia serta umumnya di kawasan dua musim, itu bersifat simpodial, tumbuh merumpun. Maka pola penataan taman (landscaping) hutan bambu simpodial, itu perlu desain tersendiri yang sesuai dengan sifat pertumbuhannya.***      

(Herry Dim, pelukis, pengamat kebudayaan, penulis, tinggal di Cibolerang, Bandung). 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar