Jumat, 29 Oktober 2021

Mengimajinasikan Kembali Seni Visual

Pengantar

LUAR BIASA, sungguh menakjubkan. Itu niscaya menjadi kesan umum setiap orang setelah membaca tulisannya Iulia Cabacenco ini. Pertama, tentu saja, manakala melihat usianya yang baru menginjak 15 tahun (lihat, tentang penulis). Kedua, sungguh di luar perkiraan, ia menunjukan pengetahuan dan pemahamannya tentang seni yang begitu luas. Ketiga, adalah jangkauan pikirannya yang nyaris takterbayangkan sebelumnya oleh orang dewasa sekalipun.

Pada butir ke-3 itulah ia menggulirkan optimisme di tengah situasi Covid-19 yang kelabu. Takhanya optimisme, ia pun berpandangan begitu visioner, jauh melanglang ke depan, khususnya bagi perkembangan seni(rupa) di kemudian hari. Sungguh inspiratif, baik bagi seni ataupun bagi kemanusiaan pada umumnya.

Itu yang membuat taktertahankan untuk menerjermahkannya ke dalam bahasa Indonesia serta menyiarkannya. Tindakan ini, dengan sadar, tidak/belum melalui permintaan izin kepada penulisnya ataupun kepada UNICEF. Jalan ini ditempuh karena ingin segera berbagi inspirasi, optimisme, dan penyadaran kemanusiaan. Dengan ini sekaligus, saya mohon izin kepada Iulia Cabacenco dan UNICEF. Semoga berkenan dan mengizinkan. Andai berkeberatan, silakan sampaikan ke email herrydim57@gmail.com agar saya bisa segera mencabut hasil terjemahan ini. 

Pembuka dari UNICEF sendiri, sbb: Gadis remaja dari Moldova mengeksplorasi bagaimana seni dipengaruhi oleh COVID-19 dan bagaimana hal itu dapat mengubah dunia di sekitar kita.

(HDim)**  


Iulia Cabacenco

Mengimajinasikan Kembali Seni Visual:

keluar dari virus dan keluar dari kotak

 Oleh: Iulia Cabacenco


UMAT manusia sedang menyaksikan perubahan besar dalam sejarah. Bumi bergoyang-goyang di bawah kaki kita dan tidak mungkin untuk memprediksi ke sisi mana kita harus berlari demi menjaga keseimbangan. Kita rapuh seperti gadis di atas bola sementara tingkat masalah kita sangat besar dan jumlah korban pandemi tetap berada di atas.


© UNICEF

Interpretasiku atas “Girl on the ball” karya Pablo Picasso dengan model diri saya sendiri.

Siapa senimannya?

 

Seni akan bertahan melewati setiap bencana dan orang-orang akan bertahan hidup bersamanya. Energi penciptaan tidak akan pernah habis, dan itulah yang membantu menyeimbangkan bola selama masa kehancuran. Virus Corona melahirkan karya seni yang mungkin-tidak-profesional tetapi luar biasa yang tak terhitung jumlahnya.

Anda bisa menjadi seorang seniman jika Anda memiliki cerita untuk diceritakan. COVID-19 adalah pengalaman baru bagi kita semua dan setiap “orang yang selamat” memiliki sesuatu untuk dikatakan. Sebagian besar orang yakin bahwa mereka tidak cukup terampil untuk membuat sebuah karya seni dan takut gagal atas apa yang bahkan belum pernah mereka coba. Tetapi banyak yang menemukan bakat terpendamnya justru karena pekerjaan yang terhenti dan waktu luang yang tidak terduga. Misalnya, skater Rusia terkenal Evghenia Medvedeva selama lockdown mendedikasikan waktu luangnya yang sangat langka bagi atlet seperti itu untuk hasrat keduanya – seni. Fans-nya bahkan tidak tahu dia bisa menggambar tetapi Evghenia akhirnya menemukan keberanian untuk mengungkapkan seninya kepada publik.

Bagi seniman amatir otodidak yang sejatinya adalah olahragawan profesional, pekerjaan seninya ini takdapat dibandingkan. Saya percaya itu dapat menginspirasi orang lain untuk mencoba berkreasi. Keberanian, kesabaran, dan harapan mendasari semua pembuatan seni. Selain itu, kualitas-kualitas ini akan membantu umat manusia untuk bertahan dari pandemi dan menemukan solusi inovatif yang kreatif untuk membangun kembali dunia di banyak bidang selain seni.

Setelah COVID-19, saya pikir, akan muncul lebih banyak lagi orang multipotensial dalam seni dan itu akan menjadi jauh lebih kompetitif. Kualitas seni akan meningkat, dan standar akan ditetapkan lebih tinggi. Bayangkan saja campuran pola pikir ahli biologi dan seniman! Sementara itu, masyarakat seni tiarap dalam arti sedang mengumpulkan energi yang kelak meledak dalam ratusan pameran dan ide-ide yang keluar dari kotak (out-of-the-box) yang luar biasa.

Virus corona dan seni manakala lahir dunia, itu sama, sangat tidak dapat diprediksi, dan kita tidak dapat mengatakan apapun yang akan terjadi selanjutnya. Ini lebih merupakan penemuan ketimbang invensi. Penemuan (discovery) tidak dapat dihalangi batasan apa pun semisal kewajiban untuk memenuhi harapan dan tenggat waktu. Artis Jess Johnson membagikan pemikirannya tentang hal itu: “Begitu banyak seniman, termasuk saya sendiri, menghasilkan karya seni dengan tujuan, seperti pameran atau langkah karier. Manakala menghapus hal itu malah dapat membebaskan kita untuk bereksperimen dan menciptakan seni yang menghubungkan kita dengan universalitas manusia, sebagai lawan dari 'seniman profesional' yang beroperasi dalam struktur dunia seni komersial.” Jadi, ke mana arah eksperimen kita?

© https://www.facebook.com/groups/izoizolyacia

Siapa inspiratornya?

 

Pandemi telah memperlihatkan sejumlah besar karya aneh yang berbeda tetapi semuanya dapat dijelaskan dalam dua kata: LUKISAN HIDUP. Sebutan ini memiliki arti yang luas. Mari kita mulai dengan yang sudah saya coba sendiri.

 

• Hidup di atas kanvas

 

Bagi orang-orang lockdown mengakibatkan desakan untuk mencari cara menghibur diri. Ide untuk menata ulang dan menampilkan lukisan terkenal dengan cepat menjadi viral di Internet.

Impresi kreatif karya Magritte ini diposting di grup publik Rusia “Izoizolyacia” yang mengguncang Facebook dengan sejumlah besar lukisan hidup yang cerdik. “Izoizolyacia” telah dimulai selama lockdown di Rusia dan sekarang diikuti oleh lebih dari 500 ribu orang di seluruh dunia yang menemukan diri mereka melukis dekorasi dan membuat kostum atau hanya menjelajahi dunia baru kesenimanan dan melukis. Puluhan peserta mengaku sedikit lebih mudah setelah proses meditasi ini. Seni membantu melampiaskan emosi negatif mereka karena kini memiliki kendali penuh atas dunia seninya dan dapat menafsirkan lukisan seperti yang kita lihat. Selain itu, praktik semacam itu akan mempopulerkan seni dan membuat orang lebih cerdas di bidang ini.

 

• Kehidupan seputar kita

 

Jenis lukisan hidup berikutnya adalah gambar reportase yang disebut juga dengan refleksi. Ini adalah sketsa singkat tentang apa yang terjadi di sekitar kita saat ini yang dapat dibuat di jalan atau di dalam ruangan. Reportase menggambar foto serupa menangkap satu momen singkat: posisi tertentu seseorang, tampilan yang menarik. Hanya saja ini adalah refleksi yang lebih pribadi di mana kita mungkin memperhatikan pendapat dan perasaan artis terhadap subjek.

© Evghenii Rusak
Karya ini berjudul “A tired doctor.” Kita dapat menjumpai lebih banyak lagi di channel Telegram “Coronavirus art”nya Evghenii Rusak.

Karya ini dibuat oleh pelukis Rusia Evghenii Rusak yang memutuskan untuk membuat buku harian virus corona, membuat gambar reportase setiap hari. Dia yakin bahwa ini tidak akan pernah terulang dan ini adalah kesempatan unik untuk menggambarkan kemanusiaan sepersekian detik sebelum perubahan besar. Ribuan seniman lain “mereflkesikan” kehidupan di tengah pandemi.

Praktik ini akan meningkat karena nyaman bagi pemula, mengerjakan gambar-gambar yang takbegitu detail dan “professional.” Proses pembuatannya cepat, dan kita dapat mengukir waktunya setiap hari. Misalnya, sekarang banyak seniman perempuan yang sibuk dengan anak-anak dan pekerjaan rumah, tetapi “refleksi” bisa menjadi cara mereka untuk terus menggambar. Seniman Francesca DiMattio dalam sebuah wawancara tentang penciptaan di karantina menyebutkan: “Keduanya membutuhkan tangan dan perhatian, keibuan dan praktik studio, bagi seseorang itu dirasakan saling bertentangan secara langsung”

 • Kehidupan sehari-hari

Di sisi lain, ternyata keduanya dapat diselesaikan manakala diubah menjadi sesuatu seperti neo-impresionisme-COVID. Impresionisme melibatkan adegan kehidupan sehari-hari di abad ke-19 sementara genre baru akan menunjukkan rutinitas kita sekarang: memasak, merawat anak-anak atau melakukan pekerjaan rumah. Siapa yang tahu hal-hal ini lebih baik daripada ibu kita? Omong-omong, impresionis adalah yang pertama menarik perhatian pada adegan kerja. Topik yang paling umum untuk karya seni sekarang adalah “dokter dalam misi mereka” dan mungkin sketsa kecil akan berubah menjadi kanvas besar.

• Di mana kita tinggal

Ketika seniman terblokir di dalam rumah, interior (furnitur, desain) menjadi pusat komposisinya. Saya suka sekali melihat bagaimana kamar mandi digunakan pada karya seni work-from-home oleh seniman jalanan terkenal, Banksy, yang biasanya takdapat menggunakan permukaan biasa bagi karya seninya.

© Iulia Cabacenco

Itu mosaik asli saya yang terbuat dari kantong sampah dan lainnya yang saya temukan di rumah. Jangan menilainya, ini adalah eksperimen


Hidup lebih lama dari kita

Kala itu musim panas pertama, saya tanpa pergi ke laut, dan kini saya menyadari bahwa alam memiliki hak istimewa. Sebagian besar dari kita menganggap alam berjalan begitu saja dan tidak menghargainya sebagaimana mestinya. Saya pikir ketika COVID-19 usai, orang akan menghabiskan lebih banyak waktu mengunjungi taman dan pergi ke pedesaan untuk merenungkan keindahannya. Plein-airs[1] akan mendapatkan kembali popularitasnya di dunia seni dan seniman akan berusaha untuk melestarikan alam karena terancam punah.

Ingat mereka tidak bisa membatalkan musim semi” adalah salah satu dari 10 pemandangan alam dalam koleksi seni baru David Hockney. Sangat menenangkan melihat alam berjalan seperti biasa di hari-hari yang penuh kekacauan ini. Kematian seolah tidak nyata di musim semi sewaktu kita melihat bunga bakung bermekaran. Ini menempatkan kita di depan sebuah pertanyaan: siapa yang akhirnya akan hidup lebih lama? Apakah kita atau alam? Sepertinya alam memiliki bahan yang tidak pernah berakhir untuk menciptakan dirinya sendiri, tetapi apakah pikiran kita yang berkembang memiliki bahan untuk diciptakan?

Apa materinya?

Meskipun David Hockney berusia 82 tahun, ia berhasil mengejar metoda menggambar modern. Karyanya di atas dibuat di iPad dan itu merupakan kombinasi mengejutkan antara baru dan lama. Saya pikir dunia akan mengikuti jalan yang sama: alam akan merebut kembali maknanya bagi kita, tetapi dunia akan menjadi lebih digital.

Saat ini banyak seniman kehabisan bahan yang tidak dapat mereka miliki karena krisis atau tidak dapat pergi ke studio untuk mendapatkan instrumen atau ruang yang mereka butuhkan. Namun, ruang digital dapat diakses setiap saat dan banyak seniman akan beralih dari kertas dan cat ke tablet grafis. Gelombang baru ini akan membutuhkan museum untuk beradaptasi dengannya.

Material melukis akan digantikan oleh monitor di mana seni digital akan dipamerkan. Sekarang masih diremehkan oleh kritikus dan dianggap tidak layak untuk berada di museum. Tapi seni digital memiliki keuntungan besar. Ini akan mengurangi harga tiket museum karena lukisan akan menempati lebih sedikit tempat: karya seni di monitor dapat bertukar setelah pengamat ingin pindah ke yang berikutnya. Selain itu, pengiriman dan pemasangan tidak diperlukan. Pameran online akan sering diselenggarakan dan berkat itu seni akan menjadi lebih mudah diakses dan terjangkau. Hampir setiap orang yang tertarik akan dapat menikmati seni! Saya percaya itu jawaban positif untuk pertanyaan saya di awal.

Tidak hanya alam dan seni digital akan lebih penting bagi umat manusia, tetapi juga hal-hal sederhana yang semula tidak kita perhatikan sebelumnya. Kurangnya bahan mendorong seniman berbuat dari bahan yang takterduga. Membuat kolase dari kertas bekas adalah solusi yang baik untuk memanfaatkannya kembali.

Pil, kancing, sampah, dan lusinan hal lainnya memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan kedua dengan diubah menjadi gambar mosaik yang luar biasa. Mosaik yang terbuat dari sampah dapat dibuat untuk mendukung ekologi dan berkomunikasi tentang polusi.

Saya percaya bahwa penciptaan seni dapat menjadi alat yang jauh lebih efektif dan kuat untuk mengekspresikan sudut pandang dan membuat perubahan ketimbang protes dan manifestasi kekerasan. Pertanyaannya adalah: apa yang bisa diubah seni virus corona?

Apa tujuannya?

Seni membuat informasi menjadi lebih mudah dipahami dan lebih mudah diterima. Itulah sebabnya ia sanggup menaklukkan dunia dan menembus setiap bagian kehidupan kita. Dari buku pelajaran sekolah hingga dokumen resmi, permintaannya akan bertumbuh. Lihat saja bagaimana langkah-langkah Kementerian Kebudayaan Ukraina dalam memutuskan untuk mengingatkan orang-orang untuk melindungi diri dari COVID-19:

©Ministry of Culture of Ukraine


Poster lucu ini kemungkinan besar akan membuat orang mengikuti aturan. Plus, mendukung industri seni yang sedang mengalami masa-masa sulit. Ada banyak inisiatif yang bertujuan untuk menguntungkannya. Misalnya, seniman Eric Fischl membuat cetakan edisi terbatas untuk berkontribusi pada Akademi Seni New York yang ditutup. Ada banyak sumber di mana seniman dapat memberikan sumbangan untuk mendukung kolega dan galeri seni mereka.

Kemudian saya bertanya pada diri sendiri: “Bukankah seharusnya kita mendedikasikan uang dan waktu kita untuk kebutuhan yang mendesak agar semua orang mampu membeli dan menghargai seni sejak awal? Bisakah orang hidup tanpa seni? Apakah itu sama pentingnya dengan makanan? Apakah seni merupakan hak istimewa atau diterima begitu saja?”

Kita dapat menemukan banyak contoh seniman-aktivis dan seni menyelesaikan banyak masalah global yang esensial. Banyak seniman sekarang secara finansial membantu meringankan konsekuensi pandemi dengan menyumbangkan uang dari penjualan untuk dana bantuan virus corona. Misalnya, seniman Peter Regly mendapat manfaat dari #FirstRespondersFirst, sebuah inisiatif Harvard yang menyediakan sumber daya bagi petugas kesehatan di garis depan. Jean-Michelle Othoniel dengan gambar-gambarnya mendorong pengikut Instagram-nya untuk menyumbang ke Palang Merah.

Dan orang-orang tidak akan bertahan hidup tanpa seni – makanan spiritual – serta tanpa nutrisi biasa. Jika seniman meninggalkan studio mereka untuk bekerja di bidang ekonomi, perawatan kesehatan atau yurisprudensi, dunia perlahan akan berhenti dari kebosanan dan kesuraman! Orang sebaliknya harus berusaha untuk membuatnya untuk semua orang dan begitu saja.

Seni membuat orang lebih cerah dan ramah, dunia akan menjadi lebih berwarna dengan hidup secara kreatif. Itu sebabnya untuk keluar dari virus kita perlu melangkah keluar dari kotak.

 **

Sumber https://www.unicef.org/eca/stories/reimagining-visual-art-out-virus-and-out-box

 

Tentang penulis:


Iulia Cabacenco adalah siswa sekolah menengah berusia lima belas tahun dari Chisinau, Moldova. Selain menjadi relawan aktif dan siswa berprestasi yang mengikuti kejuaraan akademik internasional, Iulia sangat menyukai seni dan memiliki banyak bakat. Dia tampil di teater dan merupakan salah satu penyanyi utama dari proyek inklusi musik pertama di Moldova – Paduan suara kaum muda “LaLaPlay Voices.”



[1] En plein air (dari bahasa Prancis yang berarti “outdoors”), atau plein air painting, adalah melukis di luar ruangan. Metoda ini kontras dengan lukisan studio atau aturan akademik yang mungkin menciptakan tampilan yang telah ditentukan.