Saya, Edgar Allan Poe, dan Kucing Hitam
Catatan: Herry Dim
DULU, sudah lama sekali ketika saya masih duduk di kelas dua SMA tahun 1972,
saya menemukan potongan tulisan riwayat hidup Edgar Allan Poe. Tulisan pada
koran tua itu tak lengkap karena sambungan halamannya tak ditemukan lagi. Ada
rasa iba ketika membaca riwayat Edgar Allan Poe (EAP) tersebut. Kehidupannya
begitu miskin, bahkan ayahnya yang bekerja sebagai aktor sandiwara keliling,
itu meninggal karena TBC (tubercolosis). Nasib EAP sendiri kadungsang-dungsang,
menitipkan diri dan kehidupannya kepada keluarga John Allan, seorang pedagang
tembakau dan sebagian namanya menjadi nama EAP. Di kemudian hari pun ia masih
hidup menumpang di bibinya, Ibu Clemms, bahkan istrinya meninggal karena
kelaparan di suatu musim dingin.
Rasa iba yang muncul, tentu saja, tak lebih dari rasa iba yang kekanak-kanakan
yaitu simfati yang muncul karena mempersamakan hidup EAP dengan kehidupan saya
sendiri yang tidak jauh berbeda. Merasa sama-sama miskin, bahkan belakangan
hari ayah saya mengatakan tak sanggup untuk membiayai saya untuk melanjutkan
sekolah.
Kecuali riwayat hidup EAP yang sepenggal, saya tak pernah membaca hal lainnya
apalagi karya-karyanya. Namun entah mengapa nama EAP tersebut seolah-olah
menempel di benak dan di hati.
Pada tahun 1975an di belokan jalan Braga ke arah jalan Tamblong, Bandung, itu
terdapat perpustakaan British Council. Pendaftarannya murah, pinjam bukunya pun
gratis kecuali jika ada keterlambatan atau buku yang dipinjam hilang. Saya
daftar di sana, dan buku yang kali pertama dicari adalah kumpulan karya EAP.
Saya tak ingat lagi penerbit dan tahun terbitnya. Buku tersebut bersampul tebal
(hard cover) berwarna hitam atau tepatnya hijau pekat dekat ke warna hitam,
judulnya Selected Tales Edgar Allan Poe. Buku tersebut ternyata mengalami
bolak-balik karena saya tak pernah selesai membacanya sehingga berulang-ulang
harus diperpanjang masa pinjamnya. Maksud tak selesai dibaca tersebut bukan
dalam arti keseluruhan satu buku, melainkan satu cerpen pun tak pernah sanggup
membacanya sampai selesai. Dan masih tak selesai juga sampai British Council
bubar, jika tidak salah pada tahun 1979an. Alasannya tak selesai membaca, itu
sederhana saja karena memang saya tak menguasai bahasa Inggris sehingga setiap
membaca itu dengan cara sambil membuka kamus dan memeriksa kata per kata.
Belakangan hari ketika, katakanlah, daya baca saya pada teks berbahasa Inggris
sudah agak lumayan. Cerpen yang sama yaitu “Kucing Hitam,” saya lacak kembali
hingga akhirnya saya dapatkan dalam bahasa aslinya, bahasa Inggris Amerika.
Saat ini sejumlah nama lain seperti Tolstoy, Chekov, Steinbeck dan
karya-karyanya sudah saya kenal.
Ini adalah masa ketika saya sudah kuliah di jurusan teater ASTI (kini STSI)
Bandung. Di bangku kuliah, yang antara lain pelajaran sastranya saya dapat dari
Pak Saini KM, bacaan saya pun semakin luas lagi. Untuk sejumlah karya lain,
saya relatif tak mengalami kesulitan untuk membacanya. Tapi lain halnya dengan
cerpen “Kucing Hitam,” lagi-lagi menthok.
Pada hari ulang tahun saya yang ke-50, sahabat kami, Juniarso Ridwan, memberi
kado yang ajaibnya adalah “Selected Tales : Edgar Allan Poe” terbitan Penguin
(1994). Malam selepas acara ulang tahun, itu pun segera yang saya buka adalah
halaman 311 yaitu cerpen “the Black Cat.” Harus diakui, malam itu pun tidak
serta-merta menjadi lancar pembacaannya. Namun, ketidaklancaran membaca kali
ini dilalui sambil tertawa, yaitu menertawakan kebodohan masa lalu serta
tertawa membaca bahwa kalimat-kalimat EAP itu memang melompat-lompat, terkadang
kalimatnya tak lengkap, satu kalimat dengan anak kalimatnya itu terkadang
‘seperti’ tidak bersambungan, bahkan bisa pula berantakan. Sementara “Kucing
Hitam” ditulis, memang manakala EAP hidupnya sudah sangat kacau di antara
alkohol, obat bius, kolera, penyakit anjing gila (rabies), dan kehidupannya
yang terlunta-lunta.
Dan, hemat saya, “Kucing Hitam” betul-betul mengagumkan. Sosok kucing hitam
tersebut tiba-tiba menjadi metafor sekaligus menjadi jalan penghubung untuk
penggambaran metamorfosa manusia yang menjadi binatang, sementara “kucing”
memperlihatkan naluri kasih-sayang yang seharusnya menjadi ciri kemanusiaan.
Sepanjang tahun 1995 – 2005an, kami pun memiliki atau tepatnya selalu
kedatangan seekor kucing hitam yang kami beri nama Si Timmy, sementara kucing
hitamnya EAP bernama Pluto. Kami tak sengaja memeliharanya. Tapi setiap kali ia
datang, kami senantiasa menyempatkan memberinya makan. Si Timmy pandai sekali
menangkap tikus, gesit, dan tidak manja. Lain hal di usianya yang renta,
sungguh membuat kami sering iba, Si Timmy tak bisa lagi bergerak lincah bahkan
lebih banyak berdiam diri. Pada masa-masa di ujung usianya itulah Si Timmy saya
lukis untuk mengenang semua kenangan panjang di atas, termasuk untuk mengenang
pula persahabatan guru-murid, ayah-anak, atau kakak-adik antara Popo Iskandar
dan saya, dan demi mengenang Si Timmy sendiri yang pernah hadir di
tengah-tengah keluarga kami bahkan para tetangga yang mengenalnya dengan baik.
[untuk melengkapkan
catatan ini, pada kesempatan lain akan kami postingkan pula cerpen terjemahan
“The Black Cat” karya Edgar Allan Poe - pengelola herry dim's online gallery]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar