| Nandang Gawé bersama salasatu serial karyanya "Ndankestein." |
MARI kita sempatkan nengok kolase karya Nandang Gawé yang dipamérkan dengan tajuk “Sirkus,” 22 – 30 Agustus 2017, di Galéri 212, jl. Buahbatu 212, Bandung. Unik, itu yang menjadi alasan ajakan ini ditawarlan. Nandang Gawé (NG) menyuguhkan bakalan atau bahan baku rupa (shape) yang jauh dari élok, melainkan susunan demi susunan bentuk (form) karya dengan gambaran sosok-sosok déformatif bahkan invalid. Ini, paling tidak, mendobrak pemahaman umum tentang seni yang pengertiannya élok, indah, halus (lihat, Herry Dim, “Ketakindahan Pun Seni,” Kompas, Sabtu, 8 Juli 2017, hal 24).
Karya-karya NG,
langsung atau pun tak langsung, itu terhubung kepada karya-karya Affandi, Héndra
Gunawan, dan Sudjana Kerton sebagai pendahulunya. Dalam penggayaan lain
berjejak pula pada sejumlah karya yang sudah tidak mempedulikan lagi sosok
figuratif, ornamén, melainkan sepenuhnya berdasar kontémplasi dalam rentang
panjang sejak méditasi spiritual hingga naluri héwani atau yang lebih halusnya
gelegak Dionysian. Semuanya tak berjejak pada prinsip élok tapi tetap memukau.
Paméran “sirkus” NG setidaknya menyadarkan kita bahwa keélokan atau cacat bentuk, halus atau kasar, indah atau takindah pada dasarnya tidaklah menentukan kekuatan, daya pukau, dan/atau nilai seni. Memang benar ada sejumlah karya seni dengan prinsip élok mencapai pesona sekaligus nilai seni yang tinggi, tapi tak kalah banyaknya yang sekadar dihalus-haluskan, diélok-élokan, diindah-indahkan tapi tidak mencapai nilai apapun. Demikian halnya lukisan kasar dengan prinsip ketakindahan banyak contohnya yang mencapai ke’agung’an seni, tapi banyak juga yang hanya berupa gurat, ciprat, blabar, dan permainan barik yang tak berarti apa-apa.
Rupa Gawé
Rupa karya NG cemderung jahil, nakal, iseng, éksploratif, menawarkan guncangan-guncangan imajinatif, atau seperti yang diteorikannya sendiri yaitu belangbuntal. Menariknya lagi bahwa seperti paméran-paméran NG sebelumnya, sebut misalnya Baladupak, Bebalitikum, SCHIZOchronic, dan kini Sirkus, itu senantiasa dilatari semacam risét-risét ke berbagai arah; semisal ke arah psikososial, kondisi sosial masyarakat, serta tentu saja sejumlah studinya yang berkenaan dengan “rupa.”
Yang dimaksud risét
di sini, tentu saja, tidak di dalam pengertian seperti halnya disiplin ilmu
sosial melakukan penelitian dengan alat dan métodanya. Risét yang dilakukan NG
itu semacam jalan pengembaraan, jalan untuk memasuki ruang-ruang yang tak
terduga, dan atau bisa juga menjadi tempat bagi NG untuk membentur-benturkan
diri terhadap segala hal yang dijumpainya; bisa juga menjadi ruang
“tawar-menawar,” gurau kréatif, hingga keisengan inteléktual seperti yang
terjadi pada “Ndankenstein” yang kaitannya dengan “Frankenstein.” Maka bukan
sekadar otak-atik nama/sebutan (“Ndankenstein” dan “Frankenstein”), melainkan muncul
di sana dua penanda yang masing-masing memiliki métaforik, material yang merdéka,
dan kualitas sémiotiknya sendiri, demikian jika meminjam rumusan sliding signifiers/signified-nya Lacan.
