Oleh: Herry Dim
TULISAN ini mulai disusun manakala perseteruan perang hastag #2019GantiPresiden dan #2019TetapJokowi bukan saja kian meruncing melainkan kian (maaf) "menyebalkan" sekaligus mengkhawatirkan jika dilihat dari sisi tanda runtuhnya kecendekiaan akibat fanatisme yang berlebihan. Dua belah pihak tidak lagi berdasar kepada sejatinya kritisisme yang seyogianya beranjak dari nalar, cara pandang menyeluruh, komparasi atau studi banding, menjumpai akar masalah, menarik simpul, dan mencarikan jalan keluar bagi keberlanjutan berbangsa/bernegara. Kritik bahkan digelincirkan menjadi sekadar mengumbar cemooh, saling caci-maki, hujat-menghujat, hingga munculnya petanda (signified) yang relatif tak patut yaitu semiotika "cebong" (untuk mengejek pendukung Jokowi) dan "kampret" (sebagai olok-olok bagi lawan Jokowi). Itu saja sudah memperlihatkan bahwa "kritik" tidak lagi berstruktur dan bertubuh, sejatinya tak bisa lagi disebut sebagai suatu bangunan kritisisme, dan bisa dipastikan tak sedikitpun berkenaan dengan kecendekiaan.
Sebelum terlalu jauh, perlu dikemukakan bahwa tulisan ini pun
tidak dimaksudkan untuk menganut sekurang-kurangnya istilah (jika tidak
dikatakan teori) "kritik membangun" seperti kerap dikemukakan di masa
rezim Soeharto. Kritik Membangun, setidaknya dalam pandangan penulis, tak lebih
dari kritisisme semu (pseudo-criticism)
yaitu prinsip yang seolah-olah "membolehkan" kritis asal "tak
mengganggu" stabilitas kebijakan-kebijakan yang diluncurkan rezim kala
itu.
Sekadar untuk mengingatkan bahwa istilah "kritik
membangun" tak lain merupakan eufemisme dari konsep untuk mematikan kritik
itu sendiri. Prinsip dasarnya adalah konsep "stabilitas" yang praktek
sejatinya adalah represi terhadap segala pengucapan kritis. Salasatu produknya
adalah kebebasan pers yang dibatasi SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers),
dan sekadar contoh buahnya adalah breidel
(pencabutan SIUUP) atas tiga media (Tempo, Detik, dan Editor) yang dilakukan
Orde Baru pada 21 Juni 1994.
Kritik itu galibnya boleh "membantah" bahkan
menggugurkan bangunan teori sebelumnya dengan mengedepankan struktur atau
diskursus teori baru. Contoh yang telah menjadi klasik di tataran ilmu
pengetahuan antara lain adalah teori gravitasi Einstein yang menggugurkan teori
gravitasi Newton. Yang perlu dicatat, bahwa dua teori tersebut tidaklah saling
membunuh atau saling meniadakan, melainkan satu sama lain saling melengkapkan;
setidaknya di dalam matarantai logis bahwa tak akan ada teori Einstein jika
sebelumnya tidaklah ada teori Newton (tan
hana nguni tan hana mangke, Sunda), dan/atau struktur kritisisme Einstein
itu akan terbaca jelas jika sebelumnya kita memahami terlebih dahulu teori
Newton.
Atau, di dalam peta politik/kebudayaan kita sendiri, sebut di
antaranya Sutan Syahrir dengan kitab "Perjuangan Kita," Tan Malaka
yang melahirkan "Madilog," tulisan-tulisan Bung Karno yang kemudian
terkumpul di dalam "Di Bawah Bendera Revolusi," Mohammad Hatta dengan
buku "Alam Pikiran," hingga "Dimensi Manusia Dalam Pembangunan"
karya Soedjatmoko yang (rasanya) melandasi gagasan Repelita (Rencana
Pembangunan Lima Tahun) hingga pelaksanaan Pelita (Pembangunan Lima Tahun) Orde
Baru namun kemudian melenceng karena maraknya KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme).
Praxis politiknya sendiri, memang, dihadapkan pada kenyataan kalah dan menang
tapi sebagai produk kecendekiaan, buah-buah pikiran tersebut nyatanya masih
bisa dipetik cahaya-cahayanya hingga sekarang.
**
PUN catatan ini tidak bermaksud menyampaikan segelintir judul
buku dari sejumlah buku lainnya, melainkan sekadar menunjukkan bahwa galibnya
tradisi berfikir dan kecendendekiaan itu biasanya bermuara pada karya tulis,
sehingga segalanya berjejak serta bisa dikaji ulang demi peradaban selanjutnya.
Itu sekaligus untuk menyadarkan kita kembali bahwa demokrasi dan
pergantian rezim itu seyogianya tidaklah dilihat sebagai pergantian kekuasaan,
melainkan berada pada matarantai perjalanan gagas dan tindakan yang
berlandaskan pemikiran yang kian maju serta kian beradab, cendekia,
berperikemanusiaan sebagaimana lazimnya proses pemanusiaan manusia.
Urat-nadi kemungkinan tersebut memang bernada Hegelian di dalam
metoda Dialektika yaitu tesis (pengiyaan), antitesis (pengingkaran) dan
sintesis (kesatuan kontradiksi). Pikiran dan perbuatan terdahulu itu
(katakanlah) sebagai tesis yang memang sepatutnya dilihat kembali,
ditimbang-ulang, dikritik, bahkan bisa diingkari. Mengingat tesis tersebut
merupakan suatu struktur bentuk pemikiran, maka hingga pada kemungkinan
pengingkaran pun mestinya berstruktur dan berbentuk pula. Kelak memang akan
memunculkan sejumlah kontradiksi, tidak saja pada rentang antara tesis dan
antitesis melainkan sangat mungkin bermunculan perbedaan di antara antitesis
itu sendiri. Sejumlah kontradiksi tersebut dipilih hingga terhimpun menjadi
semacam kumpulan cahaya antitesis, inilah yang disebut sintesis. Manakala
sintesis itu sudah terhimpun, menjadi gagasan, menjadi (katakanlah) kebijakan
hingga tindakan, saat itulah ia sejatinya telah menjadi tesis baru yang kelak
akan kembali ditimbang-ulang oleh antitesis berikutnya. Dan demikianlah sejarah
manusia dan pemanusiaannya itu berjalan ke muka, ke arah yang kian baik. Hegel
pula yang merumuskan bahwa sejarah itu merepresentasikan perkembangan roh
kesadaran (represents the development of
the spirit's consciousness).
Tiba pada kosakata “kembang” atau dengan awalan dan akhiran
menjadi kata kerja “perkembangan,” itu menyimpan makna keberlanjutan. Tak
mungkin ada kembang jika tidak bermula dari menanam benih dan merawatnya.
Itulah sejarah (historis). Jika kita senantiasa berfikir bahwa perpindahan
kekuasaan itu seperti halnya Ken Arok merebut/membunuh kuasa Tunggul Ametung,
maka sama dengan menebas yang pernah ditanam untuk terus berulang pada setiap
peralihan itu selalu bermula dari nol atau a-historis.
Hidup di zaman “Badai Celetukkan Medsos” memang repot,
kebanyakan jadi tenggelam di kubangan Simulacra, simulasi yang tidak lagi
peduli realitas. Samar di antara kategori-kategori nyata, semu, benar, salah, fakta,
citra, produksi atau reproduksi melebur menjadi satu dalam silang sengkarut
tanda.***
(Herry Dim, seniman, pelukis, pemerhati kebudayaan, penulis, tinggal di Bandung)