Rabu, 27 Oktober 2021

Naskah Rock Opera "Ken Arok Harry Roesli"

Naskah Rock Opera:

Ken Arok Harry Roesli

 Lagu-lagu Ken Arok versi 1977 dan 1991

selengkapnya menjadi bagian dari naskah ini.

Ditulis menjadi naskah baru dan diberi gambaran skenografi berdasar Ken Arok versi 1991

oleh: Herry Dim

 Arransemen dan lagu-lagu baru (tambahan) pada versi naskah ini dikerjakan 

oleh: Rully Handiman

(Akhir 2019 - Awal 2020)

 

Pengantar Penulis Naskah

RABU, 11 Desember 2019, seusai melaksanakan “tahlilan” di tahun ke-15 wafatnya Harry Roesli, Magrib pun telah lewat. Saya ke beranda belakang RMHR (Rumah Musik Harry Roesli) jl. Supratman 59, di sana sudah ada Ine Arini yang sedang ngobrol dengan Kania Roesli dan teman-temannya sambil menikmati suguhan bakso Malang. Saya pun ikut ngalas semangkok kemudian mencoba ikut melibatkan diri dalam obrolan yang ternyata sedang membahas ihwal “Salsa,” jenis tarian yang sudah di atas dua puluh tahun ini digeluti oleh Nia (demikian panggilan kami kepada Kania Roesli).

Tak lama kemudian datanglah Rully Handiman, salaseorang adik dari Nia, menghampiri sambil membuka obrolan yang aslinya berlangsung dalam bahasa Sunda.

“Ah, kebetulan ada Kang Herry, saya memang sudah lama menunggu-tunggu kesempatan untuk ngobrol Ken Arok-nya almarhum,” demikian Rully sambil menjelaskan bahwa ada penyelia yang bermaksud menjadikan opera Ken Arok (Harry Roesli) sebagai salasatu pertunjukan tetap di gedung teaternya. Rully pun menyampaikan itikadnya untuk mengembangkan kembali Ken Arok versi pentas 1991 di Eldorado Dome yaitu versi yang sesungguhnya sudah jauh berkembang jika dibanding dengan Ken Arok awal (1977).

Rully Handiman bersama sang kakak, Haviel Handiman, adalah dua “jagoan” belakang panggung yang senantiasa mengerjakan aransemen sejumlah karya musik Harry Roesli mulai periode 1990an. Menjadi anggunnya Ken Arok versi 1991 di Eldorado Dome, itu tak lain karena sentuhan serta re-kreatif kakak-beradik ini. Pun sejumlah karya njlimet terbaik yang antara lain terkumpul di dalam rekaman kaset “Cuaca Buruk” (1992), itu seluruhnya berkat sentuhan Haviel Handiman.   

Di kemudian hari, Rully kian tumbuh sebagai arranger dan juga komposer, terbukti diantaranya melalui karya-karya yang menjadi dasar bagi perhelatan Pekan Olahraga Nasional XIX 2016 di Bandung. Sementara Haviel bersama istrinya, Anna Ingleby, kian mengembangkan teater bayang-bayang (shadow puppet theatre) melalui kelompok Indigo Moon Theatre yang berkedudukan di Inggris.

Dalam obrolan selepas Magrib itu, Rully pun menyampaikan angan-angan akan mengaransir ulang seluruh nomor opera “Ken Arok” serta menambahkan nomor-nomor baru jika diperlukan. Ada dua alasan penting yang melandasi angan-angan Rully tersebut. Pertama, almarhum Harry Roesli ternyata tidak mewariskan “audio master” atas Ken Arok versi Eldorado Dome (1991) kecuali sebuah “rekaman jadi” dengan kualitas seadanya. Maka, jika hendak menggarap ulang, tak ada jalan lain selain memulai kembali segalanya dari nol. Kedua, banyak isi terutama yang non-lagu itu mesti mengalami aktualisasi sehingga perlu ditulis ulang. Berkait dengan itu, menjadi muncul kesempatan untuk melakukan restruktur atas dramaturgi yang memang pada 1991 tidak begitu terurus, dan yang terpentingnya lagi menjadi ada kesempatan untuk melakukan penegasan sudut pandang (dalam hal ini sudut pandang Harry Roesli) atas cerita Ken Arok itu sendiri; artinya naskah memang mesti ditulis.

Tentang hal kedua (penulisan naskah) sesungguhnya terhubung kepada obrolon penulis dan Harry Roesli, baik pra atau pun pasca-pentas Eldorado Dome (1991). Obrolan tersebut, ringkasnya, seperti terurai di bawah ini.

**

"HERR, Djody (yang dimaksud Setiawan Djody, penngajak nyieun pementasan euy, ngagarap naon nya ceuk maneh? (Herr, SD mengajak membuat pementasan, menggarap apa ya menurut kamu?)" Demikian Harry Roesli membuka obrolan seusai melepas cerita humor-humornya yang seperti biasanya 'ngagolontor' setiap setelah lewat pukul 12 malam. Kawan-kawan yang semula mengitari meja di beranda depan, saat itu telah pulang satu demi satu, sisanya tinggal kami berdua. Sementara Ine sejak lepas Isya ngobrol di dalam bersama Nia, sangat mungkin mereka sudah lama tertidur.

Harry Roesli (HR) mengatakan bahwa SD siap untuk menjadi Maecenas yang membiayai pementasan yang diangankan. Waktu itu HR memang sedang dekat-dekatnya dengan SD yang sedang tumbuh kerinduan masa lalunya untuk kembali main musik.

Menjawab pertanyaan di atas, saya menyebut dua karya HR yaitu “Titik Api” (1976) dan “Ken Arok” (1977).

“Naha Titik Api, terus ku naon Ken Arok? (kenapa Titik Api dan kenapa Ken Arok?) Tanya HR.

Ah, teuing, saya mah unggal nabeuh Titik Api sok ngarasa ayana ide anu geus jauh pisan ka hareup tapi karangket ku teknologi anu masih alakadarna… jigana mun digarap deui ku teknologi ayeuna mah bakal alus pisan (ah, entah, saya sih setiap mendengarkan kembali Titik Api selalu merasa adanya ide yang sudah melangkah jauh sekali ke depan tapi terhambat oleh teknologi yang masih terbatas… andai saja digarap kembali dengan teknologi sekarang niscaya akan bagus sekali),” jawab saya, sambil dengan guminter menjelaskan, bahwa yang dimaksud teknologi di sana bukan sekadar teknologi audio hingga rekaman melainkan juga teknologi yang berkenaan dengan musikalitas. Berikutnya saya sampaikan juga perhatian utama kepada Sekar JepunJangga WarengKebo Jiro, Prolog (Kerak Bumi), Lembe-lembe, yang memiliki kualitas kepeloporan luar biasa tapi butuh penyegaran terutama bagi generasi terkini yang mungkin belum tahu.

HR manggut-manggut sambil nyulut rokok “Gudang Garam” filternya lantas berkata: “Ah maneh mah, eta mah sarua we jeung nitah urang ngagali kuburan (ah kamu ini, itu sih sama saja dengan menyuruh saya menggali kuburan).”

Demikianlah HR, hampir seluruh orientasi atau pandangannya itu selalu ke muka, bahkan senantiasa dekonstruktif terhadap apapun yang pernah dilakukan atau menjadi karyanya. Di sana pula “api” kreatifnya seperti yang tercatat di dalam pengantar album cetak ulang Philosophy Gang of Harry Roesli.[1]

Masih panjang dan sesungguhnya plus ngalor-ngidul, tapi ringkasnya HR kemudian mengajak berlanjut pada “Ken Arok.”

Ari Ken Arok? (kalau Ken Arok?)” Tanya HR.

Ini lebih serius lagi, jawab saya, khususnya berkenaan dengan urusan teks.

Sejatinya (berkenaan dengan itu) terjadi obrolan berseliweran ke sana ke mari, tapi sekali lagi demi ringkasnya; saya kemukakan bahwa HR dengan Ken Arok itu melakukan “gurau” habis-habisan, ini penting dan belum pernah ada yang berani melakukan hal tersebut pada cerita Ken Arok yang sudah terlanjur dianggap sejarah bahkan dianggap riwayat mitis.

Sekadar gambaran saja tentang semangat “gurau,” itu bahkan kita temukan sejak nomor/lagu pembukaan album “Ken Arok” (Eterna, 1977) yang berupa dialog awal tokoh Ken Arok, antara lain: "Aku Ken Arok yang engkau tunggu... engkau beli kaset mendengarkuuang delapan ratus he he he tidak sedikitwahai teman kau tertipu ha ha ha... coba jika uang itu kau jajankan rujak asinan... come on baby."

Gurau di sana, hemat saya dan juga seperti yang saya kemukakan kepada HR, itu tak lain merupakan demistifikasi terhadap hal yang sudah terlanjur dipercaya. Di kepala saya sendiri saat itu (menjelang 1990an) sesungguhnya belum jelas-jelas amat mengingat bacaan yang belum sampai serta kritisisme terhadap cerita Ken Arok pun belum bermunculan. Namun keraguan bahkan dugaan “Ken Arok” itu fiksi yang digelincirkan menjadi “kebohongan” yang disejarahkan, benih-benihnya sudah mulai tumbuh di kepala. Maka dengan pengetahuan yang serba terbatas, terjadilah obrolan tentang Pararaton dan Negarakertagama.

Heueuh da Ken Arok mah waduk lah (Iya, Ken Arok itu memang …. lah),” demikian celetuk HR seperti biasa dalam gaya bahasa obrolannya.

**

PUSARAN obrolan hanya sampai di sana, tapi biasa dan seperti telah disebut bahwa lebarannya itu sebetulnya ke mana-mana. Waktu serta sejumlah kegiatan pun terus berlesatan. Terselip di antaranya pentas Metateater (1990/91), semacam kolaborasi antara HR (musik/bunyi), saya (rupa) dan Rachman Sabur & Teater Payung Hitam (tubuh dan gerak). Hingga suatu ketika setelah lewat hitungan bulan atau tahun, HR dalam suatu perjumpaan mengatakan: “Herr, si Djody jadi euy… enya lah urang jadikeun we Ken Arok, bantuan nya… (Herr, Djody mengatakan jadi… ya kita jadikan saja Ken Arok, bantu ya…).”

Segera Supratman 57 yang memang tak pernah tidur itu meningkat sekali kesibukannya terutama untuk penggarapan ulang musik dan lagu-lagu untuk Ken Arok. Sementara proses latihan gabungan dilakukan di sebuah wahana kerja di jalan Jakarta yang saat itu masih sebagai sekolah model milik Hans Utama. Saya bersama (almarhum) Mamannoor ternyata diberi tugas mengerjakan rupa, baik artistik panggung atau pun lebih khususnya mengolah video untuk diproyeksikan ke panggung.

Meski kami sudah terbiasa dengan kerepotan kerja panggung, kali ini harus disebut luar biasa tingkat kerepotannya. Seluruh perencanaan dan pengerjaan panggung, misalnya, itu dikerjakan di tempatnya Hans Utama tapi dengan proyeksi hasilnya untuk digunakan di Eldorado Dome yang jelas bukan gedung pertunjukkan melainkan lapang tennis indoor. Saya dan Mamannoor lebih banyak tenggelam di sebuah studio video di jl Sunda. Kami yang tak kenal teknologi editing video jadi “kursus” sekaligus kerja sejak mulai mencari dan mengumpulkan bahan hingga penggabungan dan editingnya yang harus selalu disesuaikan dengan durasi pengadegan di pentas. Ini saja menyimpan cerita panjang sejak yang menggelikan, asyik dan bikin lupa waktu, hingga yang tegang-tegang baik karena bloon ihwal teknologinya atau pun karena diburu-buru waktu. Dan yang tak bisa kami lupakan, saat itu masih zaman analog, teknologi video baru sampai ke teknologi VHS. Kelak yang jagoan mengolah dan editing VHS ini yaitu Saswi Sasongko Widjanarko, salasatu karyanya (jika masih ada) adalah kumpulan dokumentasi gejolak gerakan Reformasi hingga detik-detik lengsernya Soeharto.

Yang paling super repot di antara itu semua tentu lah HR. Kami sampai tak pernah tahu kapan adanya kesempatan tidur atau sekadar istirahat bagi HR, bayangkan; ia mengerjakan pembuatan baru musik dan lagu-lagu “Ken Arok” (1977) serta tambahan musik serta lagu-lagu lainnya, di antara musik/lagu tersebut mesti diisi pula dialog-dialog yang menjadi bagian dari opera; di balik ini adalah tak kurang dari 20 orang pelaku yang seyogianya mengisi suara dalam arti menyanyi atau pun menyampaikan dialog, jangan lupa di antara mereka itu adalah orang-orang sibuk yang tak bisa lepas dari jadual panggung mereka sendiri. Di tengah kesulitan dan keterdesakan waktu, tak ayal menjadi banyak suara yang diisi oleh HR sendiri; ia menyanyi dan ia pun menyampaikan narasi untuk sejumlah peran yang terdapat di dalam lakon Ken Arok. Riweuh sekali tapi sekaligus di sini pula munculnya peran besar Haviel Handiman dan Rully Handiman, serta harus dicatat adalah Doddy Kusdaryanto yang disebut oleh HR sendiri sebagai “edan eta budak…” (luar biasa itu anak) untuk menyebut kehebatannya dalam memainkan kibor (keyboard) serta isian-isian musikalitasnya di sejumlah komposisi HR.

Bukan itu saja, HR mesti pula berlaku sebagaimana halnya sutradara, ia melatih serta mengatur setiap laku peran; bolak-balik jl. Supratma – jl. Jakarta, melempar ide-ide bagi setiap pemeran, melatih choral (paduan suara) atau pun penyanyi untuk membawakan lagu-lagu, dsb.

Ah, singkatnya lagi, jadilah pentas di Eldorado Dome, 1991. Untuk ukuran masa itu, tak bisa tidak untuk dikatakan sebagai pentas yang “wah” memesona seluruh penonton yang memenuhi ruangan yang sesungguhnya lapang tennis tersebut. Yang agak mengherankan pentas “besar” ini malah luput dari perhatian media dan apalagi kritik, satu-satunya jejak media yang bisa didapat adalah sebuah berita foto majalah “Tempo” yang kini malah sudah tidak dapat diakses lagi.

**

“WADUK nya euy pementasan teh?” Begitu, seperti biasa, HR tiba-tiba menyampaikan sesuatu. Saya tentu bingung, tak paham pementasan mana yang dimaksud.

“Pementasan naon, Mas (pementasan apa, Mas)?” Tanya saya.

“Ken Arok, kumaha ceuk maneh (Ken Arok, bagaimana pendapat kamu)?” Jawab sekaligus tanya HR.

Saya sejenak tambah bingung mengingat pementasannya sendiri sudah begitu lama berlalu, sementara HR mengungkit-ungkitnya lagi di tengah persiapan pameran saya “Menyongsong Millenium” (1993) di Galeri Braga yang kini sudah tidak ada lagi galerinya. Pameran tersebut, pada pembukaannya memang melibatkan kerabat musiknya HR yaitu Dieter Mack, Ron Reeves, dan sepasang musisi/komposer Swiss yaitu Duo Fatale. Mungkin, demikian dugaan saya, karena sedang di tengah kawan-kawan musik maka HR jadi ingat kembali garapannya yang telah lalu.

Itu di satu sisi. Sementara di sisi lainnya, saya faham juga dengan watak dekonstruktif HR, dia itu tak pernah ragu untuk menertawakan apapun berupa karya yang pernah dibuatnya. Dengan “menertawakan” yang telah lalu, biasanya dan seyogianya dia itu sedang menatap ke depan dan/atau sedang bergairah untuk membuat karya baru.

Tapi, di hadapan tanya-tawanya tersebut, saya tak langsung meng”ya”kan melainkan ingat pada karya-karya Ken Arok HR (1977) yang mengalami lompatan jauh jika dibanding dengan Ken Arok 1991.               

Ah, Mas ceuk saya mah… (ah, Mas menurut saya sih…),” demikian saya mencoba membuka opini yang selanjutnya saya katakan bahwa dalam pencapaian musik, Ken Arok 1991 itu sungguh luar biasa. Sementara dalam catatan ini, saya setidaknya telah membuktikan hipotesa yang berkenaan dengan “Titik Api” seperti yang telah dikemukakan pada pembukaan kata pengantar ini. Untuk itu, kita bisa periksa ulang bersama-sama, bahwa di dalam Ken Arok 1991 itu antara lain adalah nomor “Kerak Bumi” yang tak lain merupakan re-aransemen dari “Prolog (Kerak Bumi)”nya “Titik Api” (1976). Dengan mendengarkan kedua-duanya, rasanya kita akan mendapat kesimpulan yang sama bahwa telah terjadi “lompatan” musikalitas ke arah komposisi yang lebih anggun dan agung.

HR mengingatkan saya bahwa pertanyaannya itu bukan pada karya musik tapi pada pementasan.

Mas Harry riweuh teuing, jadi loba anu henteu kagawekeun dina hal ngajaga struktur jeung bentuk pementasan (Mas Harry terlalu sibuk, jadi banyak yang tak tergarap dalam hal menjaga struktur dan bentuk pementasan),” kata saya yang aslinya tidaklah se”togmol” itu.

Ah dasar maneh mah cara mikirna strukturalis bae… ha ha ha, tapi enya eta maksud urang teh (ah dasar kamu itu cara berfikirnya strukturalis saja… ha ha ha, tapi betul itu lah maksud saya),” kata HR. Tentang “gurau” pada kata “struktural” pun sesungguhnya bisa cukup panjang, tapi ringkasnya itu yang sesungguhnya kerap kami kritik sehubungan dengan kecenderungan formalisme yang kaku dan keseragaman/penyeragaman.

Di sini lah pada intinya kami sampai pada pembicaraan bahwa seyogianya semua bermula dari naskah yang utuh meski bisa saja pada proses garapnya terjadi bongkar-membongkar. Kami pun sama-sama menyitir keberadaan dan gaya Putu Wijaya serta N. Riantiarno.

Lagi-lagi jika diteruskan bisa berkepanjangan. Ringkasnya, sampailah pada pernyataan HR: “Enya lah eta mah bagian maneh… (ya lah itu sih bagian kamu…).”

Lantas saya pun menjawab: “Enya Mas engke ditulis ku sayah mun rek digarap deui…”

Heueuh nya, bakal aya kitu anu siga Djody deui?” Tanya HR yang tentu saja tak perlu dijawab.

**

BETUL, sampai berpulangnya HR tak ada lagi pembicaraan tentang Ken Arok. Baru kemudian yang sungguh saya rasakan bak sengatan, itu datang dari Rully Handiman setelah 15 tahun HR wafat (al fatihah untuk HR) atau 26 tahun dari obrolan 1993. Tak ayal, bahkan ketika masih duduk di beranda belakang RMHR, sungguh pikiran melayang-layang di lapisan awan kenangan.

Akhirnya, bahwa “Ken Arok” akan diulang-garap ataupun tidak, taklah menjadi alasan utama sebab yang kemudian menjadi dorongan terbesarnya adalah kehendak agar naskah itu ada. Setidaknya “jejak” HR dalam bentuk teks yang semula tidak ada itu kini menjadi ada. Maka naskah ini pun saya tulis.

 

Cibolerang, 30 Desember 2019

HD   

 ----------

*) CATATAN:

1. Teks dicetak miring (italic) itu lagu atau dinyanyikan.

2. Teks biasa (regular) itu diucapkan atau dialog, bisa juga dinyanyikan.

3. Teks dengan HURUF KAPITAL itu petunjuk laku, petunjuk visual, serta pengarahan benda-benda (properti) panggung.

4. Teks dicetak tebal (bold) itu pelaku/nama tokoh.

5. Teks cetak tebal dengan ‘small caps’ dan besaran font 14 pt itu penunjuk adegan.

 

PELAKU:

Penyanyi Rock

Dalang

Juru Alok

Ken Arok kecil

Beberapa Anak sebaya Ken Arok Kecil

Mbok Lembong

Ken Arok

Goro-goro (beberapa orang)

Orang-orang/Seseorang (beberapa orang yang bisa gonta-ganti peran)

Penonton

Pengikut Ken Arok (beberapa orang)

Tunggul Ametung

Tentara Tunggul Ametung (beberapa orang)

Choral (paduan suara)

Lohgawe

Ajudan Lohgawe

Mpu Gandring

Penyerta Mpu Gandring

Para Banci (beberapa orang)

Ken Dedes

Dewata

Kebo Ijo

Bidadari

Anak Kecil

 

 

Adegan 1 : Opening

MUSIK “OPENING” – KETIKA LAYAR DIBUKA ATAU CAHAYA MULAI MENERANGI PANGGUNG, TAMPAK RUANG “ANEH” YANG MENGESANKAN DUNIA LAMPAU TAPI JUGA FUTURISTIK. SETELAH BEBERAPA SAAT, PADA SIKLORAMA MUNCUL VIDEOGRAFI SEMESTA LUAR ANGKASA, GALAKSI, SELIWERAN BATU-BATU METEOR YANG PADA SAAT TERTENTU METEOR-METEOR INI BERMETAMORFOSA MENJADI BENTUK-BENTUK “COÉT” (ULEKAN) BATU BERISI SEDIKIT AIR. COÉT-COÉT INI KEMUDIAN MEMBENTUK FORMASI MELAYANG DALAM POLA PANDANG PERSPEKTIF. VIDEOGRAFI DISOLVE KE VIDEOGRAFI LAGU “KERAK BUMI.”

 

 Adegan 2: Kerak Bumi & Credit Title

LAGU “KERAK BUMI” - PADA SIKLORANA MEMPERLIHATKAN VIDEOGRAFI BOLA DUNIA DARI REKAMAN SATELIT LUAR ANGKASA, BUMI YANG KERONTANG, BUKIT-BUKIT GUNDUL, SIMPANG-SIUR KERAMAIAN MANUSIA, DEMONSTRASI REFORMASI, SEIRING ‘CREDIT TITLE’ SELANG-SELING (DISOLVE DAN CUT TO CUT) DENGAN PENAMPAKAN SOSOK HARRY ROESLI DALAM BERBAGAI TAMPILAN. PADA LARIK “TUHAN MAHA BESAR” YANG PERTAMA, MUNCUL BENTUK MAINAN “GEROBAK” YANG TERBUAT DARI KULIT JERUK BALI, BERKAKI TINGGI, UKURAN DIPERBESAR, JALAN SENDIRI. GEROBAK TERSEBUT BERDIRI SEJENAK DI TENGAH PENTAS, LANTAS MELINTAS BEGITU SAJA HINGGA KELUAR DI SISI PANGGUNG YANG LAIN SEIRING CODA LAGU. VIDEOGRAFI “KERAK BUMI” FADE OUT - FADE IN VIDEOGRAFI LAGU “DUNIA.”

Kerak bumi menjerit-jerit

Menantang langit

Yang merana      

Itu mentari dan ekor suci

Tujuan dan pesan terselubung masa

Tuhan Maha Besar

Tuhan Maha Besar

Tuhan Maha Besar

 

(BAIT LAGU ULANGI SEKALI, CODA DAN LANGSUNG KE LAGU “DUNIA”)

 

Adegan 3: Dunia

LAGU “DUNIA” – PADA SIKLORAMA VIDEOGRAFI TAMPAK ATAS (DENGAN DRONE) MEMPERLIHATKAN TUMPUKAN ATAU RUMAH-RUMAH YANG BERHIMPITAN DALAM TEMPO LAMBAT HINGGA KEMUDIAN KE SALASATU SUDUT PANDANG JAJARAN RUMAH JELATA TAMPAK DEPAN. PADA SAAT ITU (JIKA MEMUNGKINKAN DENGAN TEKNIK PANGGUNG HIDROLIK, JIKA TAK MUNGKIN BISA MUNCUL DARI BELAKANG ATAU DARI SAMPING DENGAN TEKNIK DORONG) MUNCUL SEBENTUK DINDING BERJENDELA KACA BESAR. KACA TERSEBUT TIBA-TIBA PECAH, MUNCUL DARI SANA SESOSOK PENYANYI ROCK BERBUSANA ANEH ANTARA BUSANA BADUT DAN LUAR ANGKASA MENYANYIKAN LAGU “DUNIA.” SANG PENYANYI ROCK SUATU SAAT MELUNCUR KE BAWAH LEWAT TIANG SEPERTI MELUNCURNYA PETUGAS PEMADAM KE BAKARAN. SETELAH ITU IA BEBAS MENGUASAI PENTAS.

Penyanyi Rock:

Pagi hari yang dingin

Menggigit sepi

Ku duduk melihat di depan jendela kaca

Jendelaku sudah rusak

Tak ada kaca… huh

Zamanku penuh kotoran

Kotoran doa

 

Dunia lelap tidur

Dia memang enggan tersenyum

Bara pun tak ada

Karena hatiku gulana

 

Hatiku kini mengembara

Dibawa setan… yeah

Langkah kaki pun tehambat

Karena terjerat… yeah

Air racun pun terminum

Dia membunuh

Pisau dapur pun menusuk

Aku tersuruk… yeah

 

Masa ingin tidur

Kalau bisa tanpa mendengkur

Aku belum hancur

Tetapi kepala terpekur… huh

 

Api pun berkobar

Di hati yang selalu bergetar

Menantikan fajar

Yang kemarin aku rindukan

 

Huh… hartaku penuh aku

Aku yang semu

Tanganku penuh dendam

Dendam dan marah

 

Yeah… sepatuku penuh lumpur

Lumpur yang subur

Oh dunia berhentilah berputar

Dunia oh dunia, dunia ohhh

(DALANG MUNCUL DARI TEMPAT KELUAR DAN MASUKNYA PENYANYI ROCK. TEMPAT TERSEBUT PUN TELAH BERUBAH WUJUD MENJADI BALKON. NYARIS BERSAMAAN MUNCUL PULA JURU ALOK DARI BAWAH BALKON SAMBIL MEMAINKAN KARINDING. PADA SIKLORAMA MEMPERLIHATKAN SABETAN-SABETAN GUNUNGAN SALING BERGANTI DENGAN TEKS PARARATON DALAM AKSARA JAWA KUNO DAN LUKISAN JAM DENGAN JARUM YANG DIAM)

Dalang: Yeah, dunia memang berhenti berputar… karena saya membawa cerita sang ular… lenggak-lenggok sekitar tipu-menipu… Bagalnya dari kisah Ken Arok… cerita tipu daya yang mesti kita kerok… Ingat, saya bilang c e r i t a... (MENDENDANGKAN SULUK)

Kembang sungsang gotaka rawos wayang

Rap kidap purwa mandra-mandra winulan

. . . . . . . .

Juru Alok: (MEMOTONG SULUK HINGGA TAK TERSELESAIKAN) Eh, Ki Dalang… Ini the cerita sejarah ya? Jelaskanlah supaya terang.  

Dalang: Hush, cerita ya cerita… sama sekali bukan sejarah… camkan, bukan sejarah.

Juru Alok: Tapi orang-orang sudah terlanjur… cerita Ke Arok dan sejarah jadi lebur.

Dalang: Nah mulai sekarang catat, Ken Arok itu fiksi, jangan biarkan berkarat… sejarah tanpa penulis itu bohong… isapan jempol kosong melompong.

Juru Alok: Tapi kan ada kitabnya, Ki Dalang?

Dalang: Iya kitab Pararaton… anggap saja pantun lelucon… dengan Negarakertagama tak sinkron (DALANG MELANJUTKAN SULUK YANG TADI TERPOTONG, DIAWALI DENGAN BUNYI PUKUPAN CEMPALA: TOTOKTOK TOK TOK TOK)

kadya sosoroting Sanghyang latri

kabanjut ima-ima gambira lawan ancala

sapucuking gunung siwalang tunggal

. . . . . . . .

Juru Alok: (LAGI-LAGI MEMOTONG SULUK) Ki Dalang…. Maaf ya Ki Dalang… hamba jadi bimbang…. 

Dalang: Wahhh ini orang interupsi melulu… ini cerita dilanjut apa tidak? Bisa berhenti nih!

Juru Alok: Maaf Ki Dalang… semua mesti benderang. Dan lagi, maaf, hamba curiga… penulis cerita Ken Arok itu sembunyi… supaya tak tampak hidung belang… sembunyi sambil simpan maksud terselubung… itikadnya menjelek-jelekan Ken Arok… agar bangsa ini tampak bobrok… keturunannya jadi tampak sebagai raja-raja borok… Dia itu, ya Ki Dalang, maaf ya jika hamba berpandangan bodoh… racun diramu si pengarang sampai lekoh… “character assassination” yang dituju… 

Dalang: Ssstttt… hati-hati, curiga itu bisa berbahaya… dan lagi kita ini bukan hendak diskusi… jangan kecewakan penonton yang duduk di kursi… sudah, sudah lah… singkatnya seperti umumnya cerita… suka-sukanya si pencerita menentukan jalannya kisah, suka-sukanya yang menulis Pararaton… maka Ken Arok ini pun suka-sukanya Harry Roesli, sebut saja Ken Arok versi Harry Roesli… gurau-gurau serius ihwal tipu-menipu.

(DINARASIKAN SEPERTI MEMBAWAKAN SULUK) Nah dengar, dengar, dengar… Di sudut-sudut kumuh… di pojok-pojok yang gelap, kaum jelata sedang menempa, kelahiran sang raja penipu sedang dipersiapkan… Dengar… dengar… dengar lah… kita lihat bagaimana jadinya jika kehidupan dipenuhi dusta dan tipu-menipu… dengarrrr

 Adegan 4: Kelahiran

MUSIK “PROSESI KELAHIRAN” (instrumental) - PADA SIKLORAMA VIDEOGRAFI RAGAM JASAD RENIK (MIKRO ORGANISME) YANG DILIHAT MELALUI MIKROSKOP, RANGKAIAN SEL, DAN MEKANISME DNA PADA TUBUH MANUSIA. SEMENTARA DI PENTAS ADALAH GANTUNGAN-GANTUNGAN SEMACAM KEPOMPONG TRANSPARAN, SEKELOMPOK PENARI PEREMPUAN MENARI DI ANTARA GELEMBUNG-GELEMBUNG PLASTIK. DI LATAR BELAKANG PARA PENARI BERJALAN MENGALIR SEBENTUK “GEROBAK” YANG BENTUKNYA SEPERTI PADA ADEGAN #2 TAPI YANG INI BERWARNA ABU-ABU MENDEKATI HITAM. SESEKALI GEROBAK TERSEBUT MENYERUAK DI ANTARA PARA PENARI HINGGA KE DEPAN PENTAS. DI ATAS GEROBAK TAMPAK BERDIRI SESEORANG BERBUSANA MENYERUPAI GUBERNUR JENDERAL SEMASA HINDIA BELANDA SEDANG MEMELUK BAYI, SESEKALI BAYI ITU DIANGKATNYA TINGGI-TINGGI.

Adegan 5: Ken Arok Kecil

LAGU “KEN AROK KECIL” - PADA SIKLORAMA VIDEOGRAFI POHON YANG DIPENUHI KUNANG-KUNANG. DISOLVE KE GAMBARAN TANAH BERLUMUT, KAMERA MENJADI MATA SEOLAH MENYUSUR JALANAN ATAU PUN TEGALAN DENGAN TANAH BERLUMUT TERSEBUT. SESEKALI BERGANTI KE JAJARAN POHON WAREGU, MEDIUM CLOSE UP KE DAUN WAREGU, KEMBALI KE TANAH BERLUMUT. DEMIKIAN SEPANJANG ADEGAN BERLANGSUNG. KEN AROK KECIL MASUK SEJAK INTRODUKSI LAGU, IA MENUNTUN RODA MAINAN YANG TERBUAT DARI KULIT JERUK BALI.

Ken Arok Kecil:

Katanya ayahku Gajah Para dari Campara

Ibuku Ken Ndok asal Pangkur

Tetapi dimana kini mereka adanya

Ah entah tak jua perlu jadi galur

 

Nyatanya kini aku anak Mbok Lembong

Dia yang memungkutku tergeletak di kuburan

Anggaplah aku lahir dari kepompong

Mbok Lembong merawat si anak yang terbuang

 

Ah peduli apa itu semua

Nyatanya kini aku ada dan harus hidup

Ya gembira saja apa adanya

Meskipun kerap aku harus ya harus gelut

Ah ayolah gembiralah semua

(MASUK SEROMBONGAN ANAK-ANAK SAMBIL BERNYANYI BERSAMA LANTAS BERMAIN BERSAMA KEN AROK KECIL)

Trang-trang koléntrang

Si londok paéh nundutan

Tikusruk kana durukan

Mesat gobang kabuyutan

Seorang anak: Arok... arok... (MEMBERIKAN SEGAGANG DAUN PISANG) ini ambil, hujannya belum juga mau pergi...

Ken Arok Kecil: Wahhh, hujan sebegini sih kecil... tapi ayo sini

Seorang anak: Aku juga ah takut basah

Seorang anak: Aku juga...

Seorang anak: Aku juga... 

Ken Arok Kecil & anak-anak: (KINI SEMUA BERTUNDUNG SEGAGANG DAUN PISANG, HUJAN TAPI MEREKA TERUS BERMAIN)

Trang-trang koléntrang

Si londok paéh nundutan

Tikusruk kana durukan

Mesat gobang kabuyutan

Seorang anak: Ah ganti lagunya... gantiiii

Seorang anak: (KEMUDIAN DIIKUTI OLEH YANG LAINNYA, BERGANTIAN SALING BERBALAS)

- Ambil-ambilan, turuktuk hayam samantu

+ Saha nu diambil, kami mah teu boga incu

- Si Arok kadieu, purah nutu purah ngéjo, purah ngasakan baligo

+ Nyerieun sukuna, kacugak ku kaliagé

- Aya ubarna urat munding campur ragé, tiguling nyocolan dagé

Mbok Lembong: (TIBA-TIBA SUARANYA DARI LUAR PENTAS) Arokkkk… dasar anak bengal… di mana kau anak nakal… (MBOK LEMBONG MASUK, ANAK-ANAK BERLARIAN KETAKUTAN, TINGGAL LAH KEN AROK KECIL) nah, ternyata kamu di sini Arok…

Ken Arok Kecil: Ya Mbok Lembong… sedang bermain bersama teman-teman Arok…

Mbok Lembong:

Arok, kau kembali ketahuan

Ken Arok Kecil:

Ya Mbok, ketahuan apa gerangan?

Mbok Lembong:

Kamu lagi-lagi ketahuan

Ah dasar anak bangkawarah

Warga desa mencarimu

Kau ketahuan mencuri lagi

Ken Arok Kecil:

Ampun mohon ampun Mbok Lembong

Ah biar kepandaian saya asah

Agar sepandai Mbokku

Tidak ketahuan tiap mencuri

Mbok Lembong:

Ah tak bisa lagi dibendung

Semua warga hilang sabar

Pergi, pergi kau, pergilah Arok

Jangan kau tampak lagi di sini

Ken Arok Kecil: Mbok mengusirku?

Mbok Lembong: Bukan mengusirmu… tapi kau sudah tidak aman lagi di sini…

Ken Arok Kecil: Mbok, ke mana aku harus pergi?

Mbok Lembong: Entahlah, pergilah ke mana pun kau mau… yang penting selamat terhindar dari maut… biar Si Mbok pikul kesalahan-kesalahanmu… pergilah.

Ken Arok Kecil: Baiklah Mbok… (AROK BERJALAN SAMBIL MENGGUSUR RODA MAINANNYA HINGGA KE LUAR PENTAS – BLACK OUT, KECUALI VIDEOGRAFI POHON PENUH KUNANG-KUNANG)

Dalang: (DIBUKA DENGAN SULUK. SOSOKNYA TAK MUNCUL KECUALI SUARA SAJA BERSAMA VIDEOFRAFI POHON PENUH KUNANG-KUNANG)

Luganira ya lumundur

Mimiti mirayang rana

Undur saking bumi Lembong

Ken Arok berkelana dari satu pengasuh ke pengasuh lainnya. Bersama Bango Samparan di Karuman, terlatih ia jadi pejudi ulung. Tak betah ia di sana, kemudian ke Senggreng hingga dikenal sebagai perampok yang ditakuti.   

Bagaimanakah cerita selanjutnya…. TOROKTOK TOK TOK TOK… ahhh, santai saja ya, ini kan hanya cerita, jadi tak haruslah terlalu berkerut dahi… gurau-gurau sedikit boleh kan? Ayo kita teruskan, begini cerita selanjutnya…

 

Adegan 6: Aku Ken Arok

LAGU “AKU KEN AROK” - PADA SIKLORAMA MENGULANG VIDEOGRAFI RANGKAIAN MIKROORGANISME DAN DNA SEPERTI PADA ADEGAN #4, TAPI GAMBAR TAK UTUH KARENA DI DEPANNYA ADALAH SETTING PANGGUNG. DARI ATAS PANGGUNG BERGANTUNGAN YANG MENYERUPAI AKAR-AKAR GANTUNG ATAU ‘AERIAL ROOT’ NYARIS MEMENUHI BIDANG PENTAS. SEMENTARA DI BAWAH (LANTAI PENTAS) BERSERAK DEDAUNAN, BERANTAKAN TAPI SESUNGGUHNYA TERSUSUN SECARA TEKNIS SEHINGGA MUDAH SAAT ‘IN’ DAN ‘OUT’ ATAU PERGANTIAN SETTING BERIKUTNYA. 

 

Ken Arok: (MASUK DARI BELAKANG TENGAH PANGGUNG SAMBIL MENYINKAP-SINGKAP GANTUNGAN-GANTUNGAN AKAR. SEIRING DENGANNYA ADALAH PARA GORO-GORO)

Uhhhhh…. Aku Ken Arok yang engkau tunggu ye… ye… ye… yeah

Aku lahir membawa petir… ah… yeah

Aku pembela para kaum tertindas ye… ye… ye… yeah

Aku ini ah… ratu adil

Mari kaum tertindas, kaum miskin bergabunglah

Kekuasaan itu tujuan… itu tujuanku… yeah

Gunakanlah, gunakanlah, gunakanlah semua tipuan

Mari segera menipu… yeah. Kita kokohkan tipu menipu sebagai nilai budaya… semua perhitungan strategi ekonomi, sosial, politik, dan poligami kita landasi dengan tipu-menipeng… ah ha ha ha.

Goro-goro: (DIARAHKAN KE SESEORANG LAINNYA) Betul ini teh mesti begitu?

Goro-goro: He he he betul… Tuh sejak perang abad pertengahan… perang dunia satu, perang dunia kedua… perang penghancuran Babilonia maupun perang-perang yang lain seperti “prang prang kolemprang si londok paeh nundutan” itu teh tipeng-menipeng…

Goro-goro: Waduh, iya juga ya… betul, betul… banyak manipulasi yang kemudian jadi peperangan.

Ken Arok:

Itu lah borok yang turun temurun ye… ye… ye… yeah

Tiap zaman membawa getir… ah… yeah

Rakyat jelata tetap saja tertindas ye… ye… ye… yeah

Adil itu ah… hanya mimpi

Goro-goro: (BERSAMA-SAMA) Euleuh…

Ken Arok: Ya, lihat saja setiap mau pemilihan umum… atas nama rakyat terus berdengung… tapi setelah jadi pejabat eh rakyat dibabat… dirampok, uang rakyat dikorupsi… mereka pun masuk penjara berbondong… di depan wartawan senyam-senyum…

Goro-goro: Haduh, hoyong naon atuh Kang? Sudah jadi pejabat masih juga maling, eh korupsi.

Ken Arok:

Kekuasaan itu tujuan… itu tujuanku… yeah

Gunakanlah, gunakanlah, gunakanlah semua tipuan

Goro-goro: Ha ha ha ha…

Goro-goro: (KEPADA PENONTON) Jangan-jangan para penonton pun sedang kena tipuan… ihhh

Goro-goro: Betul, betul itu… malah hampir semua orang percaya Ken Arok itu sejarah, padahal itu tipuan supaya bangsa ini menjadi rendah diri ha ha ha… kita coba ya tanya penonton… eh, penontonnnn…

Penonton: (MUNCUL DAN BERDIRI DI TENGAH PENONTON LAINNYA) Ya, ada apa Mang…

Goro-goro: Bapak penonton ngerasa tertipu apa tidak?

Penonton: Tertipu apa ya?

Goro-goro: Ih, ngabandungan atau nggak sih… dari awal kan sudah dibilang cerita ini bohong-bohongan, malah ada indikasi pembelokan sejarah…

Penonton: Oh, itu bukan tipu tapi hoax namanya…

Goro-goro: Tak salah lagi, cerita Ken Arok itu Hoax Klasik yang paling agung… kebohongan yang terus-menerus dibaca, bahkan kini ceritanya ditonton bersama…

Ken Arok:

Kekuasaan itu tujuan… itu tujuanku… yeah

Gunakanlah, gunakanlah, gunakanlah semua tipuan

Goro-goro: Haduh… jadi kita juga mesti belajar nipu? Gimana sih caranya?

Ken Arok: Ayo ikut saja aku… (MENYANYI KEMUDIAN DIIKUTI RAMPAK BERSAMA GORO-GORO)

Uhhhhh….

Satu, merampok yang engkau tunggu ye… ye… ye… yeah

Dua, harus serakah dan keji… ah… yeah

Tiga, bergaya hendak bela jelata ye… ye… ye… yeah

Itu tiga ah… jurus tipu    

Goro-goro: Ohhhh, beres, beres, siap laksanakan…

Ken Arok: Kebulatan tekad dulu dong… (MEMAKAI PENGGALAN MELODI PADA LAGU “GITAR SATU SENAR”)

jadi orang memang harus kreatif

Ken Arok bersama Goro-goro:

Dengan ini kami membulatkan tekad

Kami janji teguh

Main dengan tipu-tipu

Horeeeee…

re re re re, re mi si la do

Adegan 7: Anjing Beringas

LAGU “ANJING BERINGAS” – SETTING DAN VISUAL MASIH SEPERTI ADEGAN #6.

Pengikut Ken Arok: (MUNCUL DARI BERBAGAI ARAH PANGGUNG DI ANTARA AKAR-AKAR MENGGANTUNG. MEREKA MENYANYI BERSAMA DENGAN GERAK-GERAK KOREOGRAFIS) Kami para jelata… kami pengikutmu… kami tentaramu…

Huh hah huh hah (auuuu) huh hah huh hah

Kita ini anjing-anjing beringas

Kita makan tai dan emas

Haram hidup dari belas kasihan

Bahagia harus dirampas

Dengan akal

Dengan gagah kita

Dengan kekerasan

Tiba-tiba kita tetap sengsara

Huh hah huh hah (auuuu) huh hah huh hah

 

Kita ini kumpulan ajag

Siap bertarung jika terpaksa

Uang tidak jatuh dari langit

Dan doa-doa sering tidak berguna

 

Kehormatan adalah kekuasaan dan harta

Rebut, rebutlah

Jika tidak, kita tetap terhina ha ha ha ha ha ha

 

Auuuuuuu…. Hua hua hua ya… huhhh

 

Kita ini anjing-anjing beringas

Kita makan tai dan emas

Haram hidup dari belas kasihan

Dan doa-doa sering tidak berguna

 

Kehormatan adalah kekuasaan dan harta

Rebut, rebutlah

Jika tidak, kita tetap sengsara ha ha ha ha ha ha

Adegan 8: Engkau Siapa

LAGU “ENGKAU SIAPA” - SETTING DAN VISUAL MASIH SEPERTI ADEGAN #7.

Tentara Tunggul Ametung: (MASUK DARI SATU ARAH PANGGUNG DENGAN FORMASI BARIS-BERBARIS, TEGAK TAPI JUGA LUCU GERAKAN-GERAKANNYA. PENGIKUT KEN AROK PUN MEMBENTUK BARISAN DI SAYAP PANGGUNG LAINNYA SEHINGGA DUA PASUKAN INI BERHADAP-HADAPAN. KEN AROK DAN TUNGGUL AMETUNG PUN LANGSUNG BERHADAPAN DI TENGAH DEPAN PENTAS)

Hei hei hei hei

Kau siapa, kau siapa

Ken Arok:

Aku ini Ken Arok

Tunggul Ametung:

Kalian siapa, kalian siapa

Pengikut Ken Arok:

Kami ini pengikutnya… yeahhh

Tunggul Ametung:

Kalian bodoh, kalian bodoh

Dia hanya orang biasa

Kalian tolol

Kalian tolol, tolol, tolol

Dia ini orang yang hina

Ken Arok:

Siapa engkau berani menghinaku

Seorang Tentara Tunggul Ametung: (MAJU BEBERAPA LANGKAH DARI BARISAN)

Aku tentara Tunggul Ametung

Ken Arok:

Lancang nian mulutmu itu

Seorang Tentara Tunggul Ametung:

Ha ha, aku bicara kenyataan

Tentara Tunggul Ametung: (KOOR)

Bagaimana Ken Arok

Dipanggang atau digoreng

Tunggul Ametung:

Jangan-jangan prajuritku, dia ini cuma bawahan

Goro-goro: (DALAM GESTIKULASI SEPERTI BERBISIKAN DI ANTARA MEREKA DI SUDUT DEPAN KIRI PANGGUNG)

Bawahan selalu siap

Goro-goro:

Atasan selalu menang

Goro-goro:

Yang atas bisa korupsi

Goro-goro:

Yang bawah gigit jari

Goro-goro:

Yang atas makan uang

Goro-goro:

Yang bawah makan hutang

Goro-goro:

Begitu selamanya

Goro-goro:

Yang atas selalu menang… ayeee

Tentara Tunggul Ametung:

Kita telanjangi dia, biar malu sama penonton

Tunggul Ametung: Jangan, jangan prajurit-prajurit…

Tentara Tunggul Ametung: Ahhhhhh

Tunggul Ametung: Sekarang kan harus menggalakkan pariwisata, jadi jangan buat keributan, nanti nggak ada tourist yang datang, devisa Negara bisa berkurang….

Seseorang: Terus kita lagi-lagi ngutang  hi hi hi

Choral: (MUNCUL DARI ARAH BELAKANG PANGGUNG, SAMBIL BERNYANYI MEREKA MENGANGKAT SEGAGANG DAUN PISANG YANG DIKIPAS-KIPASKAN PERLAHAN)

Ken Arok telah tiba

Ken Arok telah tiba

Ken Arok telah tiba

Ken Arok telah tiba

Pengikut Ken Arok: Ken Arok pembela para rakyat jelata….

Goro-goro: (SAMBIL MENUNTUN SALAH SEORANG TENTARA TUNGGUL AMETUNG KE SUDUT TEMPAT GORO-GORO BERKUMPUL) Jang, jang, apa jabatan kamu?

Seorang Tentara Tunggul Ametung: Intelnya Tunggul Ametung

Goro-goro: Ef bi ai dong, eh be I en BIN ya… siapa nama?

Seorang Tentara Tunggul Ametung: Lahami, saudaranya Layala…

Goro-goro: Pedagang mi yang pakai jala? Hi hi hi, asa teu nyararambung euy? Hajar bleh…

Choral:

Ya ya ya, beri tahu

Pesan tanah di Cikutra

Kalau penuh tukar saja

Cari tanah di Cikadut

Seseorang Tentara Tunggul Ametung: (YANG TADI MENGAKU INTEL) Hei, hati-hati kalau bicara… kulaporkan semua pada raja... Rajaku tentu marah… kau tak akan diberi izin pentas… rasain lu nggak dapat izin pentas…

Seseorang Pengikut Ken Arok: Pergilah engkau tikus… memangnya zaman Orba… masa zaman Millenial begitu… eh pentas pakai izin-izinan segala… pergilah sebelum kucubit pantatmu

Choral: (YANG DIIKUTI PARA TENTARA TUNGGUL AMETUNG)

Tunjuk tunjuk hei

Sakali deui hei

Tambah erana hei

Seseorang Pengikut Arok:

Awaslah hati-hati

Kalau berani nanti di luar

Sesudah opera ini kita berantem beneran…

Nyingkah siah….

Seseorang Tentara Tunggul Ametung: Anjrit aing diusir… tunggu, kami akan reuni… kita kumpul di Monas… heh, itu dia junjungan kita…

Seseorang: Mana?

Seseorang: Itu tuh… ayo lihat ke sana…

Seseorang: Aduh jangan berdesakan atuh euy…

Seseorang: Mas, Mas… sudah pulang ya?

Seseorang: Hei hei hei… heup, heup, heup….

BLACK OUT, MUSIK JEDA BEBERAPA SAAT UNTUK MEMBERI WAKTU PENGGANTIAN SETTING. SECARA TEKNIS AKAR-AKARAN ITU KEMBALI DITARIK KE ATAS, DAN DEDAUNAN DI LANTAI TINGGAL DIGUSUR SEBAB SELURUHNYA DALAM SATU ATAU BEBERAPA BAGIAN YANG TERKONSTRUKSI, SEHINGGA TAK MEMERLUKAN WAKTU YANG LAMA.

Adegan 9: Lohgawe

BEGITU CAHAYA PANGGUNG TERANG KEMBALI, RUANG PENTAS MENGGAMBARKAN SUASANA PADEPOKAN TEMPAT TINGGAL LOHGAWE. TAK BANYAK BENDA DI SANA, LOHGAWE SENDIRI DUDUK DI ATAS BATU YANG BENTUKNYA MEMANG NYAMAN UNTUK DUDUK, DI SALASATU SISI BELAKANGNYA TERDAPAT BEBERAPA BATANG POHON WAREGU SEHINGGA POSISI DAUN-DAUNNYA SEOLAH MEMAYUNGI LOHGAWE DI TEMPAT DUDUKNYA. PADA SIKLORAMA ADALAH VIDEOGRAFI LANGIT, HUTAN ATAU PEPOHONAN DENGAN SUDUT PANDANG DARI BAWAH, KEMUDIAN KE VISUAL LANGIT YANG KALI INI MEMPERLIHATKAN SEEKOR ELANG MELAYANG, KEMBALI LAGI KE PEPOHONAN, DST.

TAK LAMA KEMUDIAN MASUK KEN AROK DIAPING OLEH AJUDAN LOHGAWE.

Ajudan Lohgawe: Hei Ken Arok, bersembahlah kepada maha guru

Ken Arok: (MENGHAMPIRI LOHGAWE, RENGKUH MEMBERIKAN HORMAT) Sembah dari murid tanda hormatku…

Lohgawe: Berdiri, mendekatlah muridku… hari ini kau akan menjalani hidup baru… ingat, hidup sebagai sampah itu tak guna… jadi rajawali itulah takdirmu… kuasai negeri, jadilah leluhur penguasa… genggamlah tanah ini… jangan pernah takut mati… kau camkanlah ini…

Hidup adalah perjalanan menuju kematian

Hidup bukanlah kumpulan dari kepastian

 

Tidak pasti kau akan hidup mereguk madu

Tapi juga tak pasti kau hidup berkubang lumpur

Hanya satu yang pasti dalam kehidupan ini

 

Yaitu kau pasti mati

 

Choral:

Aaaaaaa…

 

Lohgawe:

Untuk itu bekali diri dan juga teguhkan hati

Bersiasat kuasai negeri

Sukmamu petir

Dengarlah, kita atur siasat… kau pergi ke Lulumbang jumpai Mpu Gandring… dia sahabat Bango Samparan… ya ayah angkatmu… pesanlah keris kepadanya… sementara aku jumpai Tunggul Ametung… kudaftarkan kau jadi balatentaranya… kau pasti jadi andalannya… setelah itu atur lagi siasat… bunuhlah Tunggul Ametung dengan kerismu… (DI UJUNG KALIMATNYA LOHGAWE BERANJAK DARI TEMPAT DUDUK UNTUK KELUAR. MAKA SAAT BAIT TERAKHIR LAGUNYA, IA SUDAH TINGGAL SELANGKAH KE LUAR PANGGUNG UNTUK TERUS BERLALU)

Hidup adalah perjalanan menuju kematian

Oh ohhhhhh

CAHAYA PANGGUNG FADE OUT KECUALI CAHAYA KE TEMPAT KEN AROK BERDIRI TERPAKU. SAAT LAMPU TERANG KEMBALI, SEMUANYA SUDAH BERUBAH, PENTAS MENJADI RUANG ANTAH-BERANTAH YANG ANEH … PADA BAGIAN ATAS ADALAH GANTUNGAN-GANTUNGAN PLASTIK LEBAR MENJUNTAI, BEBERAPA NYARIS MENYENTUH LANTAI PENTAS. MATERIALNYA SESUNGGUHNYA PLASTIK TRANSPARAN BIASA BAHKAN PLASTIK BEKAS YANG SUDAH BERKERUT-KERUT, SAMBIL DAUR-ULANG ATAU MEMANFAATKAN SAMPAH PLASTIK DENGAN PRINSIP ARTISTIK BADINGKUT. TAPI KETIKA TERKENA CAHAYA, AJAIB PLASTIK-PLASTIK ITU MENJADI PEMANDANGAN YANG BAGUS. PADA SIKLORAMA ADALAH VIDEOGRAFI REKAMAN KERAMAIAN MALL DENGAN SPEED YANG DIPERLAMBAT, ITU BERSELANG-SELING DENGAN VIDEO ALUTSISTA (ALAT-ALAT PERANG). PRESENTASI VIDEO SAMAR SAJA KARENA BERADA DI BALIK PLASTIK-PLASTIK TRANSPARAN. BATU BEKAS TEMPAT DUDUK LOHGAWE DAN POHON WAREGU MASIH PADA TEMPATNYA SEHINGGA SEKILAS MENGESANKAN BATU BESAR DI TAMAN ZEN.

Adegan 10: Wejangan Mpu Gandring

MPU GANDRING MASUK BERSAMA BEBERAPA PENGIRINGNYA. IA KEMUDIAN MENJEMPUT DAN MENGGANDENG KEN AROK YANG SEDARI TADI BERDIRI MEMATUNG. BERIKUTNYA ADALAH GORO-GORO YANG IKUT HADIR DI PANGGUNG.

Lohgawe:

Hai Ken Arok muridku tersayang

Baik kan kubuatkan oooo

Baik, baiklah kubuat keris sakti

Dan ingatlah jaga hei eii eee

Hindarilah godaan-godaan

Dengan seluruh kemampuan

Jadilah, jadilah burung garuda aaaa

Yang selalu terbang tinggi

Jauh di awan… auuuu

Jika engkau, jika engkau punya pacar

Goro-goro 1: Pacar apaan?

Goro-goro 2: Pacar… pacar Senen, pacar Baru…

Lohgawe:

Jangan diberi voorschot

Goro-goro 1: Voorschot apaan?

Goro-goro 2: Down Payment… icip-icip di muka, tanggungjawab belakangan

Goro-goro 1: Oooo, beak-beak kabur

Mpu Gandring:

Hati-hati Nak, itu bisa celaka

Goro-goro 2: Idihhh itu kalau telat ngangkat…

Goro-goro 1: Gosong… hi hi hi

Lohgawe:

Kau dikawinkan hansip

Goro-goro 2: Hansip apaan?

Goro-goro 1: Itu dulu, zaman sekarang sih security

Mpu Gandring:

Jajan saja Nak

Goro-goro 2: Ya sebaiknya jajan saja… daripada memelihara domba lebih baik jajan sate, bisa pilih kelir acak corak… denger-denger sekarang itu ada yang bisa dibayar dengan credit card

Goro-goro 1: Edan…

Goro-goro 2: Eee sekarang mah memang sudah zaman edan, gituan bisa dikredit. Yang lebih edan lagi credit card bisa digituan…

Goro-goro 1: Bobol deh bank… Nina bobol o nina bobol…

Goro-goro 2: Bobo! Tanpa “l” belegug…

 

Adegan 11: Tunggul Ametung & Pasukan

KEN AROK DAN LAIN-LAIN KELUAR. PADA PANGGUNG SISI LAIN MULAI MASUK TENTARA TUNGGUL AMETUNG SEIRING NARASI DALANG. MASUKNYA CLINGAK-CLINGUK SEPERTI MEMERIKSA KEAMANAN. BERIKUTNYA TUNGGUL AMETUNG MASUK.

DALAM PROSES INI, PLASTIK-PLASTIK YANG MENJUNTAI NAIK DAN PROSES NAIKNYA TERLIHAT PENONTON.

MUSIK “TENTARA TUNGGUL AMETUNG” – PADA SIKLORAMA ADALAH VIDEOGRAFI SUASANA MALL DENGAN SPEED LAMBAT BERSELANG-SELING DENGAN VIDEO ALUTSISTA (ALAT-ALAT PERANG). VIDEO KINI TAMPAK JELAS KARENA PLASTIK-PLASTIK SUDAH TERANGKAT.

Dalang: (MASIH DENGAN KOSTUM DALANG, TAPI KINI GAYANYA SEPERTI REPORTER TV BAHKAN DIDAMPINGI CAMERAMAN YANG SIBUK MENGAMBIL GAMBAR) Selamat siang saudara-saudara sekalian, saya akan memberikan laporan pandangan mata. Saat ini saya berdiri di Pakuwon Akuwu Tumapel tempat seorang penguasa bernama Tunggul Ametung bertahta. Apa yang Tunggul Ametung lakukan? Dia adalah penipu. Sesuai kodratnya sebagai penguasa….

(MUSIK) TENTARA TUNGGUL AMETUNG MENARI DENGAN GERAK-GERAK GANJIL SEKALIGUS LUCU. TAK LUPA SESEKALI MEREKA PUN MENEMBAKAN SENJATANYA KE ATAS. DALANG PUN TAMPAK SESEKALI MEWAWANCARAI TENTARA.

Tunggul Ametung:

Modar aku mengapa aku garang

Berbau kentut, kurang ajar

Siapa yang berani

Kentut di hadapanku

Choral: (MUNCUL SEREMPAK DARI BELAKANG PANGGUNG) Bukan kami tapi dia…

Ken Arok…

Tunggul Ametung:

Itu manusia memang berbau air comberan

Itu manusia jelek seperti kotaku banjir melulu

Tentara Tunggul Ametung: Memang dia, gorok saja…

Choral:

Ken Arok…

Tunggul Ametung:

Hei, hei, hei apa Itu?

Seseorang: Tukang cilok, panggilkan cepat tukang cilok itu

Seseorang: Aci dicolok ka dieu siah… menta hiji ulah make racun… lamun make racun, maneh anu dicolok ku urang, daek sia? 

Tunggul Ametung:

Siapa dia yang berani menantang Tunggul Ametung?

Coba bilang, siapa dia namanya, siapa dia namanya yang berani menantang Tunggul Ametung?

Choral: Dia namanya, dia namanya, heiii, dia namanya…

Ken Arok

Seseorang: Ken Arok… haduh takut, takut, takut…

 

(MUSIK)

Penyanyi Rock: (MUNCUL DARI BARISAN CHORAL)

Tunggul Ametung yang dipuja sepanjang masa

Hamba bersumpah dan membawa cita-cita

Rakyat kita yang setia sekarang memberontak

Karena bersama kita Ken Arok…

Tunggul Ametung:

Jangan kau ucapkan nama itu di hadapanku

Perutku mual ingin muntah mendengarnya

Panggil semua rakyat, kita akan rapat

Suruh mereka kumpul, cepat di alun-alun

Panggil semua rakyat, kita akan rapat

Seorang Tentara Tunggul Ametung: Ayo semua rakyat diseret ke sini… Hormat senjataaaa… gerakkk…

Seorang Banci: Majut, majutttt… jalan

Satu satu aku sayang ibu

Dua dua juga sayang para bapa-bapa

Aduh Joni bagus… five, six, seven, eight

Bagus, senyum, senyum… five, six, seven, eight

Awas kaki, seven, eight, seven, seven, seven up

Aduh pantatnya digoyang dong

Pantat, pantat… aduh itu timang-timang


Adegan 12: Ken Arok di Sekitarmu

 LAGU “KEN AROK DI SEKITARMU” - PADA SIKLORAMA ADALAH VIDEOGRAFI SUASANA MALL DENGAN SPEED DIPERCEPAT BERSELANG-SELING DENGAN VIDEO ALUTSISTA (ALAT-ALAT PERANG).

Tunggul Ametung: Dengar perintahku…

Hari mulai pagi sinar mentari mulai berpijar

Siap akal pikiran berlatih supaya otot kekar… huh

Musuh kita di sana, mereka menantikan kita lengah

Dengar suara Ken Arok yang berani menentang

Menentang kita

Choral dan Tentara Tunggul Ametung:

Ken Arok ada di sekitarmu, dia berbahaya

Ken Arok ada di sekitarmu

Awasi dia, awas…

Tunggul Ametung:

Gunakan akal sehat supaya kita tidak terjerat… huh

Dengar suara Ken Arok yang berani menentang

Menentang kita

Gunakanlah siasat

Jangan sampai terjebak… wei wei wei

Choral dan Tentara Tunggul Ametung:

Ken Arok ada di sekitarmu, dia berbahaya

Ken Arok ada di sekitarmu

Awasi dia

Ken Arok ada di sekitarmu, dia berbahaya

Ken Arok ada di sekitarmu

Awasi dia, awas…

Seorang Tentara Tunggul Ametung: Kami atas nama balatentara dengan ini menyatakan kebulatan tekad untuk tidak lagi memilih Tunggul Ametung sebagai pemimpin kami…

Seseorang: Lho, gimana ini?

Seseorang: Udah diem aja deh, ini kan pertunjukkan

Seorang Tentara Tunggul Ametung: Tapi demi kelancaran pertunjukkan, Tunggul Ametung dipersilakan berpidato lagi. Silakan…

Tunggul Ametung:

Gunakanlah siasat, Jangan sampai terjerat… wei wei wei

Choral dan Tentara Tunggul Ametung: (BERSAMA BAIT LAGU INI, SEMUA KELUAR PANGGUNG KECUALI DALANG DAN JURU KAMERA)

Ken Arok ada di sekitarmu, dia berbahaya

Ken Arok ada di sekitarmu

Awasi dia

Ken Arok ada di sekitarmu, dia berbahaya

Ken Arok ada di sekitarmu

Awasi dia …

Dalang: Cerita ini memang penuh dengan tipu-menipu. Begitu pula istri Tunggul Ametung yang bernama Ken Dedes, dia pun menipu dunia dengan menyelewengkan kodratinya sebagai istri… menipu alam dengan membenamkan harkat kesetiaan wanita. Dia bersentuh rasa dengan Ken Arok… ah, perserongan dan pertipuan yang kekal abadi sampai saat ini…

DI PENGHUJUNG KALIMATNYA DALANG MUNDUR DAN KELUAR PENTAS, LANTAS MASUK KEN AROK YANG BERGANDENGAN TANGAN DENGAN KEN DEDES. MEREKA MENGHAMPIRI BATU YANG MASIH ADA DI PENTAS.

 

Adegan 13: Ken Arok & Ken Dedes

LAGU “KEN AROK DAN KEN DEDES” - PADA SIKLORAMA ADALAH VIDEOGRAFI SUASANA MALL DENGAN SPEED DIPERCEPAT BERSELANG-SELING DENGAN VIDEO ALUTSISTA (ALAT-ALAT PERANG), KEMUDIAN DISOLVE KE VIDEO SEBUAH TAMAN HUTAN KOTA, PAGI KE SIANG.

Ken Arok:

Sinar mentari telah kembali terang

Di dalam hati asmaraku

Dahaga cinta telah penuh oleh dirimu

Aku ingin dipeluk olehmu

Ken Dedes:

Aduh Ken Arok pujaanku sayang

Suamiku akan curiga… ooo

Pada akhirnya dia akan mengetahuinya

Hancurlah cinta kita ini

Ken Arok:

Hatiku telah berbunga

Ku tak mungkin menutupnya

Kan kujalani semua rintangannya… ooo

Cinta bukan paksaan

Cinta itu perasaan

Ken Arok & Ken Dedes:

Bercinta, mari kita bercinta

Bercinta… uuuu

Dewata: (MUNCUL DARI BALIK BATU)

Engkau Ken Dedes, kau wanita culas

Suamimu setia menunggu

Ken Dedes:

Oh Hyang Dewata

Maafkan dosaku ini

Ku tergoda, tergoda dirinya

Inilah Ken Arok

Lambangnya kekuatan

Dalang: Nah itulah Ken Dedes…

Seseorang: Anjirrr memang bahenol nerkom hi hi hi

Ken Arok:

Cinta bukan paksaan

Cinta itu perasaan

Ken Arok & Ken Dedes:

Bercinta, mari kita bercinta

Bercinta… ouooo

Bercinta, mari kita bercinta

Bercinta… uuuu

Bercinta, mari kita bercinta

Bercinta… bercinta

Ken Arok: Ken Dedes kekasihku, aku akan pergi dulu ke pabrik keris Mpu Gandring untuk menjemput kerisku… dan mulai sekarang lupakanlah suamimu Tunggul Ametung… akulah kelak yang jadi penguasa penggantinya… bye bye sayangku, see youuu… muachhh…

Adegan 14: Salam Cinta Ken Dedes

LAGU “SALAM CINTA KEN DEDES” - PADA SIKLORAMA ADALAH VIDEOGRAFI TAMAN YANG SAMA DALAM WAKTU YANG BERBEDA YAITU SENJA MENUJU MALAM.

Ken Dedes:

Haruskah cinta berbalas pecahan kaca

Yang merobek luka di dada… ooo

Haruskah cinta seperti mengejar bayangan

Semakin dikejar semakin lari menghindar

Aku langit kosong

Engkau mataharinya

Aku gugusan bintang

Kau cahayanya

Tapi sekarang

Di mana matahari

Di manakah cahaya

Yang ada ketidakpastian

Ketidakpastian

Bayangkan kosongnya langit

Sejuk dan teduh

Bayangkan tangisan bayi

Sejuk dan teduh

Bayangkan hanya engkau dan aku

Sejuk dan teduh

(MELANGKAH MENUJU KE LUAR PENTAS, PADA SAAT INI PULA SETTING BERUBAH KE PENGADEGAN #15)

Bayangkan cinta kita

Sejuk dan teduh… sejuk dan teduh

Kawan, ooo ooo  kau lah cinta

Buat engkau selamanya

Selamanya

Selamanya


Adegan 15: Kematian Mpu Gandring

Dalang: Saya sekarang berada di pabrik keris Mpu Gandring… entah apa rencana Ken Arok? Dia sudah pesan keris kepada Mpu Gandring, tapi keris belum selesai… dia marah… (MUSIK EMPHASIS) dia bunuh Sang Mpu… dan Sang Mpu mengutuk bahwa kerisnya akan membunuh tujuh turunan Ken Arok. (MUSIK EMPHASIS) Begitu ceritanya menurut Pararaton yang telanjur diakui sebagai sejarah… (MUSIK EMPHASIS) padahal esensinya sekadar tipuan… sekadar tipuan… paham?

Juru Alok: Ya, paham Ki Dalang… kita mestinya kritis memeriksa apa kira-kira motif dasar yang melatarbelakangi dan menjadi tujuan penulisan kitab itu? Jangan-jangan tujuannya itu politis yang dibalut fiksi, lantas kita mengakuinya sebagai sejarah…

Dalang: Hush… jangan bawa-bawa politik dulu… ini cerita kita balas dengan cerita sesuka-suka kita… ayo kita lanjutkan ceritanya, begini nih selanjutnya…

MUSIK “PEMBUNUHAN MPU GANDRING” - PADA SIKLORAMA VIDEOGRAFI DI SEBUAH PANDAI BESI. SEKILAS TAMPAK CLOSE UP HINGGA HYPER CLOSE UP PADA BESI PANAS MERAH YANG DITEMPA BERGESER KE BARA API PEMBAKARAN, DEMIKIANLAH BOLAK-BALIK (SEPERTI PADA ADEGAN #4). BALKON HIDROLIK ATAU YANG DIDORONG DARI BELAKANG/SAMPING PUN MUNCUL KEMBALI, TAMPAK DI SANA MPU GANDRING SEDANG MENEMPA BESI. KEN AROK BERSAMA PENGIKUTNYA MASUK SEIRAMA MUSIK PEMBUKA.

Ken Arok:

Mpu Gandring, manakah kerisku

Yang telah kupesan dulu

Mpu Gandring:

O ya, hei Ken Arok anakku yang sakti

Kerismu belum selesai

Ken Arok: Kenapa belum selesai? (MENGHAMPIRI MPU GANDRING SAMPAI DI TANGGA BALKON)

Mengapa kau berjanji palsu

Seperti ditagih utang, janji Minggu jadi Rabu

Mpu Gandring:

Jangan marah, dengar alasanku

Tapi kita dansa dulu

Ken Arok: All right man, kita dansa man

 (MUSIK JOGED, MPU GANDRING TURUN DARI BALKON LANTAS MEREKA BERDUA JOGED)

Ken Arok: (KELUAR DARI JOGEDAN)

Huh, apa alasanmu?

Memang kau penipu

Menurut sejarah kerisku tak boleh selesai… eee yaaa

Mpu Gandring:

O ya aku lupa, itu ceritanya

Ken Arok: Kau tak menghafal sejarah… nanti dimarahi guru sekolah… yeahhh

Jadi aku harus bunuh kau sekarang

Mpu Gandring:

Ya ya ya asalkan pelan-pelan

Jangan sampai aku sakit

Jangan sampai aku mati… betulan

Ken Arok:

Jangan engkau takut, ini pisau karet, kemarin kubeli dari Toko Mainan Anak…

Mpu Gandring: Eudeuhhh duh duh duh… beuteung aing ditubles

Me... menurut sejarah, kau harus kukutuk tujuh turunan

Aduh… aduh, aduhhh

Tapi kini zaman, memang sudah edan

Kuterima sogokan

Hadeuh jadi nyeri beuteung yeuh…

Jika kau mau, aku kurangi kutukanku

Aduh… aduh, aduhhh

Ken Arok:

Sejuta rupiah

Mpu Gandring:

Enam turunan

Ken Arok:

Dua juta rupiah

Mpu Gandring:

Lima turunan

Ken Arok:

Tiga juta rupiah

Mpu Gandring:

Empat turunan

Ken Arok:

Hah, empat juta rupiah… ye yeee

Mpu Gandring:

Tiga turunan

Ken Arok:

Lima juta rupiah…

Mpu Gandring:

Dua turunan

Ken Arok:

Enam juta rupiah…

Mpu Gandring:

Satu turunan

Ken Arok: Mana kortingnya?

Mpu Gandring: Bayarnya cash atau credit card? Kalau cash OK deh nol turunan.

Ini baru lumayan buat foya-foya kalau di nirwana…

Mpu Gandring & Ken Arok:

Yeaaa…

Ken Arok:

Bagaimana Mpu, kita jabat tangan buat kontrak ini

Mpu Gandring: Eeee… sebentar dong

Tambah enam ratus ribu

Ken Arok: Buat apa enam ratus ribu?

Mpu Gandring:

Buat pajak pendapatan… heiiii

Ken Arok: Ih bisa aja lu sepuluh persen

Mpu Gandring: Adeuh deuh deuh, udah deh mau mati

Ken Arok: Mati aja… sombong amat mau mati aja

Somse, aduh mani somse

Mau mati mani somse

Sombong sekali

Mpu Gandring: Adeuh adeuh deuh…

Aku… mati…

Choral:

Dia mati

Mpu Gandring:

Aku… mati…

Choral:

Dia mati

Mpu Gandring: Saya memang mau mati… mau menyusul si Donna di telepon 51010… asyikkk sama Donna jadi hantu di jembatan… hi hi… Bisa nggak ya kalau mati saya dikuburnya di kuburan mantan presiden itu lho… Donna, I am coming

MUSIK ANTARA (BRIDGING) CAHAYA FADE OUT, VIDEOGRAFI DISOLVE KE MOVING VIDEO DI SEBUAH PASAR TRADISIONAL. BALKON KELUAR. SEJUMLAH ORANG LALU-LALANG DI PENTAS. SELINTAS DI BAGIAN SUDUT KANAN DEPAN PANGGUNG ADA ADEGAN KEN AROK MENYERAHKAN/MEMINJAMKAN KERISNYA KE KEBO IJO.

 

Adegan 16: Kebo Ijo Lelang Keris

Dalang: Wow, Ken Arok sudah sarat dengan siasat… dia pinjamkan keris buatan Mpu Gandring tadi kepada temannya yang bernama Kebo Ijo. Tentu dengan maksud licik… Dia mau menipu Kebo Ijo… Ah kasihan Kebo Ijo kena perangkap Ken Arok … Lagi-lagi tipuan… tipuan di mana-mana… hah tipuan ha ha…

LAGU “KEBO IJO” – KEBO IJO KELUAR DARI KERUMUNAN ORANG YANG LALU-LALANG.

Kebo Ijo:

Lihat keris saya, indah bentuknya

Seseorang: (KELUAR DARI KERUMUNAN ORANG YANG LALU-LALANG)

Kau beli dari mana kawan? Beri tahu saya 

Kebo Ijo:

Memang keris dahsyat… Ini keris pilihan

Seseorang:

Kalau kau mau jual… Aku beli sekarang… yeee

Mau jual nggak

Kebo Ijo:

Aaaa… ini keris saya, keris berharga mahal

Seseorang:

Kubeli keris itu, berapa harga kau mau?

Kebo Ijo:

Baiklah, baik kawan… kalian semua tenang… keris ini aku lelang… siapa menawar duluan…

Seseorang: (SALAH SEORANG DARI KERUMUNAN YANG LALU-LALANG) Saya satu juta rupiah

Kebo Ijo: No, thank you

Seseorang: (YANG LALU-LALANG MULAI BERKERUMUN MENGIKUTI LELANG) Saya dua juta rupiah

Kebo Ijo: No, thank you

Seseorang: Saya dua juta tambah jabatan

Kebo Ijo: Jabatan apa yang kau tawarkan

Seseorang: Direktur bank

Kebo Ijo: Ahhhh, no…

Seseorang: Jabatan walikota

Kebo Ijo: Walikota? Ah, nanti saya kelabakan ngurus banjir…

Seseorang: Jadi apa yang kamu inginkan Kebo Ijo? Apa? Apa sih sebutkan, apa yang kamu inginkan?

Kebo Ijo:

Yang aku inginkan… susah-susah gampang… kalau bisa dikabulkan… keris ini kujual… ku tak ingin macam-macam… bukan harta melimpah… aku hanya ingin… ingin…

Seseorang: Ayo cepat katakan apa yang kau inginkan? Ingin mobil mewah?

Kebo Ijo: Aku bukan masalah harta.

Seseorang: Ingin demokrasi ekonomi, supaya… bisnis listrik tidak ada monopoli?

Kebo Ijo: Lebih lagi…

Seseorang: Kau ingin negara bebas korupsi?

Kebo Ijo: Lebih lagi…

Seseorang: Kau ingin… wakil rakyat bener-bener membela kepentingan rakyat?

Kebo Ijo: Lebih lagi…

Seseorang: Jadi apa yang kau inginkan sih?

Apa apa apa…

Kebo Ijo:

Tenang tenang tenang kawan… aku kan katakan… apa yang aku inginkan… silakan dengar… yang aku inginkan itu…

Seseorang: Apa sebut, sebut saja apa, ayo, sebut… saya pengen keris itu, ayo

Kebo Ijo: Tenang tenang… tenang…

Seseorang: Jadi apa Kebo Ijo, apa yang kamu inginkan, ayo…

Kebo Ijo: Tenang… tenang

Seseorang: Ayo Kebo Ijo, aku ingin keris itu, sebut saja apa yang kau inginkan?

Kebo Ijo: Aku ingin… aku ingin bebas

Seseorang: Aaaaa…

Kebo Ijo: Terbang tinggi…

Seseorang: Garing, garing, garing

Kebo Ijo: Terbang jauh… your funny is…

Seseorang: Garing… aaaa

Seseorang: Apa yang kau inginkan? Sebutkan cepat…

Kebo Ijo: Aku… malu ah… aku ingin ‘viral’ dipidio seperti si itu sama si itu… tu… tu… hi hi hi

Seseorang: Goblog siah

MUSIK ANTARA (BRIDGING) CAHAYA FADE OUT, VIDEOGRAFI KE MODEL WAYANG BAYANG-BAYANG (SHADOW PUPPET). DI LATAR DEPAN ATAU DI PENTAS TAMPAK ORANG-ORANG TADI MINUM-MINUM ARAK LANTAS SEMUA MABUK DAN TIDUR BERGELETAKAN. KEBO IJO BERADA BERSAMA ORANG-ORANG TERSEBUT SAMBIL MEMELUK KERISNYA. WAYANG BAYANG-BAYANG PADA SIKLORAMA MENGGAMBARKAN SEBUAH TEMPAT TIDUR DAN TUNGGUL AMETUNG YANG TIDUR PULAS. KEN AROK MENGENDAP-ENDAP MENGAMBIL KERIS DARI KEBO IJO, LANTAS MENYELINAP KE BELAKANG PANGGUNG KEMUDIAN GAMBAR BAYANG-BAYANG KE AROK DENGAN KERISNYA MUNCUL DI LAYAR MENJADI WAYANG BAYANG-BAYANG.     

Adegan 17: Kematian Tunggul Ametung

LAGU “BIDADARI” – PADA SIKLORAMA SEPANJANG LAGU DAN NARASI DALANG ADALAH GAMBARAN PROSES KEN AROK MEMBUNUH TUNGGUL AMETUNG YANG SEDANG TIDUR… SEUSAI PEMBUNUHAN ITU, WAYANG BAYANG-BAYANG DISOLVE KE VIDEO POHON YANG PENUH DENGAN KUNANG-KUNANG.

Dalang: Ah, malam ini penuh dengan bintang… bidadari pun turun ke bumi… masuk ke dalam mimpi dan halusinasi Tunggul Ametung. Ini memang malam terakhir… Dia akan terbunuh malam ini… Begitu kata bidadari… Tunggul Ametung terbaring di kasur halusinasi… antara matra kasar dan matra halus… tentu sobat, itulah daerah tipu dan tipu daya… bidadari cantik tidak pernah ada, lagi-lagi tipuan…

Bidadari: (MUNCUL SEOLAH MENEMBUS LAYAR VIDEO)

Kami datang dari nirwana… untuk menjemput nyawamu… malam ini, malam yang terakhir kau hidup di alam dunia… 

Tunggul Ametung:

Ah, bidadari yang cantik jelita… berapakah tarifmu… satu jam saja

Bidadari:

Hei manusia, jangan banyak cerita… kami utusan dewata… Uuu malam ini kau akan kupeluk… nyawamu akan… akan melayang

Tunggul Ametung:

Ah, bidadari yang pandai meramal… apakah aku kan jadi menteri…

Bidadari: (KOOR)

Kami bukan peramal… kami ini utusan Hyang Dewata…

Kami bukan peramal… kami ini utusan Hyang Dewata…

Tunggul Ametung: Ah, bohong… nanti bohong

Ooo mengapa aku harus mati sekarang…

Bidadari: Mangkanya, kalau nggak mau mati ntar pemilu nyolok yang bener ya…

Tunggul Ametung: Nyolok kamu aja deh, ya…

Katakanlah aku jangan mati sekarang…

Bidadari:

Tapi itu tidak mungkin

Tunggul Ametung:

Ah bidadari yang cantik jelita…

Pasti kalian peragawati dari sekolah model di surga ya?

Bidadari:

Kami ini utusan, kami ini utusan Hyang Dewata

Tunggul Ametung:

Malam ini saya mati… terimakasih aduh Gusti…

Mendingan mati deh daripada mikirin ekonomi… gosipnya sebentar lagi devaluasi…

Bidadari:

Sungguh Tunggul Ametung, kau akan mati… mati sekarang… u u uuu

Sungguh Tunggul Ametung, kau akan mati… mati sekarang… u u uuu

Tunggul Ametung: Asyik… bidadarinya bisa nyanyi jazz

Bidadari:

Mati sekarang… mati sekarang…

Sungguh Tunggul Ametung, kau akan mati… sekarang… u u uuu

Sungguh Tunggul Ametung, kau akan mati… mati sekarang… u u uuu

Tunggul Ametung: Waduh gua mesti mati sekarang, padahal kreditan mobil belum lunas… yaaaa

Adegan 18: Serahkan Nyawa

LAGU “SERAHKAN NYAWA” - VIDEOGRAFI POHON YANG PENUH DENGAN KUNANG-KUNANG. DI LATAR DEPAN/PENTAS ADALAH KOREOGRAFI KEMATIAN. DI ANTARA PENARI ADALAH BENTUK MAINAN “GEROBAK” KULIT JERUK BALI, BERKAKI TINGGI, UKURAN DIPERBESAR, WARNA ABU-ABU MENDEKATI KE HITAM. DI DALAM GEROBAK ADALAH JENAZAH TUNGGUL AMETUNG.

Choral:

Dengar suara si pencabut nyawa… lonceng kematian sudah berdetak… bersihkan raga dan rapihkanlah nyawa… dia memang harus segera berdentang… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… (MUSIK) menghadap ke neraka… sang hidup penuh dosa… saya miskin dia pengemis… tak bisa bayar pajak terroris… saya dan dia dipenjara iblis… hari gajian, kamu di neraka… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… menghadap ke neraka… sang hidup penuh dosa… hei kau sengaja, mengapa lupa… berita sang dewa harus disimak… berilah kerupuk makan bersama… supaya ramai kita pesta… saya miskin dia pengemis… tak bisa bayar pajak terroris… saya dan dia dipenjara iblis… hari gajian, kamu di neraka… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… (MUSIK DAN SUARA NERAKA) hei mari setan, kamu saya lawan… kamu bawa pedang, saya cukup kepalan… nyawaku terlepas dari badan… dibujuk si setan, diajak tamasya… saya miskin dia pengemis… tak bisa bayar pajak terroris… saya dan dia dipenjara iblis… hari gajian, kamu di neraka… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… (MUSIK DAN SUARA NERAKA) saya bawa sekadar pembuka pasukan… cerita sang dewa harus disimak… sehingga terhubung ke pusat ke selamat… supaya pada hari ini kita pesta… hei awas setan, kamu saya lawan… tak bisa menang, saya tusuk kepala… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… bunuhhhh…

Adegan 19: Perang

Ken Arok: Tumapel sudah kurebut, bahkan istri sang akuwu pun sudah jadi milikku… wahai para pengikutku… jangan tanggung, kita rebut juga kuasa Kertajaya… jadikanlah aku Ken Arok sebagai raja besar di sana…

Para Pengikut Ken Arok: Ayoooo….

Dalang: (MEREKA SEMUA DIAM MEMATUNG SEPERTI DIBEKUKAN DARI GESTIKULASI YANG PALING AKHIR, DALANG MENYAMPAIKAN NARASI DI ANTARA “PATUNG-PATUNG” TERSEBUT) Demikianlah ambisi dan nafsu kuasanya Ken Arok… mereka bergerak untuk menggulingkan Kertajaya… Perang pun tak terhindarkan, lagi-lagi rakyat menjadi korban berguguran… di Ganter peperangan itu berkecamuk…

LAGU “PERANG” (INSTRUMENTAL) - PADA SIKLORAMA VIDEOGRAFI DI SEBUAH PANDAI BESI, SEKILAS TAMPAK CLOSE UP HINGGA HYPER CLOSE UP PADA BESI PANAS MERAH YANG DITEMPA BERGESER KE BARA API PEMBAKARAN, ITU BOLAK-BALIK BERGANTIAN DENGAN VIDEO POHON YANG DIPENUHI KUNANG-KUNANG. PASUKAN KERTAJAYA DATANG, KEN AROK DAN PENGIKUTNYA KEMBALI BERGERAK DAN SEGERA SIAGA… TERJADI PEPERANGAN DALAM BENTUK KOREOGRAFI SEPANJANG LAGU.

Adegan 20: Jangan Menangis Indonesia

PADA SIKLORAMA ADALAH VIDEOGRAFI POHON YANG DIPENUHI KUNANG-KUNANG. MAYAT-MAYAT BERGELIMPANGAN. TAMPAK KEN AROK BERDIRI MEMATUNG MENGACUNGKAN TANGAN TANDA KEMENANGAN. BEGITU PULA SISA PASUKANNYA MEMATUNG DIAM. MUNCUL SEORANG ANAK DI ANTARA GELIMPANGAN MAYAT-MAYAT, IA MENGGUSUR MAINAN GEROBAK KULIT JERUK.

Anak Kecil: (SAMBIL MENEROBOS DI ANTARA KEN AROK DAN PASUKANNYA YANG SEPERTI PATUNG-PATUNG) Saya tidak percaya kalau Dinasti Rajasa yang menjadi Singasari, Majapahit, hingga Demak, Pajang, dan Mataram itu seluruhnya dibangun dengan darah, kelicikan, dan tipu menipu…

Dalang: (MUNCUL DARI BELAKANG) Benar cucuku… meski licik, culas, dan suka menipu itu adalah sebagian dari watak manusia… tapi, masa sih sebuah negara seluruhnya dibentuk dengan itu… bukan main buruknya jika suatu negara dibangun dengan nafsu tipu-menipu… negara tersebut hanya akan penuh oleh riwayat dari satu kudeta ke kudeta lainnya… korban pun akan terus berguguran.

Anak: Ya, Ki Dalang… ayah dan ibuku pun menjadi korban…

LAGU “JANGAN MENANGIS INDONESIA” DIMULAI DENGAN CHORAL YANG MUNCUL DARI BELAKANG, DIIKUTI PEMAIN-PEMAIN YANG TADI BERGELIMPANGAN, KEMUDIAN KEN AROK DAN PASUKANNYA KEMBALI BERGERAK MEMBENTUK FORMASI BERBANJAR UNTUK CURTAIN CALL. SEMUA IKUT MENYANYI. HORMAT.

S E L E S A I

 Cibolerang, 27 Desember 2019 – 5 Februari 2020

 (HD)



[1] Herry Dim, Harry Roesli Sang Jenius Monumen Musik Indonesia, La Munai Records, 2017. Sebagai tulisan pengantar pada album “Philosophy Gang” (1973) yang dicetak ulang oleh La Munai Records dalam bentuk piringan hitam (2017).

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar