Sungguh merupakan berita-berita yang mencemaskan, sambil
menyadari bahwa kecemasan tersebut sesungguhnya bukan hanya berkenaan dengan
tempat kejadian pada berita-berita di atas melainkan bisa dikatakan merata
hampir di seluruh wilayah Jawa Barat. Merata bahwa di Jawa Barat, kini,
berhadapan dengan paradoks alam yang ekstrem; musim penghujan dalam ancaman
banjir dan longsor, sementara kala musik kemarau teracam kekeringan dan
kesulitan air bersih. Geolog T. Bachtiar telah mengingatkan hal tersebut
melalui sejumlah tulisannya, salasatu kalimatnya yang tertera di dalam buku
“Bandung Purba” (2016, cetakan keempat): “Itu sesungguhnya demonstrasi alam,
bahwa telah terjadi salah kelola di lereng-lerengnya” (hal. 375). Pada
tulisan yang sama, ia pun bertanya: “Apakah masyarakat, pemda merasa
kehilangan atau tidak dengan alih fungsi hutan alami menjadi hutan produksi,
kemudian menjadi kebun sayur di lereng-lereng dengan kemiringan curam...?”
Konteks tulisan T. Bachtiar berkenaan dengan Bandung, tapi sesungguhnya
berlaku bagi Jawa Barat bahkan Indonesia pada umumnya.
Kiranya kita perlu menengok dan menghidupkan kembali kearifan
yang sesungguhnya pernah kita miliki, salasatunya kearifan yang berkenaan
dengan bambu.
Kudu Kawas Awi jeung Gawirna
Masyarakat Sunda sesungguhnya memiliki pepatah “kudu
kawas awi jeung gawirna” (harus seperti
bambu bersama tebingnya). Makna harafiah dari pepatah tersebut
menyatakan tentang kebersatuan antara tebing dan bambu yang sepatutnya tak
terpisahkan. Seperti umumnya pepatah, itu berfungsi sebagai ajaran atau pun
peringatan agar rumpun pohon bambu senantiasa tak tepisahkan dari tebing;
sebuah peringatan bagi kita bahwa manakala salah satu dari bambu atau tebing
itu terpisah niscaya akan menimbulkan bencana.
Berkenaan dengan penggunaan kata “kudu siga” (harus seperti),
maka pepatah tersebut pun berfungsi sebagai amsal yang galibnya diterapkan ke
dalam keseluruhan kehidupan; antara lain mengajarkan bahwa hal-hal seperti
perkawinan, persaudaraan, atau persahabatan seyogianya harus seperti bambu
dan tebing; satu sama lain lekat di dalam dimensi saling memberi dan saling
melindungi. Sementara makna sampirannya, memberikan ajaran yang berkenaan
dengan lingkungan hidup, bahwa rumpun bambu dengan sebaran akar-akarnya yang
kuat dan mengikat itu berfungsi untuk menjaga tebing dari kemungkinan bencana
longsor, dapuran atau rumpun pohon bambu dengan
dedaunannya memberikan keteduhan, sehingga lingkungan di sekitar
tebing (jika diurus) pun menjadi asri serta nyaman bagi kehidupan.
Pepatah tua tersebut jelas mendahului kesadaran environmental (lingkungan
hidup) yang menjadi perhatian utama masyarakat kontemporer. Belakangan baru
kita ketahui bahwa bambu ternyata memiliki potensi besar bagi penyelesaian
sejumlah masalah lingkungan hidup dan sekaligus memiliki fungsi
sosial-ekonomi yang besar. Beberapa contoh upaya penghijauan kembali pada
kasus-kasus penggundulan (deforestation) hutan tropik mulai memilih
tanaman bambu sebagai alternatif, dan
kemudian terbukti pula menjadi solusi yang
nyaris sempurna. Karakter biologis bambu terbukti berhasil menjadi
penyelia kesuburan tanah, pohon dan akar menahan terjadinya erosi,
sementara tanaman bambu secara keseluruhan sanggup mereduksi tingkat
pencemaran dioksida karbon (carbon dioxide) di atmosfer. Sedangkan
dari sisi sosial, seperti telah diajarkan pula oleh masyarakat tradisional
dan kemudian banyak dikembangkan melalui ilmu pengetahuan mutahir, bahwa
bambu amat-sangat mungkin menggantikan kebutuhan kayu yang diambil dari
hutan-hutan tropik (tropical timbers) bagi kebutuhan keseharian,
kertas, pakaian, furnitur, hingga industri bahan bangunan.