Semangat NG
seperti halnya semangat gerakan Avant-garde,
l’art pour l’art, seni untuk seni; ia
berada di luar kecenderungan umum senirupa Indonesia, tak mempedulikan hal di
luar dirinya kecuali kepentingan karyanya itu sendiri. Maka dalam berbagai hal
karya-karya NG itu hadir mandiri.
Bagi peta seni
Indonesia, NG bisa dikatakan berada di garis depan (Avant-garde), dalam arti memulai sekaligus mendobrak kecenderungan
umum. Sementara di tataran peta seni dunia, NG cenderung ambil posisi
berbincang, dialog, atau bisa pula melakukan jalan dialéktis terhadap
seniman-seniman senada dengan penggayaannya. Itu setidaknya terbukti dengan
adanya risét-risét NG terhadap karya-karya semisal Mireille Suzanne Francette,
Geoffrey Farmer, dan Annegret Soltau.
Nama lengkap NG
berdasar akte kelahiran adalah Nandang Gumelar Wahyudi, lahir di Bandung pada
tahun 1970. Ia seperti seorang ambivalén.
Saat mengerjakan karya-karyanya cenderung menjadi penyendiri, asyik dan anteng dengan dunianya sendiri, bahkan
ruang tamu di rumahnya yang tak seberapa luas itu pepak dipenuhi bakalan, guntingan-guntingan anéka imaji
visual, hingga karya-karya yang telah jadi. Ruang itu seperti dikuasainya
sendiri. Tapi di sisi lainnya ia cenderung sebagai mahluk atau manusia yang
sangat sosial.
NG sebagai mahluk sosial bahkan tidak sekadar melihat panorama atau melihat dari kejauhan, melainkan seorang yang cenderung begitu ditél melihat dari kedekatan. Ia fasih, misalnya, menceritakan seseorang yang mencari nafkah dengan mendorong-dorong roda di tengah malam. Bahkan hingga kini NG masih berketetapan tidak memiliki kendaraan sendiri sehingga ke sana ke mari dengan menggunakan angkot (angkutan kota). Itu, hémat saya, adalah caranya agar ia bisa melihat orang per orang di tengah kehidupan sosial dalam jarak yang terdekat, yang tak lain merupakan jalan baginya dalam mencari “wajah” dirinya sendiri. Penglihatan ke luar (sosial) dan penglihatan ke dalam (diri) pun berlalu-lalang, yang sejatinya tak lain sedang mencari jawaban atas pertanyaan: apa dan bagaimana manusia itu? Siapakah kita ini? Atau bentuk pertanyaan-pertanyaan éksisténsial lainnya.
Kemudian NG
menemukan bahwa manusia itu cenderung absurd,
jungkir-balik, sirkus, tak tetap atau berubah-ubah berdasar ruang dan waktunya.
Itulah yang ia rumuskan dengan diktum belangbuntal;
seperti hal umumnya manusia kecil untuk survive
hidupnya tambal-sulam dan jungkir-balik. Sementara meréka yang di atas pun tiap
saat nyiliwuri dengan wajah-wajah dan
kepalsuan.
Itu senada dengan Cabell
Pronko yang melakukan studi atas Beckett, Ionesco, Adamov, dan Sartre dalam
menghubungkan éksisténsi manusia dan absurditas, pada butir terakhir dari empat
kesimpulannya tertera: “Tak ada réalitas manusia itu. Kenyataan manusia itu
adalah apa yang ia bentuk bagi dirinya; tak ada watak yang tetap, manusia
adalah éksisténsi di dalam suatu situasi” (Pronko 1966:19).
NG, meski di dalam
salasatu postulatnya tentang “Frankestein” dan Ndankestein” menyatakan bermula
dari merasa gagal membuat potrét diri, ia sesungguhnya tidaklah membicarakan
diri melainkan gambaran sosial atau gambaran kehidupan yang abusurd.
Silakan untuk dibuktikan dengan menyaksikan karya-karyanya, dan “selamat berpaméran Ndang.” Salam.***
(Hérry Dim, seniman, pelukis, pemerhati kebudayaan, penulis, tinggal di Bandung)