Senin, 01 November 2021

Tak Ada Lagi "Awi jeung Gawirna," Banjir dan Longsor pun Datang

(Kesatu dari Lima Catatan)

LEMBAR halaman “Jawa Barat” H.U. Pikiran Rakyat, 24 Oktober 2016, menurunkan tiga berita yang berkenaan dengan pergerakan tanah, longsor dan banjir. Empat bencana terjadi di Cianjur Selatan yang bukan saja memakan korban jiwa dan kerusakan yang cukup besar, diberitakan pula bahwa berdasar data Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) masih terdapat delapan titik zona merah di wilayah setempat. Longsor dan banjir lainnya diberitakan terjadi di wilayah Kecamatan Palabuhan Ratu, sementara judul berita lainnya yaitu “92 Persen Kecamatan (di Kabupaten Tasikmalaya) Rawan Pergerakan Tanah.” Begitulah, setelah banjir dan longsor di Garut dan Sumedang, Jawa Barat kiranya mesti siaga. 

Longsor karena kikisan air sungai atau pun air yang turun dari atas, itu selalu menerpa daerah yang tidak disangga pepohonan yang cukup kuat. Foto jebolnya salasatu tanggul sungai Cimanuk, Pikiran Rakyat (20 Juli 2016) menunjukan tembok batu tebal pun tak akan tahan menahan air. Sementara, seperti tampak pada sudut kanan foto, hanya disangga pohon lunak (pisang) dan di tempat kejadian malah gundul. Padahal di seberangnya yang penuh rimbunan bambu, meski tak bertembok batu tampak aman sentausa. (Foto: Tati Purnawati/PR)*

Sungguh merupakan berita-berita yang mencemaskan, sambil menyadari bahwa kecemasan tersebut sesungguhnya bukan hanya berkenaan dengan tempat kejadian pada berita-berita di atas melainkan bisa dikatakan merata hampir di seluruh wilayah Jawa Barat. Merata bahwa di Jawa Barat, kini, berhadapan dengan paradoks alam yang ekstrem; musim penghujan dalam ancaman banjir dan longsor, sementara kala musik kemarau teracam kekeringan dan kesulitan air bersih. Geolog T. Bachtiar telah mengingatkan hal tersebut melalui sejumlah tulisannya, salasatu kalimatnya yang tertera di dalam buku “Bandung Purba” (2016, cetakan keempat): “Itu sesungguhnya demonstrasi alam, bahwa telah terjadi salah kelola di lereng-lerengnya” (hal. 375). Pada tulisan yang sama, ia pun bertanya: “Apakah masyarakat, pemda merasa kehilangan atau tidak dengan alih fungsi hutan alami menjadi hutan produksi, kemudian menjadi kebun sayur di lereng-lereng dengan kemiringan curam...?” Konteks tulisan T. Bachtiar berkenaan dengan Bandung, tapi sesungguhnya berlaku bagi Jawa Barat bahkan Indonesia pada umumnya.

Kiranya kita perlu menengok dan menghidupkan kembali kearifan yang sesungguhnya pernah kita miliki, salasatunya kearifan yang berkenaan dengan bambu.

Kudu Kawas Awi jeung Gawirna

Masyarakat Sunda sesungguhnya memiliki pepatah “kudu kawas awi jeung gawirna” (harus seperti bambu bersama tebingnya). Makna harafiah dari pepatah tersebut menyatakan tentang kebersatuan antara tebing dan bambu yang sepatutnya tak terpisahkan. Seperti umumnya pepatah, itu berfungsi sebagai ajaran atau pun peringatan agar rumpun pohon bambu senantiasa tak tepisahkan dari tebing; sebuah peringatan bagi kita bahwa manakala salah satu dari bambu atau tebing itu terpisah niscaya akan menimbulkan bencana.

Berkenaan dengan penggunaan kata “kudu siga” (harus seperti), maka pepatah tersebut pun berfungsi sebagai amsal yang galibnya diterapkan ke dalam keseluruhan kehidupan; antara lain mengajarkan bahwa hal-hal seperti perkawinan, persaudaraan, atau persahabatan seyogianya harus seperti bambu dan tebing; satu sama lain lekat di dalam dimensi saling memberi dan saling melindungi. Sementara makna sampirannya, memberikan ajaran yang berkenaan dengan lingkungan hidup, bahwa rumpun bambu dengan sebaran akar-akarnya yang kuat dan mengikat itu berfungsi untuk menjaga tebing dari kemungkinan bencana longsor, dapuran atau rumpun pohon bambu dengan dedaunannya memberikan keteduhan, sehingga lingkungan di sekitar tebing (jika diurus) pun menjadi asri serta nyaman bagi kehidupan. 

Pepatah tua tersebut jelas mendahului kesadaran environmental (lingkungan hidup) yang menjadi perhatian utama masyarakat kontemporer. Belakangan baru kita ketahui bahwa bambu ternyata memiliki potensi besar bagi penyelesaian sejumlah masalah lingkungan hidup dan sekaligus memiliki fungsi sosial-ekonomi yang besar. Beberapa contoh upaya penghijauan kembali pada kasus-kasus penggundulan (deforestation) hutan tropik mulai memilih tanaman bambu sebagai alternatif, dan kemudian terbukti pula menjadi solusi yang nyaris sempurna. Karakter biologis bambu terbukti berhasil menjadi penyelia kesuburan tanah, pohon dan akar menahan terjadinya erosi, sementara tanaman bambu secara keseluruhan sanggup mereduksi tingkat pencemaran dioksida karbon (carbon dioxide) di atmosfer. Sedangkan dari sisi sosial, seperti telah diajarkan pula oleh masyarakat tradisional dan kemudian banyak dikembangkan melalui ilmu pengetahuan mutahir, bahwa bambu amat-sangat mungkin menggantikan kebutuhan kayu yang diambil dari hutan-hutan tropik (tropical timbers) bagi kebutuhan keseharian, kertas, pakaian, furnitur, hingga industri bahan bangunan. 

Bambu untuk tumbuh dewasa dan siap panen hanya perlu waktu antara tiga atau lima tahun, jelas merupakan perbandingan terbalik dengan masa tumbuh pohon kayu yang paling lunak sekalipun. Selewat masa tumbuh awal atau setelah menjadi dapuran, sejumlah jenis bambu bahkan sudah bisa dipanen pada usia hanya empat atau enam bulan saja.

Sadar akan potensinya, maka AS pun mulai mengalihkan perhatiannya kepada bambu. Sebuah selebaran tentang bambu, mengungkapkan tentang betapa penting dan mendesaknya bambu untuk menjadi perhatian masyarakat serta negara AS. Selebaran ringkas tersebut bahkan mengetengahkan judul “Betapa Pentingnya Bambu bagi Masa Depan Amerika.” 

Salasatu halaman selebaran yang mengurai tentang pentingnya bambu bagi masa depan AS. (Dok: HDim)*

Menjadi menarik untuk diperhatikan mengingat bahwa AS hampir bisa dikatakan masa lalunya tidaklah memiliki sejarah bambu. AS tidak seperti kita dan kebudayaan Nusantara pada umumnya, tidak juga seperti Cina, Jepang, dan sebagian besar bangsa-bangsa di Asia Tenggara yang memiliki sejarah kebudayaan bambu; namun tiba-tiba seperti diungkapkan di dalam selebaran tersebut menerakan sub-judul “Amerika Perlu Membudidayakan Bambu.”

Selebaran tersebut kemudian menjelaskan sejumlah alasan pentingnya pembudidayaan bambu bagi AS seperti antara lain sebagai berikut:

Pertama, tumbuhan dan hutan bambu sanggup menyelia oksigen 35% lebih banyak dibanding dengan pepohonan lain. Satu are tanaman bambu bisa menyerap dioksida karbon sebanyak 25 ton per tahun, berbanding jauh dengan hutan muda non-bambu yang hanya menyerap 6 ton per tahun.

Kedua, serat bambu ternyata amat luar biasa untuk bahan kertas dan kain. Produksi global bambu olahan (pulp) per tahun saat ini sebanyak 1,5 juta metrik ton, 80% kebutuhannya dipenuhi oleh Cina dan India. Kini, baik bambu olahan, dapuran atau perkebunannya yang berimpak besar bagi lingkungan, serta kain bambu telah menjadi perhatian masyarakat Barat. Kain dari bahan baku bambu ternyata bisa sehalus sutra dan lebih memiliki daya serap yang lebih baik ketimbang katun, dan yang lebih penting lagi kandungan alamiahnya yang memiliki daya antimikrobial. Bersumberkan kepada uraian majalah National Geographic (Mei 2007) didapat keterangan bahwa pada tahun 2004 Cina meraup hasil jutaan dolar dari ekspor bambu bagi bahan baku industri tekstil. Pada tahun 2006, angka ekspor tersebut melambung nyaris sepuluh kali lipat.

Bambu pada dasarnya merupakan tanaman berkelanjutan yang hanya perlu ditanam sekali lantas berikutnya bisa dipanen secara periodik tanpa harus menanam kembali. Dan jelas pula bahwa bambu jauh lebih unggul dibanding katun terutama jika dihadapkan kepada isu pemanasan global. Sebab bukan saja mampu mereduksi CO2, pembudidayaan bambu pun tak perlu penggunaan traktor sebanyak budidaya katun, yang artinya lebih kecil dalam hal penggunaan bahan bakar yang memproduksi limbah karbon.

 **

Berbeda dengan AS yang nyaris tidak memiliki kebudayaan bambu tapi kemudian mulai beralih hendak mengganti kebudayaan asalinya yaitu budidaya kapas, maka sebaliknya dengan kebudayaan Nusantara yang tak bisa dimungkiri lagi telah memiliki kebudayaan bambu sejak ribuan tahun yang lalu. Sebut misalnya masyarakat Kanekes (Badui) di kabupaten Lebak, provinsi Banten, antara lain memiliki tradisi membuat waroge yaitu rajah di atas sebilah bambu sebagai medium penolak bala. Dengan melihat sejumlah peninggalan yang begitu dekat dengan masa batu tua atau pun batu besar, masyarakat Kanekes diduga merupakan ujung terakhir dari masyarakat megalitikum yang masih tersisa hingga sekarang. Waroge sebagai bagian dari tradisi turun-temurun, maka bukan tidak mungkin pula merupakan warisan dari kebudayaan ribuan tahun yang lampau.

Masyarakat Kanekes pun bisa dikatakan pemilik sah dari seni angklung yang paling buhun (awal mula) dengan bahan utama berupa bambu. Hal paling fenomenal lainnya adalah kesaksian bangunan jembatan bambu di atas sungai Cihujung, Kampung Gajeboh. Jembatan yang menghubungkan dua jurang dengan ketinggian sekira 40an meter ini seluruh konstruksinya berbahan bambu. Berdiri kokoh dengan tiang penyangga berupa awi gombong (bambu besar), tiang-tiang gantungan hingga lantai jembatan umumnya berbahan awi tali. Dari segi konstruksi dan keindahannya, jembatan nun jauh di pedalaman Kanekes ini kerap membuat takjub, bahkan sejumlah ahli dari berbagai latar disiplin ilmu kerap pula mengkhususkan diri untuk datang dan melakukan studi. Sementara melihat alamnya yang berupa pegunungan dengan beberapa jurang yang terjal, bisa pula diduga bahwa peradaban teknologi jembatan pada masyarakat Kanekes ini merupakan bagian dari kebudayaan yang setua keberadaan masyarakatnya itu sendiri.

Bagi masyarakat Sunda, bambu semestinya bisa juga memerdekakan mereka dari segala masalah, termasuk kemiskinan dan kerusakan alam. Hal itu bukan isapan jempol. Masyarakat Sunda sudah sedemikian lama berhubungan akrab dengan bambu. Sudah banyak pengalaman leluhur yang bisa dipetik. Sejak lahir hingga mati, orang Sunda selalu dipertemukan dengan bambu.

Jatnika, pakar bambu sekaligus pengurus harian Yayasan Bambu Indonesia, bahkan menuturkan bahwa orang Sunda berhubungan dengan bambu itu sejak lahir hingga kepergiannya ke alam kubur. Saat lahir, urai Jatnika, bayi-bayi Sunda dilepas dari ari-arinya dengan menggunakan sembilu, alat potong dari hinis bambu. Pertumbuhan selanjutnya selalu berhubungan dengan bambu, hingga saat meninggal ditandu dengan keranda bambu dan penutup jenazah dari anyaman bambu. Betapa dekatnya masyarakat Sunda itu dengan bambu, maka anehlah jika masyarakat yang berkebudayaan tinggi ini nyatanya mengalami bencana longsor dan banjir.***