Bambu untuk tumbuh dewasa dan siap panen
hanya perlu waktu antara tiga atau lima tahun, jelas merupakan
perbandingan terbalik dengan masa tumbuh pohon kayu yang paling
lunak sekalipun. Selewat masa tumbuh awal atau setelah
menjadi dapuran, sejumlah jenis bambu bahkan sudah bisa dipanen
pada usia hanya empat atau enam bulan saja.
Sadar akan potensinya, maka AS pun mulai mengalihkan perhatiannya
kepada bambu. Sebuah selebaran tentang bambu, mengungkapkan tentang
betapa penting dan mendesaknya bambu untuk menjadi perhatian masyarakat serta
negara AS. Selebaran ringkas tersebut bahkan mengetengahkan judul “Betapa
Pentingnya Bambu bagi Masa Depan Amerika.”
 | | Salasatu halaman selebaran yang mengurai tentang pentingnya bambu bagi masa depan AS. (Dok: HDim)* |
Menjadi menarik untuk diperhatikan mengingat bahwa AS hampir bisa
dikatakan masa lalunya tidaklah memiliki sejarah bambu. AS tidak seperti kita
dan kebudayaan Nusantara pada umumnya, tidak juga seperti Cina, Jepang, dan
sebagian besar bangsa-bangsa di Asia Tenggara yang memiliki sejarah
kebudayaan bambu; namun tiba-tiba seperti diungkapkan di dalam selebaran
tersebut menerakan sub-judul “Amerika Perlu Membudidayakan Bambu.”
Selebaran tersebut kemudian menjelaskan sejumlah alasan
pentingnya pembudidayaan bambu bagi AS seperti antara lain sebagai berikut:
Pertama, tumbuhan dan
hutan bambu sanggup menyelia oksigen 35% lebih banyak dibanding dengan
pepohonan lain. Satu are tanaman bambu bisa menyerap dioksida karbon sebanyak
25 ton per tahun, berbanding jauh dengan hutan muda non-bambu yang hanya
menyerap 6 ton per tahun.
Kedua, serat bambu
ternyata amat luar biasa untuk bahan kertas dan kain. Produksi global bambu
olahan (pulp) per tahun saat ini sebanyak 1,5 juta metrik ton, 80%
kebutuhannya dipenuhi oleh Cina dan India. Kini, baik bambu olahan, dapuran atau
perkebunannya yang berimpak besar bagi lingkungan, serta kain bambu telah
menjadi perhatian masyarakat Barat. Kain dari bahan baku bambu ternyata bisa
sehalus sutra dan lebih memiliki daya serap yang lebih baik ketimbang katun,
dan yang lebih penting lagi kandungan alamiahnya yang memiliki daya
antimikrobial. Bersumberkan kepada uraian majalah National Geographic (Mei
2007) didapat keterangan bahwa pada tahun 2004 Cina meraup hasil jutaan dolar
dari ekspor bambu bagi bahan baku industri tekstil. Pada tahun 2006, angka
ekspor tersebut melambung nyaris sepuluh kali lipat.
Bambu pada dasarnya merupakan tanaman berkelanjutan yang hanya
perlu ditanam sekali lantas berikutnya bisa dipanen secara periodik tanpa
harus menanam kembali. Dan jelas pula bahwa bambu jauh lebih unggul dibanding
katun terutama jika dihadapkan kepada isu pemanasan global. Sebab bukan saja
mampu mereduksi CO2, pembudidayaan bambu pun tak perlu penggunaan
traktor sebanyak budidaya katun, yang artinya lebih kecil dalam hal
penggunaan bahan bakar yang memproduksi limbah karbon.
**
Berbeda dengan AS yang nyaris tidak memiliki kebudayaan bambu
tapi kemudian mulai beralih hendak mengganti kebudayaan asalinya yaitu
budidaya kapas, maka sebaliknya dengan kebudayaan Nusantara yang tak bisa dimungkiri
lagi telah memiliki kebudayaan bambu sejak ribuan tahun yang lalu. Sebut
misalnya masyarakat Kanekes (Badui) di kabupaten Lebak, provinsi Banten,
antara lain memiliki tradisi membuat waroge yaitu rajah di
atas sebilah bambu sebagai medium penolak bala. Dengan melihat sejumlah
peninggalan yang begitu dekat dengan masa batu tua atau pun batu besar,
masyarakat Kanekes diduga merupakan ujung terakhir dari masyarakat
megalitikum yang masih tersisa hingga sekarang. Waroge sebagai
bagian dari tradisi turun-temurun, maka bukan tidak mungkin pula merupakan
warisan dari kebudayaan ribuan tahun yang lampau.
Masyarakat Kanekes pun bisa dikatakan pemilik sah dari seni
angklung yang paling buhun (awal mula) dengan bahan utama
berupa bambu. Hal paling fenomenal lainnya adalah kesaksian bangunan jembatan
bambu di atas sungai Cihujung, Kampung Gajeboh. Jembatan yang menghubungkan
dua jurang dengan ketinggian sekira 40an meter ini seluruh konstruksinya
berbahan bambu. Berdiri kokoh dengan tiang penyangga berupa awi
gombong (bambu besar), tiang-tiang gantungan hingga lantai jembatan
umumnya berbahan awi tali. Dari segi konstruksi dan keindahannya, jembatan
nun jauh di pedalaman Kanekes ini kerap membuat takjub, bahkan sejumlah ahli
dari berbagai latar disiplin ilmu kerap pula mengkhususkan diri untuk datang
dan melakukan studi. Sementara melihat alamnya yang berupa pegunungan dengan
beberapa jurang yang terjal, bisa pula diduga bahwa peradaban teknologi
jembatan pada masyarakat Kanekes ini merupakan bagian dari kebudayaan yang
setua keberadaan masyarakatnya itu sendiri.
Bagi masyarakat Sunda, bambu semestinya bisa juga memerdekakan
mereka dari segala masalah, termasuk kemiskinan dan kerusakan alam. Hal itu
bukan isapan jempol. Masyarakat Sunda sudah sedemikian lama berhubungan akrab
dengan bambu. Sudah banyak pengalaman leluhur yang bisa dipetik. Sejak lahir
hingga mati, orang Sunda selalu dipertemukan dengan bambu.
Jatnika, pakar bambu sekaligus pengurus harian Yayasan Bambu
Indonesia, bahkan menuturkan bahwa orang Sunda berhubungan dengan bambu itu
sejak lahir hingga kepergiannya ke alam kubur. Saat lahir, urai Jatnika,
bayi-bayi Sunda dilepas dari ari-arinya dengan menggunakan sembilu, alat
potong dari hinis bambu. Pertumbuhan selanjutnya selalu berhubungan
dengan bambu, hingga saat meninggal ditandu dengan keranda bambu dan penutup
jenazah dari anyaman bambu. Betapa dekatnya masyarakat Sunda itu dengan
bambu, maka anehlah jika masyarakat yang berkebudayaan tinggi ini nyatanya
mengalami bencana longsor dan banjir.***
|