![]() |
| "Gerabah Emas" (Gold Terracotta) 35 x 35 cm, pasta marmer, media campuran, dan akrilik di atas kanvas. Salasatu karya A.D. Pirous tahun 2008. Gambar dipetik dari katalog "Di Atas Kaligrafi." |
INI adalah catatan terlewatkan atau lumayan lama terimpan di dalam cakram keras (hard disk).
**
Pelukis senior Abdul Djalil Pirous atau
Pak Pirous (demikian panggilan akrab saya kepadanya) menyelenggarakan pameran
“Di Atas Kaligrafi” sepanjang Oktober 2021 – 2022, di Serambi Pirous, Bandung.
Di antara sederet programa pameran tersebut adalah Undangan Tur Pameran,
Selasa, 21 Desember 2021. Itu rupanya semacam undangan khusus yang dilaksanakan
bertahap-tahap selama pameran demi pembatasan kunjungan mengingat statistik
Pandemi Covid19 saat itu masih tinggi. Di dalam program simpatik tersebut
antara lain adalah kesempatan keliling ruang pameran sambil mendengarkan
penjelasan Bambang Sugiharto selaku kurator atau pun dari Pak Pirous sendiri
atas serangkaian karya “Di Atas Kaligrafi.”
Seusai keliling melihat-lihat karya, Pak Pirous bertanya: “Sudah
pernah lihat studio tempat saya kerja?”
“Belum Pak Pirous,” jawab saya.
“Ayo kita ke atas sana,” ajak Pak Pirous.
Ajakan seniman ke tempat kerjanya, (setidaknya bagi saya) itu
suatu kehormatan, sebuah kesempatan besar untuk mengenali kedalaman sekaligus
perjalanan suatu karya mewujud, selebihnya dari itu adalah semacam ekspresi
kedekatan, dan apalagi di ujung obrolan mendapat hadiah buku "A.D.
Pirous" yang ditulis oleh Kenneth M. George dan Mamannoor. Maka, bukan
saja girang tapi juga ada rasa bahagia ketika saya melangkah meniti anak tangga
demi anak tangga mengikuti Pak Pirous.
Ruang kerja tersebut berada satu lantai di atas salasatu bagian
galeri Serambi Pirous. Termasuk takbegitu luas/besar jika diukur dari kebesaran
Pak Pirous sendiri. Dinding utaranya terdiri dari bingkai-bingkai kaca
berukuran besar, sehingga ada ruang pandang ke arah bebukitan. Sebuah meja
besar terhampar di sana. Melihat jejak barang-barang yang ada di sana, kiranya
meja tersebut biasa juga menjadi tempat pertemuan selain “tempat kerja” yang
bisa dilakukan di atas meja. Berbias cahaya alam dari bingkai-bingkai kaca,
berjejer di sana beberapa karya trimatra buah tangan kerabat Pak Pirous.
Diantaranya saya lihat karya Yetty Sutjihati Mikkelsen,
teman seniwati yang kebetulan pernah sua bahkan “ngahiap” kami untuk bertandang
ke rumah tinggalnya saat saya mengikuti pameran "Container '96: Art Across
Oceans" di Kopenhagen.
Yang disebut sejatinya ruang kerja Pak Pirous, itu relatif lebih
kecil lagi, kira-kira hanya sepertiganya saja dari keseluruhan ruang. Di sana
berjejer taferil-taferil “in process” alias karya-karya yang masih berjalan
pengerjaannya. Di sini terjadi beberapa perbincangan, ringkas, langsung saja ke
intinya:
“Pak Pirous, bilamana mengerjakan karya-karya ini, dan berapa
lama per hari bapak bekerja?” Tanya saya.
“Sekarang sih saya jaga-jaga kondisi, paling lama hanya dua jam
saja untuk melukis,” jawab Pak Pirous.
“Kapan dan bagaimana urut-urutannya dalam keseharian Pak Pirous
bekerja?” Lanjut saya bertanya.
Pak Pirous bercerita, ia biasanya seusai subuh menyempatkan
berjalan-jalan ringan serta menggerakan badan di pelataran serambi, setelah itu
sarapan sambil ngobrol dengan keluarga. Usai itu semua barulah ia beranjak ke
ruang kerja. “Tidak langsung kerja, kadang begitu lama membaca ulang segala apa
yang telah tertera di kanvas,” urainya. Yang disebutnya ‘membaca ulang,’ itu
dikatakan takjarang menghabiskan keseluruhan waktu, “jadi, bisa saja sehari
dalam waktu kerja saya itu hanya untuk melihat kembali apa yang telah saya
lakukan,” lanjut Pak Pirous.
Ia pun bercerita, manakala melakukan tahap awal
lukisan-lukisannya itu tidaklah satu demi satu. Biasanya Pak Pirous memulai
kerja dengan langsung menggarap beberapa taferil. Sambil mengingat-ingat semasa
masih ‘jagjag-waringkas,’ ia mengenang bisa saja dulu itu langsung memulai
dengan belasan taferil. Kelak, ketika menghampiri kembali di hari lain,
sampailah pada tahap yang disebutnya membaca ulang. “Saat itulah,” ujar Pak
Pirous, “di antara yang sedang dilihat kembali tersebut ada yang seperti
memanggil-panggil meminta untuk diteruskan. Yang memanggil itulah yang saya
kerjakan. Tentu takjuga langsung selesai, melainkan demikianlah rotasi ‘membaca
ulang’ terjadi kembali di hari berikutnya.”
“Pak Pirous, di balik tanya saya di atas tadi, sesungguhnya yang
saya ingin tahu itu bilamana Pak Pirous memulai kerja, atau dorongan apa dan
seperti apa yang muncul sehingga Pak Pirous tergerak untuk kerja. Kemudian yang
takkalah pentingnya, bilamana sebuah karya itu diputuskan atau dinyatakan oleh
Pak Pirous sendiri bahwa telah selesai?” Tanya saya.
“Biasa-biasa saja, semuanya mengalir begitu saja, ya seperti
yang saya ceritakan tadi,” jawab Pak Pirous.
“Maaf, Pak Pirous, boleh kan saya mengatakan bahwa ada yang
lebih dari sekadar biasa-biasa saja? Nah, apakah itu Pak Pirous?” Kejar saya.
Pak Pirous tercenung, lantas senyum dan menjawab: “Biasanya jika
ada yang tanya seperti itu atau mendekati itu cukup saya jawab bahwa itu
rahasia.”
(sesungguhnya di antara ini masih ada obrolan ‘malapah gedang,’
namun di sini loncat saja)
“Mohon maaf Pak Pirous, izinkan saya sok tahu atau tepatnya
berpendapat atas impresi karya-karya Pak Pirous, bahwa yang disebut rahasia
oleh Pak Pirous itu taklain hadirnya atau adanya campur tangan ilahiah,” kata
saya.
Tampak Pak Pirous tercenung, kemudian menepuk atau tepatnya
merangkul pundak saya. Sedikit beringsut mundur, mengangkat bingkai kacamata
dengan tangan kiri, dan telunjuk serta jari tengahnya menyusut kelopak dan
bagian mata.
Sayangnya, di pucuk perbincangan ini muncul serombongan anak
muda, diantara mereka ada juga yang memanggul kamera. Mereka ‘mengejar’ hendak
mewawancara Pak Pirous. Tapi, interupsi ini pun menguntungkan, mengingat saya
sendiri kemudian menyadari bahwa tidak/belum siap atas penyataan saya sendiri
tentang 'campur tangan ilahiah.'
**
SESUNGGUHNYA, saya ingin sekali melanjutkan obrolan yang
terputus di atas. Yang paling saya inginkan adalah mendengar langsung uraian
Pak Pirous atas impresi saya yang sok tahu itu, sekaligus demi menemukan apakah
benar/tidak akan adanya campur tangan ilahiah.
Tapi, kiranya, semuanya berjalan di luar keinginan. Waktu terus
berjalan. Singkat kisah, tibalah pada program lain Serambi Pirous yaitu pameran
bersama “Bara Semula” yang pembukaannya berlangsung 26 Maret 2022. Artinya ada
jarak waktu sekira 90 hari dari pertemuan 21 Desember 2021.
Ini pun semua berjalan tanpa rencana, tanpa ada keinginan
menghubung-hubungkan dengan obrolan dan keingin tahuan di atas.
Singkat cerita, di tengah keramaian suasana pembukaan dan
setelah berkeliling melihat karya-karya yang dipamerkan, saya ‘amprok’ dengan
Pak Pirous dalam suasana yang sedikit memungkinkan untuk ngobrol. Saat itu saya
ceritakan kejadian sebenarnya tentang bagaimana istri saya, Ine Arini,
terpaku berlama-lama di depan karya sulaman buah tangan sang ibunda Pak Pirous.
Atas ‘pancingan’ kejadian tersebut, selintas Pak Pirous pun sempat bercerita,
bahwa itulah pekerjaan ibunya di masa lalu. Almarhumah, urai Pak Pirous, bahkan
sempat membuat karya satu ruangan penuh. Namun, urainya, semua itu terbawa
Tsunami Aceh 2004. “Yang terpajang di pameran ini adalah satu-satunya yang
terselamatkan, karya yang memang saya simpan jauh hari sebelum tsunami
terjadi,” urai Pak Pirous.
Karya sulaman tersebut relatif kecil, sekira 25 x 25 cm saja,
berupa sulaman motif flora dengan mayoritas menggunakan benang emas.
Sesungguhnya tak hanya Ine yang terpaku di sana. Saya sendiri seperti
‘dibimbing’ untuk mengikuti alur-demi alur benang yang terangkai. Yang paling
segera terasa adalah tingkat kesabaran. Sungguh takmungkin karya seperti itu
bisa dikerjakan oleh orang yang tergesa-gesa. Maka spontan pula saya berkata:
“Pak Pirous, rasa-rasanya ibu manakala mengejakan itu senantiasa sambil
baca-baca dzikir misalnya.”
“Ya, setidaknya ibu suka membacakan sifat 20,” jawab Pak Pirous
segera dan sesingkat itu, selebihnya adalah saling pandang tanpa kata-kata.
Sekadar demi memecah kebekuan, saya berkata ke istri: “Sifat 20
itu adalah sifat ilahiah yang seyogianya kita hapal.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar