Pengantar
DI TENGAH upaya menulis “Gerbang Awan Rimbang-Baling”
yang kemudian saya (hd) terbitkan di ‘Kompasiana,’ muncul pesan atau kabar
singkat dari Heri Budiman yang isinya: "Oh ya Kang, saya/sikukeluang tgl 30 Okt -
11 Nov akan ke Jerman ada simposium yang diadakan documenta-fifteen di Kassel. Selain itu di bulan Juni 2022, kita
(rimbangbaling) akan pameran di Forum Wissen Göttingen juga dalam rangka documenta. Mohon doa dan dukungannya."
Karena terkejut saking ikut senang, saya hanya membalas
singkat: "WOW keren, documenta pula...
selamat, ikut senang... lancar & sukses di sana."
Terkejut dan senang karena selintasan telah saya
ketahui kiprah documenta sejauh ini.
Lembaga documenta basisnya adalah penyelenggaraan
pameran seni rupa kontemporer yang diadakan setiap lima tahun sekali di Kassel,
Jerman. Didirikan oleh seniman, guru, dan kurator Arnold Bode pada tahun 1955
sebagai bagian dari Bundesgartenschau (Pertunjukan Hortikultura Federal) yang
berlangsung di Kassel pada waktu itu. Dalam perkembangannya, sejauh pandang
mata saya dari kejauhan, pilihan ‘seni’ documenta
itu jauh melampaui pandangan futuristik, menyentuh fenomena yang paling muskil
sekalipun tapi selalu berlandaskan pada sains, ilmu pengetahuan, dan tentu saja
seni.
Dalam penyelenggaraan documenta-fifteen dari 18 Juni hingga 25 September 2022 di Kassel,
antara lain mengedepankan thema khusus “Urun Rembuk – Berpikir dan Bertindak
yang Berkelanjutan” seputar hutan, masyarakat adat, dan seni.
Berikut ini adalah teks terjemahan dari situs resmi documenta-fifteen, semoga ada manfaatnya
bagi kita semua.
(hd)
| Festival Musik Rimbangbaling #2, Koto Lamo, Riau, 2018. Foto: Rumah Budaya Sikukeluang |
“Urun
Rembuk – Berpikir dan Bertindak yang Berkelanjutan”
Dengan diskusi panel urun rembuk – berpikir dan
bertindak yang keberlanjutan, mengacu kepada kosakata urun rembuk yang bisa
diartikan sebagai “mencapai sesuatu secara bersama-sama,” documenta-fifteen menghubungkan upaya keberlanjutannya dengan
pendekatan artistik. Percakapan urun rembuk ini menyoroti minat bersama
yang menyeluruh dalam melestarikan lingkungan yang sehat, mempromosikan
kesetaraan sosial, dan memperkuat ekosistem sosial dan ekonomi.
Kelebihan dari pameran documenta sebelumnya, documenta-fifteen menempatkan
penekanan khusus pada keberlanjutan.
Fokus ini dipupuk oleh praktik artistik lumbung,
yang menjadi dasar ruangrupa untuk edisi documenta
mendatang. Berdasarkan pemahaman holistik tentang keberlanjutan, lumbung menyatukan dimensi sosial dan
ekologisnya sebagai landasan bagi semua tindakan organisasi dan artistik dalam
kerangka documenta-fifteen.
Selama urun
rembuk, “Euro Keberlanjutan” yang termasuk di dalam documenta-fifteen akan diperkenalkan, baik kepada mitra dan proyek
internasional ataupun lokal yang terlibat. Ini termasuk dengan Universitas
Göttingen, dimana documenta-fifteen
telah memprakarsai pembuatan proyek keberlanjutan jangka panjang untuk
memperkaya perkebunan kelapa sawit dengan pohon-pohon asli di wilayah Jambi
Sumatera, Indonesia; dan bersama Forum Wissen, yang berafiliasi dengan
Universitas Göttingen, akan mempresentasikan hasil proyek ini ke publik pada
tahun 2022. Karya akademik ini diharapkan mengalami local anchor yang lebih kuat melalui kolaborasi dengan seniman
kolektif Rumah Budaya Sikukeluang
dari provinsi Riau di Sumatera dan diperkaya dengan festival di mana seniman
dan penduduk lokal Sumatera diajak untuk terlibat. Sementara mitra proyek yang
berbasis di Kassel, HessenForst, bersama dengan documenta-fifteen, melakukan beberapa aksi penanaman pohon yang mengundang
partisipasi publik. Penanaman pertama 600 pohon ek sessile di hutan Reinhardswald dekat Kassel pada 26 November
2021.
Diskusi panel dilengkapi dengan pilihan intervensi
artistik oleh seniman lumbung Saodat
Ismailova, Nguyen Trinh Thi, dan Pınar Öğrenci. Saodat Ismailova merepresentasikan
kutipan dari film dokumenternya ARAL, Memancing
di Laut yang Tak Terlihat, yang diwujudkan bersama dengan Carlos Casas pada
tahun 2004. Film documenter ini memperkenalkan tiga generasi nelayan yang
tersisa di Laut Aral dan perjuangan sehari-hari mereka untuk bertahan hidup di
salah satu tempat paling tandus di Bumi. Kemudian Nguyen Trinh Thi mempresentasikan
karyanya Seri Lanskap #1 tahun 2013,
di mana ia menganggap lanskap sebagai saksi bisu sejarah Vietnam dan tempat-tempat
peristiwa masa lalu yang menyimpan sesuatu yang kini lenyap, hilang, atau sirna.
Dan Pınar Öğrenci memperkenalkan karyanya Resisting
Forest (2019/20), di mana dia mewawancarai wanita petani di pantai Laut
Hitam, Turki, yang memberontak menggunakan tongkat kayu terhadap proyek pembangkit
listrik di Gerze dan pembangkit listrik tenaga air di Aslandere.
Kontribusi dari anggota lumbung “Más Arte Más Acción” dan INLAND difokuskan pada hutan. Film
Más Arte Más Acción mengerjakan Kemungkinan Dialog Cap. 2 (2021)
berurusan dengan hutan hujan dan penghuninya di wilayah Amazon Kolombia, INLAND
membahas isu-isu ekologi dan proyek-proyek terkait keberlanjutan dengan
presentasi mereka Think a Forest – On New
Commons and the Politics of Re-wilding.
Diskusi penutup yaitu meletakkan dasar untuk
percakapan berkelanjutan tentang berbagai isu keberlanjutan yang relevan,
termasuk potensi dampak sosial, lingkungan, dan ekonomi, serta tantangan
keberlanjutan yang ada di depan.
Acara ini berlangsung di ruruHaus di Kassel. Beberapa
peserta akan bergabung secara digital. Rekaman acara akan online di situs web documenta.
PROGRAM
· Ucapan “selamat datang” oleh Andrea
Linnenkohl, Tim Artistik dan Koordinator Umum documenta-fifteen
· Ucapan “Selamat datang” oleh Dr. Sabine
Schormann, Director General documenta und Museum Fridericianum gGmbH
· Pendahuluan ruangrupa, Artistic Direction documenta-fifteen: documenta-fifteen dan Ekologi Berkelanjutan
· Saodat Ismailova: ARAL. Fishing in an Invisible Sea, 2004,
Nguyen Trinh Thi: Landscape Series #1,
2013
· Pusat Penelitian Kolaborasi 990,
Universitas Göttingen: “Fungsi Ekologi dan Sosial Ekonomi Sistem Transformasi
Hutan Hujan Tropis Dataran Rendah,” Prof. Dr. Alexander Knohl, Prof. Dr. Holger
Kreft, Dr. Aiyen Tjoa, dan Prof. Dr. Meike Wollni
· Forum Wissen Göttingen: Museum
Pengetahuan, Dr. Marie Luisa Allemeyer dan Dr. Michael Fürst
· Rumah Budaya Siku Keluang: kemah bumi –
Festival Seni dan Sains sebagai Media untuk Lingkungan Berkelanjutan, Heri
Budiman dan Adhari Donora berbincang dengan Dr. Fabian Brambach
· Pınar Öğrenci: Resisting Forest, 2019/20, Más Arte Más Acción: Possible
Dialogues Cap. 2, 2021
· HessenForst: Seni Bekerja – Bagaimana Kita
Menolong Hutan demi Menyelamatkan Iklim, Michael Gerst, Lutz Hofheinz dan
Michelle Sundermann
· Memikirkan Hutan – Tentang Kesamaan Baru
dan Politik Peliaran Kembali
· Diskusi panel
· Tanya & Jawab dan kata penutup
· Nongkrong bersama
PARTISIPAN
· Marie Luisa Allemeyer adalah direktur
“Zentrale Kustodie” dari Universitas Göttingen dan pemimpin proyek “Forum
Wissen,” yang akan dibuka di Universitas Göttingen pada Mei 2022.
· Dr. Fabian Brambach adalah peneliti
pascadoktoral di Universitas Göttingen dan bekerja pada keanekaragaman dan
ekologi tumbuhan di daerah tropis.
· Heri Budiman adalah seorang aktivis seni
yang bergerak di bidang fotografi dan pembuatan film dokumenter tentang seni,
budaya dan lingkungan. Heri Budiman adalah salah satu pendiri Rumah Budaya
Sikukeluang.
· Adhari Donora adalah salasatu pendiri
berbagai inisiatif termasuk lifepatch.org
– inisiatif warga yang bekerja pada praktik interdisipliner dalam seni, sains
dan teknologi, serta serempak.org,
praktik dan platform lintas disiplin untuk seni di Pekanbaru, Indonesia. Adhari
Donora juga salah satu pendiri Rumah Budaya Sikukeluang.
· Michael Fürst adalah Manajer Pameran di
Pusat Pengembangan Koleksi di Universitas Göttingen sejak 2018. Sebelumnya
untuk perannya saat ini, Fürst pernah menjadi kurator dan mengelola pameran dan
acara di Museum Schwules Berlin, dan bekerja sebagai Yayasan Pengembang Program
di Federal Budaya Jerman.
· Michael Gerst memegang gelar di bidang
kehutanan. Sejak 2001 ia menjadi direktur HessenForst, sebuah perusahaan milik
pemerintah yang berbasis di Kassel yang mengelola 850.000 hektar hutan milik
negara serta sebagian besar hutan perusahaan dan swasta di Hesse.
· Lutz Hofheinz adalah kepala Kesatuan
Pengelolaan Hutan Hanau-Wolfgang. Di antara keterlibatan profesionalnya adalah
misi penasehat jangka panjang dan pendek di berbagai negara termasuk penugasan
3 tahun di Indonesia.
· INLAND adalah kerja kolektif yang
didedikasikan untuk produksi pertanian, sosial dan budaya, dan agen
kolaboratif. INLAND dimulai pada tahun 2009 dan merupakan anggota lumbung documenta-fifteen.
· Saodat Ismailova adalah pembuat film dan
seniman yang tinggal di antara Paris dan Tashkent. Wilayah kelahirannya tetap
menjadi sumber inspirasi utama untuk karyanya, yang berfokus pada praktik
spiritual wanita dan pengetahuan leluhur. Dia adalah seniman lumbung documenta-fifteen.
· Prof. Dr. Alexander Knohl adalah profesor
bioklimatologi di Universitas Göttingen yang berfokus pada penelitiannya
tentang proses pertukaran atmosfer-darat.
· Prof. Dr. Holger Kreft adalah profesor keanekaragaman
hayati dan makroekologi di Universitas Göttingen dan tertarik pada bagaimana
spesies dan ekosistem dipengaruhi oleh kekuatan alam dan antropogenik.
· Más Arte Más Acción dari Chocó, Kolombia,
adalah yayasan budaya nirlaba yang menghasilkan pemikiran kritis melalui seni.
Más Arte Más Acción adalah anggota lumbung
documenta-fifteen.
· Artis dan pembuat film Pınar Öğrenci tinggal
di Berlin. Karya dan instalasinya yang puitis dan eksperimental berbasis video
memperlihatkan jejak-jejak budaya material di berbagai daerah yang terkena
dampak pemindahan dan penghilangan penduduk. Dia adalah seniman lumbung documenta-fifteen.
· ruangrupa adalah Pengarah Artistik documenta-fifteen.
· Michelle Sundermann adalah Petugas Pers di
HessenForst. Sebelumnya dia bekerja sebagai ilmuwan di Proyek Penelitian Hutan
Alam dan telah mendukung keterlibatan HessenForst dalam bantuan pembangunan
internasional.
· Nguyen Trinh Thi adalah pembuat film dan seniman
yang berbasis di Hanoi. Dia adalah seniman lumbung
documenta-fifteen.
· Dr. Aiyen Tjoa adalah dosen di Fakultas
Pertanian Universitas Tadulako, Indonesia, dengan fokus penelitian pada
interaksi tanah-tanaman. Dia adalah anggota dewan manajemen bersama CRC 990.
· Prof. Dr. Meike Wollni adalah profesor
ekonomi lingkungan dan sumber daya di Universitas Göttingen. Dalam
penelitiannya, ia berfokus pada insentif untuk pilihan penggunaan lahan yang
lebih berkelanjutan.
PROTOKOL COVID-19
Akses ke ruruHaus hanya dimungkinkan dengan bukti kesehatan,
vaksinasi atau tes negatif, yang tidak lebih dari 24 jam (aturan 3G).
Acara ini berlangsung di bawah protokol kesehatan yang
berlaku. Ada kewajiban untuk menutup mulut dan hidung di seluruh area indoor.
______________
Bacaan
lanjutan:
Sekilas tentang Rimbangbaling, lihat:
Herry Dim, “Gerbang Awan Rimbang-Baling,” Kompasiana https://www.kompasiana.com/herrydim6585/61768400dfa97e0db71ba8e2/gerbang-awan-rimbang-baling
Sekilas tentang Festival Musik Rimbangbaling #2, lihat:
Herry Dim, "Seni di Tengah Rimba Kampar,"
TEMPO, Edisi 11 Februari 2018 https://majalah.tempo.co/read/seni/154914/seni-di-tengah-rimba-kampar
Sumber asli dari documenta-fifteen
adalah:
https://documenta-fifteen.de/en/events/urun-rembuk-thinking-and-acting-on-sustainability/