Naskah Rock Opera:
Ken Arok Harry Roesli
selengkapnya menjadi bagian dari naskah
ini.
Ditulis menjadi naskah baru dan diberi gambaran skenografi berdasar Ken Arok versi 1991
oleh: Herry Dim
oleh: Rully Handiman
(Akhir 2019 - Awal 2020)
Pengantar
Penulis Naskah
RABU, 11 Desember 2019, seusai melaksanakan “tahlilan” di tahun ke-15 wafatnya Harry Roesli, Magrib pun telah lewat. Saya ke beranda belakang RMHR (Rumah Musik Harry Roesli) jl. Supratman 59, di sana sudah ada Ine Arini yang sedang ngobrol dengan Kania Roesli dan teman-temannya sambil menikmati suguhan bakso Malang. Saya pun ikut ngalas semangkok kemudian mencoba ikut melibatkan diri dalam obrolan yang ternyata sedang membahas ihwal “Salsa,” jenis tarian yang sudah di atas dua puluh tahun ini digeluti oleh Nia (demikian panggilan kami kepada Kania Roesli).
Tak
lama kemudian datanglah Rully Handiman, salaseorang adik dari Nia, menghampiri
sambil membuka obrolan yang aslinya berlangsung dalam bahasa Sunda.
“Ah,
kebetulan ada Kang Herry, saya memang sudah lama menunggu-tunggu kesempatan
untuk ngobrol Ken Arok-nya almarhum,” demikian Rully sambil menjelaskan bahwa
ada penyelia yang bermaksud menjadikan opera Ken Arok (Harry Roesli) sebagai
salasatu pertunjukan tetap di gedung teaternya. Rully pun menyampaikan
itikadnya untuk mengembangkan kembali Ken Arok versi pentas 1991 di Eldorado
Dome yaitu versi yang sesungguhnya sudah jauh berkembang jika dibanding dengan
Ken Arok awal (1977).
Rully
Handiman bersama sang kakak, Haviel Handiman, adalah dua “jagoan” belakang
panggung yang senantiasa mengerjakan aransemen sejumlah karya musik Harry
Roesli mulai periode 1990an. Menjadi anggunnya Ken Arok versi 1991 di Eldorado
Dome, itu tak lain karena sentuhan serta re-kreatif kakak-beradik ini. Pun sejumlah
karya njlimet terbaik yang antara lain terkumpul di dalam
rekaman kaset “Cuaca Buruk” (1992), itu seluruhnya berkat sentuhan Haviel
Handiman.
Di
kemudian hari, Rully kian tumbuh sebagai arranger dan juga
komposer, terbukti diantaranya melalui karya-karya yang menjadi dasar bagi
perhelatan Pekan Olahraga Nasional XIX 2016 di Bandung. Sementara Haviel
bersama istrinya, Anna Ingleby, kian mengembangkan teater bayang-bayang (shadow
puppet theatre) melalui kelompok Indigo Moon Theatre yang berkedudukan di
Inggris.
Dalam
obrolan selepas Magrib itu, Rully pun menyampaikan angan-angan akan mengaransir
ulang seluruh nomor opera “Ken Arok” serta menambahkan nomor-nomor baru jika
diperlukan. Ada dua alasan penting yang melandasi angan-angan Rully tersebut.
Pertama, almarhum Harry Roesli ternyata tidak mewariskan “audio master” atas
Ken Arok versi Eldorado Dome (1991) kecuali sebuah “rekaman jadi” dengan
kualitas seadanya. Maka, jika hendak menggarap ulang, tak ada jalan lain selain
memulai kembali segalanya dari nol. Kedua, banyak isi terutama yang non-lagu
itu mesti mengalami aktualisasi sehingga perlu ditulis ulang. Berkait dengan
itu, menjadi muncul kesempatan untuk melakukan restruktur atas dramaturgi yang
memang pada 1991 tidak begitu terurus, dan yang terpentingnya lagi menjadi ada
kesempatan untuk melakukan penegasan sudut pandang (dalam hal ini sudut pandang
Harry Roesli) atas cerita Ken Arok itu sendiri; artinya naskah memang mesti
ditulis.
Tentang
hal kedua (penulisan naskah) sesungguhnya terhubung kepada obrolon penulis dan
Harry Roesli, baik pra atau pun pasca-pentas Eldorado Dome (1991). Obrolan
tersebut, ringkasnya, seperti terurai di bawah ini.
**
"HERR, Djody (yang dimaksud Setiawan Djody, pen) ngajak nyieun pementasan euy, ngagarap naon nya ceuk maneh? (Herr, SD mengajak membuat pementasan, menggarap apa ya menurut kamu?)" Demikian Harry Roesli membuka obrolan seusai melepas cerita humor-humornya yang seperti biasanya 'ngagolontor' setiap setelah lewat pukul 12 malam. Kawan-kawan yang semula mengitari meja di beranda depan, saat itu telah pulang satu demi satu, sisanya tinggal kami berdua. Sementara Ine sejak lepas Isya ngobrol di dalam bersama Nia, sangat mungkin mereka sudah lama tertidur.
Harry
Roesli (HR) mengatakan bahwa SD siap untuk menjadi Maecenas yang membiayai
pementasan yang diangankan. Waktu itu HR memang sedang dekat-dekatnya dengan SD
yang sedang tumbuh kerinduan masa lalunya untuk kembali main musik.
Menjawab
pertanyaan di atas, saya menyebut dua karya HR yaitu “Titik Api” (1976) dan
“Ken Arok” (1977).
“Naha Titik Api,
terus ku naon Ken Arok? (kenapa Titik Api dan kenapa Ken Arok?)” Tanya
HR.
“Ah,
teuing, saya mah unggal nabeuh Titik Api sok ngarasa ayana ide
anu geus jauh pisan ka hareup tapi karangket ku teknologi anu masih alakadarna…
jigana mun digarap deui ku teknologi ayeuna mah bakal alus pisan (ah,
entah, saya sih setiap mendengarkan kembali Titik Api selalu
merasa adanya ide yang sudah melangkah jauh sekali ke depan tapi terhambat oleh
teknologi yang masih terbatas… andai saja digarap kembali dengan teknologi
sekarang niscaya akan bagus sekali),” jawab saya, sambil dengan guminter menjelaskan,
bahwa yang dimaksud teknologi di sana bukan sekadar teknologi audio hingga
rekaman melainkan juga teknologi yang berkenaan dengan musikalitas. Berikutnya
saya sampaikan juga perhatian utama kepada Sekar Jepun, Jangga
Wareng, Kebo Jiro, Prolog (Kerak Bumi), Lembe-lembe,
yang memiliki kualitas kepeloporan luar biasa tapi butuh penyegaran terutama
bagi generasi terkini yang mungkin belum tahu.
HR
manggut-manggut sambil nyulut rokok “Gudang Garam” filternya lantas berkata: “Ah
maneh mah, eta mah sarua we jeung nitah urang ngagali kuburan (ah kamu
ini, itu sih sama saja dengan menyuruh saya menggali kuburan).”
Demikianlah
HR, hampir seluruh orientasi atau pandangannya itu selalu ke muka, bahkan
senantiasa dekonstruktif terhadap apapun yang pernah dilakukan atau menjadi
karyanya. Di sana pula “api” kreatifnya seperti yang tercatat di dalam
pengantar album cetak ulang Philosophy Gang of Harry Roesli.[1]
Masih
panjang dan sesungguhnya plus ngalor-ngidul, tapi ringkasnya HR
kemudian mengajak berlanjut pada “Ken Arok.”
“Ari Ken
Arok? (kalau Ken Arok?)” Tanya HR.
Ini
lebih serius lagi, jawab saya, khususnya berkenaan dengan urusan teks.
Sejatinya
(berkenaan dengan itu) terjadi obrolan berseliweran ke sana ke mari, tapi
sekali lagi demi ringkasnya; saya kemukakan bahwa HR dengan Ken Arok itu
melakukan “gurau” habis-habisan, ini penting dan belum pernah ada yang berani
melakukan hal tersebut pada cerita Ken Arok yang sudah terlanjur dianggap
sejarah bahkan dianggap riwayat mitis.
Sekadar
gambaran saja tentang semangat “gurau,” itu bahkan kita temukan sejak
nomor/lagu pembukaan album “Ken Arok” (Eterna, 1977) yang berupa dialog awal
tokoh Ken Arok, antara lain: "Aku Ken Arok yang engkau tunggu... engkau
beli kaset mendengarku, uang delapan ratus he he he tidak sedikit, wahai
teman kau tertipu ha ha ha... coba jika uang itu kau jajankan rujak
asinan... come on baby."
Gurau
di sana, hemat saya dan juga seperti yang saya kemukakan kepada HR, itu tak
lain merupakan demistifikasi terhadap hal yang sudah terlanjur
dipercaya. Di kepala saya sendiri saat itu (menjelang 1990an) sesungguhnya
belum jelas-jelas amat mengingat bacaan yang belum sampai serta kritisisme
terhadap cerita Ken Arok pun belum bermunculan. Namun keraguan bahkan dugaan
“Ken Arok” itu fiksi yang digelincirkan menjadi “kebohongan” yang disejarahkan,
benih-benihnya sudah mulai tumbuh di kepala. Maka dengan pengetahuan yang serba
terbatas, terjadilah obrolan tentang Pararaton dan Negarakertagama.
“Heueuh
da Ken Arok mah waduk lah (Iya, Ken Arok itu memang …. lah),” demikian
celetuk HR seperti biasa dalam gaya bahasa obrolannya.
**
PUSARAN obrolan hanya sampai di sana, tapi biasa dan seperti telah disebut bahwa lebarannya itu sebetulnya ke mana-mana. Waktu serta sejumlah kegiatan pun terus berlesatan. Terselip di antaranya pentas Metateater (1990/91), semacam kolaborasi antara HR (musik/bunyi), saya (rupa) dan Rachman Sabur & Teater Payung Hitam (tubuh dan gerak). Hingga suatu ketika setelah lewat hitungan bulan atau tahun, HR dalam suatu perjumpaan mengatakan: “Herr, si Djody jadi euy… enya lah urang jadikeun we Ken Arok, bantuan nya… (Herr, Djody mengatakan jadi… ya kita jadikan saja Ken Arok, bantu ya…).”
Segera
Supratman 57 yang memang tak pernah tidur itu meningkat sekali kesibukannya terutama
untuk penggarapan ulang musik dan lagu-lagu untuk Ken Arok. Sementara proses
latihan gabungan dilakukan di sebuah wahana kerja di jalan Jakarta yang saat
itu masih sebagai sekolah model milik Hans Utama. Saya bersama (almarhum)
Mamannoor ternyata diberi tugas mengerjakan rupa, baik artistik panggung atau
pun lebih khususnya mengolah video untuk diproyeksikan ke panggung.
Meski
kami sudah terbiasa dengan kerepotan kerja panggung, kali ini harus disebut
luar biasa tingkat kerepotannya. Seluruh perencanaan dan pengerjaan panggung,
misalnya, itu dikerjakan di tempatnya Hans Utama tapi dengan proyeksi hasilnya
untuk digunakan di Eldorado Dome yang jelas bukan gedung pertunjukkan melainkan
lapang tennis indoor. Saya dan Mamannoor lebih banyak tenggelam di
sebuah studio video di jl Sunda. Kami yang tak kenal teknologi editing video
jadi “kursus” sekaligus kerja sejak mulai mencari dan mengumpulkan bahan hingga
penggabungan dan editingnya yang harus selalu disesuaikan dengan durasi
pengadegan di pentas. Ini saja menyimpan cerita panjang sejak yang menggelikan,
asyik dan bikin lupa waktu, hingga yang tegang-tegang baik karena bloon ihwal
teknologinya atau pun karena diburu-buru waktu. Dan yang tak bisa kami lupakan,
saat itu masih zaman analog, teknologi video baru sampai ke teknologi VHS.
Kelak yang jagoan mengolah dan editing VHS ini yaitu Saswi
Sasongko Widjanarko, salasatu karyanya (jika masih ada) adalah kumpulan
dokumentasi gejolak gerakan Reformasi hingga detik-detik lengsernya Soeharto.
Yang
paling super repot di antara itu semua tentu lah HR. Kami
sampai tak pernah tahu kapan adanya kesempatan tidur atau sekadar istirahat
bagi HR, bayangkan; ia mengerjakan pembuatan baru musik dan lagu-lagu “Ken
Arok” (1977) serta tambahan musik serta lagu-lagu lainnya, di antara musik/lagu
tersebut mesti diisi pula dialog-dialog yang menjadi bagian dari opera; di
balik ini adalah tak kurang dari 20 orang pelaku yang seyogianya mengisi suara
dalam arti menyanyi atau pun menyampaikan dialog, jangan lupa di antara mereka
itu adalah orang-orang sibuk yang tak bisa lepas dari jadual panggung mereka
sendiri. Di tengah kesulitan dan keterdesakan waktu, tak ayal menjadi banyak
suara yang diisi oleh HR sendiri; ia menyanyi dan ia pun menyampaikan narasi
untuk sejumlah peran yang terdapat di dalam lakon Ken Arok. Riweuh sekali
tapi sekaligus di sini pula munculnya peran besar Haviel Handiman dan Rully
Handiman, serta harus dicatat adalah Doddy Kusdaryanto yang disebut oleh HR
sendiri sebagai “edan eta budak…” (luar biasa itu anak) untuk menyebut
kehebatannya dalam memainkan kibor (keyboard) serta isian-isian
musikalitasnya di sejumlah komposisi HR.
Bukan
itu saja, HR mesti pula berlaku sebagaimana halnya sutradara, ia melatih serta
mengatur setiap laku peran; bolak-balik jl. Supratma – jl. Jakarta, melempar
ide-ide bagi setiap pemeran, melatih choral (paduan suara)
atau pun penyanyi untuk membawakan lagu-lagu, dsb.
Ah,
singkatnya lagi, jadilah pentas di Eldorado Dome, 1991. Untuk ukuran masa itu,
tak bisa tidak untuk dikatakan sebagai pentas yang “wah” memesona seluruh
penonton yang memenuhi ruangan yang sesungguhnya lapang tennis tersebut. Yang
agak mengherankan pentas “besar” ini malah luput dari perhatian media dan
apalagi kritik, satu-satunya jejak media yang bisa didapat adalah sebuah berita
foto majalah “Tempo” yang kini malah sudah tidak dapat diakses lagi.
**
“WADUK nya euy pementasan teh?” Begitu, seperti biasa, HR tiba-tiba menyampaikan sesuatu. Saya tentu bingung, tak paham pementasan mana yang dimaksud.
“Pementasan naon,
Mas (pementasan apa, Mas)?” Tanya saya.
“Ken
Arok, kumaha ceuk maneh (Ken Arok, bagaimana pendapat kamu)?”
Jawab sekaligus tanya HR.
Saya
sejenak tambah bingung mengingat pementasannya sendiri sudah begitu lama
berlalu, sementara HR mengungkit-ungkitnya lagi di tengah persiapan pameran
saya “Menyongsong Millenium” (1993) di Galeri Braga yang kini sudah tidak ada
lagi galerinya. Pameran tersebut, pada pembukaannya memang melibatkan kerabat
musiknya HR yaitu Dieter Mack, Ron Reeves, dan sepasang musisi/komposer Swiss
yaitu Duo Fatale. Mungkin, demikian dugaan saya, karena sedang di tengah
kawan-kawan musik maka HR jadi ingat kembali garapannya yang telah lalu.
Itu
di satu sisi. Sementara di sisi lainnya, saya faham juga dengan watak
dekonstruktif HR, dia itu tak pernah ragu untuk menertawakan apapun berupa
karya yang pernah dibuatnya. Dengan “menertawakan” yang telah lalu, biasanya
dan seyogianya dia itu sedang menatap ke depan dan/atau sedang bergairah untuk
membuat karya baru.
Tapi,
di hadapan tanya-tawanya tersebut, saya tak langsung meng”ya”kan melainkan
ingat pada karya-karya Ken Arok HR (1977) yang mengalami lompatan jauh jika
dibanding dengan Ken Arok
1991.
“Ah,
Mas ceuk saya mah… (ah, Mas menurut saya sih…),” demikian saya mencoba
membuka opini yang selanjutnya saya katakan bahwa dalam pencapaian musik, Ken
Arok 1991 itu sungguh luar biasa. Sementara dalam catatan ini, saya setidaknya
telah membuktikan hipotesa yang berkenaan dengan “Titik Api” seperti yang telah
dikemukakan pada pembukaan kata pengantar ini. Untuk itu, kita bisa periksa
ulang bersama-sama, bahwa di dalam Ken Arok 1991 itu antara lain adalah nomor
“Kerak Bumi” yang tak lain merupakan re-aransemen dari “Prolog (Kerak Bumi)”nya
“Titik Api” (1976). Dengan mendengarkan kedua-duanya, rasanya kita akan
mendapat kesimpulan yang sama bahwa telah terjadi “lompatan” musikalitas ke
arah komposisi yang lebih anggun dan agung.
HR
mengingatkan saya bahwa pertanyaannya itu bukan pada karya musik tapi pada
pementasan.
“Mas
Harry riweuh teuing, jadi loba anu henteu kagawekeun dina hal ngajaga struktur
jeung bentuk pementasan (Mas Harry terlalu sibuk, jadi banyak yang tak
tergarap dalam hal menjaga struktur dan bentuk pementasan),” kata saya yang
aslinya tidaklah se”togmol” itu.
“Ah
dasar maneh mah cara mikirna strukturalis bae… ha ha ha, tapi enya eta maksud
urang teh (ah dasar kamu itu cara berfikirnya strukturalis saja… ha ha
ha, tapi betul itu lah maksud saya),” kata HR. Tentang “gurau” pada kata
“struktural” pun sesungguhnya bisa cukup panjang, tapi ringkasnya itu yang
sesungguhnya kerap kami kritik sehubungan dengan kecenderungan formalisme yang
kaku dan keseragaman/penyeragaman.
Di
sini lah pada intinya kami sampai pada pembicaraan bahwa seyogianya semua
bermula dari naskah yang utuh meski bisa saja pada proses garapnya terjadi
bongkar-membongkar. Kami pun sama-sama menyitir keberadaan dan gaya Putu Wijaya
serta N. Riantiarno.
Lagi-lagi
jika diteruskan bisa berkepanjangan. Ringkasnya, sampailah pada pernyataan HR:
“Enya lah eta mah bagian maneh… (ya lah itu sih bagian kamu…).”
Lantas
saya pun menjawab: “Enya Mas engke ditulis ku sayah mun rek digarap deui…”
“Heueuh
nya, bakal aya kitu anu siga Djody deui?” Tanya HR yang tentu saja tak
perlu dijawab.
**
BETUL, sampai berpulangnya HR tak ada lagi pembicaraan tentang Ken Arok. Baru kemudian yang sungguh saya rasakan bak sengatan, itu datang dari Rully Handiman setelah 15 tahun HR wafat (al fatihah untuk HR) atau 26 tahun dari obrolan 1993. Tak ayal, bahkan ketika masih duduk di beranda belakang RMHR, sungguh pikiran melayang-layang di lapisan awan kenangan.
Akhirnya,
bahwa “Ken Arok” akan diulang-garap ataupun tidak, taklah menjadi alasan utama
sebab yang kemudian menjadi dorongan terbesarnya adalah kehendak agar naskah itu
ada. Setidaknya “jejak” HR dalam bentuk teks yang semula tidak ada itu kini
menjadi ada. Maka naskah ini pun saya tulis.
Cibolerang, 30 Desember
2019
HD
----------
*) CATATAN:
1.
Teks dicetak miring (italic) itu lagu atau dinyanyikan.
2.
Teks biasa (regular) itu diucapkan atau dialog, bisa juga dinyanyikan.
3.
Teks dengan HURUF KAPITAL itu petunjuk laku, petunjuk visual, serta pengarahan
benda-benda (properti) panggung.
4.
Teks dicetak tebal (bold) itu pelaku/nama tokoh.
5.
Teks cetak tebal dengan ‘small caps’ dan besaran font 14 pt itu penunjuk
adegan.
PELAKU:
Penyanyi Rock
Dalang
Juru Alok
Ken Arok kecil
Beberapa Anak sebaya Ken Arok Kecil
Mbok Lembong
Ken Arok
Goro-goro (beberapa orang)
Orang-orang/Seseorang (beberapa orang
yang bisa gonta-ganti peran)
Penonton
Pengikut Ken Arok (beberapa orang)
Tunggul Ametung
Tentara Tunggul Ametung (beberapa orang)
Choral (paduan suara)
Lohgawe
Ajudan Lohgawe
Mpu Gandring
Penyerta Mpu Gandring
Para Banci (beberapa orang)
Ken Dedes
Dewata
Kebo Ijo
Bidadari
Anak Kecil
Adegan
1 : Opening
MUSIK “OPENING” – KETIKA LAYAR DIBUKA ATAU CAHAYA MULAI MENERANGI PANGGUNG, TAMPAK RUANG “ANEH” YANG MENGESANKAN DUNIA LAMPAU TAPI JUGA FUTURISTIK. SETELAH BEBERAPA SAAT, PADA SIKLORAMA MUNCUL VIDEOGRAFI SEMESTA LUAR ANGKASA, GALAKSI, SELIWERAN BATU-BATU METEOR YANG PADA SAAT TERTENTU METEOR-METEOR INI BERMETAMORFOSA MENJADI BENTUK-BENTUK “COÉT” (ULEKAN) BATU BERISI SEDIKIT AIR. COÉT-COÉT INI KEMUDIAN MEMBENTUK FORMASI MELAYANG DALAM POLA PANDANG PERSPEKTIF. VIDEOGRAFI DISOLVE KE VIDEOGRAFI LAGU “KERAK BUMI.”
Adegan 2: Kerak Bumi & Credit
Title
LAGU “KERAK BUMI” - PADA SIKLORANA MEMPERLIHATKAN VIDEOGRAFI BOLA DUNIA DARI REKAMAN SATELIT LUAR ANGKASA, BUMI YANG KERONTANG, BUKIT-BUKIT GUNDUL, SIMPANG-SIUR KERAMAIAN MANUSIA, DEMONSTRASI REFORMASI, SEIRING ‘CREDIT TITLE’ SELANG-SELING (DISOLVE DAN CUT TO CUT) DENGAN PENAMPAKAN SOSOK HARRY ROESLI DALAM BERBAGAI TAMPILAN. PADA LARIK “TUHAN MAHA BESAR” YANG PERTAMA, MUNCUL BENTUK MAINAN “GEROBAK” YANG TERBUAT DARI KULIT JERUK BALI, BERKAKI TINGGI, UKURAN DIPERBESAR, JALAN SENDIRI. GEROBAK TERSEBUT BERDIRI SEJENAK DI TENGAH PENTAS, LANTAS MELINTAS BEGITU SAJA HINGGA KELUAR DI SISI PANGGUNG YANG LAIN SEIRING CODA LAGU. VIDEOGRAFI “KERAK BUMI” FADE OUT - FADE IN VIDEOGRAFI LAGU “DUNIA.”
Kerak bumi menjerit-jerit
Menantang
langit
Yang
merana
Itu
mentari dan ekor suci
Tujuan
dan pesan terselubung masa
Tuhan
Maha Besar
Tuhan
Maha Besar
Tuhan
Maha Besar
(BAIT
LAGU ULANGI SEKALI, CODA DAN LANGSUNG KE LAGU “DUNIA”)
Adegan 3: Dunia
LAGU “DUNIA” – PADA SIKLORAMA VIDEOGRAFI TAMPAK ATAS (DENGAN DRONE) MEMPERLIHATKAN TUMPUKAN ATAU RUMAH-RUMAH YANG BERHIMPITAN DALAM TEMPO LAMBAT HINGGA KEMUDIAN KE SALASATU SUDUT PANDANG JAJARAN RUMAH JELATA TAMPAK DEPAN. PADA SAAT ITU (JIKA MEMUNGKINKAN DENGAN TEKNIK PANGGUNG HIDROLIK, JIKA TAK MUNGKIN BISA MUNCUL DARI BELAKANG ATAU DARI SAMPING DENGAN TEKNIK DORONG) MUNCUL SEBENTUK DINDING BERJENDELA KACA BESAR. KACA TERSEBUT TIBA-TIBA PECAH, MUNCUL DARI SANA SESOSOK PENYANYI ROCK BERBUSANA ANEH ANTARA BUSANA BADUT DAN LUAR ANGKASA MENYANYIKAN LAGU “DUNIA.” SANG PENYANYI ROCK SUATU SAAT MELUNCUR KE BAWAH LEWAT TIANG SEPERTI MELUNCURNYA PETUGAS PEMADAM KE BAKARAN. SETELAH ITU IA BEBAS MENGUASAI PENTAS.
Penyanyi Rock:
Pagi
hari yang dingin
Menggigit
sepi
Ku
duduk melihat di depan jendela kaca
Jendelaku
sudah rusak
Tak
ada kaca… huh
Zamanku
penuh kotoran
Kotoran
doa
Dunia
lelap tidur
Dia
memang enggan tersenyum
Bara
pun tak ada
Karena
hatiku gulana
Hatiku
kini mengembara
Dibawa
setan… yeah
Langkah
kaki pun tehambat
Karena
terjerat… yeah
Air
racun pun terminum
Dia
membunuh
Pisau
dapur pun menusuk
Aku
tersuruk… yeah
Masa
ingin tidur
Kalau
bisa tanpa mendengkur
Aku
belum hancur
Tetapi
kepala terpekur… huh
Api
pun berkobar
Di
hati yang selalu bergetar
Menantikan
fajar
Yang
kemarin aku rindukan
Huh…
hartaku penuh aku
Aku
yang semu
Tanganku
penuh dendam
Dendam
dan marah
Yeah…
sepatuku penuh lumpur
Lumpur
yang subur
Oh
dunia berhentilah berputar
Dunia
oh dunia, dunia ohhh
(DALANG MUNCUL DARI TEMPAT KELUAR DAN MASUKNYA PENYANYI ROCK. TEMPAT TERSEBUT PUN TELAH BERUBAH WUJUD MENJADI BALKON. NYARIS BERSAMAAN MUNCUL PULA JURU ALOK DARI BAWAH BALKON SAMBIL MEMAINKAN KARINDING. PADA SIKLORAMA MEMPERLIHATKAN SABETAN-SABETAN GUNUNGAN SALING BERGANTI DENGAN TEKS PARARATON DALAM AKSARA JAWA KUNO DAN LUKISAN JAM DENGAN JARUM YANG DIAM)
Dalang: Yeah, dunia memang berhenti berputar… karena saya membawa cerita sang ular… lenggak-lenggok sekitar tipu-menipu… Bagalnya dari kisah Ken Arok… cerita tipu daya yang mesti kita kerok… Ingat, saya bilang c e r i t a... (MENDENDANGKAN SULUK)
Kembang
sungsang gotaka rawos wayang
Rap
kidap purwa mandra-mandra winulan
.
. . . . . . .
Juru
Alok: (MEMOTONG
SULUK HINGGA TAK TERSELESAIKAN) Eh, Ki Dalang… Ini the cerita sejarah ya?
Jelaskanlah supaya terang.
Dalang: Hush, cerita ya
cerita… sama sekali bukan sejarah… camkan, bukan sejarah.
Juru
Alok: Tapi
orang-orang sudah terlanjur… cerita Ke Arok dan sejarah jadi lebur.
Dalang: Nah mulai
sekarang catat, Ken Arok itu fiksi, jangan biarkan berkarat… sejarah tanpa
penulis itu bohong… isapan jempol kosong melompong.
Juru
Alok: Tapi
kan ada kitabnya, Ki Dalang?
Dalang: Iya kitab
Pararaton… anggap saja pantun lelucon… dengan Negarakertagama tak sinkron
(DALANG MELANJUTKAN SULUK YANG TADI TERPOTONG, DIAWALI DENGAN BUNYI
PUKUPAN CEMPALA: TOTOKTOK TOK TOK TOK)
kadya
sosoroting Sanghyang latri
kabanjut
ima-ima gambira lawan ancala
sapucuking
gunung siwalang tunggal
.
. . . . . . .
Juru
Alok: (LAGI-LAGI
MEMOTONG SULUK) Ki Dalang…. Maaf ya Ki Dalang… hamba jadi bimbang….
Dalang: Wahhh ini orang
interupsi melulu… ini cerita dilanjut apa tidak? Bisa berhenti nih!
Juru
Alok: Maaf
Ki Dalang… semua mesti benderang. Dan lagi, maaf, hamba curiga… penulis cerita
Ken Arok itu sembunyi… supaya tak tampak hidung belang… sembunyi sambil simpan
maksud terselubung… itikadnya menjelek-jelekan Ken Arok… agar bangsa ini tampak
bobrok… keturunannya jadi tampak sebagai raja-raja borok… Dia itu, ya Ki
Dalang, maaf ya jika hamba berpandangan bodoh… racun diramu si pengarang sampai
lekoh… “character assassination” yang dituju…
Dalang: Ssstttt…
hati-hati, curiga itu bisa berbahaya… dan lagi kita ini bukan hendak diskusi…
jangan kecewakan penonton yang duduk di kursi… sudah, sudah lah… singkatnya
seperti umumnya cerita… suka-sukanya si pencerita menentukan jalannya kisah,
suka-sukanya yang menulis Pararaton… maka Ken Arok ini pun suka-sukanya Harry
Roesli, sebut saja Ken Arok versi Harry Roesli… gurau-gurau serius ihwal
tipu-menipu.
(DINARASIKAN
SEPERTI MEMBAWAKAN SULUK) Nah dengar, dengar, dengar… Di sudut-sudut
kumuh… di pojok-pojok yang gelap, kaum jelata sedang menempa, kelahiran sang
raja penipu sedang dipersiapkan… Dengar… dengar… dengar lah… kita lihat
bagaimana jadinya jika kehidupan dipenuhi dusta dan tipu-menipu… dengarrrr
Adegan 4: Kelahiran
MUSIK “PROSESI KELAHIRAN” (instrumental) - PADA SIKLORAMA VIDEOGRAFI RAGAM JASAD RENIK (MIKRO ORGANISME) YANG DILIHAT MELALUI MIKROSKOP, RANGKAIAN SEL, DAN MEKANISME DNA PADA TUBUH MANUSIA. SEMENTARA DI PENTAS ADALAH GANTUNGAN-GANTUNGAN SEMACAM KEPOMPONG TRANSPARAN, SEKELOMPOK PENARI PEREMPUAN MENARI DI ANTARA GELEMBUNG-GELEMBUNG PLASTIK. DI LATAR BELAKANG PARA PENARI BERJALAN MENGALIR SEBENTUK “GEROBAK” YANG BENTUKNYA SEPERTI PADA ADEGAN #2 TAPI YANG INI BERWARNA ABU-ABU MENDEKATI HITAM. SESEKALI GEROBAK TERSEBUT MENYERUAK DI ANTARA PARA PENARI HINGGA KE DEPAN PENTAS. DI ATAS GEROBAK TAMPAK BERDIRI SESEORANG BERBUSANA MENYERUPAI GUBERNUR JENDERAL SEMASA HINDIA BELANDA SEDANG MEMELUK BAYI, SESEKALI BAYI ITU DIANGKATNYA TINGGI-TINGGI.
Adegan 5: Ken Arok KecilLAGU “KEN AROK KECIL” - PADA SIKLORAMA VIDEOGRAFI POHON YANG DIPENUHI KUNANG-KUNANG. DISOLVE KE GAMBARAN TANAH BERLUMUT, KAMERA MENJADI MATA SEOLAH MENYUSUR JALANAN ATAU PUN TEGALAN DENGAN TANAH BERLUMUT TERSEBUT. SESEKALI BERGANTI KE JAJARAN POHON WAREGU, MEDIUM CLOSE UP KE DAUN WAREGU, KEMBALI KE TANAH BERLUMUT. DEMIKIAN SEPANJANG ADEGAN BERLANGSUNG. KEN AROK KECIL MASUK SEJAK INTRODUKSI LAGU, IA MENUNTUN RODA MAINAN YANG TERBUAT DARI KULIT JERUK BALI.
Ken Arok Kecil:
Katanya
ayahku Gajah Para dari Campara
Ibuku
Ken Ndok asal Pangkur
Tetapi
dimana kini mereka adanya
Ah
entah tak jua perlu jadi galur
Nyatanya
kini aku anak Mbok Lembong
Dia
yang memungkutku tergeletak di kuburan
Anggaplah
aku lahir dari kepompong
Mbok
Lembong merawat si anak yang terbuang
Ah
peduli apa itu semua
Nyatanya
kini aku ada dan harus hidup
Ya
gembira saja apa adanya
Meskipun
kerap aku harus ya harus gelut
Ah
ayolah gembiralah semua
(MASUK SEROMBONGAN ANAK-ANAK SAMBIL BERNYANYI BERSAMA LANTAS BERMAIN BERSAMA KEN AROK KECIL)
Trang-trang koléntrang
Si
londok paéh nundutan
Tikusruk
kana durukan
Mesat
gobang kabuyutan
Seorang anak: Arok... arok... (MEMBERIKAN SEGAGANG DAUN PISANG) ini ambil, hujannya belum juga mau pergi...
Ken
Arok Kecil: Wahhh,
hujan sebegini sih kecil... tapi ayo sini
Seorang
anak: Aku
juga ah takut basah
Seorang
anak: Aku
juga...
Seorang
anak: Aku
juga...
Ken
Arok Kecil & anak-anak: (KINI SEMUA BERTUNDUNG SEGAGANG DAUN PISANG,
HUJAN TAPI MEREKA TERUS BERMAIN)
Trang-trang
koléntrang
Si
londok paéh nundutan
Tikusruk
kana durukan
Mesat
gobang kabuyutan
Seorang
anak: Ah
ganti lagunya... gantiiii
Seorang
anak: (KEMUDIAN
DIIKUTI OLEH YANG LAINNYA, BERGANTIAN SALING BERBALAS)
-
Ambil-ambilan, turuktuk hayam samantu
+
Saha nu diambil, kami mah teu boga incu
-
Si Arok kadieu, purah nutu purah ngéjo, purah ngasakan baligo
+
Nyerieun sukuna, kacugak ku kaliagé
-
Aya ubarna urat munding campur ragé, tiguling nyocolan dagé
Mbok
Lembong: (TIBA-TIBA
SUARANYA DARI LUAR PENTAS) Arokkkk… dasar anak bengal… di mana kau anak nakal…
(MBOK LEMBONG MASUK, ANAK-ANAK BERLARIAN KETAKUTAN, TINGGAL LAH KEN AROK KECIL)
nah, ternyata kamu di sini Arok…
Ken
Arok Kecil: Ya
Mbok Lembong… sedang bermain bersama teman-teman Arok…
Mbok
Lembong:
Arok,
kau kembali ketahuan
Ken
Arok Kecil:
Ya
Mbok, ketahuan apa gerangan?
Mbok
Lembong:
Kamu
lagi-lagi ketahuan
Ah
dasar anak bangkawarah
Warga
desa mencarimu
Kau
ketahuan mencuri lagi
Ken
Arok Kecil:
Ampun
mohon ampun Mbok Lembong
Ah
biar kepandaian saya asah
Agar
sepandai Mbokku
Tidak
ketahuan tiap mencuri
Mbok
Lembong:
Ah
tak bisa lagi dibendung
Semua
warga hilang sabar
Pergi,
pergi kau, pergilah Arok
Jangan
kau tampak lagi di sini
Ken
Arok Kecil: Mbok
mengusirku?
Mbok
Lembong: Bukan
mengusirmu… tapi kau sudah tidak aman lagi di sini…
Ken
Arok Kecil: Mbok,
ke mana aku harus pergi?
Mbok
Lembong: Entahlah,
pergilah ke mana pun kau mau… yang penting selamat terhindar dari maut… biar Si
Mbok pikul kesalahan-kesalahanmu… pergilah.
Ken
Arok Kecil: Baiklah
Mbok… (AROK BERJALAN SAMBIL MENGGUSUR RODA MAINANNYA HINGGA KE LUAR PENTAS
– BLACK OUT, KECUALI VIDEOGRAFI POHON PENUH KUNANG-KUNANG)
Dalang: (DIBUKA DENGAN
SULUK. SOSOKNYA TAK MUNCUL KECUALI SUARA SAJA BERSAMA VIDEOFRAFI POHON PENUH
KUNANG-KUNANG)
Luganira
ya lumundur
Mimiti
mirayang rana
Undur
saking bumi Lembong
Ken
Arok berkelana dari satu pengasuh ke pengasuh lainnya. Bersama Bango Samparan
di Karuman, terlatih ia jadi pejudi ulung. Tak betah ia di sana, kemudian ke
Senggreng hingga dikenal sebagai perampok yang ditakuti.
Bagaimanakah
cerita selanjutnya…. TOROKTOK TOK TOK TOK… ahhh, santai saja ya, ini kan hanya
cerita, jadi tak haruslah terlalu berkerut dahi… gurau-gurau sedikit boleh kan?
Ayo kita teruskan, begini cerita selanjutnya…
Adegan 6: Aku Ken Arok
LAGU “AKU KEN AROK” - PADA SIKLORAMA MENGULANG VIDEOGRAFI RANGKAIAN MIKROORGANISME DAN DNA SEPERTI PADA ADEGAN #4, TAPI GAMBAR TAK UTUH KARENA DI DEPANNYA ADALAH SETTING PANGGUNG. DARI ATAS PANGGUNG BERGANTUNGAN YANG MENYERUPAI AKAR-AKAR GANTUNG ATAU ‘AERIAL ROOT’ NYARIS MEMENUHI BIDANG PENTAS. SEMENTARA DI BAWAH (LANTAI PENTAS) BERSERAK DEDAUNAN, BERANTAKAN TAPI SESUNGGUHNYA TERSUSUN SECARA TEKNIS SEHINGGA MUDAH SAAT ‘IN’ DAN ‘OUT’ ATAU PERGANTIAN SETTING BERIKUTNYA.
Ken
Arok: (MASUK
DARI BELAKANG TENGAH PANGGUNG SAMBIL MENYINKAP-SINGKAP GANTUNGAN-GANTUNGAN
AKAR. SEIRING DENGANNYA ADALAH PARA GORO-GORO)
Uhhhhh….
Aku Ken Arok yang engkau tunggu ye… ye… ye… yeah
Aku
lahir membawa petir… ah… yeah
Aku
pembela para kaum tertindas ye… ye… ye… yeah
Aku
ini ah… ratu adil
Mari
kaum tertindas, kaum miskin bergabunglah
Kekuasaan
itu tujuan… itu tujuanku… yeah
Gunakanlah,
gunakanlah, gunakanlah semua tipuan
Mari
segera menipu… yeah. Kita kokohkan tipu menipu sebagai nilai budaya… semua
perhitungan strategi ekonomi, sosial, politik, dan poligami kita landasi dengan
tipu-menipeng… ah ha ha ha.
Goro-goro: (DIARAHKAN KE
SESEORANG LAINNYA) Betul ini teh mesti begitu?
Goro-goro: He he he betul… Tuh
sejak perang abad pertengahan… perang dunia satu, perang dunia kedua… perang
penghancuran Babilonia maupun perang-perang yang lain seperti “prang prang
kolemprang si londok paeh nundutan” itu teh tipeng-menipeng…
Goro-goro: Waduh, iya juga
ya… betul, betul… banyak manipulasi yang kemudian jadi peperangan.
Ken
Arok:
Itu
lah borok yang turun temurun ye… ye… ye… yeah
Tiap
zaman membawa getir… ah… yeah
Rakyat
jelata tetap saja tertindas ye… ye… ye… yeah
Adil
itu ah… hanya mimpi
Goro-goro: (BERSAMA-SAMA)
Euleuh…
Ken
Arok: Ya,
lihat saja setiap mau pemilihan umum… atas nama rakyat terus berdengung… tapi
setelah jadi pejabat eh rakyat dibabat… dirampok, uang rakyat dikorupsi… mereka
pun masuk penjara berbondong… di depan wartawan senyam-senyum…
Goro-goro: Haduh, hoyong
naon atuh Kang? Sudah jadi pejabat masih juga maling, eh korupsi.
Ken
Arok:
Kekuasaan
itu tujuan… itu tujuanku… yeah
Gunakanlah,
gunakanlah, gunakanlah semua tipuan
Goro-goro: Ha ha ha ha…
Goro-goro: (KEPADA PENONTON)
Jangan-jangan para penonton pun sedang kena tipuan… ihhh
Goro-goro: Betul, betul itu…
malah hampir semua orang percaya Ken Arok itu sejarah, padahal itu tipuan
supaya bangsa ini menjadi rendah diri ha ha ha… kita coba ya tanya penonton…
eh, penontonnnn…
Penonton: (MUNCUL DAN
BERDIRI DI TENGAH PENONTON LAINNYA) Ya, ada apa Mang…
Goro-goro: Bapak penonton ngerasa
tertipu apa tidak?
Penonton: Tertipu apa ya?
Goro-goro: Ih, ngabandungan atau
nggak sih… dari awal kan sudah dibilang cerita ini bohong-bohongan, malah ada
indikasi pembelokan sejarah…
Penonton: Oh, itu bukan
tipu tapi hoax namanya…
Goro-goro: Tak salah lagi, cerita
Ken Arok itu Hoax Klasik yang paling agung… kebohongan yang terus-menerus
dibaca, bahkan kini ceritanya ditonton bersama…
Ken
Arok:
Kekuasaan
itu tujuan… itu tujuanku… yeah
Gunakanlah,
gunakanlah, gunakanlah semua tipuan
Goro-goro: Haduh… jadi kita
juga mesti belajar nipu? Gimana sih caranya?
Ken
Arok: Ayo
ikut saja aku… (MENYANYI KEMUDIAN DIIKUTI RAMPAK BERSAMA GORO-GORO)
Uhhhhh….
Satu,
merampok yang engkau tunggu ye… ye… ye… yeah
Dua,
harus serakah dan keji… ah… yeah
Tiga,
bergaya hendak bela jelata ye… ye… ye… yeah
Itu
tiga ah… jurus tipu
Goro-goro: Ohhhh, beres,
beres, siap laksanakan…
Ken
Arok: Kebulatan
tekad dulu dong… (MEMAKAI PENGGALAN MELODI PADA LAGU “GITAR SATU SENAR”)
jadi
orang memang harus kreatif
Ken
Arok bersama Goro-goro:
Dengan
ini kami membulatkan tekad
Kami
janji teguh
Main
dengan tipu-tipu
Horeeeee…
re
re re re, re mi si la do…
Adegan
7: Anjing Beringas
LAGU “ANJING BERINGAS” – SETTING DAN VISUAL MASIH SEPERTI ADEGAN #6.
Pengikut Ken Arok: (MUNCUL DARI BERBAGAI ARAH PANGGUNG DI ANTARA AKAR-AKAR MENGGANTUNG. MEREKA MENYANYI BERSAMA DENGAN GERAK-GERAK KOREOGRAFIS) Kami para jelata… kami pengikutmu… kami tentaramu…
Huh
hah huh hah (auuuu) huh hah huh hah
Kita
ini anjing-anjing beringas
Kita
makan tai dan emas
Haram
hidup dari belas kasihan
Bahagia
harus dirampas
Dengan
akal
Dengan
gagah kita
Dengan
kekerasan
Tiba-tiba
kita tetap sengsara
Huh
hah huh hah (auuuu) huh hah huh hah
Kita
ini kumpulan ajag
Siap
bertarung jika terpaksa
Uang
tidak jatuh dari langit
Dan
doa-doa sering tidak berguna
Kehormatan
adalah kekuasaan dan harta
Rebut,
rebutlah
Jika
tidak, kita tetap terhina ha ha ha ha ha ha
Auuuuuuu….
Hua hua hua ya… huhhh
Kita
ini anjing-anjing beringas
Kita
makan tai dan emas
Haram
hidup dari belas kasihan
Dan
doa-doa sering tidak berguna
Kehormatan
adalah kekuasaan dan harta
Rebut,
rebutlah
Jika
tidak, kita tetap sengsara ha ha ha ha ha ha
Adegan 8: Engkau Siapa
LAGU “ENGKAU SIAPA” - SETTING DAN VISUAL MASIH SEPERTI ADEGAN #7.
Tentara Tunggul Ametung: (MASUK DARI SATU ARAH PANGGUNG DENGAN FORMASI BARIS-BERBARIS, TEGAK TAPI JUGA LUCU GERAKAN-GERAKANNYA. PENGIKUT KEN AROK PUN MEMBENTUK BARISAN DI SAYAP PANGGUNG LAINNYA SEHINGGA DUA PASUKAN INI BERHADAP-HADAPAN. KEN AROK DAN TUNGGUL AMETUNG PUN LANGSUNG BERHADAPAN DI TENGAH DEPAN PENTAS)
Hei
hei hei hei
Kau
siapa, kau siapa
Ken
Arok:
Aku
ini Ken Arok
Tunggul
Ametung:
Kalian
siapa, kalian siapa
Pengikut
Ken Arok:
Kami
ini pengikutnya… yeahhh
Tunggul
Ametung:
Kalian
bodoh, kalian bodoh
Dia
hanya orang biasa
Kalian
tolol
Kalian
tolol, tolol, tolol
Dia
ini orang yang hina
Ken
Arok:
Siapa
engkau berani menghinaku
Seorang
Tentara Tunggul Ametung: (MAJU BEBERAPA LANGKAH DARI BARISAN)
Aku
tentara Tunggul Ametung
Ken
Arok:
Lancang
nian mulutmu itu
Seorang
Tentara Tunggul Ametung:
Ha
ha, aku bicara kenyataan
Tentara
Tunggul Ametung: (KOOR)
Bagaimana
Ken Arok
Dipanggang
atau digoreng
Tunggul
Ametung:
Jangan-jangan
prajuritku, dia ini cuma bawahan
Goro-goro: (DALAM GESTIKULASI
SEPERTI BERBISIKAN DI ANTARA MEREKA DI SUDUT DEPAN KIRI PANGGUNG)
Bawahan
selalu siap
Goro-goro:
Atasan
selalu menang
Goro-goro:
Yang
atas bisa korupsi
Goro-goro:
Yang
bawah gigit jari
Goro-goro:
Yang
atas makan uang
Goro-goro:
Yang
bawah makan hutang
Goro-goro:
Begitu
selamanya
Goro-goro:
Yang
atas selalu menang… ayeee
Tentara
Tunggul Ametung:
Kita
telanjangi dia, biar malu sama penonton
Tunggul
Ametung: Jangan,
jangan prajurit-prajurit…
Tentara
Tunggul Ametung: Ahhhhhh
Tunggul
Ametung: Sekarang
kan harus menggalakkan pariwisata, jadi jangan buat keributan, nanti nggak
ada tourist yang datang, devisa Negara bisa berkurang….
Seseorang: Terus kita lagi-lagi
ngutang hi hi hi
Choral: (MUNCUL DARI ARAH
BELAKANG PANGGUNG, SAMBIL BERNYANYI MEREKA MENGANGKAT SEGAGANG DAUN PISANG YANG
DIKIPAS-KIPASKAN PERLAHAN)
Ken
Arok telah tiba
Ken
Arok telah tiba
Ken
Arok telah tiba
Ken
Arok telah tiba
Pengikut
Ken Arok: Ken
Arok pembela para rakyat jelata….
Goro-goro: (SAMBIL MENUNTUN
SALAH SEORANG TENTARA TUNGGUL AMETUNG KE SUDUT TEMPAT GORO-GORO BERKUMPUL) Jang,
jang, apa jabatan kamu?
Seorang
Tentara Tunggul Ametung: Intelnya Tunggul Ametung
Goro-goro: Ef bi ai dong, eh be
I en BIN ya… siapa nama?
Seorang
Tentara Tunggul Ametung: Lahami, saudaranya Layala…
Goro-goro: Pedagang
mi yang pakai jala? Hi hi hi, asa teu nyararambung euy? Hajar bleh…
Choral:
Ya
ya ya, beri tahu
Pesan
tanah di Cikutra
Kalau
penuh tukar saja
Cari
tanah di Cikadut
Seseorang
Tentara Tunggul Ametung: (YANG TADI MENGAKU INTEL) Hei, hati-hati
kalau bicara… kulaporkan semua pada raja... Rajaku tentu marah… kau tak akan
diberi izin pentas… rasain lu nggak dapat izin pentas…
Seseorang
Pengikut Ken Arok: Pergilah engkau tikus… memangnya zaman Orba… masa
zaman Millenial begitu… eh pentas pakai izin-izinan segala… pergilah sebelum
kucubit pantatmu
Choral: (YANG DIIKUTI PARA
TENTARA TUNGGUL AMETUNG)
Tunjuk
tunjuk hei
Sakali
deui hei
Tambah
erana hei
Seseorang
Pengikut Arok:
Awaslah
hati-hati
Kalau
berani nanti di luar
Sesudah
opera ini kita berantem beneran…
Nyingkah
siah….
Seseorang
Tentara Tunggul Ametung: Anjrit aing diusir… tunggu, kami akan reuni…
kita kumpul di Monas… heh, itu dia junjungan kita…
Seseorang: Mana?
Seseorang: Itu tuh… ayo
lihat ke sana…
Seseorang: Aduh jangan
berdesakan atuh euy…
Seseorang: Mas, Mas… sudah
pulang ya?
Seseorang: Hei hei hei…
heup, heup, heup….
BLACK OUT, MUSIK JEDA BEBERAPA SAAT UNTUK MEMBERI WAKTU PENGGANTIAN SETTING. SECARA TEKNIS AKAR-AKARAN ITU KEMBALI DITARIK KE ATAS, DAN DEDAUNAN DI LANTAI TINGGAL DIGUSUR SEBAB SELURUHNYA DALAM SATU ATAU BEBERAPA BAGIAN YANG TERKONSTRUKSI, SEHINGGA TAK MEMERLUKAN WAKTU YANG LAMA.
Adegan
9: Lohgawe
BEGITU CAHAYA PANGGUNG TERANG KEMBALI, RUANG PENTAS MENGGAMBARKAN SUASANA PADEPOKAN TEMPAT TINGGAL LOHGAWE. TAK BANYAK BENDA DI SANA, LOHGAWE SENDIRI DUDUK DI ATAS BATU YANG BENTUKNYA MEMANG NYAMAN UNTUK DUDUK, DI SALASATU SISI BELAKANGNYA TERDAPAT BEBERAPA BATANG POHON WAREGU SEHINGGA POSISI DAUN-DAUNNYA SEOLAH MEMAYUNGI LOHGAWE DI TEMPAT DUDUKNYA. PADA SIKLORAMA ADALAH VIDEOGRAFI LANGIT, HUTAN ATAU PEPOHONAN DENGAN SUDUT PANDANG DARI BAWAH, KEMUDIAN KE VISUAL LANGIT YANG KALI INI MEMPERLIHATKAN SEEKOR ELANG MELAYANG, KEMBALI LAGI KE PEPOHONAN, DST.
TAK
LAMA KEMUDIAN MASUK KEN AROK DIAPING OLEH AJUDAN LOHGAWE.
Ajudan Lohgawe: Hei Ken Arok, bersembahlah kepada maha guru
Ken
Arok: (MENGHAMPIRI
LOHGAWE, RENGKUH MEMBERIKAN HORMAT) Sembah dari murid tanda hormatku…
Lohgawe: Berdiri, mendekatlah
muridku… hari ini kau akan menjalani hidup baru… ingat, hidup sebagai sampah
itu tak guna… jadi rajawali itulah takdirmu… kuasai negeri, jadilah leluhur
penguasa… genggamlah tanah ini… jangan pernah takut mati… kau camkanlah ini…
Hidup adalah perjalanan menuju kematian
Hidup
bukanlah kumpulan dari kepastian
Tidak
pasti kau akan hidup mereguk madu
Tapi
juga tak pasti kau hidup berkubang lumpur
Hanya
satu yang pasti dalam kehidupan ini
Yaitu
kau pasti mati
Choral:
Aaaaaaa…
Lohgawe:
Untuk
itu bekali diri dan juga teguhkan hati
Bersiasat
kuasai negeri
Sukmamu
petir
Dengarlah, kita atur siasat… kau pergi ke Lulumbang jumpai Mpu Gandring… dia sahabat Bango Samparan… ya ayah angkatmu… pesanlah keris kepadanya… sementara aku jumpai Tunggul Ametung… kudaftarkan kau jadi balatentaranya… kau pasti jadi andalannya… setelah itu atur lagi siasat… bunuhlah Tunggul Ametung dengan kerismu… (DI UJUNG KALIMATNYA LOHGAWE BERANJAK DARI TEMPAT DUDUK UNTUK KELUAR. MAKA SAAT BAIT TERAKHIR LAGUNYA, IA SUDAH TINGGAL SELANGKAH KE LUAR PANGGUNG UNTUK TERUS BERLALU)
Hidup adalah perjalanan menuju kematian
Oh
ohhhhhh
CAHAYA PANGGUNG FADE OUT KECUALI CAHAYA KE TEMPAT KEN AROK BERDIRI TERPAKU. SAAT LAMPU TERANG KEMBALI, SEMUANYA SUDAH BERUBAH, PENTAS MENJADI RUANG ANTAH-BERANTAH YANG ANEH … PADA BAGIAN ATAS ADALAH GANTUNGAN-GANTUNGAN PLASTIK LEBAR MENJUNTAI, BEBERAPA NYARIS MENYENTUH LANTAI PENTAS. MATERIALNYA SESUNGGUHNYA PLASTIK TRANSPARAN BIASA BAHKAN PLASTIK BEKAS YANG SUDAH BERKERUT-KERUT, SAMBIL DAUR-ULANG ATAU MEMANFAATKAN SAMPAH PLASTIK DENGAN PRINSIP ARTISTIK BADINGKUT. TAPI KETIKA TERKENA CAHAYA, AJAIB PLASTIK-PLASTIK ITU MENJADI PEMANDANGAN YANG BAGUS. PADA SIKLORAMA ADALAH VIDEOGRAFI REKAMAN KERAMAIAN MALL DENGAN SPEED YANG DIPERLAMBAT, ITU BERSELANG-SELING DENGAN VIDEO ALUTSISTA (ALAT-ALAT PERANG). PRESENTASI VIDEO SAMAR SAJA KARENA BERADA DI BALIK PLASTIK-PLASTIK TRANSPARAN. BATU BEKAS TEMPAT DUDUK LOHGAWE DAN POHON WAREGU MASIH PADA TEMPATNYA SEHINGGA SEKILAS MENGESANKAN BATU BESAR DI TAMAN ZEN.
Adegan
10: Wejangan Mpu Gandring
MPU GANDRING MASUK BERSAMA BEBERAPA PENGIRINGNYA. IA KEMUDIAN MENJEMPUT DAN MENGGANDENG KEN AROK YANG SEDARI TADI BERDIRI MEMATUNG. BERIKUTNYA ADALAH GORO-GORO YANG IKUT HADIR DI PANGGUNG.
Lohgawe:
Hai
Ken Arok muridku tersayang
Baik
kan kubuatkan oooo
Baik,
baiklah kubuat keris sakti
Dan
ingatlah jaga hei eii eee
Hindarilah
godaan-godaan
Dengan
seluruh kemampuan
Jadilah,
jadilah burung garuda aaaa
Yang
selalu terbang tinggi
Jauh
di awan… auuuu
Jika
engkau, jika engkau punya pacar
Goro-goro
1: Pacar
apaan?
Goro-goro
2: Pacar…
pacar Senen, pacar Baru…
Lohgawe:
Jangan
diberi voorschot
Goro-goro
1: Voorschot apaan?
Goro-goro
2: Down
Payment… icip-icip di muka, tanggungjawab belakangan
Goro-goro
1: Oooo,
beak-beak kabur
Mpu
Gandring:
Hati-hati
Nak, itu bisa celaka
Goro-goro
2: Idihhh
itu kalau telat ngangkat…
Goro-goro
1: Gosong…
hi hi hi
Lohgawe:
Kau
dikawinkan hansip
Goro-goro
2: Hansip
apaan?
Goro-goro
1: Itu
dulu, zaman sekarang sih security…
Mpu
Gandring:
Jajan
saja Nak
Goro-goro
2: Ya
sebaiknya jajan saja… daripada memelihara domba lebih baik jajan sate, bisa
pilih kelir acak corak… denger-denger sekarang itu ada yang bisa dibayar
dengan credit card…
Goro-goro
1: Edan…
Goro-goro
2: Eee
sekarang mah memang sudah zaman edan, gituan bisa dikredit. Yang lebih edan
lagi credit card bisa digituan…
Goro-goro
1: Bobol
deh bank… Nina bobol o nina bobol…
Goro-goro
2: Bobo!
Tanpa “l” belegug…
Adegan
11: Tunggul Ametung & Pasukan
KEN AROK DAN LAIN-LAIN KELUAR. PADA PANGGUNG SISI LAIN MULAI MASUK TENTARA TUNGGUL AMETUNG SEIRING NARASI DALANG. MASUKNYA CLINGAK-CLINGUK SEPERTI MEMERIKSA KEAMANAN. BERIKUTNYA TUNGGUL AMETUNG MASUK.
DALAM
PROSES INI, PLASTIK-PLASTIK YANG MENJUNTAI NAIK DAN PROSES NAIKNYA TERLIHAT
PENONTON.
MUSIK “TENTARA TUNGGUL AMETUNG” – PADA SIKLORAMA ADALAH VIDEOGRAFI SUASANA MALL DENGAN SPEED LAMBAT BERSELANG-SELING DENGAN VIDEO ALUTSISTA (ALAT-ALAT PERANG). VIDEO KINI TAMPAK JELAS KARENA PLASTIK-PLASTIK SUDAH TERANGKAT.
Dalang: (MASIH DENGAN KOSTUM DALANG, TAPI KINI GAYANYA SEPERTI REPORTER TV BAHKAN DIDAMPINGI CAMERAMAN YANG SIBUK MENGAMBIL GAMBAR) Selamat siang saudara-saudara sekalian, saya akan memberikan laporan pandangan mata. Saat ini saya berdiri di Pakuwon Akuwu Tumapel tempat seorang penguasa bernama Tunggul Ametung bertahta. Apa yang Tunggul Ametung lakukan? Dia adalah penipu. Sesuai kodratnya sebagai penguasa….
(MUSIK) TENTARA TUNGGUL AMETUNG MENARI DENGAN GERAK-GERAK GANJIL SEKALIGUS LUCU. TAK LUPA SESEKALI MEREKA PUN MENEMBAKAN SENJATANYA KE ATAS. DALANG PUN TAMPAK SESEKALI MEWAWANCARAI TENTARA.
Tunggul Ametung:
Modar
aku mengapa aku garang
Berbau
kentut, kurang ajar
Siapa
yang berani
Kentut
di hadapanku
Choral: (MUNCUL SEREMPAK
DARI BELAKANG PANGGUNG) Bukan kami tapi dia…
Ken
Arok…
Tunggul
Ametung:
Itu
manusia memang berbau air comberan
Itu
manusia jelek seperti kotaku banjir melulu
Tentara
Tunggul Ametung: Memang
dia, gorok saja…
Choral:
Ken
Arok…
Tunggul
Ametung:
Hei,
hei, hei apa Itu?
Seseorang: Tukang cilok,
panggilkan cepat tukang cilok itu
Seseorang: Aci dicolok ka
dieu siah… menta hiji ulah make racun… lamun make racun, maneh anu dicolok ku
urang, daek sia?
Tunggul
Ametung:
Siapa
dia yang berani menantang Tunggul Ametung?
Coba
bilang, siapa dia namanya, siapa dia namanya yang berani menantang Tunggul
Ametung?
Choral: Dia namanya, dia
namanya, heiii, dia namanya…
Ken
Arok…
Seseorang: Ken Arok… haduh
takut, takut, takut…
(MUSIK)
Penyanyi Rock: (MUNCUL DARI BARISAN CHORAL)
Tunggul
Ametung yang dipuja sepanjang masa
Hamba
bersumpah dan membawa cita-cita
Rakyat
kita yang setia sekarang memberontak
Karena
bersama kita Ken Arok…
Tunggul Ametung:
Jangan
kau ucapkan nama itu di hadapanku
Perutku
mual ingin muntah mendengarnya
Panggil
semua rakyat, kita akan rapat
Suruh
mereka kumpul, cepat di alun-alun
Panggil semua rakyat, kita akan rapat
Seorang Tentara Tunggul Ametung: Ayo semua rakyat diseret ke sini… Hormat senjataaaa… gerakkk…
Seorang
Banci: Majut,
majutttt… jalan
Satu
satu aku sayang ibu
Dua
dua juga sayang para bapa-bapa
Aduh
Joni bagus… five, six, seven, eight
Bagus,
senyum, senyum… five, six, seven, eight
Awas
kaki, seven, eight, seven, seven, seven up
Aduh
pantatnya digoyang dong
Pantat,
pantat… aduh itu timang-timang
Adegan
12: Ken Arok di Sekitarmu
Tunggul Ametung: Dengar perintahku…
Hari
mulai pagi sinar mentari mulai berpijar
Siap
akal pikiran berlatih supaya otot kekar… huh
Musuh
kita di sana, mereka menantikan kita lengah
Dengar
suara Ken Arok yang berani menentang
Menentang
kita
Choral
dan Tentara Tunggul Ametung:
Ken
Arok ada di sekitarmu, dia berbahaya
Ken
Arok ada di sekitarmu
Awasi
dia, awas…
Tunggul
Ametung:
Gunakan
akal sehat supaya kita tidak terjerat… huh
Dengar
suara Ken Arok yang berani menentang
Menentang
kita
Gunakanlah
siasat
Jangan
sampai terjebak… wei wei wei
Choral
dan Tentara Tunggul Ametung:
Ken
Arok ada di sekitarmu, dia berbahaya
Ken
Arok ada di sekitarmu
Awasi
dia
Ken
Arok ada di sekitarmu, dia berbahaya
Ken
Arok ada di sekitarmu
Awasi
dia, awas…
Seorang
Tentara Tunggul Ametung: Kami atas nama balatentara dengan ini
menyatakan kebulatan tekad untuk tidak lagi memilih Tunggul Ametung sebagai
pemimpin kami…
Seseorang: Lho, gimana ini?
Seseorang: Udah diem aja
deh, ini kan pertunjukkan
Seorang
Tentara Tunggul Ametung: Tapi demi kelancaran pertunjukkan, Tunggul
Ametung dipersilakan berpidato lagi. Silakan…
Tunggul
Ametung:
Gunakanlah
siasat, Jangan sampai terjerat… wei wei wei
Choral
dan Tentara Tunggul Ametung: (BERSAMA BAIT LAGU INI, SEMUA KELUAR
PANGGUNG KECUALI DALANG DAN JURU KAMERA)
Ken
Arok ada di sekitarmu, dia berbahaya
Ken
Arok ada di sekitarmu
Awasi
dia
Ken
Arok ada di sekitarmu, dia berbahaya
Ken
Arok ada di sekitarmu
Awasi
dia …
Dalang: Cerita ini memang penuh dengan tipu-menipu. Begitu pula istri Tunggul Ametung yang bernama Ken Dedes, dia pun menipu dunia dengan menyelewengkan kodratinya sebagai istri… menipu alam dengan membenamkan harkat kesetiaan wanita. Dia bersentuh rasa dengan Ken Arok… ah, perserongan dan pertipuan yang kekal abadi sampai saat ini…
DI PENGHUJUNG KALIMATNYA DALANG MUNDUR DAN KELUAR PENTAS, LANTAS MASUK KEN AROK YANG BERGANDENGAN TANGAN DENGAN KEN DEDES. MEREKA MENGHAMPIRI BATU YANG MASIH ADA DI PENTAS.
Adegan
13: Ken Arok & Ken Dedes
LAGU “KEN AROK DAN KEN DEDES” - PADA SIKLORAMA ADALAH VIDEOGRAFI SUASANA MALL DENGAN SPEED DIPERCEPAT BERSELANG-SELING DENGAN VIDEO ALUTSISTA (ALAT-ALAT PERANG), KEMUDIAN DISOLVE KE VIDEO SEBUAH TAMAN HUTAN KOTA, PAGI KE SIANG.
Ken
Arok:
Sinar
mentari telah kembali terang
Di
dalam hati asmaraku
Dahaga
cinta telah penuh oleh dirimu
Aku
ingin dipeluk olehmu
Ken
Dedes:
Aduh
Ken Arok pujaanku sayang
Suamiku
akan curiga… ooo
Pada
akhirnya dia akan mengetahuinya
Hancurlah
cinta kita ini
Ken
Arok:
Hatiku
telah berbunga
Ku
tak mungkin menutupnya
Kan
kujalani semua rintangannya… ooo
Cinta
bukan paksaan
Cinta
itu perasaan
Ken
Arok & Ken Dedes:
Bercinta,
mari kita bercinta
Bercinta…
uuuu
Dewata: (MUNCUL DARI BALIK
BATU)
Engkau
Ken Dedes, kau wanita culas
Suamimu
setia menunggu
Ken
Dedes:
Oh
Hyang Dewata
Maafkan
dosaku ini
Ku
tergoda, tergoda dirinya
Inilah
Ken Arok
Lambangnya
kekuatan
Dalang: Nah itulah Ken
Dedes…
Seseorang: Anjirrr memang
bahenol nerkom hi hi hi
Ken
Arok:
Cinta
bukan paksaan
Cinta
itu perasaan
Ken
Arok & Ken Dedes:
Bercinta,
mari kita bercinta
Bercinta…
ouooo
Bercinta,
mari kita bercinta
Bercinta…
uuuu
Bercinta,
mari kita bercinta
Bercinta…
bercinta
Ken
Arok: Ken
Dedes kekasihku, aku akan pergi dulu ke pabrik keris Mpu Gandring untuk
menjemput kerisku… dan mulai sekarang lupakanlah suamimu Tunggul Ametung…
akulah kelak yang jadi penguasa penggantinya… bye bye sayangku, see
youuu… muachhh…
Adegan
14: Salam Cinta Ken Dedes
LAGU “SALAM CINTA KEN DEDES” - PADA SIKLORAMA ADALAH VIDEOGRAFI TAMAN YANG SAMA DALAM WAKTU YANG BERBEDA YAITU SENJA MENUJU MALAM.
Ken Dedes:
Haruskah
cinta berbalas pecahan kaca
Yang
merobek luka di dada… ooo
Haruskah
cinta seperti mengejar bayangan
Semakin
dikejar semakin lari menghindar
Aku
langit kosong
Engkau
mataharinya
Aku
gugusan bintang
Kau
cahayanya
Tapi
sekarang
Di
mana matahari
Di
manakah cahaya
Yang
ada ketidakpastian
Ketidakpastian
Bayangkan
kosongnya langit
Sejuk
dan teduh
Bayangkan
tangisan bayi
Sejuk
dan teduh
Bayangkan
hanya engkau dan aku
Sejuk
dan teduh
(MELANGKAH
MENUJU KE LUAR PENTAS, PADA SAAT INI PULA SETTING BERUBAH KE
PENGADEGAN #15)
Bayangkan
cinta kita
Sejuk
dan teduh… sejuk dan teduh
Kawan,
ooo ooo kau lah cinta
Buat
engkau selamanya
Selamanya
Selamanya
Adegan 15: Kematian Mpu Gandring
Dalang: Saya sekarang berada di pabrik keris Mpu Gandring… entah apa rencana Ken Arok? Dia sudah pesan keris kepada Mpu Gandring, tapi keris belum selesai… dia marah… (MUSIK EMPHASIS) dia bunuh Sang Mpu… dan Sang Mpu mengutuk bahwa kerisnya akan membunuh tujuh turunan Ken Arok. (MUSIK EMPHASIS) Begitu ceritanya menurut Pararaton yang telanjur diakui sebagai sejarah… (MUSIK EMPHASIS) padahal esensinya sekadar tipuan… sekadar tipuan… paham?
Juru
Alok: Ya,
paham Ki Dalang… kita mestinya kritis memeriksa apa kira-kira motif dasar yang
melatarbelakangi dan menjadi tujuan penulisan kitab itu? Jangan-jangan
tujuannya itu politis yang dibalut fiksi, lantas kita mengakuinya sebagai
sejarah…
Dalang: Hush… jangan
bawa-bawa politik dulu… ini cerita kita balas dengan cerita sesuka-suka kita…
ayo kita lanjutkan ceritanya, begini nih selanjutnya…
MUSIK “PEMBUNUHAN MPU GANDRING” - PADA SIKLORAMA VIDEOGRAFI DI SEBUAH PANDAI BESI. SEKILAS TAMPAK CLOSE UP HINGGA HYPER CLOSE UP PADA BESI PANAS MERAH YANG DITEMPA BERGESER KE BARA API PEMBAKARAN, DEMIKIANLAH BOLAK-BALIK (SEPERTI PADA ADEGAN #4). BALKON HIDROLIK ATAU YANG DIDORONG DARI BELAKANG/SAMPING PUN MUNCUL KEMBALI, TAMPAK DI SANA MPU GANDRING SEDANG MENEMPA BESI. KEN AROK BERSAMA PENGIKUTNYA MASUK SEIRAMA MUSIK PEMBUKA.
Ken Arok:
Mpu
Gandring, manakah kerisku
Yang
telah kupesan dulu
Mpu
Gandring:
O
ya, hei Ken Arok anakku yang sakti
Kerismu
belum selesai
Ken
Arok: Kenapa
belum selesai? (MENGHAMPIRI MPU GANDRING SAMPAI DI TANGGA BALKON)
Mengapa
kau berjanji palsu
Seperti
ditagih utang, janji Minggu jadi Rabu
Mpu
Gandring:
Jangan
marah, dengar alasanku
Tapi
kita dansa dulu
Ken
Arok: All
right man, kita dansa man
(MUSIK
JOGED, MPU GANDRING TURUN DARI BALKON LANTAS MEREKA BERDUA JOGED)
Ken
Arok: (KELUAR
DARI JOGEDAN)
Huh,
apa alasanmu?
Memang
kau penipu
Menurut
sejarah kerisku tak boleh selesai… eee yaaa
Mpu
Gandring:
O
ya aku lupa, itu ceritanya
Ken
Arok: Kau
tak menghafal sejarah… nanti dimarahi guru sekolah… yeahhh
Jadi
aku harus bunuh kau sekarang
Mpu
Gandring:
Ya
ya ya asalkan pelan-pelan
Jangan
sampai aku sakit
Jangan
sampai aku mati… betulan
Ken
Arok:
Jangan
engkau takut, ini pisau karet, kemarin kubeli dari Toko Mainan Anak…
Mpu
Gandring: Eudeuhhh duh duh duh…
beuteung aing ditubles
Me...
menurut sejarah, kau harus kukutuk tujuh turunan
Aduh…
aduh, aduhhh
Tapi
kini zaman, memang sudah edan
Kuterima
sogokan
Hadeuh
jadi nyeri beuteung yeuh…
Jika
kau mau, aku kurangi kutukanku
Aduh…
aduh, aduhhh
Ken
Arok:
Sejuta
rupiah
Mpu
Gandring:
Enam
turunan
Ken
Arok:
Dua
juta rupiah
Mpu
Gandring:
Lima
turunan
Ken
Arok:
Tiga
juta rupiah
Mpu
Gandring:
Empat
turunan
Ken
Arok:
Hah,
empat juta rupiah… ye yeee
Mpu
Gandring:
Tiga
turunan
Ken
Arok:
Lima
juta rupiah…
Mpu
Gandring:
Dua
turunan
Ken
Arok:
Enam
juta rupiah…
Mpu
Gandring:
Satu
turunan
Ken
Arok: Mana
kortingnya?
Mpu
Gandring: Bayarnya cash atau credit
card? Kalau cash OK deh nol turunan.
Ini
baru lumayan buat foya-foya kalau di nirwana…
Mpu
Gandring & Ken Arok:
Yeaaa…
Ken
Arok:
Bagaimana
Mpu, kita jabat tangan buat kontrak ini
Mpu
Gandring: Eeee… sebentar dong
Tambah
enam ratus ribu
Ken
Arok: Buat
apa enam ratus ribu?
Mpu
Gandring:
Buat
pajak pendapatan… heiiii
Ken
Arok: Ih
bisa aja lu sepuluh persen
Mpu
Gandring: Adeuh
deuh deuh, udah deh mau mati
Ken
Arok: Mati
aja… sombong amat mau mati aja
Somse,
aduh mani somse
Mau
mati mani somse
Sombong
sekali
Mpu
Gandring: Adeuh
adeuh deuh…
Aku…
mati…
Choral:
Dia
mati
Mpu
Gandring:
Aku…
mati…
Choral:
Dia
mati
Mpu
Gandring: Saya
memang mau mati… mau menyusul si Donna di telepon 51010… asyikkk sama Donna
jadi hantu di jembatan… hi hi… Bisa nggak ya kalau mati saya dikuburnya di
kuburan mantan presiden itu lho… Donna, I am coming
MUSIK ANTARA (BRIDGING) CAHAYA FADE OUT, VIDEOGRAFI DISOLVE KE MOVING VIDEO DI SEBUAH PASAR TRADISIONAL. BALKON KELUAR. SEJUMLAH ORANG LALU-LALANG DI PENTAS. SELINTAS DI BAGIAN SUDUT KANAN DEPAN PANGGUNG ADA ADEGAN KEN AROK MENYERAHKAN/MEMINJAMKAN KERISNYA KE KEBO IJO.
Adegan
16: Kebo Ijo Lelang Keris
Dalang: Wow, Ken Arok sudah sarat dengan siasat… dia pinjamkan keris buatan Mpu Gandring tadi kepada temannya yang bernama Kebo Ijo. Tentu dengan maksud licik… Dia mau menipu Kebo Ijo… Ah kasihan Kebo Ijo kena perangkap Ken Arok … Lagi-lagi tipuan… tipuan di mana-mana… hah tipuan ha ha…
LAGU “KEBO IJO” – KEBO IJO KELUAR DARI KERUMUNAN ORANG YANG LALU-LALANG.
Kebo Ijo:
Lihat
keris saya, indah bentuknya
Seseorang: (KELUAR DARI KERUMUNAN
ORANG YANG LALU-LALANG)
Kau
beli dari mana kawan? Beri tahu saya
Kebo
Ijo:
Memang
keris dahsyat… Ini keris pilihan
Seseorang:
Kalau
kau mau jual… Aku beli sekarang… yeee
Mau
jual nggak
Kebo
Ijo:
Aaaa…
ini keris saya, keris berharga mahal
Seseorang:
Kubeli
keris itu, berapa harga kau mau?
Kebo
Ijo:
Baiklah,
baik kawan… kalian semua tenang… keris ini aku lelang… siapa menawar duluan…
Seseorang: (SALAH SEORANG
DARI KERUMUNAN YANG LALU-LALANG) Saya satu juta rupiah
Kebo
Ijo: No,
thank you
Seseorang: (YANG LALU-LALANG
MULAI BERKERUMUN MENGIKUTI LELANG) Saya dua juta rupiah
Kebo
Ijo: No,
thank you
Seseorang: Saya dua juta
tambah jabatan
Kebo
Ijo: Jabatan
apa yang kau tawarkan
Seseorang: Direktur bank
Kebo
Ijo: Ahhhh,
no…
Seseorang: Jabatan walikota
Kebo
Ijo: Walikota?
Ah, nanti saya kelabakan ngurus banjir…
Seseorang: Jadi apa yang
kamu inginkan Kebo Ijo? Apa? Apa sih sebutkan, apa yang kamu inginkan?
Kebo
Ijo:
Yang
aku inginkan… susah-susah gampang… kalau bisa dikabulkan… keris ini kujual… ku
tak ingin macam-macam… bukan harta melimpah… aku hanya ingin… ingin…
Seseorang: Ayo cepat katakan
apa yang kau inginkan? Ingin mobil mewah?
Kebo
Ijo: Aku
bukan masalah harta.
Seseorang: Ingin demokrasi
ekonomi, supaya… bisnis listrik tidak ada monopoli?
Kebo
Ijo: Lebih
lagi…
Seseorang: Kau ingin negara
bebas korupsi?
Kebo
Ijo: Lebih
lagi…
Seseorang: Kau ingin… wakil
rakyat bener-bener membela kepentingan rakyat?
Kebo
Ijo: Lebih
lagi…
Seseorang: Jadi apa yang kau
inginkan sih?
Apa
apa apa…
Kebo
Ijo:
Tenang
tenang tenang kawan… aku kan katakan… apa yang aku inginkan… silakan dengar…
yang aku inginkan itu…
Seseorang: Apa sebut, sebut
saja apa, ayo, sebut… saya pengen keris itu, ayo
Kebo
Ijo: Tenang
tenang… tenang…
Seseorang: Jadi apa Kebo
Ijo, apa yang kamu inginkan, ayo…
Kebo
Ijo: Tenang…
tenang
Seseorang: Ayo Kebo Ijo, aku
ingin keris itu, sebut saja apa yang kau inginkan?
Kebo
Ijo: Aku
ingin… aku ingin bebas…
Seseorang: Aaaaa…
Kebo
Ijo: Terbang
tinggi…
Seseorang: Garing, garing,
garing
Kebo
Ijo: Terbang
jauh… your funny is…
Seseorang: Garing… aaaa
Seseorang: Apa yang kau
inginkan? Sebutkan cepat…
Kebo
Ijo: Aku…
malu ah… aku ingin ‘viral’ dipidio seperti si itu sama si itu… tu… tu… hi hi hi
Seseorang: Goblog siah
MUSIK ANTARA (BRIDGING) CAHAYA FADE OUT, VIDEOGRAFI KE MODEL WAYANG BAYANG-BAYANG (SHADOW PUPPET). DI LATAR DEPAN ATAU DI PENTAS TAMPAK ORANG-ORANG TADI MINUM-MINUM ARAK LANTAS SEMUA MABUK DAN TIDUR BERGELETAKAN. KEBO IJO BERADA BERSAMA ORANG-ORANG TERSEBUT SAMBIL MEMELUK KERISNYA. WAYANG BAYANG-BAYANG PADA SIKLORAMA MENGGAMBARKAN SEBUAH TEMPAT TIDUR DAN TUNGGUL AMETUNG YANG TIDUR PULAS. KEN AROK MENGENDAP-ENDAP MENGAMBIL KERIS DARI KEBO IJO, LANTAS MENYELINAP KE BELAKANG PANGGUNG KEMUDIAN GAMBAR BAYANG-BAYANG KE AROK DENGAN KERISNYA MUNCUL DI LAYAR MENJADI WAYANG BAYANG-BAYANG.
Adegan
17: Kematian Tunggul Ametung
LAGU “BIDADARI” – PADA SIKLORAMA SEPANJANG LAGU DAN NARASI DALANG ADALAH GAMBARAN PROSES KEN AROK MEMBUNUH TUNGGUL AMETUNG YANG SEDANG TIDUR… SEUSAI PEMBUNUHAN ITU, WAYANG BAYANG-BAYANG DISOLVE KE VIDEO POHON YANG PENUH DENGAN KUNANG-KUNANG.
Dalang: Ah, malam ini penuh dengan bintang… bidadari pun turun ke bumi… masuk ke dalam mimpi dan halusinasi Tunggul Ametung. Ini memang malam terakhir… Dia akan terbunuh malam ini… Begitu kata bidadari… Tunggul Ametung terbaring di kasur halusinasi… antara matra kasar dan matra halus… tentu sobat, itulah daerah tipu dan tipu daya… bidadari cantik tidak pernah ada, lagi-lagi tipuan…
Bidadari: (MUNCUL SEOLAH MENEMBUS LAYAR VIDEO)
Kami
datang dari nirwana… untuk menjemput nyawamu… malam ini, malam yang terakhir
kau hidup di alam dunia…
Tunggul
Ametung:
Ah,
bidadari yang cantik jelita… berapakah tarifmu… satu jam saja
Bidadari:
Hei
manusia, jangan banyak cerita… kami utusan dewata… Uuu malam ini kau akan
kupeluk… nyawamu akan… akan melayang
Tunggul
Ametung:
Ah,
bidadari yang pandai meramal… apakah aku kan jadi menteri…
Bidadari: (KOOR)
Kami
bukan peramal… kami ini utusan Hyang Dewata…
Kami
bukan peramal… kami ini utusan Hyang Dewata…
Tunggul
Ametung: Ah,
bohong… nanti bohong
Ooo
mengapa aku harus mati sekarang…
Bidadari: Mangkanya, kalau nggak
mau mati ntar pemilu nyolok yang bener ya…
Tunggul
Ametung: Nyolok
kamu aja deh, ya…
Katakanlah
aku jangan mati sekarang…
Bidadari:
Tapi
itu tidak mungkin…
Tunggul
Ametung:
Ah
bidadari yang cantik jelita…
Pasti
kalian peragawati dari sekolah model di surga ya?
Bidadari:
Kami
ini utusan, kami ini utusan Hyang Dewata…
Tunggul
Ametung:
Malam
ini saya mati… terimakasih aduh Gusti…
Mendingan
mati deh daripada mikirin ekonomi… gosipnya sebentar lagi devaluasi…
Bidadari:
Sungguh
Tunggul Ametung, kau akan mati… mati sekarang… u u uuu
Sungguh
Tunggul Ametung, kau akan mati… mati sekarang… u u uuu
Tunggul
Ametung: Asyik…
bidadarinya bisa nyanyi jazz
Bidadari:
Mati
sekarang… mati sekarang…
Sungguh
Tunggul Ametung, kau akan mati… sekarang… u u uuu
Sungguh
Tunggul Ametung, kau akan mati… mati sekarang… u u uuu
Tunggul
Ametung: Waduh
gua mesti mati sekarang, padahal kreditan mobil belum lunas… yaaaa
Adegan
18: Serahkan Nyawa
LAGU “SERAHKAN NYAWA” - VIDEOGRAFI POHON YANG PENUH DENGAN KUNANG-KUNANG. DI LATAR DEPAN/PENTAS ADALAH KOREOGRAFI KEMATIAN. DI ANTARA PENARI ADALAH BENTUK MAINAN “GEROBAK” KULIT JERUK BALI, BERKAKI TINGGI, UKURAN DIPERBESAR, WARNA ABU-ABU MENDEKATI KE HITAM. DI DALAM GEROBAK ADALAH JENAZAH TUNGGUL AMETUNG.
Choral:
Dengar
suara si pencabut nyawa… lonceng kematian sudah berdetak… bersihkan raga dan
rapihkanlah nyawa… dia memang harus segera berdentang… serahkan nyawa ini waktu
pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan
nyawa ini waktu pesta… (MUSIK) menghadap ke neraka… sang hidup penuh dosa… saya
miskin dia pengemis… tak bisa bayar pajak terroris… saya dan dia dipenjara
iblis… hari gajian, kamu di neraka… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan
nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu
pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta…
menghadap ke neraka… sang hidup penuh dosa… hei kau sengaja, mengapa lupa…
berita sang dewa harus disimak… berilah kerupuk makan bersama… supaya ramai
kita pesta… saya miskin dia pengemis… tak bisa bayar pajak terroris… saya dan
dia dipenjara iblis… hari gajian, kamu di neraka… serahkan nyawa ini waktu
pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan
nyawa ini waktu pesta… (MUSIK DAN SUARA NERAKA) hei mari setan, kamu saya
lawan… kamu bawa pedang, saya cukup kepalan… nyawaku terlepas dari badan…
dibujuk si setan, diajak tamasya… saya miskin dia pengemis… tak bisa bayar pajak
terroris… saya dan dia dipenjara iblis… hari gajian, kamu di neraka… serahkan
nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu
pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… (MUSIK DAN SUARA NERAKA) saya bawa
sekadar pembuka pasukan… cerita sang dewa harus disimak… sehingga terhubung ke
pusat ke selamat… supaya pada hari ini kita pesta… hei awas setan, kamu saya
lawan… tak bisa menang, saya tusuk kepala… serahkan nyawa ini waktu pesta…
serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa
ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu
pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta… serahkan nyawa ini waktu pesta…
bunuhhhh…
Adegan
19: Perang
Ken Arok: Tumapel sudah kurebut, bahkan istri sang akuwu pun sudah jadi milikku… wahai para pengikutku… jangan tanggung, kita rebut juga kuasa Kertajaya… jadikanlah aku Ken Arok sebagai raja besar di sana…
Para
Pengikut Ken Arok: Ayoooo….
Dalang: (MEREKA SEMUA DIAM
MEMATUNG SEPERTI DIBEKUKAN DARI GESTIKULASI YANG PALING AKHIR, DALANG
MENYAMPAIKAN NARASI DI ANTARA “PATUNG-PATUNG” TERSEBUT) Demikianlah ambisi dan
nafsu kuasanya Ken Arok… mereka bergerak untuk menggulingkan Kertajaya… Perang
pun tak terhindarkan, lagi-lagi rakyat menjadi korban berguguran… di Ganter
peperangan itu berkecamuk…
LAGU “PERANG” (INSTRUMENTAL) - PADA SIKLORAMA VIDEOGRAFI DI SEBUAH PANDAI BESI, SEKILAS TAMPAK CLOSE UP HINGGA HYPER CLOSE UP PADA BESI PANAS MERAH YANG DITEMPA BERGESER KE BARA API PEMBAKARAN, ITU BOLAK-BALIK BERGANTIAN DENGAN VIDEO POHON YANG DIPENUHI KUNANG-KUNANG. PASUKAN KERTAJAYA DATANG, KEN AROK DAN PENGIKUTNYA KEMBALI BERGERAK DAN SEGERA SIAGA… TERJADI PEPERANGAN DALAM BENTUK KOREOGRAFI SEPANJANG LAGU.
Adegan
20: Jangan Menangis Indonesia
PADA SIKLORAMA ADALAH VIDEOGRAFI POHON YANG DIPENUHI KUNANG-KUNANG. MAYAT-MAYAT BERGELIMPANGAN. TAMPAK KEN AROK BERDIRI MEMATUNG MENGACUNGKAN TANGAN TANDA KEMENANGAN. BEGITU PULA SISA PASUKANNYA MEMATUNG DIAM. MUNCUL SEORANG ANAK DI ANTARA GELIMPANGAN MAYAT-MAYAT, IA MENGGUSUR MAINAN GEROBAK KULIT JERUK.
Anak Kecil: (SAMBIL MENEROBOS DI ANTARA KEN AROK DAN PASUKANNYA YANG SEPERTI PATUNG-PATUNG) Saya tidak percaya kalau Dinasti Rajasa yang menjadi Singasari, Majapahit, hingga Demak, Pajang, dan Mataram itu seluruhnya dibangun dengan darah, kelicikan, dan tipu menipu…
Dalang: (MUNCUL DARI
BELAKANG) Benar cucuku… meski licik, culas, dan suka menipu itu adalah sebagian
dari watak manusia… tapi, masa sih sebuah negara seluruhnya dibentuk dengan
itu… bukan main buruknya jika suatu negara dibangun dengan nafsu tipu-menipu…
negara tersebut hanya akan penuh oleh riwayat dari satu kudeta ke kudeta
lainnya… korban pun akan terus berguguran.
Anak: Ya, Ki Dalang…
ayah dan ibuku pun menjadi korban…
LAGU “JANGAN MENANGIS INDONESIA” DIMULAI DENGAN CHORAL YANG MUNCUL DARI BELAKANG, DIIKUTI PEMAIN-PEMAIN YANG TADI BERGELIMPANGAN, KEMUDIAN KEN AROK DAN PASUKANNYA KEMBALI BERGERAK MEMBENTUK FORMASI BERBANJAR UNTUK CURTAIN CALL. SEMUA IKUT MENYANYI. HORMAT.
S E L E S A I
[1] Herry Dim, Harry
Roesli Sang Jenius Monumen Musik Indonesia, La Munai Records, 2017. Sebagai
tulisan pengantar pada album “Philosophy Gang” (1973) yang dicetak ulang oleh
La Munai Records dalam bentuk piringan hitam (2017).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar