Oleh: Herry Dim
BERITA baik itu agak lawas terlewatkan, bahwa pada 18 Maret 2017 ada ratusan orang yang berasal lebih dari 13 komunitas melakukan penanaman 1.000 bibit bambu di Arboretum Legok Pulus, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut. Gerakan tersebut merupakan upaya perbaikan atas kerusakan di wilayah hulu aliran sungai Cimanuk yang disinyalir menjadi salasatu penyebab banjir September 2016 yang lalu, yaitu banjir terparah yang pernah terjadi di Garut.
Tak
disangsikan lagi, upaya tersebut merupakan kebaikan yang bisa dirasakan
hasilnya dalam lima atau sepuluh tahun ke depan. Bambu yang hanya membutuhkan
masa tumbuh antara 3 – 5 tahun, memang dikenal sebagai tanaman berakar serabut
yang mampu mengikat unsur-unsur di dalam tanah sehingga bisa menjaga
kemungkinan longsor meski di tanah tebing sekalipun. Sejumlah referensi khususnya
bersumber kepada hasil penelitian bambu dari Pusat Penelitian Biologi LIPI,
menyebutkan bahwa penanaman bambu pun mampu mencegah agar sumber mata air tidak
hilang karena tanaman ini mampu mengonservasi air. Bahkan batangnya dapat mengisap
dan menampung air karena bersifat kapiler, sehingga air dapat dialirkan ke
bawah dan menimbulkan mata air saat musim kemarau. Beberapa jenis bambu yang dianggap
cocok ditanam di hulu dan sempadan sungai biasanya adalah Bambusa vulgaris
(bambu ampel, haur) atau Bambusa vulgaris var. striata (bambu ampel kuning,
bambu kuning), Schizostachyum iraten (buluh suling, buluh tamiang),
Schizostachyum silicatum (buluh suling), Schizostachyum lima (butuh toi), dan Neololeba
atra (loleba).
Kebaikan Publik
LEBIH jauh tentang bambu, bisa disimak di lembar “Selisik/Pikiran Rakyat, Senin, 5 Desember 2016. Catatan kali ini justru ingin melihat potensi keterlibatan publik di dalam menangani permasalahan-permasalahan lingkungan hidup yang harus diakui kian parah keadaannya.
Penanaman
1.000 bibit bambu seperti disitir di awal catatan, merupakan kegiatan yang
dikaitkan dengan Hari Air Dunia, 22 Maret, sekaligus merupakan rangkaian kegiatan
Pikiran Rakyat dalam ulang tahunnya yang ke-51, bekerjasama dengan BNI, dan
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung. Sementara komunitas
yang terlibat dalam kegiatan tersebut adalah Mahasiswa Pencinta Alam Mahacita
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Mapenta Universitas Islam Bandung
(Unisba), Mapala Universitas Garut (Uniga), Kaniwata Universitas Siliwangi
(Unsil), Siswa Pencinta Alam (Sispala) Himsipal SMAN 11 Bandung, Wanapala SMAN
6 Bandung, Stupala SMA Pasundan 8 Bandung, dan Sadagori SMAN 5 Bandung.
Disertai juga Emergency Rescue Unit (ERU) Land Rover, Purna Paskibraka
Indonesia Kabupaten Garut, hingga Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI)
Kabupaten Tasikmalaya.
Bukan
karena Pikiran Rakyat yang kebetulan menjadi tempat diturunkannya tulisan ini. Yang
lebih penting diperhatikan adalah matarantai pola perayaan (ulang tahun dan
semacamnya), kerjasama pihak swasta, dan keterlibatan lembaga-lembaga publik
atau pun masyarakat pada umumnya. Mari kita bayangkan jika “guyub” demi kebaikan
ini menjadi pola umum di dalam kehidupan kita, niscaya perkara-perkara
lingkungan hidup akan lebih cepat teratasi. Pun sesungguhnya bisa diterapkan
demi penyelesaian perkara-perkara sosial lainnya seperti yang berkenaan dengan
pendidikan, kesehatan, hingga papan (hunian) rakyat, dan pangan. Berkenaan
dengan itulah kita memahami pernyataan Direktur Pikiran Rakyat, Perdana
Alamsyah, bahwa: "Kegiatan ini adalah simbol inspirasi. Sumber semangat
untuk semua pihak dan juga diharapkan menjadi inspirasi untuk semua melakukan
hal yang sama."
| FOTO: milik auroraxa.com |
Peradaban Baru
KITA kembali ke pembicaraan bambu dan kaitannya dengan keterlibatan publik. Pertama harus diakui terlebih dahulu bahwa perlakuan terhadap tanaman bambu (sesungguhnya termasuk pula pada umumnya tanaman keras), itu dibiarkan tumbuh sendiri atau masih dianggap tanaman liar, sehingga tumbuhnya menjadi “leuweung simagonggong” atau hutan belantara. Di satu sisi, memang itulah kelebihannya bambu, tanpa diurus pun bisa tumbuh bahkan batangan bambu segar dengan cara ditancapkan begitu saja pun bisa tumbuh.
Kini
kiranya perlu pula memperhatikan sisi lainnya, yaitu kemungkinan hutan bambu
menjadi memiliki dimensi taman, bahkan sangat mungkin menjadi destinasi wisata.
Salasatu contohnya adalah taman bambu Surabaya. Taman yang disebut juga Taman Sakura
Keputih, itu bisa disebut belum sampai ke taraf ideal tapi sudah terasa adanya
perlakuan baru terhadap tanaman bambu yaitu geseran dari pembiaran menjadi
belantara ke prinsip taman. Contoh lain yang sepatutnya disebut adalah Taman Arashiyama
yaitu Taman Hutan Bambu di Kyoto, Jepang.
Arashiyama
merupakan taman hutan bambu yang dirawat dan dilindungi oleh negara, sangat
terkenal keindahan dan penataannya, sehingga menjadi salasatu favorit kunjungan
wisata. Setiap musim libur tiba, lorong-lorong jalan di sepanjang hutan bambu
ini berubah menjadi lautan manusia. Kehidupan di sekelilingnya pun bertumbuhan.
Sejak dari stasiun Kyoto ke arah Arashiyama itu berderet pertokoan, restoran, warung
kue tradisional, aneka toko cendera mata, serta tentu saja sejumlah pemondokan
hingga hotel berbintang.
Gambaran
ini perlu dikemukakan mengingat segala bencana lingkungan hidup itu senantiasa
diawali dengan terjadinya alih fungsi lahan hutan menjadi pertanian. Kejadian
banjir September 2016 di Garut yang bahkan merenggut banyak korban jiwa, itu
pun disinyalir karena terjadinya alih fungsi lahan hutan di sepanjang sungai Cimanuk
yang menjadi pertanian.
Peraturan
dan perundang-undangan sekitar alih fungsi lahan memang telah tersedia, tapi di
sisi lain bahwa kebutuhan ekonomi masyarakat kerap menjadi seteru yang tak bisa
dimungkiri. Konflik kepentingan inilah kiranya yang mesti ditengahi, pilihan
terbaik adalah munculnya adab baru di setiap upaya penghutanan kembali
lahan-lahan yang terambil alih. Khususnya yang berkenaan dengan penanaman bibit
bambu, seyogianya dipikirkan pola perwatan dan pemanfaatan hutannya ke depan,
sehingga hutan itu menjadi elok, menjadi taman, nyaman dikunjungi, dan akhirnya
menghidupi kehidupan di sekelilingnya. Jika masyarakat sekeliling terhidupi
‘ada baru” tersebut, setidak-tidaknya kemungkinan alih fungsi dan apalagi
penyerobotan itu akan berkurang atau tidak ada lagi.
Memang
ada catatan lain, jenis bambu yang tumbuh di Arashiyama itu seperti umumnya
bambu di kawasan empat musim yaitu monopodial,
tumbuh per batang pohon bambu, kumpulan pohonnya berjejer-berbaris. Sementara
bambu di Indonesia serta umumnya di kawasan dua musim, itu bersifat simpodial, tumbuh merumpun. Maka pola
penataan taman (landscaping) hutan
bambu simpodial, itu perlu desain
tersendiri yang sesuai dengan sifat pertumbuhannya.***
(Herry Dim, pelukis, pengamat kebudayaan, penulis, tinggal di Cibolerang, Bandung).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar